hindu view


Om Swastyastu

Kematian merupakan Bab Kesimpulan Akhir dari “Buku Perjalanan” manusia di dunia ini. Orang-orang yang berada jauh dari sentuhan ajaran-ajaran suci Veda tidak akan mengerti rahasia kematian dan mereka tidak akan memiliki pengetahuan tentang bagaimana serta apa yang harus dilakukan pada mereka yang meninggal.

Pada kebanyakan umat Hindu kita di Bali khususnya, perlu diadakan penyuluhan oleh yang berwenang memberikan penyuluhan. Paling tidak, bagi mereka yang ingin melihat upacara kematian diselenggarakan dengan cara lebih baik dari sebelumnya, dari apa yang sudah ada. Mereka dapat memberikan contoh bagaimana melaksanakan upacara kematian yang lebih baik dalam jalan Dharma.

Upacara kematian di dalam ajaran suci Veda dinamakan Antyeṣṭi, Agni-kriyā, Antya-kriyā, Antima-saṁskāra, Śava-saṁskāra, Daha-saṁskāra, dan sebutan lainnya. Kata Antyeṣṭi biasanya paling dikenal oleh umat Hindu secara umum di India, sama seperti kata Ngaben di Bali. Kata antyeṣṭi berasal dari kata antya (terakhir) dan iṣṭi (persembahan yajña). Antyeṣṭi berarti persembahan yajña terakhir bagi mereka yang meninggal karena setelah kematian yang bersangkutan tidak bisa lagi melakukan yajña. Persembahan keseluruhan diri kepadaNya melalui api suci pembakaran di tempat pembakaran mayat yang dalam bahasa Sanskerta dinamakan Śmasāna. Barangkali kata śmasāna ini di Bali kemudian menjadi kata Sema.
Dahulu Sema juga dinamakan Setra, barangkali berasal dari kata kṣetra yang artinya medan suci, lapangan suci, tegal suci, karena ia bukan tempat kotor melainkan tempat melakukan persembahan yajña terakhir bagi setiap orang yang meninggal.

Sehubungan tradisi di Bali, karena berbagai alasan, banyak yang dikubur terlebih dahulu (makingsan ring Perthiwi) sambil menunggu waktu untuk di-aben sehingga lama-lama sebutan Setra dan Sema menjadi meredup, diganti oleh sebutan Kuburan.

Secara tradisi Veda atau pemahaman tattwa, pelaksanaan upacara kematian Antyeṣṭi seharusnya badan orang meninggal sesegera mungkin dibakar. Bahkan dari pertimbangan kesehatan juga lebih baik segera dibakar. Akan tetapi, tradisi yang berjalan tanpa disengaja dan tanpa disadari oleh umat kebanyakan menyebabkan sebagian besar umat memilih mengubur badan wadag orang meninggal dibanding dengan yajña membakar langsung.

Semoga ulasab singkat ini bermanfaat bagi kita semu. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Om Swastyastu

“Agama bukanlah untuk memisahkan seseorang dengan orang lain, agama bertujuan untuk menyatukan mereka. Adalah suatu malapetaka bahwa saat ini agama telah sedemikian terdistorsi sehingga menjadi penyebab perselisihan dan pembantaian” (Mahatma Gandhi, 2004:170)

Semua orang, semua bangsa di dunia bahkan semua mahluk menghendaki kehidupan yang damai, rukun tanpa konflik. Agama-agama diturunkan ke dunia untuk mewujudkan kedamaian yang sangat mulia itu.

Hari Suci Nyepi datang lagi, tahun ini berbarengan dengan hari Suci Saraswati. Umat Hindu memperingati dengan beberapa rangkaian kegiatan sosial dan spiritual, pada hakikatnya melaksanakan ajaran Tri Hita Karana, seperti yang diamanatkan dalam Bhagawad Gita III.10:

Sahayajñah prajah strishtva puro vacha prajapatih, anena prasavishya dhvam esha va stv ishta kamadhuk

Filosofi Trihita Karana (3 sumber kebahagiaan) yakni: Dialog, hubungan dengan Prajapati, Tuhan (Parahyangan), Dialog dengan sesama sebagai Praja, manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan Kamadhuk yakni alam, lingkungan (Palemahan). Jadi Nyepi mewujudkan kebahagiaan yang bersumber dari ketiga hubungan/dialog itu. Jika semua ciptaanNya atas dasar prakarsa manusia, merasakan kebahagiaan niscaya kedamaian tercipta.

Umat Hindu di Maluku dalam rangkaian Nyepi tahun 2018 disamping melakukan kegiatan ritual juga melaksanakan berbagai aksi sosial, antara lain menyelenggarakan: kerja bakti kebersihan, menanam pohon , donor darah, kegiatan Yoga, bhakti sosial dan lain sebagainya.

Rangkaian upacara Hari Suci Nyepi yang diawali dengan Upacara Melasti memiliki pesan spiritual agar manusia kembali membersihkan dan mensucikan dirinya sshingga memiliki kesiapan baik sekala dan niskala (jasmani-rohani) dalam menyongsong Hari saat dimana ia harus Hening-menelisik diri. Kemudian sehari sebelum Nyepi adalah Hari Taur Agung Kasanga yang pada hakikatnya adalah untuk mendoakan, memohon keselamatan jagat, dunia beserta semua ciptaanNya. Puncak Nyepi 17 Maret 2018, libur nasional dan Ngembak Geni dan Dharma Santi melakukan simakrama dengan keluarga kerabat dan handai taulan, dan masyarakat umum.

