Jyotisa/Wariga


Om Swastyastu.
Niki tiang petikkan puja stawa rikala Gerhana Matahari Bertepatan dengan Hari Suci Nyepi (09/03/2016:

suryagrahanna-pidaparihara stava:

Om indro’nalo dandadhararca. Rksah pracetaso-vayu-kubera-isah, majanma-rkse mama rasi-samsthe arko’paragam samayantu sarve Suryaya namah svaha.
_______

image

Om Sanghyang Widhi dalam prabahwaMu sebagai dewanya para dewa yang perkasa yang bersenjatakan danda berkilauan, pelindung jagat raya dan isinya, yang menghasilkan udara (vayu), yang memberi kehidupan (kuvera), yang melindungi manusia (janma), Engkaulah Pusat dari planet-planet (rasi), semogalah semuanya (samstha) terbebaskan dari segala penderitaan (samayantu sarve). Hormat padaMu Bhatara Surya.
*Sumber: kitab Stotramala

image

Inggih dumogi mapikenoh. Suksma
Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Advertisements

Om Swastyastu

Inilah ceceran-ceceran teknologi Veda yang ternyata sangat modern. Bahkan ada yang belum sampai dibayangkan oleh manusia jaman sekarang telah lebih dahulu terlukiskan oleh Veda.

image

Sungguh luar biasa bukan? Secarik tulisan di atas hanyalah setetes pengetahuan tentang teknologi dalam Veda, masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya dari luasnya samudra pengetahuan Veda. Nah sampailah kita pada maksud dibuatnya makalah ini, yaitu bagaimana hubungan Nuklir sebagai bidang studi yang saya geluti saat ini dengan Veda sebagai kitab suci Hindu.

Energi nuklir muncul atas dasar teori kesetaran antara materi dengan energi yang dikumandangkan oleh Einstein dengan rumusannya yang sangat terkenal, E = m C2. Suatu penemuan yang sangat mencengakan bahkan mengantarkannya sebagai predikat orang terjenius di dunia. Tetapi mungkin berbeda ceritranya dengan seorang ahli Veda yang mendengar penemuan Einstein, kenapa?

image

Di dalam Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Ternyata teori yang mencengakan ini telah tersurat jauh sebelum moyang dari Einstein lahir. Jadi siapa yang lebih hebat, Einstein apa Veda? Inilah dokumen Tuhan Yang Maha Esa dengan tanpa cacatnya. Adapun kejanggalan yang kita temukan hanya karena keterbatasan pemikiran kita sendiri yang terselimuti oleh maya dan kebodohan.

Dengan adanya teori kesetaraan energi dan materi, mulai awal abad ke-19 perkembangan teknologi begitu pesatnya. Banyak rahasia alam yang mulai dapat terungkap, tapi sayangnya ternyata kita sebagai kaum intelektual muda Hindu buta akan kitab suci sendiri. Kita hanya menunggu orang lain untuk mengungkapnya. Betapa tidak, ternyata kenyataan bahwa sumber energi utama di bumi ini adalah matahari tercantum dalam Rgveda bab II.13.6 yang menyebutkan “Yo bhojanam ca dayase ca vhardanam. Artinya : matahari menyediakan makanan yang bergisi pada alam semesta. Seperti kita ketahui dalam matahari (bintang) terjadi reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi antara inti-inti Hidrogen menjadi Helium dengan melepas energi yang sangat besar. Jika kita bandingkan antara massa awal sebelum terjadinya reaksi dengan setelah reaksi ternyata terjadi penyusutan massa, massa yang hilang inilah yang terkonversi menjadi energi yang selanjutnya memancar ke seluruh penjuru dan sampai pada planet Bumi sebagai sumber energi yang paling utama.

Ada sebuah sloka dalam Atharva Veda bab XIII.3.10 menyebutkan “Yasmin surya arpitah sapta sakam” artinya : Tuhan Yang Maha Agung menciptakan tujuh buah matahari/tata surya yang kuat secara serempak. Mungkin yang dimaksud sloka ini jumlah tata surya yang mirip dengan tata surya kita dengan pusat matahari ada tujuh buah dalam satu galaksi Bima sakti ini. Dan sangat mungkin di tempat itu juga terdapat kehidupan seperti di bumi meskipun dengan corak yang berbeda. Kita buktikan saja.

Kembali beralih kepada reaksi nuklir yang terjadi pada bintang atau matahari. Dalam Rgveda bab I.164.43 menyebutkan “Sakamayam dhunam arad apasyam, visuva para enavarena” artinya : matahari pada semua sisinya dikelilingi oleh gas yang kuat. Seperti kita bahas di atas, reaksi fusi dalam matahari berbahan bakar Hidrogen dan menghasilkan produk sisa berupa Helium. Berdasarkan analisa radiasinya dan pengamatan pada saat berlangsungnya gerhana matahari, sebagian besar unsur matahari memang tersusun oleh gas, tapi karena gaya gravitasinya menyebabkan kepadatan pada bagian inti matahari jauh lebih besar dari bagian luarnya. Daerah terluar mendapat gravitasi yang paling lemah dan disini terjadi semburan lidah api dan gas-gas yang memiliki kecepatan luar biasa yang disebut korona seperti apa yang diungkapkan sloka diatas. Kalau kita ingin menyelidiki kelanjutan dari hasil reaksi nuklir dalam matahari yang selanjutnya dapat menghidupi segenap mahkluk hidup juga dapat dijelaskan secara tepat dalam banyak sloka-sloka Veda.

Mari kita tengok era nuklir dalam sejarah Veda. Ada penemuan unik yang menyebutkan pada daerah bekas perang kuru sekarang ternyata terdapat sumber radiasi yang cukup tinggi yang terpusat hanya pada daerah ini. Jika kita tarik hubungan antara senjata-senjata yang dikatakan memiliki daya ledak tinggi milik Arjuna serta senjata hebat milik ksatria-ksartia lainnya yang meledak dalam Bharata yuda, apa tidak mungkin kalau senjata yang digunakan mengandung unsur radioaktif?

image

Dalam peperangan antara Arjuna dengan Asvatama juga dikisahkan penggunaan senjata sakti Brahmasirah yang dapat menyemburkan api sebesar gunung. Senjata apa yang bisa mengeluarkan energi seperti itu? Andaikan minyak bumi, perlu berapa barel minyak? Sedangkan dengan bahan bakar nuklir hanya perlu sekitar 1 gram saja. Satu lagi kisah yang
sangat menarik yang diceritrakan dalam mausala parwa, yaitu meledaknya senjata mausala yang menyebabkan musnahnya bangsa Wresni dan sekaligus menenggelamkan kerajaan Krisna ke dasar laut. Dengan teknologi kita sekarang ini, senjata apa yang bisa menghancurkan sedasyat itu? Bom Hidrogen? Bom dari Uranium atau yang lain? Hanya rekasi nuklir baik itu fisi (pembelahan, contoh pada Uranium) maupun fusi (penyatuan, contoh bom Hidrogen) yang memiliki daya hancur seperti itu.

Bagaimana kita bisa menolak semua kebenaran ini? Semua isi Veda yang kita ketahui benar hanyalah sebagian kecil kebenaran yang telah dibuktikan dengan cara manusia, sedangkan disana masih tersimpan banyak kebenaran yang belum bisa diketahui dengan metode manusia. Semua hanya karena ketidaktahuan dan kebodohan kita yang buta akan kebenaran suci Veda. Manggalamastu. Semoga bermanfaat.

Om Santih Santih Santih Om

SUMBER :http://narayanasmrti.com/2009/03/apa-yang-bisa-veda-ajarkan-tentang-teknologi-modern

Om Swastyastu

Malaning sasih, berasal dari kata Mala dan Sasih. Mala artinya ‘tidak baik’ dan ‘Sasih’ artinya bulan. Dalam sistem kalender Hindu-Bali atau populer dengan nama Kalender Saka-Bali, sasih yang dianggap mala adalah sasih Jyesta dan Sada.

