Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma Patapan)

 

 

Om Swastyastu

Banten adalah Ciri yang nampak pada Peradaban Siwa Sidhanta di Bali, dan boleh juga  dinyatakan bahwa  Banten adalah Sarana cara beragama “AGAMA SIWA SIDHANTA” 


Sekilas Tentang Banten

Banten adalah tata cara yajna (persembahan) yang berasal dari jaman Veda dan berakar pada Tantra. Tata cara yajna ini dibawa dari India ke Nusantara oleh Maharsi Agastya (pada awal abad Masehi) dan Maharsi Markandeya (abad ke-8 M), dengan disesuaikan dengan keadaan dan situasi lokal. Lalu seiring waktu banten ini terus dikembangkan oleh orang-orang suci lokal, seperti (kalau khususnya di Bali) oleh Mpu Sangkulputih, Mpu Jiwaya, Danghyang Nirartha, dan yang lainnya.

FUNGSI BANTEN

1. Banten sebagai Yantra.
Yantra adalah sebuah teknologi spiritual. Yantra mewujudkan simbol-simbol suci dari misalnya alam semesta, kesadaran, para dewa-dewi, dan lain sebagainya. Selaras dengan isi Lontar Yadnya Parakerti, bisa disimpulkan bahwa banten adalah yantra, yaitu simbol-simbol mistik yang berfungsi sebagai kanal (saluran) penghubung dengan para dewa-dewi dan Brahman. Simbol-simbol ini dalam banten (seperti halnya yantra), diwujudkan dalam tata letak perpaduan warna, bunga-bunga, biji-bijian dan unsur-unsur lainnya dalam banten. 

2. Banten sebagai Mantra. 

Banten adalah mantra yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Tujuannya agar lebih kuat, sehingga apa yang diharapkan dapat lebih mudah terwujud [tercapai tujuan]. Contoh banten (hanya dimuat beberapa saja untuk mempersingkat) sebagai perwujudan fisik mantra, misalnya :
Sesayut Pageh Tuwuh, perwujudan mantra RgVeda VII.66.16

Om taccaksura devahitam sukram uccarat, pasyema saradah satam, jivema saradah satam

Artinya: Brahman dan para dewa-dewi, semoga sepanjang hidup hamba selalu melihat mata-Mu yang bersinar).
Daksina, perwujudan Gayatri Maha Mantram (RgVeda III.62.10)

Om bhur bhuvah svaha, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi, dhiyo yo nah pracodayat. 

Artinya: Kami bermeditasi kepada cahaya realitas mahasuci, yang merupakan dasar dari tiga macam alam semesta. Semoga pikiran kami dicerahkan.

Byakala Dhurmanggala, perwujudan mantra RgVeda V.82.5

Om visvani deva savitar, duritani para suva, yad bhadram tanna a suva. 

Artinya: Brahman sebagai cahaya realitas mahasuci, jauhkanlah segala energi jahat dan berkahi kami dengan yang terbaik.

Sesayut-canang pengrawos, perwujudan mantra RgVeda I.89.1

Om a no bhadrah krattavo yantu visvatah. Artinya: S
emoga pikiran yang mulia datang dari segala arah.

– Sesayut Pageh Urip, perwujudan Maha Mrityunjaya Mantra (RgVeda VII.59.12)
Om tryambakam yajamahe, sugandhim pusti-vardhanam, urvarukam iva bandhanan, mrtyor muksiya mamrtat.

Artinya: Kami memuja Dewa Shiva, yang penuh welas asih, yang wanginya memelihara semua mahluk. Semoga kami dibebaskan dari alam kematian menuju pembebasan. Laksana ketimun masak yang sangat mudah melepaskan diri dari tangkai yang mengikatnya.

3. Banten sebagai yajna (persembahan)

Bisa dikatakan bahwa secara umum landasan pokok dari yajna adalah welas asih dan rasa terimakasih, ke semua arah dan semua loka (alam semesta). Apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, kita kembalikan dalam bentuk persembahan suci [mebanten, yajna, upakara]. Dan aktifitas ini bukannya tidak ada efeknya. Bagi orang-orang yang mata bathinnya sudah terbuka, akan bisa melihat vibrasi kosmik kesucian dan kedamaian di Pulau Bali sungguh luar biasa.

4. Banten sebagai sastra (ajaran dharma) 
Pada jaman dahulu sarana komunikasi tidaklah semudah sekarang. Tidak ada percetakan yang dalam sekejap bisa mencetak ribuan buku, tidak ada internet, dll. Terlebih lagi jaman dahulu banyak sekali orang yang buta huruf. Sehingga oleh para tetua kita yang bijak, ajaran dharma diletakkan atau ”disembunyikan” di dalam banten.

Banten adalah ajaran dharma dalam bentuk simbol-simbol yang mona (diam), seperti halnya huruf-huruf tulisan yang diam. Tapi seandainya kita cukup memahami sasahaning tukang banten, lalu disaat kita mejejaitan, maka banten itu dengan sendirinya akan banyak menuturkan berbagai ajaran dharma yang selaras dengan Veda dan Vedanta. Misalnya pada banten itu ada reringgitan dan tetuwasan yang melambangkan keteguhan bathin. Ini bermakna sebagai wujud keteguhan bathin di dalam menghadapi berbagai bentuk godaan kehidupan.

Dalam keadaan banyak sekali hambatan untuk meneruskan ajaran dharma secara tertulis di jaman dahulu, para tetua kita yang bijak mengharapkan ajaran dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik, melalui pembuatan banten.

5. Banten sebagai sarana untuk membuat segala sesuatu menjadi baik.
Ada berbagai macam tata-cara banten sesuai tujuannya, yaitu sebagai sarana penyucian, sarana somya (harmonisasi), dari pikiran gelap menuju terang, dari keadaan suram menuju sejahtera, dari bencana menuju aman-tenteram, dan lain-lain. Secara garis besar, inilah tujuan tertinggi dari banten, yaitu membuat segala sesuatu menjadi baik. Tidak ada tujuan lainnya lagi yang lebih penting.

Misalnya (salah satu contoh) banten sebagai sarana somya (harmonisasi). Alam semesta berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna (tiga sifat alam), yaitu : sattvam, rajas dan tamas. Sehingga tidak hanya manusia yang memiliki tingkatan-tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita juga. Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi energi yang muncul dari persembahan mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam, sekaligus membangkitkan dan meningkatkan vibrasi unsur sattvam. Sehingga memurnikan vibrasi kosmik alam sekitarnya.

Semuanya adalah pengetahuan rahasia yang diperoleh sebagai berkah dari alam dewa oleh para maha-siddha, yang kita warisi sampai saat ini.

FAKTOR PENTING YANG MEMBUAT BANTEN BISA BERFUNGSI SEMPURNA 
Yajna yang baik adalah Yajna yang sattvika. Dan ini sama sekali tidak diukur dari besar-kecilnya volume banten atau besar-kecilnya biaya yang dihabiskan. Melainkan harus memenuhi tiga persyaratan di bawah ini :

1. Sumber bahan harus baik. 
Banten harus bersumber dari bahan atau uang yang baik, tidak dari hasil korupsi, mencuri, merampok, menipu, berhutang, menjual tanah warisan, dan lain-lain. Banten yang bersumber dari bahan atau uang yang tidak baik, tidak nyambung dan sia-sia. Persembahan yang bersumber dari bahan atau uang seperti itu percuma, sebab vibrasi sattvam (jyoti atau cahaya) dari banten-nya hilang.

Maka dari itu, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai.

2. Proses pembuatan. 
Ketika membuat banten, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung surgawi [atau boleh juga dengan lagu-lagu mantra ala modern], agar pikiran kita terpusat. Jangan membuat banten sambil bergosip atau omongan aneh-aneh lainnya. Kita bisa bandingkan dengan saat banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan.

Kalaupun banten-nya membeli, membelinya jangan disertai dengan keluhan-keluhan ini-itu. Sebab hal ini berpengaruh kepada vibrasi banten-nya.

3. Proses menghantar. 
Apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan banten, jangan lupa dilaksanakan dengan sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau marah-marah, hal ini sangat mempengaruhi banten-nya. Jangan pernah sampai karena banten, yajna atau upakara kita jadi menyakiti hati orang lain.

BESAR-KECILNYA BANTEN
Ada sembilan alternatif volume banten, yaitu mula-mula dibagi dalam 3 kelompok, alit, madya, utama. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya : aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dan lain-lain.

Tidak benar kalau ada yang menyebutkan bahwa besar-kecilnya volume banten menentukan hasil yajna (upakara). Tidak benar bahwa untuk setiap upakara diharuskan dengan volume banten besar. Ini ada dua kemungkinan, salah kaprah (ketidak-tahuan) atau sebuah ketidak-jujuran yang bermotif materi.

Dalam berbagai lontar kuno di Bali banyak yang menjelaskan hal ini, diantaranya Lontar Kusuma Dewa (copy original tersimpan di Gedong Kertya, Singaraja). Kesembilan alternatif volume banten itu adalah sama, tidak berbeda tingkatan secara siginifikan. Hal yang membedakan adalah, semakin kecil volume bantennya, maka semakin banyak mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Sebaliknya semakin besar volume bantennya, maka semakin sedikit mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Ini berarti bahwa volume banten yang kecil bisa digantikan oleh mantra.

Sekali lagi, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai. Karena yang menentukan banten adalah sumber bahan, proses pembuatan dan proses menghantar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

BAGAIMANA KALAU TIDAK ADA BANTEN

Banten adalah yajna (persembahan), sehingga banten tetap dibutuhkan. Tapi dalam keadaan tertentu, kita mungkin saja mengalami kesulitan memperoleh banten yang sesuai.

Misalnya (hanya contoh) kita punya niat untuk sembahyang ke sebuah pura, tapi karena satu hal kita tidak bisa membuat atau memperoleh pejati. Disini pejati bisa kita ganti dengan cukup satu buah canang sari saja, karena canang sari adalah volume alit dari pejati (pejati = utama, canang sari = alit). Tapi kalaupun canang sari juga tetap tidak bisa, kita bisa ganti dengan cukup ketulusan dan kebersihan bathin. Dan ini adalah pondasi dasar yang terpenting dari semuanya.

