Om Swastyastu

Sloka:
स घोषो धार्तराष्ट्राणां हृदयानि व्यदारयत् ।
नभश्च पृथिवीं चैव तुमुलो व्यनुनादयन् ॥ १.१९॥
sa ghoṣo dhārtarāṣṭrāṇāṁ hṛdayāni vyadārayat,
nabhaśca pṛthivīṁ caiva tumulo vyanunādayan. I-19.

Kosakata:
saḥ = itu; ghoṣaḥ = suara; dhārtarāṣṭrāṇām = dari putra-putra Dhṛtarāṣṭra; hṛdayāni = hati; vyadārayat = merobek; nabhaḥ = langit, angkasa; pṛthivīm = bumi; ca = dan; eva = saja; tumulaḥ = gemuruh; vyanunādayan = menggema.

Terjemahan:
Suara gemuruh itu menggema di bumi hingga angkasa, merobek-robek hati (menjatuhkan mental) putra-putra Dhṛtarāṣṭra.

Ulasan:
Suara-suara dahsyat sangkalala-sangkalala ini memenuhi langit dan bumi tanpa hentihentinya
dan menjatuhkan semangat putra-putra Kaurawa.
Duryodhana saat menyaksikan kekuatan pasukan Pandawa yang didukung oleh kekuatan Bima menimbang kekuatan pasukannya sendiri di bawah komando Bisma dan merasakan suasana hati dari penasihatnya Dronacarya, dia dapat memahami kekurangan pasukannya sendiri dan kesempurnaan kekuatan pada pasukannya.

Suara gemuruh Pancajanya, Sangkakala Krshna dan Pandawa beserta pasukannya memekik dan terasa menghancurkan hati dalam arti bahwa Bisma dan semua orang yang mendukung Kurawa merasakan sakit di hati mereka seolah-olah hati mereka hancur. benar-benar hancur. Pasukan Kurawa juga sempat membuat keributan beberapa menit sebelumnya tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menciptakan kecemasan di pasukan Pandawa dan ini tidak dapat disangkal terbukti dengan potensi respon Pandawa.

Bisma yang melihat semua itu mengeluarkan auman seperti singa dan meniup kulit kerangnya yang dahsyat dan bergema yang disusul dengan tabuhan gendang yang riuh, membunyikan tiupan sangkakala seolah-olah menandakan kemenangan untuk menyemangati Duryodhana. Segera setelah mendengar ini Krshna dan Arjuna duduk di kereta agung mereka yang mampu menaklukkan seluruh dunia; keduanya mengmabil sangkakala mereka dan bergema suara yang mengguncang seluruh dunia. Setelah itu Bima, Yudistira, Nakula dan Sadewa dan maha-ratha tentara Pandawa lainnya meniup sangkakala mereka dan auman yang terdengar membelah hati Duryodhana dan tentara Korawa dan di dalam hati mereka merasa bahwa pertempuran telah usai. sudah hilang. Demikianlah Sanjaya menceritakan kepada Dhritarashtra yang hanya memperhatikan keberhasilan putranya Duryodhana dan Korawa dalam pertempuran.

Duryodana. Putra-putra Dhrtarastra kemudian berpikir, Tujuan kita sekarang hampir hilang. Demikian kata Sanjaya kepada Dhrtarastra yang mendambakan kemenangan. Sanjaya berkata kepada Dhrtarastra: Kemudian, melihat Korawa, yang siap berperang, Arjuna, yang memiliki Hanuman, yang terkenal karena usahanya membakar Lanka, sebagai lambang pada benderanya di keretanya, mengarahkan kusirnya Sri Krshna, yang merupakan gudang harta pengetahuan, kekuasaan, ketuhanan, energi, potensi dan kemegahan, asal, pemeliharaan, dan kehancuran seluruh kosmos di tangan-Nya akan, yang adalah Penguasa indrya, yang mengendalikan dalam segala hal indrya dalam dan luar semua, superior dan inferior, kemudian meminta Krshna agar keretanya diarahakn ke tempat yang tepat agar Arjuna dapat melihat dengan tepat musuhnya yang sangat menginginkannya pertarungan.

Demikian ulasan singkat Sloka ke-19 Adhyaya pertama ini. Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma
Senin, 07 Maret 2022


Om Swastyastu

पाञ्चजन्यं हृषीकेशो देवदत्तं धनञ्जयः ।
पौण्ड्रं दध्मौ महाशङ्खं भीमकर्मा वृकोदरः ॥ १.१५॥
pāñcajanyaṁ hṛṣīkeśo devadattaṁ dhanañjayaḥ,
pauṇḍraṁ dadhmau mahāśaṅkhaṁ bhīmakarmā vṛkodaraḥ. I-15

Kosakata:
pāñcajanyam = Pāñcajanya, nama terompet kerang; hṛṣīkeśaḥ = Kṛṣṇa; devadattam = Devadatta, nama terompet kerang (Arjuna); dhanañjayaḥ = Arjuna; pauṇḍram = nama terompet kerang (Bhīma); dadhmau = meniup; mahāśaṅkham = terompet kerang yang besar; bhīmakarmā = perilaku Bhīma (yang menakutkan); vṛkodaraḥ = yang berperut serigala (nama lain Bhīma).

Terjemahan:
Kṛṣṇa meniup sangka yang bernama Pāñcajanya, Arjuna meniup sangka miliknya yang bernama Devadatta, serta Bhīma yang berperut serigala dan menakutkan, meniup sangka besar miliknya yang bernama Paundra.

Ulasan:
Dalam sloka ini, Krshna disebut sebagai “Hrsikesa” yang berarti Penguasa pikiran dan indera. Shri Krshna dipandangn sebagai Penguasa dari pikiran dan indera setiap orang.
Pancajanya adalah nama lain Krshna, cangkang keong transendental dan nama lain yang disebutkan adalah cangkang keong Pandawa. Ini menandakan bahwa ada banyak cangkang keong ilahi yang ada di sisi Pandawa tetapi di sisi Kurawa tidak ada dan tidak ada yang disebutkan.


