Om Swastyastu

Sejak zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang, manusia selalu mempunyai harapan dan harapan. Satu harapan menjadi kenyataan, harapan yang lain menanti untuk dipenuhi. Anak kecil mempunyai harapan, orang dewasa juga mempunyai harapan, apalagi orang tua. Umat awam mempunyai harapan, para rohaniawan juga memiliki harapan. Singkatnya, manusia dalam kehidupannya selalu berharap dan berharap. Harapan atau cita-cita yang menjadi kenyataan menjadikan manusia bahagia, sedangkan harapan yang tidak menjadi kenyataan menjadikan manusia merana.

Semakin banyak harapan atau cita-cita yang kita miliki, maka semakin terbuka kemungkinan untuk kecewa, karena adakalanya harapan itu tidak semuanya menjadi kenyataan. Semakin sedikit keinginan atau harapan, maka semakin sedikit pula kemungkinan untuk tidak terpenuhi, sehingga kemungkinan kecewa juga sedikit.

Harapan-harapan itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh: anak kecil ke Pura untuk bermain-main, harapannya tentu untuk berbahagia; remaja ke Pura untuk mencari teman; yang beranjak dewasa ke Pura untuk mencari pacar; ada juga yang ke Pura untuk mencari jodoh; orang tua ke Pura untuk mencari bekal; dan orang tertentu ke Pura untuk berbuat baik. Di antara umat Hindu, ada juga yang ke Pura hanya untuk ngobrol-ngobrol saja karena di Pura banyak umat Hindu yang bisa diajak ngobrol. Di luar keinginan-keinginan atau harapan-harapan umat yang beraneka ragam itu, ada yang menginginkan usahanya lancar, cepat dapat jodoh, cepat mempunyai anak, disayang oleh suami, istri maupun anak, dan masih banyak lagi keinginan-keinginan dari para umat.

Dalam usaha supaya harapan atau cita-citanya terkabul, berbagai usaha ditempuh oleh para umat, mulai dari cara-cara yang masuk akal sampai cara-cara yang di luar akal sehat. Cara-cara yang masuk akal misalnya dengan melakukan hal-hal yang sesuai, yang mendukung cita-cita atau harapannya dengan berjuang sungguh-sungguh, dengan banyak melakukan kebajikan. Dan mungkin juga ada yang melakukan hal-hal yang di luar akal sehat, misalnya mandi kembang tengah malam, kemana-mana membawa jimat atau yang lainnya. Ada pula umat yang supaya cita-citanya tercapai, minta dibacakan mantra atau doa oleh Pandita-Pinandita bagi yang beragama Hindu. Ada yang supaya cita-cita atau harapannya tercapai, datang ke tempat-tempat keramat tujuannya supaya selamat dan cita-citanya terwujud. Ada juga umat yang datang ke paranormal atau tokoh-tokoh spiritual yang dianggap mampu menjembatani keinginannya supaya terkabul, tidak peduli itu masuk akal atau tidak yang penting dijalani. Kalau keinginannya terkabul; syukur, sebaliknya kalau keinginannya tidak terkabul, sering kali menyalahkan pihak yang didatangi atau diminta pertolongan.

Sesungguhnya harapan-harapan atau keinginan-keinginan tidak memonopoli milik umat saja, tetapi kaum rohaniawan juga memilikinya. Tidak peduli agama atau kepercayaannya apa, tentu semuanya memiliki harapan. Jadi sesungguhnya rohaniawan juga memiliki harapan atau keinginan tidak jauh berbeda dengan umat awam. Jadi tidak usah kaget atau terkejut kalau mendengar seorang rohaniawan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan tertentu.

