wisdom of dharma


Om Swastyastu

Alam Semesta laksana sebuah toko yang hebat, di mana semua hal yang membantu manusia guna memahami kebenaran dapat ditemukan. Kebenaran itu pertama kali dikenal sebagai: “Semua ini dijiwai dengan Brahman (Divinity), yang disutradarai oleh dan terdiri dari Brahman (Sarvam Brahma Mayam)! ”Kemudian sang pencari naik ke kesadaran yang lebih besar,“ Semua ini adalah Brahmam (Sarvam Brahmam),“.

Namun Kebenaran tersebut hanya tampak sebagai sesuatu yang lain untuk suatu waktu bagi mata yang belum dibuka! Keadaan terakhir adalah di mana tidak ada bahkan, “Semua ini (Sarvam)” untuk dipungkiri sebagai yang bukan Brahman; yang ada hanyalah Brahman-sebagi satu-satunya Keberadaan.

Pelajaran ini dipelajari oleh orang-orang ketika mereka mempelajari Alam, menganalisanya dan mencoba memahaminya.

Di pangkuan ibu, anak itu belajar seni hidup; begitu juga Alam (Prakerti) yang mengajarkan seseorang untuk berhasil dalam perjuangan keras dan memenangkan kedamaian tertinggi (Prasanthi).

Menghargai dan berjalan sesuai hukum Alam akan menempatkan kita dalam LindunganNya; adalah kewajiban kita untuk mematuhi perintahNya dan dengarkan peringatanNya, dan dia akan menyampaikan warisan keabadian kepada kita di Alam ini. Manggalamastu.
#bersahabatdenganalam
#jagadhita

#CatatanpinggirJalan

Om Santih Santih Santih Om
💙 I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

Advertisements

Om Swastyastu

sri wisnu

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai maharaja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Srilanka, semua pasukan Sri Rama telah kembali ke Ayodhya. Sri Rama bersama dewi Sita dan Laksamana mengendarai kereta terbang bernama Manipuspaka, yang merupakan hadiah dari dewa Kuvera. Setibanya di keraton Ayodhya, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Sri Rama berhasil menundukkan Ravana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Sri Rama membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali dewi Sita. Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanuman untuk menerima hadiah dari Sri Rama. Saat itu Hanuman tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat ia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanuman, dengan Sri Rama menginjinkan dirinya sebagai abdi sang Purna Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati.

Terhadap penolakan Hanuman ini, Sri Rama dan dewi Sita kembali mendesak Hanuman untuk bersedia menerima hadiah sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan di medan perang. Demikian pula keberhasilan Hanuman sebagai Duta serta keberanian dan kekuatan Hanuman mendapat pujian dari segenap yang hadir. Hanuman tidak menjawab. Saat itu dewi Sita berbisik kepada suaminya, untuk mengijinkan kalung mutiara hadiah Prabhu Janaka, ayahda dewi Sita diberikan kepada Hanuman. Sri Ramapun menyetujuinya, walaupun kalung mutiara itu memiliki arti yang istimewa bagi Sri Rama dan Sita, karena dihadiahkan saat Sri Rama berhasil mematahkan busur milik dewa Siva dalam sayembara dan berhasil memenangkan serta mempersunting dewi Sita sebagai istrinya. Saat Hanuman tertunduk, Sri Ramapun langsung membuka kalung dewi Sita dan tampil ke depan menyerahkannya kepada Hanuman. Hanuman seperti terpaksa menerima hadiah tersebut. Hanuman merasa malu, seorang yang telah lama diterima sebagai abdi harus menerima hadiah bukankah hal ini salah satu wujud kerakusan ? Setelah Hanuman menerima hadiah tersebut, satu-persatu butiran mutiara itu diperhatikan oleh Hanuman, maksudnya untuk menemukan gambar Sri Rama dan Sita pada biji-biji mutiara tersebut. Iapun tidak menemukan hal itu, tanpa disadari ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menggigit rangkaian mutiara itu dan melemparkannya ke tanah. Hadiran tercengang dan gemas menyaksikan kejadian itu. Panglima Sugriwa sangat marah dan membentak Hanuman. “Hai Hanuman, engkau kera hina tidak tahu diri, kelakuanmu itu memalukan, kuhancurkan wajahmu! Kau telah hina persidangan yang agung ini !” Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan hendak memukul Hanuman. Bila saja tidak di depan persidangan yang mulia itu, Sugriwa sudah pasti menempeleng muka Hanuman. Sugriwa sangat geram, tubuhnya gemetar menahan marah.

