Hari Suci Hindu


Om Swastyastu
Berdasarkan sistem kalender Pawukon (kalender penanggalan Bali), hari Redite/Minggu Wage wuku Kuningan dinamakan sebagai Hari Ulihan, yang merupakan satu rangkaian dari hari Suci Galungan.

Tapi, tidak banyak yang merayakan hari Ulihan ini. Lebih banyak lagi yang tak tahu kandungan filosofi perayaan di hari pertama pada wuku Kuningan

Berdasarkan Kamus Bahasa Bali, kata ‘ulihan’ dapat berarti: ‘kembali’. Dan secara tradisi hari Ulihan memanh diyakini sebagai saat kembalinya para Dewata ke kahyangan.

Sumber lain yakni: Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disebutkan; hari ‘Ulihan’ sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Hyang, Pitara pada saat kembali ke kahyangan. Karenanya, pada hari Ulihan disuguhkan oleh-oleh berupa rempah-rempah, penganan, berbagai lauk-pauk, beras dan sejenisnya. Pada saat hari Ulihan, umat Hindu dapat melaksanakan upacara kecil berupa menghaturkan banten canang raka, soda di merajan atau di kemulan, mohon keselamatan dan panjang umur.

Secara Rohani  hari ‘Ulihan’  adalah:  sebagai saat untuk mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah mendahului kita. Generasi saat ini tentu saja punya kewajiban untuk melanjutkan langkah-langkah perjuangan para leluhur itu, terutama perjuangan yang baik. Pada saat yang sama juga merenungi segala kesalahan sehingga tidak lagi diulangi oleh generasi kini. Dan yang terpenting adalah bahwa umat manusia hendaknya selalu ingat kepada roh leluhur yang telah membuat manusia ini berkembang hingga saat ini.

Semoga pemaknaan ini bermanfaat bagi tumbuhnya Sraddha & Bhakti serta Kecintaan kita pada agama Hindu. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu (I W. Sudarma)

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sanskerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuno. Kedua kata itu artinya “menang”.

image

 Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani. Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah  hidup sejahtera lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtera lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtera Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtera itu tidak mudah, karena itu harus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut.

Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kemenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Nawa Ratri dilakukan 5 kali dalam setahun. Nawa Ratri terdiri dari Wasanta Nawa Ratri, Ashadha Nawa Ratri, Sharada Nawa Ratri, dan Poushya/Magha Nawa Ratri.

Diantara kelima Nawa Ratri yang paling penting adalah Sharada Nawa Ratri dan Wasanta Nawa Ratri.

* Wasanta Nawa Ratri – Basanta Nawa Ratri, dikenal juga sebagai Wasant Nawaratras, jatuh pada bulan Mareh-April. Dikenal juga sebagai Chaitra Nava Ratra atau Rama Nawa Ratri.

* Gupta Nawa Ratri – Gupta Nawa Ratri, disebut juga Ashadha atau Gayatri atau Shakambhari Nawa Ratri, jatuh pada bulan Jun-Juli.

* Sharana Nawa Ratri – merupakan Naw Ratri yan paling penting, disebut juga sebagai Maha Nawa Ratri atau Sharada Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan September-Oktober.

Poushya Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Desember-Januari. Magha Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Jan-Pebruari

Adapun Shakti yang dipuja waktu Nawa Ratri adalah:

Hari 1 – OM SRI SWARNA KAVACHALAKRUTA DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 2 – OM SRI BALA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 3 – OM SRI ANNAPURNA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 4 – OM SRI GAYATRI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 5 – OM SRI LALITHA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 6 – OM SRI SARASWATI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 7 – OM SRI MAHA LAKSHMI DEVI YA NAMAH (Dewi Laksmi)

Hari 8 – OM SRI DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 9 – OM SRI MAHISHASURA MARDHINI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 10 – OM SRI RAJA RAJESWARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati) *Sumber mantram di atas: Kitab Stotramala

Demikian penjelasan singkat tentang Nawa Ratri, sebagai bahan renungan kita semua, agar dapat memperjuangkan dharmaning idhup sebagai manusia agar tidak kehilangan sejatining kamanusan, dan pada akhirnya dapat merubah diri dari Manava Danava (Manusia dengan watak Keraksasaan) menjadi Manava Madhava (Manusia dengan sifat Kedewataan)

Manggalamastu
Bali, Galungan-19 Februari 1997

Om Swastyastu

image

Wujud cinta lingkungan

“Nini Nini, buin selae dina galungan. Mabuah apang nged… nged… nged.” Artinya: “Nenek nenek, 25 hari lagi Galungan. Berbuahlah agar lebat… lebat… lebat…”.

