Hari Suci Hindu


Serve with Love by: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)**

Om Swastyastu

A. Pendahuluan

 “Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Śivarātri  . Demikian keutamaan Brata Śivarātri  , hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Śivarātri   adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Śiva Purana, Koti Rudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Śivarātri  kalpa menyatakan keutamaan Brata Śivarātri   seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Śiva sebagai berikut :

“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci (patìrthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Śivarātri   ini, semua Pataka itu lenyap”.

“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Śivarātri   yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Śivarātri) yang Aku sabdakan ini”  ( Śivarātri kalpa, 37, 7-8).

Sejarah lahirnya hari raya Śivarātri  dijelaskan melalui sumber-sumber sastra, baik yang bersumber kepada Veda Smrti pada bagian Upaveda (Itihasa dan Purana), juga sumber lokal (Nusantara), sumber Eropa dan Arab Kuno. Dari sumber-sumber itu maka konstruksi (bentuk) dan nilai Śivarātri  menurut Veda jelas tergambar, yaitu merupakan vrata utama dan sempurna walaupun perwujudan pelaksanaannya tidak memerlukan sarana yang beraneka ragam dan sederhana. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.

B. Sumber Sastra:

B.1 Itihasa

Dalam Itihasa, Śivarātri  terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Śivarātri  oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Śivarātri . Rsi Astavakra bertanya: “Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.

“Hari telah menjelang fajar, aku kembali pulang ke rumah dan menjual kijang tersebut, lalu membeli makanan untuk keluargaku. Ketika akan menyantap makanan untuk mengakhiri puasaku, seorang asing datang meminta makanan. Aku melayaninya terlebih dahulu, kemudian baru aku mengambil makananku.

“Pada saat kematianku, aku melihat para pesuruh deva Śiva, mereka menjemputku untuk dibawa kepada Śiva. Aku baru sadar bahwa aku secara tidak sengaja telah melakukan pemujaan suci pada Śiva, pada hari Śivarātri . Mereka memberitahuku bahwa ada linggam di bawah pohon. Daun yang kujatuhkan tepat jatuh di atas linggam itu. Air mataku pada saat menangisi keluargaku jatuh diatas linggam dan membersihkannya. Dan aku telah berpuasa sepanjang hari dan malam. Aku telah memuja Yang Kuasa tanpa sadar. Aku tinggal bersama dengan-Nya dan menikmati kebahagiaann Ilahi selamanya. Aku kini terlahir sebagai Citrabhanu.

B.2 Purana

Śivarātri  juga dimuat dalam purana-purana, seperti berikut:

1. Śiva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para ṛṣi, menguraikan pentingnya upacara Śivarātri. Seseorang bernama Rurudruha sangat kejam, namun setelah melaksanakan vrata Śivarātri  akhirnya menjadi sadar akan kekejaman dan kedangkalan pikirannya. Dalam Śiva Purana juga disebutkan bahwa bagi mereka yang berpuasa siang dan malam pada hari Maha Śivarātri  ini dan memuja Śiva dengan daun bilva, akan mencapai kedekatan dengan Śiva. Mereka yang melakukan vrata ini selama 12 tahun maka dinyatakan bahwa mereka akan menjadi seorang Gana yaitu pengawal Śiva.

2. Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda dari Skanda Purana antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut “kebenaran” Dalam purana ini diuraikan tentang asal mula upacara Śivarātri  tersebut. Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

3. Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Śivarātri , diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Śiva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Śivarātri . Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

4. Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa Śivarātri  adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Śivarātri  yang dilakukannya berhasil membawanya ke Śiva Loka.

B.3 Sumber Lokal

Sumber Jawa Kuno adalah kakawin Śivarātri kalpa (di masyarakat lebih dikenal kakawin Lubdhaka), karya mahakawi Mpu Tanakung. Karya ini ternyata bersumber dari Padma Purana. Uraian tentang Śivarātri  juga terdapat dalam lontar Aji-brata serta sejumlah karya sastra kidung dan geguritan Lubdhaka. Mpu Tanakung mengarang kakawin Śivarātri kalpa pada jaman Majapahit akhir (1447 Masehi).

B.4  Sumber Eropa

Dalam sumber-sumber Eropa ada diuraikan tentang apa yang disebut vrata Zuiverasiri (Śivarātri ). Vrata ini dilakukan pada bulan Pebruari, dikaitkan dengan kisah seorang pemburu bernama Beri yang karena kemalaman di hutan lalu naik ke atas pohon Cuola (Bilva). Semalaman ia memetik-metik daun pohon itu yang tanpa disadarinya telah dilemparkannya kepada Zuivelingga (Śivalingga) yang berada di bawah pohon itu. Akhirnya si pemburu mendapat anugerah dari Ixora (Isvara).