Sebagaimana yang dimaksudkan dalam Lontar Jyotisha, karena di bulan-bulan itu ketiga unsur yakni Surya-Candra-Lintang Trenggana (Matahari-Bulan-Bintang) yang dikenal sebagai Trilingga dalam pemeneh sasih (bulan yang baik/ benar) tidak terwujud.

Trilingga disebut tidak terwujud karena di bulan Jyesta dan Sada (selama dua bulan) bintang Tenggala dan bintang Kartika ngerem (tidak muncul di langit). Kedua gugus bintang itu adalah bintang dari segala bintang, selain karena cahayanya yang paling terang, juga karena kedua bintang membawa ciri kemakmuran.

Itu sebabnya pemeluk Hindu di Bali tidak dianjurkan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya pada bulan-bulan Jyesta dan Sada.

Sedangkan bulan-bulan lainnya: Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga dan Kadasa adalah bulan-bulan yang baik untuk melaksanakan upacara, sekali lagi karena unsur Trilingga yang disebutkan di atas pada bulan-bulan itu terwujud.

Sasih Mala juga berkaitan dengan pe-ngerepet-ing sasih, yaitu bulan-bulan yang digunakan untuk ngerepet (memadukan) dalam perhitungan untuk menetapkan Hari Raya Nyepi.

Sebagaimana diketahui kalender Hindu-Bali menggabungkan beberapa system, yakni Surya pramana (tempo perputaran bumi mengelilingi matahari), Candra pramana (tempo perputaran bulan mengelilingi bumi), dan Wuku (candra pramana yang berhubungan dengan ala-ayuning dewasa = buruk-baiknya hari).

Oleh karena sistem surya pramana menghasilkan jumlah hari dalam setahun = 365 sedangkan sistem candra pramana menghasilkan jumlah hari dalam setahun = 360, maka setiap tahun akan terjadi selisih selama 5 hari atau dalam 6 tahun jumlahnya genap 30 hari (satu bulan). Pergantian sasih terjadi di saat Tilem sehingga disebut amawasanta.

Untuk selalu menyamakan unsur-unsur menetapkan tawur kesanga dalam rangka Nyepi maka pada setiap 6 tahun perlu diadakan ‘pengerepet’ yakni ‘mendobelkan’ sebuah sasih di bulan yang sama (menurut surya pramana). Sasih yang dipilih sebagai pengerepet hanya dua secara bergantian, yakni Jyesta atau Sada, karena kedua sasih itu adalah ‘mala’.

Unsur-unsur yang harus sama dalam menetapkan saat tawur kesanga Nyepi adalah:

Di hari itu tilem sasih kasanga (bulan mati pada bulan ke-9 menurut sistem candra pramana). Matahari berada pada posisi bajeging surya (di khatulistiwa menurut sistem surya pramana)

Hal ini sangat penting karena keesokan harinya adalah tahun baru Saka-Bali yang dikenal dengan Nyepi/ Sipeng tepat pada hari penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal 1 bulan ke-10).

Mengapa tahun baru kita di Bali pada bulan ke-10 (kadasa), bukannya pada bulan ke-1 (kasa)?

Dalam filosofi angka-angka di Bali, angka 10 sama dengan 0, dan angka 9-lah yang tertinggi. Sasih dengan angka 11 (Jyesta) dan 12 (Sada) adalah ‘mala’.Pada penanggal ping pisan sasih kadasa itulah Uttarayana (matahari beredar ke lintang utara), hari-hari yang sangat baik dalam keyakinan Hindu.

Pada paruman Sulinggih tanggal 18 September 2001 di Pura Watukaru, Tabanan, dijelaskan bahwa perhitungan pengerepeting sasih akan benar jika menghasilkan:

1. Tilem sasih katiga selalu tiba pada bulan September di saat matahari beredar menuju/ di selatan katulistiwa.
2. Tilem sasih kapitu selalu tiba pada bulan Januari ketika matahari beredar menuju/ di utara katulistiwa .
3. Tilem sasih kasanga selalu tiba pada bulan Maret ketika matahari beredar menuju/ di katulistiwa.

