Om Swastyastu

mutiaradharma: “Seringkali kehebatan-kehebatan sesungguhnya adalah kelemahan yang belum dikenali”.

Hidup ini dapat diibaratkan laksana sebuah kamera, saat hendak digunakan, ia mesti fokus terhadap sesuatu yang penting semata. Dan pada saat yang tepat digunakan untuk membidik sasaran untuk dijepret. Diusahakan untuk meminimalkan hal-hal yang negatif. Dan bila hasilnya dirasa belum maksimal, kita dapat mengulang menjepretkannya kembali.

Saudara/i semua, perjalan hidup tidak secara otomatis menghadirkan dan menghasilkan sesuatu yang hebat, langsung berhasil. Untuk bisa sampai pada pencapaian yang maksimum, kita harus mau belajar dari kelemahan-kelemahan secara maksimal. Karena dalam kelemahan tersimpan potensi-potensi yang menakjubkan.

Diperlukan bukan saja kerja keras, namun juga ketabahan, dan ketenangan yang merupakan inti dari keheningan. Dalam keheninganlah kita akan mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang lebih halus, lebih lembut, dan lebih murni. Inilah keajaiban dari sebuah Kelemahan.

Sebuah pohon yang rindang dan berbuah ranum, bermula dari sebuah benih yang kecil dan mungil.

Jika hari ini kita merasa belum berhasil, tak ada kelirunya kita hening sejenak-sambil mengenali kemurnian yang tersimpan dalam kelemahan kita.

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Dwi Wara Ngaran Menga Pepet

Dwi Wara adalah keberadaan dua wujud yang berbeda di alam ini yaitu menga dan pepet dengan urip wewaran disebutkan dengan angka genap ganjil :

Menga dengan jumlah uripnya: 5 sebagai simbol terbuka keberadaan siang dan terang.
Pepet dengan jumlah uripnya: 4 sebagai simbol tertutup keberadaan malam dan gelap.

Lahirnya Dwiwara ini dalam transkripsi Lontar Bhagawan Garga, 3-4 sumber kutipan wewaran sebagaimana diceritakan demikian:

Dahulu kala ”Ada tersebut sinar suci melayang-layang, beliau itu dewa suci yang disebut Sang Hyang Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci, bermacam-macam wujudnya di alam semesta yang kosong ini, itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh, Ia itulah juga Sang Hyang Licin, beliau yang ada pertama kali, tanpa ayah dan ibu.

Beryogalah Sang Hyang Licin, lahirlah dua hal yaitu positif dan negatif yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Kala Rahu, Sang Hyang Rahu menciptakan semua Kala, Sang Ketu itu menciptakan para Dewa dan Wewaran selanjutnya. Kemudian lahir wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu Menga, Pepet; inilah yang menyebabkan adanya hari baik buruk (ala ayuning dewasa).

Sang Hyang Menga menjadi siangnya Sang Hyang Rahu; Hyang Pepet menjadi malamnya Sang Hyang Ketu.

Dwi wara juga disebutkan
Sanghyang Rau yang mengadakan wengi ( malam ) dan Sanghyang Ketu mengadakan rahina ( siang ). Terbuka dan tertutupnya siang dan malam ini, di mana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat yang pengaruhnya terhadap Watak Kelahiran manusia,
Menga berada di bawah naungan Sanghyang Kalima, yang mana Sanghyang Kalima berasal dari lima sinar ( dewa/div ). Seseorang yang terlahir kembali pada dina menga, salah satunya menandakan bahwa dia sudah banyak mempunyai tabungan subha karma yang baik dan benar. Menga urip-nya 5.

Pepet dinaungi Sanghyang Timira. Seseorang yang lahir pada dina pepet disinyalir karena saratnya beban duniawi yang dibawanya pada karma wasana kehidupan terdahulu, yang tercatat pada alam bawah sadarnya. Keterikatan duniawi, atau pun melakukan perbuatan di wilayah sapta timira di antaranya menjadi penyebab samsara (kelahiran berulang-ulang). Pepet urip 4.

Menga dan Pepet mengajarkan kita untuk berani dan mau membuka diri, menerima hal-hal yang positif (subha) dan berani serta mau menutup jika ada hal-hal tidak baik (asubha).

“Menga Pepet adalah Kendali atau Rem yang telah dianugerahkan Hyang Widhi agar kita punya daya pemilah yang pakem dalam memilih jalan Hidup”….sehingga bisa berlabuh di pulau idaman bernama Bahagia (Ananda) dan Damai (Santih). Semoga bermanfaat. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
*Disarikan dari: Teks Lontar Bhagawan Garga

Oleh: I Wayan Sudarma

Atyantādhika ning bratanya
taya kājar denikang rāt kabeh,
manggeh ling nikang ādisastra
SŚivarātri punya tan popama”
(Śivarātrikalpa. 12.1)
Artinya: Sangat utama Brata Sivarātri telah diajarkan kepada dunia dan sastra-sastra utama selalu menekankan keutamaan Shivarātri tiada bandingnya.

A. Sumber ajaran Śivarātri.
Sumber ajaran Śivarātri di Indonesia adalah sama yakni kitab-kitab Purāna. Pemujaan kepada Śiva sebagai dewata tertinggi memang mulai dan mengalami masa kejayaan pada jaman dituliskannya kitab-kitab Purāna. Sebagai dimaklumi pada kitab suci Veda pemujaan kepada dewa Śiva belum begitu menonjol atau menjadi satu dewa Istadevatā yang dominan. Pada kitab-kitab Purāna, kedudukan dewa-dewa yang dominan dalam Veda seperti : Agni, Indra, Vāyu dan Sūrya digantikan oleh Brahma, Visnu dan SŚiva (Wilkin, 1975 : 92, Bhattacharji, l988 : 3).

Usaha untuk menemukan sumber asli dari kitab Śivarātrikalpa, satu-satu kakawin yang secara gamblang memberikan keterangan tentang SŚivaratri di Indonensia, telah dilakukan oleh Teeuw dan kawan-kawan (l969) dan menyatakan bahwa kakawin ini sangat dekat dengan kitab Padmapurāna dibandingkan dengan Purāna yang lain (l969 : 186) seperti Skandapurāna, Śivapurana, Agnipurāna atau Garudapurāna.

Untuk menambah luasnya wawasan kita tentang sumber – sumber ajaran SŚivarātri atau SŚivarātrivrata yang di dalam Śiva Purāna disebut juga dengan nama Śivacaturdasi (Shastri, Vol.2, Part II, p.1063), ada baiknya kita bahas secara sepintas sumber-sumber tersebut, sebagai berikut :

  1. Śiva purana
    Pada topik Vidyasvarasamhitā, Śiva menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Mahaesa dan menganugrahkan Brata Śivarātri yang sangat utama (Shastri, Vol.1, Part I, p.60), selanjutnya pada topik Rudrasamhita (XVIII, 1-50), dijelaskan bahwa Gunnidhi, putra Diksita Yajñadatta telah melakukan dosa, yakni tidak kuasa menahan laparnya, mereka mengunjungi sebuah pura Śiva , pada saat itu kebetulan upacara perayaan Śivarātri sedang berlangsung. Gunanidhi sempat melihat dari luar perayaan yang berlangsung meriah itu dan tidak disadari air liurnya menetes menyaksikan berbagai jenis makanan yang dipersembahkan. Selesai upacara ternyata lampu mulai gelap, suasana pura sangat sepi karena umat yang habis melaksanakan persembahyangan, kelelahan dan langsung tertidur di halam dalam pura. Dengan langkah pelan-pelan sambil mengamati orang yang sedang tidur ia mencuri makanan yang baru dipersembahkan. Ternyata perbuatannya diketahui oleh beberapa orang umat yang tidak sengaja sempat diinjak oleh Gunanidhi, mengakibatkan orang berteriak dan lampu dinyalakan dengan terang dan Gunanidhi sempat melarikan diri. Ketika ia meninggal rohnya dijemput oleh Yamabala (tentara dewa Yama) dan bersamaan pula para Gana (tentara dewa Shiva) menjemput yang bersangkutan, terjadi tarik-menarik dan perkelahian yang berimbang dan pada saat yang bersamaan dewa Yama dan Śiva muncul di tempat itu. Pertempuran dihentikan dan dewa Śiva menjelaskan, sekalipun Gunanidhi seorang pencuri, karena pada saat itu dilakukan pada hari Śivaratri, berjasa pula membangunkan orang-orang dari tidurnya dan lampu yang tadinya tidak menyala dihidupkan kembali (Ibid, Vol.1, Part I, p.261).

Dalam Rudrasamhita pula (LVIII, dibunuhnya Dundubhi Nirhrada) dijelaskan bahwa seorang bhakta yang melaksakanakan kebaktian dengan kesujudan hati kepada Śiva, dewa dewi seluruh dewa-dewa(24), selanjutnya Śiva menyatakan: “Bila seseorang mampu melihat wujudk-Ku begini dengan Sraddha ( keimanan ) yang tulus akan dibebaskan dari penderitaan dan kesalahan (Ibid, Vol.2, Part II, p.1064).
Dalam Koti Rudrasamhita ( XII.26-28 ) dijelaskan seseorang yang bernama Sudarsana melakukan hubungan sex dengan istrinya dan setelahnya tanpa mandi terlebih dahulu kemudian melakukan persembahyangan (memuja Śiva ) pada waktu Śivarātri, dewa Śiva sangat murka kepadanya: “Kurang ajar, engkau melakukan hubungan sex saat Śivarātri, tanpa mandi terlebih dahulu engkau memuja Aku. Kamu penyembah bodoh”. Karena dosa tersebut, ayah dari Sudarsanapun mendapat celaka. Walaupun demikian dosanya, bila sepenuh hati memuja dewi Parvatì. Karena penyesalan dan ketekunannya memuja Parvatì, akhirnya sakti dewa Śiva menganugrahkan Śivagāyatrì, yang terdiri dari 16 suku kata yakni “Vamadevāya dhìmahi dhiyo yo nah pracodayat” (Ibid, p.1304).

Dijelaskan pula dalam Koti Rudrasamhita tentang keutamaan dari brata Śivarātri ini melebihi brata-brata yang lain (XXXVIII, 1-88, Ibid.,p.1422) dan dalam bagian selanjutnya (XL) dijelaskan tentang ceritra Gurudruha, yang didalam penelitiannya A. Teeuw dan kawan-kawan (1969) disebut Rurudruha (p.1431). Adapun ceritra singkatnya sebagai berikut: Pada hari Śivarātri, Gurudruha berangkat ke tengah hutan untuk melaksanakan tugas rutinnya melakukan perbuaran terhadap berbegai binatang untuk menyambung hidup keluarganya. Sayang dari pagi sampai sore, tidak seekor binatangpun yang diperolehnya.

Untuk mengindari bahaya dan mencari tempat yang aman ia pergi menuju mata air dengan maksud sambil mengintip binatang-binatang yang ke luar padamalam hari untuk meminum air. Tidak disadari ia menaiki sebatang pohon Bilva yang kebetulan di bawahnya terdapat sebuah Lingga. Ketika menjelang malam, seekor induk kijang menuju mata air dan pada saat itu Gurudruha bersiap membentangkan anak panahnya dan tanpa disadari pula, beberapa lembar daun Bilva jatuh mengenai atas Lingga. Melihat daun jatuh, induk kijangpun menoleh keatas, terkejut seorang pemburu telah siapmeleaskan anak panahnya. Induk kijang itupun segera berbicara.
“Maaf jangan dulu saya dibunuh, saya masih mempunyai bayi, kasian kalau saya tidak memberi tahu suami dan anak-anak saya yang lain. Saya senang dapat mengabdikan tubuh saya ini untuk kepentingan kehidupan anda dan keluarga. Sebentar saya datang kembali”. Pemburu itupun pada mulanya tidak percaya dan sangat terkejut terhadap kijang yang mampu berbicara seperti manusia. Pemburu sebelum mengijinkan kijang itu meminum dan meninggalkan tempat minta kepada kijang itu untuk bersumpah guna menepati janjinya. Kijang itu ternyata bersumpah dan menyatakan bahwa dirinya akan selalu menepati janji yang telah diucapkan. Pemburu itu agak lama menunggu, kira-kira menjelang tengah malam datanglah induk kijang yang jantan diikuti oleh beberapa ekor anak-anaknya.
Saat itu induknya yang betina menyerahkan diri untuk dibunuh, jantan dan anak-anaknyapun ingin ikut menyerahkan dirinya untuk dibunuh supaya dapat mengabdikan dirinya kepada mereka yang sangat kelaparan. Terjadi dialog, satu persatu induk dan anak-anak kijang itu menyerahkan dirinya untuk dibunuh, tidak disadari oleh Gurudruha, daun-daun Bilva jatuh di atas Lingga. Mendengar ucapan kijang-kijang yang sangat tulus itu, hati Gurudruha menjadi luluh dan saat yang bersamaan dewa Śiva muncul dihadapan Gurudruha yang langsung saja turun untuk bersujud. Saat itu juga kereta kadewataan turun dan ternyata kawanan kijang itu berubah menjadi dewa-dewa dan diterbangkan oleh kendaraan kadewataan itu. Setelah lenyap dari pandangannya, dewa Śiva kemudian bersabda: “Hari Gurudruha, sejak saat ini aku beri nama Guha dan pergilah kamu ke Udyogaverapura dan nikmatilah kabahagiaan yang sejati di sana. Pada saatnya Srì Rāma akan mampir di rumahmu, jadilah abdinya dan engkau pada saatnya nanti akan memperoleh kalepasan (Ibid,Vol. 3, Part III, p.1438).

  • Garuda Purana
    Di dalam ācārakhandhaa dari Pūrvakhandhaa, Adhyāya 124 (1-23) kitab Garuda Purana dijelaskan tentang Brata (Vrata) Śivarātri sebagai berikut:
    “Pada hari ke 14 paro petang (bula gelap) di antara bulan Magha dan Phalguna adalah hari yang sangat tepat untuk melaksanakan Brata Śivarātri. Seorang Bhakta (penyembah) hendaknya melek semalam suntuk dan memuja Sang Hyang Rudra. Bhakta ini akan memperoleh kesejahtraan di dunia dan keselamatan (2)”
    “Hyang Śiva hendaknya dipuja diikuti pemujaan kepada dewa Kamesvara, seperti halnya Kesava (Krsna) yang dipuja pada hari Dvadasi. Setelah melakukan pemujaan kepada-Nya, seorang Bhakta akan dapat menyebrangi neraka (3)” (Shastri, Garuda Purana,1990, Vol.1, Part I, p.373). Selanjutnya pada bagian ini juga dijumpai penggambaran seseorang yang sangat berdosa, bernama Sundara Shenaka (sering disebut Sundarasena) raja Nisada berburu ke tengah hutan, sampai kelelahan kemudian ia beristirahat di tebing sebuah danau di lereng gunung, sayang tidak seekor binatangpun yang diperoleh, kondisinya yang kelelahan dan matanya mulai mengantuk. Untuk menjaga keseimbangan dan supaya jangan tertidur, tidak sengaja ia memetik-metik daun dan melemparkannya ke bawah yang tanpa disadari pula di bawah pohon itu terdapat sebuah Lingga. Tidak berapa lama tiba-tiba anak panahnya jatuh dari busurnya dan begegaslah Sundara Shenaka turun dari pohon untuk mengambilnya dan tidak disadari pula tanangannya dapat menyentuh Lingga yang penuh dengan debu. Untuk membersihkan panahnya, iapun mengambil air dan tetesan ujung panahnya juga menetes di atas Lingga. Di sana ia secara tidak sengaja sebenarnya telah melakukan kegiatan persembahyangan memuja Lingga, demikian ia tidak tidur semalam suntuk. Ketika fajar menyingsing ia kembali pulang dan tidak berapa lama tinggal di rumahnya, iapun meninggal. Karena perbuatannya yang tidak sengaja bersama dengan anjingnya yang setia, akhirnya oleh dewa Shiva ia dijadikan salah seorang pengiring dewa Śiva (Ibid, p.376, juga Teeuw, p.168).
  • Skanda Purana
    Di dalam Skanda Purana, bagian Kedārakhandha, pada bab Mahesvarakhandha, muncul perhitungan lain dari Śivaratri dalam bentuk percakapan antara para Rsi dengan mahārsi Lomasa. Dalam percakapan itu, mahārsi Lomasa menjelaskan keutamaan Śivarātri dengan sebuah ceritra seorang pemburu Kirāta (Puskara) yang bernama Candha (73. 96-106). Ia dan istrinya adalah orang jahat, pada suatu hari pada paro petang ke-14 bulan Magha mereka berburu ke hutan dan saat menjelang malam, ia melompat ke sebuah pohon Bilva. Lapar dan haus sangat mengganggunya, di atas pohon ia berusaha tidak memejamkan mata dengan jalan melemparkan daun-daun Bilva yang dipetiknya dan kebetulan di bawah terdapat sebuah Lingga. Ia sempat berkumur dan tidak sengaja air kumurannya itu dikeluarkan (disemprotkan melalui mulutnya) dan juga mengenai Lingga itu. dengan demikian secara tidak sengaja ia sebenarnya telah melakukan pemujaan kepada dewa Śiva melalui Lingga itu. Pagi keesokan harinya, ia turun dari pohon dan pergi memancing di tepi sungai (33, l0-15).
    Karena suaminya tidak kembali pulang pada malam hari (ketika suaminya) bermalam di hutan, istrinya sangat gelisah, mungkin suaminya telah diterkam harimau atau diseruduk oleh gajah atau dipagut ular berbisa. Istrinya sangat khawatir semalam suntuk juga tidak bisa tidur. Karena sangat khawatir, iapun tidak makan dan tidak minnum sepanjang siang dan malam menunggu penuh kecemasan (33,16-24).
    Saking tidak sabarnya, sang istripun pergi ke tengah hutan untuk mencari suaminya dan ditemukan suaminya itu sedang memancing di seberang sungai. Ditinggalkannya bekal yang ia bawa, istrinya langsung saja menyebrangi sungai untuk menemui suaminya, demikian pula suaminya melakukan hal yang sama karena takut istrinya hanyut. Keduanya selamat menuju ke tepi sungai dan melakukan pemujaan bersama (sebagai rasa syukur). Setelah dilihat bekal makanan yang ditinggalkan, ternyata bekalnya itu telah dimakan habis oleh anjing buruannya. istrinya sangat marah, namun Candha tenang sekali menghadapi peristiwa itu, dan menasehati istrinya untuk tenang dan bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa serta memberi tahukan tentang Kebenaran (33,25-27).
    Saat suami istri itu terpekur, memuja keagungan Tuhan Yang Mahaesa, datanglah utusan dewa Śiva dari sorga. Vìrabhadra, komandan pasukan dewa Śiva tidak mengerti mengapa ia diperintahkan untuk menjemput suami istri pemburu ini. Dewa Shiva menjelaskan bahwa pada saat itu adalah hari yang sangat mulia, yaitu Śivaratri dan beliau sangat senang terhadap pemujaan kepada Lingga itu, walaupun tidak sengaja dan tidak terpikirkan oleh kedua orang itu. Kemudian Candha dan istrinya diperintahkan untuk naik dikendaraan dewata yang telah disiapkan diikuti oleh para Apsara, Gandharva dan Vidyādhara dan iringan gamelan sorga (33.38-64)
    Mahārsi Lomasa menjelaskan pula tentang asal terjadinya hari Śivarātri pada awal penciptaan dahulu dengan perputaran Roda Waktu, yang berakhir dengan Tithi (hari-hari bulan) dan Tuhan Yang Mahaesa (Śiva ) menganugrahkan brata utama itu. Lomasa juga menjelaskan tentang raja-raja pemabuk dan jahat seperti Vicitravìrya, Māndhatr, Dhundhunmāri, Hariscandradaya yang semuanya juga melakukan brata Śivarātri, mereka memperoleh keselamatan (33,65-101, Teeuw, l969 : 168).
  • Agni Purana
    Di dalam Agni Purana, Adhyāya 193,dinyatakan tentang pelaksanaan Śivarātri Vrata yang merupakan wejangan suci dari Sang Hyang Agni, sebagai berikut :
    “Dengarlah ! Saya akan menjelaskan brata dari Hyang Śiva yang menganugrahkan kebahagiaan dan kebebasan. Hari ke-14 pada paro petang di bulan Magha (Januari-Februari) atau Phalguna (Februari-Maret), hari yang sangat diberkahi untuk kebahagiaan. Seseorang yang ingin mengikuti brata ini hendaknya melakukan puasa dan melek semalam suntuk dengan ketetapan hati menyatakan :
    “Saya akan melakukan brata Śivarātri pada hari ini”, dan memuja Sang Hyang Śiva pada akhir brata. “Saya memuja Sang Hyang Śiva (Sambhu), yang akan menganugrahkan kebahagiaan dan kebebasan dan dengan perahu berkah-Nya menyelamatkan kami dari neraka, hamba senantiasa memuja-Mu, Om sang Hyang Śiva, Tuhan Yang Mahaesa, Engkau Yang Mahadamai menganugrahkan keberuntungan, kesehatan, pengetahuan, kesejahtraan material dan jalan menuju sorga. Ya Tuhan Yang Mahaesa, anugrahkanlah kepada kami kegembiraan dan kebahagiaan yang sejati dan kemashuran. Anugrahkan pula sorga dan Moksa”. Dengan melakukan brata yang utama ini seorang penjahat bernama Sunadaraena memperoleh kebahagiaan yang tiada taranya (Gangadharan, Vol.28,Part II, 1985 : 517).
  • Padma Purana
    Di dalam Uttarakandha, Padma Purana diceritrakan mahārsi Vasistha sedang menjelaskan tentang keutamaan Brata Śivarātri kepada mahārāja Dilìpa, dengan menceritrakan tentang seorang yang hina (Candala) bernama Nisāda, yang ceritranya sangat dekat dengan kisah Lubhdaka dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno Śivarātrikalpa, karya Mpu Tanakung. Mengingat ceritranya sangat dekat, penulis tidak menyampaikan hal tersebut lebih jauh (Teeuw, 169).

Demikian sepintas sumber-sumber kitab-kitab Purana tentang Śivaratri yang dapat kami jumpai, namun demikian sumber-sumber lainnya yang bersifat Tantrik, Śivarātri adalah Kālarātri, di samping juga Mahārātri dan Moharātri (Shastri, Śiva Purana, Vol.1, Part I, p.261). Sumber lainnya adalah Rājataramgini (Monier, 1993 : 1075), Kannas sa Rāmāyana (Vettam Mani,1989 : 731), Mahabharata / Santiparva (Sivananda, 1991 : 142) dan lain-lain.

B. Perbedaan bulan hari Śivaratri
Memperhatikan sumber-sumber ajaran Brata Śivarātri tersebut di atas dan juga pelaksanaannya di India dan di Indonesia terdapat perbedaan bulan jatuhnya hari Śivarātri itu, yakni pada hari yang sama, yaitu Caturdasi Krshnapaksa (paro petang ke-l4) bulan Magha (ke-VII) dan Phalguna (ke-VIII). Bila kita telusuri perbedaan itu, justru kita dapatkan secara tegas dinyatakan dalam sumber-sumber berikut :

  1. Garuda Purana, kitab ini secara tegas menyatakan Śivarātri dilaksanakan pada paro petang ke-14 (Caturdasi Krsnapaksa), Maghamāsa atau Phalgunamāsa, yakni bula ke VII (kapitu) dan ke-VIII (kaulu).
  2. Agni Purana, kitab ini juga secara tegas menyatakan adanya perbedaan bulan, yakni Magha (ke-VII) atau Phalguna (ke-VIII).
  3. Padma Purana, kitab ini tegas pula menyatakan adanya dua bulan yang sama untuk melaksanakan Śivarātri seperti tersebut di atas.
  4. Śivarātrikalpa, satu-satunya sumber di Indonesia, berbahasa Jawa Kuno tegas pula menyebutkan hanya pada bulan Magha (Caturdasa hireng, Maghamāsa). paro petang
    ke-14.

Selanjutnya berdasakan pengamatan kami pelaksanaan hari suci Śivaratri di India dilaksanakan pada bulan Phalguna, yang tahun ini jatuh pada tanggal 10 Februari 2021 sedang di Indonesia (Bali) adalah sesuai sumber kakawin Shivarātri tersebut di atas dan untuk tahun ini jatuh pada tanggal 12 Januari 2021. Mengapa terdapat perbedaan hari Śivarātri itu ? Bila kita kembali pada sumber, memang kitab-kitab Purana tersebut tegas menyatakan hal itu, namun demikian penulis mencoba mengkajinya melalui pendekatan geografis, karena untuk melakukan suatu kegiatan kita tidak dapat melepaskan diri dengan keadaan atau lingkungan alam kita. Mengingat kedudukan bumi India (Bharata Varsa), yakni membujur dari arah Utara, Himalaya ke Selatan sampai Kanya Kumari (Tanjung Comorin) demikian panjang dan luasnya, maka kedudukan bulan pada saat itu antara di daerah Utara dengan Selatanpun berbeda. Kiranya atas dasar geografis ini di benarkan pelaksanaan Śivarātri berbeda satu bulan, walaupun kini umat Hindu di India hampir seluruhnya melaksanakannya pada bulan Phalguna.

Photo: Google

Berbeda dengan umat Hindu di India, umat Hindu di Indonesia ( Bali ) melaksanakan Śivarātri sesuai sumber kakawin berbahasa Jawa Kuno di atas, dan pada bulan Magha (ke-VII) ini, situasinya sangat cocok dengan penggambaran seseorang pemburu yang kelaparan dan kehujanan di tengah hutan. Bagi umat Hindu di Indonesia yang kebetulan letak geografisnya di daerah katulistiwa yang membentang dari Timur ke Barat, maka bulan Magha ini adalah tepat, dan bulan mati (Tilem/Amavasya) paling gelap di antara dua belas Tilem, kiranya adalah pada Tilem Ke-VII ini.

Photo: Google

C. Keutamaan Brata Śivarātri
Walaupun sudah setiap tahun, pada hari suci Śivarātri, umat Hindu selalu merayakan hari suci ini dengan berbagai kegiatan agama seperti puasa, melakukan sambang samadhi (tidak tidur) semalam suntuk dan menyucikan diri, diskusi-diskusi atau Dharmatula tentang Śivarātri selalu dilaksanakan. Namun demikian, dalam tulisan ini dicoba pula untuk mengetengahkan keutamaan Śivarātri sebagai berikut :

Kitab Śiva Purāna menyatakan bahwa seorang bernama Bhilla yang pekerjaan- nya sebagai pemburu (suka membunuh binatang) mendapatkan anugrah dari Sang Hyang Śiva , tidak hanya berupa sorga, tetapi juga Moksa dalam tingkatan Sayujya, yakni bersatu dengan Tuhan Yang Mahaesa. Selanjutnya kitab Śiva Purana menyatakan:
“Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Śivarātri. Demikian keutamaan Brata Śivarātri, hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Śivarātri adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Śiva Purana, Koti Rudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Śivarātrikalpa menyatakan keutamaan Brata Śivarātri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Śiva sebagai berikut :
“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci (patìrthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Śivarātri ini, semua Pataka itu lenyap”.
“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Śivarātri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Shivarātri ) yang Aku sabdakan ini”
( Śivaratrikalpa, 37, 7-8).

D. Pelaksanaan Brata Śivarātri di India dan di Indonesia
Pelaksanaan Brata Śivarātri di India pada paro petang ke-14 bulan Phlaguna (Februari-Maret) hampir sama dengan di Indonesia yang dilakukan pada paro petang ke-14 bulan Magha (Januari-Februari), yakni mereka tidak tidur selama 36 jam, sembahyang ke pura-pura Sang Hyang Śiva dan pura-pura ini para Pūjari (semacam pandita atau pemangku di Bali) melakukan upacara Abhiseka Lingga, mempersembahkan Naivedya (sesajen yang umumnya terbuat dari tepung gandum , susu, buah-buah dan sari buah), dilanjutkan dengan mengucapkan/membaca doa-mantra seperti Śiva Samhitā, Śivamahimastotra, Śivasahasranāma (seribu nama Sang Hyang Śiva ) dan umat pada umumnya mengucapkan Japa Pañcāksara Śiva (Śivamahāmantra) : OM NAMAH SIVĀYA sejak pagi hingga keesokan harinya menjelang mata hari terbenam. Umat Hindu di samping melakukan Upavasa (puasa) juga melakukan Bhajan (mengidungkan lagu-lagu suci memuji keagungan Tuhan Yang Mahaesa sepanjang siang dan malam hari. Bhajan yang tiada hentinya dilakukan oleh banyak orang secara serempak dan atau bergiliran disebut Akhandabhajan dan keesokan harinya umat Hindu berduyun-duyun mandi di sungai suci seperti Gangga, Yamuna atau Patìrthan-Patìrthan terdekat.

Sebagai informasi yang akurat, kami kutipkan di sini pelaksanaan Śivarātri yang dilaksanakan di Sivananda Asram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut :

  1. Seluruh siswa dan Sanyasin melakukan puasa sepanjang siang dan malam hari tanpa minum setetes airpun.
  2. Sebuah Havan (Agnihotra) yang besar dilaksanakan untuk memohon kedamaian dan kesejahtraan seluruh umat manusia.
  3. Sepanjang hari dan malam, semua siswa dan Sanyasin melakukan Japa mengucapkan Śivamahāmantra Om Namah Sivāya.
  4. Sepanjang malam semua berkumpul di pura milik Ashram dan melakukan Japa tersebut diiringi dengan Bhajan atau meditasi.
  5. Setiap tiga perempat malam dilaksanakan pemujaan (Abhiseka) Lingga secara khusuk. (Semalam 4 kali pemujaan).
  6. Diksa kepada Sanyasin baru, juga diberikan oleh Sanyasin Guru pada hari yang suci ini.

Terdapat sedikit variasi dalam perayaan Śivarātri di India adalah hal yang wajar karena kondisi umat Hindu yang berbeda-beda.

Di Indonesia, dalam rangka standarisasi Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat telah menetapkan keputusan Seminar tentang Śivaratri yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

l. Brata Śivarātri, terdiri dari :

a. Uttama, dengan melaksanakan :
1). Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
2). Upavasa (tidak makan dan minum).
3). Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).

b. Madhyama (menengah) dengan melaksanakan :
1). Upavasa (tidak makan dan minum).
2). Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).

c. Kanistama (sederhana) dengan melaksanakan :
Hanya Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).

  1. Tatacara melaksanakan Upacara Śivaratri :
    a. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan Dharmaning Kawikon.
    b. Untuk walaka (umat pada umumnya) didahului dengan asuci laksana (menyucikan diri). Upacara dimulai dengan urutan sebagai berikut :
  2. Maprayascitta, sebagai penyucian pikiran.
  3. Mapajati , mempersembahkan sesajen ke Sanggar Surya untuk memohon persaksian kehadapan sang Hyang Sūrya.
  4. Sembahyang kehadapan leluhur yang telah mencapai Siddhadevatā, untuk memohon bantuan dan tuntunanya.
  5. Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Śiva . Banten ditempatkan pada palinggih, padmasana atau dapat pula pada piyasan di Sanggah Pamarajan. Bila semua palinggih tidak tersedia (misalnya di halaman atau ruangan terbuka) dapat membuat semacam asagan, yang dipandang wajar untuk melakukan sembahyang yang ditujukan kepada Sang Hyang Śiva dan dewata Samoddhaya. Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas Tirtha sebagai biasa.
  6. Sementara melakukan sembahyang Brata, baik Mona (Mauna), Upavasa dan Jagra tetap dilaksanakan.

Demikian antara lain brata dan pelaksanaan Śivaratri baik yang dilakukan di India maupun di Indonesia, semoga hikmah pelaksanaan brata yang utama ini dapat lebih meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan Yang Mahaesa.

E. Kesimpulan
Berdasarkkan uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Terdapat benang merah atau hubungan yang pasti antara Śivarātri di India dan di Bali (Indonesia), yakni kakawin Śivarātri di Indonesia bersumber pada kitab-kitab Purana dan Purana yang paling dekat dengan kakawib ini adalah Padma Purana.
  2. Terdapat perbedaan bulan pereayaan Śivarātri, yakni Śivarātri di India pelaksanaannya jatuh pada bulan Phalguna atau Ke-VIII (Kaulu/Februari-Maret), sedang di Indonesia pada bulan Magha atau Ke-VII (Kapitu/Januari-Februari).
  3. Perbedaan itu memang disebabkan oleh sumbernya sendiri, yakni kitab-kitab Purana Garuda Purana, Agni Purana dan Padma Purana.
  4. Adanya perbedaan bulan untuk Śivarātri dimungkinkan pula oleh letak geografis India yang membentang dari Utara ke Selatan, sedang Indonesia di tengah – tengahgaris Katulistiwa.
  5. Inti pelaksanaan upacara Śivarātri tidak jauh berbeda antara di India dengan di Bali,adanya perbedaan disebabkan pula oleh budaya pendukung dan kondisi alam atau geografis yang berbeda pula.

DAFTAR PUSTAKA
Apte, Vaman Shivram : The Sanskrit English Dictionary, Motilal Banar-
l965 sidass, New Delhi, India.


Bhattarji, Sukumari : The Indian Theogony, Motilal Banarsidass, New
1988 Delhi, India.


Dipavali Debroy,Bibek Debroy: The Bhavisya Purana, Books For All, New Delhi,India.

Ganggadharan, N. : The Agni Purana, Vol.28, Part II, Translation,
1985 Motilal Banarsidass, New Delhi, India.


Monier, Sir M. Williams : A Sanskrit-English Dictionary, Motilal Banarsi-
1993 dass, New Delhi, India.


Pendit, Njoman S. : Bhagavadgita, Ditjen Bimas Hindu dan Buddha,
1970 Departemen Agama R.I.,Jakarta.
Pudja, G. : Sarasamuccaya, Mayasari, Jakarta.

Shastri, J. L. : The Shiva Purana,Vol. 1, Part I, Motilal Banarsi-
1990 dass, New Delhi, India.
1990 : The Siva Purana, Vol.2,Part II,Motilal Banarsi-
dass, New Delhi, India.


Sivananda, Sri Swami : Fasts and Festivals of India,Divine Life Society,
1991 Sivanandanagar, Uttar-Pradesh, India.


Tagare, G.V. : The Skanda Purana, Motilal Banarsidass, New
1992 Delhi, India.


Teeuw, A. et. al. : Siwarātrikalpa of Mpu Tanakung, The Hague –
1969 Martinus Nijhoft, Liden.


Vettam Mani : Purānic Encyclopaedia, Motilal Banarsidass,
1989 New Delhi, India.


Wilkin, W.J. : Hindu Mythology, Rupa & Co, New Delhi,
1975, India


——- : Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap
1989 Aspek-Aspek Agama Hindu (I-XV), Pemerintah
Daerah Tingkat I Bali, Denpasar.

Oṁ Swastyastu

Pañca Aksara terdiri dari :
Maheswara/mahesora di Tenggara dengan aksara suci “Na”
Rudra/Ludra di Barat Daya dengan aksara suci “Ma”
Sangkara di Barat Laut dengan aksara suci “Si”
Sambu di Timur Laut dengan aksara suci “Wa”
Siwa di Tengah dengan aksara suci “Ya”

Oṁ ṇāgendra-ḥārāya ṭri-ḻocanāya
hasma-āngga-rāgāya ṁaheśvarāya
ṇityāya ṣuddhāya ḍig-āmbarāya
ṭasmai ṇakārāya ṇamah ṣivāya

Hamba bersujud kepada Dewa Mahesvara – yang memiliki karangan bunga ular di leher; yang memiliki tiga mata; tubuh yang ditutupi dengan abu (vibhuti); yang abadi; yang murni; yang memiliki seluruh langit sebagai busana-Nya dan yang disimbolkan sebagai huruf pertama  Na.

Oṁ ṁandākinī-ṣalila-andana-arcitāya ṇandi-īśvara-pramatha-ṇātha-ṁaheśvarāya ṁandāra- puspa-bahu-puspa-ṣu-pūjitāya
ṭasmai ṁakārāya ṇamah ṣivāya

Hamba memuja Dewa Mahesvara, yang diwujudkan sebagai Makaara (huruf Ma), yang tubuhnya dibasahi air suci dari sungai Gangga  dan Abu Cendana, yang merupakan salah satu dewa Tri Murti  dan yang dihiasi dengan bunga-bunga ilahi yang tak terhitung banyaknya seperti  Mandāra.

Oṁ ṣivāya ġaurī-vadana-ābja-vrnda-ṣūryāya
ḍakssa-ādhvara-ṇāśakāya
ṣrī-ṇīlakanntthāya vrssa-ḍhvajāya
ṭasmai ṣikārāya ṇamah ṣivāya

Hamba menghaturkan puja kepada Dewa Siwa, sebagai matahari yang menyebabkan bunga teratai mekar, penghancur ritual pengorbanan Daksa, Dewa yang berleher biru (nilakanttha) dan menggunakan kulit harimau dan yang simbolkan sebagai huruf Si.

Oṁ vaśistha-khumbhodbhava-ġautama-
ārya-ṁūni-īndra-ḍeva-āarcita-ṣekharāya
candra-āarka-vaiśvānara-ḻocanāya
ṭasmai vakārāya ṇamah ṣivāya

Hamba bersujud di hadapan Dewa Shiva, yang disembah dan dipuja oleh para orang  suci seperti Vashishta, Agastya dan Gautama, yang matanya bagai matahari, bulan dan api dan yang disimbolkan sebagai Vakāra (huruf Va).

Oṁ yajña-ṣvarūpāya jattā-ḍharāya
pināka-ḥastāya ṣanātanāya
ḍivyāya ḍevāya ḍig-āmbarāya
ṭasmai yakārāya ṇamah ṣivāya

Hamba bersujud kepada Dewa Shiva yang merupakan inkarnasi Yaksa, yang rambut panjang dan ikal, yang memegang Pinaaka (trisula) di tangan-Nya, yang memiliki seluruh langit sebagai pakaian-Nya dan yang diwujudkan sebagai huruf Ya.

Oṁ pancākssaram-īdam punnyam yah patthe-ṣiva-ṣamnidhau
ṣivalokam-āvāpnoti ṣivena ṣaha ṁodate

Siapa saja mengulangi doa ini terdiri dengan lima aksara suci Dewa Siwa, maka akan mencapai tempat tinggal tertinggi Nya (ṣivaloka) dan menikmati karunia yang kekal.

Oṁ Śāntih Śāntih Śāntih Oṁ

⚘ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Desa Adat Subaya merupakan satu Desa Bali Mula di Kecamatan Kintamani, dan pada Hari Selasa, 12 Januari 2021 akan mengadakan upacara Ngusaba Sambah yang dilaksanakan bersamaan setelah upacara Ngusaba Desa, upacara ini jatuh tepat pada Sasih Kapitu yang dilaksanakan di Penataran Agung Pura Bale Agung.

Dalam rangkaian upacara Ngusaba Sambah ada satu hal yang menjadi pembeda dari upacara lain yaitu ada Sanggah atau tempat pemujaan kepada Ida Bhatara Ratu Ayu Tegeh Pangubengan yang dibuat di atas ayunan besar terbuat dari bambu, tali rotan, dan kayu dadap tis, yang dipasang di Jaba Tengah Pura Bale Agung.

Menurut Penuturan Jero Peduluan Desa, Ayunan tersebut dibuat tidak sembarangan namun ada beberapa proses yang harus di lewati agar ke sakralannya tetap terjaga.

Upacara pembuatannya juga disebut Ngeramon Sanggah yang dilakukan setelah upacara Ngeramon Dangsil Pasek. Bahkan tinggi dari tiang bambunya mencapai ketinggian 12 sampai 15 meter.

Dibuatnya ayunan besar tersebut adalah rangkaian dari upacara Ngusaba Sambah yang disebut ngeramon sanggah. Hal ini dilakukan selama 3 hari oleh krama, namun ada beberapa harus dikerjakan dengan diawali oleh Paduluan Desa seperti menanam tiang penyangga alias tungked dan pembuatan tali anyaman yang dipakai mengikat ayunan setelah itu baru bisa dilanjutkan oleh krama.

Tahap pertama pembuatan ayunan diawali dari mencari hari baik untuk menanam dua batang tiang panjang yang disebut pemeneng dari sanggah yang terbuat dari batangan bambu Bali, tahap selanjutnya baru dipasang dua batang bambu petung yang menempel dengan dua tiang utama yang berfungsi sebagai tungked, setelah itu selesai selanjutnya baru di masing-masing pojok dipasang bambu petung dengan total empat batang yang berfungsi sebagai penyemah atau penyangga. Kemudian di Sebelah Utara dan Selatan diberikan sepasang bambu petung lagi yang berfungsi sebagai penunjang dan di tengah-tengah diisi tangga agar bisa naik menuju sanggah tempat Ida Bhatara Ayu Tegeh Pangubengan distanakan, proses terakhir pembuatan ayunan yang dibuat dari kayu dadap tis.

Semua rangkaiannya dimulai dengan menghaturkan mapejati sebelum dilanjutkan manam tiang utama yang harus dilakukan Paduluan Desa kemudian baru dilanjutkan oleh krama. Masing-masing bambu memiliki nama sekaligus fungsi masing-masing ada yang disebut pemeneng, tungked, penyemah, dan penunjang, itu semua dibuat selama 3 hari secara gotong royong oleh krama.

Terkait bahan yang digunakan untuk membuat Sambah ini semuanya berasal dari alam seperti bambu Bali yang dulunya bahan utama yang dipakai oleh para Pangelingsir namun karena ukurannya yang lebih kecil dari bambu petung maka dirasa kurang kuat jika dipakai untuk menahan beban sanggah diatas jadi diputuskan untuk memakai dasar awal bambu Bali kemudian sisanya dipakai bambu petung agar tidak mengurangi makna dari bahan utama.

Kemudian ayunan yang tebuat dari tali rotan tanpa di belah dua agar kuat untuk menahan beban dari papan ayunan yang terbuat dari bahan kayu dadap tis yang dipercaya sebagai kayu suci atau kayu sakti, nantinya dipapan ini akan diisi dengan hasil bumi yang ada di Desa Subaya. Semua hasil bumi, kayu dapdap tis dipercaya sebagai kayu suci.

Setelah selesai melaksanakan proses Ngeramon Sanggah selama tiga hari barulah dilakukan upacara Nguntap atau menghadirkan (ngodal) Ida Ratu Ayu Tegeh Pangubengan yang berstana di Pura Pengubengan. Di saat bersamaan juga dilakukakan ngodal Ida Bhatara yang berstana di Pura Pamujaan setelah dilakukan ngodal di kedua pura, kemudian Ida Bhatara dipundut menuju menuju ke Pura Bale Agung untuk di tempatkan di Sanggah yang ada di atas ayunan.

Setelah Ida sudah berada di Sanggah baru dipersembahkan rayunan lan canang raka oleh krama. Kemudian kesokan harinya kembali dilakukan upacara mengundang atau ngulapin Ida Bhatara di Pura Puseh, Pura Dang, dan Ida Bhatara di Khayangan Tiga masing-masing setelah proses selesai kemudian Ida Bhatara dipundut ke Sanggah ini, Setelah semua sudah berstana di atas barulah diberikan persembahan ajengan rayunan setelah itu baru diberikan persembahan tarian dari masing pragina dan sampai pada puncak acara.

Dalam pelaksanaan selama upacara ada beberapa aturan dan juga pantangan yang harus diikuti oleh krama seperti Ayunan sendiri bisa dipakai setelah upacara puncak selesai dengan dimulai pertama oleh Paduluan Desa kemudian dilanjutkan oleh Mangku Ali, baru setelah itu dibebaskan untuk siapapun. Untuk pantangannya sebelum upacara berlangsung ayunan tidak boleh dipakai atau dinaiki karena hal tersebut akan mengurangi kesucian ayunan, namun jika dipakai selama satu hari setelah puncak diyakini kalau ada krama memakai ayunan bahkan sampai jatuh tidak akan terjadi apa-apa terhadap krama tersebut.

Bahkan hal ini wajib bagi seluruh krama termasuk bayi walaupun tak mau berayun. Setidaknya menyentuh pun tidak apa karena diyakini agar tidak terjadi apa kepada bayi tersebut. Tapi jika lewat dari satu hari setelah puncak bahkan sampai semua dibongkar kembali ada krama menggunakan ayunan maka dipercaya akan mendatangkan marabahaya, atau akan ada kejadian tertentu terhadap krama tersebut hal ini karena Ida Bhatara di percaya tidak memberikan izin. Demikianlah aturan dan pantangannya, kemudian setelah krama Subaya selesai menggunakan ayunan tersebut, siapapun bisa mencoba ayunan ini termasuk krama yang bukan asli disini.

Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Sudarma

Balimula

GamaBali

KearifanLokal

LokalGenius

Oeh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Maharsi Manu yang disebut sebagai peletak dasar hukum digambarkan sebagai orang yang pertama memperoleh mantra dan mengajarkan mantra itu kepada umat manusia dan menjelaskan hubungan antara mantra dengan objeknya, demikianlah mantra merupakan bahasa ciptaan yang pertama. Mantra-mantra digambarkan sebagai bentuk yang sangat halus atau badan halus dari sesuatu, bersifat abadi, bentuk formula yang tidak dapat dihancurkan yang merupakan asal dari semua bentuk yang tidak abadi. Bahasa yang pertama diajarkan oleh Manu adalah bahasa yang awal dari segalanya, bersifat abadi, penuh makna. Bahasa Sanskerta diyakini sebagai bahasa yang langsung berasal dari bahasa yang pertama, sedang bahasa-bahasa lainnya dianggap perkembangan dari bahasa Sanskerta.

Sebagai asal atau bahasa yang benar yang merupakan ucapan suci yang digunakan dalam pemujaan disebut mantra. Kata mantra berarti “bentuk pikiran”. seseorang yang mampu memahami makna yang terkandung di dalam mantra dapat merealisasikan apa yang digambarkan di dalam mantra itu. Bentuk abstrak yang dimanifestasikan itu berasal diidentikkan dengan para dewa (devata). Mantra merupakan sifat alami dari dewa-dewa dan tidak dapat dipisahkan (keduanya) itu. Kekuasaan para dewa merupakan satu kesatuan dengan nama-Nya, aksara suci dan mantra, yang menjadi kendaraan gaib yang dapat menghubungkan penyembah dengan devata yang dipuja. Dengan mantra yang memadai mahluk-mahluk halus dapat dimohon kehadirannya. Mantra, oleh karenanya merupakan kunci yang penting dalam aktivitas ritual dari semua agama dan juga digunakan dalam aktivitas bentuk-bentuk magic.

“Sesungguhnya, tubuh devatā muncul dari mantra atau bijamantra” (Yāmala Tantra).

Masing-masing devata digambarkan dengan sebuah mantra yang jelas, dan melalui bunyi-bunyi yang misterius arca dapat di sucikan dan arca tersebut menjadi ‘hidup’. Demikianlah kekuatan sebuah mantra yang menghadirkan devatà dan masuk ke dalam arca. Sebagai benang penghubung dunia yang berbeda, jembatan dari yang berbeda, mantra-mantra adalah instrument, melalui mantra itu dapat dicapai sesuatu di luar kemampuan persepsi.

“Sebuah mantra, dinamakan demikian karena membimbing pikiran (manana) dan hal itu merupakan pengetahuan tentang alam semesta dan perlindungan (trāna) dari perpindahan jiwa, dapat dicapai” (Pinggala Tantra). “Disebut sebagai sebuah mantra karena pikiran terlindungi ” (Mantra Mahārnava, dikutip oleh Devarāja Vidyā Vācaspati, “Tantra men Yantra aur Mantra”.

Persepsi yang pertama tentang sebuah mantra selalu ditandai sebagai hubungan langsung antara umat manusia dengan dewa. Mantra diperoleh pertama kali oleh seorang Rsi. “Karenanya seorang rsi adalah yang pertama merapalkan mantra” (Sarvanukramani). Selanjutnya mantra ditegaskan dengan karakter matrik (irama) dihubungkan dengan karakter garis-garis lurus berkaitan dengan yantra; kenyataan ini merujuk kepada sesuatu yang dimiliki oleh mantra. Mantra menggambarkan devata tertentu yang dipuja dan dipuji; “mantra itu membicarakan devatā” (Sarvānukramanì). Selanjutnya pula, seseorang melakukan tindakan dan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan mantra itu. Unsur-unsur bunyi digunakan dalam semua bahasa untuk membentuk “ucapan suku kata” atau varna-varna yang dibatasi oleh kemampuan alat-alat wicara manusia dan kecerdasan membedakannya melalui pendengaran. Unsur-unsur ini adalah umum dalam setiap bahasa, walalupun umumnya bahasa-bahasa itu adalah sebuah bagian dari padanya.

Unsur-unsur bunyi dari bahasa sifatnya sungguh-sungguh permanent, bebas dari evolusi atau perkembangan bahasa, dan dapat diucapkan sebagai sesuatu yang tidak terbatas dan abadi. Kitab-kitab Tantra melengkapi hal itu sebagai eksistensi yang bebas dan digambarkan sebagai yang hidup, kekuatan kesadaran bunyi, disamakan dengan dewa-dewa. kekuatan dasar dari bunyi (mantra) berhubungan dengan semua lingkungan dari manifestasinya. Setiap bentuk dijangkau oleh pikiran dan indria yang seimbang dengan pola-pola bunyi, sebagai sebuah nama yang alami. Dasar mantra satu suku kata disebut sebagai bìjamantra atau vijamantra (benih atau bentuk dasar dari pikiran).

Mantra disusun dengan menggunakan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedang huruf-huruf itu sebagai perlambang-perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan ‘svara’ atau ritme, dan varna atau bunyi. Mantra mempunyai getaran atau suara tersendiri, karena itu apabila diterjemahkan ke dalam bahasa lain, mantra itu tidak memiliki warna yang sama, sehingga terjemahannya itu hanya sekedar kalimat. Mantra itu mungkin jelas dan mungkin pula tidak jelas artinya.

Vija (vijāksara) mantra seperti misalnya Aim, Klim, Hrim, tidak mempunyai arti dalam bahasa sehari-hari. Tetapi mereka yang sudah menerima inisiasi mantra mengetahui bahwa artinya itu terkandung dalam perwujudannya itu sendiri (svarupa) yang adalah perwujudan devatā yang sedemikian itulah mantra-Nya, dan bahwa vija mantra itu adalah dhvani yang menjadikan semua aksara memiliki bunyi dan selalu hadir di dalam apa yang diucapkan dan yang didengar, karena itu setiap mantra merupakan perwujudan (rupa) dari Brahman. Dari manana atau berpikir didapatkan pengertian terhadap kesejatian yang bersifat Esa, bahwa substansi Brahman dan Brahmānda itu satu dan man yang sama dari mantra datang dari suku pertama manana, sedangkan tra berawal dari trāna, atau pembebasan dari ikatan samsāra atau dunia fenomena ini. Dari kombinasi man dan tra itulah disebut mantra yang dapat memanggil datang (amamtrana) catur varga atau 4 tujuan dari mahluk-mahluk luhur. Sekedar doa berakhir dengan kehampaan terkecuali ucapan-ucapan saja, mantra adalah daya kekuatan yang mendorong, ucapan berkekuatan (yang buah dari padanya disebut mantra-siddhi) dan karena itu sangat efektif untuk menghasilkan catur varga, persepsi kesejatian tunggal, dan mukti, karena itu dikatakan bahwa siddhi merupakan hasil yang pasti dari Japa. Dengan mantra dewata itu dicapai (sadhya). Dengan siddhi yang terkandung di dalam mantra itu terbukalah visi tri bhuvana.

Tujuan dari suatu puja (pemujaan), patha (pembacaan), stava (himne), homa (pengorbanan) dhyana (kontemplasi) dan dharana (konsentrasi) dan samadhi adalah sama. Namun yang terakhir, yaitu diksa mantra yang paling kuat. Di dalam puja, patha dan sebagainya yang bekerja hanyalah sadhana sakti dari seorang sadhaka saja, sedangkan pada waktu merapalkan dìksa mantra, sadhana sakti bekerja bersama-sama dengan mantra sakti yang memiliki daya revelasi dan api dan dengan demikian lalu memiliki kekuatan yang luar biasa. Mantra khusus yang diterima ketika diinisiasi (diksa) adalah vija mantra, yang ditabur di dalam tanah nurani seorang sadhaka. Terkait dengan ajaran tantra seperti sandhya, nyasa, puja dan sebagainya merupakan pohon dari cabang-cabang, daun-daunnya ialah stuti, vandana bunganya, sedangkan kavaca terdiri atas mantra adalah buahnya.

Nitya Tantra menyebutkan berbagai nama terhadap mantra menurut jumlah suku katanya. Mantra yang terdiri dari satu suku kata disebut Pinnda, tiga suku kata disebut Kartari. Mantra yang terdiri dari empat sampai sembilan suku kata disebut Vija mantra. Sepuluh sampai dua puluh suku kata disebut Mantra, dan mantra yang terdiri lebih dari 20 suku kata disebut Mala. Tetapi biasanya istilah Vija diberikan kepada mantra yang bersuku kata tunggal. Mantra-mantra Tantrika disebut Vija mantra, disebut demikian karena mantra-mantra itu merupakan biji dari buah yang ditak lain adalah siddhi, dan mantra-mantra Tantrika itu adalah saripatinya mantra. mantra-mantra Tantrika pada umumnya pendek, tidak bisa dikupas lagi secara etimologi, seperti misalnya Hrim, Srim, Krim, Hum, Am Phat dan sebagainya, dan mantra-mantra ini banyak ditemukan di dalam teks.

Setiap devata memiliki vija. Mantram primer satu devata disebut mula mantra. kata mula berarti jasad super halus dari devata yang disebut Kamakala. Mengucapkan mantra dengan tidak mengetahui artinya atau mengucapkan tanpa metoda tidak lebih dari sekedar gerakan-gerakan bibir. Mantra itu tidur. Beberapa proses harus dilakukan sebelum mantra itu diucapkan secara benar, dan proses-proses itu kembali menggunakan mantra-mantra, seperti usaha penyucian mulut (mukhasodhana), penyucian lidah (jihvasodhana), dan penyucian terhadap mantra-mantra itu sendiri (asaucabhangga), kulluka, nirvana, setu, nidrabangga (membangunkan mantra), mantra chaitanya atau memberi daya hidup kepada mantra dan mantrarthabhavana, yaitu membentuk bayangan mental terhadap devata yang menyatu di dalam mantra itu. Juga terdapat 10 samskara terhadap mantra itu. Mantra tentang devata adalah devata itu sendiri.

Getaran-getaran ritmis dari bunyi yang dikandung oleh mantra itu bukan sekedar bertujuan mengatur getaran yang tidak teratur dari kosa-kosa seorang pemuja, tetapi lebih jauh lagi dari dengan dan irama mantra itu muncul perwujudan devata, demikianlah kesejatiannya. Mantra siddhi ialah kemampuan untuk membuat mantra itu menjadi efektif dan menghasilkan buah, dalam hal itu mantra itu disebut mantra siddha.

Tidak terhitung jumlahnya mantra. Semua sabda Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda adalah mantra. Walaupun demikian banyak jumlahnya, mantra-mantra itu dapat dibedakan menjadi 4 jenis sesuai dengan dampak atau pahala dari pengucapan mantra, yaitu:

1. Siddha, yang pasti (berhasil).

2. Sadhya (yang penuh pertolongan)

3. Susiddha (yang dapat menyelesaikan)

4. Ari, musuh (Visvasara Tantra).

“Siddhamantra memberikan pahala langsung tidak tertutupi dengan waktu tertentu. Sadhyamantra berpahala bila digunakan dengan sarana tasbih dan persembahan (ritual). Susiddhamantra, mantra tersebut pahalanya segera diperoleh, dan Arimantra, menghancurkan siapa saja yang mengucapkan mantra tersebut ” (Mantra Mahodadhi, 24,23).

Mantra-mantra tersebut akan berhasil (siddhi) sangat tergantung pada kualitas (kesucian) dari pemuja, dalam hal ini orang yang mengucapkan mantra tersebut. Ada tiga kualitas mantra, yaitu:

1). Sattvika Mantra, yaitu: mantra yang diucapkan untuk pencerahan rohani, sinar kebijaksanaan, mendapatkan kasih sayang Tuhan yang tertingi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan.
2). Rajasika Mantra, yaitu: mantra yang diucapkan untuk mendapatkan kemakmuran duniawi.
3). Tamasika Mantra, yaitu: mantra yang diucapkan untuk menyeimbangkan kekuatan Bhuta dan menghancurkan ilmu hitam, mantra yang meiliki sifat penghancur (black magic).

Tata cara mengucapkan mantra secara umum ada tiga cara, yaitu:

1). Vaikari, yaitu: mengucapkan mantra dengan suara keras sehingga dapat didengar oleh orang lain, biasanya digunakan dalam kegiatan pemujaaan umum. Secara individu cara pengucapan mntra dengan Vaikari sangat baik jika seorang sadhaka merasa TAKUT jika berada sendirian ditempat sunyi, gelap. Karena pengucapan mantra dengan nada keras dapat memecah energi negatif yang diakibatkan oleh kekuatan atau pengaruh alam yang tidak bagus. Dalam hal utuk peningkatan kualitas spiritual, menurut beberapa sumber pengucapan mantra seperti ini memiliki kekuatan 10 kali.
2). Upamsu, yaitu; Mengucapkan mantra dengan cara berbisik-bisik atau mendesis (ngregep), sehingga hanya didengar oleh diri sendiri, pengucapan mantra dengan cara ini dpat memberikan dampak KAVACA atau perlindungan kepada sadhaka dari gangguan dunia luar seperti rasa dingin, ngantuk, termasuk binatang seperti semut dan nyamuk. Oleh para Waskita (tantrika) sering digunakan dalam dunia mistik untuk meramu obat dan membuat jimat. Dalam hal peningkatan kualitas spiritual pengucapan mantra dengan cara Upamsu memiliki kekuatan 100 kali.
3). Manasika, adalah mantra yang diucapkan dalam hati (bhatin), pengucapan mantra dengan cara ini sangat baik dipakai untuk mengucapkan mantra-mantra rahasia, Manasika mantra memiliki kekuatan yang paling besar untuk meningkatkan kualitas spiritual sadhaka. Biasanya dipakai pada sat bermeditasi.

Mantra dapat bersumber dari Veda (Sruti) maka disebut Vedik Mantra mantra yang bersumber dari Smrti seperti Purana, maka disebut Puranik Mantra, Dan Mantra yang bersumber dari kitab-kitab Tantra atau agama, termasuk dari Nibandha (lontar-lontar), maka disebut Tantrika Mantra.

Dari segi kualitas pengucapan mantra memiliki tiga fungsi, yaitu:

1). Produktif, adalah mantra yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas spiritual/kesucian sadhaka, untuk mendoakan kesejahteraan, kedamaian alam semesta.
2). Protektif, adalah mantra yang difungsikan untuk memberikan perlindungan baik kepada sadhaka maupun bagi orang lain.
3). Destruktif Positif, adalah mantra yang berfungsi untuk menghancurkan segala kekuatan jahat.
4). Destruktif Negartif, adalah mantra yang dipakai untuk mencelakakan orang lain.

Sebuah mantra akan memiliki kesiddhian atau dapat mengantarkan seoarang sadhaka kepada hakekat Mantra tersebut, jika memenuhi syarat-syarat:

1). Sraddha; seorang sadhaka memiliki keyakinan yang kuat terhadap manfaat mantra yang diucapkannya.
2). Sadhana, seoorang sadhaka memiliki disiplin yang tinggi terhadap mantra yang dipilih sebagai bentuk disiplin kerohanian.
3). Bhakti; setiap sadhaka memiliki rasa hormat terhadap mantra yang diucapkan artinya tidak melecehkan mantra tersebut. (Aja wera)
4). Chanda, seoarang sadhaka harus memahami dan menguasai lagu atau melodi mantra yang diucapkan termasuk pemenggalan mantra, karena jika mantra salah ucap atau salah penggal akan memiliki makna dan maksud yang berbeda.
5). Kriya, seoarang sadhaka harus mamahami dan menghayati arti atau makna mantra yang diucapkan. Mantra yang diucapkan tanpa mengetahui arti, makna dan maksudnya ibarat berjalan di dalam gua yang gelap dengan memejamkan mata.

Demikian tulisan singkat ini, dengan harapan dapat menambah keyakinan, kasanah wawasan kita kepada Tuhan, dan untuk menepis anggapan bahwa mantra selalu dikaitkan dengan hal yang berbau mistik dan klenik.

Om Santih Santih Santih Om

“Hari yang indah tidaklah datang karena hal-hal baik saja. Hari yang indah adalah saat kita menjalankan semua hal dengan melakukan yang terbaik

Mutiara Dharma: Hari Yang Indah

” The wonderful day is not only come from the something good. The wonderful day is when we doing those best”. (I Wayan Sudarma)

“Hati Nurani kita adalah Mahakarya dan Karunia terindah Tuhan, jangan biarkan Hati kita sering Korsleting dan Nge-Hang walau mesti menghadapi tak terbilang permasalahan”. (I Wayan Sudarma)

Mutiara Dharma

“Jadilah seperti pohon di hutan. Burung datang ke pohon, hinggap di dahan dan makan buah. Bagi burung, buahnya mungkin manis atau asam atau lainnya. Tetapi pohon itu tidak mengetahui apapun. Burung itu berkata manis atau berkata asam, tetapi dari sudut pandang pohon itu, hal ini hanyalah celoteh burung.” (I Wayan Sudarma)

Om Swastyastu

Ini kisah lama tentang seorang wanita remaja yang baru saja memerah susu dari sapinya. Setelah beberapa lama, ia mendapatkan susu hingga sekendi penuh.

Maka ia berjalan menyusuri pematang dan jalan setapa di desa. Ia hendak ke pasar menjual susu sapinya.

Sepanjang jalan ia tersenyum. Membayangkan apa yang akan dibelinya dengan uang hasil sekendi susu itu.

Terbayang kemben baru yang akan menutupi tubuhnya. Indah pasti dalam lirikan para remaja pria. Gemerincing gelang tangan akan menambah daya tarik pada dirinya.

Ia memandang langit cerah. Membayangkan secerah itulah senyumnya nanti saat melenggang di depan tatap banyak orang.

Tapi ia lupa memandang langkahnya di bumi. Maka saat kakinya menginjak kerikil lepas, tergelincirlah ia. Menggelinding jatuh ke selokan di tepi pematang.

Sekendi susu itu lenyap terbawa pergi air di selokan. Larut memutihkan air keruh. Lalu lenyap bersama mimpi masa depannya.

Ia menatap langit yang kini tersaput mendung. Gerimis turun seperti berkata;

“Masa depan boleh kau mimpikan. Tapi masa kini adalah jalan yang mesti kau hadapi dengan waspada dan penuh kesadaran.”

Sorga nan Indah yang kita idamkan ada di sini-di bumi ini-saat ini. Harmoni dengan Semesta Kehidupan niscaya akan menghadiahi kita segala bentuk Sukacita.” (Mutiara Dharma)

Tiba-tiba pesan itu mengingatkan:

Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Sudarma