Om Swastyastu

“Agama bukanlah untuk memisahkan seseorang dengan orang lain, agama bertujuan untuk menyatukan mereka. Adalah suatu malapetaka bahwa saat ini agama telah sedemikian terdistorsi sehingga menjadi penyebab perselisihan dan pembantaian” (Mahatma Gandhi, 2004:170)

Semua orang, semua bangsa di dunia bahkan semua mahluk menghendaki kehidupan yang damai, rukun tanpa konflik. Agama-agama diturunkan ke dunia untuk mewujudkan kedamaian yang sangat mulia itu.

Hari Suci Nyepi datang lagi, tahun ini berbarengan dengan hari Suci Saraswati. Umat Hindu memperingati dengan beberapa rangkaian kegiatan sosial dan spiritual, pada hakikatnya melaksanakan ajaran Tri Hita Karana, seperti yang diamanatkan dalam Bhagawad Gita III.10:

Sahayajñah prajah strishtva puro vacha prajapatih, anena prasavishya dhvam esha va stv ishta kamadhuk

Filosofi Trihita Karana (3 sumber kebahagiaan) yakni: Dialog, hubungan dengan Prajapati, Tuhan (Parahyangan), Dialog dengan sesama sebagai Praja, manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan Kamadhuk yakni alam, lingkungan (Palemahan). Jadi Nyepi mewujudkan kebahagiaan yang bersumber dari ketiga hubungan/dialog itu. Jika semua ciptaanNya atas dasar prakarsa manusia, merasakan kebahagiaan niscaya kedamaian tercipta.

Umat Hindu di Maluku dalam rangkaian Nyepi tahun 2018 disamping melakukan kegiatan ritual juga melaksanakan berbagai aksi sosial, antara lain menyelenggarakan: kerja bakti kebersihan, menanam pohon , donor darah, kegiatan Yoga, bhakti sosial dan lain sebagainya.

Rangkaian upacara Hari Suci Nyepi yang diawali dengan Upacara Melasti memiliki pesan spiritual agar manusia kembali membersihkan dan mensucikan dirinya sshingga memiliki kesiapan baik sekala dan niskala (jasmani-rohani) dalam menyongsong Hari saat dimana ia harus Hening-menelisik diri. Kemudian sehari sebelum Nyepi adalah Hari Taur Agung Kasanga yang pada hakikatnya adalah untuk mendoakan, memohon keselamatan jagat, dunia beserta semua ciptaanNya. Puncak Nyepi 17 Maret 2018, libur nasional dan Ngembak Geni dan Dharma Santi melakukan simakrama dengan keluarga kerabat dan handai taulan, dan masyarakat umum.

Makna Nyepi adalah sebagai hari Keheningan dan mendoakan, menyerukan terwujudnya kedamaian, sedangkan Saraswati untuk menerima aliran Pengetahuan Suci dari Hyang Widhi, sehingga manusia Hindu dapat tumbuh menjadi pribadi yang santun, toleran, empaty dan lenyapnya segala sifat buruk dan kejahatan manusia. Dua makna hari raya ini saling berkaitan, karena kedamaian akan terwujud bila segala perilaku hidup manusia di bumi ini didasarkan pada pengetahuan suci dharma atau kebenaran hakiki.

Nyepi dan Kedamaian

Merenungkan kembali Pesan Nyepi seperti yang termaktub dalam kitab Suci Veda:

Hendaknya mereka yang memeluk agama yang berbeda-beda dan dengan mengucapkan bahasa yang berbeda-beda pula, tinggal bersama di bumi pertiwi ini, hendaknya rukun bagaikan satu keluarga, seperti halnya induk sapi yang selalu memberikan susu kepada anaknya, demikian bumi pertiwi memberikan kebahagiaan kepada umat manusia” (Atharvaveda XII.1.45).

Jadi makna dan tujuan Nyepi adalah untuk beryadnya (berkurban) mendoakan alam semesta, dunia untuk tercapai kedamaian. Pada kenyataannya kedamain itu mahal, sulit terwujud. Konflik pribadi, menimbulkan ketidakdamaian dalam diri karena pertentangan antara keinginan dan norma sosial, norma agama. Konflik rumah tangga merenggut kedamaian karena konflik kepentingan, perbedaan pendapat di antara anggota keluarga. Konflik di masyarakat dapat timbul karena perbedaan, demikian juga kehidupan suatu negara.

Kedamaian hilang karena konflik kepentingan, konflik ideologi, ketidakadilan, diskriminasi, hubungan antar kelompok, hubungan antar agama yang disharmoni. Kini banyak negara di dunia, seperti di beberapa negara di Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin dan banyak lagi di wilayah lain berkonflik bahkan perang.

Konflik karena perbedaan suku, agama, antar golongan (SARA). Konflik juga muncul dalam internal agama karena perbedaan aliran berbalut politik yang diwarnai ambisi berkuasa. Warga negara tidak damai lagi di negaranya sendiri, kini banyak yang mengungsi ke Eropa yang kebanyakan agama berbeda. Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, kapan penganut-penganut agama-agama itu berperan menciptakan perdamaian yang sejati, baik internal agamanya maupun antar agama. Di negeri sendiri sumber konflik yang diakibatkan oleh mencuatnya isu SARA yang berbalut politik menjadi isu aktual dan potensial bahkan merambah kepada hal hal yang multidimensional.

Di tengah merenungkan Nyepi mari saling mengingatkan bahwa kedamaian itu sejatinya ditumbuhkan dalam diri, di rumah tangga, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Empat pilar kehidupan berbangsa, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI tidak perlu disangsikan lagi karena mampu mengelola pluralisme, mereduksi fanatisme dan radikalisme.

Selain rangkaian hari raya Nyepi yang telah dikemukakan, kegiatan spiritual kerohanian pada puncak hari Nyepi; Sabtu, 17 Maret 2018 adalah Catur Berata Penyepian yakni: Amati karya, tidak melakukan aktivitas/kerja. Amati lelungan, tidak melaksanakan bepergian ke luar rumah. Amati lelanguan, mengendalikan emosi, tidak menyelenggarakan hiburan, pesta pora. Amati geni, tidak menyalakan api/lampu,

Sehari setelah Nyepi yakni pada Minggu 18 Maret 2018. Keesokan harinya dikenal sebagai hari Ngembak Geni, aktivitas kehidupan mulai dilakukan, pada hari ini juga dilakukan Simakrama; saling bersalaman meminta maaf dan memaafkan, saling berkunjung mengucapkan rasa terima kasih. Semua kegiatan dan pernak-pernik Nyepi diliputi suasana Bhakti adalah dalam usaha umat Hindu memancarkan Kebenaran (Sathyam), Kesucian dan Keheningan (Sivam), dan Keindahan (Sundaram). Melalui pelbagai ritual dan spiritual memerangi kejahatan dan nafsu angkara murka manusia merupakan cara yang hakiki mewujudkan kedamaian.

Bahkan Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan dan tokoh yang menentang apartheid menyerukan: “Mengubah dendam menjadi pengampunan, kebencian menjadi persahatan, kecurigaan menjadi kepercayaan, perbedaan menjadi kekayaan hidup bersama”.

Bahkan Bung Karno, dalam percakapan dengan RM P. Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) mengatakan, “Saya melawan politik Belanda, tetapi seni memerintahkan saya untuk tidak membeci orang Belanda” (Agus Dermawan T, Kompas, 30 Nov. 2016). Dalam rangka refleksi Nyepi, biarlah dialog kita sesuai ajaran Tri Hita Karana ikut mewujudkan Santih Lan Jagadhita (damai dan sejahtera di bumi) agar kedamaian tidak menjadi barang mahal. .

Om Santih Santih Santih Om

Ambon, 07 April 2018

PH PHDI Pusat


Kabid Kebudayaan & Kearifan Lokal

I Wayan Sudarma

Advertisements

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

nāma vā ṛg-vedo yajur-vedaḥ sāma-veda atharvanaś caturtha itihāsa-purāṇaḥ pañcamo vedānāṁ vedaḥ.

(Kauthumῑya Chandogya Upaniṣad 7.1.4)

“Sesungguhnya Ṛg Veda, Yajur Veda, Sāma Veda, dan Atharva Veda adalah nama-nama dari Catur Veda. Sedangkan Itihāsa dan Purāṇa merupakan Pañcama Veda atau Veda Kelima.”

Sebagai Veda Kelima, Bhagavad Gῑtā menempati keterkenalan yang luar biasa di dalam literatur Veda. Kitab suci Bhagavad Gῑtā merupakan “petikan” dari kitab Itihāsa, yaitu di kitab Mahābhārata. Oleh karena itulah Bhagavad Gῑtā dikenal sebagai Pañcamo Veda atau Veda Kelima. Selain itu, Bhagavad Gῑtā dikenal sebagai Pañcamo Veda juga karena ia merupakan wejangan langsung oleh Tuhan YME, sama seperti turunnya langsung ajaran Catur Veda dari Tuhan YME sehingga Catur Veda dikenal sebagai kitab Wahyu langsung dari Tuhan. Jadi, yang dikenal dan diterima sebagai ajaran wahyu langsung dari Tuhan YME di dalam literatur Veda adalah 4 Veda (Catur Veda), dan Bhagavad Gῑtā sebagai Veda Kelima (Pañcamo Veda).

Chandogya Upaniṣad menyebutkan kitab Itihāsa sebagai Veda Kelima (Pañcamo Veda) bersamaan dengan kitab-kitab Purāṇa. Kitab yang tergolong dalam Itihāsa ada dua, yaitu Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. Sedangkan yang termasuk di dalam Purāṇa adalah kitab-kitab Bhagavata (18.000 śloka atau ayat), Viṣṇu (23.000), Padma (55.000 śloka), Nāradῑya (25.000 śloka), Garuḍa (19.000 śloka), Varāha (24.000 śloka), Matsya (14.000 śloka), Kūrma (17.000 śloka), Liṅga (11.000 śloka), Śiva (24.000 śloka), Vāyu (24.000 śloka), Skanda (81.100 śloka), Agni (15.400 śloka), Brahmāṇḍa (12.000 śloka), Brahmavaivarta (17.000 śloka), Mārkandeya (9.000 śloka), Vāmana (10.000 śloka), dan Brahma Purāṇa (10.000 śloka). Sering Bhaviṣya Purāṇa (14.500 śloka) juga dimasukkan dalam daftar Mahā Purāṇa atau Purāṇa Utama.

Menurut kitab Kūrma Purāṇa, Pūva-bhāga 1.17-20, terdapat pula daftar Upa Purāṇa, atau Purāṇa “alit” alias Purāṇa “Minor”, yaitu Sanatkumāra (Ādya Purāṇa), Narasiṁha, Skaṇḍa, Bṛhannāradῑya, Kapila, Śivadharma, Maheśvara, Brahmāṇḍa, Durvāsa, Kapila, Vāmana, Auśanasa, Marica, Bhārgava, Kālikā, Samba, Saura, dan Parāśara Upa Purāṇa.

Chandogya Upaniṣad 7.1.2 juga menegaskan pedudukan Itihāsa dan Purāṇa sebagai Veda Kelima (itihāsa-purāṇaṁ pañcamo vedānāṁ vedaḥ). Maharesi Kṛṣṇadvaipāyana Vyāsa sendiri menekankan dalam kitab Mahābhārata bahwa orang hendaknya menjelaskan mantra-mantra Veda melalui kitab-kitab Purāṇa dan Itihāsa, khususnya pada zaman Kaliyuga dimana orang-orang tidak lagi memiliki kecerdasan spiritual yang diperlukan untuk memahami mantra-mantra Veda secara langsung.

Bhagavad Gῑtā merupakan kitab suci yang sedang beramai-ramai dilupakan oleh kita semua. “Keagungan Bhagavad Gῑtā ” dikenali hanya oleh tokoh-tokoh besar dunia, dan oleh para maharesi. Orang biasa pada umumnya bahkan sebaliknya memahami bahwa dirinya tidak layak menyentuh dan/atau mendiskusikan Bhagavad Gῑtā. (bersambung)

Salam dari New Delhi 25/3/2018

Om Śāntih Śāntih Śāntih Om

Om Swastyastu

ᬳᬬ᭄ᬯᬢᬲᬶᬭ᭝‌

ᬅᬤᬶᬕᬂᬅᬤᬶᬕᬸᬂᬅᬤᬶᬕᬸᬡ᭟

Aywa ta sira ādigang ādigung ādiguņa

Kalimat di atas sebenarnya adalah bahasa Jawa lisan. Sumber bahasa tulisannya adalah “Aywa Adigang, Adigung, Adiguna”, tidak menggunakan huruf “o” tetapi “a”.

Kalimat tersebut merupakan petuah dari leluhur kepada anak keturunannya. Sebuah petuah (yang umumnya) baik bagi generasi berikutnya. Karena kearifan orang tua adalah berfikir apa yang terbaik bagi keturunannya. Hanya orang-orang yang telah sesatlah yang berfikir agar keturunannya menjadi orang jahat secara terprogram.

Dalam kamus Bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia” susunan S.Prawiroatmojo (1980) dijelaskan bahwa:

ᬅᬤᬶᬕᬂ‌ (Ādigang ): Membanggakan kekuatannya

ᬅᬤᬶᬕᬸᬂ (Ādigung): Membanggakan kebesarannya

ᬅᬤᬶᬕᬸᬡ (Ādiguņa): Membanggakan kepandaiannya

Kata “Aywa” berarti jangan. Rangkaian kata petuah menjadi semakin dalam ketika kita mau merenungkannya.

AYWA ĀDIGANG: jangan membanggakan kekuatan

Kekuatan bisa berbentuk kekuatan fisik, bisa berbentuk kekuatan secara bersama-sama, atau koalisi. Kekuatan fisik pada jaman dimunculkannya petuah ini ketika jaman kerajaan jaman dulu. Hukum rimba menentukan siapa yang punya fisik yang kuat, dialah yang akan menjadi pemenang, menduduki jabatan tertentu di kerajaan. Siapa yang punya persatuan besar, maka ia yang akan menjadi pemenang.

Kekuatan fisik di jaman sekarang tampaknya bukanlah sesuatu yang populer. Tapi mungkin pula di kantong-kantong masyarakat tertentu masih ada segelintir orang yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambaran mudahnya misalnya preman, dan geliat premanismenya.

Kekuatan koalisi lebih kepada arti yang abstrak. Model nyatanya semacam koalisi rakyat yang turun ke jalan di jaman gegeran 1997-1998. Jika demikian maka secara perhitungan angka akan memperoleh hasil yang diinginkan. Jika model turun ke jalan hanya dikerjakan oleh perwakilan, ya tentu tan akan menghasilkan apa-apa.

AYWA ĀDIGUNG: jangan membanggakan kebesaran

Kebesaran memiliki berbagai macam jenis. Terutama sekali kebesaran seseorang dengan indikator jabatan. Jabatan bisa dalam lingkup pemerintahan, maupun non pemerintahan. Kebesaran ini melekat dalam diri pemimpin, yang mempunyai bawahan. Presiden, gubernur, bupati, camat, lurah / kepala desa, ketua RT, kepala bagian, kepala seksi, boss, mandor dan sejenisnya.

Jika tidak didasari niat baik, maka dalam diri mereka ada perasaan bangga (dan sombong) terhadap apa yang telah mereka capai. Kesombongan (umumnya) akan menghilangkan kewaspadaan terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka. Jika kewaspadaan hilang, maka konsekueunsi minus yang seharusnya tidak terjadi, malah akan datang.

Sayangnya sudah menjadi semacam kebiasaan (dan mungkin budaya) bagi mereka yang mempunyai kebesaran. Melihat orang lain menjadi kecil. Bahkan dalam taraf yang lebih mengembang, kadang-kadang anak dan istrinya ikut-ikutan membanggakan kebesaran ayah dan suaminya. Dalam satu contoh kecil ada ucapan : “Awas, jangan main-main, dia anak pejabat”.

Jangan membanggakan kebesaran. Kebesaran itu nisbi. Kebesaran itu hanya sementara. Dibatasi waktu. Betapa hidup ini bagi sebagian orang akan menjadi semacam neraka dini, bagi yang mengalami “post power syndrome”. Sekarang disanjung (walaupun sebagian semu), suatu saat akan ditinggalkan.

AYWA ĀDIGUŅA: jangan membanggakan kepandaian

Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah tunggal. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.

Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.

Membanggakan kepandaian, menurut petuah tersebut, tidaklah perlu. Kepandaian seseorang tak harus dibanggakan dan diomongkan. Biarlah orang lain yang menilai. Yang memiliki ilmu tinggi, luas dan dalam (mana yang benar ini?) akan lebih bermakna jika ia mendapatkan pujian orang lain karena manfaatnya, tanpa terdengar oleh dirinya.

Semuanya ada pada kita untuk memilih

Jangan membanggakan. Energi “membanggakan” bagi sebagian orang justru akan menjadi energi negatif. Orang-orang tua jaman dulu telah belajar, telah merenung dan menyimpulkan dari berbagai macam kasus pembanggaan terhadap kekuatan, kebesaran dan kepandaian ini justru menjadi sebuah kontraproduktif.

Jangan bangga dengan kekuatan. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Jangan bangga dengan kebesaran. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Jangan bangga dengan kepandaian. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.

Yang penting, bangga tidak menggiring kita menjadi sombong.

Anda tidak setuju? Ya tidak apa-apa. Seharusnya memang demikian. Karena Ini adalah sekedar tafsiran. Semoga bermanfaat. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤ ᬚᭂ᭢ᬭ᭡ᬫᬂᬓᬸᬤᬦᬹ‌ ( Jero Mangku Danu)

Bekasi, 24 Februari 2000

Oleh: Darmayasa

Om Swastyastu

aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-dṛṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
(Bhagavad-gῑtā 17.11)

“Persembahan korban suci yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak menginginkan hasil dari persembahan korban suci yang dilakukan, persembahan korban suci yang dilakukan sesuai dengan aturan kitab suci, yang dilakukan setelah memantapkan dalam hati bahwa persembahan korban suci yang dilakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, persembahan korban suci seperti itu adalah korban suci dalam sifat kebaikan Sattva-guṇa.”

Bali terkenal sebagai pulau yajña. Mendengar nama Bali, orang luar Bali akan terbayang pada persembahan Banten, Canang, Gebogan, Banten Bebangkit, Pulagembal, Banten Taman Sari dan haturan-haturan yajña lain yang indah menarik. Persembahan-persembahan yajña seperti itu tidak ada duanya di dunia. Hanya ada di Bali. Warisan tradisi agama spiritual yang “the only one in the world” – satu-satunya di dunia. Sangat disayangkan jika ada orang berlebihan mempermasalahkan bebanten haturan indah tersebut. Sesuatu yang sangat indah dan merupakan satu-satunya di dunia, mengapakah kita sebagai umat Hindu Dharma tidak berbangga mempertahankan dan memperindah serta memurnikannya?

Pada umumnya umat belum memberikan pemahanan lebih pada persembahan suci yajña yang dilakukannya. Yajña ada dibedakan dalam tiga jenis, yaitu yajña dalam tingkat Tāmasa-guṇa, yaitu yajña yang dilakukan dalam sifat kegelapan dan kebodohan, Rājasika-guṇa yaitu persembahan suci yajña yang dilakukan dalam sifat kenafsuan, dan Sāttvika-guṇa, yaitu yajña-yajña yang dilakukan dalam sifat kebaikan, mulia, halus, indah asri penuh bhakti. Yajña yang dilakukan tidak semua sama. Ada pula yajña berbeda dipersembahkan kepada para Dewa-Dewi yang berbeda pula. Yajña dalam tutupan sifat alami Tri-guṇa tersebut dibedakan pula dalam 3 tingkatan, yaitu Kaniṣṭha-yajña (yajña yang terkecil paling sederhana), Madhyama-yajña (yajña menengah) dan Uttama-yajña (yang paling utama). Masing-masing juga dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi Navavidha-yajña atau sembilan jenis persembahan suci yajña. Keberadaan dan “rahasia” akan tiga jenis atau level yajña ini sangat penting diadakan pemahaman oleh umat. Jika tidak, maka umat akan melaksanakan yajña tanpa kendali dan tanpa arah jelas, hanya melihat lalu melakukan tanpa pemahaman yang benar.

Umat Hindu Dharma tidak bisa lepas dari yajña. Menurut Atharva Veda (12.1.1), pelaksanaan persembahan suci yajña juga berperan penting dalam usaha menjaga tegak dan damainya dunia (yajñaḥ pṛthivīṁ dhārayanti). Ida Sang Hyang Parama Kawi menciptakan alam semesta melalui yajña (saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā). Merupakan kewajiban umat untuk melakukan yajña. Kesadaran akan kewajiban dharma seperti itulah yang menyebabkan adanya tradisi pelaksanaan berbagai yajña setiap hari. Setidaknya umat sangat patuh mempertahankan tradisi pelaksanaan yajña-śeṣa atau masaiban setelah memasak. Selain itu, ada hari-hari tertentu dimana umat Hindu Dharma mempersembahkan yajña yang dilakukan secara khusus.

Secara umum yajña dibedakan dalam Nitya-yajña atau yajña yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari, misalnya Yajña-śeṣa, Agnihotra dan lain-lain, selainnya ada Naimitika-yajña yaitu yajña yang dilakukan sewaktu-waktu dalam kurun waktu tertentu, bahkan ada yang dilakukan hanya sekali seumur hidup. Yajña-yajña dalam Naimittika-yajña antara lain Kajeng Kliwon, Purnama (Pūrṇimā), Tilem (Amāvasya), Piodalan-piodalan, Galungan, Otonan, Pawiwahan, Ngaben, dan lain-lain.

Ada pula yajña yang dibedakan dalam Pravṛtti-yajña, yaitu yajña yang dilakukan dalam mengumpulkan kārma (keinginan) demi pencapaian hidup damai sejahtera di dunia dan pencapaian Surga setelah meninggal.

Sedangkan jenis lain dinamakan Nivṛtti-yajña justru meninggalkan kāma (keinginan) untuk pencapaian pembebasan (mokṣa). Jenis dan tingkatan-tingkatan yajña ini sesungguhnya lebih banyak dilihat berdasarkan sarananya, bukan dari kegiatan apalagi hasil yang diperoleh dari pelaksanaannya.

Keutamaan sebuah yajña ditentukan oleh beberapa faktor. Yajña yang dilakukan dengan sarana yang sederhana (kaniṣṭha) bisa jadi nilainya lebih mulia daripada yajña yang dilakukan dengan sarana yang lebih mewah dan jumlah yang lebih banyak (madhyama atau uttama-yajña). Jika yajña dilakukan dengan baik dan penuh śraddha bhakti maka upacara kaniṣṭhaning kaniṣṭha (paling sederhana dari yang paling kecil sederhana) akan dapat mengalahkan upacara yang paling lengkap dari yang paling lengkap (uttamaning uttama).

Kekuatan śraddha bhakti sangat ampuh, yang mampu mengalahkan persyaratan upacara banten. Akan tetapi, kesiapan pemahaman seperti ini pastilah belum bisa diterima oleh masyarakat atau umat kebanyakan.

Peluang pergeseran pemahaman di masyarakat dapat terjadi yang menganggap keutamaan yajña ditentukan oleh sarana yang lebih banyak dengan biaya yang lebih mahal. Kecendrungan alpa seperti ini dapat terjadi dengan mudah pada siapa saja khususnya para Sarathi banten (tukang Banten) dan yang lainnya. Niat baik memperindah yajña di sana-sini belum tentu diperlukan dan/atau bisa terjadi penempatan yang tidak tepat. Hal tersebut bisa terjadi terutama pada Sarathi Banten yang alpa “nglinggihang” (memuja) Penguasa Banten, yaitu Sang Hyang Tāpinῑ serta para Ancangan pengiringnya (makadewaning tukang banten, Ida Hyang Bethari Umā, meraga Sang Hyang Tāpinῑ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keutamaan sebuah yajña untuk dapat ditingkatkan pada level Sātvika-yajña adalah keyakinan yang mantap (śraddhā), bahwa yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan (lascarya), artinya yajña harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh siapa pun, terlebih jika yajña dilakukan demi harga diri, prestige atau status di masyarakat, maka tanpa disadari orang sudah menurunkan nilai yajña karena yajña tidak sekadar membuat banten sampai pelaksanaan upacara selesai.

Pemahaman arti dan makna yajña di dalam masyarakat perlu diperluas antara lain yajña juga merupakan sebuah usaha untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera lahir-batin. Untuk mencapai tujuan ini maka pemahaman yajña diarahkan juga dalam bentuk dṛvya yajña atau yajña harta benda.
Persyaratan lain dari Sāttvika-yajña yang patut dipenuhi juga adalah śāstra-pramāṇa, bahwa pelaksanaan yajña harus sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam Veda, Dharmaśāstra atau lontar-lontar bonafid yang dapat dipercaya. Yajña yang dilakukan berdasarkan “terka-terkaan”, sesuai dengan keinginan pribadi atau persetujuan beberapa orang, atau yang bertentangan dengan Śāstra-pramāṇa tidak dapat dikelompokkan ke dalam Sāttvika-yajña. Selanjutnya Sang Yajamāna (yang menyelenggarakan yajña) juga harus menghaturkan dakṣiṇā, wajib memberikan sesuatu yang layak kepada pemimpin upacara sebagai bentuk keseimbangan antara menerima dan memberi.

Selesai pelaksanaan upacara yajña Anna-dāna atau Anna-sevā harus dilakukan. Pada upacara yajña yang melibatkan orang lain sebagai pemimpin upacara atau mānuṣa-sākṣῑ maka sang Yajamāna wajib memberikan makanan dan minuman kepada mereka sebagai bentuk pelayanan dan penghormatan. Pemberian makanan merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik-praktik upacara yajña yang dilakukan baik di Bali, India atau pun di tempat-tempat lain di dunia. Untuk Sāttvika-yajña Anna-dāna juga diusahakan yang Sāttvika-bhojanam, yaitu makanan dan minuman dalam sifat kebaikan (Sattva-guṇa).
Yajña hendaknya tidak dilakukan untuk tujuan pamer (nasmita). Sāttvika-yajña tentu harus dijauhkan dari tujuan pamer dan kebanggaan atau smita. Sattvika-yajña harus bersifat nasmita, bebas dari tujuan kebanggaan. Mereka yang hendak melaksanakan yajña diwajibkan menghitung kemampuan dirinya dan kemudian menentukan jenis, tingkat, atau besar-kecilnya yajña yang harus dilakukan. Umat yang baik akan menghindari pelaksanaan yajña yang “ditumpangi oleh rasa kebanggaan dan pamer, apalagi berakhir pada rasa tidak nyaman akibat utang-piutang dan kehabisan harta benda.

Persyaratan terpenting untuk sebuah Sāttvika-yajña adalah:

  1. yajña hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan hati sebagai sebuah kewajiban suci (yaṣṭavyam eva iti manaḥ samādhāya),
  2. yajña harus terbebaskan dari keinginan untuk mendapatkan hasil atau pahala (aphalākāṅkṣibhiḥ yajñaḥ), dan
  3. yajña harus mengacu dan/atau dilakukan berdasarkan pada vidhi-śāstra, kitab-kitab suci yang memang memberikan tuntunan serta aturan peraturan yang otentik untuk pelaksanaan Sāttvika-yajña. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa semoga saya, keluarga saya, teman-teman saya, orang-orang dekat saya, kenalan-kenalan saya dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu. Berita bunuh diri telah menjadi hiasan tetap bagi setiap koran di dunia.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Bukan hanya terjadi di tanah air kita melainkan juga di seluruh dunia. Dunia Barat pun tidak terbebas dari bahaya bunuh diri. Seorang teman saya yang warga Inggris telah kehilangan saudara terkasihnya. Saudaranya adalah orang sukses dan sangat terkenal bahkan di dunia. Tetapi, rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan kesadarannya sehingga memilih jalan bunuh diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin dan mengimbau Saudara-saudara se-tanah air untuk menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan tidak tepat, tergesa-gesa, jalan yang salah dan selain ia adalah tindakan dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka yang paling gelap:
“ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH.”
Artinya: Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi. (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13).

Tindakan-tindakan konyol biasanya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan baik, disebabkan kegelapan yang menutupi batin seseorang.

Kitab suci Upanishad memberikan doa-mantra untuk membantu diri kita terbebaskan dari kegelapan agar kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.
OM…, tamaso ma jyotir gamaya,
Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..
Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun, saya minta kematian.

Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya mempunyai seorang teman bernama Merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo tersebut akhirnya ia mengganti namanya dalam panggilan menjadi Amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Banyak orang tidak membedakan hidup keagamaan dengan hidup spiritual Sesungguhnya spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktik agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda.

Om Santih Santih Santih Om
05 Januari 2018

ᬲᬭᬕᬲᬂᬲᬥᬸᬲᬶ᭢ᬭᬓᬢᬸᬢᬦ᭟

Mereka yang Bijaksana patut dijadikan Suri Tauladan. (Awatara Rama)

#JeroMangkuDanu

ᬢᬦ᭄ᬳᬃᬣ᭄ᬢᬦ᭄ᬓᬫᬧᬶ᭢ᬤ᭡ᬦ᭄ᬬᬢᬦ᭄ᬬᬲ᭟

Bukanlah Harta dan bukan pula Kenikmatan jika tidak diperoleh dengan jalan Kebenaran. (Awatara Rama)

#MangkuDanuQoutes

#JeroMangkuDanu