Oleh: Darmayasa

Om Swastyastu

aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-dṛṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
(Bhagavad-gῑtā 17.11)

“Persembahan korban suci yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak menginginkan hasil dari persembahan korban suci yang dilakukan, persembahan korban suci yang dilakukan sesuai dengan aturan kitab suci, yang dilakukan setelah memantapkan dalam hati bahwa persembahan korban suci yang dilakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, persembahan korban suci seperti itu adalah korban suci dalam sifat kebaikan Sattva-guṇa.”

Bali terkenal sebagai pulau yajña. Mendengar nama Bali, orang luar Bali akan terbayang pada persembahan Banten, Canang, Gebogan, Banten Bebangkit, Pulagembal, Banten Taman Sari dan haturan-haturan yajña lain yang indah menarik. Persembahan-persembahan yajña seperti itu tidak ada duanya di dunia. Hanya ada di Bali. Warisan tradisi agama spiritual yang “the only one in the world” – satu-satunya di dunia. Sangat disayangkan jika ada orang berlebihan mempermasalahkan bebanten haturan indah tersebut. Sesuatu yang sangat indah dan merupakan satu-satunya di dunia, mengapakah kita sebagai umat Hindu Dharma tidak berbangga mempertahankan dan memperindah serta memurnikannya?

Pada umumnya umat belum memberikan pemahanan lebih pada persembahan suci yajña yang dilakukannya. Yajña ada dibedakan dalam tiga jenis, yaitu yajña dalam tingkat Tāmasa-guṇa, yaitu yajña yang dilakukan dalam sifat kegelapan dan kebodohan, Rājasika-guṇa yaitu persembahan suci yajña yang dilakukan dalam sifat kenafsuan, dan Sāttvika-guṇa, yaitu yajña-yajña yang dilakukan dalam sifat kebaikan, mulia, halus, indah asri penuh bhakti. Yajña yang dilakukan tidak semua sama. Ada pula yajña berbeda dipersembahkan kepada para Dewa-Dewi yang berbeda pula. Yajña dalam tutupan sifat alami Tri-guṇa tersebut dibedakan pula dalam 3 tingkatan, yaitu Kaniṣṭha-yajña (yajña yang terkecil paling sederhana), Madhyama-yajña (yajña menengah) dan Uttama-yajña (yang paling utama). Masing-masing juga dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi Navavidha-yajña atau sembilan jenis persembahan suci yajña. Keberadaan dan “rahasia” akan tiga jenis atau level yajña ini sangat penting diadakan pemahaman oleh umat. Jika tidak, maka umat akan melaksanakan yajña tanpa kendali dan tanpa arah jelas, hanya melihat lalu melakukan tanpa pemahaman yang benar.

Umat Hindu Dharma tidak bisa lepas dari yajña. Menurut Atharva Veda (12.1.1), pelaksanaan persembahan suci yajña juga berperan penting dalam usaha menjaga tegak dan damainya dunia (yajñaḥ pṛthivīṁ dhārayanti). Ida Sang Hyang Parama Kawi menciptakan alam semesta melalui yajña (saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā). Merupakan kewajiban umat untuk melakukan yajña. Kesadaran akan kewajiban dharma seperti itulah yang menyebabkan adanya tradisi pelaksanaan berbagai yajña setiap hari. Setidaknya umat sangat patuh mempertahankan tradisi pelaksanaan yajña-śeṣa atau masaiban setelah memasak. Selain itu, ada hari-hari tertentu dimana umat Hindu Dharma mempersembahkan yajña yang dilakukan secara khusus.

Secara umum yajña dibedakan dalam Nitya-yajña atau yajña yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari, misalnya Yajña-śeṣa, Agnihotra dan lain-lain, selainnya ada Naimitika-yajña yaitu yajña yang dilakukan sewaktu-waktu dalam kurun waktu tertentu, bahkan ada yang dilakukan hanya sekali seumur hidup. Yajña-yajña dalam Naimittika-yajña antara lain Kajeng Kliwon, Purnama (Pūrṇimā), Tilem (Amāvasya), Piodalan-piodalan, Galungan, Otonan, Pawiwahan, Ngaben, dan lain-lain.