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I W. Sudarma
* Sumber Bacaan: Buku Ajar Wariga Untuk STAH Dharma Nusantara Jakarta, 2004

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Penggunaan sasih candra dan sasih surya dalam perhitungan dewasa atau perhitungan kalender di Indonesia dan Bali khususnya, di mana sasih ini mempunyai perbedaan umur 10 hari dalam setahun. Sasih candra dalam 1 tahun = 354/355 hari dan sasih Surya dalam setahun = 365/366 hari. Oleh karena itu dalam waktu 3 tahun selisihnya menjadi 30 hari (sebulan) Candra, maka itu perlu diadakan penampih asasih yang disebut juga pangrepeting sasih, dimana sasih candra setiap 3 tahun sekali terjadi sasih yang sama selama 2 bulan (60 hari). Maksudnya dalam waktu 3 tahun sasih candra dan sasih surya bisa nemugelang (siklus). Apabila nampih sasih atau pangrepeting sasih tidak dilakukan maka akan terjadi selisih yang jauh antara sasih candra dengan sasih surya. Misalnya sasih candra adalah kasa dan sasih surya adalah sada. Oleh karena itu perlu sasih kasa (candra) dibuat 2 bulan (60 hari) sehingga pada saat itu. Sasih surya dapat mengejar menjadi sasih kasa dan pada saat inilah terjadi nemugelang. Masalah panampih sasih dijelaskan dalam buku Wariga Dewasa sebagai berikut:

”…. Shrawana nuju Budha Purnama, dadi sasih Asadha. Asuji nuju saniscara purnama, dadi sasih Bhadrawada, maghasira nuju redite purnama dadi sasih Posya, Magha miwah caitra nuju anggara purnama, dadi sasih phalguna. Jestha nuju redite purnama, dadi sasih waisaka (Sri Reshi Ananda Kusuma, 1979: 8).

Artinya :

”…. sasih kasa saat budha (rebo) purnama menjadi sasi sadha. Sasih katiga sat saniscara (Sabtu) purnama menjadi sasih karo. Sasih kalima saat redite (minggu) purnama menjadi sasih kanem. Saih kapitu dan kasanga saat anggara (selasa) purnama, menjadi sasih kawulu. Sasih jestha saat redite (minggu) purnama menjadi sasih kadasa.

Terdapat juga rumusan yang lain seperti diuraikan di dalam buku Pangalihan Purnama Tilem bahwa setiap tiga tahun sekali terjadi pangrepeting sasih (panampih sasih) untuk mempertemukan sasih candra dengan sasih surya dilakukan pada saat sasih Desta. Masalah pangalantaka memang sewaktu-waktu akan berubah misalnya Eka Sungsang ke kliwon menjadi Eka Sungsang ke pon, demikian juga masalah panampih/pangrepeting sasih akan dapat berubah berdasarkan rumusan yang terdapat dalam sastra agama Hindu dan disyahkan oleh Pasamuan Sulinggih dalam Mahasabha Parisadha Hindu Dharma Indonesia.

Sumber Bacaan:

Anandakusuma, Sri Reshi, Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Seperti halnya wewaran, wuku, tanggal panglong semuanya mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk) maka sasihpun mempunyai perhitungan ala ayu. Misalnya pada waktu bergerak saat wiswayana (saat berada di tengah) kemudian bergerak ke utara (uttarayana) dan kemudian bergerak ke arah selatan (daksinayana).

Maka secara umum sasih uttara yana dianggap sasih yang bersih dan daksina yana dianggap sasih kotor karena jatuh pada bulan atau sasih kanem, kapitu, kawulu adalah sasih yang baik untuk nangkluk merana atau membuat uapacara bhuta yajña.