HAL YANG TERPENTING
Sebagian kecil orang ada yang menganggap perjalanan bhatin, perjalanan karma dan perjalanan ke alam kematian akan selesai dengan banten dan upakara. Hal ini adalah sebuah pendapat yang sangat salah. Satu-satunya hal yang paling berguna adalah bathin yang bersih, sejuk dan terang.

Menjadi penganut Hindu itu sakral, karena sejak lahir sampai mati, tidak terhitung banyaknya upakara yang dibikin untuk diri kita hanya untuk membuat kita menjadi baik (mulai bayi baru lahir di RS, bayi pulang sampai di rumah, 12 hari, 3 bulan, 6 bulan, otonan, dan seterunya). Dan satu hal yang akan membuat kesakralan ini baru muncul cahaya terangnya adalah, kalau di dalam bathin dan di dalam keseharian, kita juga baik.

Banten, yajna dan upakara itu baik dan penting. Tapi yang nomor satu terpenting adalah bagaimana membuat bathin kita menjadi bersih, sejuk dan terang. Bagaimana cara mendasar untuk membuat bathin kita bersih, sejuk dan terang ? Dengan welas asih, kebaikan, kesabaran, rendah hati dan selalu berpikir positif. Di jalan dharma, kita boleh lupa yang lain, tapi harus ingat yang satu hal pokok yang terpenting, yaitu welas asih dan kebaikan. Rasa hormat dan welas asih kepada orang lain, mahluk lain, pepohonan, gunung, sungai, dan lain-lain, semua yang ada di bumi ini, secara nyata dalam keseharian kita.

 

Om Santih Santih Santih Om

* Disampaikan sebagai Bahan Rapat Kerja Sabha Walaka PHDI Pusat, dalam Penyusunan Rancangan Keputusan Tentang Yajna Sattvika.

Perpaduan Sesajen Bali dan Sunda


 

Advertisements

Om Swastyastu
Saat usia kita remaja, JERAWAT menjadi salah satu momok yang menakutkan. Ketika sebuah jerawat tiba-tiba muncul di wajah, rasanya seperti dunia mau runtuh. Kepercayaan diri terasa hilang, keceriaan berubah menjadi kemurungan, dan pikiran yang selalu tak tenang memikirkan betapa jelek wajah ini karena jerawat. Jerawat menjadi sebuah masalah yang begitu besar.
Namun, saat sekarang, dimana usia sudah tidak lagi remaja, sudah matang, sudah jauh dewasa dan mungkin sudah akan mulai uzur. Saat direnungkan kembali tentang permasalahan jerawat waktu remaja, mungkin kita akan tersenyum dan menyadari, betapa REMEH dan betapa SEPELE sebenarnya masalah tersebut. Dan kitapun tersadar betapa waktu itu, kita telah kehilangan banyak waktu hanya untuk memikirkan dan mempersoalkannya. Bahwa hal remeh tersebut sejatinya sama sekali tak layak untuk dipikirkan dan dipersoalkan.

Demikianpun dalam kehidupan kita sekarang ini. Kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang remeh, dan sepele. Kita sibuk memikirkan berbagai persoalan hidup yang remeh, sibuk memikirkan penilaian orang lain tentang kita atau sibuk menilai orang lain serta mengejar dengan berbagai usaha berbagai hal sepele dan remeh. Sibuk mengejar dan mengumpulkan berbagai harta duniawi dan kehormatan semu, yang mungkin semua tahu bahwa itu hanya sementara. 
Kita menyibukan diri dengan begitu banyak hal REMEH dan SEPELE, sampai kita lupa untuk mencari, mengejar dan mendapatkan hal yang jauh lebih BESAR. Kita lupa mencari dan mengumpulkan bekal rohani serta usaha mencapai kebahagiaan yang sejati. 
Jangan membuang – buang waktu demi hal-hal yang remeh dan sepele, karena waktu sangat berharga. Waktu adalah hidup kita dan waktu tak akan menunggu kita. Ketika waktu berkunjung di dunia habis, semua hal sepele dan remeh tersebut tak akan menemani dan menolong kita. Hanya hal BESAR yang akan menemani dan menolong kita. Dan hal besar itu adalah karma baik kita.
Kirang langkung sinampurayang.

Om Santih Santih Santih Om

Beginilah manusia…!!!

Tidak hanya untuk orang tua kita… Berlaku untuk SEMUA keluarga… Terutama;

Orang tua

Adik

Kakak

Suami

Istri

Anak

Hargai dan perhatikanlah semasa hidupnya.

PERCUMA menangisi dan menyesali saat mereka telah pergi selamanya!

INGAT!!! Kesempatan hanya sekali.