Pada saat yang menegangkan itu, Sri Rama dan Sita tersenyum dan memandang Sugriwa yang sedang marah. Demikian tatapan Sri Rama dan Sita menyapu wajah Sugriwa, saat itu pula emosi dan kemarahan Sugriwa lenyap. Sri Rama dan Sita benar-benar mengalirkan pancaran kasih yang tiada taranya. Selanjutnya Sri Rama mendatangi Hanuman dan menepuk bahunya : “Engkau seperti anak kecil, mengapa lakukan hal itu ?”. Maaf tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita, hamba telah mengecewakan persidangan yang mulia ini. Memang hamba seekor kera yang hina, tetapi hamba kira diri hamba tidak lebih rendah dari seorang manusia. Bagi hamba dengan diijinkan sebagai abdi, hamba sudah bahagia, karena ketika hamba dekat dengan tuan dan ibu sebagai perwujudan Avatara Tuhan Yang Mahaesa dan dewi Laksmi, saat itu pula kebahagiaan tiada taranya hamba peroleh dari tuan. Bukankah dengan pemberian hadiah ini hamba menunjukkan kerakusan hamba ?”.

Sri Rama kembali menepuk bahu Hanuman. “Tidak ! Engkau tidak rakus. Lalu apa yang engkau minta Hanuman! Katakanlah jangan seperti anak kecil !” “Baiklah tuan dan ibu dewi Sita, bila hamba boleh meminta lagi, ijinkanlah hamba senantiasa dekat tidak saja secara jasmaniah, tetapi tuan dan ibu dewi Sita hendaknya selalu berada di hati kami. Untuk itu sudikah tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita untuk bersthana pada jantung hati kami. Pada singasana bunga hati kami. Bila tuan dan ibu dewi Sita berkenan bersthana, maka itulah hadiah yang hamba senantiasa mohon”.

Sri Rama selanjutnya berdiri tegak dan bersabda : “Hai Hanuman dan hadirin yang tercinta dan supaya di dengar pula oleh seluruh jagat raya. Siapa saja yang maju satu langkah menghadap Aku dan mau mendekatkankan dirinya serta membuka pintu hatinya. Aku akan datang sepuluh langkah mendekati mereka, masuk ke dalam hatinya dan memberikan kebahagiaan yang sejati tiada taranya!”. Mendengar sabda Sri Rama demikian merdu dan menggetarkan alam semesta. Hanuman dengan mencium kaki Sri Rama terlebih dahulu, kemudian menegakkan dadanya. Dengan kekuatan “Bayubajra”, bagaikan kekuatan petir, tiba-tiba dengan kukunya yang tajam ia menoreh dadanya. Dan dengan tenaganya yang dahsyat, tiba-tiba yang merobek dadanya, darah berhamburan ke berbagai arah. Saat itu pula Sri Rama dan dewi Sita hilang dari singgasana kencananya yang indah. Suasana menjadi hening dan terdengar mantra-mantra para dewa dan rsi-rsi sorga dengan taburan bunga harum semerbak, nampaklah cahaya gemerlapan pada dada Hanuman yang menganga lebar. Pada cahaya itu kemudian nampak sebuah singasana emas di atas padma hati Hanuman. Ketika itu kelihatan Sri Rama dan Sita duduk melambaikan tangan dengan sikap Abhaya dan Waramudra, yaitu sikap tangan menjauhkan serta menolak bencana dan memberi hadiah. Hadirin mengucapkan Jaya-jaya Sri Rama, Jaya-jaya dewi Sita. Setelah suana hening kembali. Hanumanpun menutup dadanya, tidak nampak ada luka dan tiba-tiba Sri Rama dan dewi Sita sudah kembali bersthana pada singasana kencana di depan persidangan.

padma hrdayam

Demikian nukilan singkat dari ceritra Ramayana yang memberikan pendidikan secara simbolis, bila di hati kita telah bersthana Sang Avatara, para dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, maka niscaya kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita. Berbagai upacara termasuk piodalan dan lain-lain mengandung makna untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dengan mendekatkan diri, maka Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Anandarupa, yakni kebahagiaan yang sejati akan turun dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga kepada kita.

Om sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah,
sarve bhadrani pasyantu, ma kascid duhkha bhag bhavet.
(Ya Tuhan Yang Mahaesa, karuniailah kami, semooga kami selalu
melihat kebaikan, semoogalah tiada halangan, semogalah kebajikan
selalu di depan kami dan semogalah semuanya terbebas dari
kedukaan).
Om Santih Santih Santih

ᬲᬭᬕᬲᬂᬲᬥᬸᬲᬶ᭢ᬭᬓᬢᬸᬢᬦ᭟

Mereka yang Bijaksana patut dijadikan Suri Tauladan. (Awatara Rama)

#JeroMangkuDanu

ᬢᬦ᭄ᬳᬃᬣ᭄ᬢᬦ᭄ᬓᬫᬧᬶ᭢ᬤ᭡ᬦ᭄ᬬᬢᬦ᭄ᬬᬲ᭟

Bukanlah Harta dan bukan pula Kenikmatan jika tidak diperoleh dengan jalan Kebenaran. (Awatara Rama)

#MangkuDanuQoutes

#JeroMangkuDanu

Om Swastyastu
Beberapa waktu yang lalu Media Sosial dihebohkan oleh Ceramah oleh Seseorang yang menyandang gelar Sebagai Penceramah Agama. Dengan suara lantang, penuh semangat dan tanpa ada perasaan kasih sebagai seorang penceramah agama, justru dengan sangat mudahnya melontarkan kalimat-kalimat bernada SATIR terhadap beberapa Ajaran Agama lainnya. Seolah ia sedemikian hebatnya tentang ajaran agama dan dan seolah paling  berTuhan, sehingga seolah punya KLAIM ajaran agama orang lain boleh dilecehkan.

Namun saya bukan dalam rangka untuk menyerang balik pernyataannya, karena saya yakin HUKUM KARMAPHALA akan berlaku baginya, terlebih jika sudah berani memercikkan api ketidaksenangan di bumi Nusantara ini- suatu hari ia pasti akan jatuh dan justru akan diselamatkan oleh yang mereka lecehkan….Yakinlah…..karena Gusti Kang Maha Adil Mboten Sare…..

Tulisan ini adalah  sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai Pemeluk Hindu, untuk memenuhi permintaan rekan-rekan baik via sms, Inbok Twitter, dan inbok di Page FB serta dalam rangka untuk menguatkan Sraddha dan Bhakti umat Hindu  sedharma bahwa Memuja Ganesha bukanlah suatu yang keliru apalagi salah. Dan pemujaan terhadap Ganesha juga bukan tanpa dasar pijakan yang jelas. Ganesha justru dimaktubkan dalam VEDA SRUTI (Kitab Veda yang tergolong Wahyu). Berikut dapat saya uraikan, semoga bermanfaat bagi umat Hindu Khususnya dan umat Manusia umumnya. Dengan harapan di kemudian hari tidak ada lagi kasus-kasus merasa diri paling beriman, paling beragama dan sok jagoan merasa paling kenal dengan Tuhan;
Kita mulai dari pertanyaan sederhana: 

