Tradisi Leluhur Nan Luhur


Oleh: Darmayasa

Om Swastyastu

aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-dṛṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
(Bhagavad-gῑtā 17.11)

“Persembahan korban suci yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak menginginkan hasil dari persembahan korban suci yang dilakukan, persembahan korban suci yang dilakukan sesuai dengan aturan kitab suci, yang dilakukan setelah memantapkan dalam hati bahwa persembahan korban suci yang dilakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, persembahan korban suci seperti itu adalah korban suci dalam sifat kebaikan Sattva-guṇa.”

Bali terkenal sebagai pulau yajña. Mendengar nama Bali, orang luar Bali akan terbayang pada persembahan Banten, Canang, Gebogan, Banten Bebangkit, Pulagembal, Banten Taman Sari dan haturan-haturan yajña lain yang indah menarik. Persembahan-persembahan yajña seperti itu tidak ada duanya di dunia. Hanya ada di Bali. Warisan tradisi agama spiritual yang “the only one in the world” – satu-satunya di dunia. Sangat disayangkan jika ada orang berlebihan mempermasalahkan bebanten haturan indah tersebut. Sesuatu yang sangat indah dan merupakan satu-satunya di dunia, mengapakah kita sebagai umat Hindu Dharma tidak berbangga mempertahankan dan memperindah serta memurnikannya?

Pada umumnya umat belum memberikan pemahanan lebih pada persembahan suci yajña yang dilakukannya. Yajña ada dibedakan dalam tiga jenis, yaitu yajña dalam tingkat Tāmasa-guṇa, yaitu yajña yang dilakukan dalam sifat kegelapan dan kebodohan, Rājasika-guṇa yaitu persembahan suci yajña yang dilakukan dalam sifat kenafsuan, dan Sāttvika-guṇa, yaitu yajña-yajña yang dilakukan dalam sifat kebaikan, mulia, halus, indah asri penuh bhakti. Yajña yang dilakukan tidak semua sama. Ada pula yajña berbeda dipersembahkan kepada para Dewa-Dewi yang berbeda pula. Yajña dalam tutupan sifat alami Tri-guṇa tersebut dibedakan pula dalam 3 tingkatan, yaitu Kaniṣṭha-yajña (yajña yang terkecil paling sederhana), Madhyama-yajña (yajña menengah) dan Uttama-yajña (yang paling utama). Masing-masing juga dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi Navavidha-yajña atau sembilan jenis persembahan suci yajña. Keberadaan dan “rahasia” akan tiga jenis atau level yajña ini sangat penting diadakan pemahaman oleh umat. Jika tidak, maka umat akan melaksanakan yajña tanpa kendali dan tanpa arah jelas, hanya melihat lalu melakukan tanpa pemahaman yang benar.

Umat Hindu Dharma tidak bisa lepas dari yajña. Menurut Atharva Veda (12.1.1), pelaksanaan persembahan suci yajña juga berperan penting dalam usaha menjaga tegak dan damainya dunia (yajñaḥ pṛthivīṁ dhārayanti). Ida Sang Hyang Parama Kawi menciptakan alam semesta melalui yajña (saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā). Merupakan kewajiban umat untuk melakukan yajña. Kesadaran akan kewajiban dharma seperti itulah yang menyebabkan adanya tradisi pelaksanaan berbagai yajña setiap hari. Setidaknya umat sangat patuh mempertahankan tradisi pelaksanaan yajña-śeṣa atau masaiban setelah memasak. Selain itu, ada hari-hari tertentu dimana umat Hindu Dharma mempersembahkan yajña yang dilakukan secara khusus.

Secara umum yajña dibedakan dalam Nitya-yajña atau yajña yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari, misalnya Yajña-śeṣa, Agnihotra dan lain-lain, selainnya ada Naimitika-yajña yaitu yajña yang dilakukan sewaktu-waktu dalam kurun waktu tertentu, bahkan ada yang dilakukan hanya sekali seumur hidup. Yajña-yajña dalam Naimittika-yajña antara lain Kajeng Kliwon, Purnama (Pūrṇimā), Tilem (Amāvasya), Piodalan-piodalan, Galungan, Otonan, Pawiwahan, Ngaben, dan lain-lain.

