Hari Suci Hindu


​TUMPEK LANDEP; Antara Adu Gengsi dan Ketumpulan Nurani

(Sebuah Renungan Perayaan Tumpek Landep di Bali)
Oleh: Jero Mangku Danu

Om Swastyastu
Bali sedang menikmati kemakmuran, memang. Bukti kemakmuran orang Bali itu bisa diamati dalam laku beragama mereka satu dasa warsa terakhir. Pura orang Bali kini tampak megah-megah. Upacara berskala besar dengan biaya ratusan juta dan milyaran rupiah pun begitu kerap digelar sepuluh tahun terakhir. Banyak orang Bali juga gemar matirtha yatra, bersembahyang ke berbagai pura di Bali, bahkan di luar Bali hingga Mancanegara. Ketika bersembahyang ke pura, orang Bali kini sangat modis dengan pakaian model terbaru, mahal dan tak jarang produk impor. Sampai-sampai dupa yang digunakan untuk bersembahyang pun tak lagi kelas murahan, tetapi produk impor dari India.
Kemakmuran orang Bali terlihat nyata salah satunya adalah saat perayaan hari suci Tumpek Landep. Dulu, hari Tumpek Landep dimaknai sebagai hari suci untuk mengupacarai berbagai jenis senjata tajam. Biasanya, yang diupacarai saat Tumpek Landep berupa keris pusaka dan segala perlengkapan bertani yang terbuat dari besi. Bahkan jika kita telisik lebih dalam Tumpek Landep sejatinya adalah hari dan saat dimana Manusia mesti menajamkan idhep dan manahnya melalui permenungan (dharana) dan kontemplasi (dhyana) agar mampu hidup  sehat sekala dan niskala dan hidup harmonis penuh damai.

Kini, yang diupacarai saat Tumpek Landep bukan lagi keris atau perlengkapan bertani yang terbuat dari besi, tetapi juga sepeda motor dan mobil. Maka, saat Tumpek Landep tiba, orang Bali yang memiliki kendaraan bermotor akan menjejerkan kendaraannya di depan rumah untuk diupacarai. Para pemangku pun laris manis kebagian pesanan untuk nganteb. Tak jarang seorang pemangku mulai berangkat sejak pagi lantaran saking banyaknya pesanan. 

Merayakan Tumpek Landep dengan tradisi mengupacarai kendaraan bermotor pun menjadi tampak meriah di Bali karena kepemilikan kendaraan bermotor di Bali cukup tinggi. Hampir setiap keluarga di Bali pasti memiliki sepeda motor, bahkan satu keluarga memiliki lebih dari dua sepeda motor. Yang kemampuan ekonominya baik melengkapi teras rumahnya dengan mobil. Tak tanggung-tanggung, mobil yang dimiliki tergolong merk terbaru. Cobalah diamati di jalanan-jalanan utama Bali, mobil merk apa pun dan yang paling gres ada. 

Bali memang menjadi pasar sepeda motor dan mobil potensial di Indonesia. Itu sebabnya, sejumlah produsen mobil di Indonesia sudah mulai memilih Bali sebagai tempat peluncuran produk terbaru. Sepeda motor? Jangan dibilang lagi, Bali termasuk paling doyan. Kabar yang berembus dari distributor sepeda motor di Bali, berapa unit pun sepeda motor yang didatangkan ke Bali, cenderung habis terjual. Terlebih lagi transportasi publik di Bali tidak berkembang sehingga orang Bali lebih suka beraktivitas dengan sepeda motor. 

Orang Bali juga tidak begitu sulit memiliki kendaraan bermotor. Hanya dengan memiliki uang Rp 500.000 sudah bisa membawa pulang satu unit sepeda motor terbaru, dan cuma dengan Rp 5.000.000 sudah bisa memiliki sebuah mobil terbaru. 
Lambat laun, tanpa disadari, orang Bali hidup dalam persaingan gaya hidup yang tinggi. Dalam kata sederhana, terjadi adu gengsi di antara orang Bali. Adu gengsi itu pun berimbas pada perayaan Tumpek Landep, saat sepeda-sepeda motor dan mobil-mobil itu diupacarai. 

