Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Vratena dīkṣām āpnoti
dīkṣāyā āpnoti dakṣiṇām
dakṣinā śraddhām āpnoti
śraddhayā satyam āpyate
Yajurveda XIX.36
Dengan menjalankan Brata seseorang mencapai
dīkṣā (penyucian diri). Dengan dīkṣā seseorang
memperoleh dakṣina (penghormatan). Dengan
dakṣina seseorang mencapai śraddhā
(keyakinan yang teguh). Melalui śraddhā
seseorang menyadari Satya
(Tuhan Yang Maha Esa)

A. Pendahuluan
Perkembangan masyarakat modern cenderung hedonis karena sebagian masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual. Kepuasan nafsu merupakan tujuan hidup dan agama kurang mendapat tempat di hati mereka. Di lain pihak seperti dinujumkan oleh John Naisbitt, justru pada milenum ke-3, umat manusia memasuki pencerahan kehidupan spiritual. Hal ini adalah logis, mengingat pada masyarakat modern, kepuasan duniawi ternyata bersifat semu dan tidak mengantarkannya menuju kebahagiaan yang sejati. Kepuasan duniawi bersifat sementara, bagi mereka yang memili bakat di bidang spiritual, tentu segera akan berpaling dari kehidupan duniawi menuju kehidupan spiritual yang penuh makna, dapat memahami makna hidup dan kehidupan serta tujuan yang ingin diwujudkan. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ajaran agama dan setiap agama mendasarkan ajarannya kepada kitab suci sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkan kehidupan spiritual yang mantap, maka peranan para pandita sangat besar, mereka tidak cukup untuk menuntun umat melalui praktek ritual, upakara dan upacara, melainkan dituntut lebih untuk membimbing umat manusia melalui jalan spiritual. Upakara dan upacara merupakan jalan Bhakti dan Karma sedang jalan spiritual merupakan jalan Jñāna dan Raja atau Yoga Marga. Kita dapat melihat kehidupan spiritual telah merebak di kalangan umat Hindu, misalnya bila kita memperhatikan kegiatan Tīrthayātra, meditasi, melaksanakan Japa, Tapa dan Brata dan lain sebagainya. Berbeda dengan jalan Bhakti dan Karma, jalan spiritual ini kurang mendapat perhatian di kalangan tokoh-tokoh umat Hindu, utamanya di kalangan para pandita.

sulinggih

Untuk itu di dalam menatap citra para pandita dan mengantisipasi perkembangan masa depan, kami mengetengahkan topik tulisan ini guna dapat menyumbangkan buah pikiran sebagai salah satu usaha pengembangan agama Hindu, khususnya membangun citra pandita yang mumpuni dan senantiasa disegani oleh umat Hindu.

B. Peranan dan Fungsi Lokapālāśraya – Patīrthaning Sarāt
Usaha menyucikan diri melalui dīkṣā, salah satu perwujudan Dharma seperti diamanatkan dalam Vṛhaspati Tattva, 25 merupakan kewajiban setiap orang. Di dalam Vṛhaspati Tattva dinyatakan, yang disebut Dharma meliputi tujuh hal, yaitu: śīla, yajña, tapa, dāna, pravṛjya, dīkṣā dan yoga. Untuk itu seseorang menjadi pandita adalah merupakan pengamalan ajaran Dharma yang utuh. Menjadi pandita di samping mewujudkan pengamalan ajaran Dharma, juga merupakan pelaksanaan dari Bhisama leluhur, untuk mengikuti jejaknya. Bila seseorang tidak melaksanakan dīkṣā pada kehidupan ini, setelah meninggal rohnya diupacarakan dengan upacara dīkṣā yang dilaksanakan di Pamarajan keluarga. Upacara ini umumnya disebut “ngaskara”, dari kata “saṁskara”, yang artinya penyucian dari. Sebelum secara khusus membahas tentang fungsi “lokapālāśraya”, terlebih dahulu kami sampaikan siapa saja yang disebut “dīkṣita” atau seseorang yang telah menjalani upacara dīkṣā. Berdasarkan tradisi maka yang disebut “dīkṣita” atau “kṛtadīkṣita” adalah mereka yang telah diinisiasi dengan simbolis dilahirkan kembali melalui upacara suci, oleh karena itu mereka disebut “sang dvijāti”, terdiri dari : ācharya, ṛṣi, bhikṣu (disebut juga dengan istilah bikku atau viku), vipra, kavi, sadhu, sannyasin, yogi, muni, upādhyāya dan bahkan para Brahmacari dan Brahmacarini juga disebut dvijāti, karena mereka seluruhnya mengikuti upacara “dīkṣā”. Di Indonesia, sesuai Ketetapan Mahasabha II/PHDI/1968 mereka yang disebut “dīkṣita” adalah: Rṣi, Mpu (Ida Pandita Mpu), Pedanda, Bhujangga, Dukuh, Danghyang dan Bhagawan. Dengan demikian maka merteka yang telah mengikuti upacara “dīkṣā” digolongkan ke dalam golongan Brahmana yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan beragama umat Hindu.

