wisdom of dharma


Om Swastyastu
Beberapa waktu yang lalu Media Sosial dihebohkan oleh Ceramah oleh Seseorang yang menyandang gelar Sebagai Penceramah Agama. Dengan suara lantang, penuh semangat dan tanpa ada perasaan kasih sebagai seorang penceramah agama, justru dengan sangat mudahnya melontarkan kalimat-kalimat bernada SATIR terhadap beberapa Ajaran Agama lainnya. Seolah ia sedemikian hebatnya tentang ajaran agama dan dan seolah paling  berTuhan, sehingga seolah punya KLAIM ajaran agama orang lain boleh dilecehkan.

Namun saya bukan dalam rangka untuk menyerang balik pernyataannya, karena saya yakin HUKUM KARMAPHALA akan berlaku baginya, terlebih jika sudah berani memercikkan api ketidaksenangan di bumi Nusantara ini- suatu hari ia pasti akan jatuh dan justru akan diselamatkan oleh yang mereka lecehkan….Yakinlah…..karena Gusti Kang Maha Adil Mboten Sare…..

Tulisan ini adalah  sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai Pemeluk Hindu, untuk memenuhi permintaan rekan-rekan baik via sms, Inbok Twitter, dan inbok di Page FB serta dalam rangka untuk menguatkan Sraddha dan Bhakti umat Hindu  sedharma bahwa Memuja Ganesha bukanlah suatu yang keliru apalagi salah. Dan pemujaan terhadap Ganesha juga bukan tanpa dasar pijakan yang jelas. Ganesha justru dimaktubkan dalam VEDA SRUTI (Kitab Veda yang tergolong Wahyu). Berikut dapat saya uraikan, semoga bermanfaat bagi umat Hindu Khususnya dan umat Manusia umumnya. Dengan harapan di kemudian hari tidak ada lagi kasus-kasus merasa diri paling beriman, paling beragama dan sok jagoan merasa paling kenal dengan Tuhan;
Kita mulai dari pertanyaan sederhana: 

Siapakah Ganesha?
Mari kita mengawali penjelasanya dari nama beliau! penulisan dan pengucapan yang benar adalah गणेश “gaṇeśa” atau “gaNesha”. Dalam bahasa Sansekerta ini berarti Dewa Ganesha, pemimpin kelompok atau pengikut, dan golongan para siddha atau golongan orang yang tercerahkan.
Di atas adalah penulisan dan pengucapan yang merujuk kepada nama Dewa Ganesha. Sedangkan apabila pengucapan sanskertanya berbeda pengertianya juga akan mengalami perubahan arti. Jika di ucapkan dengan kata  “gāṇeśa (gANesha)” maka pengertian akan berubah menjadi pemujaan kepada Ganesha. Jadi yang membedakan pengucapanya adalah pada huruf “a” dan “ā”. huruf ” a” pertama di baca dengan suara pendek, sedangkan huruf kedua di baca dengan suara panjang.

Dari penjelasan di atas apakah Beliau hanya sebatas pemimpin kelompok? apakah Beliau sebatas mahluk tercerahkan? jawabanya tidak. Beliau adalah perwujudan Tuhan!. Kemudia apa alasanya? jawabanya ada di bawah ini:
Selanjutnya untuk mengenal beliau mari kita lihat simbolis dari tubuh Dewa Ganesha:

1. Kepala Ganesha melambangkan Tuhan yang memiliki pengetahuan yang luas;

2. Telinga yang lebar melambangkan Tuhan sebagai maha mendengar segala doa-doa dari pemuja;

3. Kedua mata Beliau yang sipit atau kecil melambangkan konsentrasi atau pemusatan pikiran. Ini juga berarti Tuhan sebagai pengendali dari Tri Guna (sifat satwam, rajas, dan tamas). Satwam berarti kesetabilan, rajas berarti sifat aktif, dan tamas berarti sifat lamban;