Ada pula yajña yang dibedakan dalam Pravṛtti-yajña, yaitu yajña yang dilakukan dalam mengumpulkan kārma (keinginan) demi pencapaian hidup damai sejahtera di dunia dan pencapaian Surga setelah meninggal.

Sedangkan jenis lain dinamakan Nivṛtti-yajña justru meninggalkan kāma (keinginan) untuk pencapaian pembebasan (mokṣa). Jenis dan tingkatan-tingkatan yajña ini sesungguhnya lebih banyak dilihat berdasarkan sarananya, bukan dari kegiatan apalagi hasil yang diperoleh dari pelaksanaannya.

Keutamaan sebuah yajña ditentukan oleh beberapa faktor. Yajña yang dilakukan dengan sarana yang sederhana (kaniṣṭha) bisa jadi nilainya lebih mulia daripada yajña yang dilakukan dengan sarana yang lebih mewah dan jumlah yang lebih banyak (madhyama atau uttama-yajña). Jika yajña dilakukan dengan baik dan penuh śraddha bhakti maka upacara kaniṣṭhaning kaniṣṭha (paling sederhana dari yang paling kecil sederhana) akan dapat mengalahkan upacara yang paling lengkap dari yang paling lengkap (uttamaning uttama).

Kekuatan śraddha bhakti sangat ampuh, yang mampu mengalahkan persyaratan upacara banten. Akan tetapi, kesiapan pemahaman seperti ini pastilah belum bisa diterima oleh masyarakat atau umat kebanyakan.

Peluang pergeseran pemahaman di masyarakat dapat terjadi yang menganggap keutamaan yajña ditentukan oleh sarana yang lebih banyak dengan biaya yang lebih mahal. Kecendrungan alpa seperti ini dapat terjadi dengan mudah pada siapa saja khususnya para Sarathi banten (tukang Banten) dan yang lainnya. Niat baik memperindah yajña di sana-sini belum tentu diperlukan dan/atau bisa terjadi penempatan yang tidak tepat. Hal tersebut bisa terjadi terutama pada Sarathi Banten yang alpa “nglinggihang” (memuja) Penguasa Banten, yaitu Sang Hyang Tāpinῑ serta para Ancangan pengiringnya (makadewaning tukang banten, Ida Hyang Bethari Umā, meraga Sang Hyang Tāpinῑ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keutamaan sebuah yajña untuk dapat ditingkatkan pada level Sātvika-yajña adalah keyakinan yang mantap (śraddhā), bahwa yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan (lascarya), artinya yajña harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh siapa pun, terlebih jika yajña dilakukan demi harga diri, prestige atau status di masyarakat, maka tanpa disadari orang sudah menurunkan nilai yajña karena yajña tidak sekadar membuat banten sampai pelaksanaan upacara selesai.

Pemahaman arti dan makna yajña di dalam masyarakat perlu diperluas antara lain yajña juga merupakan sebuah usaha untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera lahir-batin. Untuk mencapai tujuan ini maka pemahaman yajña diarahkan juga dalam bentuk dṛvya yajña atau yajña harta benda.
Persyaratan lain dari Sāttvika-yajña yang patut dipenuhi juga adalah śāstra-pramāṇa, bahwa pelaksanaan yajña harus sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam Veda, Dharmaśāstra atau lontar-lontar bonafid yang dapat dipercaya. Yajña yang dilakukan berdasarkan “terka-terkaan”, sesuai dengan keinginan pribadi atau persetujuan beberapa orang, atau yang bertentangan dengan Śāstra-pramāṇa tidak dapat dikelompokkan ke dalam Sāttvika-yajña. Selanjutnya Sang Yajamāna (yang menyelenggarakan yajña) juga harus menghaturkan dakṣiṇā, wajib memberikan sesuatu yang layak kepada pemimpin upacara sebagai bentuk keseimbangan antara menerima dan memberi.