dukun tengger1
Adapun peranan penting seorang Brahmana atau seorang “kṛtadīkṣita” sesuai dengan uraian yang terdapat di dalam kitab Udyogaparva (99) dan Agastyaparva 391.20 sebagai berikut:
“kunang hetuning dīkṣā hinanaken ta wekasan,
tinūt sang guru maweh tattwa i sang śiṣya.
Apan tan dadi sang siddhayogīswara amarahaken
bhaṭāra irikang wwang tan padīkṣā”

(Adapun sebab munculnya “dīkṣā” yang selanjutnya diteruskan
kemudian, mengikuti jejak guru memberikan ajaran tattwa kepada
śiṣya. Oleh karena tidak boleh seorang yang sudah mencapai
tingkatan Yogiśwara menguraikan hakekat ketuhanan kepada
seseorang yang belum “dīkṣita”)
Berdasarkan penjelasan tersebut seorang pandita atau “dīkṣita” merupakan sarana atau jalan untuk mentransfer pengetahuan ketuhanan (Brahmavidyā). Jadi demi kemurnian ajaran, maka garis perguruan yang di India disebut “param-para” dan di Bali dikenal dengan sebutan “aguron-guron” benar-benar dipertahankan kemurnian dan kesuciannya, oleh karena itu tidak sembarangan seorang “Nabe” akan menganugrahkan “dīkṣā”. Penjelasan lebih lanjut tentang peranan “Nabe” dalam menganugrahkan “dīkṣā” dijelaskan kembali dalam Agastyaparva (391), sebagai berikut: “Ikang kadīkṣā (n) mwang upadeśa sang yogīśwara ya rakwa wenang lumepasaken ikang mānusa” (orang yang telah diinisiasi dan petunjuk hidup dari seorang Yogīśvara, konon yang dapat melepaskan (belenggu) umat manusia).
Lebih jauh tentang fungsi seorang pandita bagi masyarakat (umat) adalah seperti dinyatakan dalam kakawin Bhomāntaka (III.26), sebagai berikut: “Dharma-dharmaning ri sang pinandita mahārdika pinaka patīthaning sarāt” (Dalam hal dharma atau kewajiban seorang pandita yang sempurna merupakan tempat memohon air kehidupan, penyucian dan kebahagiaan hidup bagi masyarakat).
Dari penjelasan singkat di atas dapatlah dinyatakan bahwa fungsi seorang pandita adalah untuk memberikan pendidikan, tuntunan dan mengentaskan kegelapan pikiran umat (masyarakat) demi terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Jadi fungsi atau pengertian “lokapālāśraya” yang selama ini dipahami oleh sebagian umat cenderung dalam pengertiannya yang sempit, hanya sebagai “pemimpin/pemuput” upacara yajña perlu dikaji lebih jauh.
Selanjutnya tentang tugas seorang pandita, sesuai dengan Ketetapan Mahasabha II PHDI/1968 adalah:

  1. Memimpin umat dalam hidup dan kehidupannya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin.
  2. Melakukan pemujaan penyelesaian upacara Yajña.
  3. Dalam memimpin upacara Yajña agar menyesuaikan dengan ketentuan sastra untuk itu.
  4. Pandita juga diharapkan mampu membimbing para pinandita/pamangku.
  5. Aktif mengikuti “paruman” dalam rangka penyesuaian dan pemantapan ajaran agama sesuai dengan perkembangan masyarakat.
  6. Pandita juga memberikan bimbingan “Dharma Upadeśa” melalui Dharma Wacana, Dharma Tula”, Tīrthayatra, dan lain-lain.
    Demikian sekilas peranan dan fungsi seorang pandita yang bertanggung jawab mentranfer ilmu ketuhanan kepada sisya, membimbing umat (masyarakat) dengan “Dharma Upadeśa” yang disampaikan olehnya.

 

C. Disiplin diri dan sikap batin
Kunci keberhasilan seseorang melaksanakan swadharmanya dapat dilihat dari disiplin hidup yang dilaksanakan. Demikian pula seorang pandita, tanpa disiplin hidup mustahil akan dapat melaksanakan fungsinya sebagai yang diharapkan. Disiplin hidup menurut ajaran agama Hindu dilaksanakan dalam sistem aśrama (Brahmacari, Gṛhastha, Vanaprastha dan Sannyasa) bertujuan untuk dapat merealisasikan Puruṣārtha (4 tujuan hidup: Dharma, Artha, Kāma dan Mokṣa). Untuk memupuk dan menumbuh kembangkan disiplin diri dan mengingat fungsi pandita sebagai patīthaning sarāt, kepada seorang pandita dituntut untuk memahami dan mempraktekkan ajaran Yoga, yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Landasan foundamental ajaran Yoga adalah Yama dan Niyama Brata dan akan sangat sempurna bila dapat mempraktekkan Aṣtānggayoga (Yama, Niyama, Asana, Prāóayama, Pratyāhara, Dharana, Dhyāna dan Samādhi) sesuai dengan uraian maharsi Patañnjali dalam kitabnya Yogasùtra. Dengan melatih mempraktekkan ajaran Yoga, khususnya Yama dan Niyama Brata, seorang pandita akan mampu memupuk disiplin hidup dan disiplin diri dan tanpa disiplin ini, seorang pandita akan gagal melaksanakan fungsi atau tugasnya seperti telah diuraikan di atas.

dukun tengger.jpg

Seorang pandita hendaknya memiliki keimanan (śraddhā) yang mantap terhadap ajaran agama Hindu. Keimanan ini merupakan sikap batin seorang pandita. Melalui keimanan yang mantap, penguasaan, pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama menjadikan seorang pandita mengalami perubahan diri (self transformation) dalam perilaku dan tindakannya. Seorang pandita akan mampu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang pandita memancarkan cahaya spiritual yang mempengaruhi umat dan lingkungannya, seperti diungkapkan dalam pendahuluan kakawin Rāmāyana, “ring Ayodhya subhageng rāt, kakwehan sang mahārddhika suśīla” (masyarakat Ayodhya makmur sejahtra, karena banyak (di sana) para pandita utama). Salah satu abhiseka bagi seorang pandita adalah sebagai “Śiva” atau “Śivasakala” (perwujudan nyata Sang Hyang). Kata Śiva mengandung arti yang menganugrahkan kerahayuan. Penyrataan di atas, di dukung pula oleh pernyataan di dalam Taittirīya Upaniṣad (I.11): Ācharyadevo bhava (seorang pandita/guru adalah perwujudan dewata. Sebagai perwujudan dewata dimaksudkan bahwa ia mampu mengemban fungsi dan tugasnya dengan baik.
Disiplin diri dan sikap batin seorang pandita merupakan landasan foundamental terutama dalam praktek kepanditaan menurut tradisi “aguron-guron di Indonesia (Bali). perlu pula ditegaskan bahwa sistem kepanditaan di Indonesia bersifat Saivis dengan warna tantrik. Dalam sistem ini pandita hendaknya mampu menyucikan diri, membakar segala kotoran bathin dan menjadikan dirinya sebagai media untuk mewujudkan Śiva dalam tubuhnya. Dalam kitab Maitreyi Upaniṣad (2.1) dinyatakan:
“dehi devalayaḥ proktaḥ
sajīva kevalaḥ śivah”
(badan jasmani adalah te,pat suci,
jiwa adalah Śiva yang maha kuasa)
Usaha untuk menyucikan diri terus menerus melalui berbagai “sadhana” atau latihan rohani ditegaskan dalam berbagai kitab yang menguraikan tentang disiplin hidup seorang pandita seperti kitab Śīlakrama, Śivaśāsana, Vratiśāsana, Tattvajñāna, Mahājñāna, Vṛhaspati Tattva, Ganapati Tattva, Ślokāntara, Sarasamuccaya, dan lain-lian. Dengan kesucian bathin dan sikap yang mantap terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan Dharmaning Kapanditan, seorang pandita akan sukses mengemban fungsi atau tugasnya itu.
D. Penguasaan ajaran agama
Menjadi seorang pandita yang mantap dalam wawasan isoterik hendaknya mampu menguasai ajaran agama secara komprehensip. Penguasaan ajaran agama yang parsial dan wawasan yang sempit menjadikan seorang pandita tidak mampu melaksanakan fungsinya dengan baik. Ia akan cenderung tertutup, fanatik sempit, egoistis, bahkan rendah diri atau minder bila berhadapan dengan cendekiawan umat Hindu dan sulit dibayangkan apabila berhadapan dengan cendekiawan atau rahaniwan umat beragama lain yang memang disiapkan sejak diri untuk tugas-tugas kependetaan. Persiapan dini ini berlanjut melalui metoda akademis yang memadai. Berbeda dengan kondisi penyiapan yang secara tradisional di kalangan umat Hindu tanpa sistem pendidikan yang memadai, di samping pula penguasaan ajaran agama yang sangat terbatas.
Untuk memantapkan sistem pendidikan calon pandita dalam wawasan isoterik yang mantap, penguasaan ajaran agama yang komprehensip mutlak diperlukan. Untuk itu pula menguasai ajaran agama Hindu yang terdiri dari empat aspek seperti: Veda, sumber ajaran agama Hindu, Śraddhā, Tattwa atau keimanan, Tata Susila atau Etika yang merupakan pancaran pengamalan ajaran agama Hindu dan Ācāra Agama yang meliputi Yajña, upacara, upakara, tempat pemujaan, hari raya, padewasan (menentukan hari baik), hukum Hindu, sosiologi Hindu dan lain-lain secara mendalam mutlak diperlukan.
Untuk penguasaan ajaran agama Hindu dicoba diketengahkan kurikulim pendidikan calon pandita meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang yang bila dikaji dengan seksama dan dikuasai secara mendalam terutama dalam kelompok inti akan kelihatan bahwa semuanya itu mencerminkan ruang lingkup yang komprehensip.
Sesungguhnya permasalahn yang merupakan kendala alah sangat terbatasnya buku-buku agama Hindu yang berbahasa Indonesia, demikian pula bila kita mencari buku-buku agama Hindu yang berbahasa Inggris, kami rasakan sangat kesulitan, kecuali kita menyediakan sejumlah dana. Untuk itu melalui usaha memantapkan sistem pendidikan pandita ini, kami mengaharapkan uluran tangan semua pihak agar segera terwujud sebuah perpustakaan Hindu yang memadai di daerah ini. Di satu sisi kami melihat pembangunan fisik di negara sudah demikian mantap, tetapi penangan masalah pendidikan agama Hindu kurang mendapatkan perhatian. Bukankah sumber budaya Bali adalah agama Hindu dan bagaimana pula melestarikan agama ini bila tidak adanya perpustakaan yang memadai. Kita kadang-kadang bangga punya ribuan lontar yang tersebar di daerah ini. Sudahkah ada pengkajian yang benar-benar ditangani oleh umat Hindu tentang hal ini?

E. Merealisasikan ajaran agama (Dharma Sādhana)
Merealisasikan ajarana agama Hindu dalam kehidupan seharihari adalah mutlak bagi setiap umat Hindu. Demikian pula dan seharusnya lebih nayata lagi bagi seorang pandita karena fungsinya sebagai “patīrthaning sarāt”. Seorang pandita yang tekun melakukan swadharma, melaksanakan Sūryasevana, memimpin upacara keagamaan, mendalami s astra dan melakukan berbagai praktek Yoga akan lebih mudah merealisasikan ajaran agama. Intisari ajaran agama adalah memancarnya cinta kasih, tutur kata yang lemah lembut, sikap yang sopan dan ramah, rendah hati, menghargai sesama umat manusia dan segala ciptaan-Nya.
Agama pada prinsipnya adalah membimbing kehidupan spiritual umat untuk mewujudkan kebahagiaan, dengan demikian agama adalah sarana untuk meringankan beban kehidupan umat-Nya. Tidaklah tepat bila faktor material menghambat seseorang untuk melaksanakan ajaran agama atau memajukan kehidupan spiritual. Demikian pula ajaran agama yang menyangkut aspek ācāra, yakni upacara korban. Upacara korban yang kecil (disebut Kanistha sering salah sebut nista saja) sesungguhnya adalah upacara inti. Upacara adalah salah satu aspek dari yajña dan inti dari yajña adalah keikhlasan.
Dengan pemahanan dan penguasaan ajaran agama Hindu yang mantap, baik oleh umat awam pada umumnya dan pandita khususnya, maka tujuan hidup yang sekaligus tujuan agama dapat diwujudkan. Setiap umat Hindu akan senantiasa bahagia dan sejahtra karena tuntunan Dharma dan Wacana-Wacana yang diberikan oleh seorang pandita. Umat akan mantap melaksanakan swadharmanya masing-masing.
Merealisasikan ajaran agama tidaklah mudah tanpa pemahaman ajaran agama maupun “Śikṣa Abhyāsa” (belajar dan latihan rohani yang tekun). Melihat hal tersebut betapa pentingnya memantapkan pendidikan calon-calon pandita yang qualified.

E. Mengantisipasi perkembangan dan masa depan
Mengantisipasi perkembangan dan masa depan umat Hindu di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengembangkan pendidikan bagi calon pandita. Berbicara masalah pendidikan calon pandita, kita akan menemukan beberapa komponen dalam sistem pendidikan yang saling berhubungan dan merupakan satu rangkaian yang utuh, tidak terpisahkan. Demikian pula dalam menyiapkan pendidikan calon pandita, maka komponen-komponen itu harus merupakan sistem yang terpadu untuk mencapai satu tujuan.

basir dayak.jpg

Untuk menyiapkan sistem pendidikan calon pandita yang mungkin dikembangkan di Indonesia, khususnya di Bali sebagai satu aleternatif adalah dengan memadukan “sistem pendidikan Gurukula (Ashram)” dan pendidikan tradisional “Aguron-guron” dengan “sistem pendidikan modern”.
Adapun pelaksanaannya secara ideal dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Para calon pandita diashramakan dalam ashrama “Pangadyayan”.
  2. Pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan metodologi yang relevan (misalnya seperti kursus, tutorial, penyegaran dan lain-lain).
  3. Para guru (dosen) adalah para pandita dan walaka yang akhli di bidangnya.
  4. Materi pelajaran dan lamanya pendidikan diatur dalam kurikulum.
  5. Di samping pelajaran teori di kelas, juga praktek dan observasi di lapangan
  6. Diadakan berbagai evaluasi dan kepada yang memenuhi syarat dinyatakan lulus dan diberikan sertifikat.
  7. Calon yang telah lulus dianjurkan mencari “Nabe” sesuai dengan tradisi dan rekomendasi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Dengan memajukan pendidikan bagi calon panditanya, tentunya pendidikan umat Hindu di Indonesia pada umumnya akan semakin mantap dan tangguh. Pada akhirnya seorang pandita yang berkualitas akan mampu mengentaskan kebodohan dan belenggu umat dari keduniawian, seperti diamanatkan pada mantra Veda yang telah dikutipkan pada bagian awal dari tulisan ini.

F. Penutup
Sesungguhnya makalah singkat yang disajikan di atas merupakan langkah awal dan tentunya berhasil atau tidaknya memantapkan sistem pendidikan pandita ini akan memantapkan citra pandita dan hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bila para pandita Hindu mampu melaksanakan tugas dan fgungsi atau swadharmanya dengan baik, maka umat Hindu akan sangat mudah mengamalakan ajaran agamanya, sekaligua akan mengantarkan umat Hindu mencapai tujuan agama, yakni “mokṣa” (kebahagiaan abadi) dan “Jagadhita” (kesejahtraan duniawi) dan tentunya keteladanan para pandita dalam membina dan mengemban umat senantiasa mendapat perhatian dari para pandita Hindu. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Uang merupakan sebuah objek duniawi yang selalu dikaitkan dengan kepuasan material. Uang sangat-sangat penting dan mesti dikuasi jika ingin menguasai dunia material. Begitulah uang adanya didunia, tersebar dan saling diperebutkan.

Dunia Material seperti yang kita sudah ketahui, akan selalu berubah dan tidak pasti. Semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan material akan berlalu. Setiap detik objek yang kita dapati di sekitar kita selalu berubah. Debu akan terus menghinggapi kulit, walau kita tak menginginkannya.

Semu, seperti itulah kehidupan di dunia ini. Uang adalah sebuah perantara yang baik di dalam mengarungi kehidupan yang semu ini. Uang menjadikan kita bahagia, uang menjadikan kita dicintai, uang juga menjadikan kita disegani.

Uang memang sangat hebat, uang juga mampu menggetarkan hati seseorang. Bahkan untuk memperoleh pasangan yang cantik atau ganteng sekalipun dengan uang pun bisa terjadi. Itulah fakta yang terjadi di sekitar kita, tak diragukan memang uang itu sangat mempengaruhi status sosial manusia modern. Kepuasan dan kesenangan pun didapat jika uang tersedia. Segala kebutuhan material sangat mudah didapat. seperti itulah Uang.

Seharusnyalah kita menghargai waktu, dengan mengoptimalkan kerja dalam mencari uang.

Hebat sekali Uang ya??

Tapi seperti yang saya ceritakan di awal, apapun yang berhubungan dengan objek duniawi pastilah akan berlalu. Semuanya bersifat semu semata. Datang dan pergi, berlalu tanpa diminta. Maka dari hal ini kita mesti belajar, bahwa kebahagiaan duniawi akan berlalu dan tidak menutup kemungkinan di selingi dengan duka.

Saya pernah mendengar ada sebuah ajaran Nusantara Kuno yang mengengajak kita untuk menemukan kebahagiaan tanpa diiringi kesedihan, “SUKA TANPA WALI DUKA”. Semoga lebih banyak dari kita bisa menemukan kebahagiaan yang bebas dari kesedihan tersebut.

Saya kutipkan untaian Sloka dari Kitab Sarasamuscaya. 269:

“Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.”

Semoga apa yang saya ungkapkan disni, ada hubungannya dengan kehidupan kita,

Dharma selalu menerangi jalan kita.

Om sarve bhavantu sukhinah

Om Santih Santih Santih Om

Jakarta, 05 Desember 2018

Om Swastyastu

GOD:
G=Generation-Tuhan akan menciptakan keajaiban-keajaiban dalam hidup kita;

O=Organize-Tuhan akan selalu membimbing, dan mengayomi kita penuh kasih;

D=Destroy-Tuhan akan menghapuskan semua duka-nestapa hidup kita

Bila kita penuh bhakti kepadaNya

Om Santih Santih Santih Om

~ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Seorang murid yang penasaran dengan pemaparan sang Guru mulai mengajukan permintaan,

“Guru, engkau adalah manusia tercerahkan, sudah pula berjumpa Tuhan, hanya satu permintaanku, tolonglah sampaikan doa-doaku kepadaNya sehingga segala doaku segera terkabul”.

Mendengar permintaan si murid, Guru tak segera menjawab melainkan meminta kepada murid tersebut untuk segera bangkit dan kemudian melangkah munuju kamar kecil menggantikan sang guru kencing.

Si murid heran dengan permintaan gurunya, sebab mana mungkin itu bisa dilakukan. Mengetahui muridnya dalam kebingungan, Guru lantas berkata,

“Untuk kencing semudah itu saja aku tidak bisa mewakilkannya kepadamu, bagaimana mungkin perjalanan sesulit bertemu Tuhan kamu wakilkan kepadaku?”