Siapakah Ganesha?
Mari kita mengawali penjelasanya dari nama beliau! penulisan dan pengucapan yang benar adalah गणेश “gaṇeśa” atau “gaNesha”. Dalam bahasa Sansekerta ini berarti Dewa Ganesha, pemimpin kelompok atau pengikut, dan golongan para siddha atau golongan orang yang tercerahkan.
Di atas adalah penulisan dan pengucapan yang merujuk kepada nama Dewa Ganesha. Sedangkan apabila pengucapan sanskertanya berbeda pengertianya juga akan mengalami perubahan arti. Jika di ucapkan dengan kata  “gāṇeśa (gANesha)” maka pengertian akan berubah menjadi pemujaan kepada Ganesha. Jadi yang membedakan pengucapanya adalah pada huruf “a” dan “ā”. huruf ” a” pertama di baca dengan suara pendek, sedangkan huruf kedua di baca dengan suara panjang.

Dari penjelasan di atas apakah Beliau hanya sebatas pemimpin kelompok? apakah Beliau sebatas mahluk tercerahkan? jawabanya tidak. Beliau adalah perwujudan Tuhan!. Kemudia apa alasanya? jawabanya ada di bawah ini:
Selanjutnya untuk mengenal beliau mari kita lihat simbolis dari tubuh Dewa Ganesha:

1. Kepala Ganesha melambangkan Tuhan yang memiliki pengetahuan yang luas;

2. Telinga yang lebar melambangkan Tuhan sebagai maha mendengar segala doa-doa dari pemuja;

3. Kedua mata Beliau yang sipit atau kecil melambangkan konsentrasi atau pemusatan pikiran. Ini juga berarti Tuhan sebagai pengendali dari Tri Guna (sifat satwam, rajas, dan tamas). Satwam berarti kesetabilan, rajas berarti sifat aktif, dan tamas berarti sifat lamban;

4. Memiliki satu gading gajah yang utuh dan satu gading gajah yang patah. Gadang gajah yang utuh melambangkan Tuhan sebagai satu kesatuan yaitu yang Maha Esa. Sedangkan gading gajah yang retak atau patah melambangkan Tuhan yang selalu dapat membuang segala sesuatu yang buruk dan dapat mempertahankan segala sesuatu yang baik;

5. Gading gajah melambangkan Tuhan dalam kemampuan adapaptasi dan efisiensi (adaptasi yang dimaksud disini adalah Tuhan memiliki kemampuan berada di segala tempat. Sedangkan efisiensi yang di maksud disini adalah kegunaan yang tepat atau sifat Tuhan yang selalu bertujuan untuk kebaikan atau positif );

6. Mulut yang kecil melambangkan pengontrolan organ bicara. Dalam pengontrolan organ bicara ini Tuhan menyatakan pengendalian dalam ucapan, sehingga beliau hanya menyebarkan ajaran cinta kasih ke semua penjuru dan ucapan beliau yang selalu menyenangkan, sekaligus mendamaikan;

7. Bagian-bagian dari empat tangan:

– Memegang Modaka (sejenis makanan dari India); melambangkan pemberkahan dari sadhana (Tuhan akan selalu memberikan setiap  penyembah beliau sesuai dengan tindakan yang dilakukan).

– Tangan dengan sikap memberkati atau abhaya mudra;  melambangkan Tuhan yang memberi restu akan segala yang dilakukan (sadhana) oleh pemujaNya dalam bertindak berdasarkan kebaikan.

– Memegang kampak;  melambangkan Tuhan yang selalu dapat memotong segala keterikatan atau bisa berarti Tuhan sebagai pelindung dari bahaya.

– Memegang tali;  melambangkan Tuhan yang dapat selalu membimbing umatnya untuk menuju ke tingkat spiritual yang lebih tinggi.
8. Perut yang besar melambangkan Tuhan yang selalu dapat mencerna dan mengetahui segala sesuatu yang baik dan tidak baik. Ini juga berarti Tuhan selalu menyimpan doa-doa yang di panjatkan untuk beliau sebelum mereka pantas untuk menerima berkah sesuai dengan karma mereka masing-masing;
9. Tugangan tikus melambangkan Tuhan sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang berasal dari pikiran dan perbuatan.

