Om Swastyastu

Sering kali kita merasa tak berdaya, tapi kita selalu dapat berdoa. Berdoa untuk orang lain bukan saja merupakan kehormatan, melainkan juga kewajiban yang sungguh-sungguh mesti diulang dan ditaati.

Dengan doa; jika kita berbicara tentang orang yang kita benci, akhirnya api panas dari kebencian di dalam diri kita akan dipadamkan lalu kita akan mulai melihat orang itu dengan pandangan roh Tuhan sehingga kita dapat mengatakan, Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha- ‘Tuhan, ampunilah mereka, dan sempurnakanlah hidupnya’

Bila kita berdoa untuk mereka yang kita kasihi dan yang memerlukan pertolongan, kita mengembangkan pengharapan dengan kekuatannya yang senantiasa bertahan sepanjang hidup kita.

Bila anak kita sakit, kita akan merasa lega jika dokter datang karena kita tahu bahwa ia dapat berbuat sesuatu bagi anak kita. Dan bila kita membawa seseorang yang membutuhkan pertolongan ke dalam tangan Tuhan, kita akan merasakan damai dalam hati kita, sebab berdoa untuk orang lain berarti menolong diri kita sendiri.

Om Sarve Bhavantu Sukhinah-Om Hyang Widhi Semoga semua mahluk berbahagia. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

By: I Wayan Sudarma

Advertisements

Om Swastyastu
Dalam menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam semesta, selalu ada proses memberi dan menerima antara individu satu dengan lainnya. Dalam konsep ajaran Hindu, antara memberi dan menerima tiada yang lebih tinggi posisinya. Yang menerima juga tengah membuka ruang bagi orang lain untuk berbagi apa yang dimiliki. Pada setiap fase Hidup, setiap orang pasti pernah berada pada posisi memberi, dan pada fase lainnya ia menerima dari orang lain. Kehidupan sesungguhnya adalah siklus antara memberi dan menerima.

Hindu menempatkan “kemampuan memberi” sebagai sesuatu yang Agung karena merupakan pengejawantahan Yajña itu sendiri. Bagi mereka yang kikir dan pelit tentu kegiatan memberi bisa menjadi sedemikian sulit dan rumit. Karena baginya, memberi sama artinya mengurangi jatah kemakmurannya. Baginya tak ada istilah gratis-semua harus return dan memberikan keuntungan berlipat.

Namun tidak demikian bagi mereka yang telah menyadari hakikat kehidupan ini. Bahwa “memberi” adalah cara jitu baginya untuk mengurangi keterikatan, kemelekatan dan rasa kepemilikan-karena sejatinya tidak ada hal yang benar-bemar menjadi miliknya seutuhnya. Ia justru menyadari disaat memberi sesungguhnya ia sedang menerima tak berhingga karunia-karunia yang lainnya. Makanya tak salah Vedanta menegaskan demikian: “di saat memberi adalah di saat menerima.”

Dengan memberi bukan saja kita akan disayangi oleh orang lain, alampun akan memeluk kita dengan mesra penuh keamanan dan kenyamanan demikian juga karunia Hyang Widhi akan mengalir bagaikan aliran sungai Gangga.

“Sekecil apapun pemberian yang kita bisa dedikasikan penuh bhakti di jalan dharma-ia akan menjadi mulia, utama dan istimewa pada mereka yang menerima.” (Catatan harian Jero Mangku Danu)

Adalah suatu anugerah dan kebahagiaan tatkala kita bisa memberi dan memberi. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

💙 I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Wong Ndeso :
“Penak dadi wong kota…..
opo-opo ono, mall cedak, dalane alus.”

Wong Kota :
“Penak piye ? Mangkat kerjo macet, mulih kerjo macet. Malem minggu macet, tanggal nom macet, parkir gak iso sembarangan lan mesti mbayar. Neng ndeso lalu-lintas lancar, parkir bebas lan gratis.

Sing penak ki dadi pegawai hotel. Lingkungane mewah, ber AC, makanane mewah dan terjamin.”