Adu gengsi ini juga jika diamati, Orang Bali kini menjadi sangat konsumtif. Kendaraan bermotor yang sesungguhnya hanya alat untuk mencapai tujuan, tanpa disadari kini telah dijadikan tujuan. 
“Semestinya yang diutamakan kan fungsi dari alat itu, bukan adu gengsi. Prinsip hidup sederhana hanya menjadi jargon karena perilaku keseharian orang Bali justru konsumtif,”
Perilaku konsumtif ini memang dipicu banyak sebab. Tapi, contoh buruk dari pejabat menjadi salah satu faktor penting. Seolah menjadi lumrah, pejabat mesti bergaya hidup mewah: membawa mobil baru, rumah mewah, dan gaya hidup borjuis. Nurani menjadi tumpul dan empati sulit didapat. 
Tumpek Landep sejatinya bukanlah hari untuk mengupacarai segala jenis senjata dan kendaraan, tetapi sebagai momentum untuk berintrospeksi untuk mengusut-usut diri, sejauh mana memiliki ketajaman pikiran dan ketajaman nurani. Ketajaman pikiran ditunjukkan dengan kemampuan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi, ketajaman nurani ditunjukkan melalui empati dan kepedulian kepada keadaan orang lain. 

Ironisnya, justru pada perayaan Tumpek Landep, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu terasa hilang. Orang Bali kehilangan ketajaman pikiran karena semakin konsumtif yang berarti kian kehilangan daya kreativitas, sedangkan ketajaman nurani semakin menyusut karena ambisi dan gengsi terus menguasai diri.

“Yang sangat memprihatinkan, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu sulit kita dapatkan dari para pejabat atau penyelenggara pemerintahan. Kalau ketajaman pikiran dan nurani itu terjaga, semestinya pengelolaan sumber daya alam dan pengelolaan anggaran lebih besar untuk kepentingan rakyat, bukan lebih banyak untuk kepentingan pejabat, birokrasi, investor  akus dan pengusaha tamak.”

Semoga momentum Tumpek Landep kali ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk lebih kepada penajaman pikiran, budhi pekerti, hati nurani. Dengan demikian kita akan bisa hidup  sriyam, swasti, sukham dan purnam. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Dina Pangredanaan

Om Swastyastu

Rupanya perang antara Watugunung dan Betara Wishnu benar-benar telah memakan banyak korban dan menimbulkan guncangan yang luar biasa di semesta. Sang Hyang Siwa pun terusik ketenangannya dan muncullah dia di hadapan Betara Wisnu untuk menghentikan amarahnya .. “Hai anakku, janganlah hendaknya sang Watugunung dibunuh lagi, biarkanlah hidup untuk hari-hari selanjutnya supaya ini diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau  perbandingan.”

Maka menjawablah sang Betara Wisnu, ”Hyang, Watugunung ini amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. dan merekapun bersepakat tidak boleh lagi ada laki-laki yang mengawini orang yang sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. Lalu Bhatara Wisnupun mengutuk Sang Watugunung sebagai hukumannya, sabdanya “Tiap-tiap enam bulan engkau akan runtuh (jatuh)” …

Sang Watugunung menerima dan memohon pada Betara Wisnu: ”Baiklah hamba menuruti sabda tuanku, hamba mohon apabila hamba jatuh di darat hendaknya turun hujan dan bila hamba jatuh di laut supaya hari panas terik, agar hamba tidak kedinginan.” … Permohonan sang Watugunung-pun dikabulkan, rakyat sang Watugunung serta pada Dewa yang menjadi korban dalam pertempuran itu dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Siwa.

Sang Watugunung-pun mulai menyucikan diri, melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, Samadhi untuk memohon pengampunan, dan memohon kepradnyanan kehadapan Sang Hyang Widhi.

Kemudian I Watugunung menyiapkan langkah berikutnya adalah bagaimana caranya ia mencapai target itu, tentu ada strategi yang harus ia gunakan, baik yang bersifat motorik mapun sensorik.