Selesai pelaksanaan upacara yajña Anna-dāna atau Anna-sevā harus dilakukan. Pada upacara yajña yang melibatkan orang lain sebagai pemimpin upacara atau mānuṣa-sākṣῑ maka sang Yajamāna wajib memberikan makanan dan minuman kepada mereka sebagai bentuk pelayanan dan penghormatan. Pemberian makanan merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik-praktik upacara yajña yang dilakukan baik di Bali, India atau pun di tempat-tempat lain di dunia. Untuk Sāttvika-yajña Anna-dāna juga diusahakan yang Sāttvika-bhojanam, yaitu makanan dan minuman dalam sifat kebaikan (Sattva-guṇa).
Yajña hendaknya tidak dilakukan untuk tujuan pamer (nasmita). Sāttvika-yajña tentu harus dijauhkan dari tujuan pamer dan kebanggaan atau smita. Sattvika-yajña harus bersifat nasmita, bebas dari tujuan kebanggaan. Mereka yang hendak melaksanakan yajña diwajibkan menghitung kemampuan dirinya dan kemudian menentukan jenis, tingkat, atau besar-kecilnya yajña yang harus dilakukan. Umat yang baik akan menghindari pelaksanaan yajña yang “ditumpangi oleh rasa kebanggaan dan pamer, apalagi berakhir pada rasa tidak nyaman akibat utang-piutang dan kehabisan harta benda.

Persyaratan terpenting untuk sebuah Sāttvika-yajña adalah:

  1. yajña hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan hati sebagai sebuah kewajiban suci (yaṣṭavyam eva iti manaḥ samādhāya),
  2. yajña harus terbebaskan dari keinginan untuk mendapatkan hasil atau pahala (aphalākāṅkṣibhiḥ yajñaḥ), dan
  3. yajña harus mengacu dan/atau dilakukan berdasarkan pada vidhi-śāstra, kitab-kitab suci yang memang memberikan tuntunan serta aturan peraturan yang otentik untuk pelaksanaan Sāttvika-yajña. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Oleh:  I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

Suatu hari seorang pemuda kehilangan sepatunya di laut; lalu dia menulis di pinggir pantai …”LAUT INI MALING …”
Tak lama datanglah nelayan yang membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai …”LAUT INI BAIK HATI …”
Seorang pemuda tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai…..”LAUT INI KEJAM & PEMBUNUH …”
Tak lama datanglah Seorang lelaki yang menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai…”LAUT INI PENUH KARUNIA …”
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu !!!!!!
Maka…..

JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA…..!!
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik. Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.
Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu, Dan yang membencimu tidak percaya itu 
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi Siapa yang mau berbuat baik.

Salam Nusantara Bersatu


Daripadanya WAHAI SAUDARA-SAUDARAKU SEBANGSA DAN SETANAH AIR…..

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan …

Namun Hapuslah kesalahan…

demi lanjutnya Persaudaraan..
Jika datang kepadamu gangguan…

Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.
Mari kita kurangi mengeluh;  teruslah berdoa dan berkarya yang terbaik. Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu…..
Mari bersatu padu menjaga Nusantara ini tetap Bersatu, Tetap Damai….

Mari Jadikan Segala Perbedaan sebagai sebuah Modal untuk saling melengkapi, menggenapi dan menyempurnkan

Agar Bangsa Ini tetap Utuh dalam Kesatuan.
Salam Nusantara Bersatu
Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu

Pembacaan Weda Wakya dalam 3 versi pada acara Penutupan Jambore Pasraman Nasional IV tanggal 29 Juli 2016 di Daerah Istimewa Yogyakarta:

1. Langgam Jawa

2. Reng Sruti

3. Kandayu-Kaharingan
Getar spiritualnya menggetarkan jiwa dan raga yang mendengarkannya, tak kuasa airmatapun mengalir. Mendapati betapa kayanya Warisan Leluhur Hindu Nusantara.
Jayalah Dharma

Jayalah Hindu

Jayalah Nunmsantara
Om Santih Santih Santih Om

❤ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu

Ketika saya iseng membersihkan rumah, tanpa disangka menemukan gulungan kecil kertas kasar atau lebih tepatnya kulit kayu, setelah dibuka, ada empat helai kecil, yang berisi suratan dalam aksara Bali dengan bahasa Bali Kuna, tersusun dalam pupuh pangkur, dan setelah dicermati isinya sangat menakjubkan, yakni: sebuah pesan tentang PERTIMBANGAN tatkala diharuskan membuat suatu KEPUTUSAN.

Kehati-hatian orang Bali Mula dalam mengambil keputusan tercermin dalam empat kata berjenjang ini “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa”. Hal ini  supaya tidak salah di kemudian hari, sesuai dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Leluhur kita mengajarkan supaya segala sesuatu dipertimbangkan masak-masak supaya tidak “mekamben di sunduk” (menyesal di belakang hari).

Isi Takepan Wulangreh: 

“Deduga lawan prayoga

myang watara reringa awya lali

iku parabot satuhu

tan kena tininggala

tangi lungguh angadeg tuwin lumaku

angucap meneng anendra

duga duga  nora kari” (pupuh 2)

“Muwah ing sabran karya

ing prakara gedhe kalawan cilik

papat itu datan kantun

kanggo sadina dina

lan ing wengi nagara muwah ing dusun

kabeh kan padha ambekan

papat iku nora kari” ( pupuh 3)

“Kalamun ana manusa

anyinggahi dugi lawan prayogi

iku wateke tan patut

awor lawan wong kathah

wong diksura dadulur tan wruh ing edur

aja sira pedhak pedhak

nora wurung neniwasi” (pupuh 4)

Sumber: (Takepan Wulangreh, pupuh pangkur lempir 2-4).

Wulangreh, Pangkur lempir: 2-4

Arti Pupuh: 

“Empat kata INTI” pada pupuh pangkur tersebut, yaitu:

(2) Deduga, Prayoga, Watara dan Riringa tidak boleh ditinggalkan saat kita bangun, duduk, berdiri dan berjalan, baik saat berbicara, diam bahkan saat tidur.

(3) Dalam segala hal, dalam kegiatan besar maupun kecil, setiap hari, siang maupun malam, orang kota maupun orang desa, semua orang yang masih bernapas, empat hal tersebut tidak boleh ditinggalkan. 

(4) Kalau ada manusia meninggalkan Duga dan Prayoga, dia tidak layak bergaul dengan orang banyak. Orang yang tidak tahu tatakrama (degsura), kurang ajar (daludur) dan sombong ( tan wruh ing edir) seperti ini jangan didekati karena hanya menimbulkan kesusahan.

Dapat disimpulkan bahwa keempat hal tersebut: Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa tidak boleh ditinggalkan oleh siapa saja sepanjang masih bernapas, baik orang kota maupun orang desa,  baik siang maupun malam. Orang yang meninggalkan keempat hal tersebut dapat dipastikan akan mengalami banyak permasalahan dan kebuntuan dalam usahanya mengarungi kehidupan.

Kajian Makna:

  1. “DEDUGA” boleh diartikan sebelum melangkah harus ada pertimbangan. Sebuah contoh sederhana misalkan kita punya pegawai yang kita anggap bodoh di kantor. Tiap hari membuat kita marah karena pekerjaannya. Lalu mau kita apakan dia? Dipecatkah? Jangan keburu memecat. Pertimbangkan dulu baik-baik.
  2. “PRAYOGA” sebaiknya bagaimana? Apa untungnya memecat dan mengganti? Demikian pula apa ruginya? Mengganti dengan orang baru sebenarnya bisa saja dengan beli kucing dalam karung. Kita tetap tidak tahu baik buruknya. Orang yang mau kita ganti ini bodoh tapi jujur dan loyal, jangan-jangan nanti kalau dapat orang baru, kita dapat yang pandai tapi tidak disiplin dan suka mencuri?Dados prayoganipun kadospundi? Ya kita  mesti berembug, bermusyawarah, berdisikusi bersama-sama.
  3. “WATARA”, Selanjutnya adalah kita tetap harus mengira-ira lagi dengan mempertimbangkan berbagai hal secara seimbang. Kita perlu konsultasi atau minta pendapat orang lain, tetapi yang memutuskan ya tetaplah kita.
  4. “RERINGA” , mengingatkan lagi bahwa kita harus berhati-hati dan benar-benar yakin sebelum mengetok palu, mengambil sebuah keputusan final.

Telaah: Pertimbangan bukan berarti Lambat

Hal ini yang menyebabkan seolah-olah orang Bali Mula umumnya lambat dalam mengambil keputusan. Di jaman sekarang, jaman yang serba cepat dimana perubahan bisa terjadi dalam hitungan menit, kelambatan mengambil keputusan bisa sama jeleknya dengan salah mengambil keputusan.

“Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” adalah pelajaran jaman dulu. Intisarinya amat bagus, jangan gegabah. Yang diperlukan adalah kecepatan. Guna memperbaiki kecepatan pada jaman sekarang sudah banyak sekali “toolkit” manajemen yang bisa kita pelajari. Misalnya saja analisis SWOT yang mempelajari Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (Ancaman) yang pada hakikatnya adalah analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa) yang sudah dibuat lebih sistematis dan terstruktur, oleh leluhur kita dari masa silam.

Jadi, cara mengambil keputusan melalui “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” bukan penyebab kelambanan. Kalau ada yang lamban maka yang lamban adalah “manusianya” yang terlalu mangu-mangu (ragu-ragu) bukan ajarannya. Ungkapan leluhur yang lain terkait dengan kebalikan hal ini adalah “Kurang duga prayoga” dan ”Kaduk wani kurang deduga”. Maknanya hampir sama, hanya yang pertama menekankan pada lemahnya pertimbangan sedang yang kedua menitikberatkan pada kegegabahan dalam bertindak.

* Catatan: 

  1. Duga: Pineh-pinehin riin untuk baiknya (demi baiknya semua tindakan harus dipikir terlebih dahulu)
  2. Duga-Prayoga: mabligbagan ngeruruh sane patut (berembug untuk baiknya)
  3. Duga-Wetara: pamineh, piteket (buah pikiran, pendapat)
  4. Prayoga: Pertimbangan baik
  5. Watara: Pangira-ira (Perkiraan)
  6. Reringa: Kanthi pangati-ati merga gojag-gajeg (Dengan penuh kehati-hatian karena masih ragu-ragu).

Demikian dapat saya ketengahkan sebuah ulasan Linuwih dari ceceran pesan Leluhur dalam Takepan Wulangreh bagi kita semua dalam rangka membuat putusan dalam hidup ini. Tujuannya tak ada lain~agar kita tiada menyesal di kemudian hari, karena kita tidak memperhatikan analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa). Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)®

Om Swastyastu

Salah satu keunikan dan kekhususan yang dimiliki oleh Desa Adat Kedisan, Kecamatan Kintamani adalah Pura Dalem Bajangan.

Lokasi:

Pura ini terletak di sebelah Barat Desa berdekatan dengan SDN Kedisan dan Pura Dalem Kahuripan. Dan daerah disekitarnya diberi nama “Majangan”. Dan berada di Perempatan (pempatan) desa.

Bentuk:

Secara struktur Pura Dalem Bajangan berupa Pelinggih Padma Capah, tapi masih sederhana karena memang belum pernah dipugar. Dikelilingi tembok cetakan dan dibelakangnya berdiri kokoh Pohon Aa Baas. 

Fungsi:

Sesuai dengan namanya “Pura Dalem” merupakan Pura yang dikhususkan untuk memuja Ida Bhatara Siwa, dalam hal ini dalam PrabawaNya sebagai  Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak, dan Sanghyang Kumara. Itu sebabnya Pura ini disebut “Pura Dalem Bajangan”.

Pura ini merupakan tempat khusus untuk melaksanakan pemujaan dalam rangka memohon Kerahayuan bagi para Bayi (Rare) hingga usia tertentu.