Di samping itu pula sasih secara khusus mempunyai perhitungan ala-ayu (baik-buruk). Di dalam kitab Penuntun Indik Padewasan / Wariga ala ayuning sasih untuk upacara perkawinan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kasa = kawon; pianake kasengsaran
  2. Karo = kawon; dahat tiwas
  3. Katiga = madia; akeh maduwe pianak
  4. Kapat = becik; sugih rendah
  5. Kalima = becik; tan kirang sangu
  6. Kanem = kawon; balu
  7. Kapitu = becik; pulih keselamatan
  8. Kawulu = kawon; kapegatan sangu
  9. Kasanga = kawon pisan; tan pegat manggih duka mahabara
  10. Kadasa = becik pisan; sugih rendah suka wirya
  11. Desta = kawon; manggih wirang
  12. Sadha = kawon; kasakitan (I Wayan Tusan, 1974: 35).

Maksudnya: Perkawinan yang dilakukan pada sasih:

  1. Kasa = buruk; anak ditimpa kemelaratan
  2. Karo = buruk; amat miskin
  3. Katiga = sedang; banyak mempunyai anak
  4. Kapat = baik; kaya dan tersohor
  5. Kalima = baik; tidak kurang makanan
  6. Kanem = buruk; janda duda
  7. Kapitu = baik; mendapat keselamatan
  8. Kawulu = buruk; kekurangan makanan
  9. Kasanga = amat buruk; tidak putus-putusnya menemui kesedihan yang amat keras/panas
  10. Kadasa = amat baik; kaya tersohor
  11. Desta = buruk; sering cekcok
  12. Sadha = buruk; sering sakit-sakitan

Demikian beberapa contoh dalam upacaraperkawinan, sudah tentu dalam upacara yang lain akan mempunyai perhitungan tersendiri seperti misalnya pada sasih kanem tidak baik untuk perkawinan tetapi baik untuk upacara nangluk merana, sasih karo baik untuk pitra yajña, sasih caitra baik untuk bhuta yajña. Sasih kapat dan kadasa baik untuk upacara dewa yajña, sehingga saat purnamaning kapat dan kadasa kita melihat umat Hindu melaksanakan upacara odalan pada pura-pura besar seperti : khayangan jagat, sad khayangan, dang khayangan, khayangan tiga dan sebagainya. Masih banyak lagi padewasan memperhitungkan ala ayuning sasih.

Sumber Bacaan:

Tusan. I Wayan; Penuntun Indik Padewasan, 1974.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Sasih anglawean adalah sasih atau bulan yang amat buruk (ala dahat). Oleh karena itu dikatakan materas bhuta (berkepala bhuta). Tidak boleh membangun rumah, memulai memasuki pekarangan rumah, keburukannya tidak mempunyai keturunan, mungkin gila, kalau kawin mungkin menjadi janda atau duda dan mendapat kata-kata yang tidak baik. Apabila terjadi perkawinan kemungkinan anaknya atau keturunannya menjadi kerdil dan menjadi janda atau duda salah satu dan semua pekerjaan tidak akan berhasil. Yang dinamakan sasih (bulan) anglawean, berdasarkan pencarian pada waktu pananggal pisan (1) tilem itu hilang. Dan apabila mencari purnama menjadi panglong pisan (bulan) materas (berkepala) bhuta catus pata, sama sekali tidak boleh dipakai dewasa. Hal inilah disebutkan dalam buku wariga Dewasa sebagai berikut:

Sasih anglawean “ala dahat” apan materas bhuta. Tan wenang amangun graha, ngulihin pakarangan. Alania tan pasantana, doyan buduh, balu muang kaogan-ogan. Yan mate muang alakirabi, bedi anaknia, malih rangda salah tunggal, salwiring karya tan sida. Sane kawastaning sasih anglawean, matapakan pangalihan, kalaning ngalih tanggal 1, tilem hilang. Muang kalaning ngalih purnama dadi panglong 1, purnama hilang (Sri Reshi Anada Kusuma, 1979: 10-11).