B. 5  Sumber Arab Kuno

Selain sumber Eropa juga diketemukan uraian tentang pemujaan Śiva Mahadeva di dalam kitab Sayar-ul Okul, sebuah kitab yang memuat ontologi puisi Arab Kuno; susunan Abu Amir Asmai, orang yang dihormati sebagai Kalidasanya Arab. Kitab ini memuat sebuah syair karya Umar bin Hassam, seorang penyair besar yang karya-karyanya juga dinilai sebagai karya terbaik dalam suatu simposium yang biasanya diadakan dalam perayaan tahunan Okaz (menurut Prof. Oberai, Śivarātri  di Arab pada jaman Arab Kuno, disebut Okaz atau Sabhebarat). Dalam tulisannya, berjudul Influence of Indian Culture on Arabia, Oberai menyatakan informasi tersebut. Pada bagian lain, Oberai juga memberikan keterangan bahwa nantinya setelah terjadi peristiwa tertentu di Mekah, istilah Śivarātri  diganti menjadi Shabe Barat. Puisi ini berisi: “Orang yang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang bersifat kenafsuan, jika pada akhirnya ia menjadi sadar dan ingin kembali ke jalan moral disediakan jalan ke arah itu. Walaupun ia hanya sekali memuja MAHADEVA ia bisa mendapatkan posisi yang tertinggi dalam “kebenaran”.

C. Sivarātri  Mengapa pada Caturdasi Krsna Paksa

“Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. Dalam Catur Veda di dalam doa Purusa Sukta:  ‘Candramā manaso jāthah’. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu ‘manas’ menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati).

Oleh karena itu Chaturdasi dari bagian yang gelap disebut Sivaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siva tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasivaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang “Savam” (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi “Śivam” (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indrya-indryapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai. Vrhaspati Tattva mengajarkan ada 3 jalan untuk mencapai moksa, yaitu:

1. Jnanabhyadreka artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.

2. Indriyayogamaarga artinya jalan pengendalian atas indrya dengan melepaskan diri dari segala indrya atau tidak menikmati indrya.

3. Trsnadosaksaya artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.

D. Makna Spiritual

Dari kisah raja Citrabhanu, dapat kita pahami makna spiritualnya, sebagai berikut.

1. Binatang buruan yang ditangkap itu adalah simbol nafsu, kemarahan, ketamakan, irihati dan kebencian. Hutan yang dimaksud adalah empat jenis pikiran, yaitu bawah sadar, kecerdasan, ego dan pikiran. Dalam pikiranlah “binatang” itu berkeliaran bebas, mereka ini harus diburu dan ditaklukkan serta ditangkap atau dibunuh. Pemburu yang mengejar binatang itu adalah seorang yogi.

2. Nama pemburu itu adalah “Susvara” yang artinya berirama merdu dan menyenangkan. Jika seseorang telah melaksanakan yama dan niyama dan telah menaklukkan sifat-sifat jahat; maka ia adalah seorang yogi. Tanda-tandanya, wajah berseri-seri, bercahaya, bersuara lembut. Ini dijelaskan dalam Svetasvatara Upanishad. Pemburu atau yogi itu telah bertahun-tahun melaksanakan yoga dan telah mencapai tahapan pertama, sehingga diberi nama Susvara.

3. Pemburu itu lahir di Varanasi. Para yogi menyebut ajna cakra dengan Varanasi. Ini adalah titik pusat antara kedua alis mata, yang merupakan pertemuan tiga arus syaraf, yaitu Ida, Pingala dan Susumna. Seorang sadhaka disarankan untuk konsentrasi pada titik ini untuk membantu menaklukkan keinginan dan sifat-sifat jahat; yang terdapat pada dirinya, seperti kemarahan dsb.

4. Daun bilva memiliki 3 helai daun dalam satu tangkai, menggambarkan tulang belakang, yaitu Ida, Pingala dan Sumsumna; yang merupakan wilayah aktivitas dari bulan, matahari dan api atau yang dikenal dengan tiga mata Śiva. Naik ke atas pohon menyatakan naiknya daya kundalini sakti, mulai dari syaraf yang paling rendah, yaitu muladhara sampai ke ajna cakra.