Ada pula yajña yang dibedakan dalam Pravṛtti-yajña, yaitu yajña yang dilakukan dalam mengumpulkan kārma (keinginan) demi pencapaian hidup damai sejahtera di dunia dan pencapaian Surga setelah meninggal.

Sedangkan jenis lain dinamakan Nivṛtti-yajña justru meninggalkan kāma (keinginan) untuk pencapaian pembebasan (mokṣa). Jenis dan tingkatan-tingkatan yajña ini sesungguhnya lebih banyak dilihat berdasarkan sarananya, bukan dari kegiatan apalagi hasil yang diperoleh dari pelaksanaannya.

Keutamaan sebuah yajña ditentukan oleh beberapa faktor. Yajña yang dilakukan dengan sarana yang sederhana (kaniṣṭha) bisa jadi nilainya lebih mulia daripada yajña yang dilakukan dengan sarana yang lebih mewah dan jumlah yang lebih banyak (madhyama atau uttama-yajña). Jika yajña dilakukan dengan baik dan penuh śraddha bhakti maka upacara kaniṣṭhaning kaniṣṭha (paling sederhana dari yang paling kecil sederhana) akan dapat mengalahkan upacara yang paling lengkap dari yang paling lengkap (uttamaning uttama).

Kekuatan śraddha bhakti sangat ampuh, yang mampu mengalahkan persyaratan upacara banten. Akan tetapi, kesiapan pemahaman seperti ini pastilah belum bisa diterima oleh masyarakat atau umat kebanyakan.

Peluang pergeseran pemahaman di masyarakat dapat terjadi yang menganggap keutamaan yajña ditentukan oleh sarana yang lebih banyak dengan biaya yang lebih mahal. Kecendrungan alpa seperti ini dapat terjadi dengan mudah pada siapa saja khususnya para Sarathi banten (tukang Banten) dan yang lainnya. Niat baik memperindah yajña di sana-sini belum tentu diperlukan dan/atau bisa terjadi penempatan yang tidak tepat. Hal tersebut bisa terjadi terutama pada Sarathi Banten yang alpa “nglinggihang” (memuja) Penguasa Banten, yaitu Sang Hyang Tāpinῑ serta para Ancangan pengiringnya (makadewaning tukang banten, Ida Hyang Bethari Umā, meraga Sang Hyang Tāpinῑ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keutamaan sebuah yajña untuk dapat ditingkatkan pada level Sātvika-yajña adalah keyakinan yang mantap (śraddhā), bahwa yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan (lascarya), artinya yajña harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh siapa pun, terlebih jika yajña dilakukan demi harga diri, prestige atau status di masyarakat, maka tanpa disadari orang sudah menurunkan nilai yajña karena yajña tidak sekadar membuat banten sampai pelaksanaan upacara selesai.

Pemahaman arti dan makna yajña di dalam masyarakat perlu diperluas antara lain yajña juga merupakan sebuah usaha untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera lahir-batin. Untuk mencapai tujuan ini maka pemahaman yajña diarahkan juga dalam bentuk dṛvya yajña atau yajña harta benda.
Persyaratan lain dari Sāttvika-yajña yang patut dipenuhi juga adalah śāstra-pramāṇa, bahwa pelaksanaan yajña harus sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam Veda, Dharmaśāstra atau lontar-lontar bonafid yang dapat dipercaya. Yajña yang dilakukan berdasarkan “terka-terkaan”, sesuai dengan keinginan pribadi atau persetujuan beberapa orang, atau yang bertentangan dengan Śāstra-pramāṇa tidak dapat dikelompokkan ke dalam Sāttvika-yajña. Selanjutnya Sang Yajamāna (yang menyelenggarakan yajña) juga harus menghaturkan dakṣiṇā, wajib memberikan sesuatu yang layak kepada pemimpin upacara sebagai bentuk keseimbangan antara menerima dan memberi.