Pegawai Hotel:
“Penak apane ? Yen musim liburan malah ora iso liburan. Yen sepi gak oleh extra penghasilan. Sing penak ki dadi pedagang…”

Pedagang :
“Penak apane ? Barang sak warung utangan kabeh, Nek ono suloyone kedunan rego biso-biso bangkrut.
Penak ki dadi Pegawai Negeri,
kabeh-kabeh ngajeni…
Ketemu tonggo : Monggo Pak… monggo Bu…
Tanggal nom mesti gajian.”

Pegawai Negeri:
“Penak apane ?
Iyo tanggal nom gajian, tanggal tuwek totalan….Gajine “jerman” di jejer wis ora uman. Sing penak iku yo dadi Pak Lurah.. Neng endi-endi ketemu rakyate…
Monggo Pak Lurah !!!
Yen jagong/kondangan manggone ngarep dhewe.
Saben dino entuk punjungan/berkat.”

Lurah:
“Penak apane ? oRa nyucuk karo modale….Sawah didol, mobil didol nggo nyalon…Gajine ora nutup, saben dino jagongan. Sing enak yo dadi DPR.”

DPR :
“Penak apane dadi DPR ?
Ora cucuk karo modale, duwit entek nggo kampanye…Bareng dadi gak iso obah blas…Ono proyek sithik wae di penthelengi KPK…

Luwih penak yo dadi tukang cukur, iso ngongkeki sirahe wong akeh, sirahe pak camat, bupati… presiden diongkak-ongkek sirahe yo podo meneng wae.”

Tukang Cukur :
“Penak apane ?salah
Nek potongane opo meneh kesilet sirahe gocer, sing cukur muring-muring sesasi ra meneng.😅

Tibak-e kabeh ora ono sing penak.
Anggere isih urip yo isih MUMET, PUSING, NGELU, BINGUNG…
mergo kabeh mau gathuke wong urip…

TERUS KON KUDU yo opo…???

Monggo dulur, menikmati peran kita masing-masing.
Apa pun pekerjaan kita… NIKMATILAH dan SELALU BERSYUKUR,
BERSYUKUR dan
BERSYUKUR…

Salam Seduluran, jangan lupa bahagia dan selalu bersyukur…
😊😊😊

Om Santih Santih Santih Om

💙 I W. Sudarma

Om Swastyastu

Kematian merupakan Bab Kesimpulan Akhir dari “Buku Perjalanan” manusia di dunia ini. Orang-orang yang berada jauh dari sentuhan ajaran-ajaran suci Veda tidak akan mengerti rahasia kematian dan mereka tidak akan memiliki pengetahuan tentang bagaimana serta apa yang harus dilakukan pada mereka yang meninggal.

Pada kebanyakan umat Hindu kita di Bali khususnya, perlu diadakan penyuluhan oleh yang berwenang memberikan penyuluhan. Paling tidak, bagi mereka yang ingin melihat upacara kematian diselenggarakan dengan cara lebih baik dari sebelumnya, dari apa yang sudah ada. Mereka dapat memberikan contoh bagaimana melaksanakan upacara kematian yang lebih baik dalam jalan Dharma.

Upacara kematian di dalam ajaran suci Veda dinamakan Antyeṣṭi, Agni-kriyā, Antya-kriyā, Antima-saṁskāra, Śava-saṁskāra, Daha-saṁskāra, dan sebutan lainnya. Kata Antyeṣṭi biasanya paling dikenal oleh umat Hindu secara umum di India, sama seperti kata Ngaben di Bali. Kata antyeṣṭi berasal dari kata antya (terakhir) dan iṣṭi (persembahan yajña). Antyeṣṭi berarti persembahan yajña terakhir bagi mereka yang meninggal karena setelah kematian yang bersangkutan tidak bisa lagi melakukan yajña. Persembahan keseluruhan diri kepadaNya melalui api suci pembakaran di tempat pembakaran mayat yang dalam bahasa Sanskerta dinamakan Śmasāna. Barangkali kata śmasāna ini di Bali kemudian menjadi kata Sema.
Dahulu Sema juga dinamakan Setra, barangkali berasal dari kata kṣetra yang artinya medan suci, lapangan suci, tegal suci, karena ia bukan tempat kotor melainkan tempat melakukan persembahan yajña terakhir bagi setiap orang yang meninggal.