Kemudian Sang Watugunung mensucikan diri, melaksanakan tapa brata, yoga , samadhi untuk memohon pengampunan dan  mohon kepradnyanan kehadapan Sang Hyang Widhi.

image

Dalam kehidupan kekinian kita mebutuhkan konsentrasi dan disiplin yang tinggi pada fase ini. Intinya adalah mensinergikan Kecepatan, Konsistensi, dan Ketepatan serta Kerjasama seluruh potensi phisik, phsikis, mental, emosional dan spiritual diri kita. Ini adalah makna lain dari hari Pengeredanan (Sukra Kliwon Watugunung).

Dan hari ini oleh umat dimaknai dengan mengumpulkan semua lontar dan buku-buku untuk dibersihkan, sebagai simbol pembersihan ilmu pengetahuan (kecerdasan) yang dimiliki dari angkara (etika buruk) pemiliknya agar bisa menjadikan kehidupan jadi lebih baik dalam harmoni semesta. Dan dengan keteguhan  melakukan tapa brata melalui Pengeradanan, maka esok harinya yaitu Sabtu Umanis kita dianugrahi ilmu pengetahuan oleh Sang Hyang Widhi.

Om Santih Santih Santih Om

♡Jro Mangku Danu®

Om Swastyastu
Berdasarkan sistem kalender Pawukon (kalender penanggalan Bali), hari Redite/Minggu Wage wuku Kuningan dinamakan sebagai Hari Ulihan, yang merupakan satu rangkaian dari hari Suci Galungan.

Tapi, tidak banyak yang merayakan hari Ulihan ini. Lebih banyak lagi yang tak tahu kandungan filosofi perayaan di hari pertama pada wuku Kuningan

Berdasarkan Kamus Bahasa Bali, kata ‘ulihan’ dapat berarti: ‘kembali’. Dan secara tradisi hari Ulihan memanh diyakini sebagai saat kembalinya para Dewata ke kahyangan.

Sumber lain yakni: Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disebutkan; hari ‘Ulihan’ sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Hyang, Pitara pada saat kembali ke kahyangan. Karenanya, pada hari Ulihan disuguhkan oleh-oleh berupa rempah-rempah, penganan, berbagai lauk-pauk, beras dan sejenisnya. Pada saat hari Ulihan, umat Hindu dapat melaksanakan upacara kecil berupa menghaturkan banten canang raka, soda di merajan atau di kemulan, mohon keselamatan dan panjang umur.

Secara Rohani  hari ‘Ulihan’  adalah:  sebagai saat untuk mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah mendahului kita. Generasi saat ini tentu saja punya kewajiban untuk melanjutkan langkah-langkah perjuangan para leluhur itu, terutama perjuangan yang baik. Pada saat yang sama juga merenungi segala kesalahan sehingga tidak lagi diulangi oleh generasi kini. Dan yang terpenting adalah bahwa umat manusia hendaknya selalu ingat kepada roh leluhur yang telah membuat manusia ini berkembang hingga saat ini.

Semoga pemaknaan ini bermanfaat bagi tumbuhnya Sraddha & Bhakti serta Kecintaan kita pada agama Hindu. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu (I W. Sudarma)

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sanskerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuno. Kedua kata itu artinya “menang”.

image

 Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani. Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah  hidup sejahtera lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtera lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtera Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtera itu tidak mudah, karena itu harus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut.

Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kemenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Nawa Ratri dilakukan 5 kali dalam setahun. Nawa Ratri terdiri dari Wasanta Nawa Ratri, Ashadha Nawa Ratri, Sharada Nawa Ratri, dan Poushya/Magha Nawa Ratri.

Diantara kelima Nawa Ratri yang paling penting adalah Sharada Nawa Ratri dan Wasanta Nawa Ratri.

* Wasanta Nawa Ratri – Basanta Nawa Ratri, dikenal juga sebagai Wasant Nawaratras, jatuh pada bulan Mareh-April. Dikenal juga sebagai Chaitra Nava Ratra atau Rama Nawa Ratri.

* Gupta Nawa Ratri – Gupta Nawa Ratri, disebut juga Ashadha atau Gayatri atau Shakambhari Nawa Ratri, jatuh pada bulan Jun-Juli.