Dalam Lontar Panca Kumara disebutkan: “……yan hana rare hembas wenang sang rare ngamolihaken pengaskara widi widana minakadinya upakara bajang colong, palukatan mala pawetuan saking sanaknya, yan tan katawur mawastu makweh gering laranya…..”. 

Artinya: “….jika ada bayi yang lahir patutlah bayi itu mendapatkan upacara widi widana seperti upakara bajang colong, palukatan mala kelahiran dari saudara empatnya, jika tidak ditebus/diupacarakan akan sering sakit-sakitan…”.

Pura Dalem Bajangan Desa Adat Kedisan~Kintamani

Itu sebabnya setiap bayi yang lahir, biasanya saat usianya akambuhan sampai berusia satu oton, maksimal tiga oton buatkan banten tataban bajang colong, jejanganan, parurubayan, dan banten kumara untuk saudara empatnya. Ditempat lain biasanya upacara ini dilaksanakan di pekarangan rumah. 

Namun di Desa Adat Kedisan, karena sudah ada pura Khusus, upacara dilaksanakan di Pura Dalem Bajangan. Tetapi karena keterbatasan informasi, Krama Desa jarang yang datang langsung ke pura ini, biasanya dilakukan dengan cara “Ngayeng” dari rumah sang madue karya. Padahal semestinya setiap anak patut diajak tangkil ke Pura Dalem Bajangan untuk menghaturkan Banten Bajang Colong  dan nunas kerahayuan sehingga terhindar dari hal-hal yang disebabkan oleh bajangan kelahirannya, sehingga si anak dapat tumbuh sehat dan urip kalantas. Demikian  pula jika si anak dalam perjalanan hidupnya sering mendapatkan kemalangan, sakit, dan hal-hal yang dipandang buruk lainnya, juga  di ajak  tangkil ke Pura Dalem Bajangan untuk melakukan upacara Penebusan.

Dalam petikan Wingkang Ranu Kedisan juga disebutkan: “Yan hana rare sungkan tan pakrana, panes bara, ngelayung, ngeling, lesu, lemet mwah gering tan papegatan ika indung bajanganya mamilara, wenang tebusin, lukat, acep ta   Ida Bhatara Siwa ri Dalem Bajangan sang aparagayan Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak mwah Sanghyang Kumara, apan sira dewaning bebajangan, banglong”.  

Artinya: “Jika ada anak yang sakit-sakitan tanpa penyebab yang jelas, seperti: panas tinggi, sering histeris, mudah menangis, lemas, pucat, hingga sakit lainnya silih berganti itu merupakan namanya sakit bajangan, patut mendapatkan penebusan, dilukat dan pujalah Bhatara  di Dalem Bajagan yaitu Bhatara Siwa sebagai Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak dan Sanghyang Kumara, karena beliaulah Dewa segala jenis Bebajangan dan yang mengasuh (Babu Banglong) semua anak-anak”.

Jadi Keberadaan Pura Dalem Bajangan, sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat khusus bagi Krama Desa Adat Kedisan. 

Demikian dapat saya jelaskan secara singkat tentang keberadaan Pura Dalem Bajangan, dengan harapan dikemudian hari Krama Desa Adat Kedisan dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sebagai mana fungsi Pura ini di bangun oleh Leluhur Desa.

Om Santih Santih Santih Om

*Kontributor:  I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

* Sumber Bacaan:

  1. Lontar Rare Angon
  2. Purana Wingkang Ranu Kedisan

*Photo: Pura Dalem Bajangan~Desa Adat Kedisan, Kintamani

Om Swastyatu
“GUGU”artinya:  Menurut, mengikuti pendapat/nasihat; “TUHU”, artinya: Setia. Dengan demikian pengertian “Gugon Tuhon” adalah mengikuti dengan setia dan “tanpa reserve”, pokoknya ikut. Pada umumnya nasihat dalam “gugon tuhon” bersifat “wewaler” atau larangan. Rumusnya adalah: “Jangan melakukan …. nanti akan ….. “. 

