Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tentu banyak masalah yang dapat timbul terhadap adanya kawin kontrak, di antaranya masalah status anak dan posisi wanita (istri kontrak) itu yang oleh masyarakat dianggap sebagai manusia yang tidak memiliki harkat dan martabat kemanusiaan. Keluarga pihak istripun mestinya malu karena tidak berhasil membina putrinya Suami istri yang melakukan kawin kontrak menganggap lembaga perkawinan itu hanya sebagai lembaga pelampiasan nafsu belaka. Untuk mencegah merebak timbulnya kawin kontrak di kalangan masyarakat, masyarakat perlu diingatkan kembali tentang makna dari lembaga perkawinan itu.

Perkawinan adalah sarana untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia. Keluarga sejahtra dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Untuk mewujudkan hal itu perlu usaha yang sungguh-sungguh dari setiap orang dalam keluarga itu. Banyak keluarga-keluarga yang berhasil membina hubungan yang harmonis di antara anggota keluarganya maupun dengan anggota masyarakat, namun sebaliknya kita masih melihat tidak sedikit pula keluarga-keluarga yang brantakan. Banyak faktor penyebab kehancuran keluarga dan untuk diperlukan pengamatan yang seksama mengapa hal itu bisa terjadi.

Demikian pula sebaliknya banyak keluarga-keluarga yang berhasil mewujudkan keluarga ideal, keluarga yang sejahtra dan bahagia. Untuk dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia tentunya kita harus memahami, fungsi-fungsi keluarga, makna perkawinan dan faktor-faktor lainnya yang mendukung terwujudnya keluarga sejahtra dan bahagia. Kerukunan dan saling pengertian di antara sesama anggota, serta tidak jemu-jemunya antara suami istri dan anak-anaknya untuk mewujudkan keluarga rukun merupakan salah satu landasan untuk merealisasikan hal itu. Keluarga sejahtra dan bahagia tidak dapat diukur dengan kekayaan duniawi, tetapi suasana yang tentram dan menyejukan hati setiap anggotanya adalah salah satu indikasi ke arah berhasilnya mewujudkan hal tersebut.

Di dalam sistem kemasyarakatan Hindu kita mengenal dua jenis keluarga, yakni keluarga inti yang terdiri dari suami istri dan anak-anak dan keluarga dalam
pengertian klen atau kawitan (satu leluhur). Keluarga akan menjadi sangat kompleks bila kita lihat dari hukum waris Hindu, sistem pamarajan dan padharman.

Dengan demikian keluarga dalam pengertian Hindu dibatasi oleh adanya hubungan perkawinan, keturunan (darah), adopsi (pengangkatan santana) dan lain-lain. Keluarga dalam pengertian yang pertama ( inti ) adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami dan istri dan anak-anaknya atau pula karena situasi tertentu adalah hanya ayah dan anak-anaknya atau ibu dan anak-anaknya saja.

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita tentang pengertian keluarga kiranya patut dikaji tujuan dan fungsi dari keluarga, yang menurut M.F. Nimkoff dalam bukunya “Marriage and Family” adalah untuk membentuk suatu tempat penampungan yang merupakan tempat bagi seorang ayah atau seluruh anggota keluarga memperoleh ketenangan atau kebahagiaan hidup. Dalam kawin kontrak, pihak istri dan keluarga istri serta anak-anak yang lahir tentu diliputi oleh berbagai kecemasan yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati.

Selanjutnya untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtra, pengertian tentang keluarga sejahtra dinyatakan sebagai berikut: “Keluarga Sejahtra adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan ingkungannya” .

Hubungan seorang laki-laki dan wanita dalam rumah tangga (sebagai suami istri) hanya dibenarkan bila dilakukan dalam ikatan perkawinan yang sah dan perkawinan telah dianggap sah bila dilaksanakan menurut hukum agamanya. Dalam agama Hindu perkawinan yang disebut dengan istilah Vivāha diyakini telah dianggap sah bila telah dilaksanakannya Vivàha Saýskara yang di Bali disebut Vidhi-vidhana, yakni telah diupacarakan sesuai dengan ritual Hindu baik yang paling sederhana, maupun dalam upacara besar yang disaksikan oleh seluruh kerabat. Dalam Vivāha Samskara, adanya tiga persaksian yang diyakini dapat mengesahkan upacara tersebut adalah : Devasāksi, berupa sesajen atau persembahan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Bhutasāksi yang disimboliskan dengan api dan Manusasāksi yakni masyarakat yang turut menghadiri upacara perkawinan tersebut.

Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra untuk mengukuhkan perkawinan, sehingga hubungan keluarga dalam perkawinan ini diharapkan bersifat abadi. Perhatikanlah terjemahan mantra berikut:

1. YaTuhan Yang Mahaesa, Anugrahkanlah kepada pasangan penganten ini kebahagiaan yang abadi.Keduanya tidak terpisahkan dan panjang umur.Semoga mereka mendapatkan mendapatkan anugrah putra-putri dan cucu-cucu yang memberikan penghiburan, tinggal di rumahnya yang penuh kegembiraan (Rgveda X.85.42).

2. Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian. Semoga satu jiwa bagi keduanya (Atharvaveda VII.36.1).

3. Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti luhur,penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira,
bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya” (Atharvaveda XIV.2.43).

Selanjutnya kitab Manavadharmasastra mengamanatkan hendaknya suami istri mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agarmereka tidak bercerai mewujudkan kebahagiaan dan jangan sampai melanggar kesetiaan di antara mereka:

1. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam perkawinan, mengusahakan agar tidak mereka bercerai dan mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Hendaknya pula jangan melanggar kesetiaan antara yang satu dengan yang lain. (Manavadharmasa stra IX.101).

2. Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya hal ini dianggap sebagai hukum yang tertinggi bagi suami – istri. (Manavadharmasastra III.60).

Lebih jauh tentang makna dan prinsip dasar tentang tujuan perkawinan ditegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:

1. Dharmasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah, Yajna atau pengorbanan akan dapat dilaksanakan secara sempurna.

2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan(putra- putri) yang akan melanjut kan amanat dan kewajiban pada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhurnya (Pitrarna) kepada Tuhan Yang Mahaesa (Devarna) dan kepada para Rsi, pandita atau guru (Rsirna).

3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kenikmatan-kenikmat an lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka perkawinan merupakan institusi yang legal sebagai wahana untuk mengamalkan ajaran agama dalam arti yang seluas-luasnya. Demikian pula bila suami dan istri melakukan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya serta anak-anak mendapatkan pendidikan yang memadai baik di rumah (di luar pendidikan sekolah) dan dalam pendidikan sekolah, maka anak-anak akan menjadi putra yang suputra. Tentang putra yang suputra ini di dalam Nitisastra dinyatakan akan mampu mengangkat drajat keluarga dan masyarakat lingkungannya (putra suputra mamadangi kula wandhu wandhawa).

Untuk menyamakan persepsi kita tentang keluarga sejahtra dan bahagia tidaklah mudah, karena setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Seorang petani dengan pola hidupnya yang sederhana, taat melaksanakan kewajiban agama, istrinya setia dan putra-putrinya patuh kepada kedua orang tuanya tentu sangat berbeda dengan seorang manager pada sebuah perusahanan yang sangat sibuk dengan jumlah karyawan yang banyak, memerlukan berbagai fasilitas untuk mendukung tugas dan kewajibannya, maka pola hidupnya akan berbeda dengan petani di atas. Bagaimanakah kita bisa mengukur kondisi yang berbeda-beda pada setiap keluarga ?

Situasi atau kondisi pada era globalisasi ini telah menampakkan titik orientasi yang berbeda, hal ini nampak pada masyarakat Barat yang pandangan hidupnya sangat berbeda dengan masyarakat Timur. Masyarakat Barat dewasa ini (walaupun tidak seluruhnya demikian) berusaha mencari kepuasan atau kesenangan dengan mengeksploitasi berbagai obyek indria (pleasure oriented), sedang masyarakat Timur pada umumnya mencari ketenangan, kerahayuan atau keselamatan (peace oriented), sebab dibalik kedamaian atau ketentraman hidup terdapat kebahagiaan yang sejati. Memuaskan nafsu (Kama) tidak akan memberikan jaminan keselamatan dikemudian hari. Memenuhi segala keinginan indria ibarat menyiram api yang membara dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan memadamkan api melainkan akan semakin berkobar dan menghancurkan kehidupan manusia. Mencari ketenangan, berbeda dengan mencari kesenangan. Mencari kesenangan orientasinya ke luar, mencari obyek-obyek indria, sedang mencari ketenangan, obyeknya ada di dalam diri manusia, ibarat seekor penyu yang memasukkan seluruh anggota badannya. Selamatlah dia dari bencana yang datang dari luar.

Bila kepuasan atau kesenangan indria yang selaludipenuhi,manusia tidak akan mampu mengendalikan dirinya bahkan akan jatuh ke lembah penderitaan atau neraka seperti dinyatakan dalam Bhagavadgita XVI.21, berikut: “Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jurang menuju kehancuran diri, yaitu nafsu (kāma), amarah (krodha) dan serakah (lobha), setiap orang hendaknya meninggalkan sifa kecendrungan ini.”

Manusia yang di dalam bahasa Sanskerta disebut Manava sesuai dengan ajaran agama Hindu diamanatkan untuk meningkatkan kualitas dirinya, untuk selalu meningkatkan kemajuan baik jasmani dan rohani, dengan demikian sesuai dengan ajaran Sri Krsna, Sang Pūrna Awatara di dalam Bhagavadgītā hendaknya mengembangkan sifat Daivisampat, yakni sifat kedewataan, sesuai namanya, manuûya (menjadi kata manusia dalam bahasa Indonesia) yakni mahluk yang memiliki manah (kemampuan untuk mempertimbangkan baik dan buruk) menjadi devasya (yang memiliki cahaya spiritual yang terang). Dengan demikian Manava-Manava sesaui dengan tujuan penjelmaannya ke dunia ini adalah untuk menjadi Madhava-Madhava, yakni manusia yang jujur, ramah (lembut dan manis bagaikan madhu) yang pada akhirnya berhasil mencapai Moksa baik di dunia ini (saat kehidupan ini) melalui Dhyàna dan Samādhi. Tidak sebaliknya ia jatuh dan jauh atau bertentangan atau sama sekali tidak mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, ia akan jatuh atau menjadi Danava-Danava (manusia berjiwa raksasa) yang sangat rakus yang mengantarkannya ke lembah neraka.

Bagaimanakah dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagaia ? Ajaran agama Hindu, khususnya kitab suci Veda mengamanatkan supaya setiap orang selalu hidup tentram dan bahagia dan tentunya dengan melaksanakan swadharma masing-masing sebaik-baiknya.

Hal yang sangat penting dan mendasar dalam usaha mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa danjadikanlah salah satu manifestasi yang paling kita dambakan sebagai dewata

Istadevatā, yang akan selalu memberikan perlindungan kepada umat-Nya yang bhakti kepada-Nya:

Bila kita senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan yang Mahaesa dan menjadikan badan kita sebagai sthana suci-Nya maka kesejahtraan dan kebahagiaan segara dapat diwujudkan.

Bila Tuhan Yang Mahaesa berkenan hadir dan memberikan bimbingan kepada kita, kehidupan jasmani dan rohani kita akan senantiasa mendapat perlindungan- Nya. Berbagai persoalan hidup akan terpecahkan. Anak-anak yang tidak patuh akan berubah menjadi baik, suami-suami yang tidak bertanggung jawab akan menjadi suami berubah menjadi suami yang penuh tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat, demikian pula istri-istri yang pada mulanya kurang setia kepada suami akan berubah menjadi istri yang dapat dipercaya. Masalah “atilar kawitan, istri tidak patuh dengan suami, suami atau istri yang tidak memiliki pendirian dan anak-anak yang diliputi oleh kebimbangan” dan lain sebagainya akan dapat diatasi, karena Tuhan Yang Mahaesa akan melindungi umat-Nya yang benar-benar bhakti kepada-Nya. Kehidupan yang sederhana namun dipenuhi oleh limpahan karunia karena bhakti kita yang tulus merupakan pintu kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, kawin kontrak nampaknya hanya menekankan tujuan perkawinan yang ketiga yakni untuk memenuhi kepuasan nafsu (seks/Rati) semata tanpa tanggung jawab terhadap kelangsungan keluarga dan anak keturunannya. Kawin kontrak dapat disebut sebagai perkawinan semu dan tidak pada tempatnya untuk mendapat pengesahana secara agama. Bila hal itu disahkan secara agama, maka status perkawinan tersebut hendaknya dirubah menjadi perkawinan yang sebenarnya. Bila agama hanya dipakai kedok untuk memuluskan wujud kawin kontrak tersebut, maka yang bersangkutan telah membohongi diri mereka. Untuk mencegah tidak berkembangnya hal tersebut, lembaga yang mengesahkan perkawinan hendaknya benar-benar memperhatikan sikap dan prilaku calon mempelai guna mencegah perkawinan semu tersebut.

Bila masyarakat (termasuk aparat pemerintah, desa, parisada, adat) membiarkan gejala semacam itu terus berkembang di daerah ini, maka nilai-nilai atau ajaran agama sudah semakin luntur di amalkan oleh masyarakat. Sikap hidup permisisf sangat membahayakan kelestarian budaya Bali. Gejala permisifme ini saya kira belum begitu merebak, bila terjadi satu dua orang wanita Hindu melakukan hal itu, tidaklah berarti masyarakat Hindu membiarkan hal itu terus terjadi.

* Makalah Seminar: Menuju Keluarga Bahagia

Om Santih Santih Santih Om

=======

Your Hand On Works But Your Heart On God”

=======

Advertisements

Om Swastyastu

Anak: “Guru bagaimana caranya agar bisa menjadi orang bijak?”

Guru itu kemudian mengajaknya ke meja makan dan menuangkan air teko ke dalam gelas kosong. Diisinya gelas itu hingga penuh dan luber, namun sang guru tidak juga menghentikannya. Murid itu menghentikannya dan berkata: “sudah penuh kenapa guru mengisinya terus?” Guru itu menghentikannya dan berkata:”Seperti itulah, dirimu. Jika engkau ingin belajar, pertama-tama kosongkanlah dirimu terlebih dahulu maka engkau akan bisa menerima apa pun!”

~Tidak sedikit orang pergi ke sekolah, kampus, bahkan ke tempat sembahyang datang sebagai orang yang merasa dirinya sudah penuh dan mumpuni. Karena itu, ilmu dan ajaran sesaleh dan seberharga apa pun, bahkan sapaan Tuhan pun tidak akan sanggup untuk tinggal dan berdiam di sana~

Saudara/i ku…bahwa kita memang tidaklah kosong itu memang benar, tidak sedikit perbendeharaan talenta dan ilmu yang kita miliki yang patut disyukuri. Namun hendaknya semua itu tidak membuat kita merasa hebat dan sempurna, apalagi sombong dan takabur. Inilah langkah pertama dan utama bagaimana kita bisa menjadi orang bijak.

Om Santih Santih Santih Om
Jakarta, 15 Februari 2019
~I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tuhan disebut-sebut sebagai yang maha pengasih dan maha penyayang tapi mengapa beliau menciptakan kesengsaraan? Kenapa harus ada kesengsaraan jika kebahagian ada, bukankah kita lebih memilih kebahagiaan dari pada kesengsaraan? Mengapa Tuhan membiarkan kesengsaraan itu berlangsung di dunia ini?

Secara batin dan lahiriah kita selalu menginginkan kebahagiaan tapi terkadang kita mendapatkan penderitaan/ kesengsaraan, mengapa hal seperti itu terjadi? Hindu percaya akan adanya hukum karma phala, segala sesuatu yang kita perbuat pasti akan menghasilkan sesuatu, begitu juga penderitaan dan kebahagiaan yang kita peroleh, itu adalah hasil dari karma yang kita lakukan. Sesungguhnya penderitaan adalah buatan manusia itu sendiri, manusialah yang menimbulkan kesengsaraan itu, kita sering menyalahkan Tuhan ketika kita sengsara, ini adalah tindakan keliru, Tuhan hanya menciptakan hukum Rta yaitu hukum sebab akibat, mungkin jika kita hari ini menderita itu disebabkan karma buruk yang kita lakukan di hari yang lalu, Tuhan hanya memberi pilihan saja antara penderitaan dan kebahagiaan, kita sebagai sebagai ciptaannya yang bebas untuk memilih apakah kita memilih penderitaan atau kebahagiaan.

Kesengsaraan terjadi hanyalah untuk mendewasakan diri manusia itu sendiri, sehingga manusia lebih mengerti bahwa kesengsaraan bukanlah yang kita inginkan dan selalu ingat dengan Sang Pencipta, kita sering menganggap Tuhan membiarkan kesengsaraan itu terjadi dan tidak mencegahnya, ini adalah anggapan yang keliru, justru Sang Pencipta selalu menuntun manusia kearah kebahagiaan, apa buktinya? Sudah banyak kita tahu bahwa wahyu suci yang diturunkan Tuhan untuk manusia adalah semata-mata untuk kebahagian semua ciptaan-Nya khususnya manusia, di sana berisi petunjuk-petunjuk dari Tuhan bagaimana memperoleh kebahagiaan. Bukti lainnya adalah Tuhan menciptakan manusia-manusia unggul untuk membimbing manusia yang lain guna mencapai kebahagiaan, bahkan dalam beberapa agama dan kepercayaan lain meyakini Tuhan sendiri yang turun atau menitis ke dunia fana ini untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan, contoh, Hindu meyakini Awatara-Awatara seperti Sri Krsna, Sri Rama dan lain-lain adalah manisfestasi Tuhan sebagai sang pemelihara alam semesta yaitu Dewa Wisnu yang turun kedunia sebagai Awatara untuk menyelamatkan manusia yang selalu berada di jalan kebenaran dari penderita, Buddha yang membimbing manusia kepada kebebasan dan kebahagiaan abadi, Nabi Muhammad yang menuntun manusia lainnya yang berada dalam kegelapan menuju cahaya pencerahan, Yesus sang juru selamat yang rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan manusia dari dosa. Itu semua bukti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan penderitaan bahkan membiarkan penderitaan. Penderitaan muncul akibat manusia yang memilihnya. Dahulu pada saat nazi memilih membantai lebih dari 3 juta orang, memberikan kita pelajaran bahwa itu adalah kesalahan dan kebodohan terbesar manusia, menyadarkan manusia bahwa tindakkan seperti itu adalah salah, sehingga munculah peraturan-peraturan yang melindungi hak asasi manusia bahkan ada Organisasi yang khusus untuk itu. Kekejaman itu telah menyadarkan manusia sekarang untuk bisa menghargai manusia yang lainnya. Hal hasil manusia sekarang lebih banyak memilih perdamaian dari pada perperangan, lebih banyak memilih bersatu dari pada terpecah. Kesengsaraan mampu menguatkan iman seseorang, mampu menghapus kesombongan, kesengsaraan mampu membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Seperti Dewi Kunti yang selalu memohon penderitaan agar ia selalu ingat dengan Tuhan sepanjang hidupnya.

Penderitaan dan kebahagiaan akan selalu ada di dunia ini guna terciptanya keseimbangan. Jika penderitaan terjadi pasti akan selalu ada kebahagiaan yang terselip diantara penderitaan tersebut. Penderitaan dan kesengsaraan adalah sebuah pelajaran agar mendorong manusia untuk lebih memilih kebahagiaan dengan mengikuti segala petunjuk yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Sekali lagi, Tuhan hanya memberikan pilihan antara penderitaan dan kebahagiaan, manusialah yang memiliki kebebasan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut dan Tuhan telah memberikan petunjuk bagaimana memperoleh kebahagiaan dan bagaimana lepas dari segala penderitaan, tergantung kita sebagai manusia untuk memilih, kebahagian ataukah penderitaan yang akan kita pilih. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Karawang, 14 Februari 2019
~ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Berikut adalah sebuah ungkapan yang berguna untuk mengingat konsep pokok KeSUNYAan:

“KeSUNYAan menerima keberadaan dari keberadaan; KeSUNYAan menolak inti-diri dalam keberadaan.”

Ini berarti bahwa KeSUNYAn itu tidak menyangkal keberadaan segala sesuatu, tetapi menyangkal adanya suatu diri yang ajeg dan tidak berubah di dalam atau di balik segala sesuatu.

Contoh misalnya adalah sebuah sungai, kita dapat mengatakan bahwa keberadaan sebuah sungai (yang tersusun dari banyak arus kecil) tergantung pada atau terkondisi oleh arus-arus kecil tersebut-ini menjelaskan aspek pertama dari ungkapan di atas. Karena sungai terus mengalir (terus mengalami perubahan), kita mengatakan bahwa sungai tidak eksis secara bebas lepas atau tidak terkondisi (karena ia tidak memiliki hakikat atau diri yang tidak mengalami perubahan)-ini menjelaskan aspek kedua dari ungkapan di atas.

Om Santih Santih Santih Om

Baduy-Lebak, 08/03/2012
~I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Pura Segara Danu Batur

(52) Renungan Menyambut Tahun Baru 2019

Om Swastyastu

Berhati-hatilah menjadi “orang hebat” dalam menjelek-jelekkan yang lain. Jika zaman dahulu orang-orang tidak terpelajar memperlihatkan kebodohannya dengan cara menjelek-jelekkan orang lain, maka zaman sekarang orang-orang terpelajarlah yang memperlihatkan kebodohannya dengan cara menjelek-jelekkan orang lain.

Mereka tidak akan bersaing dengan memperlihatkan keterpelajarannya melainkan dengan persaingan saling menjatuhkan satu sama lain. Mengangkat diri atau kelompok dengan cara menjatuhkan orang atau kelompok lain akan dijadikan sebagai “brahma astra” atau bom atom.

Mereka merasa “menemukan” keterpelajarannya di sana, dalam menjelek-jelekkan yang lain. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berusaha “membunuh nyamuk dengan senjata bom atom”, bahwa:
“Kebiasaan menjelek-jelekkan yang lain akan membabat habis akar kebaikan leluhur. Setelah “pohon leluhur roboh” dengan segera “pohon sang diri” jatuh ambruk habis tanpa sisa. Orang-orang seperti itu akan “melihat neraka” di dunia ini dan juga di dunia setelah meninggal.”

Om Santih Santih Santih

(Darmayasa, New Delhi 29 Desember 2018)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Vratena dīkṣām āpnoti
dīkṣāyā āpnoti dakṣiṇām
dakṣinā śraddhām āpnoti
śraddhayā satyam āpyate
Yajurveda XIX.36
Dengan menjalankan Brata seseorang mencapai
dīkṣā (penyucian diri). Dengan dīkṣā seseorang
memperoleh dakṣina (penghormatan). Dengan
dakṣina seseorang mencapai śraddhā
(keyakinan yang teguh). Melalui śraddhā
seseorang menyadari Satya
(Tuhan Yang Maha Esa)

A. Pendahuluan
Perkembangan masyarakat modern cenderung hedonis karena sebagian masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual. Kepuasan nafsu merupakan tujuan hidup dan agama kurang mendapat tempat di hati mereka. Di lain pihak seperti dinujumkan oleh John Naisbitt, justru pada milenum ke-3, umat manusia memasuki pencerahan kehidupan spiritual. Hal ini adalah logis, mengingat pada masyarakat modern, kepuasan duniawi ternyata bersifat semu dan tidak mengantarkannya menuju kebahagiaan yang sejati. Kepuasan duniawi bersifat sementara, bagi mereka yang memili bakat di bidang spiritual, tentu segera akan berpaling dari kehidupan duniawi menuju kehidupan spiritual yang penuh makna, dapat memahami makna hidup dan kehidupan serta tujuan yang ingin diwujudkan. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ajaran agama dan setiap agama mendasarkan ajarannya kepada kitab suci sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkan kehidupan spiritual yang mantap, maka peranan para pandita sangat besar, mereka tidak cukup untuk menuntun umat melalui praktek ritual, upakara dan upacara, melainkan dituntut lebih untuk membimbing umat manusia melalui jalan spiritual. Upakara dan upacara merupakan jalan Bhakti dan Karma sedang jalan spiritual merupakan jalan Jñāna dan Raja atau Yoga Marga. Kita dapat melihat kehidupan spiritual telah merebak di kalangan umat Hindu, misalnya bila kita memperhatikan kegiatan Tīrthayātra, meditasi, melaksanakan Japa, Tapa dan Brata dan lain sebagainya. Berbeda dengan jalan Bhakti dan Karma, jalan spiritual ini kurang mendapat perhatian di kalangan tokoh-tokoh umat Hindu, utamanya di kalangan para pandita.

sulinggih

Untuk itu di dalam menatap citra para pandita dan mengantisipasi perkembangan masa depan, kami mengetengahkan topik tulisan ini guna dapat menyumbangkan buah pikiran sebagai salah satu usaha pengembangan agama Hindu, khususnya membangun citra pandita yang mumpuni dan senantiasa disegani oleh umat Hindu.

B. Peranan dan Fungsi Lokapālāśraya – Patīrthaning Sarāt
Usaha menyucikan diri melalui dīkṣā, salah satu perwujudan Dharma seperti diamanatkan dalam Vṛhaspati Tattva, 25 merupakan kewajiban setiap orang. Di dalam Vṛhaspati Tattva dinyatakan, yang disebut Dharma meliputi tujuh hal, yaitu: śīla, yajña, tapa, dāna, pravṛjya, dīkṣā dan yoga. Untuk itu seseorang menjadi pandita adalah merupakan pengamalan ajaran Dharma yang utuh. Menjadi pandita di samping mewujudkan pengamalan ajaran Dharma, juga merupakan pelaksanaan dari Bhisama leluhur, untuk mengikuti jejaknya. Bila seseorang tidak melaksanakan dīkṣā pada kehidupan ini, setelah meninggal rohnya diupacarakan dengan upacara dīkṣā yang dilaksanakan di Pamarajan keluarga. Upacara ini umumnya disebut “ngaskara”, dari kata “saṁskara”, yang artinya penyucian dari. Sebelum secara khusus membahas tentang fungsi “lokapālāśraya”, terlebih dahulu kami sampaikan siapa saja yang disebut “dīkṣita” atau seseorang yang telah menjalani upacara dīkṣā. Berdasarkan tradisi maka yang disebut “dīkṣita” atau “kṛtadīkṣita” adalah mereka yang telah diinisiasi dengan simbolis dilahirkan kembali melalui upacara suci, oleh karena itu mereka disebut “sang dvijāti”, terdiri dari : ācharya, ṛṣi, bhikṣu (disebut juga dengan istilah bikku atau viku), vipra, kavi, sadhu, sannyasin, yogi, muni, upādhyāya dan bahkan para Brahmacari dan Brahmacarini juga disebut dvijāti, karena mereka seluruhnya mengikuti upacara “dīkṣā”. Di Indonesia, sesuai Ketetapan Mahasabha II/PHDI/1968 mereka yang disebut “dīkṣita” adalah: Rṣi, Mpu (Ida Pandita Mpu), Pedanda, Bhujangga, Dukuh, Danghyang dan Bhagawan. Dengan demikian maka merteka yang telah mengikuti upacara “dīkṣā” digolongkan ke dalam golongan Brahmana yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan beragama umat Hindu.

dukun tengger1
Adapun peranan penting seorang Brahmana atau seorang “kṛtadīkṣita” sesuai dengan uraian yang terdapat di dalam kitab Udyogaparva (99) dan Agastyaparva 391.20 sebagai berikut:
“kunang hetuning dīkṣā hinanaken ta wekasan,
tinūt sang guru maweh tattwa i sang śiṣya.
Apan tan dadi sang siddhayogīswara amarahaken
bhaṭāra irikang wwang tan padīkṣā”

