Oh Tuhan….
Sumber dari segala penggenapan,
Hamba tidak berkeinginan menikmati Sorga….karena hamba belum layak menerimanya,
Tidak pula hamba berhasrat menjadi penguasa bumi dan alam bawah,
Hamba tidaklah beniat menjadi penguasa kekuatan-keuatan gaib yoga,
Bahkan hamba tidak mengidamkan pembebasan sekalipun….,
Bila itu membuat hamba dipisahkan dari Kaki Padma-Mu _/|\_

Budha Kliwon Ugu-16/05/2012

Laksana seekor anak burung yang sayapnya belum tumbuh,
Senantiasa menantikan induknya datang dan memberi makan,
Bagai seekor anak sapi yang lehernya terikat tali,
Menanti tibanya waktu menyusu dengan ibunya,
Seperti seorang istri murung yang menanti suami tercintanya,
Yang sedang pergi jauh untuk kembali,

Kesedihan…….dan…..kerinduan yang sama,
Akan menyertai penantian dan pengharapanku,
Akan tibanya saat ketika hamba dapat melayani-Mu,
Dalam segalan nama, rupa dan warna.

Seminyak-17/05/2012

Dalam kegelapan tanpa bulan tengah malam
Aku bertanya padanya, “Gadis, apa pencarianmu, membawa lampu di dekat hatimu?”
Rumahku gelap gulita dan kosong dan sunyi
Sudikah engkau menerangiku dengan cahayamu..?

Dia berhenti sejenak
Dan berpikir dan memandang pada wajahku dalam kegelapan
Katanya, “Aku membawa. Cahayaku, untuk bergabung dengan karnaval lampu.”
Asamu….tak mampu kupenuhi, atas keterlambatanmu….katanya lirih dalam helaan napas

Aku berdiri dan menatap lampu terangnya berjalan di antara cahaya
Aku tertegun dalam kelam di pinggir jalan
Melalui pemilik malam ku titip doa keselamatan baginya

19/05/2012

SI DIA

Itulah dia, dia yang paling dalam,
Yang membangunkan keberadaanku,
Dengan sentuhan dalamnya yang tersembunyi.

Itulah dia, yang menempatkan pesonanya di mata ini,
Dan dengan gembira bermain pada paduan nada hatiku,
Dalam berbagai irama kesenangan dan penderitaan.

Itulah dia, yang menganyam jaringan maya ini,
Dalam warna-warna memudar emas dan perak,
Biru dan hijau,
Dan membiarkan kakinya mengintip melalui lipatan-lipatan,
Yang dengan sentuhannya aku melupakan diriku sendiri.

Hari-hari datang,
Dan masa-masa berlalu,
Dan selalu dia yang menggerakkan hatiku dalam banyak sebutan,
Dalam banyak samaran,
Dalam banyak keterpesonaan akan kegembiraan dan penderitaan.

Si Dia….??

Sidemen, 19052012 

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si

Om Swastyastu
Dalam ajaran Bhuwana Kosa Tuhan atau sang pencipta disebut Bhatara Siva. Bhatara Siva adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas, bersemayam dalam hati setiap makhluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir serta kekal abadi.

Tuhan bersifat immanent dan transcendent. Imanent artinya meresapi segala sesuatu, ada pada segala sesuatu termasuk pikiran dan indrya, dikatakan Sira Vyapaka. Sedangkan bersifat Transendent artinya meliputi segala tetapi berada diluar batas kemampuan pikiran dan indrya manusia. Meskipun Tuhan Imanent dan Transendent tetapi tidak dapat dilihat dengan kasat mata karena Tuhan bersifat abstrak dan sangat rahasia, karena kerahasiaannya itu Tuhan digambarkan seperti dalam api dan kayu, bagaikan minyak dalam santan. Tuhan dinyatakan ada dimana-mana.

Bhatara Siva adalah asal dari segala yang ada, Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala sinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaan-Nya. Semua Ciptaan-Nya bersifat wujud maya yang bersifat tidak kekal karena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaan-Nya itu kembali kepada-Nya karena ia adalah asal dan tujuan semua yang ada ini. Seperti dikatakan dalam Bhuwana Kosa :

“Mijil sakeng sira lina ri sira muwah-datang dariNya (Siva), dan akan kembali pula kepadaNya.”
Hal ini berarti, walaupun Bhatara Siva bersifat tak terbatas digambarkan juga secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda-beda seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Beberapa petikan mantra dalam Bhuwana Kosa :

* Bhatara Siva Maha gaib, tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, amat suci:

“Keadaan Sang Hyang Siva berada di hati semua mahluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir, Keberadaan Beliau kekal berwujud seperti putaran air. Demikianlah beliau tampak oleh Sang Yogiswara.”

* Bhatara Siva sumber segala dan tujuan kembalinya semua yang ada:
“Penampakan Bhatara Siva dalam menciptakan dunia ini adalah Brahma, wujudnya waktu memelihara dunia ini adalah Visnu, Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini, demikian ketiga wujudnya namun beda nama.”

* Bhatara Siva bersifat Imanent dan Transendent:
“Sang Hyang Siva ada dimana-mana, tetapi sangat halus tidak dapat dibayangkan , beliau bagaikan angkasa tidak terjangkau oleh pikiran dan panca indra.”

* Bhatara Siva ada dimana-mana:
“Api ada pada kayu tetapi tidak kelihatan karena sangat halus, itulah ibarat angkasa. Demikianlah Sang Hyang Mahadewa ada pada semua yang berwujud tetapi beliau tidak tampak karena kehalusan Beliau.”

Om Santih Santih Santih Om
*Sumber Bacaan: Bhuwana Kosa, teks dan terjemahan, Upada Sastra, Denpasar

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Dalam ajaran Bhuwana Kosa Tuhan atau sang pencipta disebut Bhatara Siva. Bhatara Siva adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas, bersemayam dalam hati setiap makhluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir serta kekal abadi.

Tuhan bersifat immanent dan transcendent. Imanent artinya meresapi segala sesuatu, ada pada segala sesuatu termasuk pikiran dan indrya, dikatakan Sira Vyapaka. Sedangkan bersifat Transendent artinya meliputi segala tetapi berada diluar batas kemampuan pikiran dan indrya manusia. Meskipun Tuhan Imanent dan Transendent tetapi tidak dapat dilihat dengan kasat mata karena Tuhan bersifat abstrak dan sangat rahasia, karena kerahasiaannya itu Tuhan digambarkan seperti dalam api dan kayu, bagaikan minyak dalam santan. Tuhan dinyatakan ada dimana-mana.

Bhatara Siva adalah asal dari segala yang ada, Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala sinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaan-Nya. Semua Ciptaan-Nya bersifat wujud maya yang bersifat tidak kekal karena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaan-Nya itu kembali kepada-Nya karena ia adalah asal dan tujuan semua yang ada ini. Seperti dikatakan dalam Bhuwana Kosa :

“Mijil sakeng sira lina ri sira muwah-datang dariNya (Siva), dan akan kembali pula kepadaNya.”
Hal ini berarti, walaupun Bhatara Siva bersifat tak terbatas digambarkan juga secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda-beda seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Beberapa petikan mantra dalam Bhuwana Kosa :

* Bhatara Siva Maha gaib, tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, amat suci:

“Keadaan Sang Hyang Siva berada di hati semua mahluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir, Keberadaan Beliau kekal berwujud seperti putaran air. Demikianlah beliau tampak oleh Sang Yogiswara.”

* Bhatara Siva sumber segala dan tujuan kembalinya semua yang ada:
“Penampakan Bhatara Siva dalam menciptakan dunia ini adalah Brahma, wujudnya waktu memelihara dunia ini adalah Visnu, Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini, demikian ketiga wujudnya namun beda nama.”

* Bhatara Siva bersifat Imanent dan Transendent:
“Sang Hyang Siva ada dimana-mana, tetapi sangat halus tidak dapat dibayangkan , beliau bagaikan angkasa tidak terjangkau oleh pikiran dan panca indra.”

* Bhatara Siva ada dimana-mana:
“Api ada pada kayu tetapi tidak kelihatan karena sangat halus, itulah ibarat angkasa. Demikianlah Sang Hyang Mahadewa ada pada semua yang berwujud tetapi beliau tidak tampak karena kehalusan Beliau.”

Om Santih Santih Santih Om
*Sumber Bacaan: Bhuwana Kosa, teks dan terjemahan, Upada Sastra, Denpasar

Oleh: I Wayan Sudarma

Harih Om
OMKARA juga disebut sebagai Brahmabija atau Brahmvidya atau Pranava.

OM dalam bahasa yang mendasar dapat diartikan dengan: “Saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”.

“Sesungguhnya suku kata ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana.Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”(Chandogya Upanisad I.1.8).

Mantram ini ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Brahman). Penggunaannya setiap mulai acara ritual, mulai dan mengakhiri mantra.

Sumber rujukan lainnya: Chandogya Upanisad, Mandhukya Upanisad, Tantra Tatva Prakasa, Tantra Sara, Bhagavadgita,dan lain-lain.

Namaste _/I\_

Oleh: I Wayan Sudarma

Harih Om
Jika kita bercita-cita menemui Tuhan, datanglah kepadaNya dengan SENANG HATI; selamilah samudera ini dan lihatlah sendiri kedalamanNya. Dari pada kita hanya asyik dan sekedar bermaian di tepian yang dangkal lalu kemudian mengeluhkan bahwa di sana tidak DITEMUKAN MUTIARA.

Bila saja kita menyelam LEBIH DALAM, maka kita akan MENEMUKAN SESUATU yang selama ini diinginkan oleh Hati Nurani kita: MUTIARA ANANDAM

Namaste _/I\_

Dahulu engkau berwarna silver, begitu kuat dan kekar
Banyak pujian yang dapat kau peroleh
Kau mampu menembus kayu, tembok, beton, bahkan besi baja

Kian hari engkau berubah menjadi coklat, hitam
Dan kini berkarat….
Kini hanya makian yang kau dapat
Disingkirkan, bahkan dibuang ke tempat sampah…

Cerita pun berlanjut seiring perjalanan sang waktu
Di antara tumpukan sampah, kau terbuang ke sungai…
Air terus mengalir, kau terhanyut ke laut

Entah masih ada kisah untukmu
Baut karatpun terdampar ke pantai
Saat sebuah langkah gontai
Saat sebuah tangan renta meraihmu
Baut karatpun dijadikan mata kail untuk pancing ikan

Begitu besar jasa kail yang terbuat dari baut yang berkarat
Mata kail (baut berkarat) bercampur dengan mata kali lain
Ia mendengar keluhan mata kail-mata kail
“Hai sabahat, kau mata kail baru…pasti akan sering dipakai…
Tak seperti kami yang sudah usang..”

Belajar dari pengalaman ‘mudanya’, mata kail baut karat memberi nasihat kepada mata kail lainnya, “sahabat, jangan rendah diri, aku pun pernah mengenal hal sama, tapi itulah sifat manusia, ia mudah bosan dengan apa yang sudah lama, mereka senantiasa ingin yang baru. Tapi ingat, setiap kita punya peran yang berbeda.”

Renungan:
Sahabat….”Sabarlah dengan kondisi sekarang–»Kelak kita akan berubah fungsi; seperti diriku yang semula energik sekarang mulai menyingsing senja. Karena kita memang memiliki peran yang berubah dan berbeda.”

Inspirasi dari pos ronda
By: I W Sudarma, 28-04-2012

Harih Om
Jika hidup secara otomatis, itu berarti kita menjalani hidup dengan bereaksi kepada apa saja tanpa betul-betul mengalami apa itu hidup yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya kita suka lepas kontak dengan diri kita sendiri, seperti orang asing bagi diri kita sendiri. Misalnya, kita membuka pintu mobil, masuk, lalu menyetir seorang diri ke tempat dimana kita bekerja. Di kantor, andaikata ada yang bertanya: “Apa yang kamu pikirkan dalam setengah jam perjalanan dari rumah ke kantor?” Kita bisa jadi tidak tahu….

Kita tidak sadar atas apa yang sedang terjadi dalam diri kita. Padahal banyak sekali terjadi dan ini membawa dampak terhadap perasaan kita terhadap diri sendiri dan cara kita berhubungan dengan orang lain.

Inilah yang saya katakan sebagai hidup secara otomatis-hidup seperti mesin-hidup tanpa keterlibatan Diri.

Semoga renungan singkat ini membawa kita kembali kepada “sejatining idup”. Awighnamastu..!

Namaste _/I\_ I W Sudarma
28/04/2012

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.