Sehubungan tradisi di Bali, karena berbagai alasan, banyak yang dikubur terlebih dahulu (makingsan ring Perthiwi) sambil menunggu waktu untuk di-aben sehingga lama-lama sebutan Setra dan Sema menjadi meredup, diganti oleh sebutan Kuburan.

Secara tradisi Veda atau pemahaman tattwa, pelaksanaan upacara kematian Antyeṣṭi seharusnya badan orang meninggal sesegera mungkin dibakar. Bahkan dari pertimbangan kesehatan juga lebih baik segera dibakar. Akan tetapi, tradisi yang berjalan tanpa disengaja dan tanpa disadari oleh umat kebanyakan menyebabkan sebagian besar umat memilih mengubur badan wadag orang meninggal dibanding dengan yajña membakar langsung.

Semoga ulasab singkat ini bermanfaat bagi kita semu. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

“Kita menikmati kehangatan karena pernah pernah kedinginan. Kita menghargai cahaya, karena kita pernah dalam kegelapan. Kegelapan bukan hukuman, ia adalah kerinduan jiwa di dalam untuk segera menemukan cahaya. Maka begitu pula, kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan.”
#mutiaradharma
#dailydiggest
#suluhurip

Om Swastyastu

DEVI UMA adalah dari Sakti Deva Siva diberi nama sesuai dengan perwujudannya yang ganda, yaitu berwujud “santa” atau tenang, dan bersifat “raudra” atau “krodha”.

Ketika dalam wujud santa, sakti Deva Siva ini disebut dengan Parvati, yaitu seorang devi dengan penuh kecantikan dan kasih sayang. Selain disebut dengan Parvati, juga disebut dengan Devi Uma atau dewi Kedamaian.

Didalam kitab Purana disebutkan Devi Parvati pada penjelmaan pertamanya adalah Daksayani, yaitu putri dari Daksa dan Prasuti dan menikah dengan Siva. Karena tidak mampu memahami keagungan Siva, Daksa memakinya dan mulai membencinya. Ketika Daksa melakukan suatu upacara Yajna Agung, salah satu tamu yang tak diundang adalah Siva. Sangat bertentangan dengan saran pasangannya, Daksayani pergi ke tempat upacara tanpa diundang dan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dalam api yoga. Oleh sebab itu, kemudian ia dikenal dengan sebutan Sati yang tak berdosa.

Devi Uma sebagai Ibu Alam Semesta

Berikutnya dia terlahir kembali menjadi Parvati, putri dari Himawan dan Mena. Setelah melakukan tapa yang mendalam, dia mampu menyenangkan Siva dan membuat Siva dapat menerimanya kembali sebagai pendampingnya.

Selama Parvati melakukan pertapaan, dia menolak untuk makan dan minum, walau daun kering sekalipun. Sehingga dia memperoleh penampakan Aparna Ibunya Mena yang tidak tega menyaksikan putri kesayangannya menderita dalam melakukan tapa, dan berusaha mencegahnya dengan kata-kata “Uma, sayangku janganlah berbuat seperti ini” yang kemudian nama Uma menjadi nama lainnya.

Seperti pendamping Siva, Parvati juga memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu aspek lemah lembut, penyayang, dan berparas cantik, serta satu aspek lain adalah aspek menakutkan dan mengerikan.

Sebagai Parvati atau Uma dia dinyatakan dengan aspek yang lemah lembut, penyayang, penuh cinta kasih. Dimana dalam aspek ini, dia selalu bersama dengan Siva. Kemudian dalam aspek ini dia memiliki dua tangan, yang kanan memegang teratai biru, dan yang kiri menggantung bebas disebelahnya. Bila dinyatakan secara mandiri (Parvati Tunggal/tanpa Siva), dia tampak dengan empat tangan, dua tangan memegang taratai merah dan biru, sedangkan dua tangan yang lain memegang Varada dan Abhaya Mudra.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi pemahaman dan Sraddha Bhakti kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma