wisdom of dharma


Om Swastyastu

Tuhan disebut-sebut sebagai yang maha pengasih dan maha penyayang tapi mengapa beliau menciptakan kesengsaraan? Kenapa harus ada kesengsaraan jika kebahagian ada, bukankah kita lebih memilih kebahagiaan dari pada kesengsaraan? Mengapa Tuhan membiarkan kesengsaraan itu berlangsung di dunia ini?

Secara batin dan lahiriah kita selalu menginginkan kebahagiaan tapi terkadang kita mendapatkan penderitaan/ kesengsaraan, mengapa hal seperti itu terjadi? Hindu percaya akan adanya hukum karma phala, segala sesuatu yang kita perbuat pasti akan menghasilkan sesuatu, begitu juga penderitaan dan kebahagiaan yang kita peroleh, itu adalah hasil dari karma yang kita lakukan. Sesungguhnya penderitaan adalah buatan manusia itu sendiri, manusialah yang menimbulkan kesengsaraan itu, kita sering menyalahkan Tuhan ketika kita sengsara, ini adalah tindakan keliru, Tuhan hanya menciptakan hukum Rta yaitu hukum sebab akibat, mungkin jika kita hari ini menderita itu disebabkan karma buruk yang kita lakukan di hari yang lalu, Tuhan hanya memberi pilihan saja antara penderitaan dan kebahagiaan, kita sebagai sebagai ciptaannya yang bebas untuk memilih apakah kita memilih penderitaan atau kebahagiaan.

Kesengsaraan terjadi hanyalah untuk mendewasakan diri manusia itu sendiri, sehingga manusia lebih mengerti bahwa kesengsaraan bukanlah yang kita inginkan dan selalu ingat dengan Sang Pencipta, kita sering menganggap Tuhan membiarkan kesengsaraan itu terjadi dan tidak mencegahnya, ini adalah anggapan yang keliru, justru Sang Pencipta selalu menuntun manusia kearah kebahagiaan, apa buktinya? Sudah banyak kita tahu bahwa wahyu suci yang diturunkan Tuhan untuk manusia adalah semata-mata untuk kebahagian semua ciptaan-Nya khususnya manusia, di sana berisi petunjuk-petunjuk dari Tuhan bagaimana memperoleh kebahagiaan. Bukti lainnya adalah Tuhan menciptakan manusia-manusia unggul untuk membimbing manusia yang lain guna mencapai kebahagiaan, bahkan dalam beberapa agama dan kepercayaan lain meyakini Tuhan sendiri yang turun atau menitis ke dunia fana ini untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan, contoh, Hindu meyakini Awatara-Awatara seperti Sri Krsna, Sri Rama dan lain-lain adalah manisfestasi Tuhan sebagai sang pemelihara alam semesta yaitu Dewa Wisnu yang turun kedunia sebagai Awatara untuk menyelamatkan manusia yang selalu berada di jalan kebenaran dari penderita, Buddha yang membimbing manusia kepada kebebasan dan kebahagiaan abadi, Nabi Muhammad yang menuntun manusia lainnya yang berada dalam kegelapan menuju cahaya pencerahan, Yesus sang juru selamat yang rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan manusia dari dosa. Itu semua bukti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan penderitaan bahkan membiarkan penderitaan. Penderitaan muncul akibat manusia yang memilihnya. Dahulu pada saat nazi memilih membantai lebih dari 3 juta orang, memberikan kita pelajaran bahwa itu adalah kesalahan dan kebodohan terbesar manusia, menyadarkan manusia bahwa tindakkan seperti itu adalah salah, sehingga munculah peraturan-peraturan yang melindungi hak asasi manusia bahkan ada Organisasi yang khusus untuk itu. Kekejaman itu telah menyadarkan manusia sekarang untuk bisa menghargai manusia yang lainnya. Hal hasil manusia sekarang lebih banyak memilih perdamaian dari pada perperangan, lebih banyak memilih bersatu dari pada terpecah. Kesengsaraan mampu menguatkan iman seseorang, mampu menghapus kesombongan, kesengsaraan mampu membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Seperti Dewi Kunti yang selalu memohon penderitaan agar ia selalu ingat dengan Tuhan sepanjang hidupnya.

Penderitaan dan kebahagiaan akan selalu ada di dunia ini guna terciptanya keseimbangan. Jika penderitaan terjadi pasti akan selalu ada kebahagiaan yang terselip diantara penderitaan tersebut. Penderitaan dan kesengsaraan adalah sebuah pelajaran agar mendorong manusia untuk lebih memilih kebahagiaan dengan mengikuti segala petunjuk yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Sekali lagi, Tuhan hanya memberikan pilihan antara penderitaan dan kebahagiaan, manusialah yang memiliki kebebasan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut dan Tuhan telah memberikan petunjuk bagaimana memperoleh kebahagiaan dan bagaimana lepas dari segala penderitaan, tergantung kita sebagai manusia untuk memilih, kebahagian ataukah penderitaan yang akan kita pilih. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Karawang, 14 Februari 2019
~ I Wayan Sudarma

Advertisements

(52) Renungan Menyambut Tahun Baru 2019

Om Swastyastu

Berhati-hatilah menjadi “orang hebat” dalam menjelek-jelekkan yang lain. Jika zaman dahulu orang-orang tidak terpelajar memperlihatkan kebodohannya dengan cara menjelek-jelekkan orang lain, maka zaman sekarang orang-orang terpelajarlah yang memperlihatkan kebodohannya dengan cara menjelek-jelekkan orang lain.

Mereka tidak akan bersaing dengan memperlihatkan keterpelajarannya melainkan dengan persaingan saling menjatuhkan satu sama lain. Mengangkat diri atau kelompok dengan cara menjatuhkan orang atau kelompok lain akan dijadikan sebagai “brahma astra” atau bom atom.

Mereka merasa “menemukan” keterpelajarannya di sana, dalam menjelek-jelekkan yang lain. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berusaha “membunuh nyamuk dengan senjata bom atom”, bahwa:
“Kebiasaan menjelek-jelekkan yang lain akan membabat habis akar kebaikan leluhur. Setelah “pohon leluhur roboh” dengan segera “pohon sang diri” jatuh ambruk habis tanpa sisa. Orang-orang seperti itu akan “melihat neraka” di dunia ini dan juga di dunia setelah meninggal.”

Om Santih Santih Santih

(Darmayasa, New Delhi 29 Desember 2018)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Uang merupakan sebuah objek duniawi yang selalu dikaitkan dengan kepuasan material. Uang sangat-sangat penting dan mesti dikuasi jika ingin menguasai dunia material. Begitulah uang adanya didunia, tersebar dan saling diperebutkan.

Dunia Material seperti yang kita sudah ketahui, akan selalu berubah dan tidak pasti. Semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan material akan berlalu. Setiap detik objek yang kita dapati di sekitar kita selalu berubah. Debu akan terus menghinggapi kulit, walau kita tak menginginkannya.

Semu, seperti itulah kehidupan di dunia ini. Uang adalah sebuah perantara yang baik di dalam mengarungi kehidupan yang semu ini. Uang menjadikan kita bahagia, uang menjadikan kita dicintai, uang juga menjadikan kita disegani.

Uang memang sangat hebat, uang juga mampu menggetarkan hati seseorang. Bahkan untuk memperoleh pasangan yang cantik atau ganteng sekalipun dengan uang pun bisa terjadi. Itulah fakta yang terjadi di sekitar kita, tak diragukan memang uang itu sangat mempengaruhi status sosial manusia modern. Kepuasan dan kesenangan pun didapat jika uang tersedia. Segala kebutuhan material sangat mudah didapat. seperti itulah Uang.

Seharusnyalah kita menghargai waktu, dengan mengoptimalkan kerja dalam mencari uang.

Hebat sekali Uang ya??

Tapi seperti yang saya ceritakan di awal, apapun yang berhubungan dengan objek duniawi pastilah akan berlalu. Semuanya bersifat semu semata. Datang dan pergi, berlalu tanpa diminta. Maka dari hal ini kita mesti belajar, bahwa kebahagiaan duniawi akan berlalu dan tidak menutup kemungkinan di selingi dengan duka.

Saya pernah mendengar ada sebuah ajaran Nusantara Kuno yang mengengajak kita untuk menemukan kebahagiaan tanpa diiringi kesedihan, “SUKA TANPA WALI DUKA”. Semoga lebih banyak dari kita bisa menemukan kebahagiaan yang bebas dari kesedihan tersebut.

Saya kutipkan untaian Sloka dari Kitab Sarasamuscaya. 269:

“Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.”

Semoga apa yang saya ungkapkan disni, ada hubungannya dengan kehidupan kita,

Dharma selalu menerangi jalan kita.

Om sarve bhavantu sukhinah

Om Santih Santih Santih Om

Jakarta, 05 Desember 2018

Om Swastyastu

Alam Semesta laksana sebuah toko yang hebat, di mana semua hal yang membantu manusia guna memahami kebenaran dapat ditemukan. Kebenaran itu pertama kali dikenal sebagai: “Semua ini dijiwai dengan Brahman (Divinity), yang disutradarai oleh dan terdiri dari Brahman (Sarvam Brahma Mayam)! ”Kemudian sang pencari naik ke kesadaran yang lebih besar,“ Semua ini adalah Brahmam (Sarvam Brahmam),“.

Namun Kebenaran tersebut hanya tampak sebagai sesuatu yang lain untuk suatu waktu bagi mata yang belum dibuka! Keadaan terakhir adalah di mana tidak ada bahkan, “Semua ini (Sarvam)” untuk dipungkiri sebagai yang bukan Brahman; yang ada hanyalah Brahman-sebagi satu-satunya Keberadaan.

Pelajaran ini dipelajari oleh orang-orang ketika mereka mempelajari Alam, menganalisanya dan mencoba memahaminya.

Di pangkuan ibu, anak itu belajar seni hidup; begitu juga Alam (Prakerti) yang mengajarkan seseorang untuk berhasil dalam perjuangan keras dan memenangkan kedamaian tertinggi (Prasanthi).

Menghargai dan berjalan sesuai hukum Alam akan menempatkan kita dalam LindunganNya; adalah kewajiban kita untuk mematuhi perintahNya dan dengarkan peringatanNya, dan dia akan menyampaikan warisan keabadian kepada kita di Alam ini. Manggalamastu.
#bersahabatdenganalam
#jagadhita

#CatatanpinggirJalan

Om Santih Santih Santih Om
💙 I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

sri wisnu

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai maharaja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Srilanka, semua pasukan Sri Rama telah kembali ke Ayodhya. Sri Rama bersama dewi Sita dan Laksamana mengendarai kereta terbang bernama Manipuspaka, yang merupakan hadiah dari dewa Kuvera. Setibanya di keraton Ayodhya, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Sri Rama berhasil menundukkan Ravana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Sri Rama membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali dewi Sita. Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanuman untuk menerima hadiah dari Sri Rama. Saat itu Hanuman tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat ia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanuman, dengan Sri Rama menginjinkan dirinya sebagai abdi sang Purna Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati.

Terhadap penolakan Hanuman ini, Sri Rama dan dewi Sita kembali mendesak Hanuman untuk bersedia menerima hadiah sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan di medan perang. Demikian pula keberhasilan Hanuman sebagai Duta serta keberanian dan kekuatan Hanuman mendapat pujian dari segenap yang hadir. Hanuman tidak menjawab. Saat itu dewi Sita berbisik kepada suaminya, untuk mengijinkan kalung mutiara hadiah Prabhu Janaka, ayahda dewi Sita diberikan kepada Hanuman. Sri Ramapun menyetujuinya, walaupun kalung mutiara itu memiliki arti yang istimewa bagi Sri Rama dan Sita, karena dihadiahkan saat Sri Rama berhasil mematahkan busur milik dewa Siva dalam sayembara dan berhasil memenangkan serta mempersunting dewi Sita sebagai istrinya. Saat Hanuman tertunduk, Sri Ramapun langsung membuka kalung dewi Sita dan tampil ke depan menyerahkannya kepada Hanuman. Hanuman seperti terpaksa menerima hadiah tersebut. Hanuman merasa malu, seorang yang telah lama diterima sebagai abdi harus menerima hadiah bukankah hal ini salah satu wujud kerakusan ? Setelah Hanuman menerima hadiah tersebut, satu-persatu butiran mutiara itu diperhatikan oleh Hanuman, maksudnya untuk menemukan gambar Sri Rama dan Sita pada biji-biji mutiara tersebut. Iapun tidak menemukan hal itu, tanpa disadari ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menggigit rangkaian mutiara itu dan melemparkannya ke tanah. Hadiran tercengang dan gemas menyaksikan kejadian itu. Panglima Sugriwa sangat marah dan membentak Hanuman. “Hai Hanuman, engkau kera hina tidak tahu diri, kelakuanmu itu memalukan, kuhancurkan wajahmu! Kau telah hina persidangan yang agung ini !” Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan hendak memukul Hanuman. Bila saja tidak di depan persidangan yang mulia itu, Sugriwa sudah pasti menempeleng muka Hanuman. Sugriwa sangat geram, tubuhnya gemetar menahan marah.

Pada saat yang menegangkan itu, Sri Rama dan Sita tersenyum dan memandang Sugriwa yang sedang marah. Demikian tatapan Sri Rama dan Sita menyapu wajah Sugriwa, saat itu pula emosi dan kemarahan Sugriwa lenyap. Sri Rama dan Sita benar-benar mengalirkan pancaran kasih yang tiada taranya. Selanjutnya Sri Rama mendatangi Hanuman dan menepuk bahunya : “Engkau seperti anak kecil, mengapa lakukan hal itu ?”. Maaf tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita, hamba telah mengecewakan persidangan yang mulia ini. Memang hamba seekor kera yang hina, tetapi hamba kira diri hamba tidak lebih rendah dari seorang manusia. Bagi hamba dengan diijinkan sebagai abdi, hamba sudah bahagia, karena ketika hamba dekat dengan tuan dan ibu sebagai perwujudan Avatara Tuhan Yang Mahaesa dan dewi Laksmi, saat itu pula kebahagiaan tiada taranya hamba peroleh dari tuan. Bukankah dengan pemberian hadiah ini hamba menunjukkan kerakusan hamba ?”.

Sri Rama kembali menepuk bahu Hanuman. “Tidak ! Engkau tidak rakus. Lalu apa yang engkau minta Hanuman! Katakanlah jangan seperti anak kecil !” “Baiklah tuan dan ibu dewi Sita, bila hamba boleh meminta lagi, ijinkanlah hamba senantiasa dekat tidak saja secara jasmaniah, tetapi tuan dan ibu dewi Sita hendaknya selalu berada di hati kami. Untuk itu sudikah tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita untuk bersthana pada jantung hati kami. Pada singasana bunga hati kami. Bila tuan dan ibu dewi Sita berkenan bersthana, maka itulah hadiah yang hamba senantiasa mohon”.

Sri Rama selanjutnya berdiri tegak dan bersabda : “Hai Hanuman dan hadirin yang tercinta dan supaya di dengar pula oleh seluruh jagat raya. Siapa saja yang maju satu langkah menghadap Aku dan mau mendekatkankan dirinya serta membuka pintu hatinya. Aku akan datang sepuluh langkah mendekati mereka, masuk ke dalam hatinya dan memberikan kebahagiaan yang sejati tiada taranya!”. Mendengar sabda Sri Rama demikian merdu dan menggetarkan alam semesta. Hanuman dengan mencium kaki Sri Rama terlebih dahulu, kemudian menegakkan dadanya. Dengan kekuatan “Bayubajra”, bagaikan kekuatan petir, tiba-tiba dengan kukunya yang tajam ia menoreh dadanya. Dan dengan tenaganya yang dahsyat, tiba-tiba yang merobek dadanya, darah berhamburan ke berbagai arah. Saat itu pula Sri Rama dan dewi Sita hilang dari singgasana kencananya yang indah. Suasana menjadi hening dan terdengar mantra-mantra para dewa dan rsi-rsi sorga dengan taburan bunga harum semerbak, nampaklah cahaya gemerlapan pada dada Hanuman yang menganga lebar. Pada cahaya itu kemudian nampak sebuah singasana emas di atas padma hati Hanuman. Ketika itu kelihatan Sri Rama dan Sita duduk melambaikan tangan dengan sikap Abhaya dan Waramudra, yaitu sikap tangan menjauhkan serta menolak bencana dan memberi hadiah. Hadirin mengucapkan Jaya-jaya Sri Rama, Jaya-jaya dewi Sita. Setelah suana hening kembali. Hanumanpun menutup dadanya, tidak nampak ada luka dan tiba-tiba Sri Rama dan dewi Sita sudah kembali bersthana pada singasana kencana di depan persidangan.

padma hrdayam

Demikian nukilan singkat dari ceritra Ramayana yang memberikan pendidikan secara simbolis, bila di hati kita telah bersthana Sang Avatara, para dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, maka niscaya kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita. Berbagai upacara termasuk piodalan dan lain-lain mengandung makna untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dengan mendekatkan diri, maka Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Anandarupa, yakni kebahagiaan yang sejati akan turun dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga kepada kita.

Om sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah,
sarve bhadrani pasyantu, ma kascid duhkha bhag bhavet.
(Ya Tuhan Yang Mahaesa, karuniailah kami, semooga kami selalu
melihat kebaikan, semoogalah tiada halangan, semogalah kebajikan
selalu di depan kami dan semogalah semuanya terbebas dari
kedukaan).
Om Santih Santih Santih

ᬲᬭᬕᬲᬂᬲᬥᬸᬲᬶ᭢ᬭᬓᬢᬸᬢᬦ᭟

Mereka yang Bijaksana patut dijadikan Suri Tauladan. (Awatara Rama)

#JeroMangkuDanu

ᬢᬦ᭄ᬳᬃᬣ᭄ᬢᬦ᭄ᬓᬫᬧᬶ᭢ᬤ᭡ᬦ᭄ᬬᬢᬦ᭄ᬬᬲ᭟

Bukanlah Harta dan bukan pula Kenikmatan jika tidak diperoleh dengan jalan Kebenaran. (Awatara Rama)

#MangkuDanuQoutes

#JeroMangkuDanu

Next Page »