* Sharana Nawa Ratri – merupakan Naw Ratri yan paling penting, disebut juga sebagai Maha Nawa Ratri atau Sharada Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan September-Oktober.

Poushya Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Desember-Januari. Magha Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Jan-Pebruari

Adapun Shakti yang dipuja waktu Nawa Ratri adalah:

Hari 1 – OM SRI SWARNA KAVACHALAKRUTA DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 2 – OM SRI BALA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 3 – OM SRI ANNAPURNA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 4 – OM SRI GAYATRI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 5 – OM SRI LALITHA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 6 – OM SRI SARASWATI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 7 – OM SRI MAHA LAKSHMI DEVI YA NAMAH (Dewi Laksmi)

Hari 8 – OM SRI DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 9 – OM SRI MAHISHASURA MARDHINI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 10 – OM SRI RAJA RAJESWARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati) *Sumber mantram di atas: Kitab Stotramala

Demikian penjelasan singkat tentang Nawa Ratri, sebagai bahan renungan kita semua, agar dapat memperjuangkan dharmaning idhup sebagai manusia agar tidak kehilangan sejatining kamanusan, dan pada akhirnya dapat merubah diri dari Manava Danava (Manusia dengan watak Keraksasaan) menjadi Manava Madhava (Manusia dengan sifat Kedewataan)

Manggalamastu
Bali, Galungan-19 Februari 1997

Om Swastyastu

image

Wujud cinta lingkungan

“Nini Nini, buin selae dina galungan. Mabuah apang nged… nged… nged.” Artinya: “Nenek nenek, 25 hari lagi Galungan. Berbuahlah agar lebat… lebat… lebat…”.

Begitu ucapan para petani Hindu sembari mengetokkan golok di tangan kanan pada pepohonan saat hari Tumpek Wariga. Hari itu dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanaman hingga tumbuh baik dan menghasilkan buah atau bunga lebat.

Dalam penyebutannya; Tumpek wariga, juga disebut tumpek bubuh, tumpek uduh, tumpek pengatag, dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, yakni setiap Dina Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wariga.

Sarana Upakara:
Sebagai ucapan syukur, umat Hindu mempersembahkan banten ajuman/soda dan bubur sumsum (terbuat dari tepung beras, ditaburi kelapa dan gula merah cair). Pada pohon juga diisi ceniga. Dan dibawahnya segehan cacahan

image

Kajian Makna:
Tumpek wariga merupakan upacara berkaitan dengan lingkungan, terutama melestarikan pohon baik yang menghasilkan daun, bunga dan buah.

Sebutan “NINI”, dalam tumpek wariga ditujukan pada Tuhan dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Sangkara: penguasa segala tumbuh tumbuhan. 

Alam semesta memiliki kekuatan tersembunyi, yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan benar, seperti aset pepohonan tropis, tanaman-tanaman yang banyak di sekitar kita. kalau kita bisa memanfaatkan dengan baik, akan membuat sejahtera dan berpengaruh positif dalam kehidupan kita, tapi kalau kita pergunakan dengan tidak baik akan merugikan dan berpengaruh negatif bagi kehidupan, tanaman yang terpelihara dengan baik, menjaga keberadaan mereka serta memeliharanya dengan benar, akan berdampak positif bagi manusia secara sekala dan niskala, terutama bagi alam lingkungan itu sendiri.

Contoh kecilnya lainnya, tanaman-tanaman di sekitar kita, banyak memprediksi bahkan dari kalangan ilmuwan yang menekuni dunia ilmiah, meyakini akan terjadi revolusi pengobatan kedokteran modern (medis) ke pengobatan herbal menuju pengobatan pikiran dan tubuh. Hal-hal seperti ini ditandai dengan adanya ketidakseimbangan kimiawi di dalam otak terkait langsung dengan dengan penyakit psikis yang diderita manusia.

image

Kalau kita cermati alam sungguh mengagumkan, betapa tidak, alam ini begitu sudah sempurna diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, menyediakan beraneka macam kebutuhan manusia, tinggal kita saja bisa atau tidaknya menggali sumber-sumber yang ada di muka ini untuk sebuah kebaikan yang bermanfaat. Seperti halnya saat manusia itu sakit, Segala macam bentuk tanaman bisa dijadikan sumber obat herbal berpartisipasi sebagai penyedia terbesar tumbuhan herbal berkhasiat sebagai obat.

Manusia memang tergantung dari alam raya, sebagai bagian dari alam semesta ini, maka umat Hindu Bali sangat memuja dan menghormati alam semesta beserta isinya. Maka dari itu dalam keyakinan beragama dan berketuhanan umat Hindu, memperingati Hari Raya Tumpek Uduh (Tumpek Wariga) sebagai salah satu penghormatan terhadap alam raya, yang telah menyediakan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Esensi terpenting dan makna dari perayaan Tumpek Wariga adalah rasa terima kasih yang sangat dalam terhadap kekayaan alam yang melimpah ruah. Semua puja dan puji dilantunkan para pendeta, pemangku atau pemimpin upacara dan umat penuh dengan intisari terima kasih terhadap alam.

image

Momentum ini sangat baik untuk manusia begitu pentingnya tanaman dan alam dalam arti yang sangat luas, sehingga menjadi harmoni dalam kehidupan ini. Dalam Hindu hal-hal yang berhubungan dengan manusia selalu diadakan upacara yadnya, bahkan barang mati seperti benda-benda yang terbuat dari logam seperti senjata, keris, perabotan dari besi, sepeda motor, mobil juga diupacarai agar diberi berkah dan berguna bagi manusia.

Selain mantra umum di atas, kita juga dapat mengucapkan mantram berikut saat menghaturkan upakara banten saat Dina Tumpek Wariga:

1. Stava untuk Dewa Sangkara:
Om Sankarartha pura devi, parvatya tvam himalaye, ropita sevita siddhyai, sthavanam tvam namamyaham namah svaha. (Om Hyang  Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa Kemakmuran: Sangkara yang bertahta bersama Dewi Uma, Engkau menjaga kesuburan tumbuhan seperti sucinya gunung himalaya, berkahMu senantiasa membuat teduh dan memberikan kesehatan tiap yang menikmati, Hamba bersujud bhakti padaMu wahai penguasa Tumbuhan (Sthavana), sudilah menerima persembahan hamba. (Sumber: Kitab Veda Puja Vidhi)

2. Mantram saat ngayabang Banten pada tiap tumbuhan:
Om Vam Sangkara Deva sarva sthavanam amrtha dipataye namah svaha (Om Hyang Sangkara dengan menyebut aksara suciMu “Wam”, semoga tumbuhan ini melimpahkan amertha, atas perkenaanMu. (Sumber: Lontar Taru Pramana)

3. Mantra Ngaturang Segehan:
Om Atma Tatvatma Suddhamam Svaha, Svasti Svasti Sarva Bhuta bhyo namah svaha (Om Hyang Widhi, semoga hamba dengan esensi mutlak senantiasa suci, semua elemen alam mendapatkan keselamatan. (Sumber: Lontar Sunarigama)

Demikian dapat saya utarakan secara singkat tentang hakikat Hari Tumpek Wariga. Semoga bermanfaat bagi kita dan alam lingkungan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

“Sukra Wage wuku Wayang nga dina seselat kalaning patemon wuku wayang mwang sinta nga, maka pemasah ala mwang ayuning sariranta” (Hari Jumat Wage Wuku Wayang disebut hari pembatas tatkala bertemunya wuku wayang dengan wuku sinta, sebagai tanda pemisah antara baik dan buruk dalam diri)…..demikian petikan Lontar Sudamala lp.39 menjelaskan tu aji.

Hari ini adalah pertemuan wuku Wayang dengan Sinta, karena itu dianggap hari yang leteh/campur. Tidak baik untuk bebersih diri, berminyak wangi, bersisir. Yang patut dilaksanakan pada hari ini adalah membuat paselag (tanda dengan gambar silang) di hulu hati dengan kapur sirih, serta memasang penghalang (seselat) dengan daun pandan yang berduri di bawah tempat tidur. Keesokan harinya seselat pandan tersebut dikumpulkan ditempatkan pada sebuah ayakan disertai segehan, api takep dan dibuang di luar rumah.

image

Pandan berduri sarana upakara seselat

Harapannya agar kita semua selalu bisa dalam keadaan seimbang secara sekala dan niskala….dan pada hari sabtunya dilanjutkan dengan ngesti Bhatara Iswara agar dianugerahkan sahananing kawiswara.

Om Santih Santih Santih Om

~ Jro Mangku Danu
* sumber: Lontar Sudamala

Write & Posted by: IW Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Saniscara Kliwon wuku Wayang atau yang sering disebut dengan Tumpek Wayang adalah salah satu hari raya suci umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon.

image

Dalang Cilik dengan Wayangnya

Pada hari ini (Tumpek Wayang) adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macarn benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.

Bebantennya yaitu:  suci, peras, ajengan, sedah woh, canang raka, pesucian dengan perlengkapannya lainnya yang serba suci.

Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar selamat dan beruntung dalam melakukan pertunjukan-pertunjukan, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton.

Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.

image

Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan.

Dimana tumpek terdiri dari dua suku kata tum dan pek, tum artinya kesucianya dan pek artinya putus atau terakhir. Jadi tumpek adalah hari suci yang jatuh pada penghujung akhir Saptawara dan pancawara seperti Saniscara Kliwon Wayang disebutlah Tumpek wayang.

Tumpek wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkaramurkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya.

Orang yang menjadi mediator inilah disebut seorang Dalang atau Samirana, Hyang Iswara juga memberikan kekuatan seorang Dalang sehingga mampu membangkitkan cita rasa seni dan daya tarik yang mampu memberikan sugesti kepada orang lain yaitu para penontonnya.

image

Wayang Sapuh Leger

Kekuatan inilah yang disebut dengan taksu maupun raganya, karena didalam pementasan wayang kulit, seorang Dalang mampu menyampaikan cerita yang penuh dengan filsafat humor, kritik, saran, serta realita kehidupan se hari-hari sehingga para penonton membius alam pikirannya sehingga muncullah kekuatan sugesti dari diri masing-masing. Oleh karena itu kehidupan umat manusia di dunia sesungguhnya tidak hanya memelihara pisik semata, namun perlu ke seimbangan antara pisik dan mental spiritual yang mana banyak tercermin di dalam pelaksanaan atau perayaan Tumpek Wayang bagi umat Hindhu yang dirayakan setiap enam bulan (dua ratus sepuluh hari). Makna dari pada Tumpek Wayang, sebagaimana kita ketahui kehidupan di dunia selalu diliputi oleh dua kekuatan yang disebut Rwa Bhineda, yang sudah barang tentu ada pada sisi ke hidupan manusia . Dengan bercermin dari tatwa, filsafat agama mampu membawa kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat.

image

Karena dari ajaran atau filsafat agama mampu akan memberikan pencerahan kepada pikiran yang nantinya mampu pula menciptakan moralitas seseorang menjadi lebih baik dari segi aktifitas agama se hari hari kita mendapatkan air cuci ke hidupan melalui tirta pengelukatan yang berfungsi untuk meruak atau melebur dosa di dalam tubuh manusia, maka dari itu seorang Dalanglah yang mendapat anugerah untuk melukat diri manusia baik alam pikirannya maupun raganya.

Di Bali ada cerita menarik tentang bayi yang lahir pada wuku wayang terutama yang lahir pada saniscara kliwon ini.

Menurut kepercayaan Orang Bali (Hindu) mempercayai bahwa orang yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang ( sumber: Koleksi Lontar Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

image

Anak dilukat karena kelahiran Tumpek Wayang

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

image

Melukat dgn Tirta Sudamala

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

image

Pelukatan Tirta Sapuh Leger

Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

image

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan pengelukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.
image

Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif. Manggalamastu

Rahajeng Rahinan Tumpek Wayang, semoga kita semua memperoleh kehidupan yang  Satyam, Sivam, Sundaram.

Om Santih Santih Santih Om

♡ Jro Mangku Danu
* Dari Berbagai Sumber

Next Page »