Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu DP)

Om Swastyastu

“Sraddhavan anasuyas ca,

srnuyad api ya narah,

so ‘pi muktah subhal lokhan,

prapnuyap punya karmanam”.



Artinya: 

“Orang yang mempunyai keyakinan dan tidak mencela, orang seperti itu walaupun hanya sekedar hanya mendengar, ia juga terbebas, mencapai dunia kebahagiaan manusia yang berbuat kebajikan”. (Bhagavadgita 18.71)

_________

Arjuna Menjadi Pendengar Baik Saat Shri Krishna Mewedarkan ajaran Dharma

Sloka ini memberi kita penjelasan bahwasanya siapa saja yang dengan keyakinan mantap yang telah ia miliki akan kebenaran Veda, kemudian ia tidak mencela ajaran Suci Veda yang telah disabdakan oleh Hyang Widhi. Walaupun kita tidak/belum menjadi orang ahli Veda dan cukup hanya baru bisa mendengarkan wejangan-wejangan Ajaran Veda, misalnya melalui dharma wacana, dharma tula dengan penuh kesungguhan dan rasa bhakti…kita sudah diberikan jaminan oleh Tuhan untuk bisa mencapai Pembebasan dari siklus samsara dan akan mencapai alam kebahagiaan (sukha tan pawali duhkha); karena mendengarkan penuh seksama dan bhakti wejangan-wejangan suci Veda merupakan perbuatan kebajikan yang uttama. Inilah salah satu lagi keluwesan dan keluasan Hindu, yang memberikan banyak pilihan kepada pemeluknya bisa mencapai kemahardikaan, yakni hanya cukup menjadi seorang Pendengar penuh Bhakti, dan tidak mencela dan meboya terhadap ajaran suci Veda.
Dari sini kita diajak untuk MAU meluangkan waktu menjadi pendengar yang budiman. Salah satu ajaran Nava Vida Bhakti adalah Sravanam (Mendengarkan wejangan dan ajaran suci Veda/Dharma/Kebenaran). Lewat Sravanam semua dosa khususnya dosa melalui indriya pendengarkan akan dibersihkan, dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang peka terhadap getaran-getaran kesucian. Dan dimampukan untuk memfilter hal-hal yang buruk.

Agastya Parwa
juga  mengingatkan kita bahwa: “Jika saat ini orang terlahir menjadi orang tuli dan bebal~itu disebabkan karena pada kelahirannya terdahulu selalu menutup telinga dan menjauh tatkala ada yang membicarakan dharma, namun selalu mendekatkan telinganya ketika ada orang yang bergunjing, menebar issue dan fitnah”.
Tentang keutamaan dari mendengar Vedanta juga menegaskan demikian: “Antara yang memperdengarkan dan mendengarkan ajaran Suci Veda akan mendapatkan Pahala Kebajikan yang sama”.

Mendengarkan Dalam Hening Suara KosmisNya

Untuk itu mari kita berusaha untuk menjadi pribadi-pribadi yang mau mendengar ajaran kebenaran; dan  mari jangan mencelanya~walaupun jika kebenaran itu disampaikan oleh mereka yang kita anggap hina sekalipun. 

Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Bali, 19 Oktober 2016

~ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
“Pendidikan adalah sesuatu yang dapat disampaikan, tetapi Pengetahuan harus ditemukan atau diungkapkan.” (Swami Tejomayananda, 2000: 10)
Pendidikan hanyalah sebagian, sedangkan Pengetahuan memberikan kita pandangan yang menyeluruh tentang sesuatu. Pendidikan mempersiapkan  kehidupan seseorang dari hanya satu aspek kehidupan sehari-hari, akan tetapi semua itu tidak/belum menyebabkan terjadinya perubahan padanya atau mempersiapkannya untuk menemukan kebenaran dari kehidupan itu sendiri. Pengetahuan pada sisi lain, mempersiapkan seseorang  untuk melihat kehidupan dengan jujur/sesuai dengan praktiknya dan membawanya kepada perubahan kepribadian yang baru.
Tujuan utama Pengetahuan adalah juga meniadakan konsep yang keliru dan pada saat yang sama mendorong penarikan diri dari kekeliruan konsep hidup.
Dalam bahasa Sanskerta ‘Pengetahuan’ disebut ‘Jnana’. Bhagavad Gita mengklasifikasikan pengetahuan atas tuga sudut pandang yang berbeda, yang dalam bahasa teknis disebut: Tamasika Jnana, Rajasika Jnana, dan Sattvika Jnana. Sattvika Jnana; adalah pengetahuan tertinggi dan Tamasika Jnana yang paling rendah. 
Selanjutnya, apakah pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang paling tinggi?
Sattvika Jnana;