4. Memiliki satu gading gajah yang utuh dan satu gading gajah yang patah. Gadang gajah yang utuh melambangkan Tuhan sebagai satu kesatuan yaitu yang Maha Esa. Sedangkan gading gajah yang retak atau patah melambangkan Tuhan yang selalu dapat membuang segala sesuatu yang buruk dan dapat mempertahankan segala sesuatu yang baik;

5. Gading gajah melambangkan Tuhan dalam kemampuan adapaptasi dan efisiensi (adaptasi yang dimaksud disini adalah Tuhan memiliki kemampuan berada di segala tempat. Sedangkan efisiensi yang di maksud disini adalah kegunaan yang tepat atau sifat Tuhan yang selalu bertujuan untuk kebaikan atau positif );

6. Mulut yang kecil melambangkan pengontrolan organ bicara. Dalam pengontrolan organ bicara ini Tuhan menyatakan pengendalian dalam ucapan, sehingga beliau hanya menyebarkan ajaran cinta kasih ke semua penjuru dan ucapan beliau yang selalu menyenangkan, sekaligus mendamaikan;

7. Bagian-bagian dari empat tangan:

– Memegang Modaka (sejenis makanan dari India); melambangkan pemberkahan dari sadhana (Tuhan akan selalu memberikan setiap  penyembah beliau sesuai dengan tindakan yang dilakukan).

– Tangan dengan sikap memberkati atau abhaya mudra;  melambangkan Tuhan yang memberi restu akan segala yang dilakukan (sadhana) oleh pemujaNya dalam bertindak berdasarkan kebaikan.

– Memegang kampak;  melambangkan Tuhan yang selalu dapat memotong segala keterikatan atau bisa berarti Tuhan sebagai pelindung dari bahaya.

– Memegang tali;  melambangkan Tuhan yang dapat selalu membimbing umatnya untuk menuju ke tingkat spiritual yang lebih tinggi.
8. Perut yang besar melambangkan Tuhan yang selalu dapat mencerna dan mengetahui segala sesuatu yang baik dan tidak baik. Ini juga berarti Tuhan selalu menyimpan doa-doa yang di panjatkan untuk beliau sebelum mereka pantas untuk menerima berkah sesuai dengan karma mereka masing-masing;
9. Tugangan tikus melambangkan Tuhan sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang berasal dari pikiran dan perbuatan.

Ganesha dilihat dari Veda.

|| Ganapathi prarthana ||
oṁ ga̱ṇānā̎m tvā ga̱ṇapa̍tiguṁ havāmahe ka̱viṁ ka̍vī̱nām̄u̍pa̱maśra̍vastamam | jye̱ṣṭha̱rāja̱ṁ brahma̍ṇāṁ brahmaṇaspata̱ ā na̍ḥ śrṛ̱ṇvannū̱tibhı̍ssīda̱ sāda̍nam ||1||  (Rg.veda;2.23.1)
praṇo’devī sara’svatī | vāje’bhir vājinīvatī | dhīnāma’vitrya’vatu || 2|| (Rg.veda;6.61.4)

gaṇeśāya’ namaḥ | sarasvatyai namaḥ | śrī gurubhyo namaḥ | hariḥ oṃ ||
Artinya: 

Kami mengundang-Mu, Tuhan dan pemimpin dari kelompok, yang bijaksana dari orang bijak, engkau yang paling mengetahui dari orang yang mengetahui, engkau yang teragung dari yang agung, raja tertinggi dari kidung suci. Wahai Brahmanaspati (Tuhan tertinggi), dengarlah kami dan duduk dan datanglah di tempat pengorbanan ini, datang dengan seluruh perlindungan-Mu.

Wahai dewi saraswati, engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan semoga memelihara kecerdasan kami.