Begitu ucapan para petani Hindu sembari mengetokkan golok di tangan kanan pada pepohonan saat hari Tumpek Wariga. Hari itu dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanaman hingga tumbuh baik dan menghasilkan buah atau bunga lebat.

Dalam penyebutannya; Tumpek wariga, juga disebut tumpek bubuh, tumpek uduh, tumpek pengatag, dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, yakni setiap Dina Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wariga.

Sarana Upakara:
Sebagai ucapan syukur, umat Hindu mempersembahkan banten ajuman/soda dan bubur sumsum (terbuat dari tepung beras, ditaburi kelapa dan gula merah cair). Pada pohon juga diisi ceniga. Dan dibawahnya segehan cacahan

image

Kajian Makna:
Tumpek wariga merupakan upacara berkaitan dengan lingkungan, terutama melestarikan pohon baik yang menghasilkan daun, bunga dan buah.

Sebutan “NINI”, dalam tumpek wariga ditujukan pada Tuhan dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Sangkara: penguasa segala tumbuh tumbuhan. 

Alam semesta memiliki kekuatan tersembunyi, yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan benar, seperti aset pepohonan tropis, tanaman-tanaman yang banyak di sekitar kita. kalau kita bisa memanfaatkan dengan baik, akan membuat sejahtera dan berpengaruh positif dalam kehidupan kita, tapi kalau kita pergunakan dengan tidak baik akan merugikan dan berpengaruh negatif bagi kehidupan, tanaman yang terpelihara dengan baik, menjaga keberadaan mereka serta memeliharanya dengan benar, akan berdampak positif bagi manusia secara sekala dan niskala, terutama bagi alam lingkungan itu sendiri.

Contoh kecilnya lainnya, tanaman-tanaman di sekitar kita, banyak memprediksi bahkan dari kalangan ilmuwan yang menekuni dunia ilmiah, meyakini akan terjadi revolusi pengobatan kedokteran modern (medis) ke pengobatan herbal menuju pengobatan pikiran dan tubuh. Hal-hal seperti ini ditandai dengan adanya ketidakseimbangan kimiawi di dalam otak terkait langsung dengan dengan penyakit psikis yang diderita manusia.

image

Kalau kita cermati alam sungguh mengagumkan, betapa tidak, alam ini begitu sudah sempurna diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, menyediakan beraneka macam kebutuhan manusia, tinggal kita saja bisa atau tidaknya menggali sumber-sumber yang ada di muka ini untuk sebuah kebaikan yang bermanfaat. Seperti halnya saat manusia itu sakit, Segala macam bentuk tanaman bisa dijadikan sumber obat herbal berpartisipasi sebagai penyedia terbesar tumbuhan herbal berkhasiat sebagai obat.

Manusia memang tergantung dari alam raya, sebagai bagian dari alam semesta ini, maka umat Hindu Bali sangat memuja dan menghormati alam semesta beserta isinya. Maka dari itu dalam keyakinan beragama dan berketuhanan umat Hindu, memperingati Hari Raya Tumpek Uduh (Tumpek Wariga) sebagai salah satu penghormatan terhadap alam raya, yang telah menyediakan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Esensi terpenting dan makna dari perayaan Tumpek Wariga adalah rasa terima kasih yang sangat dalam terhadap kekayaan alam yang melimpah ruah. Semua puja dan puji dilantunkan para pendeta, pemangku atau pemimpin upacara dan umat penuh dengan intisari terima kasih terhadap alam.

image

Momentum ini sangat baik untuk manusia begitu pentingnya tanaman dan alam dalam arti yang sangat luas, sehingga menjadi harmoni dalam kehidupan ini. Dalam Hindu hal-hal yang berhubungan dengan manusia selalu diadakan upacara yadnya, bahkan barang mati seperti benda-benda yang terbuat dari logam seperti senjata, keris, perabotan dari besi, sepeda motor, mobil juga diupacarai agar diberi berkah dan berguna bagi manusia.