Pada pandangan fisik/indera kita, kita melihat adanya perbedaan, keragaman, dan dualisme dari sifat dunia ini. Apabila melalui pandangan indera, perasaan dan pikiran, kita melihat bahwa tidak ada dua hal yang sama, segala sesuatu adalah berbeda satu dengan yang lain. Untuk melihat perbedaan dan untuk membuat pembagian diantara obyek-obyek, adalah fungsi dari perlengkapan fisik dan non fisik yang kita miliki. Akan tetapi dalam melihat keragaman ini kita bisa melihat realita yang Tunggal hadir dalam perbedaan tersebut, inilah yang disebut PENGETAHUAN YANG TERTINGGI.
Badan jasmani kita adalah contoh yang baik untuk hal ini. Apabila kita pelajari anatominya, kita akan  melihat bahwa ada banyak bagian yang berbeda: tangan, Jari, perut, kepala, bahu, akan tetapi walaupun bagian-bagian tersebut banyak, dalam pengertian Keesan saya, saya mengetahui bahwa keseluruhan itu adalah badan saya sendiri. Hakikat yang Tunggal adalah pada apa yang saya fahami, itulah sebabnya jika seseorang menyentuh punggung saya, saya tidak mengatan “Mengapa Anda menyentuh punggung saya”? “Tapi saya akan mengatakan “Mengapa Anda Menyentuh saya”? Saya sebagai satu kesatuan, meliputi Keesan, meliputi seluruh yang memiliki nama dan bentuk dari duniawi ini.
Rajasika Jnana;

Pengetahuan yang lebih rendah dinamakan Rajasika Jnana. Orang yang memiliki pengetahuan ini, melihat dan memahami segala hal secara terpisah, sebagai sesuatu yang berlainan dan berbeda. 
Sebagai contoh; ahli specialis mata hanya belajar tentang mata; pelukis hanya menekankan kepada warna dan bentuk. Beberapa orang tidak/belum melihat jagat raya ini secara menyeluruh atau utuh, akan tetapi memahami seluruh hal secara terpisah, tidak berhubungan satu dengan yang lain. Itulah sebabnya kita mengatakan: ini rumah saya, itu bagian saya dan ini bagianmu, dan sebagainya. Sekalipun Tuhan telah menciptakan hanya satu bumi dan langit, tetapi dunia dibagi menjadi bangsa-bangsa, negara-negara yang berlainan atau bahkan wilayah udara pun dibatas-batasi. Pembatasan dan pengkotak-kotakan inilah yang disebut Rajasika Jnana.
Tamasika Jnana;

Pengetahuan yang paling rendah disebut Tamasika Jnana. Seseorang mengambil secara tegas satu bagian dari dunia ini dan sangat terikat pada obyek tersebut, memandang atau percaya bahwa:  “jalan saya sendiri yang paling benar, jalanmu tidak benar, agama saya adalah benar, agamamu adalah salah.”
Inilah pandangan atau sikap yang paling rendah dalam kehidupan ini. Orang-orang dengan pengetahuan Tamasika, hadir menjadi insan yang tidak toleran dan sangat fanatik. 
Inilah yang menjadi bukti bahwa: Untuk orang yang berpikir sempit, selalu dalam pertentangan. Pada pihak lain, jika seseorang memiliki pandangan atau wawasan tentang Keesaan, Keesaan sikap dan prilaku, maka pandangannya akan serShri Danu:

atus persen berbeda.
Makanya tidak salah Vedanta berpesan demikian: “Mulailah ubah sikapmu; dengan demikian pandanganmu tentang jagad raya (dengan serta merta) akan berubah, segala sesuatu akan membahagiakan dan baik, inilah pandangan tentang KEESAAN dari Vedanta, dan inilah PENGETAHUAN TERTINGGI.”
Semoga renungan singkat ini dapat menjadi santapan bagi tumbuhnya pengetahuan kesadaran kita, sehingga kita bisa melangkahkan hidup ini menuju Pengetahuan yang Sattvika. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Jakarta, 07 Desember 2003

Oleh:  I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

Suatu hari seorang pemuda kehilangan sepatunya di laut; lalu dia menulis di pinggir pantai …”LAUT INI MALING …”
Tak lama datanglah nelayan yang membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai …”LAUT INI BAIK HATI …”
Seorang pemuda tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai…..”LAUT INI KEJAM & PEMBUNUH …”
Tak lama datanglah Seorang lelaki yang menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai…”LAUT INI PENUH KARUNIA …”
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu !!!!!!
Maka…..

JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA…..!!
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik. Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.
Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu, Dan yang membencimu tidak percaya itu 
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi Siapa yang mau berbuat baik.

Salam Nusantara Bersatu


Daripadanya WAHAI SAUDARA-SAUDARAKU SEBANGSA DAN SETANAH AIR…..

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan …

Namun Hapuslah kesalahan…

demi lanjutnya Persaudaraan..
Jika datang kepadamu gangguan…

Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.
Mari kita kurangi mengeluh;  teruslah berdoa dan berkarya yang terbaik. Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu…..
Mari bersatu padu menjaga Nusantara ini tetap Bersatu, Tetap Damai….

Mari Jadikan Segala Perbedaan sebagai sebuah Modal untuk saling melengkapi, menggenapi dan menyempurnkan

Agar Bangsa Ini tetap Utuh dalam Kesatuan.
Salam Nusantara Bersatu
Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu

“The Root of Suffering is Attachment ~ Akar dari Penderitaan adalah Kemelekatan.” (Vedanta).