Selesai pelaksanaan upacara yajña Anna-dāna atau Anna-sevā harus dilakukan. Pada upacara yajña yang melibatkan orang lain sebagai pemimpin upacara atau mānuṣa-sākṣῑ maka sang Yajamāna wajib memberikan makanan dan minuman kepada mereka sebagai bentuk pelayanan dan penghormatan. Pemberian makanan merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik-praktik upacara yajña yang dilakukan baik di Bali, India atau pun di tempat-tempat lain di dunia. Untuk Sāttvika-yajña Anna-dāna juga diusahakan yang Sāttvika-bhojanam, yaitu makanan dan minuman dalam sifat kebaikan (Sattva-guṇa).
Yajña hendaknya tidak dilakukan untuk tujuan pamer (nasmita). Sāttvika-yajña tentu harus dijauhkan dari tujuan pamer dan kebanggaan atau smita. Sattvika-yajña harus bersifat nasmita, bebas dari tujuan kebanggaan. Mereka yang hendak melaksanakan yajña diwajibkan menghitung kemampuan dirinya dan kemudian menentukan jenis, tingkat, atau besar-kecilnya yajña yang harus dilakukan. Umat yang baik akan menghindari pelaksanaan yajña yang “ditumpangi oleh rasa kebanggaan dan pamer, apalagi berakhir pada rasa tidak nyaman akibat utang-piutang dan kehabisan harta benda.

Persyaratan terpenting untuk sebuah Sāttvika-yajña adalah:

  1. yajña hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan hati sebagai sebuah kewajiban suci (yaṣṭavyam eva iti manaḥ samādhāya),
  2. yajña harus terbebaskan dari keinginan untuk mendapatkan hasil atau pahala (aphalākāṅkṣibhiḥ yajñaḥ), dan
  3. yajña harus mengacu dan/atau dilakukan berdasarkan pada vidhi-śāstra, kitab-kitab suci yang memang memberikan tuntunan serta aturan peraturan yang otentik untuk pelaksanaan Sāttvika-yajña. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa semoga saya, keluarga saya, teman-teman saya, orang-orang dekat saya, kenalan-kenalan saya dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu. Berita bunuh diri telah menjadi hiasan tetap bagi setiap koran di dunia.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Bukan hanya terjadi di tanah air kita melainkan juga di seluruh dunia. Dunia Barat pun tidak terbebas dari bahaya bunuh diri. Seorang teman saya yang warga Inggris telah kehilangan saudara terkasihnya. Saudaranya adalah orang sukses dan sangat terkenal bahkan di dunia. Tetapi, rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan kesadarannya sehingga memilih jalan bunuh diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin dan mengimbau Saudara-saudara se-tanah air untuk menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan tidak tepat, tergesa-gesa, jalan yang salah dan selain ia adalah tindakan dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka yang paling gelap:
“ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH.”
Artinya: Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi. (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13).

Tindakan-tindakan konyol biasanya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan baik, disebabkan kegelapan yang menutupi batin seseorang.

Kitab suci Upanishad memberikan doa-mantra untuk membantu diri kita terbebaskan dari kegelapan agar kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.
OM…, tamaso ma jyotir gamaya,
Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..
Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun, saya minta kematian.

Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya mempunyai seorang teman bernama Merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo tersebut akhirnya ia mengganti namanya dalam panggilan menjadi Amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Banyak orang tidak membedakan hidup keagamaan dengan hidup spiritual Sesungguhnya spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktik agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda.