Selain mantra umum di atas, kita juga dapat mengucapkan mantram berikut saat menghaturkan upakara banten saat Dina Tumpek Wariga:

1. Stava untuk Dewa Sangkara:
Om Sankarartha pura devi, parvatya tvam himalaye, ropita sevita siddhyai, sthavanam tvam namamyaham namah svaha. (Om Hyang  Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa Kemakmuran: Sangkara yang bertahta bersama Dewi Uma, Engkau menjaga kesuburan tumbuhan seperti sucinya gunung himalaya, berkahMu senantiasa membuat teduh dan memberikan kesehatan tiap yang menikmati, Hamba bersujud bhakti padaMu wahai penguasa Tumbuhan (Sthavana), sudilah menerima persembahan hamba. (Sumber: Kitab Veda Puja Vidhi)

2. Mantram saat ngayabang Banten pada tiap tumbuhan:
Om Vam Sangkara Deva sarva sthavanam amrtha dipataye namah svaha (Om Hyang Sangkara dengan menyebut aksara suciMu “Wam”, semoga tumbuhan ini melimpahkan amertha, atas perkenaanMu. (Sumber: Lontar Taru Pramana)

3. Mantra Ngaturang Segehan:
Om Atma Tatvatma Suddhamam Svaha, Svasti Svasti Sarva Bhuta bhyo namah svaha (Om Hyang Widhi, semoga hamba dengan esensi mutlak senantiasa suci, semua elemen alam mendapatkan keselamatan. (Sumber: Lontar Sunarigama)

Demikian dapat saya utarakan secara singkat tentang hakikat Hari Tumpek Wariga. Semoga bermanfaat bagi kita dan alam lingkungan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

“Sukra Wage wuku Wayang nga dina seselat kalaning patemon wuku wayang mwang sinta nga, maka pemasah ala mwang ayuning sariranta” (Hari Jumat Wage Wuku Wayang disebut hari pembatas tatkala bertemunya wuku wayang dengan wuku sinta, sebagai tanda pemisah antara baik dan buruk dalam diri)…..demikian petikan Lontar Sudamala lp.39 menjelaskan tu aji.

Hari ini adalah pertemuan wuku Wayang dengan Sinta, karena itu dianggap hari yang leteh/campur. Tidak baik untuk bebersih diri, berminyak wangi, bersisir. Yang patut dilaksanakan pada hari ini adalah membuat paselag (tanda dengan gambar silang) di hulu hati dengan kapur sirih, serta memasang penghalang (seselat) dengan daun pandan yang berduri di bawah tempat tidur. Keesokan harinya seselat pandan tersebut dikumpulkan ditempatkan pada sebuah ayakan disertai segehan, api takep dan dibuang di luar rumah.

image

Pandan berduri sarana upakara seselat

Harapannya agar kita semua selalu bisa dalam keadaan seimbang secara sekala dan niskala….dan pada hari sabtunya dilanjutkan dengan ngesti Bhatara Iswara agar dianugerahkan sahananing kawiswara.

Om Santih Santih Santih Om

~ Jro Mangku Danu
* sumber: Lontar Sudamala

Write & Posted by: IW Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Saniscara Kliwon wuku Wayang atau yang sering disebut dengan Tumpek Wayang adalah salah satu hari raya suci umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon.

image

Dalang Cilik dengan Wayangnya

Pada hari ini (Tumpek Wayang) adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macarn benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.

Bebantennya yaitu:  suci, peras, ajengan, sedah woh, canang raka, pesucian dengan perlengkapannya lainnya yang serba suci.

Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar selamat dan beruntung dalam melakukan pertunjukan-pertunjukan, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton.

Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.

image

Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan.

Dimana tumpek terdiri dari dua suku kata tum dan pek, tum artinya kesucianya dan pek artinya putus atau terakhir. Jadi tumpek adalah hari suci yang jatuh pada penghujung akhir Saptawara dan pancawara seperti Saniscara Kliwon Wayang disebutlah Tumpek wayang.

Tumpek wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkaramurkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya.

Orang yang menjadi mediator inilah disebut seorang Dalang atau Samirana, Hyang Iswara juga memberikan kekuatan seorang Dalang sehingga mampu membangkitkan cita rasa seni dan daya tarik yang mampu memberikan sugesti kepada orang lain yaitu para penontonnya.

image

Wayang Sapuh Leger

Kekuatan inilah yang disebut dengan taksu maupun raganya, karena didalam pementasan wayang kulit, seorang Dalang mampu menyampaikan cerita yang penuh dengan filsafat humor, kritik, saran, serta realita kehidupan se hari-hari sehingga para penonton membius alam pikirannya sehingga muncullah kekuatan sugesti dari diri masing-masing. Oleh karena itu kehidupan umat manusia di dunia sesungguhnya tidak hanya memelihara pisik semata, namun perlu ke seimbangan antara pisik dan mental spiritual yang mana banyak tercermin di dalam pelaksanaan atau perayaan Tumpek Wayang bagi umat Hindhu yang dirayakan setiap enam bulan (dua ratus sepuluh hari). Makna dari pada Tumpek Wayang, sebagaimana kita ketahui kehidupan di dunia selalu diliputi oleh dua kekuatan yang disebut Rwa Bhineda, yang sudah barang tentu ada pada sisi ke hidupan manusia . Dengan bercermin dari tatwa, filsafat agama mampu membawa kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat.

image

Karena dari ajaran atau filsafat agama mampu akan memberikan pencerahan kepada pikiran yang nantinya mampu pula menciptakan moralitas seseorang menjadi lebih baik dari segi aktifitas agama se hari hari kita mendapatkan air cuci ke hidupan melalui tirta pengelukatan yang berfungsi untuk meruak atau melebur dosa di dalam tubuh manusia, maka dari itu seorang Dalanglah yang mendapat anugerah untuk melukat diri manusia baik alam pikirannya maupun raganya.

Di Bali ada cerita menarik tentang bayi yang lahir pada wuku wayang terutama yang lahir pada saniscara kliwon ini.

Menurut kepercayaan Orang Bali (Hindu) mempercayai bahwa orang yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang ( sumber: Koleksi Lontar Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

image

Anak dilukat karena kelahiran Tumpek Wayang

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara spasial sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut anggapan orang Bali adalah angker dan berbahaya, karena hari itu dikuasai oleh butha dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

image

Melukat dgn Tirta Sudamala

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religius, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistik, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. Sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furikasi) bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku Wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

image

Pelukatan Tirta Sapuh Leger

Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada Tumpek Wayang, sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

image

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang dinamakan pengelukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.
image

Kata ”kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya (sendiri) dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali mengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan. Amanat yang terkandung dalamnya adalah bersifat korektif berupa peringatan kepada umat manusia untuk menghargai waktu (kala), dan mewaspadai pertemuan ”transisi” dua kutub, akibatnya membawa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif apabila dua komunitas terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna, komunikasi akan berjalan baik. Apabila sebaliknya, akan terjadi miskomunikasi yang bisa berdampak negatif. Manggalamastu

Rahajeng Rahinan Tumpek Wayang, semoga kita semua memperoleh kehidupan yang  Satyam, Sivam, Sundaram.

Om Santih Santih Santih Om

♡ Jro Mangku Danu
* Dari Berbagai Sumber

Om Swastyastu
Salah satu Tumpek dari 6 tumpek yang ada adalah Tumpek Uye (sabtu kliwon uye) atau lebih dikenal dengan tumpek kandang. Kata tumpek merupakan bahasa Sunda Kuno yang artinya: Keserasian, Kesehatan, permohonan khusus untuk sesuatu hal…

Tumpek Uye; adalah hari suci untuk memuliakan Dewa Siwa dalam prabhawaNya sebagai Pasu Bhuanaswari (Rare Angon); yang menjadi pengembala segala jenis Hewan Peliharaan, termasuk sifat hewani diri kita.

Pada hari ini, umat memujaNya dengan menghaturkan berbagai jenis ketupat: berbagai ketupat burung, ketupat hewan berkaki empat. Dan dipelinggih menghaturkan banten ajuman dan wewangian. Dengan maksud agar semua hewan peliharaan terbebas dari penyakit (sasab merana), dan diri kita terhindar dari sifat-sifat hewani.

Mantram pokok yang digunakan adalah: mantram Gayatri untuk Bhuanaswari;
Om Bhuaneswara ya widmahi, Wiswadewa ya dimahi, tanno Pasu praccodayat.

Seusai sembahyang semua hewan diperciki tirtha. Lalu ditutup dengan Santih Puja.