Dengan menyebut Krshna sebagai Hrsikesa, pengatur indra setiap orang, ini menunjukkan bahwa dengan hal ini mengarahkan tujuan mereka, kemenangan pasti bagi Pandawa.
Penggunaan nama dhanajaya untuk Arjuna yang berarti penakluk kekayaan menunjukkan bahwa ia akan menaklukkan semua kekayaan dengan mengalahkan semua raja yang kaya dan berkuasa yang berbaris melawannya di medan perang dan dengan kata karma yang berarti reaksi atas tindakan yang ditambahkan ke nama Bhima mengacu untuk membunuh raksasa Hidamba setelah dia dan ibu dan saudara laki-lakinya terpaksa melarikan diri dari rumah mereka yang terbakar yang dipicu oleh Duryodhana dan menunjukkan apa yang akan terjadi padanya di masa depan.


Penanda Perang telah ditiup, sebentar lagi ayakan kebenaran dan ketidakbenaran segera akan bekerja, untuk menyeleksinya dengan penuh keadilan. Demikian ulasan Sloka ke-15 Bhagavadgita Adhyaya satu ini, semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma
Selasa, 22 Februari 2022

Om Swastyastu

 अनन्तविजयं राजा कुन्तीपुत्रो युधिष्ठिरः

नकुलः सहदेवश्च सुघोषमणिपुष्पकौ .१६॥

anantavijayaṁ rājā kuntīputro yudhiṣṭhiraḥ

nakulaḥ sahadevaśca sughoṣamaṇipuṣpakau. I-16.

Kosakata:

anantavijayam = nama sangkanya Yudhiṣṭhira; rājā = maharaja; kuntīputraḥ = putra Devi Kunti; yudhiṣṭhiraḥ = Dharmawangsa; nakulaḥ = Nakula; sahadevaḥ = Sahadeva; ca = dan; sughoṣa = nama terompet kerang Nakula; maṇipuṣpakau = nama sangkanya Sahadeva.

Terjemahan: 

Putra sulung Dewi Kunti Maharaja Yudhiṣṭhira meniup sangkanya yang bernama Anantavijaya, sedangkan Nakula serta Sahadeva meniup sangka mereka yang masing-masing bernama Sughoṣa dan Maṇipuṣpaka.

काश्यश्च परमेष्वासः शिखण्डी च महारथः ।

धृष्टद्युम्नो विराटश्च सात्यकिश्चापराजितः ॥ १.१७॥

kāśyaśca parameṣvāsaḥ śikhaṇḍī ca mahārathaḥ,

dhṛṣṭadyumno virāṭaśca sātyakiścāparājitaḥ. I-17.

Kosakata:

kāśyaḥ = Raja Kāśi; ca = dan; parama-iṣu-āsaḥ = pemanah ulung; śikhaṇḍī = Śikhaṇḍī; mahārathaḥ = ahli kereta, ksatria agung; dhṛṣṭadyumnaḥ = Dhṛṣṭadyumna; virāṭaḥ = Raja Virāṭa; sātyakiḥ = Sātyaki; āparājitaḥ = yang tak terkalahkan.

Terjemahan:

Pemanah ulung Raja Kāśi, ksatria agung Śikhaṇḍī, Dhṛṣṭadyumna, Raja Virāṭa dan Sātyaki yang tidak terkalahkan.

द्रुपदो द्रौपदेयाश्च सर्वशः पृथिवीपते ।

सौभद्रश्च महाबाहुः शङ्खान्दध्मुः पृथक्पृथक् ॥ १.१८॥

drupado draupadeyāśca sarvaśaḥ pṛthivīpate,

saubhadraśca mahābāhuḥ śaṅkhāndadhmuḥ pṛthakpṛthak. I-18.

Kosakata:

Drupadaḥ = Raja Drupada; draupadeyāḥ = Putra-putra Draupadi, Pancakumara; ca = dan; sarvaśaḥ = semua; Pṛthivīpate = wahai Raja (Dhṛtarāṣṭra); saubhadraḥ = Putra Dewi Subhadra, Abhimanyu; mahābāhuḥ = yang berlengan perkasa; śaṅkhān dadhmuḥ = meniup sangka-sangka; pṛthak pṛthak = sendiri-sendiri.

Terjemahan:

Wahai Raja (Dhṛtarāṣṭra)! Raja Drupada yang berlengan perkasa, putra-putra Drupadi (Pancakumara), dan juga putra Dewi Subhadra (Abhimanyu), semuanya serentak meniup sangkanya masing-masing.

Ulasan:

Yudhistira, Pandawa tertua sedang dipanggil di sini sebagai “Raja.” Dia selalu menunjukkan keanggunan dan kebangsawanan kerajaan, baik tinggal di istana atau di hutan saat diasingkan. Dia juga mendapatkan gelar ini dengan melakukan Rājasya Yajña sebuah pengorbanan kerajaan, yang membuatnya mendapatkan upeti dari semua raja lain di dunia.

Dalam sloka ini, Sanjaya juga menyebut Dhrtarastra sebagai “Penguasa bumi.” Alasan sebenarnya untuk sebutan ini adalah untuk mengingatkannya akan tugasnya sebagai penguasa negara. Dengan begitu banyak raja dan pangeran yang berpartisipasi dari kedua belah pihak dalam perang ini, seolah-olah seluruh bumi terbelah menjadi dua pihak. Sudah pasti bahwa perang raksasa ini akan menyebabkan kehancuran yang tidak dapat diubah. Satu-satunya orang yang bisa menghentikan perang pada saat ini adalah Dhrtarastra, dan Sanjaya ingin tahu apakah dia bersedia melakukan itu.

Pada saat itu merupakan kebiasaan bagi tokoh-tokoh terkemuka untuk memiliki perlengkapan pribadi yang sering diberi nama Sangkakala unik untuk setiap prajurit dan sering kali dapat dikenali hanya dari suaranya. Dalam pertempuran di Virata dimana Arjuna menyamar, dia langsung dikenali oleh Kurus ketika dia meniup sangkakalanya.

Menarik juga untuk dicatat bahwa hanya para pejuang yang sangkakalanya disebutkan dalam tiga sloka terakhir yang selamat (dengan pengecualian Satyaki yang disebut tak terkalahkan). Semua prajurit lainnya, dari Bhisma hingga Abimanyu tewas dalam pertempuran itu.

Maksudnya adalah bahwa kulit kerang Pancajanya dari Krshna dan kulit kerang Devadatta, Paundram, Anantavijaya, Sughosa dan Manipuspaka dari lima Panadva terkenal dan termasyhur; tetapi di tentara Duryodhana tidak ada sangkakala yang terkenal dengan nama apapun. Intinya siapapun yang telah menyelaraskan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelindung mereka, niscaya tanpa ragu akan selalu menang. Kemudian para prajurit pasukan Pandawa mulai membunyikan Sankakala mereka. Srikhandi adalah putra Drupada yang lahir dari penebusan dosa terutama untuk membunuh Bhisma. Drstradyumna lahir dari pengorbanan api terutama untuk membunuh Drona. Satyaki tidak terkalahkan seperti Arjuna yang tidak pernah mengenal kekalahan. Jadi sloka ini secara tidak langsung mengungkapkan kepada Dhrtarastra bahwa dia tidak boleh memikirkan gagasan bahwa putranya Duryodhana akan menang dalam pertempuran bahkan dengan bantuan Bisma dan Drona.

Sanjaya memberitahu Raja Dhrtarastra dengan sangat bijaksana bahwa kebijakannya yang tidak bijaksana untuk menipu putra-putra Pandu dan berusaha untuk menobatkan putra-putranya sendiri di takhta kerajaan sangat tidak terpuji. Tanda-tanda sudah dengan jelas menunjukkan bahwa seluruh dinasti Kuru akan terbunuh dalam pertempuran besar itu.

Demikian ulasan Bhagavadgita Adhyaya I.1, semoga bermanfaat.

Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Sudarma

23 Februari 2022

Om Swastyastu

Ada seorang pria buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani & menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Pria itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, kemudian menulis surat singkat kepada pria itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik bola mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya & lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai & menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hal yang bisa kita renungkan adalah……

  • Hari ini sebelum kita berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar, Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
  • Sebelum kita mengeluh tentang cita rasa makanan kita, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
  • Sebelum kita mengeluh tentang hidup kita, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi meninggalkan kehidupan ini.
  • Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita, Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi belum mendapatnya.
  • Sebelum kita bertengkar karena rumah kita yang kotor & tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai, Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Saudara-Saudari saya semuanya…. Hidup dan Hadir dalam wadag manusia Adalah Anugerah terbesar dari Tuhan, mari kita Angayubagia, mari kita Bersyukur…!! Dengan sesanti: Om Dewa Suksma Parama Acintya ya namah swaha

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma.

Om Swastyastu

Dimana seseorang dikatakan berasal dari satu sumber yaitu  Hyang Widhi. Namun mengapa manusia di dunia ini memiliki perbedaan aktivitas dan keadaan jasmani serta rohaninya?.
Memang, manusia pada hakikatnya berasal dari yang satu yaitu  Hyang Widhi. Jikalau kita lihat di dalam ajaran Samkhya, manusia berasal dari perpaduan antara Purusa dan Prakrti. Di dalam Samkhya dijelaskan bahwa Purusa memiliki jumlah yang banyak. Inilah salah satu penyebab mengapa manusia memiliki perbedaan aktivitas. Dengan pertimbangan bahwa :
1. Kematian atau kelahiran seseorang tidak menyebabkan kematian ataupun kelahiran orang lain.  Jikalau Purusa tersebut hanya satu maka kematian atau kelahiran seseorang akan menyebabkan kelahiran atau kematian pada orang lain.
2. Seandainya ada satu Purusa untuk semua mahluk maka aktivitas seseorang haruslah menyebabkan orang lain aktif. Namun kenyataanya jika seseorang tidur, ada orang lain yang bekerja atau beraktivitas yang lain.
3. Manusia laki-laki atau perempuan berbeda dengan dewa-dewi. Perbedaan itu akan hilang jikalau Purusa hanya satu.

Tetapi dikarenakan oleh perpaduan keduanya itulah maka terjadi ketidakseimbangan pada Tri Guna. Dikarenakan Tri Guna tersebut sudah tidak seimbang lagi maka terjadi saling mempengaruhi ketiga Guna itu. Dari saling mempengaruhi itu maka terjadi evolusi pada Prakrti. Dari Prakrti muncul Budhi, Ahamkara dan Manah. Ketiga hal itulah yang kemudian disebut sebagai Upadhi. Upadhi inilah yang menutupi manusia, sehingga manusia mengalami kegelapan atau avidya. Manusia tak dapat mengetahui kehidupanya yang terdahulu dan kehidupannya yang akan datang. Dikarenakan avidya/ kegelapan maka manusia tidak mengetahui kesejatian dirinya (sejatining manungso). Dari manakah manusia, akan kemanakah manusia, dan mengapa manusia dilahirkan?.

Dari Upadhi itulah aktivitas manusia juga bermacam-macam. Dari Manah (pikiran) manusia mulai memiliki keinginan- keinginan yang bermacam macam. Apalagi di zaman sekarang ini dimana keinginan duniawi semakin mendesak pikiran kita untuk mencari dan mencari segala-galanya. Oleh karena pikiran inilah yang mengakibatkan aktivitas manusia di dunia berbeda – beda. Ada yang menginginkan ini dan ada yang menginginkan itu. Manusia tidak lah sama. Apalagi jikalau pikiran kita dipengaruhi oleh sifat Ahamkara (keakuan). Manusia atau seseorang selalu bilang ini adalah milik-Ku. Ini adalah ayah-Ku, ini milik-Ku, ini adalah buku-Ku, dan lain sebagainya. Sifat keakuan inilah yang selalu menutupi diri kita untuk mengetahui jati diri kita sebagai manusia. sifat ahamkara ini pula dipengaruhi oleh Tri Guna. Ada Ahamkara yang bersifat Sattvam, ada Ahamkara yang bersifat Rajas dan ada yang bersifat Tamas.

Dari hal hal yang telah diterangkan di atas maka terjadilah phala dari karma-karma yang dilakukan oleh manusia baik dari kehidupan yang terdahulu, dan sekarang yang dapat mengakibatkan keadaan hidup kita sekarang maupun yang akan datang. Manusia memang diciptakan dari yang satu yaitu Hyang Widhi. Namun dikarenakan karma phala tersebut maka ada perbedaan keadaan manusia.  ada yang kaya ada yang miskin, ada yang jujur ada yang pembohong, ada yang baik dan ada juga yang jahat dan sebagainya. Kesemuanya itu dikarenakan oleh phala karma mereka masing- masing dari kehidupan terdahulu maupun sekarang.


Oleh karena itu hendaknya kita sebagai manusia yang masih avidya, sesegera mungkin menyadari kesejatian diri. Siapakah sebenarnya kita? Mengapa kita dilahirkan? Kemana kita selanjutnya kita akan pergi?. Itulah yang harus kita cari jawabannya dengan selalu mencari ke dalam diri kita sendiri karena segala akibat selalu bersumber dari kita sendiri bukan dari luar kita.


Filsafat jawa  mengajarkan kita agar selalu eling lan waspodo. Eling dengan siapa? Tentu saja eling dengan keberadaan kita. Selalu eling dengan Hyang Widhi  dengan jalan menjalankan ajaran agama kita masing-masing. Dan juga selalu waspodo. Waspada agar kita tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baikdan benar. Dengan ketidaktahuan kita tentang keadaan kehidupan terdahulu. Apakah lebih baik ataukah lebih buruk, maka kita perlu waspodo dan menyiapkan diri kita sebelum terlanjur dengan cara berbuat baik dalam setiap tindakan kita. Kita harus merenungkan dahulu sebab dan akibatnya jika kita melakukan segala perbuatan.

Kita hidup sebenarnya adalah untuk memperbaiki diri agar kita mampu menyatukan diri dengan sumbernya yaitu Sang Pencipta. Hidup hanyalah sebentar saja. hidup hanyalah untuk menunggu kematian saja, karena kita semuanya akan kembali kepada asalnya. Namun apakah kita akan kembali dengan keadaan yang baik ataukah kembali dengan keadaan yang lebih buruk dari semula?.

Hidup yang sebentar ini sepantasnya diisi dengan kebaikan / Dharma. Hidup ini harus kita jalani walaupun harus mengalami kesusahan maka anggap bahwa kesusahan tersebut merupakan hasil karma kita yang terdahulu. Hidup adalah sebuah rangkaian karma-karma yang harus kita jalani. Oleh karena itu haruslah selalu “Narimo ing pandhum”; selalu menerima segala apa (hasil) yang telah kita perbuat dengan tanpa mengurangi usaha untuk memperbaiki perbuatan kita baik dari perkataan, pikiran dan perilaku.

Om Santih Santih Santih Om.

Om Swastyastu

#mutiaradharma : “Lautan yang tenang akan menjadi bergemuruh ketika angin kencang berhembus. Sama halnya dengan pikiran yang menjadi gelisah ketika keinginan muncul”. (I Wayan Sudarma).

Ketika keseimbangan terganggu, maka goncangan terjadi sebentar. Ini juga terjadi bagi semua makhluk hidup. Mereka yang menyadari akan melakukan segala kegiatan dimaksudkan untuk mendapatkan kembali keseimbangan yang telah hilang tersebut.

Kaitan dengan ketenangan diri ini Bhagavadgita berpesan demikian: “Bebaskanlah dari pasangan yang saling bertentangan, senantiasa seimbang, tidak peduli dengan perolehan dan kehilangan serta terpusatkan pada Sang Diri”.

Jika direnungkan makna sloka di atas, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam kehidupan kita memang sedang terjadi hiruk pikuk baik dalam tataran phisikal, psikis, emosi, dan mental…yang pada akhirnya akan mempengaruhi rohani/spiritual kita.

Nah ketika pikiran menjadi gelisah dan menjadi tidak seimbang oleh berbagai keinginan-keinginan yang yang menuntut pemenuhan; kegelisahan dan ketiadaseimbangan tersebut perlu diatasi dengan memaksimalkan daya pemilah (wiweka). Agar daya pemilah ini dapat bekerja maksimal dan akurat maka ia perlu diberikan asupan nutrisi melalui berbagai latihan kerohanian semisal berdoa, sembahyang, mejapa, meditasi, brata, upawasa, dan kegiatan positif lainnya.

Ini juga berarti kita mesti meluangkan waktu untuk melatihnya secara disiplin, dan tidak sekedarnya saja apalagi hanya sekedar ikut-ikutan.Ketika diri semakin tenang maka gejolak pikiran akan semakin landai ini artinya kegelisahan akan kehilangan tuahnya.

Om Santih Santih Santih Om

oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“Gangga Gītā ca Gayatri

Govindeti hrdhi sthite,

Catur gakara samyukte

Punar-janma na vidyate”

(Mahabharata, Bhishma Parva, 40.78)

Terjemahan: Seseorang yang mengidungkan (penuh bhakti 4G (‘ga’ kara) di dalam hatinya empat hal yaitu Gita, sungai suci Gangga, mantra Gayatri dan Tuhan Govinda, tidak ada lagi kelahiran baginya.

Sloka ini menjelaskan bahwa Hidup kita saat ini sangat singkat, kematian tidak pernah memberitahu, berkirim WA, email, SMS. Maka ada hal sederhana tetapi Uttama yang bisa kita lakukan dalam rangka menyiapkan, mengisi diri di era yang serba cepat ini, yakni dengan Meng-instal 4G ( catur ga kara), yang direkomendasikan oleh Veda, agat kita memiliki kesempatan mencapai kebahagiaan, kesujatian bahkan pembebasan dari lingkaran ikatan Samsara, yakni:

Tirta Dipercikkan, Ucapkan Terlebih Dahulu Mantra

Setiap saat menyucikan diri (Gangga), yang bisa dilakukan melalui Tirthayatra, Melukat,  Mebayuh. Tiap kali kita nunas tirta suci (Gangga), sesungguh kita sedang mensucikan diri kita baik sekala dan niskala, hal ini sesuai dengan mantra saat kita nunas Tirtha, yakni:

Om Pratama sudha, dvitya sudha, tritya sudha, caturti sudha, pancami sudha, sudha, sudha, sudha variastu namah svaha”

Terjemahan: Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga kami dianugerahi kesucian, hormat kepadaMu.

Pemercikan Tiga Kali ke Ubun-ubun dengan Mantra

“Om ang brahma amrtha ya namah, Om ung wisnu amrtha ya namah, Om mang isvara amrtha ya namah”.

Terjemahan: Om Sanghyang Widhi Wasa, bergelar, Brahma, Wisnu, Iswara, hamba memujaMu semoga dapat memberi kehidupan (dengan tirta ini).

Minum Tirta Tiga Kali dengan Mantra

“Om Sarira paripurna ya namah, om ang ung mang sarira sudha, Pramantya ya namah, Om ung ksama sampurna ya namah”

Terjemahan: Om Sanghyang Widhi Wasa, Maha pencipta, pemelihara dan Pelebur segala ciptaan semoga badan hamba terpelihara selalu, bersih terang dan sempurna.

Meraup, Mengusap Tirtha ke Muka ke Arah Atas dengan Mantra

“Om Siva Amertha ya namah, om sadha siva amertha ya namah, Om parama siva amertha ya namah”.

Terjemahan: Om Sanghyang Widhi Wasa, (Siwa, Sada Siva, Parama Siva) hamba memujamu semoga memberi amertha pada hamba.

Setiap saat  rajin membaca, mengidungkan, kitab-kitab suci Veda, baik secara perorangan meupun melalui sekeha-sekeha Pesantian, baik sekar alit, madya, dan sekar agung.  Membaca kitab suci sangatlah bermanfaat, seperti yang dinyatakan dalam Bhagavadgīta IV.37 :

यथैधांसि समिद्धोऽग्निर्भस्मसात्कुरुतेऽर्जुन |

ज्ञानाग्नि: सर्वकर्माणि भस्मसात्कुरुते तथा ||

yathaidhāmsi samiddho ’gnir

bhasma-sāt kurute ’rjuna

jñānāgniḥ sarva-karmāṇi

 bhasma-sāt kurute tathā

Terjemahan: Laksana api yang membakar kayu bakar hingga habis, wahai Arjuna. Demikian pula pengetahuan suci (Veda) akan membakar semua reaksi-reaksi karma.

Mengucapkan Gayatri Mantram secara rutin, dapat kita laksanakan melalui Puja Tri Sandhya dengan disiplin. Tri Sandya adalah sembahyang tiga waktu, yaitu: pagi, siang, dan sore. Idealnya umat melakukannya dengan tepat waktu. Namun dengan berbagai alasan banyak yang belum bisa melakukan dengan tepat, ada yang sekali, dua kali, dan bahkan Senin Kamis. Sebelumnya mari kita lihat apa sebenarnya makna melakukan sembahyang tri sandya di tiga waktu tersebut.

Pagi hari, saat bangun dari tidur yang gelap. Pikiran masih segar, diharapkan kita mendapatkan semangat dan motivasi untuk berbuat baik di hari ini. Maka tri sandya pagi adalah untuk menguatkan guna sattwam agar dituntun berbuat baik sepanjang hari.

Siang hari, saat siang semangat kerja tinggi, guna rajas menguat. Agar tetap dalam batasan dharma maka perlu dikendalikan guna rajas tersebut dengan melakukan tri sandya tengah hari.

Sore hari, saat malam menjelang, panggilan untuk beristirahat atau tidur. Saat ini guna tamasika menguat dan untuk mengatasinya agar tidak terpengaruh menjadi malas maka tri sandya sore dilakukan.

Demikian kurang lebih manfaatnya tiada lain untuk menjaga diri agar tetap sadar dan eling menghindari diri berbuat dosa/karma buruk. Catatannya tentu dilakukan dengan disiplin dan penuh penghayatan.

Umat yangg ragu karena belum bisa melaksanakan tepat waktu, apakah salah, boleh atau tidak? Hal itu dalam Hindu tidak ada paksaan, sesuai kemampuan. Hindu hanya mengenal hukum karma, kalau melakukan baik maka hasil baik, melakukan kurang maka hasil kurang. Jadi kalau di ibaratkan mandi, dalam sehari sekali saja tidak cukup, ibarat makan sekali saja tidak cukup, kekurangan itu dapat menyebabkan sakit. Demikian juga dengan tri sandya, ada manfaat yang kurang jika dilakukan tidak lengkap.

Umat juga ragu dengan pelaksanaan tri sandya yang tidak tepat waktu meskipun kuota tiga kali tercapai. Ya itu tidak apa sekali lagi tidak ada paksaan. Namun jika melakukan sesuatu tidak pada waktu yg tepat tentu beda maknanya. Seperti tidur malam bangun pagi itu menyegarkan, tidur pagi bangun sore itu membuat lemas. Demikian juga tri sandya, kurang pas waktunya lain manfaatnya.