5. Pemburu mengikat kijang buruannya pada cabang pohon, ini berarti ia telah berhasil mengendalikan dan menenangkan pikirannya. Dia menuju tahap yama, niyama, pratyahara dst. Di pohon itu ia melaksanakan konsentrasi dan meditasi, bila ia tertidur, berarti ia kehilangan kesadaran, karenanya ia tetap terjaga.

6. Istri dan anaknya adalah simbol dunia ini. Orang yang mencari berkah Tuhan, harus memiliki cinta kasih, rasa simpati untuk merangkul sesamanya. Air mata menetes menandakan cinta kasih yang universal, tanpa cinta kasih universal seseorang tak akan pernah mendapatkan berkah Tuhan. Dalam yoga tanpa berkah Tuhan, tidak akan pernah ada pencerahan. Pada tahap awal, kita harus berusaha memahami pikiran semua mahluk hidup, lalu mencintai sesamanya. Dengan ini maka tahapan samadhi akan dicapai.

7. Tanpa sadar pemburu menjatuhkan daun bilva, artinya ia tidak memikirkan apa-apa lagi, karena aktivitasnya dipusatkan kepada 3 nadi itu. Ia tidak tidur sepanjang malam, itu menandakan bahwa ia telah memasuki keadaan ke-empat yaitu turiya atau kesadaran super. Dalam keadaan turiya lah ia melihat linggam Śiva dalam wujud cahaya batin, artinya ia telah memiliki visi Ilahi, dan telah mewujudkan Śiva dalam dirinya.

8. Pemburu pulang dan memberi makanan kepada orang asing yang tak dikenalnya. Orang asing itu adalah si pemburu sendiri yang telah berubah menjadi manusia baru.

9. Makanan yang dimaksud adalah rasa suka dan duka yang telah dihilangkan pada malam sebelumnya. Tetapi ia tidak menghabiskan semuanya, masih ada tersisa walaupun hanya sedikit. Inilah sebabnya mengapa ia lahir kembali sebagai raja Citrabhanu, walaupun ia telah pergi ke alam Śiva; namun tidak cukup untuk mencegah punarbhawanya.

E. Aktualisasi Brata Śivarātri  

Dua kekuatan besar alam yang berpengaruh pada manusia, yaitu sifat rajas (yang bersifat dinamis) dan tamas (yang bersifat lamban dan bodoh). Vrata Śivarātri  membantu mengendalikan itu. Sepanjang hari itu digunakan untuk memuja kaki padma Yang Kuasa. Pemujaan Tuhan yang berkelanjutan ini mengharuskan para bhakta untuk tetap berada di tempat pemujaan. Di tempat suci ini, pikiran terkendali, sifat-sifat jahat seperti nafsu, kemarahan, kecemburuan, yang berasal dari sifat rajas, dapat ditundukkan. Para bhakta tidak tidur selama semalam, sehingga juga berhasil mengendalikan sifat tamas. Setiap tiga jam pemujaan pada linggam Śiva dilakukan. Śivarātri  adalah vrata yang sempurna. Siwaratri sebagai malam pemujaan Śiva juga berkaitan dengan perayaan terhadap menyatunya Śiva dengan Śaktinya yaitu Parvati.

1. Brata/Vrata artinya sumpah suci, pelaksanaan sumpah suci atau tekad suci. Untuk selanjutnya kita sebut saja pelaksanaan Brata Śivarātri . Seperti disebutkan sebelumnya, pelaksanaan Brata Śivarātri   bertujuan untuk menghilangkan atau menghapuskan dosa-dosa, mengkikis dosa-dosa kita. Satu lagi disebutkan bahwa pelaksanaan Brata Śivarātri   ini juga bermakna sebagai pemberi Bhukti Mukti.

2. Bhukti artinya kenikmatan-kenikmatan duniawi, kepuasan-kepuasan duniawi. Kenikmatan-kenikmatan duniawi itu bisa diberikan, bisa kita dapatkan lewat pelaksanaan Brata Śivarātri  . Pelaksanaan Brata Śivarātri  juga dapat memberikan kepada orang hadiah Mukti atau pembebasan dari keterikatan duniawi.

3. Mona: tidak bicara hal- hal yang tidak baik dan tidak benar dirubah dengan berjapa kepada Tuhan (Śiva),karena japa adalah Yajña utama: “Mahaṛṣinam bhṛgur aham, Giram asmy ekam akśaram, Yajñanam japa-yajño smi, Sthavaranaṁ himalayaḥ”- Diantara mahaṛṣi Aku adalah Bhṛgu; diantara ucapan suci Aku adalah Oṁkāra; diantara Yajña Aku adalah japa mantra; diantara benda-benda tak bergerak Aku adalah Himalaya. Bhagavadgītā X.25.