Secara umum “gugon tuhon” dapat dibagi menjadi tiga macam sebagai berikut: 
1. WEWALER

Gugon Tuhon yang bersifat “wewaler” untuk keturunan orang tertentu. Contoh sederhana adalah pada waktu saya menghadiri suatu kondangan, ada suguhan daging angsa, kemudian saya sakit sampai seminggu, setelah sembuh saya mengatakan: Anak cucu saya jangan sampai ada yang makan daging angsa, karena akan sakit berat. Karena semua anak saya “nggugu” dan “mituhu” sama bapaknya, maka tidak ada yang berani makan daging angsa. Mereka akan menyampaikan pada anak-anaknya dan seterusnya. Larangan makan daging angsa menjadi “wewaler” untuk keturunan saya. 

Saya tidak membahas hal ini lebih lanjut, kecuali satu hal, bahwa pantangan makanan dari sisi kesehatan bisa ada benarnya. Ada penyakit-penyakit yang diturunkan dari orang tua ke anaknya. Misalnya kencing manis. Andaikan saya seorang penderita diabetes kemudian memberi wasiat supaya garis keturunan saya memperhatikan intake karobohidrat agar kakinya tidak busuk, ada unsur benarnya juga, walaupun tidak semua keturunan saya akan kena diabetes, dan yang kena diabetes belum tentu kakinya busuk.  

 

2. MENYEMBUNYIKAN PITUTUR BAIK TETAPI TANPA PENJELASAN

Gugon Tuhon yang menyembunyikan nasihat tetapi tidak diberi penjelasan. Umumnya terkait dengan perilaku manusia. Gugon Tuhon ini menurut saya kok baik. Hanya saja di jaman modern ini semestinya dijelaskan reasoningnya apa. Jangan sekedar “ora ilok” atau akan ditelan buaya, dan sebagainya. 

Beberapa contoh dari Gugon Tuhon jenis ke dua ini antara lain:

  •  Jangan suka mengintip, nanti “timbilen” (bisul kecil pada kelopak mata). Mengintip (melihat secara sembunyi-sembunyi melalui celah/lobang) memang perbuatan tercela. Kalau ketahuan bisa dipukuli orang banyak atau mata yang mengintip dicolek pakai jari bisa timbul luka.
  • Barang yang sudah kau berikan orang lain jangan diminta kembali, nanti “gondhongan” (pembengkakan pada leher). Ini juga perbuatan tidak terpuji: barang sudah diberikan kok diminta kembali. Berarti waktu memberi hati kita tidak ikhlas.
  • Jangan meludahi sumur, nanti bibirmu “suwing” (sumbing). Tentu saja ini perbuatan tidak baik. Sumur kan sumber air minum orang banyak,  lebih-lebih kalau yang meludah punya penyakit yang ditularkan melalui ludah dan bibit penyakitnya bisa hidup di air.
  • Jangan duduk di atas bantal nanti pantatmu bisulan. Bantal dipakai untuk alas kepala kok dipakai untuk alas pantat. Celana kita juga tidak selamanya bersih karena telah kita pakai kemana-mana dan duduk dimana-mana pula. 

Masih banyak lagi wewaler yang seperti ini. “Message”nya bagus tetapi “reasoning”nya terlalu berlebih-lebihan dan tidak bisa dipahami akal sehat. Entah mengapa dibuat demikian mungkin pada masa itu untuk melarang perbuatan tercela perlu ditakut-takuti. Dalam bahasa Indonesia pun ada juga hal semacam ini. Coba perhatikan lagu “Nina Bobo” …….. kalau tidak bobo digigit nyamuk. Padahal nyamuk gigit saat orang tidur. Kecuali setelah si anak tersayang bobo, ibunya memasang kelambu dengan baik, atau sebelumnya kamar tidur telah disemprot dan lobang ventilasi tertutup kasa. Barulah bobo tidak digigit nyamuk.
3. PESAN DAN ALASAN TIDAK MASUK AKAL

Adalah Gugon Tuhon yang betul-betul Gugon Tuhon, “PESAN” dan “ALASAN” sama-sama tidak masuk akal. 

Beberapa contoh “Gugon Tuhon” jenis ke tiga ini antara lain:

  • Anak kecil dilarang makan “kempol” ayam nanti menyesal di belakang hari (kempol adalah bagian ekor ayam atau kalau di Jawa namanya Brutu). Memang kempol rasanya enak, jadi tidak untuk anak kecil. Tapi kalau dikaitkan dengan kebahagiaan di belakang hari, rasanya tidak masuk akal.
  •  Anak kecil dilarang makan telur nanti kudisan. Apa hubungan antara telur dan kudis kecuali alergi telur.
  •  Anak kecil dilarang makan kelapa parut, nanti “kreminen” (keluar cacing kremi). Bagaimanapun kelapa merupakan sumber protein nabati.
  • Wanita hamil dilarang makan pisang yang dempet, nanti melahirkan anak kembar (siam). Untung pisang dempet (dua buah pisang menempel jadi satu) hanya sedikit. Andaikan yang dempet lebih banyak dari yang tidak dempet, salah satu sumber asupan gizi ibu hamil akan berkurang.
  • Wanita hamil dilarang makan lele nanti kepala anaknya besar dan susah keluar waktu proses melahirkan. Lele adalah sumber protein hewani.
  •  Wanita hamil dilarang makan jantung pisang nanti anaknya akan mengecil. Dan masih banyak lagi.
  • Jangan Membaca Lontar nanti Buduh (Gila), padahal kita belum tau apa isi lontar tersebut, dan lagi pula lontar sejatinya merupakan gudang pengetahuan, jadi kalau tidak dibaca pasti kita akan semakin tidak tahu.

I Wayan Sudarma~Meretas Adigium Gugon Tuhon


Waktu saya masih anak~anak, di Kampung Kedisan-Kintamani, penyakit campak juga memiliki “Gugon Tuhon” yang mengerikan, dibilang “Nika Nak Medewa”. Anak yang kena campak hanya diberi pakaian putih, semua ventilasi kamar ditutup. Hanya boleh minum air putih. Pokoknya serba putih. Lebih hebat lagi, masyarakat yang kalau ke dokter tidak disuntik merasa belum diobati, maka untuk sakit campak justru berlaku kebalikannya. Tidak boleh disuntik. Kalau anak dibawa sudah dalam keadaan dehidrasi dan sesak napas karena komplikasi pleumonia (radang paru). Sebenarnya anak perlu di-infus dan obat masuk lewat suntikan. Saat itu kematian akibat campak diterima dengan baik sebagai sesuatu yang wajar. Untunglah berkat adanya imunisasi campak yang diberikan sebagai imunisasi rutin dan gratis, serta makin baiknya tingkat pengetahuan masyarakat, hal ini sekarang sudah jarang terjadi.

Masih banyak pantangan-pantangan seperti ini. Menurut saya Gugon Tuhon yang ke tiga inilah yang prioritas untuk diluruskan. Lebih-lebih banyak kaitannya dengan makanan dengan sasaran ibu hamil dan anak-anak. Makanan amat mempengaruhi status gizi seseorang sementara ibu hamil dan anak membutuhkan asupan gizi yang baik. Anak masih akan tumbuh kembang dan ibu hamil harus melahirkan anak yang sehat Anak dan ibu termasuk sasaran Millennium Development Goals.

PENUTUP

Itulah “Gugon Tuhon”. Adalah tantangan kita untuk meluruskan. Yang mengandung “PITUTUR” kita jelaskan apa yang tersirat sedangkan yang tidak masuk akal, kita hilangkan melalui berbagai Penyuluhan.

Demikian sekilas Makna dari Gugo Tuhon, dengan harapan kita semakin cerdas untuk memilah mana yang SAJA/SEKEN/ BENAR dan mana yang BOYA/BOBAD/KELIRU. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

♡I Wayan Sudarma (Jro Mangku Dan)©

9 September 2016

Next Page »