* Dan sebagai wujud kepedulian kita terhadap harmonisnya alam (bhuta hita), pada hari ini akan menjadi sangat mulai kalau kita bisa melepaskan/membebaskan hewan ke habitat aslinya; melepaskan ikan ke sungai, danau, setu, laut. Melepaskan burung….ke alam bebas, dan sebagainya.
* Dan Kalaupun belum busa melepaskan hewan ke alam bebas, kalau dirumah punya peliharaan-usahakan hari ini untuk memanjakannya sejenak dengan penuh welas asih-bahwasanya ia telah berkontribusi pada hidup kita; burung yang telah memberikan penghiburan lewat kemerduan kicaunya, anjing yang telah membuat kita aman, ikan di kolam yang menjadi obat saat suntuk…dan sebagainya.

Happy Animal Day
Rahajeng Rahinan Tumpek Uye/Kandang

Om Santih Santih SantihOm
♡ Jro Mangku Danu

Serve with Love by: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)**

Om Swastyastu

A. Pendahuluan

 “Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Śivarātri  . Demikian keutamaan Brata Śivarātri  , hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Śivarātri   adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Śiva Purana, Koti Rudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Śivarātri  kalpa menyatakan keutamaan Brata Śivarātri   seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Śiva sebagai berikut :

“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci (patìrthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Śivarātri   ini, semua Pataka itu lenyap”.

“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Śivarātri   yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Śivarātri) yang Aku sabdakan ini”  ( Śivarātri kalpa, 37, 7-8).

Sejarah lahirnya hari raya Śivarātri  dijelaskan melalui sumber-sumber sastra, baik yang bersumber kepada Veda Smrti pada bagian Upaveda (Itihasa dan Purana), juga sumber lokal (Nusantara), sumber Eropa dan Arab Kuno. Dari sumber-sumber itu maka konstruksi (bentuk) dan nilai Śivarātri  menurut Veda jelas tergambar, yaitu merupakan vrata utama dan sempurna walaupun perwujudan pelaksanaannya tidak memerlukan sarana yang beraneka ragam dan sederhana. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.

B. Sumber Sastra:

B.1 Itihasa

Dalam Itihasa, Śivarātri  terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Śivarātri  oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Śivarātri . Rsi Astavakra bertanya: “Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.

“Hari telah menjelang fajar, aku kembali pulang ke rumah dan menjual kijang tersebut, lalu membeli makanan untuk keluargaku. Ketika akan menyantap makanan untuk mengakhiri puasaku, seorang asing datang meminta makanan. Aku melayaninya terlebih dahulu, kemudian baru aku mengambil makananku.

“Pada saat kematianku, aku melihat para pesuruh deva Śiva, mereka menjemputku untuk dibawa kepada Śiva. Aku baru sadar bahwa aku secara tidak sengaja telah melakukan pemujaan suci pada Śiva, pada hari Śivarātri . Mereka memberitahuku bahwa ada linggam di bawah pohon. Daun yang kujatuhkan tepat jatuh di atas linggam itu. Air mataku pada saat menangisi keluargaku jatuh diatas linggam dan membersihkannya. Dan aku telah berpuasa sepanjang hari dan malam. Aku telah memuja Yang Kuasa tanpa sadar. Aku tinggal bersama dengan-Nya dan menikmati kebahagiaann Ilahi selamanya. Aku kini terlahir sebagai Citrabhanu.

B.2 Purana

Śivarātri  juga dimuat dalam purana-purana, seperti berikut:

1. Śiva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para ṛṣi, menguraikan pentingnya upacara Śivarātri. Seseorang bernama Rurudruha sangat kejam, namun setelah melaksanakan vrata Śivarātri  akhirnya menjadi sadar akan kekejaman dan kedangkalan pikirannya. Dalam Śiva Purana juga disebutkan bahwa bagi mereka yang berpuasa siang dan malam pada hari Maha Śivarātri  ini dan memuja Śiva dengan daun bilva, akan mencapai kedekatan dengan Śiva. Mereka yang melakukan vrata ini selama 12 tahun maka dinyatakan bahwa mereka akan menjadi seorang Gana yaitu pengawal Śiva.

2. Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda dari Skanda Purana antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut “kebenaran” Dalam purana ini diuraikan tentang asal mula upacara Śivarātri  tersebut. Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

3. Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Śivarātri , diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Śiva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Śivarātri . Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

4. Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa Śivarātri  adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Śivarātri  yang dilakukannya berhasil membawanya ke Śiva Loka.