Mengidungkan nama-nama suci Tuhan (Govinda), melantunkan nama-nama suci Tuhan (Istadewata), lebih dikenal juga dengan sebutan Namasmaranam atau Berjapa. Berjapa dapat dilaksanakan kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Setiap nama-nama suci Tuhan yang kita sebut akan mampu membantu, mengarahkan kita pada pensucian diri, setiap japa mantram yang kita ucapkan dengan rasa Bhakti, dapat diibaratkan seperti sabun mandi yang akan menghilangkan kotoran dalam tubuh kita. Keutamaan japa juga ditegaskan dalam Bhagavadgita Adhyaya X.25:

महर्षीणां भृगुरहं गिरामस्म्येकमक्षरम् |

यज्ञानां जपयज्ञोऽस्मि स्थावराणां हिमालय: ||

maharṣīṇāṁ bhṛgur ahaṁ

girām asmy ekam akṣaram

yajñānāṁ japa-yajño ’smi

sthāvarāṇāṁ himālayaḥ

Terjemahan: Di antara maharsi aku adalah rsi Brghu, di antara aksara suci aku adalah eka aksara (Omkara), di antara yajna aku adalah japa yajna, dan di antara yang berdiri tegak aku adalah Himalaya.

Ke-4 formula ini  patut kita mulai dari diri sendiri, mulai saat ini mesti menjadi menu wajib bagi kita, jika kita menginginkan pembebasan (punar-janma).

Di era teknologi IT sekarang bukan saja cukup memiliki HP berteknologi 4G, tapi hidup kita juga wajib memiliki design hidup berteknologi 4G (Catur ‘Ga’ Kara). Semoga bermanfaat. Manggalamastu

Materi Bimbingan Penyuluhan Desa Binaan: Desa Adat Gunungbau, Kec, Kintamani

Kamis, 16 Desember 2021

oleh: I Wayan Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“Umumnya….. Manusia hanya suka menghitung “KESULITANNYA”, ia tidak menghitung “KEBAHAGIAANNYA”.


Semeton sareng sami…..Membicarkan Hidup Bahagia itu adalah sebuah RASA, sama dengan sakit, senang, susah, kesal atau juga rindu, semua itu adalah sebuah rasa, atau banyak orang menyebutnya dengan kata ‘perasaan’. Dan ketahuilah yang namanya perasaan itu adanya di dalam hati manusia.

Jadi, siapapun yang menginginkan kebahagiaan, maka kuncinya adalah mengisi hatinya dengan penuh oleh perasaan bahagia tanpa sedikitpun membiarkan ruang kosongnya untuk diisi oleh perasaan lainnya. Saya yakin siapapun orangnya dia akan merasakan bahagia dalam kondisi apapun.

Sebagian orang mengira bahwa bahagia itu ketika seseorang sudah mendapatkan harta yang banyak. Dan tidak sedikit yang beranggapan bahwa bahagia itu bisa didapatkan dengan uang yang banyak, kedudukan yang tinggi atau nama yang terkenal.

Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh berapa banyak orang yang dirinya kita anggap sebagai orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya jauh dari bahagia. Dan tidak sedikit dari orang-orang yang kita anggap memiliki uang banyak, jabatannya selangit, atau namanya yang terkenal sejagat raya tetapi perjalanan hidupnya tidak merasa bahagia sedikitpun. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena di dalam dirinya sulit untuk mengisi hatinya dengan kata bahagia.

Lantas, bagaimanan caranya agar hati kita bisa bahagia?

Salah satu caranya adalah dengan membuang jauh-jauh sifat yang dapat menghilangkan rasa bahagia. Yaitu sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat bahagia itu sendiri, diantaranya adalah: kesal, sebal, sakit, marah, iri hati, dengki, berprasangka buruk dan sifat-sifat jelek lainnya. Buanglah sejauh mungkin sifat-sifat itu dari hati kita, maka rasa bahagia itu akan bersemayan dengan tenang di dalam hati kita tanpa gangguan dari pihak manapun. Ini adalah langkah yang paling utama untuk meraih satu tiket kebahagiaan.

Lalu langkah yang kedua adalah dengan selalu menghadirkan di dalam hati kita rasa bahagia itu dengan sekuat-kuatnya. Buatlah rasa bahagia itu betah dalam hati kita hehehehehe…yaitu dengan cara selalu berpikir positif kepada siapapun. Tanpa ada rasa curiga dan apalagi sikap antipati kepada orang lain. Hal ini adalah sangat penting sekali untuk dapat merasakan bahagia, karena dengan selalu memiliki perasaan curiga kepada orang lain maka kita akan selalu dihantui oleh perasaan bersalah dan dan bahkan cenderung menyalahkan orang lain tanpa sebab yang tentunya dapat mengganggu pikiran dan perasaan kita sehingga hati kita akan semakin jauh dari rasa bahagia.

Kemudian langkah yang ketiga adalah belajar untuk bersikap jujur dan bersyukur dengan segala sesuatu yang sudah kita dapatkan sampai detik ini, tanpa berpikir untuk selalu berangan-angan mendapatkan sesuatu yang sulit untuk diraih.

Dengan cara ini maka hati kita akan terasa tenang dan tentram tanpa adanya hayalan-hayalan semu yang tentunya dapat mengganggu konsentrasi kita untuk merasakan dan menikmatai apa-apa yang sudah kita dapatkan seelama ini.

Dan langkah yang keempat adalah belajar untuk menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk orang lain, walaupun nilainya mungkin tidak seberapa. Tetapi dengan cara seperti itu maka kita sedikitnya sudah mampu meringankan beban penderitaan orang lain. Mereka akan senang dan mereka juga akan merasa bahagia. Karena hal yang paling indah dalam hidup ini adalah ketika kita mampu untuk membuat orang lain bahagia. Disitulah nilai kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka bahagia dan kita juga akan merasa benar-benar bahagia.

Semoga Hari ini hidup saya, semeton dan kita semua dilingkupi Kebahagiaan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om.

Om Swastyastu

“De gati nyikut baju anak di awake”
Begitu tetua Bali menyarankan
“Jangan mengukur baju orang lain di badan sendiri”.

Maksudnya janganlah menetapkan sesuatu tentang orang lain dengan membandingkan dan mengukurnya dengan ukuran kita sendiri.

Janganlah menghakimi perbuatan orang lain berdasarkan sebatas pengetahuan atau pemahaman kita sendiri. Lagian, penghakiman, lebih menunjukkan kualitas orang yang menghakimi dibandingkan dengan orang yang dihakimi.