4. Upavasa/Puasa: mengendalikan makanan dan minuman yang tamasik dan rajasik dengan makanan yang sattvik baik jenis maupun cara mendapatkannya. Puasa dapat juga dilakukan dengan mengurangi jatah biaya makan dan minum, kelebihannya digunakan untuk memberikan makan dan minum kaum fakir (matṛdeva bhava, pitṛ deva bhava, athīti deva bhava, daridra deva bhava)

5. Jagra: mengendalikan pikiran, ucapan dan prilaku agar tetap memiliki kesadaran bahwa setiap entitas kehidupan diliputi oleh Tuhan,dan bergerak sesuai dengan dharma dan guna karmanya, sehingga tidak ada hak bagi manusia untuk mengeksploitasi apalagi menyalahkan bahkan meyakitinya dengan egoisme.  (viśva virāt svarūpa…īsvara sarva bhūtanam). Dengan kesadaran ini maka kesucian dan cinta kasih akan tumbuh subur

Pelaksanaan Brata Śivarātri  akan pas sekali, akan lebih membantu kita untuk mendapatkan berkah khusus dari Dewa Śiva jikalau pelaksanaan perayaan Śivarātri  ini kita arahkan untuk tujuan pengekangan diri, pengendalian diri, “mulat sarira” mengadakan perbaikan-perbaikan ke dalam, melihat kekurangan-kekurangan di dalam diri kita, melihat/menimbang-nimbang kurang lebihnya kita, kalau kita maju, kita majunya berapa step, kalau kita mundur, kita mundurnya seberapa kilometer ke belakang. Secara jujur kita hendaknya menilai diri kita pada Brata Śivarātri  ini. Itu yang bisa kita lakukan.

Omṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om 

Daftar Pustaka:

1. Agastia, IBG, Memahami Makna Siwaratri, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 1997.

2. Chaturvedi, B.K., ŚIVA, terjemahan Oka Sanjaya, editor I Wayan Maswinara, Paramita, 2002.

3. Agastia, IBG, SIWA SMRTI, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2003.

4. Śivananda, Sri Svami, Hari Raya & Puasa dalam Agama Hindu, terjemahan Dewi Paramita, editor I Wayan Maswinara, Paramita, Surabaya, 2002.

5. Agastia, IBG, SIWARATRI KALPA, terjemahan, Yayasan Dharma Sastra, Denpasar, 2001.

6. Sudharta, Tjok. Rai, SIWARATRI, Makna dan Upacara, Upada Sastra, Denpasar, 1994.

7. Titib, I Made, Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, Paramita, Surabaya, 1996.

8. Anandamurti, Shrii Shrii, Yama – Niyama, Sebagai Dasar Moralitas Kehidupan Spiritual, terjemahan I Ketut Nila, Persatuan Ananda Marga, 1991.

* Artikel ini disampaikan sebagai bahan Dharma Tula hari Sivaratri 23 Januari 2009 oleh: Badan Kerohanian Hindu Bapepam RI.

Om Swastyastu

Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, Kata “Paridan” artinya: Lungsuran, Waranugraha, Karunia. Sedangkan kata “Guru” menunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Guruning Guru atau Guru Sejati.

“Pemaridan Guru”, digambarkan bahwa pada hari ini para Dewata kembali ke Sunya Lokha dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu; hidup sehat umur panjang, visi hidup yang baru yang lebih dharmika dan hari ini umat menikmati waranugraha dari Dewata. Dengan harapan agar semua anugrah tersebut dijadikan sebagai bekal dalam mengisi hidup di kehidupanan ini, guna peningkatan kualitas hidup dari yang tidak/belum/kurang baik menjadi baik/semakin/lebih baik lagi.

Demikian makna Hari Pemaridan Guru, sebagai hari angayu bagia atas anugrah Hyang Widhi yang diawali dengan pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup ini.

Om Santih Santih Santih Om

~ Jro Mangku Danu

* Sumber Bacaan: Lontar Sundari Gama

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Makna Hari Manis Galungan

Om Swastyastu
Wrhaspati (Kamis) Umanis/Legi wuku Galungan dinamakan “Hari Manis Galungan”. Yang dapat dimaknai sebagai saat dimana manusia yang merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan, yakni; dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa  nikmatnya bisa meneguk kemenangan.

Jadi hari ini umat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia inilah misi  umat  Hindu: Dharma Vada- menyampaikan ajaran kebenaran dengan Satyam Vada – mengatakan dengan kesungguhan daan kejujuran.

“Kabarkan kebenaran ini kepada mereka yang masih tersesat agar kembali ke ajaran Dharma, sampaikan kepada mereka  wahai putra Utama”- janganlah malahan Engkau yang menjadi  manusia tersesat dan kesasar dengan meninggalkan Dharma” (kitab: Sataphata Brahmana).

Demikianlah makna hakiki dari hari Manis Galungan hari ini, adalah saat kita berbagi keceriaan, suka cita, sekaligus merangkul dan mengajarkan saudara-saudara yang lainnya untuk lebih giat di jalan Dharma. Semoga bermanfaat.

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu

Makna hari PENAMPAHAN

Om Swastyastu
Penampahan – Berasal dari kata tampah atau sembelih hal ini bermakna semantik dan filosofis; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan/keraksasaan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan untuk dijadikan korban atau persembahan, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut.

Lontar Sundarigama memberikan landasan pelaksanaan Penampahan tersebut yaitu; “Pamyakala kala malaradan” (memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan/keraksasaan yang ada pada diri). Penampahan merupakan puncak dari Brata dan Upawasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara – kegelapan yang bercokol dalam diri.

Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri…nah kalau sudah begini, berarti kita belum mampu memenangkan Dharma atas Adharma. ini yang mesti kita renungkan..!!

Inilah pesan terdalam dari Penampahan, yakni: mengajak kita untuk selalu mawas diri, eling ringan kesujatian angga sarira, baik melalui kegiatan upacara-upakaranya, dan yang terpenting adalah dengan brata dan upawasa, serta tapa dan yoga.

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu

* Sumber Bacaan: Lontar Sundarigama
Bali, 9 Maret 2009

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Makna Hari PENYAJAAN

Om Swastyastu
Secara maknawi Hari Penyajaan, Artinya hari ini umat mengadakan Tapa untuk mencapai Samadhi melalui pemujaan kepada Ista Dewata. Hal ini sesuai dengan apa yang termaktub dalam lontar Sundarigama disebutkan : “Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi”. Upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan.

Melalui Tapa, Brata/Upawasa, Yoga. Diharapkan manusia akan memiliki kemampuan Wiweka dan Winaya, yakni kemampuan manusia untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah.

Secara ritual hari Peyajaan, juga dimaknai oleh umat untuk menyiapkan berbagai sarana pemujaan baik dari bahan janur, slepan, bambu dan utamanya berupa membuat kue (bahasa Bali: Jaje), yang akan dipakai saat Galungan, itu sebabnya hari ini juga disebut dengan Penyajan (hari untuk membuat jaje).

Demikian dapat saya sampaikan secara singkat Makna Hari Penyajaan, semoga Sraddha dan Bhakti kita kian kokoh sehingga dapat Mengatasi Godaan Sang Kala Tiga Galungan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu

* Sumber Bacaan: Lontar Sundarigama

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

SUGIHAN JAWA/JABA

Om Swastyastu

Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba yaitu; Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang.

Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jawa atau Jaba artinya luar.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Secara sekala Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan secara niskala yakni dengan menghaturkan upakara: byakala, prayascitta dan parerebuan.

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu

* Sumber: Lontar Sundarigama
* Source: https://dharmavada.wordpress.com/2009/10/05/hari-raya-nyepi-galungan-dan-kuningan-kajian-upacara-implementasi-pada-kehidupan/

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

SUGIHAN BALI/MANIK

Om Swastyastu

“Bali” dalam bahasa Sanskerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali atau ada yang menyebutnya Sugihan Manik memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri (Bhuana Alit/Mikrokosmos), hal ini sesuai dengan petikan lontar sundarigama: “Kalinggania amrestista raga tawulan” (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos), yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan.

Sugihan Bali/Manik dilaksanakan pada hari Sukra (Jumat) Kliwon Wuku Sungsang.

Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.

Secara sekala, setidaknya pada hari Sugihan Bali umat SeDharma melakukan “Suci Laksana; Mandi, Keramas. Secara rohani dapat melakukan dengan Melukat, baik ke sumber mata air, atau melalui upakara prayascitta atau nunas pelukatan ring Sang Sulinggih.

Semoga bermanfaat
Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu

* Sumber: Lontar Sundarigama
* Source: https://dharmavada.wordpress.com/2012/08/14/

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers