Om Swastyastu

Dua pemuda sedang duduk santai di bawah pohon mangga. Tiba-tiba ada buah mangga yang terjatuh, kemudian kedua pemuda ini terlibat diskusi bagaimana buah mangga itu bisa jatuh. Si A mengatakan; mangga itu jatuh karena sudah matang, Si B tidak terima dan mengatakan kalau mangga itu jatuh karena ada burung yang menggoyang dahannya. Dan diskusi ini berlangsung dengan pelbagai argumen dan prediksi masing-masing.

Lalu datang seorang pemuda lainnya, menemukan mangga yang terjatuh dan ranum, lalu ia pungut, kemudian ia kupas dan menikmati rasa manisnya dengan penuh sukacita.

Sahabat…..Demikian juga soal agama dan keyakinan yang diperdebatkan dengan panjang lebar, yang masing-masing mengaku paling tau, paling benar, bahkan tak jarang berujung permusuhan, kebencian dan pertikaian yang akhirnya tak mendapatkan apa-apa kecuali merasa paling ini dan paling itu…
Namun mereka yang melakoninya penuh sukacita, penuh bhakti, penuh ketulusan justru mendapakan manfaat paling besar terhadap agama dan keyakinannya itu.

Adakah hal itu saat ini mendera kita….?
Mari tanyakan ke dalam !

Rahayu 🙏
Om Santih Santih Santih Om
I Wayan Sudarma©️

Oleh: I Wayan Sudarma

Kita kadang terlalu fasih mengucapkan “Om Ano Badrah Kratavo Yantu Visvatah.” Namun dalam parktik kita belum siap menerima Kebenaran itu datang dari siapa saja.

Kita sering dengan sangat mudah mengucapkan “Vyapi Vyapaka.” Namun disaat yang sama menolak keberadaanNya yang bersemayam dalam tiap entitas/keberadaan.

Kita sudah sering Mengucapkan “Om Ksantavyah Kayiko Dosah, Ksantavyo Vaciko Mama, Ksantavyo manaso dosah”. Tapi Rasa Maaf kita kian meranggas.

Ucapan “Om Santih Santih Santih Om”. Pun selalu tersampaikan, namun Kita justru sering menjadi penyebab kegaduhan.

Sudah tak terbilang kita selalu berdoa memohon agar Tuhan berkenan mengabulkan kebaikan untuk kita, namun berharap orang lain sengsara bahkan celaka.

Dan kita sering menuduh orang lain salah atas ketidakmampuan kita membenahi dan menjaga diri.

#lubangjarum

#mulatsarira

Bangli, 17 Juli 2020

Om Swastyastu

//Pemujaan Datonta di Trunyan adalah contoh paling arkais, bahwa sebelum kedatangan dewa-dewa India, Bali telah memiliki kepercayaan asli. //

Bali Kuna ternyata memiliki sejarah peradaban Tuhan tersendiri sebelum ia kena pengaruh kebudayaan India. Istilah Brahma, Wisnu, dan Siwa yang kini lebih mengakar di Bali terang memiliki sejarah lain — sebagai “hak milik yang didatangkan dari luar. Teks-teks tua semisal; Tantu Panggelaran, Kakawin Usana Bali, memberi penjelasan tidak langsung, bagaimana “aryanisasi” itu dilakukan di Bali, termasuk bagaimana “dewa-dewa luar” itu jenak di Bali, dan kini menjadi bagian utuh dari kepercayaan orang Bali.

Nun di abad purba, sebelum kebudayaan India mempengaruhi Bali, pulau ini bukanlah wilayah tanpa peradaban Tuhan. Pemujaan Datonta di Trunyan adalah contoh paling arkais, bahwa sebelum kedatangan dewa-dewa India, Bali telah memiliki kepercayaan asli. Datonta atau disebut juga Ratu Sakti Pancering Jagat, merupakan dewa tertinggi orang Trunyan, dianggap sebagai Batara Katon, dewa yang dapat dilihat.

Selain itu, orang Trunyan juga memuja Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, permaisuri dari Ratu Sakti Pancering Jagat. Penduduk di Trunyan memahami ini sebagai Dewi Danu, karena memang bersama sang anak, Ratu Gde Dalem Dasar, sosok dewa ini dipercaya sebagai penguasa Danau Batur. Toh tidak cuma orang Trunyan memiliki dominasi Tuhan seperti itu, di seluruh Bali, di wilayah-wilayah peradaban lebih kuna senantiasa ada sebutan-sebutan untuk aspek kedewataan asli Bali. Sebut saja misalnya Ratu Maduwe Jagat, sebuatan untuk penguasa danau di Pura Batur.

Sebutan-sebutan kedewataan seperti Ratu Sunaring Jagat, panggilan untuk penguasa laut, atau sebutan Tuhan lokal semisal Ratu Manik Maketel, Ratu Mas Magelung, Ratu Gede Basang Bedel, Ratu Gede Purus Mandi, Ratu Gede Penyarikan, adalah contoh asli di mana aspek kedewataan itu sampai kini tetap akrab di Bali. Untuk pemujaan pada leluhur misalnya, orang Bali kuna kerap menyebut leluhurnya dengan Kaki Patuk untuk leluhur laki, Nini Patuk untuk leluhur wanita.

Tentu tak cuma aspek kedewataan saja yang bisa ditemukan dengan sebutan asli Bali. Ritual-ritual penting pun tetap bisa dirujuk ke wilayah paling kuna. Dalam upacara kesuburan, upacara penolak bala misalnya, dominasi Bali purba tetap dipraktikan utuh.

Banyak bukti bisa dirunut dari upacara pemujaan kesuburan zaman Bali purba. Dari amatan Made Sutaba, manakala manusia Bali purba memasuki masa bertani, upacara pemujaan pada dewi kesuburan jelas menjadi ritus utama dari ritus-ritus yang lain. Temuan tahta batu yang tersebar di sawah-sawah maupun tegalan di sejumlah desa-desa purba di Bali, menunjukkan betapa kuatnya pemujaan kesuburan kala itu. Di daerah Tabanan, semisal Desa Penebel tahta batu ini disebut pengrasak, di Buleleng disebut pepupun, sementara di Teja Kula, wilayah Buleleng timur dikenal dengan sebutan batu kukuk. Memasuki zaman lebih kemudian, pemujaan kesuburan dihadirkan dalam bentuk Celak Kontong Lugeng Luih. Berupa simbol kemaluan laki-laki dan wanita dalam adegan sanggama – yang dalam penamaan kemudian dihadirkan sebagai simbol lingga yoni, yakni personifikasi Siwa sebagai mahapencipta.

Laporan menarik dilakukan Purusa Mahaviranata (almarhum) berkaitan dengan ritus kesuburan di Desa Kayu Putih, Buleleng. Dikatakan, di Pura Desa Bale Agung desa setempat terdapat peninggalan berbentuk silinder yang diujungnya digambarkan bentuk kemaluan laki-laki secara naturalis kemudian dimasukkan ke dalam batu berlubang berbentuk lesung. Pelinggih ini mempunyai pemimpin upacara khusus disebut Kabayan. Pelinggih dan simbol batu yang dipuja di tempat ini disebut “Dewa Gede Celak Kontong,” mengingatkan orang pada pemujaan yang sama di Dalem Tamblingan. Palinggih ini sangat penting artinya dalam alam kepercayaan masyarakat, sehingga pada waktu upacara ‘ngusaba’ dan upacara ‘nangluk merana’ diadakan upacara dihadapan palinggih ini dan sebelumnya diadakan ‘mendak tirta’ ke Pura Munduk Luhur yang dianggap oleh masyarakat sebagai tempat memberikan kesuburan.

Di Bali selain pemujaan kesuburan lewat penghadiran Dewi Sri, pemujaan pada “tokoh” bernama Men Burayut, dengan atribut payu dara subur, dikerubuti banyak anak juga merupakan citra dari pemujaan kesuburan masyarakat Bali. Demikianlah ketika sistem kepercayaan orang Bali lebih tertata, hari pemujaan kesuburan dimasukkan dalam sistem kalender pawukon, datangnya setiap 210 hari, lazim disebut Tumpek Bubuh, diperuntukkan khusus untuk penghormatan pada tumbuh-tumbuhan. Sementara penghormatan untuk kesuburan binatang peliharaan dilakukan pada hari Tumpek Uye. Dari seni tampak kian jelas, bahwa kategori-kategori Indianisasi pada sejumlah upacara di Bali nyaris tiada berdasar. Justru sebaliknya, dilakukan penyegaran dan penamaan baru. Pemujaan kesuburan memang merupakan tradisi dunia, tidak menunjukkan dominasi kultur pendatang.

Upacara-upacara seminal ngusaba nini, bajang colong dalam upacara manusa yadnya, upacara kurban sapi yang lazim disebut jaga-jaga, dan banyak upacara khas Bali harus dirujuk hulunya pada peradaban Bali purba. Banyaknya temuan gundukan batu pemujaan, menhir, teras berundak, dan bentuk-bentuk pemujaan yang mempergunakan batu, semata menunjukkan peradaban Bali purba telah memiliki kepercayaan pada kekuatan –kekuatan alam – yang mana dalam peradaban Bali kemudian diterjemahkan sebagai kekuatan-dewa dewa penguasa alam. Maka berkomentarlah Dr Van der Hoop, tokoh terkemuka bidang arkeologis, bahwa pura-pura kuna di Bali tidak bisa ditelusuri asal-usulnya dari candi-candi India, tetapi harus dicari pada tempat-tempat suci atau tempat-tempat pemujaan berbentuk batu, megalitik.

Merujuk temuan paling purba di Pura Batu Madeg, Besakih, Made Sutaba membenarkan komentar Van der Hoop, bahwa cikal bakal Pura Batu Madeg adalah pemujaan batu megalitis, batu tegak sebagai simbul pemujaan roh leluhur, karena itu pura itu disebut Batu Madeg, batu tegak. Pura Besakih yang terdiri dari 86 gugusan pura-pura, pada awalnya merupakan pemujaan purba punden berundag-undag, tempat pemujaan roh leluhur. Menurut Sutaba, orang Bali purba sangat memulikan tempat-tempat tinggi, terutama gunung, karena orang Bali purba sangat percaya, bahwa di gunung yang tinggi itulah roh nenek moyang mereka bersemayam. Barangkali pemujaan pada Ratu Bukit dalam wujud laki-perempuan di teras teratas gugusan Pura Besakih merupakan palinggih tertua, bisa jadi tinggalan paling purba dari peradaban Besakih kini.

Kelenturan peradaban Bali purba menghadapi pengaruh asing ternyata tidak mengikis wajah aslinya. Maka akan keliru mencari rujukkan upacara asli Bali ke sumber-sumber teks India. Upacara semisal saba di Trunyan saba di Tigawasa jelas merujuk pada tradisi lampau, saat Bali belum kena pengaruh Hindu, lebih khusus lagi Hindu Majapahit.

Sepanjang sejarah masuknya pengaruh Hindu di Bali memang tidak menunjukkan ada tanda-tanda vandalisme, pemusnahan tradisi asli. Di Bali sebagaimana dikatakan Dr. A.J. Bernet Kempers, masa lampau dan masa sekarang adalah satu, utuh dalam paduan harmoni. “Dan orang Bali dahulu tidaklah lebih buta daripada kita terhadap pengaruh yang meluhurkan jiwanya,” kata Kempers penulis buku Bali Purbakala (1956).

Bali, menurut penilaian Kempers, yang kini masih sangat penuh akan kehidupan keagamaan dan kesenian, tentunya di masa lampau menjanjikan gambaran yang sangat menarik ketika cara-cara hidup Indonesia kuno berhadapan dengan kebudayaan Hindu, dan dapatlah sangat baik dibandingkan dengan sejarah kebudayaan Jawa dahulu: hanya tentu saja dengan coraknya sendiri. Untuk pengertian yang lebih baik dari apa yang dapat dinamakan “penghidupan secara Indonesia dengan secara Hindu” dan dari kebudayaan Indonesia pada umumnya, maka pengetahuan tentang Bali kuna ternyata tak dapat diabaikan.

Merujuk Bali Majapahit sebagai satu-satunya acuan berpikir dan tentu sama artinya dengan mengelebui peradaban. Dan sejarah tidak membuat orang kian cerdas ketika politik dominasi merajalela. Maka ketika orang bicara tentang peradaban Bali, sudilah menengok kearifan masa silam, di mana manusia Gilimanuk membangun peradaban sendiri – dan budaya agama kealaman kini belum tentu setara dengan pencapaian mereka.

Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Westa
Penulis/Pekerja Kebudayaan

“Keberadaan kita dengan segala kekurangan dan kelebihan adalah untuk saling melengkapi dan menguatkan bukan untuk saling menghina apalagi meniadakan.”

I Wayan Sudarma #MangkuDanuQoutes

Analogi

Analogi 1: Saya sering menonton iklan-iklan melalui pelbagai media terkait dunia usaha, setiap produsen akan mempromosikan barang produksinya sebagai produk terbaik dari produk sejenis lainnya, namun biasanya mereka berkompetisi secara sehat, tak ada saling menghujat, mereka bersaing secara sehat. Konsumenlah yang akan menentukan dan memilih siapa.
Dalam berkeyakinan juga serupa demikian, setiap pemeluknya sudah pasti akan mengatakan bahwa keyakinannyalah yang terbaik daripada keyakinan lainnya. Bedanya dalam soal berkeyakinan belakangan ini; saling hujat, saling hina bahkan fitnah dan saling klaim sebagai yang ter ini dan ter itu justru lebih sering hadir, dibandingkan dengan saling memahami dan memaklumi-bahwa perbedaan adalah kebenaran yang sesungguhnya. Padahal para pemeluknya mengaku sebagai insan yang melakoni keyakinannya yang paling baik dan paling benar-tapi justru sering hadir tidak membawa damai dan bahagia sebagai mana inti ajaran semua keyakinan: pembawa damai….(mohon koreksi kalau saya keliru beranalogi)

Analogi 2: Menyoal Berkeyakinan kita bisa belajar dari para siswa yang bersekolah di sekolah berbeda, ia akan diikat dengan peraturan sekolah masing-masing, menggunakan seragam sesuai dengan ciri khas sekolahnya, pola pembelajaran mengikuti alur standar yang juga telah ditetapkan.
Dalam hal berkeyakinan sejatinya juga demikian. Pemeluknya diikat oleh ketentuan yang tertuang dalam keyakinannya itu. Menggunakan ragam ritual sesuai dengan ciri khas keyakinannya, pola pembinaan keyakinannya pasti juga berbeda. Namun faktanya di berkeyakinan, acapkali pemeluknya mencampuri keyakinan orang lain, lagi-lagi melakukan klaim-klaim.

Analogi 3: Pada saat makan bersama kita dihidangkan makanan yang sama, di tempat yang sama, dimasak oleh orang yang sama. Namun Cita Rasa Lidah kita berbeda.
Dalam Keyakinan; di saat melakukan peribadatan kita hadir ditempat yang sama, dipandu/mengucapkan dengan doa yang sama. Namun Cita Rasa Ketuhanan Kita Berbeda, sekalipun kita beribadat dengan istri atau anak sendiri yang duduk disebelahnya.

Bahan bermenung: Seandainya di dunia ini ada 1 Milyar manusia-sejatinya akan ada 1 Milyar Tuhan dan Keyakinan, karena setiap manusia akan memiliki keyakinannya sendiri-sendiri. Jadi pola-pola penyeragaman keyakinan akhirnya hanya akan membawa pemaksaan dan keterpaksaan. Pola inilah yang akhirnya melahirkan pribadi-pribadi yang mengaku paling berhak atas ‘kebenaran’ padahal kebenaran itu tidak pernah berwajah satu, karena setiap hal sejatinya adalah kebenaran.

Menyitir lyric lagu Bung Ebiet G Ade:…..mungkin Tuhan sudah mulai bosan, melihat tingkah kita……yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa……

Belum terlambat kita berbenah…..mumpung masih ada waktu…..

Sudah saatnya kita kembali menundukkan kepala, seraya mendinginkan hati. Karena kebiadaban dan kejahatan yang paling dasyat adalah kejahatan komunal berbasis keyakinan.

Saya memiliki keyakinan, bahwa wiweka kita masih sehat untuk kembali merangkai mutiara-mutiara perbedaan yang secara khusus Tuhan anugerahkan kepada kita. Seperti pelangi yang indah karena perbedaan warnanya, Jari kita bisa berbuat dengan sempurna karena perbedaan, musik menjadi merdu karena perbedaan. Saatnya kita duduk bersama sebagai saudara, bukan sebagai pesaing apalagi sebagai musuh.

Manggalamastu
🙏 I Wayan Sudarma

Bali, 08 Juli 2020

Om Swastyastu
Tatkala kita sedang berada pada kondisi nyaman, damai, bahagia, penuh suka cita, dan berbagai kondisi yang dipandang baik-sadari dan yakini bahwa ini adalah situasi dimana kita sedang menikmati buah kebajikan kita yang sedang berbuah ranum.

Demikian pula saat dimana kita berada pada kondisi nestapa, menderita, penuh duka cita, dan berbagai kondisi yang dipandang tidak baik. Sadari dan yakini pula bahwa ini adalah situasi dimana kita sedang menikmati buah ketidakbajikan kita yang sedang panen raya.

Dengan kesadaran ini, kita tidak akan memiliki celah untuk menimpakkan dan menumpahkan segala kejadian yang kita alami pada orang dan atau mahluk lainnya.

Dan dengan kesadaran ini pula kita akan memiliki kesempatan untuk senantiasa menanam tanaman kebajikan di taman kehidupan kita.
Manggalamastu…!!

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma®️

Om Swastyastu

Seorang anak bertanya kepada Ayahnya: “Ayah kenapa setiap selesai mengakhiri suatu doa atau persembahyangan kita mengucapkan kata santih..?”
Ayah: “Anakku karena setiap orang dari kita membutuhkan kedamaian, santih artinya damai“.
Anak: ” Kenapa kok kita mengucapkannya tiga kali, kenapa tidak sekali saja?”
Ayah ” Karena kedamaian itu bukan hanya ditentukan oleh individu/diri sendiri, tapi juga ditentukan oleh mahluk hidup lainnya dan juga, alam samesta ini”.
Anak: “Jadi maksud Ayah, Kita akan merasakan kedamaian bila ketiga (Diri, Mahluk Hidup lainnya, Alam Samesta) hal itu damai?”
Ayah: “Iya Ananda benar”
Anak: “Kalo di antara ketiga itu yang manakah yang bisa kita kontrol…?”
Ayah: “Tentu saja diri ini anakku…”

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma®

Argo Dumilah-Puncak Gn. Lawu

Om Swastyastu


Ring Teks Vrati Sasana Sloka 30, naler kamuat indik carcan Maling:

1. Kartā atau Ia yang Melakukan Pencurian;

2. Kārayitā atau Ia yang Memerintahkan Pencurian, ia yang memberi gagasan dan menyemangati seseorang untuk mencuri;

3. Bhoktā atau Ia yang Menikmati Barang Curian serta ia yang memberi makanan pada pencuri;

4. Nirdeṣṭā atau Ia yang secara Langsung atau Tidak Langsung Mendukung Pencuri atau Pencurian;

5. Sthānadeśaka atau Ia yang Membantu Pencuri dengan Menunjukkan Jalan, serta memberikan Tempat Bernaung;

6. Trātā atau Ia yang menjadi Rekan Pencuri;

7. Jñātā atau Ia yang Menyediakan Informasi kepada Pencuri, yang dapat membantu si pencuri beraksi atau dengan kata lain, informan bagi si pencuri; dan,

8. Guptā atau Ia yang Menyembunyikan Pencuri;

Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma

#antigratifikasi #stopkorupsi

Om Swastyastu
Menenangkan pikiran adalah memberi kesempatan kepada tubuh agar membentuk kembali keseimbangan diri. Keseimbangan diri adalah Yoga. Yoga membuat kita terbebas dari 2 ekstrem kehidupan seperti suka dukha, cinta benci dan sebagainya.

yoga-sthaḥ kuru karmāṇi
sańgaḿ tyaktvā dhanañjaya,
siddhy-asiddhyoḥ samo bhūtvā
samatvaḿ yoga ucyate (Bhagavadgītā, II.48)

Terjemahan :
Berkaryalah dengan kesadaran jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (arjuna, Penakluk kebendaan), berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah Yoga


Suatu Sore di tengah Danau, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan. Air Danau bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap burung belibis yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.

“Ayah.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur. “Tadi malam ini, aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”

“Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa?. Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, ayah berkata, “pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan.”

Ayah itu kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.


Sahabat semuanya.. setiap diri kita memiliki “singa” saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.

Salah satu santapan dari singa yang buruk misalnya serial sinetron yang memiliki naskah yang dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.

Ingat, keburukan yang koar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa.

Gelombang/Riak Pikiran

Sahabat…

Setiap dari kita merindukan tayangan yang berkualitas, yang menengok pribadi-pribadi yang tangguh dalam berjuang untuk mencapai prestasi. Tayangan yang santun, tayangan yang mengajak untuk lebih dekat dengan Tuhannya.

Mutiara Dharma: “Setinggi-tingginya Gelombang Samudera

Yang Tertinggi adalah Gelombang Pikiran
Yang Terdasyat adalah Gelombang Cinta
Yang Paling Bergemuruh adalah Momo Angkara”. (I Wayan Sudarma)

Apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, adalah makanan bagi pikiran kita. Apa yang terpikirkan, itulah yang akan tersikap. Semoga renungan pendek ini menenangkan riak-riak gelombang kehidupan kita, demi kualitas diri yang semakin baik. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma®️
Banyu Pinaruh, 05 Juli 2020

mutiaradharma: “Setiap perubahan sikap manusia harus terjadi karena pengertian & penerimaan dari dalam dirinya sendiri. manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat membentuk dan memetakan ulang dirinya sendiri dengan cara mengubah sikap melalui pengetahuan yang ditelah dianugerahkan padanya.”

I Wayan Sudarma #catatanharian #mangkudanuqoutes

*Ri Saraswati, 04 Juli 2020