(Adapun sebab munculnya “dīkṣā” yang selanjutnya diteruskan
kemudian, mengikuti jejak guru memberikan ajaran tattwa kepada
śiṣya. Oleh karena tidak boleh seorang yang sudah mencapai
tingkatan Yogiśwara menguraikan hakekat ketuhanan kepada
seseorang yang belum “dīkṣita”)
Berdasarkan penjelasan tersebut seorang pandita atau “dīkṣita” merupakan sarana atau jalan untuk mentransfer pengetahuan ketuhanan (Brahmavidyā). Jadi demi kemurnian ajaran, maka garis perguruan yang di India disebut “param-para” dan di Bali dikenal dengan sebutan “aguron-guron” benar-benar dipertahankan kemurnian dan kesuciannya, oleh karena itu tidak sembarangan seorang “Nabe” akan menganugrahkan “dīkṣā”. Penjelasan lebih lanjut tentang peranan “Nabe” dalam menganugrahkan “dīkṣā” dijelaskan kembali dalam Agastyaparva (391), sebagai berikut: “Ikang kadīkṣā (n) mwang upadeśa sang yogīśwara ya rakwa wenang lumepasaken ikang mānusa” (orang yang telah diinisiasi dan petunjuk hidup dari seorang Yogīśvara, konon yang dapat melepaskan (belenggu) umat manusia).
Lebih jauh tentang fungsi seorang pandita bagi masyarakat (umat) adalah seperti dinyatakan dalam kakawin Bhomāntaka (III.26), sebagai berikut: “Dharma-dharmaning ri sang pinandita mahārdika pinaka patīthaning sarāt” (Dalam hal dharma atau kewajiban seorang pandita yang sempurna merupakan tempat memohon air kehidupan, penyucian dan kebahagiaan hidup bagi masyarakat).
Dari penjelasan singkat di atas dapatlah dinyatakan bahwa fungsi seorang pandita adalah untuk memberikan pendidikan, tuntunan dan mengentaskan kegelapan pikiran umat (masyarakat) demi terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Jadi fungsi atau pengertian “lokapālāśraya” yang selama ini dipahami oleh sebagian umat cenderung dalam pengertiannya yang sempit, hanya sebagai “pemimpin/pemuput” upacara yajña perlu dikaji lebih jauh.
Selanjutnya tentang tugas seorang pandita, sesuai dengan Ketetapan Mahasabha II PHDI/1968 adalah:

  1. Memimpin umat dalam hidup dan kehidupannya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin.
  2. Melakukan pemujaan penyelesaian upacara Yajña.
  3. Dalam memimpin upacara Yajña agar menyesuaikan dengan ketentuan sastra untuk itu.
  4. Pandita juga diharapkan mampu membimbing para pinandita/pamangku.
  5. Aktif mengikuti “paruman” dalam rangka penyesuaian dan pemantapan ajaran agama sesuai dengan perkembangan masyarakat.
  6. Pandita juga memberikan bimbingan “Dharma Upadeśa” melalui Dharma Wacana, Dharma Tula”, Tīrthayatra, dan lain-lain.
    Demikian sekilas peranan dan fungsi seorang pandita yang bertanggung jawab mentranfer ilmu ketuhanan kepada sisya, membimbing umat (masyarakat) dengan “Dharma Upadeśa” yang disampaikan olehnya.

 

C. Disiplin diri dan sikap batin
Kunci keberhasilan seseorang melaksanakan swadharmanya dapat dilihat dari disiplin hidup yang dilaksanakan. Demikian pula seorang pandita, tanpa disiplin hidup mustahil akan dapat melaksanakan fungsinya sebagai yang diharapkan. Disiplin hidup menurut ajaran agama Hindu dilaksanakan dalam sistem aśrama (Brahmacari, Gṛhastha, Vanaprastha dan Sannyasa) bertujuan untuk dapat merealisasikan Puruṣārtha (4 tujuan hidup: Dharma, Artha, Kāma dan Mokṣa). Untuk memupuk dan menumbuh kembangkan disiplin diri dan mengingat fungsi pandita sebagai patīthaning sarāt, kepada seorang pandita dituntut untuk memahami dan mempraktekkan ajaran Yoga, yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Landasan foundamental ajaran Yoga adalah Yama dan Niyama Brata dan akan sangat sempurna bila dapat mempraktekkan Aṣtānggayoga (Yama, Niyama, Asana, Prāóayama, Pratyāhara, Dharana, Dhyāna dan Samādhi) sesuai dengan uraian maharsi Patañnjali dalam kitabnya Yogasùtra. Dengan melatih mempraktekkan ajaran Yoga, khususnya Yama dan Niyama Brata, seorang pandita akan mampu memupuk disiplin hidup dan disiplin diri dan tanpa disiplin ini, seorang pandita akan gagal melaksanakan fungsi atau tugasnya seperti telah diuraikan di atas.

dukun tengger.jpg

Seorang pandita hendaknya memiliki keimanan (śraddhā) yang mantap terhadap ajaran agama Hindu. Keimanan ini merupakan sikap batin seorang pandita. Melalui keimanan yang mantap, penguasaan, pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama menjadikan seorang pandita mengalami perubahan diri (self transformation) dalam perilaku dan tindakannya. Seorang pandita akan mampu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang pandita memancarkan cahaya spiritual yang mempengaruhi umat dan lingkungannya, seperti diungkapkan dalam pendahuluan kakawin Rāmāyana, “ring Ayodhya subhageng rāt, kakwehan sang mahārddhika suśīla” (masyarakat Ayodhya makmur sejahtra, karena banyak (di sana) para pandita utama). Salah satu abhiseka bagi seorang pandita adalah sebagai “Śiva” atau “Śivasakala” (perwujudan nyata Sang Hyang). Kata Śiva mengandung arti yang menganugrahkan kerahayuan. Penyrataan di atas, di dukung pula oleh pernyataan di dalam Taittirīya Upaniṣad (I.11): Ācharyadevo bhava (seorang pandita/guru adalah perwujudan dewata. Sebagai perwujudan dewata dimaksudkan bahwa ia mampu mengemban fungsi dan tugasnya dengan baik.
Disiplin diri dan sikap batin seorang pandita merupakan landasan foundamental terutama dalam praktek kepanditaan menurut tradisi “aguron-guron di Indonesia (Bali). perlu pula ditegaskan bahwa sistem kepanditaan di Indonesia bersifat Saivis dengan warna tantrik. Dalam sistem ini pandita hendaknya mampu menyucikan diri, membakar segala kotoran bathin dan menjadikan dirinya sebagai media untuk mewujudkan Śiva dalam tubuhnya. Dalam kitab Maitreyi Upaniṣad (2.1) dinyatakan:
“dehi devalayaḥ proktaḥ
sajīva kevalaḥ śivah”
(badan jasmani adalah te,pat suci,
jiwa adalah Śiva yang maha kuasa)
Usaha untuk menyucikan diri terus menerus melalui berbagai “sadhana” atau latihan rohani ditegaskan dalam berbagai kitab yang menguraikan tentang disiplin hidup seorang pandita seperti kitab Śīlakrama, Śivaśāsana, Vratiśāsana, Tattvajñāna, Mahājñāna, Vṛhaspati Tattva, Ganapati Tattva, Ślokāntara, Sarasamuccaya, dan lain-lian. Dengan kesucian bathin dan sikap yang mantap terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan Dharmaning Kapanditan, seorang pandita akan sukses mengemban fungsi atau tugasnya itu.
D. Penguasaan ajaran agama
Menjadi seorang pandita yang mantap dalam wawasan isoterik hendaknya mampu menguasai ajaran agama secara komprehensip. Penguasaan ajaran agama yang parsial dan wawasan yang sempit menjadikan seorang pandita tidak mampu melaksanakan fungsinya dengan baik. Ia akan cenderung tertutup, fanatik sempit, egoistis, bahkan rendah diri atau minder bila berhadapan dengan cendekiawan umat Hindu dan sulit dibayangkan apabila berhadapan dengan cendekiawan atau rahaniwan umat beragama lain yang memang disiapkan sejak diri untuk tugas-tugas kependetaan. Persiapan dini ini berlanjut melalui metoda akademis yang memadai. Berbeda dengan kondisi penyiapan yang secara tradisional di kalangan umat Hindu tanpa sistem pendidikan yang memadai, di samping pula penguasaan ajaran agama yang sangat terbatas.
Untuk memantapkan sistem pendidikan calon pandita dalam wawasan isoterik yang mantap, penguasaan ajaran agama yang komprehensip mutlak diperlukan. Untuk itu pula menguasai ajaran agama Hindu yang terdiri dari empat aspek seperti: Veda, sumber ajaran agama Hindu, Śraddhā, Tattwa atau keimanan, Tata Susila atau Etika yang merupakan pancaran pengamalan ajaran agama Hindu dan Ācāra Agama yang meliputi Yajña, upacara, upakara, tempat pemujaan, hari raya, padewasan (menentukan hari baik), hukum Hindu, sosiologi Hindu dan lain-lain secara mendalam mutlak diperlukan.
Untuk penguasaan ajaran agama Hindu dicoba diketengahkan kurikulim pendidikan calon pandita meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang yang bila dikaji dengan seksama dan dikuasai secara mendalam terutama dalam kelompok inti akan kelihatan bahwa semuanya itu mencerminkan ruang lingkup yang komprehensip.
Sesungguhnya permasalahn yang merupakan kendala alah sangat terbatasnya buku-buku agama Hindu yang berbahasa Indonesia, demikian pula bila kita mencari buku-buku agama Hindu yang berbahasa Inggris, kami rasakan sangat kesulitan, kecuali kita menyediakan sejumlah dana. Untuk itu melalui usaha memantapkan sistem pendidikan pandita ini, kami mengaharapkan uluran tangan semua pihak agar segera terwujud sebuah perpustakaan Hindu yang memadai di daerah ini. Di satu sisi kami melihat pembangunan fisik di negara sudah demikian mantap, tetapi penangan masalah pendidikan agama Hindu kurang mendapatkan perhatian. Bukankah sumber budaya Bali adalah agama Hindu dan bagaimana pula melestarikan agama ini bila tidak adanya perpustakaan yang memadai. Kita kadang-kadang bangga punya ribuan lontar yang tersebar di daerah ini. Sudahkah ada pengkajian yang benar-benar ditangani oleh umat Hindu tentang hal ini?

E. Merealisasikan ajaran agama (Dharma Sādhana)
Merealisasikan ajarana agama Hindu dalam kehidupan seharihari adalah mutlak bagi setiap umat Hindu. Demikian pula dan seharusnya lebih nayata lagi bagi seorang pandita karena fungsinya sebagai “patīrthaning sarāt”. Seorang pandita yang tekun melakukan swadharma, melaksanakan Sūryasevana, memimpin upacara keagamaan, mendalami s astra dan melakukan berbagai praktek Yoga akan lebih mudah merealisasikan ajaran agama. Intisari ajaran agama adalah memancarnya cinta kasih, tutur kata yang lemah lembut, sikap yang sopan dan ramah, rendah hati, menghargai sesama umat manusia dan segala ciptaan-Nya.
Agama pada prinsipnya adalah membimbing kehidupan spiritual umat untuk mewujudkan kebahagiaan, dengan demikian agama adalah sarana untuk meringankan beban kehidupan umat-Nya. Tidaklah tepat bila faktor material menghambat seseorang untuk melaksanakan ajaran agama atau memajukan kehidupan spiritual. Demikian pula ajaran agama yang menyangkut aspek ācāra, yakni upacara korban. Upacara korban yang kecil (disebut Kanistha sering salah sebut nista saja) sesungguhnya adalah upacara inti. Upacara adalah salah satu aspek dari yajña dan inti dari yajña adalah keikhlasan.
Dengan pemahanan dan penguasaan ajaran agama Hindu yang mantap, baik oleh umat awam pada umumnya dan pandita khususnya, maka tujuan hidup yang sekaligus tujuan agama dapat diwujudkan. Setiap umat Hindu akan senantiasa bahagia dan sejahtra karena tuntunan Dharma dan Wacana-Wacana yang diberikan oleh seorang pandita. Umat akan mantap melaksanakan swadharmanya masing-masing.
Merealisasikan ajaran agama tidaklah mudah tanpa pemahaman ajaran agama maupun “Śikṣa Abhyāsa” (belajar dan latihan rohani yang tekun). Melihat hal tersebut betapa pentingnya memantapkan pendidikan calon-calon pandita yang qualified.

E. Mengantisipasi perkembangan dan masa depan
Mengantisipasi perkembangan dan masa depan umat Hindu di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengembangkan pendidikan bagi calon pandita. Berbicara masalah pendidikan calon pandita, kita akan menemukan beberapa komponen dalam sistem pendidikan yang saling berhubungan dan merupakan satu rangkaian yang utuh, tidak terpisahkan. Demikian pula dalam menyiapkan pendidikan calon pandita, maka komponen-komponen itu harus merupakan sistem yang terpadu untuk mencapai satu tujuan.

basir dayak.jpg

Untuk menyiapkan sistem pendidikan calon pandita yang mungkin dikembangkan di Indonesia, khususnya di Bali sebagai satu aleternatif adalah dengan memadukan “sistem pendidikan Gurukula (Ashram)” dan pendidikan tradisional “Aguron-guron” dengan “sistem pendidikan modern”.
Adapun pelaksanaannya secara ideal dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Para calon pandita diashramakan dalam ashrama “Pangadyayan”.
  2. Pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan metodologi yang relevan (misalnya seperti kursus, tutorial, penyegaran dan lain-lain).
  3. Para guru (dosen) adalah para pandita dan walaka yang akhli di bidangnya.
  4. Materi pelajaran dan lamanya pendidikan diatur dalam kurikulum.
  5. Di samping pelajaran teori di kelas, juga praktek dan observasi di lapangan
  6. Diadakan berbagai evaluasi dan kepada yang memenuhi syarat dinyatakan lulus dan diberikan sertifikat.
  7. Calon yang telah lulus dianjurkan mencari “Nabe” sesuai dengan tradisi dan rekomendasi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Dengan memajukan pendidikan bagi calon panditanya, tentunya pendidikan umat Hindu di Indonesia pada umumnya akan semakin mantap dan tangguh. Pada akhirnya seorang pandita yang berkualitas akan mampu mengentaskan kebodohan dan belenggu umat dari keduniawian, seperti diamanatkan pada mantra Veda yang telah dikutipkan pada bagian awal dari tulisan ini.

F. Penutup
Sesungguhnya makalah singkat yang disajikan di atas merupakan langkah awal dan tentunya berhasil atau tidaknya memantapkan sistem pendidikan pandita ini akan memantapkan citra pandita dan hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bila para pandita Hindu mampu melaksanakan tugas dan fgungsi atau swadharmanya dengan baik, maka umat Hindu akan sangat mudah mengamalakan ajaran agamanya, sekaligua akan mengantarkan umat Hindu mencapai tujuan agama, yakni “mokṣa” (kebahagiaan abadi) dan “Jagadhita” (kesejahtraan duniawi) dan tentunya keteladanan para pandita dalam membina dan mengemban umat senantiasa mendapat perhatian dari para pandita Hindu. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Uang merupakan sebuah objek duniawi yang selalu dikaitkan dengan kepuasan material. Uang sangat-sangat penting dan mesti dikuasi jika ingin menguasai dunia material. Begitulah uang adanya didunia, tersebar dan saling diperebutkan.

Dunia Material seperti yang kita sudah ketahui, akan selalu berubah dan tidak pasti. Semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan material akan berlalu. Setiap detik objek yang kita dapati di sekitar kita selalu berubah. Debu akan terus menghinggapi kulit, walau kita tak menginginkannya.

Semu, seperti itulah kehidupan di dunia ini. Uang adalah sebuah perantara yang baik di dalam mengarungi kehidupan yang semu ini. Uang menjadikan kita bahagia, uang menjadikan kita dicintai, uang juga menjadikan kita disegani.

Uang memang sangat hebat, uang juga mampu menggetarkan hati seseorang. Bahkan untuk memperoleh pasangan yang cantik atau ganteng sekalipun dengan uang pun bisa terjadi. Itulah fakta yang terjadi di sekitar kita, tak diragukan memang uang itu sangat mempengaruhi status sosial manusia modern. Kepuasan dan kesenangan pun didapat jika uang tersedia. Segala kebutuhan material sangat mudah didapat. seperti itulah Uang.

Seharusnyalah kita menghargai waktu, dengan mengoptimalkan kerja dalam mencari uang.

Hebat sekali Uang ya??

Tapi seperti yang saya ceritakan di awal, apapun yang berhubungan dengan objek duniawi pastilah akan berlalu. Semuanya bersifat semu semata. Datang dan pergi, berlalu tanpa diminta. Maka dari hal ini kita mesti belajar, bahwa kebahagiaan duniawi akan berlalu dan tidak menutup kemungkinan di selingi dengan duka.

Saya pernah mendengar ada sebuah ajaran Nusantara Kuno yang mengengajak kita untuk menemukan kebahagiaan tanpa diiringi kesedihan, “SUKA TANPA WALI DUKA”. Semoga lebih banyak dari kita bisa menemukan kebahagiaan yang bebas dari kesedihan tersebut.

Saya kutipkan untaian Sloka dari Kitab Sarasamuscaya. 269:

“Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.”

Semoga apa yang saya ungkapkan disni, ada hubungannya dengan kehidupan kita,

Dharma selalu menerangi jalan kita.

Om sarve bhavantu sukhinah

Om Santih Santih Santih Om

Jakarta, 05 Desember 2018