Ganesha dilihat dari Veda.

|| Ganapathi prarthana ||
oṁ ga̱ṇānā̎m tvā ga̱ṇapa̍tiguṁ havāmahe ka̱viṁ ka̍vī̱nām̄u̍pa̱maśra̍vastamam | jye̱ṣṭha̱rāja̱ṁ brahma̍ṇāṁ brahmaṇaspata̱ ā na̍ḥ śrṛ̱ṇvannū̱tibhı̍ssīda̱ sāda̍nam ||1||  (Rg.veda;2.23.1)
praṇo’devī sara’svatī | vāje’bhir vājinīvatī | dhīnāma’vitrya’vatu || 2|| (Rg.veda;6.61.4)

gaṇeśāya’ namaḥ | sarasvatyai namaḥ | śrī gurubhyo namaḥ | hariḥ oṃ ||
Artinya: 

Kami mengundang-Mu, Tuhan dan pemimpin dari kelompok, yang bijaksana dari orang bijak, engkau yang paling mengetahui dari orang yang mengetahui, engkau yang teragung dari yang agung, raja tertinggi dari kidung suci. Wahai Brahmanaspati (Tuhan tertinggi), dengarlah kami dan duduk dan datanglah di tempat pengorbanan ini, datang dengan seluruh perlindungan-Mu.

Wahai dewi saraswati, engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan semoga memelihara kecerdasan kami.

Salam kepada ganesha, salam kepada sarasvati, salam kepada srii guru dan Tuhan yang satu.
Bagian pertama adalah Mantra dari Rg.Veda; 2.23.1 yang di gabung dengan Mantra  Rg.veda; 6.61.4 sehingga Mantra ini disebut Ganapathi Prartahana. Pada bait ini menekankan dengan pemanggilan kepada pemimpin dari yajna atau pengorbanan. Ini juga sebagai alasan kenapa Ganesha mesti di puja atau di hormati pertama kali jika di pandang dari sudut Veda. Ganesha di kenal sebagai ganapathi atau pemimpin kelompok. Sedangkan di kalangan masyarakat juga di kenal sebagai kelompok ghana (mahluk astral). Namun, pengertian dari pemimpin kelompok astral tidaklah tepat beliau adalah pemimpin dari setiap kelompok dan disebut sebagai perwujudan Tuhan. Ini alasan kenapa Ganesha di puja di setiap rumah-rumah jika di pandang dari sudut Veda. Ini juga sebagai alasan kenapa saya menuliskan bagian dari tubuh ganesha sebagai simbol ke-Tuhanan.

Pada  Mantra Rg.Veda bagian pertama adalah pujian untuk Brahmaṇaspati, sedangkan yang pujian kedua untuk Sarasvatī sebagai dewi pengetahuan. 
Untuk memperjelas dan memperkuat lagi pernyataan saya di atas mengenai bahwa Ganesha sebagai perwujudan Tuhan dan merupakan konsep ke-Tuhanan dapat dilihat melaui bait Atharva Veda. Bagian ini disebut dengan Ganapathi Atharva Sirsham: 
oṁ nama̍ste ga̲ṇapa̍taye | tvame̲va pra̲tyakṣa̲ṁ tattva̍masi | tvame̲va ke̲vala̲ṁ kartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ dhartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ hartā̍’si | tvameva sarvaṁ khalvida̍ṁ brahmā̲si | tvaṁ sākṣādātmā̍’si ni̲tyam || 1 ||  
sarvaṁ jagadidam tva̍tto jā̲yate | sarvaṁ jagad-idaṁ tva̍ttas ti̲ṣṭhati | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi laya̍meṣya̲ti | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi̍ pratye̲ti | tvaṁ bhūmirāpo̍nalo̍ni̍lo na̲bhaḥ | tvaṁ catvāri vā̎kpadā̲ni ||  5 || 
tvam gu̲ṇa-tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ avasthā tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ de̲hatra̍yātī̲taḥ | tvaṁ kā̲latra̍yātī̲taḥ | tvaṁ mūlādhārasthito̍’si ni̲tyam | tvaṁ śaktitra̍yātma ̱kaḥ | tvāṁ yogino dhyāya̍nti ni̲tyam | tvaṁ brahmā tvaṁ viṣṇustvaṁ rudrastvam indrastvam agnistvam vāyustvaṁ sūryastvaṁ candramāstvaṁ brahma̲ bhūr-bhuva̲ḥ svarom ||  6 ||
Artinya: 
Salam kepada pemimpin kelompok, engkau sebenarnya adalah yang satu, engakau adalah sang pencipta, engkau adalah yang mengambil semua beban, engkau adalah penghancur, engkau adalah Tuhan yang Maha Esa, engkau adalah jiwa yang abadi.

Semua alam semesta berasal dari engkau,

Semua alam semesta ada karena engkau.

Semua alam semesta ahirnya menyatu di dalam diri engkau.

Semua alam semesta tidak lain adalah engkau.

Engkau adalah bumi, air, api, udara dan langit, 

Engakau adalah empat jenis ucapan dan semua kata-kata,

Engkau berada di luar Sattvam, Rajas dan Tamas,

Egkau berada di luar tiga jenis keadaan; bangun,

tidur dan mimpi,

Engkau berada di luar bagian tubuh kasar, halus dan kasual,

Engkau berada di luar tiga divisi waktu-masa lalu, masa sekarang dan masa depan,

Engkau selalu dan setiap hari tinggal di Muladhara Chakra, 

Engkau adalah tiga bagian energi penciptaan, pemeliharaan dan kehancuran, 

Engkau pusat meditasi oleh orang bijak,

Engkau adalah Brahma, Wisnu, Shiva. Indra, Agni, Vayu, Surya, Candra,dan engkau termasuk semuanya dan meresapi semuanya.

Bait Atharva Sirsham di atas sudah jelas-jelas menyatakan bahwa Ganesha merupakan perwujudan Tuhan. Jika Purana menyatakan dalam bertuk cerita itu hanya sebagai pengetahuan agar mempermudah untuk memahami Beliau. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas Beliau adalah perwujudan Tuhan itu sendiri.
Demikian dapat saya utarakan secara singkat, SIAPA GANESHA….bahwa Ganesha adalah Perwujudan Tuhan Itu sendiri. Dan jika ada yang bertanya Kok Tuhan Wajahnya setengah Manusia setengah Hewan; jawabannya sederhana: Tuhan Bersifat Maha Segala-Galanya, Beliau Punya Hak Bebas untuk berwujud seperti Apa….termasuk dalam Perwujudan Ganesha, Garuda, Hanoman, dan sebagainya. Itulah Kuasa Tuhan yang diyakini oleh agama Hindu yang disuratkan dalam kitab Wahyu: Veda Sruti. Dan mereka yang belum faham tentang ajaran Hindu, tapi sudah berbusa membicarakannya, sebaiknya belajar lagi dan bertapa lagi. Agar suatu saat tidak bicara ngawur. Manggalamastu. 
Silahkan di share agar umat kita semakin cerdas dan tak mudah diolok-olok oleh oknum yang sok tau agama Hindu tercinta……!!!

Om  Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Om Swastyastu
Banyak Orang mungkin masih sering bertanya “Pak/Bu itu pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya? 
Nah sebagai Orang Hindu wajib hukumnya kita bisa memberikan penjelasan yang benar agar tidak memberikan multitafsir bagi si-penanya.
Cukup Jawab Simple saja:
Apakah Anda percaya bahwa Tuhan Itu Segala-Galanya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kecil, dan IA yang menciptakan segala yang ada di Dunia Ini…???. Kalau percaya- maka Hewan, Tumbuhan dan hingga Virus dan Bakteri adalah CiptaanNya. Jadi tidak ada satu hal pun yang bukan MilikNya, dan tidak ada satu halpun yang tidak diresapi olehNya.
Jadi kalau orang Hindu sembahyang Dan memberikan sajen kepada Pohon itu semata-mata karena orang Hindu Meyakini bahwa dalam Pohon juga bersemayam Zat Ilahi Tuhan, dalam agama Hindu disebut: Stavana (esensi Tuhan yang menghidupi tumbuhan). Terlebih Pohon sangat membantu keberlangsungan kehidupan ini, karena ia menghasilkan oksigen yang dihirup gratis oleh manusia, yang menyerap karbon dioksida yang merupakan racun untuk manusia. Yang menjaga sirkukasi air, cuaca. Dan tentu lewat pohon kita bisa menikmati warna-warni dan harumnya bunga dan ranum serta lezat buah-buahan. Melalui Alamlah Tuhan Menghidupi Kita. 
Atas karunia Tuhan melalui Tumbuhan, maka manusia Hindu juga mengucapkan syukur kepada tumbuhan-yang sejatinya ditujukan kepada keMAHAan Tuhan.
Orang-orang yang menanyakan, bahkan mungkin merendahkan dan meremehkan orang Hindu menghaturkan sesajen kepada Pohon adalah orang yang TIDAK MEMAHAMI KEMAHAKUASAAN TUHAN. Ia telah MEMENJARAKAN dan MENGKERDILKAN KeMAHAan Tuhan. Memang orang yang demikian bisa jadi ucapannya setiap saat berkata: Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Agung, Tuhan Maha Segalanya….tapi itu baru ucapan di bibir, bukan pemahaman yang mendalam dari pengetahuan keESAan. Lagi pula sikap yang mengejek seperti itu bisa jadi adalah merupakan KECEMBURUANnya karena belum bisa menghayati Ketuhanan seperti orang Hindu, yang hidup harmoni dengan alam, sesama dan Tuhan.
“Zat energi ilahi Tuhan; ada dan merasuk di setiap aspek kehidupan-sehingga menjaga dan merawat alam sama halnya menghormati Tuhan/Brahman itu Sendiri”.
—————
Hindu Worship Trees ..?
Om Swastyastu
Many people may still often ask “Sir/Madam…why is the tree worshiped or tied up with the fabric Black & White (poleng)? Is there any Spirits living there?
Well as the Hindu we can provide the correct explanation, so there will not provide multiple interpretations for the questioner.
Simply just answer with Simple:
Do you believe that God is Everything, Almighty, Great, Greatest, and He Who created everything that exists in this World … ???. If you believe-then Animals, Plants and Viruses and Bacteria are His Creations. So there is not one thing that is not His, and there is not one thing that is not permeated by Him.
So if the Hindu worshipers and give the offering to the Tree solely because Hindus believe that in the Tree also residing Divine God, in the Hindu religion is called: Stavana (the essence of God who sustains the plant). Moreover Trees are very helpful for the survival of this life, because it produces free inhaled oxygen by humans, which absorbs carbon dioxide which is toxic to humans. That keeps the water sirculation, weather. And of course through the tree we can enjoy the colors and fragrance of flowers and ripe and delicious fruits. It is through Nature that God lives our life.
By the grace of God through the plant, the Hindu people also give thanks to the plants-which are actually addressed to God’s mercy.
Those who ask, perhaps even undermine and belittle the Hindus to offer offerings to the Tree are those who DO NOT UNDERSTAND THE DIVINE OF GOD. He has IMPRISON AND DWARFS OF GOD’S POWER, Indeed such a person could be his utterance at all times saying: God is Great, God is Great, God is All-Everything …. but that is just a word on the lips, not a deep understanding of the Divine knowledge. Moreover, such a mocking attitude could be its their JEALOUSY because they has not been able to live the Deity like a Hindu, who lives in harmony with nature, neighbor and God.
“God’s divine energy is present and pervades every aspect of life-so keeping and caring for nature is just as much as honoring God / Brahman Himself.”
Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
Baca juga ulasan ini: https://www.google.co.id/amp/s/dharmavada.wordpress.com/2016/01/13/tumpek-wariga-hari-lingkungan-hindu-model-hindu/amp/

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Next Page »