Salam Rahayu

❤ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Kata tertua adalah ONG, kata HONG adalah pengucapan logat untuk bahasa Nusantara luar Bali. Ciri bahasa Nusantara seperti kata ‘hujan’ dengan kata ‘ujan’. Kata AHUNG jika bunyi H di tengah kata dihilangkan akan menjadi AUNG lalu bunyi A dan U akan mengalami sandi menjadi O sehingga akan menjadi ONG. Jadi AHUNG adalah sama dengan ONG begitu pula HONG sama dengan ONG. Inilah yang disebut KUTAMAMTRA.
ONG-HONG-AHUNG dalam Susastra Sanskerta, Sunda Kuna dan Jawa Kuna juga disebut sebagai Brahmabija (Benih/Saripati Hyang Widhi/Tuhan atau Brahmavidya (Saripati Pengetahuan Sejati) atau Pranava (Yang Memberi Hidup setiap Ucapan/Bahasa)
ONG-HONG-AHUNG dalam bahasa yang mendasar dapat diartikan dengan: “Saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”.
“Sesungguhnya suku kata singkat ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana. Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”, demikian Chandogya Upanisad I.1.8 menjelaskan dengan sangat gamblang.
Pengucapan ONG-HONG-AHUNG, oleh siapa saja-sejatinya ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Sanghyang Paramesti Guru/Hyang Widhi. Penggunaannya bisa pada setiap mulai acara ritual, dan mengakhirinya.
Sumber rujukan lainnya: Chandogya Upanisad, Mandhukya Upanisad, Tantra Tatva Prakasa, Tantra Sara, Sevaka Dharma, Tutur Sanghyang Kamahayanikan, Tutur Kalepasan, Bhagavadgita,dan lain-lain.
Dalam catatan saya, Dalam Bahasa Sanskerta Penulisan konsonan ‘M‘ dengan tanda ‘titik’ diatasnya; ini dinamakan ANUSWARA, misalkan kata Om, Samsara, Samkhya, dan yang lainnya. Maka kata tersebut di Nusantara kemudian dibaca: ‘Om menjadi Ong’, ‘Samsara menjadi Sangsara’, ‘Samkhya menjadi Sangkhya’.
ONG-HONG-AHUNG
Semoga bermanfaat bagi kita semua

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
#KembaliKeLeluhur

#BahasaIbuNusantara

Om Swastyastu

Betapa adilihungnya ajaran Hindu, terutama terhadap ajaran kesetaraan. Kita selalu diajarkan untuk mengedepankan persamaan dan bukan memperbesar perbedaan. Setidaknya renungan sloka Bhawagad Gita ini bisa kita jadikan pegangan tatkala bergumul secara sosial di tengah masyarakat yang heterogen seperti halnya Indonesia
Mari kita simak dan renungkan sloka berikut…!
BHAGAWAD GITA 6.9:
Sloka:
सुहृन्मित्रार्युदासीनमध्यस्थद्वेष्यबन्धुषु। 

साधुष्वपिचपापेषुसमबुद्धिर्विशिष्यते॥६- ९॥ 
suhṛn-mitrāry-udāsīna 

madhyastha-dveṣya-bandhuṣu 

sādhuṣv api ca pāpeṣu 

sama-buddhir viśiṣyate 
Kosa Kata:
su-hṛt—kepada orang yang mengharapkan kesejahteraan sesuai sifatnya; 

mitra—penolong dengan kasih sayang; 

ari—musuh-musuh; 

udāsīna—orang yang mempunyai kedudukan netral antara orang yang bermusuhan; 

madhya-stha—perantara antara orang yang bermusuhan; 

dveṣya—orang yang iri hati; 

bandhuṣu—dan sanak keluarga atau orang yang mengharapkan kesejahteraan; 

sādhuṣu—kepada orang saleh; 

api—beserta; 

ca—dan; 

pāpeṣu—kepada orang berdosa; sama-buddhiḥ—mempunyai kecerdasan yang merata; 

viśiṣyate—sudah maju sekali.
Terjemahan: 

Orang yang memiliki pandangan yang sama terhadap sahabat yang sangat setia, sahabat yang baik, yang bersikap bermusuhan, yang tidak memihak, yang bersikap sebagai penghubung, yang tidak iri hati, dan (juga sama terhadap) sanak keluarga, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sudah sangat maju.
Ulasan:
Adalah sifat pikiran manusia untuk merespon secara berbeda terhadap teman dan musuh. Tapi sifat yogi yang sudah cerah tentu memiliki respon yang berbeda. Diberkahi dengan menyadari pengetahuan tentang Tuhan, para yogi  melihat keseluruhan ciptaan dalam kesatuannya dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka dapat melihat semua mahluk hidup dengan persamaan visi. Paritas visi ini juga terdiri dari berbagai tingkatan:
“Semua mahluk hidup adalah jiwa ilahi, dan karenanya ia adalah bagian dari Tuhan.” Jadi, mereka dipandang sama.
 “Ātmavat sarva bhūteṣu yaḥ paśyati sa paṇḍitaḥ ~ Seorang Pandita sejati adalah orang yang melihat setiap orang sebagai jiwa, dan karenanya serupa dengan diri sendiri. ”
Yang lebih tinggi adalah penglihatannya: “Tuhan duduk dalam semua orang, dan karenanya semua sama dan layak dihormati.”
Pada tingkat tertinggi, yogi mengembangkan penglihatannya: “Setiap orang adalah bentuk Tuhan.”
Kitab suci Veda berulang kali menyatakan bahwa seluruh dunia adalah bentuk yang benar dari Tuhan: 
īśhāvāsyam idam sarvaṁ yat kiñcha jagatyāṁ jagat (Īśo Upaniṣad 1.2). Seluruh alam semesta, dengan semua mahluk hidup dan tidak hidup adalah manifestasi dari Yang Mahatinggi, yang tinggal di dalamnya.
 “Puruṣa evedaṁ sarvaṁ” (Puruṣa Sūktam. 3)~Tuhan ada dimana-mana di dunia ini, dan semuanya adalah energinya.”
Oleh karena itu, yogi tertinggi melihat setiap orang sebagai manifestasi Tuhan. Diberkahi dengan tingkat penglihatan ini, Hanuman mengatakan: sīyā rāma maya saba jaga jānī (Ramayann.4)~ Saya melihat wajah Sita Rama pada semua orang.”
Kategori ini akan dirinci lebih lanjut dalam ulasan ke Sloka 6. 31. Mengacu pada ketiga kategori di atas, Shri Krshna mengatakan bahwa yogi yang dapat menjaga penglihatan yang setara terhadap semua orang bahkan lebih tinggi daripada yogi yang disebutkan dalam sloka sebelumnya. Setelah menggambarkan keadaan Yogi, dimulai dengan sloka berikutnya, Shri Krshna menjelaskan latihan yang denganNya, kita dapat mencapai keadaan itu.
Om Tat Sat

Om Santih Santih Santih
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu,

Belakangan ini Pembicaraan tentang Tuhan dan Ketuhanan menjadi sangat intens dibahas dari berbagai perspektif. Ada yang menelaahnya menggunakan sumber rujukan yang dianggapnya sahih, ada yang membandingkannya, ada yang memberi komentar konsep-konsep ketuhanan dari berbagai agama, hingga pada hal-hal yang melecehkan konsep Ketuhanan agama lainnya. Dan yang paling Hot dan terkini adalah kasus Penistaan dan Penodaan. 
Kemudian muncul pertanyaan mendasar: siapa saja yang berhak atau memiliki otoritas berbicara tentang Tuhan, apakah mereka yang baru mengerti konsep Tuhan dari Buku, lantaran ia seorang cendekiawan, pengajar agama, pengkotbah—sudah fasih ayat-ayat agama…?? Mari kita simak Ulasan Kita Suci Bhagawad Gita yang dengan detail memberi arahan kepada kita semuanya.

Salah satu sloka  yang membahas hal termaksud adalah apa yang tersurat dalam Bhagawad Gita Adhyaya 6 Śloka 8:
ज्ञानविज्ञानतृप्तात्माकूटस्थोविजितेन्द्रियः। 

युक्तइत्युच्यतेयोगीसमलोष्टाश्मकाञ्चनः॥६- ८॥ 
jñāna-vijñāna-tṛptātmā 

kūṭa-stho vijitendriyaḥ 

yukta ity ucyate yogī 

sama-loṣṭrāśma-kāñcanaḥ 

Kosa Kata:
jñāna—oleh pengetahuan yang diperoleh; 

vijñāna—dan pengetahuan yang diinsafi; 

tṛpta—dipuaskan; 

ātmā—zat illahi yang menghidupi; 

kutasthah—mantap secara rohani;

 vijita-indriyaḥ—mengendalikan indera-indera; 

yuktaḥ—sanggup untuk keinsafan diri; iti—demikian; 

ucyate—dikatakan; 

yogī—seorang ahli kebatinan; sama—mantap secara seimbang; 

loṣṭra—batu kerikil; 

aśma—batu; 

kāñcanaḥ—emas.

Terjemahan

Dia yang batinnya sudah mencapai kedamaian oleh pengetahuan suci dan keinsyafan diri, dia yang teguh tidak tergoyahkan, yang sudah mengalahkan indria-indria duniawinya, dan dia yang mencapai tingkat kesadaran melihat batu kerikil dan emas sebagai sesuatu yang sama, maka orang seperti itu dikatakan sebagai seorang yogī yang sudah maju.

Ulasan:
Pengetahuan dari buku tanpa keinsafan terhadap Kebenaran Yang Paling Utama tidak berguna. Hal ini dinyatakan sebagai berikut:
ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi

na bhaved grāhyam indriyaiḥ

sevonmukhe hi jihvādau

svayam eva sphuraty adaḥ
Tiada seorangpun yang dapat mengerti sifat rohani, nama, bentuk, sifat, dan kegiatan Sri Krshna melalui indera-indera yang dicemari secara material. Hanya kalau seseorang kenyang secara rohani melalui pengabdian rohani kepada Tuhan, maka nama, bentuk, sifat dan kegiatan rohani Krishna diungkapkan kepadanya.” (Bhakti-rasamrta-sindhu 1.2.234)

Bhagawad Gita adalah ilmu pengetahuan kesadaran Tuhan. Tiada seorang pun yang dapat menyadari Tuhan hanya dengan kesarjanaan duniawi saja. Seseorang harus cukup beruntung hingga dapat mengadakan hubungan dengan orang yang kesadarannya murni. Orang yang sadar akan Tuhan sudah menginsafi pengetahuan atas berkat karunia Tuhan itu sendiri, sebab dia puas dengan bhakti yang murni. 
Seseorang menjadi sempurna melalui pengetahuan yang diinsafinya. Seseorang dapat menjadi mantap dalam keyakinannya melalui pengetahuan rohani. Tetapi seseorang mudah dikhayalkan dan dibingungkan oleh hal-hal yang kelihatannya merupakan penyangkalan kalau ia hanya memiliki pengetahuan dari perguruan tinggi saja. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya sebenarnya sudah mengendalikan diri, sebab ia sudah menyerahkan dirinya kepada Tuhan sebagai bentuk Bhaktinya. Dia melampaui keduniawian karena dia tidak mempunyai hubungan dengan kesarjanaan duniawi. Bagi orang itu, kesarjanaan duniawi dan angan-angan, yang barangkali sebagus emas menurut orang lain, tidak lebih berharga daripada kerikil atau batu.
Demikian Bahasan Adhyaya 6 Sloka 8 ini. Memiliki pengetahuan duniawi memang perlu, namun yang terpenting adalah menggunakan pengetahuan itu bagi pendakian kesadaran kita menuju Tuhan. Dan perlu disadari bahwa tiada satu ilmu apapun yang tidak bersumber dari Hyang Widhi. Maka kepadaNyalah kita mesti belajar dan mengarahkan semua pengetahuan yang saat ini ada bersama kita. Manggalamastu
Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Beberapa waktu yang lalu Media Sosial dihebohkan oleh Ceramah oleh Seseorang yang menyandang gelar Sebagai Penceramah Agama. Dengan suara lantang, penuh semangat dan tanpa ada perasaan kasih sebagai seorang penceramah agama, justru dengan sangat mudahnya melontarkan kalimat-kalimat bernada SATIR terhadap beberapa Ajaran Agama lainnya. Seolah ia sedemikian hebatnya tentang ajaran agama dan dan seolah paling  berTuhan, sehingga seolah punya KLAIM ajaran agama orang lain boleh dilecehkan.

Namun saya bukan dalam rangka untuk menyerang balik pernyataannya, karena saya yakin HUKUM KARMAPHALA akan berlaku baginya, terlebih jika sudah berani memercikkan api ketidaksenangan di bumi Nusantara ini- suatu hari ia pasti akan jatuh dan justru akan diselamatkan oleh yang mereka lecehkan….Yakinlah…..karena Gusti Kang Maha Adil Mboten Sare…..

Tulisan ini adalah  sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai Pemeluk Hindu, untuk memenuhi permintaan rekan-rekan baik via sms, Inbok Twitter, dan inbok di Page FB serta dalam rangka untuk menguatkan Sraddha dan Bhakti umat Hindu  sedharma bahwa Memuja Ganesha bukanlah suatu yang keliru apalagi salah. Dan pemujaan terhadap Ganesha juga bukan tanpa dasar pijakan yang jelas. Ganesha justru dimaktubkan dalam VEDA SRUTI (Kitab Veda yang tergolong Wahyu). Berikut dapat saya uraikan, semoga bermanfaat bagi umat Hindu Khususnya dan umat Manusia umumnya. Dengan harapan di kemudian hari tidak ada lagi kasus-kasus merasa diri paling beriman, paling beragama dan sok jagoan merasa paling kenal dengan Tuhan;
Kita mulai dari pertanyaan sederhana: 

Siapakah Ganesha?
Mari kita mengawali penjelasanya dari nama beliau! penulisan dan pengucapan yang benar adalah गणेश “gaṇeśa” atau “gaNesha”. Dalam bahasa Sansekerta ini berarti Dewa Ganesha, pemimpin kelompok atau pengikut, dan golongan para siddha atau golongan orang yang tercerahkan.
Di atas adalah penulisan dan pengucapan yang merujuk kepada nama Dewa Ganesha. Sedangkan apabila pengucapan sanskertanya berbeda pengertianya juga akan mengalami perubahan arti. Jika di ucapkan dengan kata  “gāṇeśa (gANesha)” maka pengertian akan berubah menjadi pemujaan kepada Ganesha. Jadi yang membedakan pengucapanya adalah pada huruf “a” dan “ā”. huruf ” a” pertama di baca dengan suara pendek, sedangkan huruf kedua di baca dengan suara panjang.

Dari penjelasan di atas apakah Beliau hanya sebatas pemimpin kelompok? apakah Beliau sebatas mahluk tercerahkan? jawabanya tidak. Beliau adalah perwujudan Tuhan!. Kemudia apa alasanya? jawabanya ada di bawah ini:
Selanjutnya untuk mengenal beliau mari kita lihat simbolis dari tubuh Dewa Ganesha:

1. Kepala Ganesha melambangkan Tuhan yang memiliki pengetahuan yang luas;

2. Telinga yang lebar melambangkan Tuhan sebagai maha mendengar segala doa-doa dari pemuja;

3. Kedua mata Beliau yang sipit atau kecil melambangkan konsentrasi atau pemusatan pikiran. Ini juga berarti Tuhan sebagai pengendali dari Tri Guna (sifat satwam, rajas, dan tamas). Satwam berarti kesetabilan, rajas berarti sifat aktif, dan tamas berarti sifat lamban;

4. Memiliki satu gading gajah yang utuh dan satu gading gajah yang patah. Gadang gajah yang utuh melambangkan Tuhan sebagai satu kesatuan yaitu yang Maha Esa. Sedangkan gading gajah yang retak atau patah melambangkan Tuhan yang selalu dapat membuang segala sesuatu yang buruk dan dapat mempertahankan segala sesuatu yang baik;

5. Gading gajah melambangkan Tuhan dalam kemampuan adapaptasi dan efisiensi (adaptasi yang dimaksud disini adalah Tuhan memiliki kemampuan berada di segala tempat. Sedangkan efisiensi yang di maksud disini adalah kegunaan yang tepat atau sifat Tuhan yang selalu bertujuan untuk kebaikan atau positif );

6. Mulut yang kecil melambangkan pengontrolan organ bicara. Dalam pengontrolan organ bicara ini Tuhan menyatakan pengendalian dalam ucapan, sehingga beliau hanya menyebarkan ajaran cinta kasih ke semua penjuru dan ucapan beliau yang selalu menyenangkan, sekaligus mendamaikan;

7. Bagian-bagian dari empat tangan:

– Memegang Modaka (sejenis makanan dari India); melambangkan pemberkahan dari sadhana (Tuhan akan selalu memberikan setiap  penyembah beliau sesuai dengan tindakan yang dilakukan).

– Tangan dengan sikap memberkati atau abhaya mudra;  melambangkan Tuhan yang memberi restu akan segala yang dilakukan (sadhana) oleh pemujaNya dalam bertindak berdasarkan kebaikan.

– Memegang kampak;  melambangkan Tuhan yang selalu dapat memotong segala keterikatan atau bisa berarti Tuhan sebagai pelindung dari bahaya.

– Memegang tali;  melambangkan Tuhan yang dapat selalu membimbing umatnya untuk menuju ke tingkat spiritual yang lebih tinggi.
8. Perut yang besar melambangkan Tuhan yang selalu dapat mencerna dan mengetahui segala sesuatu yang baik dan tidak baik. Ini juga berarti Tuhan selalu menyimpan doa-doa yang di panjatkan untuk beliau sebelum mereka pantas untuk menerima berkah sesuai dengan karma mereka masing-masing;
9. Tugangan tikus melambangkan Tuhan sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang berasal dari pikiran dan perbuatan.

Ganesha dilihat dari Veda.

|| Ganapathi prarthana ||
oṁ ga̱ṇānā̎m tvā ga̱ṇapa̍tiguṁ havāmahe ka̱viṁ ka̍vī̱nām̄u̍pa̱maśra̍vastamam | jye̱ṣṭha̱rāja̱ṁ brahma̍ṇāṁ brahmaṇaspata̱ ā na̍ḥ śrṛ̱ṇvannū̱tibhı̍ssīda̱ sāda̍nam ||1||  (Rg.veda;2.23.1)
praṇo’devī sara’svatī | vāje’bhir vājinīvatī | dhīnāma’vitrya’vatu || 2|| (Rg.veda;6.61.4)

gaṇeśāya’ namaḥ | sarasvatyai namaḥ | śrī gurubhyo namaḥ | hariḥ oṃ ||
Artinya: 

Kami mengundang-Mu, Tuhan dan pemimpin dari kelompok, yang bijaksana dari orang bijak, engkau yang paling mengetahui dari orang yang mengetahui, engkau yang teragung dari yang agung, raja tertinggi dari kidung suci. Wahai Brahmanaspati (Tuhan tertinggi), dengarlah kami dan duduk dan datanglah di tempat pengorbanan ini, datang dengan seluruh perlindungan-Mu.

Wahai dewi saraswati, engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan semoga memelihara kecerdasan kami.

Salam kepada ganesha, salam kepada sarasvati, salam kepada srii guru dan Tuhan yang satu.
Bagian pertama adalah Mantra dari Rg.Veda; 2.23.1 yang di gabung dengan Mantra  Rg.veda; 6.61.4 sehingga Mantra ini disebut Ganapathi Prartahana. Pada bait ini menekankan dengan pemanggilan kepada pemimpin dari yajna atau pengorbanan. Ini juga sebagai alasan kenapa Ganesha mesti di puja atau di hormati pertama kali jika di pandang dari sudut Veda. Ganesha di kenal sebagai ganapathi atau pemimpin kelompok. Sedangkan di kalangan masyarakat juga di kenal sebagai kelompok ghana (mahluk astral). Namun, pengertian dari pemimpin kelompok astral tidaklah tepat beliau adalah pemimpin dari setiap kelompok dan disebut sebagai perwujudan Tuhan. Ini alasan kenapa Ganesha di puja di setiap rumah-rumah jika di pandang dari sudut Veda. Ini juga sebagai alasan kenapa saya menuliskan bagian dari tubuh ganesha sebagai simbol ke-Tuhanan.

Pada  Mantra Rg.Veda bagian pertama adalah pujian untuk Brahmaṇaspati, sedangkan yang pujian kedua untuk Sarasvatī sebagai dewi pengetahuan. 
Untuk memperjelas dan memperkuat lagi pernyataan saya di atas mengenai bahwa Ganesha sebagai perwujudan Tuhan dan merupakan konsep ke-Tuhanan dapat dilihat melaui bait Atharva Veda. Bagian ini disebut dengan Ganapathi Atharva Sirsham: 
oṁ nama̍ste ga̲ṇapa̍taye | tvame̲va pra̲tyakṣa̲ṁ tattva̍masi | tvame̲va ke̲vala̲ṁ kartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ dhartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ hartā̍’si | tvameva sarvaṁ khalvida̍ṁ brahmā̲si | tvaṁ sākṣādātmā̍’si ni̲tyam || 1 ||  
sarvaṁ jagadidam tva̍tto jā̲yate | sarvaṁ jagad-idaṁ tva̍ttas ti̲ṣṭhati | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi laya̍meṣya̲ti | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi̍ pratye̲ti | tvaṁ bhūmirāpo̍nalo̍ni̍lo na̲bhaḥ | tvaṁ catvāri vā̎kpadā̲ni ||  5 || 
tvam gu̲ṇa-tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ avasthā tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ de̲hatra̍yātī̲taḥ | tvaṁ kā̲latra̍yātī̲taḥ | tvaṁ mūlādhārasthito̍’si ni̲tyam | tvaṁ śaktitra̍yātma ̱kaḥ | tvāṁ yogino dhyāya̍nti ni̲tyam | tvaṁ brahmā tvaṁ viṣṇustvaṁ rudrastvam indrastvam agnistvam vāyustvaṁ sūryastvaṁ candramāstvaṁ brahma̲ bhūr-bhuva̲ḥ svarom ||  6 ||
Artinya: 
Salam kepada pemimpin kelompok, engkau sebenarnya adalah yang satu, engakau adalah sang pencipta, engkau adalah yang mengambil semua beban, engkau adalah penghancur, engkau adalah Tuhan yang Maha Esa, engkau adalah jiwa yang abadi.

Semua alam semesta berasal dari engkau,

Semua alam semesta ada karena engkau.

Semua alam semesta ahirnya menyatu di dalam diri engkau.

Semua alam semesta tidak lain adalah engkau.

Engkau adalah bumi, air, api, udara dan langit, 

Engakau adalah empat jenis ucapan dan semua kata-kata,

Engkau berada di luar Sattvam, Rajas dan Tamas,

Egkau berada di luar tiga jenis keadaan; bangun,

tidur dan mimpi,

Engkau berada di luar bagian tubuh kasar, halus dan kasual,

Engkau berada di luar tiga divisi waktu-masa lalu, masa sekarang dan masa depan,

Engkau selalu dan setiap hari tinggal di Muladhara Chakra, 

Engkau adalah tiga bagian energi penciptaan, pemeliharaan dan kehancuran, 

Engkau pusat meditasi oleh orang bijak,

Engkau adalah Brahma, Wisnu, Shiva. Indra, Agni, Vayu, Surya, Candra,dan engkau termasuk semuanya dan meresapi semuanya.

Bait Atharva Sirsham di atas sudah jelas-jelas menyatakan bahwa Ganesha merupakan perwujudan Tuhan. Jika Purana menyatakan dalam bertuk cerita itu hanya sebagai pengetahuan agar mempermudah untuk memahami Beliau. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas Beliau adalah perwujudan Tuhan itu sendiri.
Demikian dapat saya utarakan secara singkat, SIAPA GANESHA….bahwa Ganesha adalah Perwujudan Tuhan Itu sendiri. Dan jika ada yang bertanya Kok Tuhan Wajahnya setengah Manusia setengah Hewan; jawabannya sederhana: Tuhan Bersifat Maha Segala-Galanya, Beliau Punya Hak Bebas untuk berwujud seperti Apa….termasuk dalam Perwujudan Ganesha, Garuda, Hanoman, dan sebagainya. Itulah Kuasa Tuhan yang diyakini oleh agama Hindu yang disuratkan dalam kitab Wahyu: Veda Sruti. Dan mereka yang belum faham tentang ajaran Hindu, tapi sudah berbusa membicarakannya, sebaiknya belajar lagi dan bertapa lagi. Agar suatu saat tidak bicara ngawur. Manggalamastu. 
Silahkan di share agar umat kita semakin cerdas dan tak mudah diolok-olok oleh oknum yang sok tau agama Hindu tercinta……!!!

Om  Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©