Om Swastyastu

Om Awighnamastu namo siddham
Om Brahma Wisnu Mahadewa, toyas tu toya dewakah, amertham sakalam dehi, gangga dewi prabhawatah.

Pelawatan Ida Bhatari Danu


Om danu jnanam maha gangga, sagaro maralayate, narayana adi agaro’pi, kumbha tirtham maha nadi.
Om Brahma Wisnu Rudras ca, toyas ca toya dewakah,  amertham sakalam dehi, gangga dewi namo namah
Om meru pradaksinam kertham, klesa narayana priyam, sarwa tattwa mukha punyam, ripu klesa winasanam.
Om Danu tirtha ye nityam suddha lara suddha rogha ya namah swaha.

_________

Kaketus Saking: Pelelintihan Hair Hawang

_________

Pesisi desa Kedisan-Danu Batur


Dumogi Lingga Acala Gunung Batur lan Danu Batur rauhing Ka Palemahan Wingkang Ranu trepti, santih lan rahayu.
❤ Jero Mangku Danu

Om Swastyastu
Semoga kisah ini menginspirasi Kita (Krama Bali), dalam menegakkan Kedaulatan Warisan Leluhur kita di Bali.
Di suatu hutan belantara hiduplah berbagai kelompok hewan. Mereka hidup bersahabat, rukun, damai, aman dan sejahtera antara satu dengan lainnya. Menjalani kehidupan di hutan belantara dengan bahagia. Tidak saling mengganggu dan apabila salah satu dari mereka mengalami kesusahan mereka suka saling tolong-menolong.
Namun sekarang ini ada dua hewan penghuni hutan belantara yang tidak mau bersahabat. Mereka adalah Semut Api dan Gajah. Kebalikan dari penghuni hutan belantara lainnya, saat ini mereka sedang bertengkar.
Awal mereka bisa sampai bertengkar adalah karena ulah Gajah yang selalu lewat di atas perkampungan Semut Api. Gajah yang bertubuh super besar itu membuat rusak rumah-rumah tanah yang telah dibangun susah payah oleh pasukan pekerja Semut Api. Oleh sebab itu semut-semut Api kesal sekali sama Gajah.
“Hei, Gajah! Lihat-lihat dong kalau jalan,” omel kepala pasukan pekerja Semut Api. 
“Memangnya kenapa?” tanya Gajah tak acuh dengan suara beratnya.
“Rumah kami rusak, tahu!” Suara Semut Api yang cempreng terdengar terus mengomel.

“Oh, itu bukan urusanku,” jawab Gajah sambil pergi berlalu begitu saja, meninggalkan gerombolan Semut Api yang masih menggerutu di belakangnya.


