dharmacara


Om Swastyastu

Saat Dharmayatra dan Masimakrama dengan umat Hindu di Desa Margo Mulyo Kec. Sungkai Utara- Kab. Lampung Utara.
Menurut Penuturan Jero Mangku-Jan Banggul di pura ini. Pura Dalem ini atapnya mengeluarkan air secara terus menerus sejak usai dibangun,  walaupun di musim kemarau air tetap menetes dari atapnya. Berita dari mulut ke mulut kemudian sejak itu Banyak  warga yang datang untuk nunas sebagai berbagai keperluan, mulai untuk tamba, melukat dan wasuhpada.

Astungkara saya diberikan kesempatan untuk bisa tangkil kesini dan ngelungsur WaranugrahaNya


Om Aim Kalim Namo Dhurgayai Namah
#TaksuPura

#MujizatPuraDalem

Advertisements

Om Swastyastu

Sangut Sang Punakawan:

Nyangut!!! Begitu biasanya orang Bali memberi istilah bagi mereka yang pikirannya bertentangan dengan tuannya. Dia seolah memihak musuh akibat pikirannya itu. Tidak ada yang tahu persis, entah apa ide dasarnya sehingga I Sangut justru ditempatkan di posisi “Wang Kebot”. Di posisi mana biasanya Ki Dalang menempatkan para pembuat onar macamnya Rahwana dalam serial Ramayana. Atau Korawa dalam ephos Mahabharata.

Sangut merupakan salah satu punakawan/parekan dalam Wayang Purwa

Sangut selalu bersungut jika tidak setuju atas segala prilaku buruk tuannya. Hanya saja dia tidak dengan segera membantah. Dia lebih memilih diam ketika tuannya merekayasa rencana jahat. Tetapi dia baru akan menggerutu dibelakang punggung tuannya atau saat sedang berdua saja bersama partnernya I Delem. Dia akan segera nyeroscos, bicara kelemahan tuannya serta tantangan yang akan menghambat bila prilaku buruk tuannya tidak segera dihentikan. Dia akan tidak habis-habisnya menggerutu perihal seharusnya~seharusnya dan seharusnya.

Sangut; didepan ia diam, di belakang ia protes

Makna Karakter Sangut:

Sangut adalah salah satu dari punakawan. Dimana dalam setiap pementasan, para punakawan selalu dijadikan representasi dari karakter rakyat.

Barangkali suara I Sangut adalah memang suara rakyat, yang niatnya tidak pernah langsung digaungkan. Mereka hanya mengurai keluh kesahnya dalam diam. Yang hanya didengar oleh kedalaman hati mereka sendiri.

Ada berbagai alasan I Sangut banyak diam. Salah satunya adalah bisa jadi dia sedang menyimak secermatnya serta berhitung terhadap suasana yang akan berkembang setelahnya. Karena setiap kata dan kalimat para pemimpin akan menentukan kelanjutan hari-hari bersama sedulurnya yang juga rakyat kebanyakan.

Representasi Kebenaran yang Salah Tempat

Bagi rakyat tidak ada yang lebih penting dari kepastian tentang ‘ketiadaan’ masalah. Bagi mereka tidak penting benar berbagai slogan yang akhirnya menjadi sekedar pemicu harapan. Kalaupun harapan berperan dalam memotivasi, namun ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kedamaian nyata yang memastikan bahwa mereka masih dapat menyusun rencana hidup dengan sukacita. Tidak ada yang lain dari itu dan hanya sederhana saja.

Karenanya para pemimpin mestinya memahami bahwa segala pernik ambisi mereka harusnya beranjak dari apa yang menjadi suasana hati rakyatnya. Rakyatlah yang seharusnya menjadi ikhwal. Mengingat keberadaan mereka sesungguhnya merupakan cermin dari bagaimana prilaku sebuah bangsa dalam memberi rasa hormat kepada kehidupan.

Rakyat yang lapar jelas tidak butuh sekedar harapan. Juga tidak butuh iming-iming untuk makan mewah. Rakyat hanya butuh perut yang kenyang bersama canda generasi penggantinya.

Sangut Dan Representasi Sosial:


I Sangut memang hanya bersungut. Tetapi amat sering sungutnya menjadi nyata di akhir pementasan. Tuan mereka sering terkapar tanpa sempat sekedar menyesali dan berucap “Selamat tinggal” bagi prilaku buruknya.  Dan Ki Dalang selalu menjadikan itu sebagai momentum. Yaitu buat ‘mapekeling’ tentang kebenaran sederhana yang mesti selalu ditegakkan oleh siapapun.

I Sangut barangkali gambaran dari “kebenaran yang salah mengambil tempatnya”. Dia adalah kebenaran yang menggigil menahan diri karena suara sangar keangkuhan lebih didengar akibat selalu dikedepankannya ambisi. Padahal hidup hanya butuh kebenaran sederhana. Hidup juga tidak butuh kemewahan di angan-angan. 

Ya…I Sangut memang representasi kebenaran yang salah memilih tempatnya.

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma 
  

Mutiara Dharma 22/03/2016:

Om Swastyastu

“Orang baik terletak di dalam diri kita. Jika kita baik maka ke manapun kita pergi kebaikan akan tetap bersama kita. Orang mungkin saja menyanjung kita, menyalahkan kita, atau mengancam kita dengan kasar, tetapi apa pun yang mereka katakan atau lakukan, kita tetap saja baik”.