B.3 Sumber Lokal

Sumber Jawa Kuno adalah kakawin Śivarātri kalpa (di masyarakat lebih dikenal kakawin Lubdhaka), karya mahakawi Mpu Tanakung. Karya ini ternyata bersumber dari Padma Purana. Uraian tentang Śivarātri  juga terdapat dalam lontar Aji-brata serta sejumlah karya sastra kidung dan geguritan Lubdhaka. Mpu Tanakung mengarang kakawin Śivarātri kalpa pada jaman Majapahit akhir (1447 Masehi).

B.4  Sumber Eropa

Dalam sumber-sumber Eropa ada diuraikan tentang apa yang disebut vrata Zuiverasiri (Śivarātri ). Vrata ini dilakukan pada bulan Pebruari, dikaitkan dengan kisah seorang pemburu bernama Beri yang karena kemalaman di hutan lalu naik ke atas pohon Cuola (Bilva). Semalaman ia memetik-metik daun pohon itu yang tanpa disadarinya telah dilemparkannya kepada Zuivelingga (Śivalingga) yang berada di bawah pohon itu. Akhirnya si pemburu mendapat anugerah dari Ixora (Isvara).

B. 5  Sumber Arab Kuno

Selain sumber Eropa juga diketemukan uraian tentang pemujaan Śiva Mahadeva di dalam kitab Sayar-ul Okul, sebuah kitab yang memuat ontologi puisi Arab Kuno; susunan Abu Amir Asmai, orang yang dihormati sebagai Kalidasanya Arab. Kitab ini memuat sebuah syair karya Umar bin Hassam, seorang penyair besar yang karya-karyanya juga dinilai sebagai karya terbaik dalam suatu simposium yang biasanya diadakan dalam perayaan tahunan Okaz (menurut Prof. Oberai, Śivarātri  di Arab pada jaman Arab Kuno, disebut Okaz atau Sabhebarat). Dalam tulisannya, berjudul Influence of Indian Culture on Arabia, Oberai menyatakan informasi tersebut. Pada bagian lain, Oberai juga memberikan keterangan bahwa nantinya setelah terjadi peristiwa tertentu di Mekah, istilah Śivarātri  diganti menjadi Shabe Barat. Puisi ini berisi: “Orang yang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang bersifat kenafsuan, jika pada akhirnya ia menjadi sadar dan ingin kembali ke jalan moral disediakan jalan ke arah itu. Walaupun ia hanya sekali memuja MAHADEVA ia bisa mendapatkan posisi yang tertinggi dalam “kebenaran”.

C. Sivarātri  Mengapa pada Caturdasi Krsna Paksa

“Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. Dalam Catur Veda di dalam doa Purusa Sukta:  ‘Candramā manaso jāthah’. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu ‘manas’ menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati).

Oleh karena itu Chaturdasi dari bagian yang gelap disebut Sivaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siva tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasivaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang “Savam” (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi “Śivam” (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indrya-indryapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai. Vrhaspati Tattva mengajarkan ada 3 jalan untuk mencapai moksa, yaitu:

1. Jnanabhyadreka artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.

2. Indriyayogamaarga artinya jalan pengendalian atas indrya dengan melepaskan diri dari segala indrya atau tidak menikmati indrya.

3. Trsnadosaksaya artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.

D. Makna Spiritual

Dari kisah raja Citrabhanu, dapat kita pahami makna spiritualnya, sebagai berikut.

1. Binatang buruan yang ditangkap itu adalah simbol nafsu, kemarahan, ketamakan, irihati dan kebencian. Hutan yang dimaksud adalah empat jenis pikiran, yaitu bawah sadar, kecerdasan, ego dan pikiran. Dalam pikiranlah “binatang” itu berkeliaran bebas, mereka ini harus diburu dan ditaklukkan serta ditangkap atau dibunuh. Pemburu yang mengejar binatang itu adalah seorang yogi.

2. Nama pemburu itu adalah “Susvara” yang artinya berirama merdu dan menyenangkan. Jika seseorang telah melaksanakan yama dan niyama dan telah menaklukkan sifat-sifat jahat; maka ia adalah seorang yogi. Tanda-tandanya, wajah berseri-seri, bercahaya, bersuara lembut. Ini dijelaskan dalam Svetasvatara Upanishad. Pemburu atau yogi itu telah bertahun-tahun melaksanakan yoga dan telah mencapai tahapan pertama, sehingga diberi nama Susvara.

3. Pemburu itu lahir di Varanasi. Para yogi menyebut ajna cakra dengan Varanasi. Ini adalah titik pusat antara kedua alis mata, yang merupakan pertemuan tiga arus syaraf, yaitu Ida, Pingala dan Susumna. Seorang sadhaka disarankan untuk konsentrasi pada titik ini untuk membantu menaklukkan keinginan dan sifat-sifat jahat; yang terdapat pada dirinya, seperti kemarahan dsb.

4. Daun bilva memiliki 3 helai daun dalam satu tangkai, menggambarkan tulang belakang, yaitu Ida, Pingala dan Sumsumna; yang merupakan wilayah aktivitas dari bulan, matahari dan api atau yang dikenal dengan tiga mata Śiva. Naik ke atas pohon menyatakan naiknya daya kundalini sakti, mulai dari syaraf yang paling rendah, yaitu muladhara sampai ke ajna cakra.

5. Pemburu mengikat kijang buruannya pada cabang pohon, ini berarti ia telah berhasil mengendalikan dan menenangkan pikirannya. Dia menuju tahap yama, niyama, pratyahara dst. Di pohon itu ia melaksanakan konsentrasi dan meditasi, bila ia tertidur, berarti ia kehilangan kesadaran, karenanya ia tetap terjaga.

6. Istri dan anaknya adalah simbol dunia ini. Orang yang mencari berkah Tuhan, harus memiliki cinta kasih, rasa simpati untuk merangkul sesamanya. Air mata menetes menandakan cinta kasih yang universal, tanpa cinta kasih universal seseorang tak akan pernah mendapatkan berkah Tuhan. Dalam yoga tanpa berkah Tuhan, tidak akan pernah ada pencerahan. Pada tahap awal, kita harus berusaha memahami pikiran semua mahluk hidup, lalu mencintai sesamanya. Dengan ini maka tahapan samadhi akan dicapai.

7. Tanpa sadar pemburu menjatuhkan daun bilva, artinya ia tidak memikirkan apa-apa lagi, karena aktivitasnya dipusatkan kepada 3 nadi itu. Ia tidak tidur sepanjang malam, itu menandakan bahwa ia telah memasuki keadaan ke-empat yaitu turiya atau kesadaran super. Dalam keadaan turiya lah ia melihat linggam Śiva dalam wujud cahaya batin, artinya ia telah memiliki visi Ilahi, dan telah mewujudkan Śiva dalam dirinya.

8. Pemburu pulang dan memberi makanan kepada orang asing yang tak dikenalnya. Orang asing itu adalah si pemburu sendiri yang telah berubah menjadi manusia baru.

9. Makanan yang dimaksud adalah rasa suka dan duka yang telah dihilangkan pada malam sebelumnya. Tetapi ia tidak menghabiskan semuanya, masih ada tersisa walaupun hanya sedikit. Inilah sebabnya mengapa ia lahir kembali sebagai raja Citrabhanu, walaupun ia telah pergi ke alam Śiva; namun tidak cukup untuk mencegah punarbhawanya.

E. Aktualisasi Brata Śivarātri  

Dua kekuatan besar alam yang berpengaruh pada manusia, yaitu sifat rajas (yang bersifat dinamis) dan tamas (yang bersifat lamban dan bodoh). Vrata Śivarātri  membantu mengendalikan itu. Sepanjang hari itu digunakan untuk memuja kaki padma Yang Kuasa. Pemujaan Tuhan yang berkelanjutan ini mengharuskan para bhakta untuk tetap berada di tempat pemujaan. Di tempat suci ini, pikiran terkendali, sifat-sifat jahat seperti nafsu, kemarahan, kecemburuan, yang berasal dari sifat rajas, dapat ditundukkan. Para bhakta tidak tidur selama semalam, sehingga juga berhasil mengendalikan sifat tamas. Setiap tiga jam pemujaan pada linggam Śiva dilakukan. Śivarātri  adalah vrata yang sempurna. Siwaratri sebagai malam pemujaan Śiva juga berkaitan dengan perayaan terhadap menyatunya Śiva dengan Śaktinya yaitu Parvati.

1. Brata/Vrata artinya sumpah suci, pelaksanaan sumpah suci atau tekad suci. Untuk selanjutnya kita sebut saja pelaksanaan Brata Śivarātri . Seperti disebutkan sebelumnya, pelaksanaan Brata Śivarātri   bertujuan untuk menghilangkan atau menghapuskan dosa-dosa, mengkikis dosa-dosa kita. Satu lagi disebutkan bahwa pelaksanaan Brata Śivarātri   ini juga bermakna sebagai pemberi Bhukti Mukti.

2. Bhukti artinya kenikmatan-kenikmatan duniawi, kepuasan-kepuasan duniawi. Kenikmatan-kenikmatan duniawi itu bisa diberikan, bisa kita dapatkan lewat pelaksanaan Brata Śivarātri  . Pelaksanaan Brata Śivarātri  juga dapat memberikan kepada orang hadiah Mukti atau pembebasan dari keterikatan duniawi.

3. Mona: tidak bicara hal- hal yang tidak baik dan tidak benar dirubah dengan berjapa kepada Tuhan (Śiva),karena japa adalah Yajña utama: “Mahaṛṣinam bhṛgur aham, Giram asmy ekam akśaram, Yajñanam japa-yajño smi, Sthavaranaṁ himalayaḥ”- Diantara mahaṛṣi Aku adalah Bhṛgu; diantara ucapan suci Aku adalah Oṁkāra; diantara Yajña Aku adalah japa mantra; diantara benda-benda tak bergerak Aku adalah Himalaya. Bhagavadgītā X.25.

4. Upavasa/Puasa: mengendalikan makanan dan minuman yang tamasik dan rajasik dengan makanan yang sattvik baik jenis maupun cara mendapatkannya. Puasa dapat juga dilakukan dengan mengurangi jatah biaya makan dan minum, kelebihannya digunakan untuk memberikan makan dan minum kaum fakir (matṛdeva bhava, pitṛ deva bhava, athīti deva bhava, daridra deva bhava)

5. Jagra: mengendalikan pikiran, ucapan dan prilaku agar tetap memiliki kesadaran bahwa setiap entitas kehidupan diliputi oleh Tuhan,dan bergerak sesuai dengan dharma dan guna karmanya, sehingga tidak ada hak bagi manusia untuk mengeksploitasi apalagi menyalahkan bahkan meyakitinya dengan egoisme.  (viśva virāt svarūpa…īsvara sarva bhūtanam). Dengan kesadaran ini maka kesucian dan cinta kasih akan tumbuh subur

Pelaksanaan Brata Śivarātri  akan pas sekali, akan lebih membantu kita untuk mendapatkan berkah khusus dari Dewa Śiva jikalau pelaksanaan perayaan Śivarātri  ini kita arahkan untuk tujuan pengekangan diri, pengendalian diri, “mulat sarira” mengadakan perbaikan-perbaikan ke dalam, melihat kekurangan-kekurangan di dalam diri kita, melihat/menimbang-nimbang kurang lebihnya kita, kalau kita maju, kita majunya berapa step, kalau kita mundur, kita mundurnya seberapa kilometer ke belakang. Secara jujur kita hendaknya menilai diri kita pada Brata Śivarātri  ini. Itu yang bisa kita lakukan.

Omṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om 

Daftar Pustaka:

1. Agastia, IBG, Memahami Makna Siwaratri, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 1997.

2. Chaturvedi, B.K., ŚIVA, terjemahan Oka Sanjaya, editor I Wayan Maswinara, Paramita, 2002.

3. Agastia, IBG, SIWA SMRTI, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2003.

4. Śivananda, Sri Svami, Hari Raya & Puasa dalam Agama Hindu, terjemahan Dewi Paramita, editor I Wayan Maswinara, Paramita, Surabaya, 2002.

5. Agastia, IBG, SIWARATRI KALPA, terjemahan, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2001.

6. Sudharta, Tjok. Rai, SIWARATRI, Makna dan Upacara, Upada Sastra, Denpasar, 1994.

7. Titib, I Made, Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, Paramita, Surabaya, 1996.

8. Anandamurti, Shrii Shrii, Yama – Niyama, Sebagai Dasar Moralitas Kehidupan Spiritual, terjemahan I Ketut Nila, Persatuan Ananda Marga, 1991.

* Artikel ini disampaikan sebagai bahan Dharma Tula hari Sivaratri 23 Januari 2009 oleh: Badan Kerohanian Hindu Bapepam RI.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 279 other followers