Ingat rohaniawan juga manusia, tidak beda dengan umat awam, jadi semuanya mempunyai harapan. Ada yang untuk dirinya sendiri, ada juga untuk orang lain, ada juga untuk para leluhur dan lain sebagainya. Keinginan-keinginan atau harapan-harapan para rohaniwan itu, misalnya:

  1. Ingin disayangi dan menyenangkan sesama rohaniwan di dalam kehidupan suci, dihormati dan dijunjung tinggi oleh mereka.
  2. Ingin mendapatkan empat macam kebutuhan pokok: makanan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.
  3. Mereka yang menyokong kehidupan-kehidupan kerohaniannya memperoleh pahala yang besar.
  4. Para leluhur berbahagia.
  5. Terbebas dari hal-hal yang tidak baik.
  6. Terbebas dari ketakutan dan kengerian.
  7. Memiliki kemampuan-kemampuan batin.
  8. Mencapai tingkat-tingkat pembersihan kekotoran batin.
  9. Merealisasi Moksha.

Apakah keinginan-keinginan atau harapan-harapan pararohaniwan dan juga para umat itu bisa menjadi kenyataan? Ataukah itu hanya keinginan saja tanpa dapat diwujudkan? Dengan cara apakah harapan-harapan atau keinginan-keinginan itu bisa menjadi kenyataan? Ada orang tertentu, supaya harapannya menjadi kenyataan, ia selalu berdoa dan berdoa, meminta dan meminta kepada kekuatan di luar sana, bahkan tidak jarang sampai menangis tersedu-sedu. Para Maharsi tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk menjadi peminta-minta atau pengemis supaya harapan kita tercapai. Seandainya dengan berharap, berdoa dan menangis semua harapan menjadi kenyataan, maka tidak perlu manusia berjuang mencapai cita-cita dengan susah payah. Berjuang dengan cara apakah supaya harapan dan keinginan-keinginan itu menjadi kenyataan? Avatara Buddha menjelaskan supaya keinginan atau harapan itu menjadi kenyataan, maka siapapun haruslah sempurna di dalam pelatihan moralitas yang lebih tinggi dan yang lebih baik, tidak mengabaikan meditasi, mengembangkan kebijaksanaan. Seandainya siapa pun berharap, maka seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak malas.

Sesungguhnya, “berharap” bagi umat Hindu tidak ada salahnya. Masalahnya supaya harapan-harapan itu menjaddi kenyataan, manusia itu harus berjuang. Berharaplah dan berusaha mewujudkan harapan dengan berjuang sebagai kuncinya. Setelah tahu bahwa harapan harus dibarengi dengan perjuangan, maka sebagai umat Hindu sudah sepatutnya kita terus berjuang dan berjuang. Menjadi kenyataan atau tidak harapan kita tergantung pada diri kita. Semakin banyak berjuang semakin terbuka kesempatan untuk berhasil. Ingat, sukses atau gagalnya harapan kita ditentukan seberapa keras perjuangan kita. Selamat berjuang. Semoga berhasil.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Seperti halnya wewaran, wuku, tanggal panglong semuanya mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk) maka sasihpun mempunyai perhitungan ala ayu. Misalnya pada waktu bergerak saat wiswayana (saat berada di tengah) kemudian bergerak ke utara (uttarayana) dan kemudian bergerak ke arah selatan (daksinayana).

Maka secara umum sasih uttara yana dianggap sasih yang bersih dan daksina yana dianggap sasih kotor karena jatuh pada bulan atau sasih kanem, kapitu, kawulu adalah sasih yang baik untuk nangkluk merana atau membuat uapacara bhuta yajña.

Di samping itu pula sasih secara khusus mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk). Di dalam kitab Penuntun Indik Padewasan / Wariga ala ayuning sasih untuk upacara perkawinan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kasa = kawon; pianake kasengsaran
  2. Karo = kawon; dahat tiwas
  3. Katiga = madia; akeh maduwe pianak
  4. Kapat = becik; sugih rendah
  5. Kalima = becik; tan kirang sangu
  6. Kanem = kawon; balu
  7. Kapitu = becik; pulih keselamatan
  8. Kawulu = kawon; kapegatan sangu
  9. Kasanga = kawon pisan; tan pegat manggih duka mahabara
  10. Kadasa = becik pisan; sugih rendah suka wirya
  11. Desta = kawon; manggih wirang
  12. Sadha = kawon; kasakitan (I Wayan Tusan, 1974: 35).

Maksudnya: Perkawinan yang dilakukan pada sasih:

  1. Kasa = buruk; anak ditimpa kemelaratan
  2. Karo = buruk; amat miskin
  3. Katiga = sedang; banyak mempunyai anak
  4. Kapat = baik; kaya dan tersohor
  5. Kalima = baik; tidak kurang makanan
  6. Kanem = buruk; janda duda
  7. Kapitu = baik; mendapat keselamatan
  8. Kawulu = buruk; kekurangan makanan
  9. Kasanga = amat buruk; tidak putus-putusnya menemui kesedihan yang amat keras/panas
  10. Kadasa = amat baik; kaya tersohor
  11. Desta = buruk; sering cekcok
  12. Sadha = buruk; sering sakit-sakitan

Demikian beberapa contoh dalam upacaraperkawinan, sudah tentu dalam upacara yang lain akan mempunyai perhitungan tersendiri seperti misalnya pada sasih kanem tidak baik untuk perkawinan tetapi baik untuk upacara nangluk merana, sasih karo baik untuk pitra yajña, sasih caitra baik untuk bhuta yajña. Sasih kapat dan kadasa baik untuk upacara dewa yajña, sehingga saat purnamaning kapat dan kadasa kita melihat umat Hindu melaksanakan upacara odalan pada pura-pura besar seperti : khayangan jagat, sad khayangan, dang khayangan, khayangan tiga dan sebagainya. Masih banyak lagi padewasan memperhitungkan ala ayuning sasih.

Sumber Bacaan:

Tusan. I Wayan; Penuntun Indik Padewasan, 1974.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Sasih anglawean adalah sasih atau bulan yang amat buruk (ala dahat). Oleh karena itu dikatakan materas bhuta (berkepala bhuta). Tidak boleh membangun rumah, memulai memasuki pekarangan rumah, keburukannya tidak mempunyai keturunan, mungkin gila, kalau kawin mungkin menjadi janda atau duda dan mendapat kata-kata yang tidak baik. Apabila terjadi perkawinan kemungkinan anaknya atau keturunannya menjadi kerdil dan menjadi janda atau duda salah satu dan semua pekerjaan tidak akan berhasil. Yang dinamakan sasih (bulan) anglawean, berdasarkan pencarian pada waktu pananggal pisan (1) tilem itu hilang. Dan apabila mencari purnama menjadi panglong pisan (bulan) materas (berkepala) bhuta catus pata, sama sekali tidak boleh dipakai dewasa. Hal inilah disebutkan dalam buku wariga Dewasa sebagai berikut:

Sasih anglawean “ala dahat” apan materas bhuta. Tan wenang amangun graha, ngulihin pakarangan. Alania tan pasantana, doyan buduh, balu muang kaogan-ogan. Yan mate muang alakirabi, bedi anaknia, malih rangda salah tunggal, salwiring karya tan sida. Sane kawastaning sasih anglawean, matapakan pangalihan, kalaning ngalih tanggal 1, tilem hilang. Muang kalaning ngalih purnama dadi panglong 1, purnama hilang (Sri Reshi Anada Kusuma, 1979: 10-11).

 

Jadi sasih anglawean itu apabila terjadi pangalihan atau pergeseran pada waktu mencari tanggal apisan (1), tilem hilang maksudnya panglong 15 (tilem) menjadi pananggal pisan (1). Dan pada waktu mencari purnama menjadi panglong pisan (1), maksudnya tanggal 15 (purnama) menjadi panglong 1. jelasnya Tilem dan Purnama hilang menjadi pananggal 1 dan panglong 1. apabila kita lihat sloka nguna latri seperti diuraikan dalam modul 4 di depan, dapat dibandingkan dengan sloka yang berbunyi: “Prati padentu” artinya pananggal/panglong 15 menjadi satu (1) 1 (15/1). Oleh karena itu untuk menghindari padewasan ala (buruk) yang disebut sasih anglawean terlebih dahulu perlu lebih di dalami pemahaman tanggal – panglong dan sasih itu.

Sumber Bacaan:

Anandakusuma, Sri Reshi, Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Pangunyan sasih terdiri dari dua kata yaitu Pangunyan dan sasih. Pangunyan berasal dari kata “unya” mendapat sengau “ng” kemudian mendapt awalan “an” (pa + ng + unya + an). Uya (ngunya) artinya berkunjung. Sasih berarti bulan. Pangunyan sasih artinya kunjungan bulan. Yang dimaksud adalah kunjungan suatu bulan (sasih) tertentu kepada bulan yang lainnya sehingga terjadi perubahan sifat bulan yang mengakibatkan perubahan musim. Misalnya sasih kanem ngunya kapitu (Kanem-kapitu) artinya bulan kanem mengambil sifat bulan katujuh (Kamus Bali Indonesia, 1978: 631).

Contoh lain sasih katiga ngunya sasih kanem artinya sasih katiga mengambil sifat sasih kanem sehingga nampak di dalam ciri dari masing-masing sasih itu, seperti sasih katiga cirinya panas dan sasih kanem cirinya turun banyak hujan. ada sasih yang demikian itu akan tampak sesaat panas yang keras dan kadang-kadang terjadi hujan yang amat deras. Pangunyan sasih berguna untuk  mengetahui perubahan-perubahan cuaca  terutama dalam pangunyan sasih yang kontras.

Adapun dasar perhitungan untuk  mengetahui pangunyan sasih adalah rah pangunyan. Untuk mendapat rah pangunyan caranya tahun Saka dibagi 12 (dua belas), sisa pembagian itulah disebut rah pangunyan.Untuk mendapatkan tahun Saka adalah tahun Masehi dikurangi 78, karena perbedaan kedua tahun ini adalah 78 tahun. Jadi misalnya pada tahun 1992, maka tahun Sakanya adalah 1992- 78 = 1914.

Keterangan:

  1. Kolom 1-12 adalah sisa dari tahun caka dibagi 12. Apabila caka itu habis dibagi 12 atau tidak bersisa, maka ini berarti bersisa 12, bukan 0 karena pada kolom itu tidak ada kolom 0.
  2. Sasih kasa, bila tahun caka dibagi 12, sisanya satu (1) berarti sasih kasa ngunya kapat (karena di bawah kolom satu (1) terdapat angka 4. Apabila sisanya 6 ini berarti sasih kasa ngunya ke sanga (9) karena di bawah kolom 6 terdapat angka 9 yang berarti sasih kasanga demikian seterusnya.
  3. Sasih kasanga, bila tahun caka dibagi 12 sisanya (1) satu berarti sasih kasanga ngunya kapat, dan apabila sisanya sebelas (11) maka ini berarti sasih kasanga ke sada (12).
  4. Pangunyan sasih akan memugelang atau kembali kepada yang pertama selama 12 tahun sekali.

Sumber bacaan:

  1. Panitia Panyusunan Kamus Bali – Indonesia, Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1978.
  2. Guweng, I Ketut, Sarining Wariga, 1975.
  3. Rawi, I Ketut Bangbang Gde, Kunci Wariga, 1967

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma – Kota Bekasi

 Om Swastyastu

Pengertian Suddhi Vadan

Untuk memberikan gambaran  umum yang lebih jelas tentang upacara Suddhi Vadani, maka terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dari Suddhi Vadani tersebut. Secara etimologi Suddhi Vadani berasal dari kata Suddhi dan Vadana, Suddhi berasal dari bahasa Sanskerta (f) yang artinya penyucian, persembahan, upacara pembersihan/penyucian. Kata yang sepadan dengan Suddhi aalah Suddha (mfn), yang berarti bersih, suci, cerah, putih, tanpa cacat atau cela. Baik kata suddhi maupun kata suddha berasal dari akar kata kerja “suddh”, yang berarti membersihkan, menyucikan, menjad bersih, suci. Sedangkan kata Vadani secara gramatikal berasal dari kata benda “vada” (mfn) yang berarti perkataan, pembicaraan, yang dalam kata majemuk, kata vada itu hanya terpakai sebagai kata terakhir, misalnya Priyamvada, yang berarti berbicara dengan baik atau dengan pantas. Vadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan, adapun bentuk-bentuknya seperti:

  1. Vadana (n)atau vadhana (f) yang dapat berarti muka, mulut, prilaku/cara berbcara.
  2. Vadanya (mn) atau vadanya (f) yang berate fasih berbicara, ramah, banyak bicara.

Dengan demikian kata suddhi dan vadani  dapat diartikan dengan kata-kata penyucian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa upacara suddhi vadhani adalah upacara dalam agama Hindu sebagai pengukuhan atau pengesahan ucapan atau janji seseorang yang secara tulus ikhlas  dan hati suci menyatakan masuk dan memeluk agama Hindu ( Tim, 1998: 3-4 ). Adapun beberapa istilah yang berkenaan dengan upacara suddhi vadani, yang perlu juga kita ketahui diantaranya adalah:

  1. Suddhi Vadani, adalah pernyataan suci melalui kata- kata atau janji oleh seseorang untuk nmenganut atau memeluk agama Hindu yang dilandasi hati yang tulus ikhlas.
  2. Yajna, adalah kegiatan keagamaan yang dilaksanakan berdasarkan keikhlasan dan ketulusan hati terhadap Tuhan (Sang Hyang Widhi) beserta kemahakuasaan-Nya, para Maharsi, leluhur,sesama manusia, terhadap makhluk lain maupun terhadap alam lingkungannya.
  3. Inisiasi, adalah penyucian dan pentasbihan.
  4. Samakara, adalah upacara penyucian yang bertujuan untuk menyucikan badan dan pikiran sehingga dapat memuja Tuhan secara layak dan khusuk.
  5. Satyam, Sivam, Sudharam,adalah hakekat sifat keagungan Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud kebenaran, kebahagiaan dan keindahan.
  6. Sraddha, adalah keyakinan/ kepercayaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) beserta segala ka Maha Kuasaan-Nya,
  7. Bhakti. Adalah pancaran cinta kasih yang tulus dan luhur dalam bentuk penyerahan diri kepada Sang Hyang widhi Wasa.
  8. Dasa karma patha, adalah sepuluh jenis tindakan yang harus dikendalikan melalui : tiga macam dari pikiran, empat macam dari perkataan dan tiga macam dari tindakan badan.
  9. Dharma Siddhiyartha, adalah landasan sistem berfikir dalam penuangan konsep untuk menentukan alternatif kegiatan guna mencapai tujuan beragama. (more…)

Oleh: I Wayan Sudarma (Kota Bekasi)

Om Swastyastu
Ya Tuhan Yang Mahaesa, Engkau adalah Brahma, Visnudan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang maha agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.
Pada hari Budha Kliwon Perwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang mahaatinggi atau maha agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.

Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung. (more…)

Oleh: I Wayan Sudarma (Bekasi, 26 Desember 2006)

 Om Swastyastu

Seperti diketahui, kata ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yajna khususnya pembakaran mayat. Tetapi ada juga ngaben tidak disertai dengan membakar mayat oleh karena suatu tradisi di daerah tertentu.

Kata ngaben berasal dari kata beya yang artinya biaya atau bekal. Dalam bahasa yang lebih halus, Ngaben disebut Palebon yang beralsal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu, ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan dengan cara mengubur ke dalam tanah. Upacara Ngaben umumnya dilakukan dengan membakar jenazah sehingga menjadi abu. Tujuannya adalah untuk segera mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta yang ada pada diri manusia kepada asalnya. (more…)

Om Swastyastu

Setiap pembunuhan dan bentuk kekerasan (penganiayaan) lain

 tak peduli apa penyebabnya yang dilakukan oleh atau ditujukan

kepada orang lain adalah suatu tindakan

kejahatan kemanusiaan”

                                                         Gandhi dalam Harijan, 20-7-1935, 180-181

Pendahuluan

Satu abad atau saratus tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 September 1906 Mohandas K. Gandhi merumuskan strategi Satyagraha di Johannesberg, Afrika Selatan. Kemudian sejak September 2006-September 2007 saat ini, dunia memperingati Seabad Satyagraha. Dalam suasana tersebut ajaran  Mahatma Gandhi  tentang Ahimsa dan masyarakat tanpa kekerasan sangat penting untuk  disebarluaskan kepada masyarakat  umum.

Ajaran dan sosok Gandhi telah menjadi milik dunia. Ia telah mendarmabaktikan pemikiran dan hidupnya untuk memajukan dunia, mewujudkan perdamaian abadi yang dilandasi kebenaran, keadilan dan cinta kasih yang tulus. Dalam situasi masyarakat yang dihantui oleh berbagai tindak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di bumi Nusantara ini. Ajaran Gandhi tentang Satyagraha dan Ahimsa sangat relevan untuk ditelaah dan diamalkan. Kekerasan telah terjadi di mana-mana. Di lembaga pendidikan yang terhormat dari lembaga pendidikan tinggi sampai di sekolah dasar, seperti di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang menyiapkan calon birokrat yang melayani dan mumpuni, kekerasan berlangsung seru dengan melibatkan banyak pihak dan mengakibatkan beberapa korban berjatuhan. Kekerasan terjadi di sekolah dasar, seorang anak telah berani melakukan tindak brutal mengeroyok teman atau adik kelasnya, dan korban pun begelimangan. Kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar dikaitkan pula dengan tayangan Smack Down di TV.  Ayah kendung menganiaya anaknya denan sangat sadis (Bali Post, 5 September 2007) dan sebagainya. Kekerasan tinggal kekerasan dan tiada hentinya ditayangkan di media massa. Mulai dari ujung utara Nusantara sampai selatan, dari barat sampai ke timur, dan di rumah tangga, di lembaga pendidikan, di berbagai sektor kehidupan kekerasan telah menghantui masyarakat, dan bagi masyarakat Bali sangat merasakan dampak dari kekerasan yakni tindakan teroris yang meledakan bom di Jalan Raya Legian Kuta dan Kafe Jimbaran. Kedua ledakan besar yang mengakibatkan meninggalnya ratusan orang, terutama orang asing telah mencoreng nama Bali dan Indonesia sebagai negara yang tidak aman. Negara yang belum mampu menuntaskan penangkapan gembong teroris dan dampaknya di sektor ekonomi sangat dirasakan hingga kini.

(more…)

Oleh:I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu
Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Maharṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian. Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik.

Perekonomian disebut dengan istilah Vārttā, yang menurut Kautilya dalam bukunya Arthasāstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Danîanīti (Hukum), sedang lingkup Vārttā meliputi 4 bidang (Vārttā Caturvidhā), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhāgavata Purāṇa X.24.21 (krsi-vānijya-goraksā kusīdam tūrīyamucyate, vārttācaturvidhā tattra vayam govrttayo’nisam).
(more…)


Selesai ditranskrip ke dalam huruf Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

 Oleh: Tantrayana Gautama, Budha Cemeng Ukir, 21 Januari 2009

(1b)  Ong Awighnāmāstu. Patngëran tlas ring kapatin, iti wariga dalëm, ning nghājñanā, hana pūrwwā bhumi ring bwanālit, apan hanājñanāntāgring tan kawaśa tinggal, tlas sanghyang urip wus atinggal. Malih yan wus karaśā tëtngëran mwang ngacicidrā, ikā druwā wwang mangkanā. Iti lwir rikang hoṣadhi. Nihan patngëraning wiṣya, lwirnyā, yen tan pabhayu, upas tahunan kaglarani, śa, wah jruk, gulā, hisin rong, pipis patiwyā hinum. Yen kuning kukunya, kërikan gangśa glarani, śa,

(1b)   Ya Tuhan Semoga terhindar dari segala rintangan. Tanda- tanda kematian pada orang yang akan meninggal, ini Wariga Dalem , (bersumber) dari pengetahuan sejati, tersebut sejak semula dalam tubuh manusia terdapat kandungan alam semesta, sebab sumber penyakit senantiasa melekat, setelah Sanghyang Atma meninggalkan badan baru dia akan pergi. Dan lagi jika sudah merasakan dan memahami tanda-tanda (tentang) penyakit , itu hendaknya diketahui oleh manusia. Ini di antaranya ilmu tentang pengobatan. Inilah tanda-tanda tentang penyakit, di antaranya, jika nafas hampir meninggalkan raga, upas tahunan menyakiti, sarana, buah jeruk, gula, isinrong (rempah-rempah), dilumat, airnya diminum. Jika kukunya (tampak) kuning, krikan gangsa , (sumber) penyakitnya, sarana,

(2a)  ëñcah bebek, kunir warangan, tahap. Yen jnar śocanyā asa bāng, upas dewek kaglaranin, śa, carmmān poh hijo, lunak tanëk, wenya bayëm puring, inum. Yen matrā kukunya karawat bang, upasing hyang nglaranin, śa, jukut raṣṭi, adas, bawang tambus, inum. Maka bāng, kadi mtu, kawaśa uyang, pipilingan kadi cinlëk, kuku bhirū u-pas manglarā, tawarën. Tluntu yogah agatël, knā warangan ika, kukurah indening yeh angët, gumigil tan pantarā turra wa –

(2a)   air kencing itik, kunyit warangan , di minum. Jika matanya kuning kemerah-merahan, upas dewek yang menyakiti, sarana, kulit mangga hijau, asam yang direbus, air bayam puring , diminum. Jika mata kukunya tampak kemerahan, upas Hyang yang menyakiti, sarana, akar paku nasi, adas, bawang yang dipanggang, diminum. Mata merah, seakan hendak keluar, senantiasa gelisah, pelipis mata bagai ditusuk, kuku (tampak) biru, racun yang menyebabkan, hendaknya diobati. Gigi goyah dan gatal, itu terkena racun warangan , dikumur dengan air hangat, menggigil kedinginan, dan batuk

(2b)  _tuk tan pantarā, kna raratus, śa, rwan pucuk putih tan patlak saka wit, hinum, japan dening mantran panawar, wdaknyā rwa ning katepeng, tutuhnyā wdak dahuti, kasisat putih, sari kuning, kalëmbak kāsturi, puhhaknā. Yan gumtër paglaning tanganyā, knā ctik ika, pūhhaknā, wnang tinawar. Yan kna, cṭik upasmat, śa, candāna, hasat ring dulang dulang dulangan, tain ñlati, cārmman bëngkël, cārmman këndal, sami panggang haywā winālik, pipis, we bayu wenyā, hinūm, ma, Ong hayu gumi, kewu hana janma manuṣā,

(2b)   yang terus menerus, terkena raratus (campuran racun), sarana, daun kembang sepatu putih termasuk akar, daun dan kulitnya, diminum, dimantrai dengan mantra penawar, borehnya daun ketepeng, ditetesi boreh dahuti , kasisat putih, sari kuning, klembak, kasturi , teteskan, jika pergelangan tangannya terasa gemetar, itu terkena cetik (racun), teteskan, hendaknya diobati. Jika terkena cetik (racun) upasmat , sarana, cendana digosokkan pada dulang, tahi nylati (sari-sari tanah), kulit pohon bengkel , kulit pohon kendal , semua dipanggang tanpa dibalik, dilumatkan, air saringan airnya, diminum, mantra , Ong hayu gumi, kewu hana janma manusa,(Ya dunia sejahtera, ada manusia, ada sinar dunia, ada sinar manusia, Bhatara ada manusia, mencari kesaktian, mantraku ampuh dan berhasil)

(more…)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.