♡ Jro Mangku Danu®

image

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=792043190901249&substory_index=0&id=277174302388143

“Mengubah kemalangan dan kesengsaraan menjadi keberuntungan adalah ilmu pengetahuan tentang hidup yang hanya dikenal oleh sebagian kecil yang tercerahi” (Mahabharata)
_________

Alam tidak selalu baik pada manusia. Kadang-kadang alam itu keras dan cerewet.
Hidup tidak selalu lancar dan menyenangkan. Kadang-kadang kemandekan muncul. Seringkali hidup tertimpa kerugian dan kekalahan. Penyakit merusak dengan caranya sendiri. Semua lawan berusaha untuk menindas.

Dalam menghadapi kesulitan ini manusia wajib membuat kemajuan, lewat disiplin diri yang bersandar pada prinsip-prinsip Dharma. Adalah kemustahilan bagi kita untuk berbenah sementara disisi lain kita masih memiliki kegemaran untuk berprilaku arogan dan mencederai sisi prikemanusiaan kita.

Kecerewetan dan kebawelan alam mengingatkan kita, sering kita salah artikan sebagai musibah-sebagai bencana. Padahal kitalah yang telah menabur benihnya lewat tata laku kita dalam keseharian.

Penyesalan memang selalu hadir kemudian, namun kita sebenarnya bisa mencegahnya-apabila kita memiliki cukup kepekaan diri akan pentingnya menabur benih-benih kebajikan, sehingga kita berkesempatan menari riang penuh damai bersama alam.

Intinya adalah: “mari gunakan kemampuan yang terpendam pada diri kita masing-masing agar menjadi nyata dalam keselarasan lewat usaha yang konstan”.
Mangggalamastu.

#MangkuDanuQoutes
Bali, 18/12/2015

image

Oleh: I W Sudarma

Om Swastyastu

Untuk mengawali aktivitas hari ini mari kita tanamkan keyakinan: “Tuhan…hari ini aku akan membawa benih-benih kebaikan dan akan ku taburkan di seluruh langkah hidupku di sepanjang hari ini agar dunia di sekitarku menjadi baik, jauhkan dari hati dan mata hamba keinginan untuk menelisik keburukan pada hidup di sekitar ku, agar benih kebaikan yang KAU percayakan dalam hidup hamba boleh bertumbuh tanpa dibebani oleh pelbagai kecemasan yang dapat menghambat pertumbuhannya….”

Om Santih Santih Santih Om

Write & Posted by: Jro Mangku Danu (I W Sudarma)

Om Swastyastu

Ikhlas itu…Saat kebaikanmu tak mau banyak dikenang orang.
Saat kebaikanmu tak mendapatkan sanjungan.
Saat donasimu tak tertulis di deret lembaran.

Ikhlas itu…Saat LELAH LETIHmu tak dapatkan penghargaan.
Saat JERIH PAYAHmu malah dapatkan hinaan.

image

Ikhlas itu…Saat kebaikanmu menjadi rahasia antara dirimu dan Hyang Widhi.

Bahkan ikhlas itu..
Malu untuk menyebutkan bahwa “saya ikhlas kok..!”

Om Santih Santih Santih Om

♡ Jro Mangku Danu
21/09/2015

Om Swastyastu

Beberapa tahu yang lalu ada seorang perempuan tua di sebuah desa. Dijualnya sebidang tanah kecil yang dimilikinya, dan dengan itu, ia memesan empat buah gelang emas, dua untuk masing-masing tangannya. Dengan amat gembira dipakainya gelang barunya dan pergi ke jalan dengan  amat bangga. Tetapi ia kecewa karena tidak ada seorangpun di desanya yang menoleh dan melihat gelangnya, sama saja seperti jika ia tidak mengenakannya. Tidak ada yang melihat perubahan pada dirinya. Dengan pelbagai cara ia berusaha untuk menarik perhatian mereka pada gelangnya, tetapi tidak berhasil. Suatu malam ia tidak bisa tidur sama sekali, karena merasa amat sakit hati karena diabaikan. Akhirnya ia mendapat sebuah ide yang cemerlang, yang dianggapnya pasti berhasil. Orang-orang desa itu harus ditarik perhatiannya agar melihat gelangnya.

Keesokan harinya, setelah matahari terbit, ia membakar rumahnya sendiri! Ketika api menyala dan terjadi kegemparan, orang-orang desa dengan serempak berlari ke arah yang sedang duduk meratap di depan rumahnya yang sedang terbakar. Ia menggerakkan tangannya sehingga menimbulkan iba di hadapan orang desa yang ketakutan. Gerakan tangannya yang bersemangat menyebabkan gelang itu gemerincing dan berkilauan dalam sinar nyala api yang membumbung kemerahan. Ia berteriak: “Aduh rumahku terbakar. O, betapa malangnya nasibku. Tuhan tidakkah Kau lihat keadaanku yang buruk ini?” Setiap kali ia meneriakkan sepatah kalimat, diperlihatkannya tangannya dengan penuh semangat pada tiap orang, sehingga mereka pasti melihat gelangnya. 

Sungguh kasihan! Ia begitu ingin memamerkan gelangnya sehingga tidak peduli akan rumahnya sendiri. Rumah terbakar, tetapi ia senang karena gelangnya dilihat orang.

Cendekiawan yang mengaggumi kepandaiannya sendiri sama bodohnya dengan perempuan tua ini. Disinilah betapa pentingnya mengendalikan Ahamkara (egoisme) dengan bijak, agar tidak termakan bujuk rayu egoisme….

 
=======

Next Page »