Kejadian tersebut tak hanya terjadi sekali, tetapi sudah terjadi berulang-ulang kali. Kesabaran pasukan Semut Api pun sudah mulai habis. Karena itu, atas komando Kepala Pasukan Pekerja Semut Api diumumkanlah pernyataan untuk membuat perhitungan dengan Gajah.
“Kawan-kawanku setanah air dan seperjuangan, Gajah sudah sangat keterlaluan! Menginjak-nginjak rumah kita secara tidak hormat berarti sama saja menginjak-nginjak harga diri kita sebagai Semut Api. Oleh karena itu kita harus membalas perlakuannya. Setuju?!” Suara Kepala Pasukan terdengar lantang.
“Ya, setuju!!!” Kompak terdengar suara-suara Semut Api pekerja lain menanggapi usulan itu. Setelah itu pun dibuat strategi demi strategi untuk mengalahkan Gajah yang bertubuh super besar.
Pada keesokkan harinya Gajah datang lagi dan seperti biasa ia akan melewati rumah-rumah semut api. Kedatangannya ditandai dengan suara gedebum kakinya saat menyentuh tanah. Namun tidak seperti biasanya yang tenang, saat ini pasukan Semut Api telah bersiap siaga di posisi mereka masing-masing. Ketika Gajah memasuki areal perkampungan Semut Api, dengan cepat dan sigap para pasukan Semut Api yang telah bersiap pada posisinya langsung menyerang Gajah. Terjadilah kehebohan antara Pasukan Semut Api melawan Gajah. Semut-semut mengerumuni tubuh si gajah dan menggigitnya. Ada yang menggigit kakinya, ada masuk telinganya, ada yang masuk ke lobang belalainya. Mereka semua menggigit si Gajah. Pokoknya si Gajah dikerubuti berpuluh-puluh ribuan Semut Api.
Tak tahan digigiti pasukan Semut Api, Gajah menjerit-jerit. Suara jeritannya terdengar ke seluruh penjuru hutan dan mengganggu aktivitas hewan-hewan lain yang tinggal di hutan. Termasuk Burung Hantu, Katak si pelompat, Musang, Kancil, dan lainnya pula. Karena terganggu dengan suara Gajah, mereka pun mengadukan hal itu pada Singa si raja hutan. Mereka yang mengadu adalah Katak si pelompat, Burung Hantu, Kancil dan Musang.
Mereka meminta kepada Singa si raja hutan untuk menghentikan teriakan Gajah yang bising. Mendengar keluhan dari rakyatnya, Singa si raja hutan mengambil kebijakan dengan memanggil perwakilan Semut Api dan Gajah. Singa akan menyelesaikan perkara mereka di sidang hutan.
Dalam persidangan Singa bertanya dengan bijaksana, “Hai, kamu Semut Merah. Kenapa kamu menyerang si Gajah ini, hah?”
“Semua adalah kesalahan Gajah yang selalu datang menginjak-injak rumah kami setiap hari. Padahal rumah-rumah tanah itu dibangun dengan susah payah oleh para pekerja kami.” Jawab Semut Api.
Pada awalnya Gajah mengelak atas tuduhan Semut Api. Ia mengatakan, “tidak…itu bukan salahku, aku tidak merusak rumah-rumah mereka. Tempat mereka membuat rumah-rumah tanah adalah jalurku berjalan. Aku tidak tahu-menahu dengan semua itu.”
Tetapi Singa si raja hutan tak mempercayai ucapan Gajah yang terkesan mengada-ada. “Benarkah itu Gajah?” tanya Singa penuh selidik. Karena didesak sedemikian rupa, Gajah pun akhirnya mengakui kesalahannya. Ia mengangguk-angguk perlahan-lahan. Kemudian diputuskan bahwa Gajah harus mencari rute perjalanan yang lain supaya tidak merusak rumah-rumah Semut Api. Gajah pun menyetujuinya dan meminta maaf kepada Semut Api. Mulai saat itu dan seterusnya, Gajah tidak lagi lewat dan merusak rumah-rumah tanah Semut Api. Semut-semut Api pun bisa hidup tenang. Kedamaian serta kerukunan di hutan belantara kembali tercipta.

Perlawanan Rakyat Bali Kepada Pengausa Lalim


Wahai Semeton Bali…..mari jadi seperti Semut Api  yang Bersatu dalam menghadapi Penguasa Lalim dan Pengusaha Rakus…..!!!

Jangan biarkan mereka menginjak-injak kedaulatan kita…..
Manggalamastu….

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Om Swastyastu

Mutiara Dharma 07/02/2017:

“Pengetahuan tentang kasih itu sering tidak banyak berarti karena tidak diwujudkan secara nyata dalam suatu tindakan kasih.”
Mutiara Dharma 08/02/2017:

“Perhatian adalah kemampuan memandang pribadi lain sebagaimana adanya, dan menyadari individualitasnya yang unik. Perhatian berarti membiarkan pribadi lain itu berkembang dan membuka dirinya sebagaimana adanya, demi dirinya sendiri dan dengan caranya sendiri, dan untuk mengabdi kepada dirinya sendiri. Perhatian ada hanya atas dasar kebebasan…. Jelaslah bahwa perhatian hanya mungkin jika kita dapat berdiri dan berjalan tanpa tongkat, tanpa terpaksa menguasai dan mengeksploitasi siapapun.”

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Om Swastyastu

Semakin banyak dendam yang kalian tumpuk, semakin berat hati kalian untuk melihat kebaikan orang lain dan semakin sulit kalian menikmati kebahagiaan.”