Dibanyak kisah perjalanan manusia hendak berjumpa dengan Tuhan, sampai sekarang hampir belum pernah tercatat bahwa ada manusia yang pernah mengalaminya. Mungkin karena sulitnya atau malah memang sama sekali tidak tahu apa dan siapa Tuhan itu sebenarnya, belakangan ramai tersiar kabar bahwa ada beberapa orang yang telah mampu merealisasikan perjumpaan tersebut. Dan darinya, tak sedikit pula yang meyakininya sebagai kebenaran.

Mungkin karena yakin, terlebih keyakinan itu dikuatkan oleh Bahasa kitab suci, maka penyerahan total kehidupan manusia pun dilakukan, bahwa baik semasa hidup pun setelah kematian menjemput nanti, ada sesosok “Mahluk” yang telah melindungi mereka. Mahluk inilah satu-satunya jembatan yang mampu menghubungkan siapa saja guna bertemu juga dengan Tuhan.

Namun, sebelum terlalu jauh tenggelam dalam keyakinan, ada baiknya kembali menyimak cerita sebelumnya. Bila untuk hal-hal yang tampak lebih mudah untuk dilakukan nyatanya itu tidak bisa diwakilkan, apalagi untuk sesuatu yang berada jauh diluar jangkauan pikiran manusia. Alih-alih mewakilkan, seseorang mesti melakukan perjalanannya sendiri guna bertemu dengan DiriNya sendiri.

Om Santih Santih Santih Om
~ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Mutiara Dharma 06/11/2013:

“SMS = Senang Melihat orang lain Sukses dan Sedih Melihat orang lain Susah BUKAN Senang Melihat orang lain Susah dan Sedih Melihat orang lain Sukses”.

Suatu hari ada seorang Bapak dengan seorang anaknya & seekor keledai melakukan suatu perjalanan.

Tibalah mereka di kota A,
Sang Anak naik keledai, sementara Bapaknya berjalan di sampingnya,
Orang-orang berkata:
“Dasar anak tak tahu diri, masa bapaknya disuruh jalan kaki.”

Ketika tiba di kota B,
Gantian Sang Bapak yang naik keledai itu, Sedang anaknya jalan di sampingnya, lalu orang-orang berkata: “Gimana sih, tuh bapak, masa anaknya di biarkan jalan kaki.”

Dan saat berada di kota C,
Mereka berdua menaiki keledainya bersama, orang-orang yang melihatnya berkata: “Dasar anak dan bapak tidak punya perasaan, masa keledai dinaikin berdua sih?”

Akhirnya merekapun sampai di kota D, Mereka berjalan kaki sambil memegang tali keledai dan tetap ada saja orang-orang berkata: “HaaaaHH…dasar bapak dan anak yang bodoh, masa punya keledai tidak digunakan sama sekali.”

Dan saat melintasi kota E dengan menggendong Keledai tersebut (karena sakit), orang-orang yang berpapasan pun terheran-heran penuh tanda tanya. Dan komentarnya: “Dasar Eudan. Dunia sudah kebalik, keledai menunggangi manusia.”

Sahabat, ada pesan moral yang bisa kita petik dari kisah cerita ini:

Dimanapun kita berada akan selalu ada pandangan NEGATIF dari orang-orang di sekitar kita.

Tapi satu hal yang harus kita lakukan adalah: TETAplah BERPIKIRAN POSITIF untuk melihat orang-orang yang ada di sekitar kita.

Semua tergantung dari MINDSET kita sendiri.

Walau dalam kenyataan sangatlah mudah untuk MELIHAT KEKURANGAN & KEJELEKAN orang lain, dan lebih mudah MENANGIS melihat orang yang BERSEDIH, Daripada TERTAWA melihat orang yang sukses….:), semogalah itu tidak terjadi pada diri kita setelah membaca kisah ini.

Om Awighnamastu.

Om Santih Santih Santih Om
~ I Wayan Sudarma
Catatan pinggir Jalan, Bali-06 Nopember 2013