Pengertian Niskama adalah tidak serakah, tidak terikat, melepas, menghentikan, tidak melekat. 

Di Dalam pandangan benar, salah satu penyempurnaan pandangan benar adalah dengan mengikis keserakahan (lobha) yang merupakan akar dari semua kekotoran batin/pikiran. Pelatihan pikiran tanpa kemelekatan (niskama) ini berguna untuk membentuk pikiran tanpa keserakahan yang berulang-ulang, sehingga akan membentuk pandangan yang menghancurkan keserakahan (lobha).

Veda mengajarkan pelepasan atau penghentian kemelekatan. Mengapa harus menekan kemelekatan kita? Kalau kita menyadari kehidupan saat ini, setiap hari kita menjalani hidup dengan  dorongan keserakahan. Setiap saat, sesuatu yang berada di luar kita selalu menggoda. Iklan-iklan di televisi menawarkan berbagai macam barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita selalu memuaskan diri dan memanjakan diri di dalam kemelekatan. Sadar atau tidak sadar, sifat serakang dalam diri semakin melekat dan sulit dihilangkan. 

Keserakahan kita-lah yang telah mengancam bumi dengan kerusakan lingkungan. 

Keserakahan yang membuat seseorang melakukan korupsi. Kita harus menyadari bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab dari berbagai permasalahan di dunia.

Keserakahan terkadang kita samarkan sebagai kebutuhan. 

Kemelekatan terjadi karena pikiran senantiasa berusaha untuk menyamarkan keserakahan menjadi kebutuhan. Memang pada dasarnya kebutuhan juga mempunyai sifat ingin, karena bila tidak ingin bagaimana bisa didapat? Persoalannya bagaimana kita membedakan antara keinginan yang melekat dengan keinginan untuk kebutuhan. 

Berbicara mengenai makan, jelas adalah kebutuhan. Jadi keinginan makan untuk kebutuhan adalah wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan, namun kita perlu berhati-hati agar keinginan makan tidak menjadi keserakahan makan. Keserakahan makan biasanya terjadi ketika proses akan melakukan makan. Keinginan kita menjadi keserakahan tatkala hidangan yang tersaji lengkap dan banyak di depan mata. Keserakahan berwujud menjadi pengambilan makanan berlebih-lebihan. Sehingga yang terjadi adalah makanan sisa di piring atau selesai dengan perut kenyang.

Cara untuk menghentikan kemelekatan bukanlah dengan jalan menyiksa diri, memenuhi pikiran dengan rasa takut atau muak. Cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menekan masalah. Seperti memotong cabang-cabang dari suatu pohon yang akan kembali tumbuh ketika diberi pupuk (godaan). 

Yang diajarkan Veda melalui Astangga Yoga adalah suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap pikiran sendiri sehingga kita dapat langsung mencabut sampai ke akar-akarnya. Rsi Patanjali mengajarkan agar kita mengubah cara pandang kita. Didukung dengan renungan mendalam, kita akan menyadari bahwa apa yang selama ini kita pertahankan, suatu saat akan berubah. Suatu saat kita akan mengalami kematian juga. Lalu buat apa kita berusaha mempertahankan  keinginan yang tiada habis-habisnya dan terus melekat padanya?

Cara lain menekan kemelekatan adalah dengan menyadari bahwa dengan sesedikit mungkin keinginan (tidak serakah), kemelekatan kita akan semakin berkurang dan kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejati atau kedamaian (Moksa). 

Kedamaian bukan terletak di luar diri, namun pada pikiran dan perasaan sendiri. Kedamaian bukan didapat dengan memuaskan diri terus-menerus. Kedamaian akan didapat jika tidak ada rasa khawatir, takut maupun benci. 

Oleh karena itu, semakin sedikit keinginan semakin sedikit pula rasa khawatir atau takut untuk kehilangan karena pikiran tak melekat.

Semoga pemahaman singkat ini bermanfaat bagi kuasa kita untuk selalu berusaha melepaskan segala bentuk kemelekatan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

​Mutiara Dharma 07/11/2016:
“Banyak orang bergelimang harta-tapi hidup dalam kesepian dan sebaliknya banyak orang hidup dalam kegetiran-tapi hidup dalam kebersahajaan.
Damai, Bahagia-sejatinya ada di dalam Hati, kekalutan pikiranlah yang menyebabkan orang terombang-ambing dalam gelombang sukha-duhkha”.
Rahayu _/|\_

♡ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

​Mutiara Dharma 06/11/2016:
“Walau hidup tidak hanya sekali, tapi membuang-buang energi hidup dalam kehidupan ini, akan memperkecil kesempatan untuk bisa meningkatkan kualitas kehidupan baik jasmani apalagi rohani”.

Mari manfaatkan waktu dan kesempatan sebaik mungkin.

Rahayu _/I\_

♡ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

​Mutiara Dharma 05/11/2016:
“Berikanlah tapi jangan sampai diri Anda dimanfaatkan. Cintailah tapi jangan sampai Anda terkhianati. Dengarkanlah tapi jangan sampai Anda meninggalkan Kata Hati”.
Rahayu _/I\_

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)