susila


Om Swastyastu

ᬳᬬ᭄ᬯᬢᬲᬶᬭ᭝‌

ᬅᬤᬶᬕᬂᬅᬤᬶᬕᬸᬂᬅᬤᬶᬕᬸᬡ᭟

Aywa ta sira ādigang ādigung ādiguņa

Kalimat di atas sebenarnya adalah bahasa Jawa lisan. Sumber bahasa tulisannya adalah “Aywa Adigang, Adigung, Adiguna”, tidak menggunakan huruf “o” tetapi “a”.

Kalimat tersebut merupakan petuah dari leluhur kepada anak keturunannya. Sebuah petuah (yang umumnya) baik bagi generasi berikutnya. Karena kearifan orang tua adalah berfikir apa yang terbaik bagi keturunannya. Hanya orang-orang yang telah sesatlah yang berfikir agar keturunannya menjadi orang jahat secara terprogram.

Dalam kamus Bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia” susunan S.Prawiroatmojo (1980) dijelaskan bahwa:

ᬅᬤᬶᬕᬂ‌ (Ādigang ): Membanggakan kekuatannya

ᬅᬤᬶᬕᬸᬂ (Ādigung): Membanggakan kebesarannya

ᬅᬤᬶᬕᬸᬡ (Ādiguņa): Membanggakan kepandaiannya

Kata “Aywa” berarti jangan. Rangkaian kata petuah menjadi semakin dalam ketika kita mau merenungkannya.

AYWA ĀDIGANG: jangan membanggakan kekuatan

Kekuatan bisa berbentuk kekuatan fisik, bisa berbentuk kekuatan secara bersama-sama, atau koalisi. Kekuatan fisik pada jaman dimunculkannya petuah ini ketika jaman kerajaan jaman dulu. Hukum rimba menentukan siapa yang punya fisik yang kuat, dialah yang akan menjadi pemenang, menduduki jabatan tertentu di kerajaan. Siapa yang punya persatuan besar, maka ia yang akan menjadi pemenang.

Kekuatan fisik di jaman sekarang tampaknya bukanlah sesuatu yang populer. Tapi mungkin pula di kantong-kantong masyarakat tertentu masih ada segelintir orang yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambaran mudahnya misalnya preman, dan geliat premanismenya.

Kekuatan koalisi lebih kepada arti yang abstrak. Model nyatanya semacam koalisi rakyat yang turun ke jalan di jaman gegeran 1997-1998. Jika demikian maka secara perhitungan angka akan memperoleh hasil yang diinginkan. Jika model turun ke jalan hanya dikerjakan oleh perwakilan, ya tentu tan akan menghasilkan apa-apa.

AYWA ĀDIGUNG: jangan membanggakan kebesaran

Kebesaran memiliki berbagai macam jenis. Terutama sekali kebesaran seseorang dengan indikator jabatan. Jabatan bisa dalam lingkup pemerintahan, maupun non pemerintahan. Kebesaran ini melekat dalam diri pemimpin, yang mempunyai bawahan. Presiden, gubernur, bupati, camat, lurah / kepala desa, ketua RT, kepala bagian, kepala seksi, boss, mandor dan sejenisnya.

Jika tidak didasari niat baik, maka dalam diri mereka ada perasaan bangga (dan sombong) terhadap apa yang telah mereka capai. Kesombongan (umumnya) akan menghilangkan kewaspadaan terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka. Jika kewaspadaan hilang, maka konsekueunsi minus yang seharusnya tidak terjadi, malah akan datang.

Sayangnya sudah menjadi semacam kebiasaan (dan mungkin budaya) bagi mereka yang mempunyai kebesaran. Melihat orang lain menjadi kecil. Bahkan dalam taraf yang lebih mengembang, kadang-kadang anak dan istrinya ikut-ikutan membanggakan kebesaran ayah dan suaminya. Dalam satu contoh kecil ada ucapan : “Awas, jangan main-main, dia anak pejabat”.

Jangan membanggakan kebesaran. Kebesaran itu nisbi. Kebesaran itu hanya sementara. Dibatasi waktu. Betapa hidup ini bagi sebagian orang akan menjadi semacam neraka dini, bagi yang mengalami “post power syndrome”. Sekarang disanjung (walaupun sebagian semu), suatu saat akan ditinggalkan.

AYWA ĀDIGUŅA: jangan membanggakan kepandaian

Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah tunggal. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.

Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.

Membanggakan kepandaian, menurut petuah tersebut, tidaklah perlu. Kepandaian seseorang tak harus dibanggakan dan diomongkan. Biarlah orang lain yang menilai. Yang memiliki ilmu tinggi, luas dan dalam (mana yang benar ini?) akan lebih bermakna jika ia mendapatkan pujian orang lain karena manfaatnya, tanpa terdengar oleh dirinya.

Semuanya ada pada kita untuk memilih

Jangan membanggakan. Energi “membanggakan” bagi sebagian orang justru akan menjadi energi negatif. Orang-orang tua jaman dulu telah belajar, telah merenung dan menyimpulkan dari berbagai macam kasus pembanggaan terhadap kekuatan, kebesaran dan kepandaian ini justru menjadi sebuah kontraproduktif.

Jangan bangga dengan kekuatan. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Jangan bangga dengan kebesaran. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Jangan bangga dengan kepandaian. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Yang penting, bangga tidak menggiring kita menjadi sombong.

Anda tidak setuju? Ya tidak apa-apa. Seharusnya memang demikian. Karena Ini adalah sekedar tafsiran. Semoga bermanfaat. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤ ᬚᭂ᭢ᬭ᭡ᬫᬂᬓᬸᬤᬦᬹ‌ ( Jero Mangku Danu)

Bekasi, 24 Februari 2000

Advertisements

Om Swastyastu
Ini Dampak ketika kita belum mampu memaknai ajaran agama dengan benar, tapi sudah merasa diri paling benar.
Ini Dampak ketika tempat ibadat dikomersialkan menjadi obyek wisata, sehingga para pemuja Tuhan pun dianggapnya sebagai obyek tontonan
Ini dampak ketika hak yang paling Privasi di eksploitasi hanya untuk kepentingan perut.

Semoga kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi dimasa yang akan datang.
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“Tindakan bunuh diri dinyatakan “Ulah Pati” sebagai perbuatan dosa, karena bertentangan dengan ajaran Dharma. Dharma mengajarkan kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan ini dari perbuatan tidak baik menjadi baik/benar. Ulah Pati sangat tidak baik untuk dilakukan apalagi usia yang masih relatif muda. Sungguh disayangkan dan sia-sialah mereka yang mengambil jalan pintas melalui bunuh diri”

gantung-diri

Tidak bias dipungkiri, bahwasanya belakangan ini  kasus-kasus Bubuh Diri yang terjadi di Indonesia semakin meningkat. demikian juga yang mendera umat Hindu di berbagai daerah, mulai dari kasus yang terjadi pada anak-nanak, remaja, bahkan pada mereka yang sudah dewasa dan tua.


Bertambahnya tuntutan hidup membuat seseorang seringkali kehilangan akal sehat dan memaksanya untuk berpikir ekstra dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya,  baik primer maupun sekunder, jasmani dan rohani. Dalam keadaan seperti itu bagi yang tidak kuat secara psikis, emosi, mental dan spiritual akan menjadi beban secara kejiwaan yang lambat laun menjadi depresi hingga stroke yang berkepanjangan, sehingga acakali dipecahkan dengan caranya sendiri. Ada  beberapa indicator utama penyebab orang melakukan bunuh diri, seperti: masalah sosial ekonomi, asmara dan keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya suatu saat terhenti karena pikiran seakan buntu dalam keputus-asaan kemudian melakukan tindakan bunuh diri. Barangkali disinilah letak akar masalah kenapa dalam mencari solusi pemecahan masalah seseorang membuat keputusan sendiri ? Jika saja kondisi psikis, emosi, mental  dan spiritual seseorang tangguh, kokoh dan kuat maka tindakan konyol seperti bunuh diri bisa dihindari. Padahal kita juga tahu dan sadar, bahwa terlahir menjadi manusia merupakan kesempatan yang amat langka. Tetapi kesadaran ini sering terabaikan.  untuk itu kita perlu merenung kembali,tentang hakikat keutamaan kita sebagai manusia, seperti apa yang telah disuratkan dalam berbagai kitab Suci Weda, seperti yang termaktub dalam:

Sarasamuçcaya Sloka 2:
Manusah sarvabhutesu varttate vai çubhaçubhe Açubhesu samavistam çubhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk ; leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah gunanya (pahalanya)menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 3:
Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, Candalatvepi manusyam sarvvatha tata durlabham.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati ; sekalipun hidupmu tidak makmur ; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun dilahirkan hina sekalipun.

Sarasamuçcaya Sloka 4:
Iyam hi yoning prathama yam prapya jagatipate, Atmanam çakyate tratum karmabhih çubhalaksanaih.

Artinya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama ; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik ; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 6:
Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, Tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha.

Artinya : Kesimpulannya, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga ; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.


Bhagawadgita Adhyaya II .66:
Na’sti buddhir ayuktasya,

na ca yuktasya bhawana,

Na ca bhawayatah santir,

asantasya kutah sukham

Artinya : Tidak ada pikiran yang tidak terkendalikan Tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan Tidak ada ketegangan untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tenang, dimana kebahagiaan itu.
Sloka tadi mengisyaratkan bahwa kunci kebahagiaan adalah pikiran yang terkendali, konsentrasi yang terkendali, pemusatan pikiran, ketenangan pikiran.

Sebaliknya pikiran yang tidak terkendali ibarat perahu hanyut dalam samudra terbawa angin “Wayur nawan iwambhasi” demikian dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya II. 67.

Renungan

Secara Psikologis, manusia memerlukan media untuk melepaskan semua hal yang menyebabkannya mengalami kebuntuan berpikir jernih dan masuk akal. Susastra Weda memberikan kita arahan, untuk mengatasinya, dan diantaranya yang dapat dilakukan guna menguatkan dan menghidarkan diri dari perbuatan-perbuatan konyol  seperti bunuh diri, adalah; dengan Membaca Sloka-Sloka Kitab Suci Weda dan melantunkan Nama-Nama Suci Tuhan dalam setiap kesempatan. Hal ini sangat  membantu mengendalikan lamunan yang tidak perlu. karena Sloka dan atau  Mantra suci Weda ibarat kata-kata mutiara yang dapat memberikan motivasi dan semangat hidup bukan sebaliknya semangat mati. Memang kematian tidak dapat dihindari jika Tuhan menghendaki. Akan tetapi manusia diberi akal seyogyanya mampu menghadapi berbagai problem atau persoalan hidup.

Untuk melepaskan diri dari persoalan/problem hidup. Ingatlah hidup didunia ini tidak sendiri dan masih banyak orang yang lebih susah dari kita bahkan keterbatasan fisik, seperti tuna netra, tuna wisma, tuna rungu, tuna daksa, yatim piatu dsb. Oleh karena itu kendalikan pikiran, besarkan hati, sucikan jiwa secara konsisten dengan mengisi kegiatan yang produktif dan berkualitas baik kegiatan rohani maupun kegiatan duniawi.

NEPAL GANTUNG DIRI - 1.jpg

Kiat Pencegahan Tindakan Bunuh Diri.

Sebelum terjadi tindakan bunuh diri perlu diupayakan kiat pencegahan khususnya dalam perspektif Hindu :

1. Kiat Pembinaan Rohani:

  1. Sembahyang secara rutin dengan kesadaran sendiri
  2. Membaca kitab-kitab suci Weda terutama kata-kata mutiara yang dapat membangkitkan semangat hidup.
  3. Menerima hidup ini dengan ikhlas sebagai karma wasana.
  4. Sabar, jujur dan bersyukur.
  5. Tidak melupakan orang tua.
  6. Mengasihi seluruh keluarga

2. Kiat Pembinaan Fisik:

  1. Berolah raga secara teratur.
  2. Makan makanan dan minum minuman yang sehat sesuai kebutuhan

3. Kiat pembinaan Sosial Kemasyarakatan:

  1. Komunikasi secara intens dalam pergaulan social.
  2. Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan

 

bubuh-diri

Simpulan

  1. Tindakan bunuh diri bisa menimpa siapa saja, jika tidak kuat mengendalikan diri terutama mengendalikan pikiran maka bisa terjebak dalam kebingungan.
  2. Semua orang punya problem atau persoalan hidup bahkan mungkin lebih berat problem yang dihadapi orang lain dibandingkan dengan problem kita sendiri. Dengan menyadari ini, maka akan terlepas dari rasa rendah diri dan putus asa.
  3. Para Ketua  Banjar, PHDI, Sesepuh hendaknya lebih intens dalam komunikasi sosial dengan warganya sehingga lebih mengenal secara mendalam dan terjadinya hubungan yang akrab, dengan memerankan diri sebagai Bapak, sebagai Guru, sebagai Teman dan Sahabat.
  4. Pembinaan Rohani Hindu dijadikan landasan dalam pembinaan umat Hindu secara berkesinambungan.

    Demikian uraian singkat pokok-pokok pikiran  agama Hindu sebagai upaya pencegahan dalam menanggapi kejadian tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya

    Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu

Hari ini sengaja saya: Jero Mangku Danu, menyitir tokoh Buto Cakil kaitannya dengan kondisi Bangsa Indonesia yang sedang dihadapkan pada kondisi semakin maraknya sikap dan sifat INTOLERANSI, yang ditampilkan oleh oknum baik secara pribadi maupun kelompok dengan berbagai argumen pembenaran dan tuntutan.
Seperti kita ketahui dalam kazanah Wayang Purwo Jawa, kita bisa temui penokohan yang menyerupai oknum yang doyannya bikin goro-goro, bikin issue, membuat gaduh, provokatif, tapi juga pengecut. Nama tokoh wayang itu tak lain adalah:  BUTO CAKIL
Buto Cakil atau Raksasa Buto Cakil adalah tokoh pewayangan yang hanya ada di Jawa, tidak terdapat dalam kisah Mahabharata dari India. Sebagaimana umumnya buto, Cakil mewakili personifikasi orang jahat dalam tatanan masyarakat Jawa. 
Dan Cakil adalah pemimpin bagi kaumnya, seperti juga tokoh-tokoh wayang lain yang tampil dalam cerita wayang, adalah personifikasi para pemimpin, tidak ada rakyat biasa. 


Buto Cakil memiliki ciri fisik rahang bawah yang maju ke depan. Ciri khas dagu yang posisinya lebih maju
Sepintas Buto Cakil nampak tidak garang ganas pemarah layaknya raksasa walau bertaring dengan mata melotot, ia justru sering tampil kalem,  suka bercanda, pandai bersenang-senang, dan tak jarang suka berbicara atas nama agama. Tapi sejatinya Buto Cakil adalah seorang pengeyel sejati, suka ngotot,  pantang menuruti perkataan orang lain, dan merasa paling benar, tapi disatu sisi merasa teraniaya, terzolimi. Sangat provokatif dan reaktif jika ada mengkritiknya. Kukuh dengan pendapat sendiri, akan dia pertahankan kalau perlu sampai mati. 
Dia tinggal di hutan perbatasan, mengabdi pada kerajaan raksasa otoriter masa lalu, berbatasan dengan kerajaan yang dipimpin para ksatria baru, generasi yang lebih muda.  Tepatnya hidup dari jatah senggol sana senggol sini, tak peduli haram atau halal….yang penting tetao bisa eksis….
Mental Buto Cakil sebenarnya bukan petarung tangguh, tidak berani cari perkara dengan raksasa lain, atau ksatria yang penampilannya sangar ala Bima atau Duryudana, sukanya mencegat ksatria kerempeng berpembawaan halus, atau ksatria muda, lembut yang kira-kira mudah untuk dikalahkan. 
Itulah makanya dalam setiap penampilan Buto Cakil yang dipaparkan ki Dalang, dia selalu bertempur dengan Arjuna yang baru turun keluar dari pertapaan. Arjuna versi Jawa, sosoknya bertubuh langsing, halus gerak geriknya, dan saat keluar dari pertapaan, tidak menyandang pakaian kebesaran ksatria, tapi berpenampilan ndeso seadanya. 
Pada kisah lain, Buto Cakil bertempur dengan ksatria muda yang baru keluar dari padepokan. Biasanya adalah putra Arjuna yang ksatria muda yang juga halus kerempeng dan ndeso pula. 
Buto Cakil mencegat sang ksatria di hutan, tidak meminta harta, karena jelas sang ksatria sederhana dari bertapa tidak membekal apa-apa, bahkan juga tidak membawa senjata. Buto Cakil langsung tanpa tedeng aling-aling meminta nyawa. 
Bicaranya tidak menghardik atau menggelegar menakutkan, Buto Cakil justru gayanya cengengesan, memelas laksana psikopat kambuhan. Sudah tentu akhirnya pertarungan yang terjadi, karena tidak ada yang perlu dirundingkan dengan Buto yang meminta nyawa. 
Pertarungan tangan kosong dimenangkan ksatria kerempeng dengan mudah, karena Buto Cakil tidak bisa menggigit dengan posisi rahang bawahnya yang maju, aneh dan tidak efektif. Akhirnya Buto Cakil menyerang kroyokan sambil mencabut keris, menyerang sang ksatria ndeso dengan kerisnya beramai-ramai.
Logika awam, Buto Cakil dengan keris di tangan, didampingi rombongan raksasa akan menang mudah melawan seorang ksatria kerempeng dan halus gemulai, berpenampilan ndeso dan tanpa senjata. Tapi ketetapan Penulis cerita kehidupan wayang Jawa, justru Buto Cakil kalah, mati, tertusuk oleh kerisnya sendiri. 
Di akhir cerita Rombongan raksasa teman-teman Buto Cakil tidak bisa protes, atau menyalahkan sang ksatria kerempeng, karena kekalahan dan kematian Buto Cakil tertusuk kerisnya sendiri, disebabkan oleh tindakannya sendiri, akibat kesalahannya sendiri. 
Buto Cakil adalah satu dari Empat Sekawan Raksasa. Sesuai hukum alam, buto berkawan dengan buto. Buto Empat Sekawan terdiri dari:

  1. Buto Cakil (dagunya maju); sebagai perlambang tabiat orang yang sangat provokatif, penghasut,  intoleransi.
  2. Buto Rambut Geni (warnanya rambutnya tidak biasa), sebagai perlambang tabiat orang pikirannya selalu negatif, nyeleneh bin aneh, selalu memandang orang lain penuh sinis, baginya hanya dia yang benar.
  3. Buto Terong (pemuja nafsu hingga hidungnya seperti terong), ini gambaran tabiat orang yang sok alim, gamis tapi memendam nafsu yang menggunung dan
  4.  Buto Pragalbo (buto yang namanya diawali dengan Pra), adalah gambaran tabiat orang yang sukanya main kroyokan, dan pengecut jika sendiri.

Gambaran Buto Cakil  ini kok ya pass…..dengan fenomena yang sedang terjadi di negeri kita saat ini. Senangnya provokatif, beringas, merasa paling benar, orang lain dianggapnya salah semua, dikritik tidak mau…..eh malah balik menghardik…..dan berperangai sok jagoan…..padahal untuk makanpun sering harus merampas dan menjarah.
Tapi hukum Tuhan, Hukum Alam…….pastilah adil. Siapapun saat ini yang bertingkah polah seperti Buto Cakil;  Yang berkelakuan buruk pasti akan mati oleh kerisnya sendiri, ia akan hancur dan binasa oleh ulahnya sendiri. 
Namun demikian sebagai Bangsa yang majemuk, kita tidak boleh diam, acuh dan cuek bebek teehadap Buto Cakil. Kita harus berani menghadapinya. Karena tidak ada alasan apapun untuk membiarkan Buto Cakil beranak pinak dan mengganggu keutuhan Bangsa kita yang Bhineka Tunggal Ika.
Ingat…….Buto Cakil bisa menjadi gambaran bagi siapa saja, Buto Cakil bisa ada kapan saja, termasuk jaman sekarang, baik rakyat biasa ataupun para pemimpin. 
Dan satu lagi……Orang yang berperilaku buruk, lalu kena musibah akibat dari perbuatan sendiri di masa lalu, maka orang seperti itu biasa disebut seperti Buto Cakil…..
Om Santih Santih Santih Om
❤ Jero Mangku Danu©
#NKRI

#BhinekaTunggalIka

#IndonesiaDamai

Kalajengking Dan Kura-Kura

Om Swastyastu

“Kawan bagaikan tombol lift, dapat membawa anda naik atau turun! Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak,tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang”. (Mutiara Dharma 06/06/2016)

image

Dalam kitab Panca Tantra, ada dikisahkan  sebuah cerita antara Kalajengking dengan Kura-Kura.

Karena tidak mampu berenang, seekor kalajengking suatu hari meminta kepada seekor kura-kura agar memberinya tumpangan di punggung untuk menyeberangi sungai.

“Apa kamu gila?” teriak kura-kura, “Kamu akan menyengatku pada saat aku berenang dan aku akan tenggelam.”

Kalejengking itu tertawa sambil manjawab, “Kura-kura yg baik, jika aku menyengatmu, kamu akan tenggelam dan aku akan ikut bersamamu. Kalau begitu, apa gunanya? Aku tidak akan menyengatmu karena itu berarti kematianku sendiri!”

Untuk beberapa saat, kura-kura itu berpikir tentang logika dari jawaban tersebut. Akhirnya dia berkata, “Kamu benar. Naiklah!”

Kalajengking itu naik ke punggung kura-kura tadi. Namun baru setengah jalan, dia menyengat kura-kura itu dengan sengit.

Sementara kura-kura mulai tenggelam perlahan-lahan menuju dasar sungai dengan kalajengking di atas punggungnya, dia mengerang dengan pedih, “Kamu kan sudah berjanji, tapi sekarang kamu menggigitku! Mengapa? Sekarang kita sama-sama celaka.”