Om Santih Santih Santih Om

❤ Jero Mangku Danu

#MangkuDanuQoutes


​TUMPEK LANDEP; Antara Adu Gengsi dan Ketumpulan Nurani

(Sebuah Renungan Perayaan Tumpek Landep di Bali)
Oleh: Jero Mangku Danu

Om Swastyastu
Bali sedang menikmati kemakmuran, memang. Bukti kemakmuran orang Bali itu bisa diamati dalam laku beragama mereka satu dasa warsa terakhir. Pura orang Bali kini tampak megah-megah. Upacara berskala besar dengan biaya ratusan juta dan milyaran rupiah pun begitu kerap digelar sepuluh tahun terakhir. Banyak orang Bali juga gemar matirtha yatra, bersembahyang ke berbagai pura di Bali, bahkan di luar Bali hingga Mancanegara. Ketika bersembahyang ke pura, orang Bali kini sangat modis dengan pakaian model terbaru, mahal dan tak jarang produk impor. Sampai-sampai dupa yang digunakan untuk bersembahyang pun tak lagi kelas murahan, tetapi produk impor dari India.
Kemakmuran orang Bali terlihat nyata salah satunya adalah saat perayaan hari suci Tumpek Landep. Dulu, hari Tumpek Landep dimaknai sebagai hari suci untuk mengupacarai berbagai jenis senjata tajam. Biasanya, yang diupacarai saat Tumpek Landep berupa keris pusaka dan segala perlengkapan bertani yang terbuat dari besi. Bahkan jika kita telisik lebih dalam Tumpek Landep sejatinya adalah hari dan saat dimana Manusia mesti menajamkan idhep dan manahnya melalui permenungan (dharana) dan kontemplasi (dhyana) agar mampu hidup  sehat sekala dan niskala dan hidup harmonis penuh damai.

Kini, yang diupacarai saat Tumpek Landep bukan lagi keris atau perlengkapan bertani yang terbuat dari besi, tetapi juga sepeda motor dan mobil. Maka, saat Tumpek Landep tiba, orang Bali yang memiliki kendaraan bermotor akan menjejerkan kendaraannya di depan rumah untuk diupacarai. Para pemangku pun laris manis kebagian pesanan untuk nganteb. Tak jarang seorang pemangku mulai berangkat sejak pagi lantaran saking banyaknya pesanan. 

Merayakan Tumpek Landep dengan tradisi mengupacarai kendaraan bermotor pun menjadi tampak meriah di Bali karena kepemilikan kendaraan bermotor di Bali cukup tinggi. Hampir setiap keluarga di Bali pasti memiliki sepeda motor, bahkan satu keluarga memiliki lebih dari dua sepeda motor. Yang kemampuan ekonominya baik melengkapi teras rumahnya dengan mobil. Tak tanggung-tanggung, mobil yang dimiliki tergolong merk terbaru. Cobalah diamati di jalanan-jalanan utama Bali, mobil merk apa pun dan yang paling gres ada. 

Bali memang menjadi pasar sepeda motor dan mobil potensial di Indonesia. Itu sebabnya, sejumlah produsen mobil di Indonesia sudah mulai memilih Bali sebagai tempat peluncuran produk terbaru. Sepeda motor? Jangan dibilang lagi, Bali termasuk paling doyan. Kabar yang berembus dari distributor sepeda motor di Bali, berapa unit pun sepeda motor yang didatangkan ke Bali, cenderung habis terjual. Terlebih lagi transportasi publik di Bali tidak berkembang sehingga orang Bali lebih suka beraktivitas dengan sepeda motor. 

Orang Bali juga tidak begitu sulit memiliki kendaraan bermotor. Hanya dengan memiliki uang Rp 500.000 sudah bisa membawa pulang satu unit sepeda motor terbaru, dan cuma dengan Rp 5.000.000 sudah bisa memiliki sebuah mobil terbaru. 
Lambat laun, tanpa disadari, orang Bali hidup dalam persaingan gaya hidup yang tinggi. Dalam kata sederhana, terjadi adu gengsi di antara orang Bali. Adu gengsi itu pun berimbas pada perayaan Tumpek Landep, saat sepeda-sepeda motor dan mobil-mobil itu diupacarai. 

Adu gengsi ini juga jika diamati, Orang Bali kini menjadi sangat konsumtif. Kendaraan bermotor yang sesungguhnya hanya alat untuk mencapai tujuan, tanpa disadari kini telah dijadikan tujuan. 
“Semestinya yang diutamakan kan fungsi dari alat itu, bukan adu gengsi. Prinsip hidup sederhana hanya menjadi jargon karena perilaku keseharian orang Bali justru konsumtif,”
Perilaku konsumtif ini memang dipicu banyak sebab. Tapi, contoh buruk dari pejabat menjadi salah satu faktor penting. Seolah menjadi lumrah, pejabat mesti bergaya hidup mewah: membawa mobil baru, rumah mewah, dan gaya hidup borjuis. Nurani menjadi tumpul dan empati sulit didapat. 
Tumpek Landep sejatinya bukanlah hari untuk mengupacarai segala jenis senjata dan kendaraan, tetapi sebagai momentum untuk berintrospeksi untuk mengusut-usut diri, sejauh mana memiliki ketajaman pikiran dan ketajaman nurani. Ketajaman pikiran ditunjukkan dengan kemampuan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi, ketajaman nurani ditunjukkan melalui empati dan kepedulian kepada keadaan orang lain. 