Salam kepada ganesha, salam kepada sarasvati, salam kepada srii guru dan Tuhan yang satu.
Bagian pertama adalah Mantra dari Rg.Veda; 2.23.1 yang di gabung dengan Mantra  Rg.veda; 6.61.4 sehingga Mantra ini disebut Ganapathi Prartahana. Pada bait ini menekankan dengan pemanggilan kepada pemimpin dari yajna atau pengorbanan. Ini juga sebagai alasan kenapa Ganesha mesti di puja atau di hormati pertama kali jika di pandang dari sudut Veda. Ganesha di kenal sebagai ganapathi atau pemimpin kelompok. Sedangkan di kalangan masyarakat juga di kenal sebagai kelompok ghana (mahluk astral). Namun, pengertian dari pemimpin kelompok astral tidaklah tepat beliau adalah pemimpin dari setiap kelompok dan disebut sebagai perwujudan Tuhan. Ini alasan kenapa Ganesha di puja di setiap rumah-rumah jika di pandang dari sudut Veda. Ini juga sebagai alasan kenapa saya menuliskan bagian dari tubuh ganesha sebagai simbol ke-Tuhanan.

Pada  Mantra Rg.Veda bagian pertama adalah pujian untuk Brahmaṇaspati, sedangkan yang pujian kedua untuk Sarasvatī sebagai dewi pengetahuan. 
Untuk memperjelas dan memperkuat lagi pernyataan saya di atas mengenai bahwa Ganesha sebagai perwujudan Tuhan dan merupakan konsep ke-Tuhanan dapat dilihat melaui bait Atharva Veda. Bagian ini disebut dengan Ganapathi Atharva Sirsham: 
oṁ nama̍ste ga̲ṇapa̍taye | tvame̲va pra̲tyakṣa̲ṁ tattva̍masi | tvame̲va ke̲vala̲ṁ kartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ dhartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ hartā̍’si | tvameva sarvaṁ khalvida̍ṁ brahmā̲si | tvaṁ sākṣādātmā̍’si ni̲tyam || 1 ||  
sarvaṁ jagadidam tva̍tto jā̲yate | sarvaṁ jagad-idaṁ tva̍ttas ti̲ṣṭhati | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi laya̍meṣya̲ti | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi̍ pratye̲ti | tvaṁ bhūmirāpo̍nalo̍ni̍lo na̲bhaḥ | tvaṁ catvāri vā̎kpadā̲ni ||  5 || 
tvam gu̲ṇa-tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ avasthā tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ de̲hatra̍yātī̲taḥ | tvaṁ kā̲latra̍yātī̲taḥ | tvaṁ mūlādhārasthito̍’si ni̲tyam | tvaṁ śaktitra̍yātma ̱kaḥ | tvāṁ yogino dhyāya̍nti ni̲tyam | tvaṁ brahmā tvaṁ viṣṇustvaṁ rudrastvam indrastvam agnistvam vāyustvaṁ sūryastvaṁ candramāstvaṁ brahma̲ bhūr-bhuva̲ḥ svarom ||  6 ||
Artinya: 
Salam kepada pemimpin kelompok, engkau sebenarnya adalah yang satu, engakau adalah sang pencipta, engkau adalah yang mengambil semua beban, engkau adalah penghancur, engkau adalah Tuhan yang Maha Esa, engkau adalah jiwa yang abadi.

Semua alam semesta berasal dari engkau,

Semua alam semesta ada karena engkau.

Semua alam semesta ahirnya menyatu di dalam diri engkau.

Semua alam semesta tidak lain adalah engkau.

Engkau adalah bumi, air, api, udara dan langit, 

Engakau adalah empat jenis ucapan dan semua kata-kata,

Engkau berada di luar Sattvam, Rajas dan Tamas,

Egkau berada di luar tiga jenis keadaan; bangun,

tidur dan mimpi,

Engkau berada di luar bagian tubuh kasar, halus dan kasual,

Engkau berada di luar tiga divisi waktu-masa lalu, masa sekarang dan masa depan,

Engkau selalu dan setiap hari tinggal di Muladhara Chakra, 

Engkau adalah tiga bagian energi penciptaan, pemeliharaan dan kehancuran, 

Engkau pusat meditasi oleh orang bijak,

Engkau adalah Brahma, Wisnu, Shiva. Indra, Agni, Vayu, Surya, Candra,dan engkau termasuk semuanya dan meresapi semuanya.

Bait Atharva Sirsham di atas sudah jelas-jelas menyatakan bahwa Ganesha merupakan perwujudan Tuhan. Jika Purana menyatakan dalam bertuk cerita itu hanya sebagai pengetahuan agar mempermudah untuk memahami Beliau. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas Beliau adalah perwujudan Tuhan itu sendiri.
Demikian dapat saya utarakan secara singkat, SIAPA GANESHA….bahwa Ganesha adalah Perwujudan Tuhan Itu sendiri. Dan jika ada yang bertanya Kok Tuhan Wajahnya setengah Manusia setengah Hewan; jawabannya sederhana: Tuhan Bersifat Maha Segala-Galanya, Beliau Punya Hak Bebas untuk berwujud seperti Apa….termasuk dalam Perwujudan Ganesha, Garuda, Hanoman, dan sebagainya. Itulah Kuasa Tuhan yang diyakini oleh agama Hindu yang disuratkan dalam kitab Wahyu: Veda Sruti. Dan mereka yang belum faham tentang ajaran Hindu, tapi sudah berbusa membicarakannya, sebaiknya belajar lagi dan bertapa lagi. Agar suatu saat tidak bicara ngawur. Manggalamastu. 
Silahkan di share agar umat kita semakin cerdas dan tak mudah diolok-olok oleh oknum yang sok tau agama Hindu tercinta……!!!

Om  Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Advertisements

Om Swastyastu
Banyak Orang mungkin masih sering bertanya “Pak/Bu itu pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya? 
Nah sebagai Orang Hindu wajib hukumnya kita bisa memberikan penjelasan yang benar agar tidak memberikan multitafsir bagi si-penanya.
Cukup Jawab Simple saja:
Apakah Anda percaya bahwa Tuhan Itu Segala-Galanya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kecil, dan IA yang menciptakan segala yang ada di Dunia Ini…???. Kalau percaya- maka Hewan, Tumbuhan dan hingga Virus dan Bakteri adalah CiptaanNya. Jadi tidak ada satu hal pun yang bukan MilikNya, dan tidak ada satu halpun yang tidak diresapi olehNya.
Jadi kalau orang Hindu sembahyang Dan memberikan sajen kepada Pohon itu semata-mata karena orang Hindu Meyakini bahwa dalam Pohon juga bersemayam Zat Ilahi Tuhan, dalam agama Hindu disebut: Stavana (esensi Tuhan yang menghidupi tumbuhan). Terlebih Pohon sangat membantu keberlangsungan kehidupan ini, karena ia menghasilkan oksigen yang dihirup gratis oleh manusia, yang menyerap karbon dioksida yang merupakan racun untuk manusia. Yang menjaga sirkukasi air, cuaca. Dan tentu lewat pohon kita bisa menikmati warna-warni dan harumnya bunga dan ranum serta lezat buah-buahan. Melalui Alamlah Tuhan Menghidupi Kita. 
Atas karunia Tuhan melalui Tumbuhan, maka manusia Hindu juga mengucapkan syukur kepada tumbuhan-yang sejatinya ditujukan kepada keMAHAan Tuhan.
Orang-orang yang menanyakan, bahkan mungkin merendahkan dan meremehkan orang Hindu menghaturkan sesajen kepada Pohon adalah orang yang TIDAK MEMAHAMI KEMAHAKUASAAN TUHAN. Ia telah MEMENJARAKAN dan MENGKERDILKAN KeMAHAan Tuhan. Memang orang yang demikian bisa jadi ucapannya setiap saat berkata: Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Agung, Tuhan Maha Segalanya….tapi itu baru ucapan di bibir, bukan pemahaman yang mendalam dari pengetahuan keESAan. Lagi pula sikap yang mengejek seperti itu bisa jadi adalah merupakan KECEMBURUANnya karena belum bisa menghayati Ketuhanan seperti orang Hindu, yang hidup harmoni dengan alam, sesama dan Tuhan.
“Zat energi ilahi Tuhan; ada dan merasuk di setiap aspek kehidupan-sehingga menjaga dan merawat alam sama halnya menghormati Tuhan/Brahman itu Sendiri”.
—————
Hindu Worship Trees ..?
Om Swastyastu
Many people may still often ask “Sir/Madam…why is the tree worshiped or tied up with the fabric Black & White (poleng)? Is there any Spirits living there?
Well as the Hindu we can provide the correct explanation, so there will not provide multiple interpretations for the questioner.
Simply just answer with Simple:
Do you believe that God is Everything, Almighty, Great, Greatest, and He Who created everything that exists in this World … ???. If you believe-then Animals, Plants and Viruses and Bacteria are His Creations. So there is not one thing that is not His, and there is not one thing that is not permeated by Him.
So if the Hindu worshipers and give the offering to the Tree solely because Hindus believe that in the Tree also residing Divine God, in the Hindu religion is called: Stavana (the essence of God who sustains the plant). Moreover Trees are very helpful for the survival of this life, because it produces free inhaled oxygen by humans, which absorbs carbon dioxide which is toxic to humans. That keeps the water sirculation, weather. And of course through the tree we can enjoy the colors and fragrance of flowers and ripe and delicious fruits. It is through Nature that God lives our life.
By the grace of God through the plant, the Hindu people also give thanks to the plants-which are actually addressed to God’s mercy.
Those who ask, perhaps even undermine and belittle the Hindus to offer offerings to the Tree are those who DO NOT UNDERSTAND THE DIVINE OF GOD. He has IMPRISON AND DWARFS OF GOD’S POWER, Indeed such a person could be his utterance at all times saying: God is Great, God is Great, God is All-Everything …. but that is just a word on the lips, not a deep understanding of the Divine knowledge. Moreover, such a mocking attitude could be its their JEALOUSY because they has not been able to live the Deity like a Hindu, who lives in harmony with nature, neighbor and God.
“God’s divine energy is present and pervades every aspect of life-so keeping and caring for nature is just as much as honoring God / Brahman Himself.”
Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
Baca juga ulasan ini: https://www.google.co.id/amp/s/dharmavada.wordpress.com/2016/01/13/tumpek-wariga-hari-lingkungan-hindu-model-hindu/amp/

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Tutur Polos Nanging Saja
“Jele Kelawan Melah Tuah Isin Gumi,” 
#TattwaBali

#MangkuDanuQoutes

#PolosNangingSaja

@indonesiacyberdharma

~ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
“Pendidikan adalah sesuatu yang dapat disampaikan, tetapi Pengetahuan harus ditemukan atau diungkapkan.” (Swami Tejomayananda, 2000: 10)
Pendidikan hanyalah sebagian, sedangkan Pengetahuan memberikan kita pandangan yang menyeluruh tentang sesuatu. Pendidikan mempersiapkan  kehidupan seseorang dari hanya satu aspek kehidupan sehari-hari, akan tetapi semua itu tidak/belum menyebabkan terjadinya perubahan padanya atau mempersiapkannya untuk menemukan kebenaran dari kehidupan itu sendiri. Pengetahuan pada sisi lain, mempersiapkan seseorang  untuk melihat kehidupan dengan jujur/sesuai dengan praktiknya dan membawanya kepada perubahan kepribadian yang baru.
Tujuan utama Pengetahuan adalah juga meniadakan konsep yang keliru dan pada saat yang sama mendorong penarikan diri dari kekeliruan konsep hidup.
Dalam bahasa Sanskerta ‘Pengetahuan’ disebut ‘Jnana’. Bhagavad Gita mengklasifikasikan pengetahuan atas tuga sudut pandang yang berbeda, yang dalam bahasa teknis disebut: Tamasika Jnana, Rajasika Jnana, dan Sattvika Jnana. Sattvika Jnana; adalah pengetahuan tertinggi dan Tamasika Jnana yang paling rendah. 
Selanjutnya, apakah pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang paling tinggi?
Sattvika Jnana;

Pada pandangan fisik/indera kita, kita melihat adanya perbedaan, keragaman, dan dualisme dari sifat dunia ini. Apabila melalui pandangan indera, perasaan dan pikiran, kita melihat bahwa tidak ada dua hal yang sama, segala sesuatu adalah berbeda satu dengan yang lain. Untuk melihat perbedaan dan untuk membuat pembagian diantara obyek-obyek, adalah fungsi dari perlengkapan fisik dan non fisik yang kita miliki. Akan tetapi dalam melihat keragaman ini kita bisa melihat realita yang Tunggal hadir dalam perbedaan tersebut, inilah yang disebut PENGETAHUAN YANG TERTINGGI.
Badan jasmani kita adalah contoh yang baik untuk hal ini. Apabila kita pelajari anatominya, kita akan  melihat bahwa ada banyak bagian yang berbeda: tangan, Jari, perut, kepala, bahu, akan tetapi walaupun bagian-bagian tersebut banyak, dalam pengertian Keesan saya, saya mengetahui bahwa keseluruhan itu adalah badan saya sendiri. Hakikat yang Tunggal adalah pada apa yang saya fahami, itulah sebabnya jika seseorang menyentuh punggung saya, saya tidak mengatan “Mengapa Anda menyentuh punggung saya”? “Tapi saya akan mengatakan “Mengapa Anda Menyentuh saya”? Saya sebagai satu kesatuan, meliputi Keesan, meliputi seluruh yang memiliki nama dan bentuk dari duniawi ini.
Rajasika Jnana;

Pengetahuan yang lebih rendah dinamakan Rajasika Jnana. Orang yang memiliki pengetahuan ini, melihat dan memahami segala hal secara terpisah, sebagai sesuatu yang berlainan dan berbeda. 
Sebagai contoh; ahli specialis mata hanya belajar tentang mata; pelukis hanya menekankan kepada warna dan bentuk. Beberapa orang tidak/belum melihat jagat raya ini secara menyeluruh atau utuh, akan tetapi memahami seluruh hal secara terpisah, tidak berhubungan satu dengan yang lain. Itulah sebabnya kita mengatakan: ini rumah saya, itu bagian saya dan ini bagianmu, dan sebagainya. Sekalipun Tuhan telah menciptakan hanya satu bumi dan langit, tetapi dunia dibagi menjadi bangsa-bangsa, negara-negara yang berlainan atau bahkan wilayah udara pun dibatas-batasi. Pembatasan dan pengkotak-kotakan inilah yang disebut Rajasika Jnana.
Tamasika Jnana;

Pengetahuan yang paling rendah disebut Tamasika Jnana. Seseorang mengambil secara tegas satu bagian dari dunia ini dan sangat terikat pada obyek tersebut, memandang atau percaya bahwa:  “jalan saya sendiri yang paling benar, jalanmu tidak benar, agama saya adalah benar, agamamu adalah salah.”
Inilah pandangan atau sikap yang paling rendah dalam kehidupan ini. Orang-orang dengan pengetahuan Tamasika, hadir menjadi insan yang tidak toleran dan sangat fanatik. 
Inilah yang menjadi bukti bahwa: Untuk orang yang berpikir sempit, selalu dalam pertentangan. Pada pihak lain, jika seseorang memiliki pandangan atau wawasan tentang Keesaan, Keesaan sikap dan prilaku, maka pandangannya akan serShri Danu:

atus persen berbeda.
Makanya tidak salah Vedanta berpesan demikian: “Mulailah ubah sikapmu; dengan demikian pandanganmu tentang jagad raya (dengan serta merta) akan berubah, segala sesuatu akan membahagiakan dan baik, inilah pandangan tentang KEESAAN dari Vedanta, dan inilah PENGETAHUAN TERTINGGI.”
Semoga renungan singkat ini dapat menjadi santapan bagi tumbuhnya pengetahuan kesadaran kita, sehingga kita bisa melangkahkan hidup ini menuju Pengetahuan yang Sattvika. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Jakarta, 07 Desember 2003

KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD
Om Swastyastu

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” adalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih: Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya.

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” adalah bagian dari salah satu bait “Pupuh Kinanthi” dalam “Serat Witaradya” buah karya RN. Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan Raden Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.


Cermin memantulkan sesuai dengan Objeknya

PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG:

Selengkapnya “Pupuh Kinanthi” tersebut adalah sebagai berikut:

“Jagra angkara winangun;

Sudira marjayeng westhi;

Puwara kasub kawasa;

 Sastraning jro Wedha muni;

Sura dira jayaningrat;

 Lebur dening pangastuti”.


Pada baris ke-4 ada yang menulis: “Wasita jro wedha muni”

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Jagra: Bangun (dalam pengertian “melek”); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);  (2) Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam … ;Westhi: Marabahaya; (3) Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa;  (4) Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Weda: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara;  (5) Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad (6) Lebur: Hancur; Dening: Oleh;Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Arti bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Baris ke -1 s.d 3:

Menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. 

Sedangkan baris ke-4 s.d 6:

menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.

Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti”.

BEBERAPA KISAH:

1. Kisah Nyai Pamekas

Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang

Dengan tutur kata lembut dan “ulat sumeh” Nyai Pamekas berupaya menyadarkan Raden Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di”sirep” (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti Raden Citrasoma, tentu saja me”nyirep” orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan Raden Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan Raden Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Raden Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

2. Kisah Yudhistira  dan Candrabhirawa

Menjelang akhir perang Bharatayudha, Yudhistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabhirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bhima dan Arjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabbirawa berhadapan dengan Yudhistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabhirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabhirawa pun kembali ke tuannya

Kajian Makna: KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD

Kelembutan Menaklukkan Kekerasan

Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan“pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat”  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut:

“Ring janma di kang winangun;

Kumenyar wimbaning rawi;

Prabangkara dumipeng rat;

Menang kang sarwa dumadi; 

Ambek santa paramarta; 

 Puwara anyakrawati”.

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata;

(2) Kumenyar: Bercahaya; Wimba: Seperti; Rawi: matahari 

(3) Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad 

(4) Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua mahluk 

(5) Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana 

(6): Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki

Itulah “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”, yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke  “adigang, adigung, adiguna” Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini. Manggalamastu


Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

​KERJASAMA ATAU SAMA SAMA KERJA

(Motivasi sesi~2 SPA BALI)
Om Swastyastu

Sekilas kata Kerjasama dan Sama sama kerja sinonim. Tidak ada bedanya, kata anak muda. Tapi kalau kita telaah lebih dalam dan jernih, nyata benar bedanya. Mari kita coba telisik. 

Pertama yaitu Kerjasama, adalah makna kita bekerja bersama-sama, jadi mesti ada interaksi antara satu dengan yang ain. Tidak boleh individualis. Kerjasama menuntut kebersamaan, dan kebersamaan itu sendiri menuntut keterbukaan, dan keterbukaan itu menuntut kepercayaan. Saling mempercayai bahwa kita dapat bekerjasama, saling mengisi bukan menguras, saling berbagi bukan menopoli, saling mengasihi bukan menguasai. Nah, dengan modal yang demikianlah kita baru bisa membangun kerjasama. Kerjasama yang indah luar biasa, yang bisa membuat kita jadi satu keluarga. 

Sesi Work Motivation

Sementara “sama sama kerja”, adalah situasional. Yaitu sebuah kondisi dimana kita sama-sama kerja, tapi tidak bersama-sama. Kamu kerja, aku kerja, masing masing kerja, tapi tidak saling kontak, tidak ada interaksi. Yang seperti ini tentu merupakan sesuatu yang tidak baik, tapi justru inilah yang sering terjadi; diantara kita. Sama-sama ke pura, sama sama berdoa, tapi bebanmu ya bebanmu, sakit atau seneng, yah sendiri. Yang lain tertawa, saling becanda tapi tidak ada ikatan rasa yang dibutuhkan untuk membuat kita bisa sehati dan sepikir. 

Nah, sekarang, bagaimana dengan kita kita? Semoga kita tidak sekedar “sama-sama melayani” tetapi “melayani bersama-sama”. Karena kesatuan dalam kebersamaan adalah kehendak Tuhan. Kita boleh aja terpisah secara fisik tapi terikat dalam kasih, iya kan…??!!

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Next Page »