Om Santih Santih Santih Om
05 Januari 2018

ᬲᬭᬕᬲᬂᬲᬥᬸᬲᬶ᭢ᬭᬓᬢᬸᬢᬦ᭟

Mereka yang Bijaksana patut dijadikan Suri Tauladan. (Awatara Rama)

#JeroMangkuDanu

ᬢᬦ᭄ᬳᬃᬣ᭄ᬢᬦ᭄ᬓᬫᬧᬶ᭢ᬤ᭡ᬦ᭄ᬬᬢᬦ᭄ᬬᬲ᭟

Bukanlah Harta dan bukan pula Kenikmatan jika tidak diperoleh dengan jalan Kebenaran. (Awatara Rama)

#MangkuDanuQoutes

#JeroMangkuDanu

Mutiara Dharma 26/12/2017:

“Setiap manusia pernah berbuat keliru, salah~Namun setiap manusia juga memiliki kesempatan untuk berbenah ke arah yang lebih baik, seperti apa yang diwejangkan melalui teks Sarasamuccaya. Kita bisa belajar banyak hal dari apa yang ditampilkan oleh alam di sekitar kita. Yang diperlukan adalah kesediaan kita untuk mewujudkannya.”

❤️ Shri Danu Dharma Patapan

@Situ Cangkuang-Candi Cangkuang, Garut

Om Swastyastu

Buah lokal yang FENOMENAL

Pohon buah ini tumbuh di daerah beriklim tropis, Sebagai tanaman liar, tetapi sekarang sudah banyak yang mengupayakan pencangkokan agar bisa di tanam di Kebun atau di pekarangan rumah, juga lebih praktis lagi sekarang sudah bisa di tanam di pot..Di Bali tanaman ini di kenal dengan nama Ara, atau Aa(baca:e e).

Siapa sangka Ternyata nutrisi yang terkandung pada buah Aa ini sangat kaya dan sangat berguna bagi kesehatan.

Sangat cocok di konsumsi Oleh anak anak, untuk merangsang kecerdasannya.

Buah Aa yang sudah matang bisa di konsumsi langsung, bisa juga buat juice, rujak(salad),atau bisa di awetkan dengan cara di bikin selay atau manisan Aa yang lezat.

Karenanya buah Aa ini berkasiat untuk menyembuhkan , melancarkan Bab, jantung,menurunkan berat badan,darah tinggi,ambien,bisul, jerawat, cancer payudara,juga untuk menguatkan tulang.

Untuk memecahkan Batu ginjal, boleh minum rebusan daun Aa ini secara teratur, dan satu lagi menurut penelitian para ilmuan,buah Aa ini mengandung asam Amino,membantu meningkatkan libido dan stamina seksual, So sangat cocok untuk pria dan wanita, dianjurkan untuk yang sudah berpasangan.

Semoga Bermanfaat

Om Santih Santih Santih Om

(Dari berbagai sumber)

Om Swastyastu
Kitab-kitab suci Veda baik Sruti, Smrthi, dan Nibandha adalah bagaikan pohon kalpataru atau kalpavreksa yang kita yakini akan mengabulkan semua harapan, cita-cita dan bahkan keinginan. Tentunya hal teesebut bergantung pada  Sejauh mana orang memahaminya. sejauh itu pulalah ia memperoleh manfaat darinya. 


Kalpavreksa-Pohon yang memenuhi segala harapan manusia


Seperti  mereka yang bermain pada riak ombak di tepi pantai, maka seperti itulah halnya dengan mereka  yang lebih mengarahkan pandangan pada hal-hal duniawi. Mereka menafsirkan amanatnya yang sangat suci ini secara lahiriah dan merekapun hanya mendapatkan krikil dan pasir, ia hanya akan memperoleh kesadaran lahiriah yang sementara. 

Kitab Veda-Sumber dan Gudang Kebijaksanaan

 
Tetapi mereka yang tangguh dalam kerohanian~yang mengarahkan pandangan ke dalam batin, akan tiada henti berjuang, menyelam hingga ke dasar yang paling dalam dan mendapatkan permata dan mutiara yang samgat berharga. Mutiara itu adalah kebenaran, kebijaksanaan, kedamaian dan cinta kasih sejati.

Mari kita luangkan waktu secara disiplin untuk membuka dan menengok serta menyelami nektar kemuliaan Veda. Dan kita patut angayubagia dilahirkan sebagai Hindu yang kaya raya akan sumber kebjiksanaan, yang tidak akan kita bisa jumpai di tempat lainnya. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Disampaikan penuh kasih oleh: I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)