Ironisnya, justru pada perayaan Tumpek Landep, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu terasa hilang. Orang Bali kehilangan ketajaman pikiran karena semakin konsumtif yang berarti kian kehilangan daya kreativitas, sedangkan ketajaman nurani semakin menyusut karena ambisi dan gengsi terus menguasai diri.

“Yang sangat memprihatinkan, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu sulit kita dapatkan dari para pejabat atau penyelenggara pemerintahan. Kalau ketajaman pikiran dan nurani itu terjaga, semestinya pengelolaan sumber daya alam dan pengelolaan anggaran lebih besar untuk kepentingan rakyat, bukan lebih banyak untuk kepentingan pejabat, birokrasi, investor  akus dan pengusaha tamak.”

Semoga momentum Tumpek Landep kali ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk lebih kepada penajaman pikiran, budhi pekerti, hati nurani. Dengan demikian kita akan bisa hidup  sriyam, swasti, sukham dan purnam. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

​Mutiara Dharma 21/01/2017:

Om Swastyastu

“Mitos bahwa saat Hari Suci Saraswati tidak boleh belajar dan membaca buku….mitos ini harus kita retas dan luruskan. Karena pengetahuan tidak saja ada pada buku…sekarang sdh ada pada HP, Smartphone, iPad, TV, Majalah, Koran, Internet…..dan lain-lain. Saat ini Kita  semua membaca, menulis dan belajar melaluinya.
Jadi….Seusai muspa/sembahyang kepada Sanghyang Aji Saraswati….adalah WAJIB bagi kita untuk BELAJAR lewat berbagai media dimana pengetahuan itu disediakan olehNya. Dengan demikian kita akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk terhindar dari Awidya (Kebodohan), dan memiliki kesempatan yang lebih leuasa untuk mencerap berbagai pengetahuan yang IA sediakan bagi kehidupan kita. Dan Orang Wicaksana—-bergerak dari Awidya menuju Widya menuju Wijnana menuju Widwam menuju Ksetrajna.”

Kami haturkan Selamat Hari Suci Saraswati kepada umat Sedharma dimanapun Berada.

❤ Jero Mangku Danu©

Mutiara Dharma 20/01/2017:

Om Swastyastu

“Bila pikiran manusia sudah diliputi oleh kebencian, hubungan antarmanusia akan dirusaknya, di sinilah motif keegoisan muncul dengan dituntun keserakahan dan itikad buruk. Lewat itikad buruklah manusia bermusuhan satu sama lain. Hal ini berlaku baik pada tingkat pribadi, social masyarakat bahkan internasional. Manusia mengikis rasa perikemanusiaannya dan melupakan bahwa dirinya adalah mahluk yang berakal budi, sehingga ia akan menggeram, menggigit, merangkak bahkan mengibaskan ekor bila perlu.

Walaupun secara teoritis ia faham betul apa telah digariskan oleh agamanya untuk saling mengasihi, ia tetap tidak dapat menjaga hubungan antarmanusia baik bagi kebaikannya sendiri maupun bagi masyarakat umum.

Hasil yang tidak terelakkan adalah bahwa manusia akan menarik bentuk pikiran apa pun untuk menguasai dirinya. Kadang-kadang ini bisa berupa kebencian yang kronis, atau dendam kesumat yang lama terpendam. Kedengkian, kemarahan, dan kebencian yang bermunculan dalam diri dapat menyalakan kemurkaan yang menyebabkan kita kehilangan keseimbangan. Singkatnya, tidak ada yang lebih berbahaya daripada dosa, sang angkara murka.”

WASPADALAH…!!

Om Santih Santih Santih Om

~ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

gambarkatakatamutiarabijakcintamotivasikehidupanquotelucukutipanindahsemarkyailurahsemarbadranaya06052015195636idquot-png