Kalajengking yang tenggelam itu menjawab dengan sedih, “Aku tidak dapat menahan diri. Memang sudah tabiatku untuk menyengat.”

Sahabat, ingatlah, pelajari karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai kawan. Peran yang dia mainkan akan mempengaruhi kehidupan anda!

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma
*Disunting dari: Cihna Katha

Om swastyastu

1. Guru Piduka: adalah istilah yang digunakan sebagai bentuk “kesadaran” bahwa kita tak luput dari kekeliruan bahkan kesalahan, yang kita lakukan-akibat tidak mampu dan atau belum bisa “sepenuhnya” dapat menjalankan apa-apa yang diamanatkan oleh “guru” kita; baik yang diamanatkan oleh Guru rupaka, guru Pengajian, guru wWsesa, dan guru Swadhyaya.

Kaitannya dengan Upacara Agama, kita juga belum sepenuhnya mampu menjalankan apa yang diamanatkan melalui “guru sastra” (sastra drsta), yang kita jadikan acuan dalam berupacara dan membuat upakara yadnya. Masih banyak bahan yang belum kita dapatkan, atau kita kurangi, atau kualitasnya tidak sesuai-misalnya ada yang sudah busuk, basi dan sebagainya. Atas hal inilah kita melakukan Guru Piduka (upacara permohonan maaf secara khusus kepada Guru-Guru tersebut diatas), yakni dengan mempersembahkan Banten yang namanya sesayut Guru Piduka. Kata sesayut artinya: Permohonan Khsusus.

2. Bendu Piduka: Bendu artinya kesal, kecewa, marah;  Adalah berkenaan dengan tata kelola pikiran, ucapan dan tindakan kita selama berbuat (khususnya saat berupacara), baik yang berada diluar kesadaran maupun disengaja yakni pikiran dongkol, kesal, kecewa; kata-kata kasar, fitnah; prilaku emosional, marah, bahkan hingga mengamuk dan dendam. Kondisi inilah yang mencemari upacara sehingga dinamakan leteh. Hal ini lalu dibuatkan Banten Sesayut Bendu Piduka, sebagai bentuk Rasa Penyesalan sekaligus permohonan maaf baik kepada Tuhan, dan sesama. Bahwa selama kita berkarma (ngayah) pernah melakukan hal-hal yang dikatagorikan sebagai “bendu”.  Dan setelah itu semuanya kembali Ksama (saling memaafkan), Santih (berdamai) dan Santosa (Bahagia bersama-sama).

Klungkung-Smarapura
Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu
Kemarin sore, di Terminal Bus Giwangan, tanpa sengaja saya menyaksikan kejadian yang sangat berharga. Kejadiannya begini; seorang lelaki muda (sepertinya petugas keamanan) memarahi seorang kakek (yang nampak seperti peminta-minta) dengan kata-kata kasar.

Sang Kakek mendengarkannya dengan sabar, tenang, tidak berkata sepatah pun.

Akhirnya lelaki itu berhenti memaki.

Setelah itu, Kakek bertanya kepadanya,
“Mas, jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?”

“Tentu saja menjadi milik si pemberi.” Jawab lelaki itu.

”Begitu pula dengan kata-kata kasarmu,” sambung Kakek.
”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu  milikmu. Kamu harus menelannya sendiri”.
Sang kakek melanjutkan bicaranya: “Aku khawatir saja kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata-kata kasar hanya akan membuahkan penderitaan”.
Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya, ludahnya pasti akan jatuh mengotori wajahnya sendiri…”

Lelaki yang berbadan tegap itu, terhentak kaget…..mungkin karena mulai sadar….lalu tanpa basa basi meninggalkan kakek itu.

Saudaraku….cerita saya ini tentu sangat memiliki makna yang sangat dalam, banyak hal yang patut kita renungkan dalam, diantaranya adalah:

Bila tak mungkin memberi, jangan mengambil…
Bila mampu mengasihi, jangan membenci…
Bila tak bisa menghibur, jangan membuatnya sedih…
Bila tak biasa memuji, jangan menghujat…
Bila tak rela menghargai, jangan menghina…

Patut Kita ingat, bahwa:
“Bunga yang tak akan pernah layu dimuka bumi ini adalah “kesantunan”

Selamat menggapai cita dan cinta, saudara-riku tercinta…
:)❤💕 semoga hari ini hidup kita bermanfaat bagi kebahagiaan semua mahluk.

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Next Page »