 

Jadi sasih anglawean itu apabila terjadi pangalihan atau pergeseran pada waktu mencari tanggal apisan (1), tilem hilang maksudnya panglong 15 (tilem) menjadi pananggal pisan (1). Dan pada waktu mencari purnama menjadi panglong pisan (1), maksudnya tanggal 15 (purnama) menjadi panglong 1. jelasnya Tilem dan Purnama hilang menjadi pananggal 1 dan panglong 1. apabila kita lihat sloka nguna latri seperti diuraikan dalam modul 4 di depan, dapat dibandingkan dengan sloka yang berbunyi: “Prati padentu” artinya pananggal/panglong 15 menjadi satu (1) 1 (15/1). Oleh karena itu untuk menghindari padewasan ala (buruk) yang disebut sasih anglawean terlebih dahulu perlu lebih di dalami pemahaman tanggal – panglong dan sasih itu.

Sumber Bacaan:

Anandakusuma, Sri Reshi, Wariga Dewasa. Satya Hindu Dharma Klungkung, Bali, 1979.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag

Om Swastyastu

Pangunyan sasih terdiri dari dua kata yaitu Pangunyan dan sasih. Pangunyan berasal dari kata “unya” mendapat sengau “ng” kemudian mendapt awalan “an” (pa + ng + unya + an). Uya (ngunya) artinya berkunjung. Sasih berarti bulan. Pangunyan sasih artinya kunjungan bulan. Yang dimaksud adalah kunjungan suatu bulan (sasih) tertentu kepada bulan yang lainnya sehingga terjadi perubahan sifat bulan yang mengakibatkan perubahan musim. Misalnya sasih kanem ngunya kapitu (Kanem-kapitu) artinya bulan kanem mengambil sifat bulan katujuh (Kamus Bali Indonesia, 1978: 631).

Contoh lain sasih katiga ngunya sasih kanem artinya sasih katiga mengambil sifat sasih kanem sehingga nampak di dalam ciri dari masing-masing sasih itu, seperti sasih katiga cirinya panas dan sasih kanem cirinya turun banyak hujan. ada sasih yang demikian itu akan tampak sesaat panas yang keras dan kadang-kadang terjadi hujan yang amat deras. Pangunyan sasih berguna untuk  mengetahui perubahan-perubahan cuaca  terutama dalam pangunyan sasih yang kontras.

Adapun dasar perhitungan untuk  mengetahui pangunyan sasih adalah rah pangunyan. Untuk mendapat rah pangunyan caranya tahun Saka dibagi 12 (dua belas), sisa pembagian itulah disebut rah pangunyan.Untuk mendapatkan tahun Saka adalah tahun Masehi dikurangi 78, karena perbedaan kedua tahun ini adalah 78 tahun. Jadi misalnya pada tahun 1992, maka tahun Sakanya adalah 1992- 78 = 1914.

Keterangan:

  1. Kolom 1-12 adalah sisa dari tahun caka dibagi 12. Apabila caka itu habis dibagi 12 atau tidak bersisa, maka ini berarti bersisa 12, bukan 0 karena pada kolom itu tidak ada kolom 0.
  2. Sasih kasa, bila tahun caka dibagi 12, sisanya satu (1) berarti sasih kasa ngunya kapat (karena di bawah kolom satu (1) terdapat angka 4. Apabila sisanya 6 ini berarti sasih kasa ngunya ke sanga (9) karena di bawah kolom 6 terdapat angka 9 yang berarti sasih kasanga demikian seterusnya.
  3. Sasih kasanga, bila tahun caka dibagi 12 sisanya (1) satu berarti sasih kasanga ngunya kapat, dan apabila sisanya sebelas (11) maka ini berarti sasih kasanga ke sada (12).
  4. Pangunyan sasih akan memugelang atau kembali kepada yang pertama selama 12 tahun sekali.

Sumber bacaan:

  1. Panitia Panyusunan Kamus Bali – Indonesia, Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1978.
  2. Guweng, I Ketut, Sarining Wariga, 1975.
  3. Rawi, I Ketut Bangbang Gde, Kunci Wariga, 1967

Om Santih Santih Santih Om

Next Page »