Setiap insan adalah unik….hal ini disebabkan karena beberapa alasan; setiap insan membawa karmanya masing-masing, secara genitas kita memang berbeda, lingkungan hidup juga tak kalah penting dalam mempengaruhi pola pikir, tata ucap dan prilaku kita, sumber hidup (makan, minum, sandang); bagaimana kita mendapatkan semua itu juga berkontribusi besar dalam hidup ini, pendidikan, dan tentunya adalah kesempatan itu sendiri.

Namun apapun itu, yang pasti setiap insan memang unik…karena keunikannya inilah kita tidak bisa memperlakukan mereka secara sama, setiap insan harus didekati dengan cara yang berbeda pula ….
istilah ngetrennya “One Man One Method”

Setiap insan tidak ada memiliki pikiran yang sama…karena itulah secara rohani setiap insan memang berbeda.

Setiap insan secara phisik berbeda…tak ada rupa manusia yang sama….karena ia merupakan hasil ‘kelonan’ bukan hasil ‘kloningan’….makanya menjadi diri sendiri adalah yang terbaik…

Keinginan meniru untuk menjadi orang lain atau membandingkan diri kita dengan yang lain, bahkan menghakimi orang lain hanya akan berakhir pada kesia-siaan…

Renungkan bahwa setiap insan digerakkan oleh sumber yang sama yakni ATMAN.
Jika kita kembali ke esensi yang paling hakiki ini….kita akan selalu mendapati bahwa perbedaan nama, rupa, profesi, dan kedudukan sebagai sebuah kebenaran.

Karena ternyata memang hanya perbedaan itulah kebenaran. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan perbedaan agar kita dapat saling melengkapi dan menjalin komunikasi dengan yang lain.

Eling di perjalanan kehidupan merawat ukuran diri sendiri dan memahami ukuran yang lain dengan ketulusan kasih sayang.

Om Santih Santih Santih Om
⚘ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Ada berbagai pertanyaan yang bermunculan tentang Bendera Hanoman pada Panji-Panji Pandawa. Apa yang menyebabkan Hanoman digunakan sebagai Panji Kereta Perang Pandawa? Sekiranya ulasan singkat ini bisa memberi kita informasi akan kebenaran sejarah Itihasa tersebut.

Bendera Hanonam di Kereta Arjuna, sumber: Google

Dalam Bhagavad-gīta Śloka 1.20 – 1.21 (a) disebutkan demikian:

अथ व्यवस्थितान्दृष्ट्वा धार्तराष्ट्रान्कपिध्वजः।
प्रवृत्ते शस्त्र संपाते धनुरुद्यम्य पाण्डवः॥१-२०॥

हृषीकेशं तदावाक्यमिदमाह महीपते।

Atha vyavasthitān dṛṣṭvā
dhārtarāṣṭrān kapi-dhvajaḥ
pravṛtte śastra-sampāte
dhanur udyamya pāṇḍava

hṛṣikeśaṁ tadā vākyam
idam āha mahīpate

Terjemahan:
Wahai Mahārāja Dhṛtarāṣṭra…, setelah Arjuna yang bendera keretanya bergambar Hanumān mengamati posisi para putra Dhṛtarāṣṭra, maka ia mengangkat busur, bersiap untuk melepaskan anak panahnya dan berkata kepada Śrī Kṛṣṇa sebagai berikut:

Śloka 1.21 (b) – 1.22
अर्जुन उवाच
सेनयोरुभयोर्मध्ये रथं स्थापय मेऽच्युत॥१-२१॥

यावदेतान्निरिक्षेऽहं योद्धुकामानवस्थितान्।
कैर्मया सह योद्धव्यमस्मिन्रण समुद्यमे॥१-२२॥

arjuna uvāca:
senayor ubhayor madhye
rathaṁ sthāpaya me’cyuta

yāvad etān nirīkṣe’haṁ
yoddhu-kāmān avasthitān
kair-mayā saha yoddhavyam
asmin raṇa-samudyame

Terjemahan:
Arjuna berkata: Wahai Acyuta…, mohon menempatkan kereta hamba di tengah-tengah kedua belah pasukan. Dengan demikian, hamba dapat melihat mereka semua, siapa yang hadir ingin bertempur di sini dan dengan siapa hamba (layak) harus bertempur dalam medan perang besar ini.


Setelah Hanoman kembali dari Alengka dan melaporkan Dewi Sita masih sehat dan aman walau berada dalam kekuasaan Rahwana.

Mendengar berita baik itu Rama memutuskan untuk menyerang ke Alengka dengan pasukan Wanaranya. Setelah Rama mengetahui situasi dan medan tempur yang akan dilaluinya, memutuskan untuk membangun ‘Jembatan‘ penyebrangan lautan. Setelah sampai dipinggiran pantai Rama membentangkan busurnya dan berkata: “Aku akan membuatmu kering, ‘ Samudra ‘ !. Aku akan mengeringkan ‘ Patala ‘ serta dunia di bawah tanah juga !. Saat anak panahku menghancurkan samudera dengan semua mahlukmu akan menjelma menjadi padang pasir kering kerontang. Dengan demikian tentaraku para Wanara akan menyebrang dengan hanya berjalan kaki menuju tanah para Raksasa “.

Mendengar sumpah Rama yang demikian itu akhirnya muncul Dewa Sagara diiringi oleh Dewi Gangga dan Dewi Sindhu. Semua menghaturkan sembah serta berkata kepada Rama: “Oh Sang Rama, keturunan Raghu yang lembut !. Semua di dunia ini mengikuti alur yang tetap dan abadi sesuai sifatnya sendiri-sendiri. Mohon kiranya mendengarkan pendapatKu, “mohon untuk tidak mengeringkan samudera ini, karena jika itu terjadi-maka engkaulah yang menjadi penyebab kehancuran dunia ini. Namun demi tegaknya Dharma, Aku akan membantumu walau rasa rakus, ambisi atau ketakutan tak akan bisa memaksaku untuk menyimpang dari sifat asliku. Tetapi untukmu Aku bisa memerintahkan agar semua mahlukku tak akan menyerang maupun mengganggumu. Ombakku menjadi jembatan bagi pasukan Wanaramu “.
Kemudian setelah Rama menyadari kekeliruannya, segera meminta maaf dan menjawab: “Wahai tempat berlindung semua mahluk Waruna, ku penuhi permintaan itu!, lalu bagimana aku bisa menyeberangi lautan luas ini…?”

Waruna menjawab: “ Tuanku inilah ‘ Nala ‘ putra dari Wiswakarma ahli bangunan para Dewa akan membangun jembatan di atas airku. Rama melanjutkan: “ Dimana aku harus menjatuhkan anak panahku “. Waruna menjawab: “ Di sebelah utara adalah Draumakulya sebuah daerah yang suci, tetapi sekarang menjadi tempat tinggal para penjahat yang sangat kejam “. Kemudian Rama membentangkan busurnya dibidikkan ke arah Draumakulya dan anak panah melesat dan menghancurkan daerah itu dan kembali menjadi tempat suci.

Setelah jembatan selesai Rama menugaskan Hanoman menjaga jembatan itu agar tidak ada yang mengganggu atau merobohkan sampai kemenangan tercapai.

Kober Hanoman, sumber: Google

Sebelum perang Bharata Yudha terjadi, suatu saat Arjuna melaksanakan Tirtayatra ke selatan yaitu daerah Rameswaran. Disana Arjuna menemukan bekas ‘Jembatan Rama‘ ditunggui oleh seekor ‘Kera Kecil dan dekil ‘. Arjuna telah mendengar bahwa Rama dahulu adalah pemanah ulung, kenapa tidak membangun jembatan dengan anak panahnya sendiri ?. Kenapa harus memina tolong kepada Nala anaknya Wiswakarma itu ?. Arjuna merasa lebih hebat soal panah memanah dibandingkan Rama.

Perkataan itu didengar oleh Kera Kecil yang sedang menjaga bekas jembatan dan berkata: “Tidak mungkin anak panah mampu menahan berat badan Rama “. Mendengar jawaban Kera Kecil itu, Arjuna terkejut dan menantangnya untuk membuktikan keahliannya. Dengan sombongnya Arjuna menantang Kera Kecil, seandainya Kera Kecil itu mampu merobohkan jembatan yang dibuatnya dari anak panahnya, sanggup dibakar hidup-hidup.

Arjuna mengeluarkan panah saktinya lalu merangkai dan mengucapkan mantra agar tercipta jembatan tersebut. Setelah dilepaskan memang benar tercipta jembatan yang kokoh dan besar sekali. Arjuna merasa bangga dan merasa menang dan dipersilahkan Kera Kecil itu untuk mengujinya. Dengan sekali lompatan Kera Kecil itu jembatan menjadi roboh hancur berkeping-keping. Arjuna menjadi malu, dan memohon diberi kesempatan terakhir, kedua kalinya. Kera kecilpun menyetujuinya dan dipersilahkan. Arjuna dengan konsentrasi yang penuh dan mengeluarkan senjata yang lebih sakti pemberian Dewa untuk menciptakan jembatan yang lebih sakti lagi. Seketika terbentang jembatan yang lebih kokoh dan lebih besar dari jembatan sebelumnya. Dipersilahkan Kera Kecil itu untuk mengujinya. Dengan meditasi yang khusuk Kera Kecil itu melompat ke jembatan dan terdengar suara gumuruh menghancurkan semua tanpa sisa.

Arjuna kaget, dan sebagai kesatria Arjuna memenuhi janjinya untuk terjun dalam kobaran api (Satya). Begitu persiapan api sudah berkobar-kobar maka Arjuna menaiki anjungan untuk menceburkan dirinya. Kera Kecil menyaksikan dengan tenang dan bersuka-ria. Begitu Arjuna bersiap-siap untuk terjun di bawah anjungan ada seorang Bocah Kecil berucap: “Apa yang mulia akan lakukan ? “. Arjuna menjawab: “Saya memenuhi janji tantangan saya dimana saya sudah kalah. Saya tidak sanggup melanjutkan hidup ini dengan menanggung rasa malu, lebih baik mati tercebur dalam api suci ini.”

Bocak Kecil itu terkejut atas jawaban Arjuna dan berkata: “Bagaimana suatu tantangan bisa berlaku karena tidak ada juri yang hadir. Bocah Kecil mengusulkan agar tantangan itu diulang kembali dan dia sanggup menjadi jurinya.”
Kera Kecil dan Arjuna setuju untuk mengulangi kembali tantangannya.

Dalam kesempatan ketiga ini Arjuna mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki untuk menciptakan jembatan yang sakti tanpa ada yang bisa merobohkannya. Begitu selesai Kera Kecil dipersilahkan mengujinya. Dengan bersiul-siul melucu, Kera Kecil melewati jembatan itu dan langsung merubah wujud dirinya menjadi “Hanoman “ dan Bocah Kecil itu menjadi “Dewa Wisnu “.

Dewa Wisnu memperingatkan Hanoman, jangan membuat Arjuna menjadi malu dan harus mengorbankan nyawanya. Dan sebagai permintaan maafnya Hanoman berjanji melindungi Arjuna dalam perang Bharata Yudha nanti dan akan menjadi panji-panji Pandawa termasuk kereta kencana Krishna yang akan digunakan oleh Arjuna.

Dalam situasi Negara kita saat ini, ceritra diatas masih relevan dan bisa sebagai cerminan untuk menciptakan kedamaian dunia. Banyak orang orang bernasar, berjanji, maupun menghina, sombong, angkuh , apa lagi menyinggung kekuasaan Tuhan. Semuanya sudah ada yang mengatur biarkanlah berjalan sesuai dengan sifatnya sendiri-sendiri.

Lambang-lambang Negara, agama banyak dilecehkan, siapa tahu itu adalah penjelmaan. ‘Kebenaran Sejati’ dengan ‘Bentuk’ lain. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma

Dipostkan di: https://www.facebook.com/100003193885109/posts/1549889665127481/