Om Swastyastu

Di dalam Bhagavadgῑtā (VII.16-17) kita jumpai penjelasan tentang empat macam orang yang berusaha mendekatkan diri, berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, mereka itu adalah: orang yang sengsara, yang mengejar kekayaan, yang mengejar ilmu pengetahuan dan orang yang berbudhi luhur. Di antara ke empat macam orang tersebut, maka orang yang berbudhi luhur dinyatakan yang paling mulia. Mengapa demikian, orang yang berbudhi pekerti luhur sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Penyerahan diri secara total kepada-Nya disebut prapatti, demikianlah bhakti-prapatti mengandung makna bhakti yang murni, sebab mereka telah merasakan dalam kebhaktiannya itu, ia berada dalam lindungan-Nya. Bila kita bhakti dan menyerahkan diri sepenuh hati, maka Tuhan Yang Maha Esa hadir di hadapan kita.

Dari uraian tersebut di atas, kita menjumpai dua jenis atau bentuk bhakti, yaitu para bhakti dan apara bhakti. Para bhakti mempunyai makna yang sama dengan prapatti, yakni penyerahan diri secara total kepada-Nya sedang apara bhakti adalah bhakti dengan berbagai permohonan dan permohonan yang dipandang wajar adalah mohon keselamatan atau mohon berkembang-mekarnya budhi nurani, sedang permohonan untuk keayaan dan kekuasaan, sering disebut bhakti yang bersifat Rājas dan Tāmas. Perlu pula ditegaskan bahwa prapatti itu bukan fatalistik, artinya dengan penyerahan diri kepada-Nya, kemudian yang bersangkutan tidak bekerja sebagai mana mestinya, tidak melakukan tugas dan kewajiban dengan baik. Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda tegas menyatakan bahwa Dia hanya menyayangi umat manusia yang suka bekerja keras, tidak malas, suka tidur dan banyak omong kosong.

Lebih jauh, bila kita mengkaji berbagai bentuk, sifat bhakti atau metodologi pendidikan untuk senantiasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kitab Bhāgavata Purāṇa (VII.52.23) membedakan 9 jenis bhakti (Navavidhabhakti), yaitu: (1). Śravanam (mempelajari keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui membaca atau mendengarkan pembacaan kitab-kitab suci), (2). Kῑrtanam (mengucapkan/menyanyikan nama-nama Tuhan Yang Maha Esa), (3). Smaranam (mengingat nama-Nya atau bermeditasi tentang-Nya), (4). Pādasevanam (memberikan pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, termasuk melayani, menolong berbagai mahluk ciptaan-Nya), (5). Arcanam (memuja keagungan-Nya), (6). Vandanam (sujud dan kebhaktian), (7). Dāsya (melayani-Nya dalam pengertian mau melayani mereka yang memerlukan pertolongan dengan penuh keikhlasan), (8). Sākhyanam (memandang Tuhan Yang Maha Esa sebagai sahabat sejati, yang memberikan pertolongan ketika dalam bahaya) dan (9). Ātmanivedanam (penyerahan diri secara total kepada-Nya).

Berbagai bentuk atau contoh perwujudan bhakti tersebut di atas dapat kita lihat dari berbagai ceritra baik dalam kitab-kitab Itihāsa seperti Rāmāyana dan Mahābhārata maupun kitab-kitab Purāṇa. Untuk memantapkan pemahaman kita tentang bhakti ini, kami kutipkan dua buah ceritra tentang kebhaktian Hanumān kepada Śri Rāma dalam Rāmāyana sebagai berikut:

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai mahāraja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Śrῑlaṅka, semua pasukan Śrῑ Rāma telah kembali ke Ayodhyā. Śrῑ Rāma bersama dewi Sitā dan Lakṣamana mengendarai kereta terbang bernama Manipuṣpaka, yang merupakan hadiah dari dewa Kuvera. Setibanya di keraton Ayodhyā, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Śrῑ Rāma berhasil menundukkan Ravana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Śrῑ Rāma membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali dewi Sitā. Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanumān untuk menerima hadiah dari Śrῑ Rāma. Saat itu Hanumān tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat ia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanumān, dengan Śrῑ Rāma menginjinkan dirinya sebagai abdi sang Pūrṇa Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati.

Terhadap penolakan Hanumān ini, Śrῑ Rāma dan dewi Sitā kembali mendesak Hanumān untuk bersedia menerima hadiah sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan di medan perang. Demikian pula keberhasilan Hanumān sebagai Duta serta keberanian dan kekuatan Hanumān mendapat pujian dari segenap yang hadir. Hanumān tidak menjawab. Saat itu dewi Sitā berbisik kepada suaminya, untuk mengijinkan kalung mutiara hadiah Prabhu Janaka, ayahnda dewi Sitā diberikan kepada Hanumān. Śrῑ Rāmapun menyetujuinya, walaupun kalung mutiara itu memiliki arti yang istimewa bagi Śrῑ Rāma dan Sitā, karena dihadiahkan saat Śrῑ Rāma berhasil mematahkan busur milik dewa Śiva dalam sayembara dan berhasil memenangkan serta mempersunting dewi Sitā sebagai istrinya. Saat Hanumān tertunduk, Śrῑ Rāmapun langsung membuka kalung dewi Sitā dan tampil ke depan menyerahkannya kepada Hanumān. Hanumān seperti terpaksa menerima hadiah tersebut. Hanumān merasa malu, seorang yang telah lama diterima sebagai abdi harus menerima hadiah bukankah hal ini salah satu wujud kerakusan ? Setelah Hanumān menerima hadiah tersebut, satu-persatu butiran mutiara itu diperhatikan oleh Hanumān, maksudnya untuk menemukan gambar Śrῑ Rāma dan Sitā pada biji-biji mutiara tersebut. Iapun tidak menemukan hal itu, tanpa disadari ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menggigit rangkaian mutiara itu dan melemparkannya ke tanah. Hadiran tercengang dan gemas menyaksikan kejadian itu. Panglima Sugrῑva sangat marah dan membentak Hanumān. “Hai Hanumān, engkau kera hina tidak tahu diri, kelakuanmu itu memalukan, kuhancurkan wajahmu! Kau telah hina persidangan yang agung ini !” Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan hendak memukul Hanumān. Bila saja tidak di depan persidangan yang mulia itu, Sugrῑva sudah pasti menempeleng muka Hanumān. Sugrῑva sangat geram, tubuhnya gemetar menahan marah.

Pada saat yang menegangkan itu, Śrῑ Rāma dan Sitā tersenyum dan memandang Sugrῑva yang sedang marah. Demikian tatapan Śrῑ Rāma dan Sitā menyapu wajah Sugrῑva, saat itu pula emosi dan kemarahan Sugrῑva lenyap. Śrῑ Rāma dan Sitā benar-benar mengalirkan pancaran kasih yang tiada taranya. Selanjutnya Śrῑ Rāma mendatangi Hanumān dan menepuk bahunya : “Engkau seperti anak kecil, mengapa lakukan hal itu ?”. Maaf tuan Śrῑ Rāma dan ibu dewi Sitā, hamba telah mengecewakan persidangan yang mulia ini. Memang hamba seekor kera yang hina, tetapi hamba kira diri hamba tidak lebih rendah dari seorang manusia. Bagi hamba dengan diijinkan sebagai abdi, hamba sudah bahagia, karena ketika hamba dekat dengan tuan dan ibu sebagai perwujudan Avatara Tuhan Yang Maha Esa dan dewi Laksmi, saat itu pula kebahagiaan tiada taranya hamba peroleh dari tuan. Bukankah dengan pemberian hadiah ini hamba menunjukkan kerakusan hamba ?”.

Śrῑ Rāma kembali menepuk bahu Hanumān. “Tidak ! Engkau tidak rakus. Lalu apa yang engkau minta Hanumān! Katakanlah jangan seperti anak kecil !” “Baiklah tuan dan ibu dewi Sitā, bila hamba boleh meminta lagi, ijinkanlah hamba senantiasa dekat tidak saja secara jasmaniah, tetapi tuan dan ibu dewi Sitā hendaknya selalu berada di hati kami. Untuk itu sudikah tuan Śrῑ Rāma dan ibu dewi Sitā untuk bersthana pada jantung hati kami. Pada singasana bunga hati kami. Bila tuan dan ibu dewi Sitā berkenan bersthana, maka itulah hadiah yang hamba senantiasa mohon”.

Śrῑ Rāma selanjutnya berdiri tegak dan bersabda : “Hai Hanumān dan hadirin yang tercinta dan supaya di dengar pula oleh seluruh jagat raya. Siapa saja yang maju satu langkah menghadap Aku dan mau mendekatkankan dirinya serta membuka pintu hatinya. Aku akan datang sepuluh langkah mendekati mereka, masuk ke dalam hatinya dan memberikan kebahagiaan yang sejati tiada taranya!”. Mendengar sabda Śrῑ Rāma demikian merdu dan menggetarkan alam semesta. Hanumān dengan mencium kaki Śrῑ Rāma terlebih dahulu, kemudian menegakkan dadanya. Dengan kekuatan “Bayubajra”, bagaikan kekuatan petir, tiba-tiba dengan kukunya yang tajam ia menoreh dadanya. Dan dengan tenaganya yang dahsyat, tiba-tiba yang merobek dadanya, darah berhamburan ke berbagai arah. Saat itu pula Śrῑ Rāma dan dewi Sitā hilang dari singgasana kencananya yang indah. Suasana menjadi hening dan terdengar mantra-mantra para dewa dan para ṛṣi dari sorga dengan taburan bunga harum semerbak, nampaklah cahaya gemerlapan pada dada Hanumān yang menganga lebar. Pada cahaya itu kemudian nampak sebuah singasana emas di atas padma hati Hanumān. Ketika itu kelihatan Śrῑ Rāma dan Sitā duduk melambaikan tangan dengan sikap Abhaya dan Varamudra, yaitu sikap tangan menjauhkan serta menolak bencana dan memberi hadiah. Hadirin mengucapkan Jaya-jaya Śrῑ Rāma, Jaya-jaya dewi Sitā. Setelah suana hening kembali. Hanumānpun menutup dadanya, tidak nampak ada luka dan tiba-tiba Śrῑ Rāma dan dewi Sitā sudah kembali bersthana pada singasana kencana di depan persidangan.

Demikian cuplikan singkat dari ceritra Rāmāyana yang memberikan pendidikan secara simbolis, bila di hati kita telah bersthana sang Avatara, para dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, maka niscaya kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita. Berbagai upacara termasuk piodalan dan lain-lain mengandung makna untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mendekatkan diri, maka Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya sebagai Anandarūpa, yakni kebahagiaan yang sejati akan turun dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga kepada kita.

Demikian ceritra tentang bhakti yang sejati adalah sesungguhnya pelayanan kepada-Nya, lebih jauh kami petikkan tentang arogansinya Ārjuna  yang populer dikenal dengan ceritra Ārjuna  Pramada, mengisahkan perjumpaan Ārjuna  dengan Hanumān, Ārjuna  merasakan betapa kelirunya bila tidak hormat dan bhakti kepada Avatara-Nya:

Sekali waktu Śrῑ Kṛṣna berjalan-jalan diikuti oleh Ārjuna  di pinggir pantai Kanyakumari yang dikenal pula dengan nama tanjung Komorin di ujung Selatan anak benua India atau Bhāratawarsa. Śrῑ Kṛṣna mengagumi kemegahan pura Rāmeśvaram yang nampak berdiri agung bagaikan sebuah gunung putih berkilauan. Ārjuna pun menyaksikannya dengan penuh ketakjuban. Perhatian mereka beralih menyaksikan puing-puing jembatan Situbandha, jembatan yang menghubungkan India dengan Śrῑlaṅka. Śrῑ Kṛṣna menunjukkan betapa megah proyek dikerjakan oleh ribuan wanara bala tentara Sugrῑva untuk mensukseskan perang merebut kembali dewi Sitā dari tangan raja angkara murka Rāvana.

“Lihatlah Ārjuna , batu yang demikian gedenya mampu diangkat oleh bala tentara kera, sungguh mengagumkan!”, demikian antara lain ucapan Śrῑ Kṛṣna kepada Ārjuna . Ārjuna pun menjawabnya dengan penuh kekaguman. Namun yang terjadi saat itu sesunggunya dalam diri Ārjuna  muncul keangkuhan. “Membuat jembatan demikian saja kok mengerahkan ribuan bala tentara kera. Kalau aku, sendirian dengan sebatang panahku aku mampu membikin jembatan yang jauh lebih besar dari mega proyeknya Śrῑ Rama itu”, demikian keangkuhan Ārjuna , walaupun tidak diucapkan, namun Śrῑ Kṛṣna dengan detektor gaib yang dimilikinya mampu mengetahui pikiran Ārjuna  sekalipun belum terucapkan.

Kecongkakan atau pramada yang muncul dari pikiran Ārjuna  ini ingin dilenyapkan oleh Śrῑ Kṛṣna. Saat itu pula Kṛṣna  dengan power yang dimilikinya mampu memanggil Hanumān yang sedang rileks di lereng gunung Kailasa. Bagaikan kilatan cahaya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba seekor kera bengil (kecil dan nampak kurang sehat) berdiri di samping Ārjuna  dan ternyata kera itu mampu berbicara kepada Ārjuna. “Maaf tuan, apakah tuan bernama Sang Ārjuna  dan apakah tuan bernama Śrῑ Kṛṣna ?” demikian, sapaan suara kera bengil itu kepada kedua tokoh yang tegap dan tampan di hadapannya. Śrῑ Kṛṣna mengangguk: “Ya saya Kṛṣna  dan ini adik saya Ārjuna “. Tiba-tiba keangkuhan Ārjuna  tidak tertahankan dan nyeletuk: “Apakah anda mengenal mega proyek jembatan Situbanda yang mengagumkan dalam kisah Rāmāyana ?”, demikian pertanyaan Ārjuna  kepada kera yang sambil jalan nampak renta. “Ya tuan, saya tahu itu”. “Wah kalau jembatan yang demikian saja mengerjakannya mengerahkan ribuan kera, maka berarti Śrῑ Rāma itu tidak hebat, mestinya beliau dengan satu panahnya saja mampu membuat sebuah jembatan yang besar dan kokoh”. Aku mampu melakukan hal itu!”.

Demikian kata-kata Ārjuna , kera itu semakin mendekat: “Wah hebat benar tuan!” Kiranya bila berkenan, tunjukkanlah kepada hamba biar hamba juga mengenal kemampuan tuan sebagai orang ketiga dari keluarga Pandawa. Śrῑ Kṛṣna memberikan isyarat kepada Ārjuna  dan Ārjuna pun mengeluarkan satu batang panah bernama Nagapasa dari selongsongnya dan seketika itu ia melepaskan panahnya dan tiba-tiba panah itu berubah menjadi sebuah jembatan yang besar, megah dan nampak kokoh. Kera kecil itu minta ijin kepada Ārjuna  untuk mencobanya. “Maaf tuan Sang Ārjuna , apakah saya boleh mencoba lewat pada jembatan yang besar ini?”. “Ya Ya Ya silakan….silakan, engkau boleh melompat seenaknya pada jembatan karyaku ini!”. Tiba-tiba saja kera kecil itu melompat, demikian satu kali injakan, ternyata jembatan itu roboh. “Maaf tuan Sang Ārjuna , saya kera yang bengil begini saja membuat jembatan anda hancur, apalagi ribuan bala tentara Sugrῑva yang akan menyerang Alengka, bisakah mereka menyeberangi jembatan tuan!”.

Muka Ārjuna  merah padam dan sangat malu kepada Śrῑ Kṛṣna , ternyata seekor kera bengil mampu merobohkan karyanya yang hebat itu. Ārjuna pun bertindak kesatria dan bertanya: “Maaf, saya bertanya siapakah anda ?” “Saya yakin anda bukan seekor kera biasa ? Saya mengagumi anda?”. Kera kecil itupun menunjukkan jati dirinya: “Ya tuan Sang Ārjuna , aku ini……aku ini adalah Hanumān, abdi setia Śrῑ Rāma”. “Maaf, tuan Hanumān, saya dengar anda sangat besar, hebat dan mampu terbang kemana-mana, kini mengapa anda kelihatan kecil, tua renta dan seperti tidak berdaya?. Ijinkanlah saya menghormati anda” demikian kata-kata Ārjuna  terbata-bata dengan penuh penyesalan. Hanumānpun menjawan: “Wahai Ārjuna , setiap mahluk mengalami proses menuju ketuaan. Ketika saya masih menjabat sebagai panglima divisi Selatan untuk membebaskan Sitā dari belenggu Rāvana, saya punya jabatan tinggi. Sebagai pejabat besar saya mendapat fasilitas terbang kemana-mana dan gratis lagi. Kini saya telah pensiun. Jabatan itu telah saya serah terimakan. Sebagai seorang yang tidak menjabat, segalanya kini nampak kecil, tubuh saya kecil, sakit-sakitan lagi dan tidak seorangpun mau menolehnya. Syukur saya tempo hari dapat berkesempatan dekat dengan Śrῑ Rāma, beliau banyak memberikan karunia kepada saya untuk menghadapi berbagai persoalan hidup termasuk bagaimana cara menghindari Postpower syndrome, karena aku tidak menjabat lagi. Sebagai orang yang sudah mulai uzur, maka saya sejak kanak-kanak telah mempersiapkan diri untuk memasuki masa Vanaprastha, masa tua, jauh dari hiruk pikuk panggung politik dan ikatan duniawi, bila kita sadari semua dengan keikhlasan, bahwa tunas-tunas baru akan senatiasa tumbuh pada cabang-cabang kayu menggantikan ranting-ranting yang mulai lapuk, maka kesadaran itu memberikan kebahagiaan yang sejati. Śrῑ Rāma telah menganugrahkan saya ajaran Muktika Upanisad, sebagai bekal menuju alam keabadian. Karunia Śrῑ Rāma tiada taranya. Kini engkau Ārjuna  dekatkanlah hati dan pikiranmu kehadapan kaki Śrῑ Kṛṣna , maka engkaupun akan memperoleh kejayaan. Bila saatnya perang Bhāratayudha meletus, pasanglah sebuah bendera berisi gambarku, ketika engkau menoleh bendera itu, engkau ingat kepada aku, maka akupun segera datang membantumu di medan laga”. Demikianlah ucapan Sang Hanumān, Ārjuna pun berkaca-kaca. Sejak saat itu, Nagapasa sang Ārjuna  diabadikan dalam umbul-umbul, dan bendera Ārjuna  selalu berisi gambar Hanumān. Kedua hal ini selalu dipancangkan pada pura-pura atau mandira-mandira sthana muja-Nya terutama ketika upacara piodalan, mengingatkan peristiwa Ārjuna  pramada.

Dari kedua cuplikan ceritra di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa pada hati seorang bhakta yang tulus, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa hadir didepannya, demikian pula kecongkakan dan arogansi dapat menyesatkan diri seseorang dalam mengikuti jalan bhakti atau bhakti mārga. Manggalamastu. I W Sudarma-Bekasi

Om Swastyastu

Teologi  bencana: Setiap bencana memiliki dua makna: cobaan dan siksaan. Jika korban adalah orang baik, maka bencana tersebut adalah cobaan; Jika korban adalah pendosa, maka cobaan tersebut adalah siksaan (azab).

HIV/AIDS sebagai sebuah penyakit juga bisa dimaknai cobaan atau siksaan. Jika penderita adalah orang baik, maka HIV/AIDS dianggap sebagai cobaan yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran. Jika si penderita adalah pendosa, maka penyakit itu merupakan balasan Tuhan karena perbuatannya.

Pandangan di atas tidak lagi memadai dengan 2 alasan:

  1. Adanya stigma umum yang sangat kuat, seringkali berlandaskan norma agama, bahwa HIV/AIDS secara esensial terkait dengan berbagai perilaku yang dianggap dosa.
  2. Baik HIV/AIDS dimaknai sebagai cobaan ataupun siksaan, virus HIV yang menjadi penyebab AIDS tetap menular dengan hukumnya sendiri tanpa melihat keyakinan agama, keimanan dan ketaqwaan seseorang.

Stigma tersebut mengakibatkan beberapa hal:

  1. Mengalihkan perhatian dari penanggulangan HIV dan AIDS ke upaya menobatkan ODHIV (orang dengan HIV) yang dianggap sebagai pendosa
  2. Banyak orang yang malu untuk melakukan VCT sehingga kondisi riil epidemi tidak bisa dideteksi dan dikontrol secara maksimal
  3. Orang HIV positif akan menyembunyikan diri sehingga penanggulangan HIV dan AIDS tidak bisa maksimal.
  4. Pelanggaran HAM terhadap ODHIV: perlakuan diskriminatif, pengucilan, penolakan, bahkan kekerasan di lingkungan keluarga, kerja, masyarakat, birokrasi pemerintahan, bahkan sampai di tempat-tempat layanan kesehatan. (lagi…)

Om Swastyastu

Ye tvā devosrikaṁ manyamānāḥ pāpā bhadram upajivanti pajrāḥ,

Na dūḍhye anu dadāsi vāmaṁ bṛhaspate cayasa piyārum. Ṛgveda I.190.5

Wahai Guru Para Dewa, janganlah memberikan kekayaan terhadap

mereka yang bodoh, yang penuh dosa dan licik, dan hidup semata-mata

atas  kemurahan-Mu, yang menganggap-Mu bagai sapi jantan tua.

Tetapi Engkau mendukung mereka yang

mengabdikan hidupnya kepada-Mu.

Topik tulisan di atas sepertinya sangat sulit dirangkai, dan khusus kata setan (satan) terjemahannya dalam bahasa Sanskerta adalah piśaca atau paiśaca. Kata yang maknanya sejenis dengan kata tersebut, di antaranya adalah rakṣasa. Di dalam bahasa Inggris disebut devil yang arinya setan. Kata devil berasal dari bahasa Yunani ‘diabolos’. Orang Barat dan Timur sama-sama percaya bahwa piśaca atau setan adalah musuh umat manusia, sekaligus juga musuh para Dewa (Mani, 1989:590).  Selanjutnya kata dosa, di dalam bahasa Sanskerta padannya adalah doṣa, pāpā, dan lain-lain yang maknanya sejenis dengan makna kata tersebut, sedang kata kutukan, padannya dalam bahasa Sanskerta adalah śapa atau śapatha di dalam Ṛgveda (X.87.15) pada mulanya berarti kutukan, dan bukan sumpah seperti sumpah dalam proses pengadilan (Macdonell & Keith, II, 1982:353).

Topik tulisan ini tampaknya seperti mendapat pengaruh dari agama-agama yang digolongkan dalam Abrahamic Religion atau Agama-Agama Semitik, yang di dalam Agama Hindu ketiga kata tersebut sangat sulit dirangkaikan, karena sumber ajaran teologi Hindu berbeda dengan ajaran teologi agama-agama tersebut di atas. Walaupun demikian tulisan ini mencoba mengetengahkan sumber, cerita atau makna dari istilah atau terminologi di atas.

Piśaca, Rakṣasa, dan Asura

Seperti telah dijelaskan di atas, di dalam bahasa Sanskerta tidak dikenal istilah atau kata setan (satan). Kata ini rupanya berasal dari bahasa Arab (setan) atau Ibrani (satan), yang maknanya sangat dekat atau mirip dengan kata paiśaca, rakṣasa, dan asura. Kata setan (satan) di dalam The Student English-Sanskrit (Apte, 1987:408) adalah paiśaca (masculinum) dan paiśacī (femininum), paiśacagraṇī , paiśacanātha. Di dalam Ṛgveda (I.133.5) disebut dengan nama paiśacī sedang di dalam Atharvaveda (II.18.4; IV.20.6, 9; IV.36.4; IV.37.10; V.29.4.5.14; VI.32.2; VIII.2.12; XII.1.50) maknanya sama dengan di dalam Ṛgveda, yakni nama dari sekelompok raksasa. Di dalam Taittirī ya Saṁhitā (II.4.1.1, juga dalam Kāṭhaka Saṁhitā XXXVII.14) mereka diasosiasikan dengan para rakṣasa dan asura yang bermusuhan dengan para Dewa, manusia, dan leluhur. Di dalam Atharvaveda (V.25.9) mereka digambarkan sebagai kravyād yang artinya ‘pemakan daging mentah’, yang mungkin mengandung pengertian etimologi dari kata paiśaca tersebut. Hal ini sangat mungkin, bahwa paiśaca seperti diungkapkan oleh Grierson, merupakan musuh manusia, seperti suku asli di Barat Laut, yang sampai pada masa akhir disebut sebagai pemakan daging mentah (tidak mesti disebut kanibal, namun memakan daging manusia dalam rangkaian sebuah upacara ritual). Demikian, walaupun tidak semuanya, sepertinya paiśaca aslinya berarti ‘setan’, yang tampak seperti suku asli, hal itu ditunjukkan dengan identitasnya yang dicemohkan. Satu cabang ilmu pengetahuan disebut paiśacavidyā yang populer muncul pada akhir zaman Veda, di antaranya ditemukan dalam kitab Gopatha Brāhmaṇa (I.1.10) (Macdonell & Keith , II, 1982:533).

Di dalam kitab-kitab Purāṇa, paiśaca dijelaskan sebagai berikut. Makhluk yang berhati dengki yang merupakan perwujudan yang jahat. Setiap orang, di mana saja di bumi ini, sejak baru terjadinya alam semesta dipercaya telah hadir roh yang jahat. Menurut Mahābhārata (Ādiparva I) paiśaca merupakan ciptaan Dewa Brahmā. Pada masa awal Brahmā menciptakan 18 prajāpati yang dipimpin oleh Dakṣa, Gandharva, dan Paiśaca. Seperti halnya dalam Mahābhārata, dalam kitab-kitab Purāṇa juga merupakan ciptaan Brahmā. Paiśaca merupakan penghasut segala bentuk kejahatan dan memegang peranan penting di dalam kitab-kitab Purāṇa dan Mahābhārata. Paiśaca tinggal di istana Dewa Kubera dan memuja-Nya (Sabhāparva XI.49). Paiśaca tinggal di Gokarṇatī rtha dan memuja Dewa Śiva (Vanaparva LXXXV.25). Paiśaca adalah pemimpin roh-roh jahat. Ṛṣi Marī ci dan ṛṣi yang seperti beliau menciptakan roh-roh jahat (Vanaparva CCLXXII.46).  Minuman para paiśaca adalah darah dan makanannya adalah daging (Droṇaparva L.9). Para bhūta (roh-roh jahat) menjadikan Ravaṇa raja mereka (Vanaparva CCLXXV.88). Dalam perang Bhāratayuddha, kuda yang menarik kereta raksasa Alambuṣa adalah para paiśaca (Droṇaparva CLXVII.38). Paiśaca bertempur melawan Karṇa dan ia berpihak menolong Ghaṭotkaca  (Droṇaparva CLXXV.109). Arjuna mengalahkan paiśaca saat terbakarnya hutan Khāndava (Karṇaparva XXXVII.37). Paiśaca muncul saat pertempuran Arjuna dengan Karṇa (Karṇaparva XXXVII.50). Paiśaca memuja Dewi Parvatī  dan Parameśvara yang sedang bertapa di puncak gunung Muñjavān (Aśvamedhaparva VIII.5). Pada masa berlangsungnya perang Bhāratayuddha banyak paiśaca menjelma menjadi raja (Aśramavāsikaparva XXXI.6) (Mani, 1989:590). (lagi…)

Om Swastyastu

Doṣa, pāpa, dan puṇya adalah 3 buah kata yang tampak saling berkaitan. Doṣa dan pāpa atau pāpā di dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam kata sin, dan dalam bahasa Sanskerta adalah pāpam, pātakam, kalmaṣam, duritam, agham, duṣkṛam, vṛjinam, aṁhas, kilbiṣam, dan lain-lain (Apte, 1987:427). Kata-kata tersebut di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata dosa yang sama artinya dengan doṣa dalam bahasa Sanskerta. Berlawanan dengan kata doṣa dan pāpā dalam bahasa Sanskerta adalah kata puṇya yang terjemahannya dalam bahasa Inggris merit. Padanan kata lainnya dalam bahasa Sanskerta adalah guṇaḥ, yogyata, pātrata, utkarṣa, puṇyam, dharma, śreṣṭhata, viśeṣaḥ, sukṛtam,  śreyas (Apte, 1987:286).

Dalam susastra Jawa Kuno, kata doṣa berarti: (1) dosa, kesalahan, pelanggaran; (adj.) bersalah. Lihat juga istilah daṇḍadoṣa, guṇadoṣa, nirdoṣa, paridoṣa, sadoṣa, sthānadoṣa, sodoṣa. Terminologi tersebut terdapat dalam Virātaparva 94; Udyogaparva 103; Uttarakaṇḍa 25; 68; Ślokāntara  30.10; Arjuna Vivāha 35.6; Ghaṭotkacāśraya 38.3; 42.3; Bhomakavya dan Kidung Harsavijaya 6.46 (Zoetmulder I, 1995:225). Kata pāpa dalam bahasa Jawa Kuno mengandung arti yang lebih luas, yakni: (1) dosa, kebiasaan buruk; kejahatan, kesalahan, hukuman/siksaan karena dosa. Terminologi ini dapat dijumpai pada Ādiparva 47; 81; Udyogaparva 9, Brāhmāṇḍapurāṇa 52; Rāmāyaṇa; Sutasoma 34.8: nora pāpa kadi pāpa niṅ anak atiduṣṭa riṅ yayah. (2) kemalangan, kesusahan, kesukaran, kesukaran, keadaan yang tidak menyenangkan, kesengsaraan. Dapat dijumpai dalam Virātaparva 75; manahên pāpa; Agastyaparva 366; Arjuna Vivāha 16.9: lêhêṅa juga ṅ pêjah saka ri pāpa pāpa anahên iraṅ lawan lara.Smaradahana 24.8, (3) jahat, buruk, jelek, nakal, celaka, malang, sengsara, orang jahat, penjahat, orang yang berdosa. Lihat juga: atipāpa, mahā pāpa, mahātipāpa. Virātaparva 31; Bhīṣmaparva 111; Uttarakaṇḍa 44; Sutasoma 35.7;  Kidung Harsavijaya 3.95: woṅ pāpa kawêlas hyun (Zoetmulder I, 1995:758). (lagi…)

Hare Krshna

Tak akan pernah ada
Kata perpisahan dariku
Sekali pintu hatimu telah kau buka untukku
Biarkanlah tetap terbuka…… !

Namun…
perjalananku belum berakhir
Aku musafir yang mencari makna
Pertemuan kita belum sempurna
Desir angin telah memanggilku
Berangkat……….

Perjalananku mengemban amanat
Barang siapa mencintai dunia …..Akan tetap di dunia
Barang siapa memuja Surya……..Dikirimkan sinarnya
Barang siapa mengarungi Akasa ….Akan sampai ke Sunya

Barang siapa memuja Tuhan
Dalam kepasrahan dan bhakti yang tulus
Akan sampai kepadaNya

Entah berapa lagi….Terminal
yang harus kulalui
Sebelum…..
Sang waktu datang menjemputku

Tapi….. yang pasti
Engkau ada dalam hatiku
Walau musim berganti
Bumi lelap dalam peraduannya

Dari setiap terminal
Akan kukirimkan asa hati ini
Lewat angin lalu atau mimpi
Betapa…..
Aku mencintaimu setulusnya

Aku tetap ingin berbagi denganmu
Semoga di perjumpaan berikut……
Aku menjadi lebih matang
Pikir,ucap, dan lakuku jadi lebih sarat makna
Lebih akrab dengan kebenaran

Biar kuantar kepadamu keindahan
Bila diijinkan…..
Biar cintaku tanpa awal tanpa akhir
Biarkan pintu hatimu tetap terbuka
Pasti kujelang

Doaku….
Semoga kita berjumpa
Di salah satu terminal……..

Offered Especially To who I Love
24th January 2010

Saat hati gundah gulana

menapaki jalan yang ternyata begitu panjang

berbatu, terjal, sempit…..dan banyak duri

Ingin kurangkul hidup dengan mesra

ingin kurangkai jalinan karma…..bersamamu

tapi orang-orang kita tak paham

betapa mulianya cinta ini

Saat napas ini mulai tersendat

jantung menjadi kolap

adakah asa yang tersisa…….untukku?

Bapa…..ijinkan aku pulang …..aku rindu Dirimu

karena aku telah mati sebelum kelahiranku

SIVARATRI


GAYATRI MANTRA

OM BHUR BHUVAH SUVAHA TAT SAVI TUR VA RENYAM

BHARGO DEVASYA DHIMAHI DHIYOYONAH PRACCHODAYAT

Artinya: kami bermeditasi kepada kecemerlangan cahaya ilahi yang maha agung, ibu ilahi yang menyingkirkan kegelapan dan memberi penerangan di dalam diri bumi. Semoga membangkitkan dan menguatkan intellektual, kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

OM SAHANA WAWATU SAHANAU BHUNAKTU SAHA WIRYAM KARAVAVAHAI TEJAS VINA WADHI TAMASTU MA VID VISHA WAHAI

GURU BRAHMA GURU VISHNU GURU DEVO MAHESHWARA GURU SAAKSHAT PARAM BRAHMA TASMAI SREE GURUVE NAMAHA

Artinya: Guru merupakan perwujudan dari Brahma, Vishnu dan Shiva beliaulah sang pencipta, pemelihara pengetahuan dan yang menghancurkan benih-benih kebodohan batin. Ku persembahkan penghormatan kepada-Mu guru.

LAGU-LAGU ROHANI (bajan)

SHIVA SHIVA SHAMBHO TANDAVA PRIYA KARA

BHAVA BHAVA BHAIRAVA BHAVAANI SHANKARA

HARA HARA BHAM BHAM BHOLA MAHESHWARA

DAMA DAMA DAMARU NATANA MANOHARA

SATHYAM SHIVAM SAI SUNDARA

Artinya: Bhatara Shiva Shambu yang senang dengan tarian “ Tandava”! penghancur ketakutan atas kemelekatan diniawi, oh Bhagavan Shankara, Bhatara dewi Bhavani! Pemusnah kwalitas diri kami yang jahat, oh Bhatara Maheswara, tarian-mu yang menghasilkan irama musik “Bham,Bham” mengikuti ketukan”Dama,Dama” suara perkusi! Oh Bhagawan Sai, dikaulah kebenaran, kebajikan dan keindahan.

SHIVAYA NAMAH SHIVA, SHIVAYA NAMAH SHIVA

SHIVAYA NAMAH OM, NAMAH SHIVAYA

SHIVAYA NAMAH SHIVA, SHIVAYA NAMAH SHIVA

SHIVAYA NAMAH OM, NAMAH SHIVAYA

Artinya: Ucapkan mantra suci “ om Namah Shivaya” (Penghormatan bagi Bhatara Shiva)

SHIVA SHAMBHO HARA HARA SHAMBHO

BHAVA NASHA KAILASA NIVAASA

PARVATI PATHEY HAREY PASHU PATHEY

GANGGADHARA SHIVA GAURI PATHEY

Artinya: Lord Shiva Shambu, penghancur kecendrungan jahat dalam diri kami! Pemusnah kemelekata duniawi, penghuni pegunungan Kailasa! Terpujilah Dikau yang di cintai oleh Ibunda Parvati, Bhagavan seluruh mahluk hidup. Dikau yang mengalirkan sungai suci Gangga, Dikau yang di cintai oleh Ibunda Gauri.

SHAMBO MAHA DEVA SIVA SHAMBO MAHA DEVA

SAMBA SADA SIVA SAI SANGKARA SHAMBO MAHA DEVA

HARA HARA HARA SHAMBO BAVABAYA HARA HARA SHAMBO SIVA SIVA SIVA SHAMBO SATYA SAI ISVARA SHAMBO

E…SINDHU SEKARA RAJA SIVA RAJA SANGKARA

E…CHANDRA SEKARA SHAMBO..OO

SIVA RAJA SANGKARA

E…HARA HARA SIVA SIVA PINAKA WAIBAWA RAJA SANGKARA

SIVA RAJA SANGKARA…SIVA RAJA SANGKARA

LINGGASTAKAM

BRAHMAMURARISURACITALINGAM

NIRMALABHASITASOBHITALINGAM

JANMAJADUHKHAVINASANALINGAM

TAT PRANAMAMI SADASIVALINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

DEVAMUNIPRAWARARCITALINGAM

KAMADAHAM KARUNAKARA LINGAM RAVANADARPAVINASANALINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

SARVASUGANDHISULEPITALINGAM

BUDDHIVIVARDHANAKARANALINGAM

SIDDHASURASURAVANDITALINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

KANAKAMAHAMANIBHUSITALINGAM

PHANIPATIVESTITA SOBHITALINGAM

DAKSASUYAJNA VINASANA LINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

KUNKUMACANDANALEPITALINGAM

PANKAJARASUSOBHITALINGAM

SANCITAPAPAVINASANALINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

DEVA GANARCITA SEVITALINGAM BHAVAIRBHAKTIBHIREVACA LINGGAM

DINAKARAKOTI PRABAKARA LINGGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

ASTADALOPARIVESTITALINGAM

SARVASAMUDBHAVAKARANALINGAM

ASTADARIDRA VINASANALINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIWA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

SURAGURU SURAVARAPUJITA LINGAM

SURAVANAPUSPASADARCITA LINGAM

PARAMA PADAM PARAMATMAKA LINGAM

TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGAM

SIVAYA TAT PRANAMAMI SADA SIVA LINGGAM

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

OM NAMAH SIVAYA, OM NAMAH SIVAYA

LINGASTAKAMIDAM PUNYAM

YAH PATHET SIVASANNIDHAU

SIVALOKAMAVAPNOTI

SIVENA SAHA MODATE

SIVA ARRATI

SATYAM SHIVAM SUNDARAM

SAD GURU SAI NAMOSTUTE

JEY SIVA MANGGALA AARATI

SRI MADHU SUDHANA SUBRAMANYAM

VRINDHAVAN MATURA ADIPATE

JEY SIVA MANGGALA AARATI…(

1.   OM ISTHRAYA NAMAHA

Yang  permanent / kekal. Ruang  Arca .Dewa Shiwa dalam kuil seslalu dalam satu posisi.

2. OM PRABHVE NAMAHA –

Shiwa sebagai pemilik / penguasa alam sesta.

3. OM I ISTHRANAVE NAMAHA

Dengan melantunkan nama nama suci ini, kita memanggil sang Ilahi untuk hadir dan mendirikan kediamannya secara pweemanent dlm diri kita.

4. OM BIMAYA NAMAHA

Shiwa adalah yang paling berkuasa.

5.  OM PRAVIRA YA NAMAHA.

Shiwa sebagai penyelamat dan pelindung kita.

6.  OM VARAYA NAMAHA

Karena Shiwa akan mengabulkan permohonan para bhakta Beliau juga dipanjatkan dg hati yg murni

8.  OM SARVA ATHANE NAMAHA

Kuil Dewa Shiwa tak  terhitung jumlahnya dimana mana.

9. OM SARVAKIYATAYA NAMAHA

Shiwa akan melindungi oara bhaktanya

10, OM SARVASHRI NAMAHA

Shiwa adalah ilahi agung yg meliputi segalanya.

11. OM SARVA KARAYA NAMAHA

Shiwa adalah pelaksana pelaku dan dari karya karya besar.

12. OM BHAVAYA NAMAHA

Shiwa mendengarkan keinginan keinginan batin, yang palin dalam dalam pribadi kita

13. OM JATINE NAMAHA.

Shiwa yang memiliki jalinan rambut besar.

14. OM CHARMANE NAMAHA

Shiwa memakai sandang dari kulit harimau.

15. OM SHIKHANDANE NAMAHA

Shiwa mengikat rambut / konde untuk mengendalikan gangga

16.    OM SARVAGAYA NAMAHA

Shiwa adalah pengedalai dari segala gerakan objeck/benda dlm alam raya.

17.    OM SARVABHAVNAYA NAMAHA.

Shiwa adalah ayah, ibu, saudara dan teman teman kita.

18.  OM HARAYA NAMAHA.

Shiwa menghancurkan sifat sifat buruk kita

19.  OM HARNA KIYAYA NAMAHA

Shiwa menghancurkan mereka yang jahat.

20. OM SARVABHUTAHAYARA NAMAHA.

Shiwa menghancurkan mereka yang jahat.

21. OM VIRTAYE NAMAHA

Shiwa melakukan semua pekerjaan demi kebaikan para bhakta beliau.

22. OM PRIBAVE NAMAHA.

Shiwa adalah pelayan dari para bhakta beliau, akan tetapi beliau adalah penguasa dari segalanya.

23. OM NIVARTAYE NAMAHA

Shiwa tidak mengambil apapun dari pihak bhakta beliau, apapun yg kita persembahkan kepada Shiwa, beliau mengembalikan kepada kita berlipat.

24. OM NIYATAYA NAMAHA.

Kemurahaan hati shiwa adalah mulia dan sejati

25. OM SHASTAVTAYA YAMAHA

Shiwa adalah yg slalu kekal dan stabil

26. OM DHURVAYA NAMAHA

Shiwa adalah dhurwa atau kutub utara dan selatan yang memberikan ke stabilan pada bumi

27. OM SHAN SHAN VASNE NAMAHA

Shiwa diumpamakan sebagai seekor sapi jantan lambat dan mantap tetapi stabil

28. OM BAG VATE NAMAHA

Shiwa adalah penyelamat umat manusia pada waktu banjir bah atau pralaya

29. OM KHECHARAYA NAMAHA

Tunggangan Shiwa nandi juga,  melangkah dengan mantap dan perlahan seperti tuannya.

30. OM GO-CHARAYA NAMAHA

Hormat kami kpd nandi & semua sapi

31. OM ARADNAYA NAMAHA

Hormat kami pada pose meditasi dewa Shiwa.

32. OM ABHIVADIYAYA NAMAHA

Sembah hormat kami kepada suara agung / megah dari damaru beliau.

33. OM MAHKARMANE NAMAHA

Sembah dan hormat kami atas karya megah dewa Shiwa.

34. OM TADASWANE NAMAHA

Sembah hormat sujud kami kpd posisi duduk dewa Shiwa.

35. OM BHUTA BHAVANAYA NAMAHA

Bukan hanya para dewa tetapi para siluman juga memberi hormat kpd dewa Shiwa.

36. OM UNMATVESH PRACHANAYA NAMAHA

Shiwa yg berpakaian sederhana, tetapi memiliki sifat Ilahi

37. OM SARVALOKA PRAJAPATYE NAMAHA.

Shiwa, Dewa semua mahkluk di tiga alam

38. OM MAHARUPAYA NAMAHA

Shiwa pemilik banyak rupa/wujud

39. OM MAHAKARYAYA NAMAHA

Shiwa pelaku banyak mahakarya.

40. OM VIRKHARUPAYA NAMAHA

Shiwa sebagai pemilik nandi tunggangan  kendaraan beliau

41. OM MAHAYASHSE NAMAHA

Shiwa pemilik sifat Ilahi yg agung

42. OM OM MAHAT MANE NAMAHA

Semua asura memuliakan Shiwa

43. OM SARVA BHUTATMANE NAMAHA

Shiwa sebagai wujud rupa/universal

44. OM VISVA RUPAYA NAMAHA

Shiwa sebagai wujud rupa universal.

45. OM MAHA HANVE NAMAHA

Shiwa adalah penghacur utama /agung

46. OM LOKAPALAYA NAMAHA

shiwa menjaga semua orang ditiga alam

47. OM ANTER HITATMANE NAMAHA

Kita harus memahami dan bermeditasi kepada keindahan hati/bathin beliau.

48. OM PRASADAYA NAMAHA

Shiwa adalah pemberi prasad atau mengabulkan permohonan kepada para bhakta.

49. OM HYAGAROBHAYE NAMAHA

Shiwa sebagai pelindung Ibu pertiwi

50. OM PAVITARAYA NAMAHA

Shiwa adalah yang Murni

51. OM MAHTE NAMAHA

Shiwa membantu para bhakta, meningkat kewujud hidup yg lebih tinggi / mulia

52. OM NIYAMAYA NAMAHA

Shiwa membatu para bhakta yg memuja beliau dgn penuh disiplin

53. OM NIYAMAYA SHRITARA NAMAHA

Karenas Shiwa sendiri adalah kedisiplinan

54. OM SARVA KARMANA NAMAHA

Shiwa yg merancang semua pekerjaan yg dilakukan oleh 4 kasta shg semua pekerjaan sama mulianya dimata Tuhan

55. OM SWIWAM BHUTAYA NAMAHA

Shiwalah yang mengendalikan masa lampau kita.

56. OM AEDYE NAMAHA

Shiwa hadir dimasa awal sebelum penciptaan

57. OM ANDI KARAYA NAMAHA

Shiwa adalah pencipta seluruh alam raya.

58. OM HIDAYE NAMAHA

Shiwa adalah sumber dari segala peraturan, dan aturan dlm kosmos/alam semesta ini

59. OM SHAHASRA KHIYAYA NAMAHA.

Segala hal yang akan tercipta akan berjumpa/ bertemu, berakhir dan akhirnya menyatu melebur bersama Shiwa, ini dilembangkan dengan linggam.

60. OM VISHALA KHIYAYA NAMAHA

Shiwa penghacur agung dlm Trimurti

61. OM SOHAYA NAMAHA

Shiwa bahkan hadir dalam nafas kita.

62 OM NAKTRA SADIKAYA NAMAHA

Shiwa adalah pengendali semua bintang di alam raya ini.

63. OM CHANDIRYA NAMAHA

Shiwa adalah pengendali bulan

64. OM SURYAYA NAMAHA .

Shiwa adalah pengendali matahari, karena matahari ada dalam tubuh kita

65. OMSHANYE NAMAHA

Shiwa adalah pengendali shania atau saturnus.

66. OM KETWE NAMAHA

Shiwa adalah pengendali Ketu.

67. OM GRHAYA NAMAHA

Shiwa adalah pengendali semua planet

68. OM GRHAPATAYE NAMAHA

Shiwa adalah penguasa semua planet-planet ini atas organ organ dan emosi manusia Yaitu matahari. mengendali mata kanan, bulan matakiri, dan jantung kita, darah adalah Mars, lidah adalah mercurius, kepala dan otak oleh yupiter, organ organ produksi dan kekayaan oleh venus, kekuasaan dan kemuliaan oleh Saturnus, dan penyeakitpenyakit oleh Rahu dan Ketu.

69. OM WARAYA NAMAHA

Shiwa yg berkuasa dan mruah hati / penuh olas asih.

70. OM AATRAYE NAMAHA

Shiwa hadir disini bersama kita nkarena beliau ada dimana mana.

71. OM  AATRAYA NAMASKARTRE NAMAHA

Sembah sujud kepada shiwa yg kekakl dan abadi.

72. OM HIGRA BAN PARINAYA NAMAHA

Shiwa hadir disudut kecil sekalipun,  dalam hutan hutan yg terlebat.

73. OM AANDHAYA NAMAHA

Shiwa hadir diawal penciptaan

74. OM DHINA SANDHIKAYA NAMAHA.

Shiwa memberikan pengetahuan kpd manusia pertama yg terlahir / dilahirkan

75. OM SAMVATSRAYA NAMAHA

Shiwa pengendali empat yuga yaitu, satya yuga, treta yuga, dwapara yuga, dan kali yuga yg sekarang ini.

76. OM MANTRAYA NAMAHA

Shiwa adalah penerima semua mantra yg dilantunkian / diucapkan.

77. OM PRAMANAYA NAMAHA

Shiwa adalah penguasa agung.

78. OM PARAMA TAPES NAMAHA

Shiwa adalah penguasa agung meditasi.

79. OM YOGINE NAMAHA.

Shiwa adalah yogi Ilahi.

80. OM YOJYAYA NAMAHA

Kita berdoa kpd dewa Shiwa, untuk menanamkan energy dlm diri kita agar menjadi yogi sejati seperti beliau.

81. OM MAHA BIJAYA NAMAHA

Shiwa adalah benih ilahi, pelindung alam semesta, bagaikan kulit sekam yang melindungi bagian dalam sebuah biji / benih

82. OM MAHA RETSE NAMAHA

Memuja Shiwa adalah memuja tuhan menuju Moksha

83. OM MAHA BALAYA NAMAHA

Shiwa adalah yang paling berkuasa, yg dapat membebaskan kita dari cengkraman kematian untuk mencapai memperoleh moksa.

84. OM SUARNA RETSE NAMAHA.

Shiwa membimbing para bhakta beliau melalui jalan emas menuju moksa.

85. OM SARVA GYAYA NAMAHA

Shiwa memiliki ilmu pengetahuan yg tak terukur / tak terkira

86. OM SUBIJAYA NAMAHA

Shiwa adalah biji benih murni, yang pemujanya dapat membuat kita menjadi murni.

87. OM BIJA VAHNAYA NAMAHA

Shiwa menanamkan benih ketekunan dlm bhakti dihati para bhakta beliau

88. OM MAHA TAPSE NAMAHA

Shiwa adalah mediator agung / ilahi

89. OM GHOR TAPSE NAMAHA.

Shiwa melakukan meditasi besar.

90. OM AADINAYA NAMAHA.

Shiwa penguasa yang ada, bahkan sebelum penciptaan.

91. OM DASHA BAHVE NAMAHA

Shiwa ádalah dewa bertangan sepuluh

92. OM ANIMI SHAYA NAMAHA

Shiwa hádala yang luhur/suci, Shiwa tidak memiliki nama, krna tidak ada nama yg sungguh dapat melukiskan shiwa.

93. OM NILA KHATAYA NAMAHA

Shiwa yang berleher biru.

94. OM UMAPHATAYE NAMAHA

Shiwa pendamping Uma / Parwati

95. OM VISVA RUPAYA NAMAHA

Shiwa wujud yang universal

96. OM SUVAYAM SHERSHTHAYA NAMAHA

Estela memuja Shiwa seseorang tidak perlu memuja dewa lain.

97. OM BALA VIRAYA NAMAHA

Shiwa memegang sensata sensata ampuh

98. OM ABALAYA NAMAHA

Shiwa melindungi yg tak berdaya.

99. OM GANAYA NAMAHA

Shiwa melimpahkan rahmat besar kepada parabhakta beliau.

100. OM GANA KARITRE NAMAHA

Shiwa melakukan karya besar bagi umat manusia.

101. OM GANAPATHAYE NAMAHA

Shiwa adalah dewa para gana dan para guna.

102. OM DIGYASASE NAMAHA.

Shiwa adalah dewa dari empat penjuru.

103. OM KAMAYA NAMAHA

Shiwa yang suci, luhur, mulia, harus dipuja sebelum melaksanakan nkerjaan apapun.

104. OM MANTRE VIDE NAMAHA

Shiwa adalah sumber dari semua mantram

105. OM PARAMAYA NAMAHA

Shiwa yang berkelimpahan dalam segala hal.

106. OM MANTRAYA NAMAHA

Shiwa adalah penerima semua mantram yang kita ucapkan

107. OM SHARVARHAWAKARYA NAMAHA

Shiwa adalah pelaku semua pekerjaan dialam semesta.

108. OM HARAYA NAMAHA.

Shiwa adalah penghapus semua dosa dosa kita.

by: I Wayan Sudarma

  1. I. UPAKARA PEKELING

a.  Padmasari: Pejati 1, Segehan Cacahan putih kuning

b.  Anglurah: Pejati, Ketipat dampulan, Segehan Cacahan Poleng.

c.  Pemedal/Pemesu: Nasi dialasi dengan bakul, lauknya karangan Babi, Nasi digulung dengan upih, lauknya hati, Tuak 1 sujang, Bunga Cempaka 2 buah, Uang Kepeng 11 keteng, Canang Burat Wangi, Tetabuhan. Banten ini dihaturkan kehadapan: Sang Bhuta Hulu Lembu, Sang Bhuta Harta, dan Sang Bhuta Kilang –Kilung.

II. UPAKARA UNTUK KAMAR PENGANTIN:

  1. Pelangkiran: Pejati, segehan cacahan putih kuning.
    1. Di Atas Pintu Kamar Pengantin: Nasi takilan, lauknya darah mentah yang dialasi dengan limas, garam, bawang, jahe, terasi. Dihaturkan kehadapan: Sang Bhuta Pila-Pilu, Sanghyang Sasarudira, Sanghyang Muladrawa, Sanghyang Ragapanguwus, Kaki Rangga Ulung, dan Kaki Rangga Tan Kewuh.
  1. Sanggar Surya: Suci l, Pejati 1, Soda Putih Kuning, Rantasan Putih Kuning, eteh-eteh Sanggar Surya (Uduh, Peji, Pisang lalung, Penjor, ceniga, gantung-gantungan), bungkak gading 1. Sor Sanggar Surya:  Nasi Sasahan 9 tanding, Karangan 1, Nasi Sokan, Byakaon, Olahan babi 9 tanding, Gelar Sanga, Jangan Sekuali, Segehan Agung, tetabuhan arak, berem, tuak.
  2. Sanggar Surya (Caru Dewasa): Suci, Tulung, Sesayut, Peras, Daksina, Penyeneng, Lis, Byakaon, Tetabuhan.
  3. Padamasari: Pejati 1, Segehan Cacahan putih kuning

Anglurah: Pejati 1,  Katipat Dampulan, Segehan Cacahan Poleng.

  1. Lapaan / Ayaban: Suci 1, Pejati 1, Jerimpen Punggul 1 pasang, Sesayut Pewarangan /Sesayut Nganten, Sesayut Pageh Urip, Ayaban Tumpeng Pitu, Penyeneng Taterag (Gede), Banten Padengen-Dengenan/Pekala-Kalaan, Tikeh Dadakan, Kala Sepetan, Tegen-Tegenan, Sok Pedagangan, Penegtegan, Papegatan, Tatimpug, Banten Pejati (Jauman), Gebogan.
  2. Upakara Untuk Pengayengan ke Leluhur Kedua Mempelai : Pejati 2 Soroh, segehan cacahan putih kuning 2 set.
  3. Upakara Penyambutan Kedua Mempelai di depan Pintu Masuk: Segehan Cacahan panca Warna, Api Takep, Tetabuhan.
  4. Upakara Arepan Sang Pandita: Suci 1, Pejati 1, Prayascita, Byakala, Pengulapan, Durmenggala, Payuk Pelukatan, Sibuh Pepek, Lis  1 pasang, Kuma Ligi, Kuskusan Sudamala, Sirawista., Punia,  Pejati Pewali 1 soroh + Segehan cacahan.
  5. Upakara Tambahan Untuk Di Pemesu, Dapur, Air: Soda 6 set, Segehan Panca Warna 1, Putih Kuning, 1, Hitam 1
  6. Upakara Tukang Rias: Pejati, Segehan cacahan Putih Kuning.

10.  Gantung-Gantungan, Ceniga, Tamiang: 8 set.

PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN:

  1. BANTEN PADENGEN-DENGENAN: Pejati, Suci, Sesayut Lembaran, Pengambyan, Penyeneng, Tulung Metangga 2 buah, Sanggah Urip 1, Pamugpug (Tumpeng kecil 5 buah dialasi dengan kulit sayut lengkap dengan kue, buah, dan rerasmen sampyan nagasari), Untek 7 buah dialasi dengan taledan lengkap dengan kue, buah,lengkap dengan rerasmen, Solasan 22 tanding (Nasi dialasi teledan kecil, lengkap dengan buah, kue, lauknya sate, lekesan 1 set. Bayuan (penek warna 5 dialasi dengan daun telujungan lauknya olahan ayam Brumbun, dan baying-bayangnya ditaruh di atasnya lengkap dengan kuangen, canang sari, sampyan nagasari.
  2. TIKEH DADAKAN: adalah sebuah tikar kecil yang terbuat dari daun pandan yang masih hijau. Ini adalah symbol kesucian mempelai wanita.
  3. SESAYUT PEWARANGAN/SESAYUT NGANTEN: Aled Sayut, kain putih kuning, beras, base tampel, benang, jinah 11 keteng, Daksina mewastra putih kuning 2 set (1 dihias seperti laki-laki/melelancingan, 1 dihias seperti wanita/metapihan), tumpeng putih 1, tumpeng kuning 1, semua mepelekir, masing-masing diisi kuangen , tulung metangga 2, pasucian, penyeneng 2, sesarik 2, tatebus putih-kuning, buah, kue, pisang lengkap, kojong rangkat 2, sampyan nagasari 2, lauknya ayam putih betina 1, ayam putih jantan 1, semuanya dipanggang, peras, 2, soda 2, katipat kelanan 2, canang sari 2 pasang.
  4. SESAYUT PAGEH URIP: Aled sayut,  Buah, kue, pisang, Nasi mejangka aji jembung, di atasnya diisi tumpeng putih 1, disisipi bunga cempaka 2, Tumpeng kuning 1, disisipi bunga cempaka kuning 2, bunga teratai putih dan biru masing-masing 1, kojong rangkadan, tulung urip 5, tulung sangkur 5, ketipat pandawa 5, ketipat sari 5, lauknya bebek diguling, garam 1 takir, peras, tulung, sayut (sorohan alit), canang burat wangi, lenga wangi, pasucian, tatebus putih kuning, sampyan nagasari, canang sari.
  5. KALA SEPETAN: Sebuah bakul yang berisi telor ayam mentah 1 butir,batu bulitan, 1 buah, uang 25 keteng, kunir, talas, andong, kapas, lalu bakul tersebut ditutup dengan serabut kelapa yang dibelag tiga dan berasal dari sebutir kelapa, serabut tersebut diikat dengan benang Tri Datu, di atasnya diisi pucuk kayu dapdap, dan lidi masing-masing 3 buah. Banten ini merupakan perwujudan Sang Kala Sepetan, salah satu yang menerima persembahan Padengen –dengenan.
  6. TEGEN-TEGENAN: cangkul, sebatang tebu, dan cabang pohon dapdap, pada salah satu sisinya diisi periuk berisi air, dan di sisi yang lainnya berisi periuk yang di dalamnya ada uangnya. Ini melambangkan bahwa sebagai laki-laki/suami harus bekerja keras, sehingga menjadi sumber penghidupan bagi anggota keluarga.
  7. SOK PEDAGANGAN: sebuah bakul yang di dalamnya berisi, beras, kain, bumbu dapur, rempah-rempah, pohon kunir, pohon talas, dan andong. Ini melambangkan bahwa sebagai wanita/istri harus dapat mengatur rumah tangga sehingga terjalin keharmonisan.
  8. PENEGTEGAN: Sebuah tempat yang berisi Keris lengkap dengan pakainnya, biasanya diletakkan di Sanggah Kemulan. Sebagai simbol bahwa sejak hari ini kedua mempelai memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan Merajan (simbol Purusa).
  9. PAPEGATAN: dibuat dengan ranting pohon dapdap, yang dipasang agak berjauhan, dihubungkan dengan benang putih. Pejati 1, segehan putih kuning 1. Sebagai simbol dimulainya masa Grhastha (berumah tangga).

10.  TATIMPUG: dibuat dari beberapa ruas bambu yang kedua ruasnya masih utuh.  Bantennya soda. Dalam upacara nanti dibakar sehingga mengeluarkan suara. Sebagai tanda kesuksesan.

11.  BANTEN PEJATI (JAUMAN): Pejati 1 set, ditambah dengan aneka kue pasar, dilengkapi dengan sirih, pinang, tembakau, gambir, rantasan seperadeg, (pakaian 1 stel). Dihaturkan di Sanggah Kamulan, kemudian diserahkan kepada orang tua mempelai wanita.

12.  TUMPENG PITU: Peras tumpeng 2 sampyan pers. Pengambyan tumpeng 2 tulung pengambyan 2, katipat pengambyan 1 sampyan pengambyan. Dapetan tumpeng 1 sampyan jaet guak.  Ayunan tumpeng 1 sampyan jaet guak.  Pengulap tumpeng 1 sampyan jaet guak. Sesayut Lembaran; nasi penek 1 sampyan nagasari.  Nasi Pangkonan Putih Kuning sampyan nagasari. Katipat Sirikan sampyan nagasari.  Soda; nasi penek 2 sampyan petangas. Pasucian, Penyeneng

TERATAI SEBAGAI SIMBOL DAN SARANA YAJÑA

Oleh: I Wayan Sudarma

Tumbuhan teratai adalah tumbuhan air menahun yang indah asli dari daratan Asia. Tanaman air yang tumbuh tegak. Rimpang yang tebal bersisik, tumbuh menjalar. Daun, bunga keluar langsung dari rimpangnya yang terkait pada lumpur di dasar kolam. Helaian daun lebar dan bulat, disangga oleh tangkai yang panjang dan bulat berdiameter 0,5-1 cm. Daun menyembul ke permukaan air menjulang tegak seperti perisai. Permukan daun berlilin; warnanya hijau keputihan, dan rata sedangkan bagian tengah agak mencekung, tulang daun tersebar dari pusat daun ke arah tepi, diameter 30-50 cm. Bunganya harum, tumbuh menjulang di atas permukaan air dengan tangkai bulat panjang dan kokoh, panjang tangkai bungga 75-200 cm. Diameter bunga 15-25 cm, benang sarinya banyak dan berwarna kuning, mahkota bunga lebar, ada yang engkel dan ada ynag dobel dengan warna merah jambu, putih atau kuning. Bunga mekar sehari penuh dari pagi sampai sore hari. Setelah mahkota layu lalu berguguran sampai akhirnya tersisa dasar bunga/putik yang akan menjadi bakal buah, bentuknya kerucut terbalik dengan permukaan datar semacam spons dan berlubang-lubang berisi 8-35 biji, warnanya hijau kekuningan, dan menjadi hijau akhirnya coklat/hitam. Garis tengah 6-11 cm. Biji bentuknya bulat seperti kacang tanah, terdapat dalam lubang-lubang buah yang berbentuk seperti sarang tawon. Biji yang sudah tua warnanya hijau kehitaman, umurnya kira-kira 1 bulan sejak bunganya mekar. (lagi…)

Halaman Berikutnya »