Makna Nyepi adalah sebagai hari Keheningan dan mendoakan, menyerukan terwujudnya kedamaian, sedangkan Saraswati untuk menerima aliran Pengetahuan Suci dari Hyang Widhi, sehingga manusia Hindu dapat tumbuh menjadi pribadi yang santun, toleran, empaty dan lenyapnya segala sifat buruk dan kejahatan manusia. Dua makna hari raya ini saling berkaitan, karena kedamaian akan terwujud bila segala perilaku hidup manusia di bumi ini didasarkan pada pengetahuan suci dharma atau kebenaran hakiki.

Nyepi dan Kedamaian

Merenungkan kembali Pesan Nyepi seperti yang termaktub dalam kitab Suci Veda:

Hendaknya mereka yang memeluk agama yang berbeda-beda dan dengan mengucapkan bahasa yang berbeda-beda pula, tinggal bersama di bumi pertiwi ini, hendaknya rukun bagaikan satu keluarga, seperti halnya induk sapi yang selalu memberikan susu kepada anaknya, demikian bumi pertiwi memberikan kebahagiaan kepada umat manusia” (Atharvaveda XII.1.45).

Jadi makna dan tujuan Nyepi adalah untuk beryadnya (berkurban) mendoakan alam semesta, dunia untuk tercapai kedamaian. Pada kenyataannya kedamain itu mahal, sulit terwujud. Konflik pribadi, menimbulkan ketidakdamaian dalam diri karena pertentangan antara keinginan dan norma sosial, norma agama. Konflik rumah tangga merenggut kedamaian karena konflik kepentingan, perbedaan pendapat di antara anggota keluarga. Konflik di masyarakat dapat timbul karena perbedaan, demikian juga kehidupan suatu negara.

Kedamaian hilang karena konflik kepentingan, konflik ideologi, ketidakadilan, diskriminasi, hubungan antar kelompok, hubungan antar agama yang disharmoni. Kini banyak negara di dunia, seperti di beberapa negara di Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin dan banyak lagi di wilayah lain berkonflik bahkan perang.

Konflik karena perbedaan suku, agama, antar golongan (SARA). Konflik juga muncul dalam internal agama karena perbedaan aliran berbalut politik yang diwarnai ambisi berkuasa. Warga negara tidak damai lagi di negaranya sendiri, kini banyak yang mengungsi ke Eropa yang kebanyakan agama berbeda. Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, kapan penganut-penganut agama-agama itu berperan menciptakan perdamaian yang sejati, baik internal agamanya maupun antar agama. Di negeri sendiri sumber konflik yang diakibatkan oleh mencuatnya isu SARA yang berbalut politik menjadi isu aktual dan potensial bahkan merambah kepada hal hal yang multidimensional.

Di tengah merenungkan Nyepi mari saling mengingatkan bahwa kedamaian itu sejatinya ditumbuhkan dalam diri, di rumah tangga, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Empat pilar kehidupan berbangsa, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI tidak perlu disangsikan lagi karena mampu mengelola pluralisme, mereduksi fanatisme dan radikalisme.

Selain rangkaian hari raya Nyepi yang telah dikemukakan, kegiatan spiritual kerohanian pada puncak hari Nyepi; Sabtu, 17 Maret 2018 adalah Catur Berata Penyepian yakni: Amati karya, tidak melakukan aktivitas/kerja. Amati lelungan, tidak melaksanakan bepergian ke luar rumah. Amati lelanguan, mengendalikan emosi, tidak menyelenggarakan hiburan, pesta pora. Amati geni, tidak menyalakan api/lampu,

Sehari setelah Nyepi yakni pada Minggu 18 Maret 2018. Keesokan harinya dikenal sebagai hari Ngembak Geni, aktivitas kehidupan mulai dilakukan, pada hari ini juga dilakukan Simakrama; saling bersalaman meminta maaf dan memaafkan, saling berkunjung mengucapkan rasa terima kasih. Semua kegiatan dan pernak-pernik Nyepi diliputi suasana Bhakti adalah dalam usaha umat Hindu memancarkan Kebenaran (Sathyam), Kesucian dan Keheningan (Sivam), dan Keindahan (Sundaram). Melalui pelbagai ritual dan spiritual memerangi kejahatan dan nafsu angkara murka manusia merupakan cara yang hakiki mewujudkan kedamaian.

Bahkan Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan dan tokoh yang menentang apartheid menyerukan: “Mengubah dendam menjadi pengampunan, kebencian menjadi persahatan, kecurigaan menjadi kepercayaan, perbedaan menjadi kekayaan hidup bersama”.

Bahkan Bung Karno, dalam percakapan dengan RM P. Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) mengatakan, “Saya melawan politik Belanda, tetapi seni memerintahkan saya untuk tidak membeci orang Belanda” (Agus Dermawan T, Kompas, 30 Nov. 2016). Dalam rangka refleksi Nyepi, biarlah dialog kita sesuai ajaran Tri Hita Karana ikut mewujudkan Santih Lan Jagadhita (damai dan sejahtera di bumi) agar kedamaian tidak menjadi barang mahal. .

Om Santih Santih Santih Om

Ambon, 07 April 2018

PH PHDI Pusat


Kabid Kebudayaan & Kearifan Lokal

I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

​Om Swastyastu

Belum pernah saya meilhat sebuah bangsa yang begitu bersemangatnya dibodohi, dijadikan bodoh kemudian diperbudak, dirampas kekayaan bangsanya dan didoktrin untuk menghina dan melecehkan leluhurnya …mengatakan leluhurnya primitif, tidak berbudaya dan sebagainya…saya yakin…sebentar lagi mulut mereka akan terbungkam dan sebagian hanya bisa ternganga dan malu jika mengetahui leluhurnya adalah pusat peradaban dunia yang bahkan jauh lebih maju dalam hal spiritual, kebudayaan dan peradaban dari yang ada sekarang.

Lemuria/Mu merupakan peradaban kuno yg muncul terlebih dahulu sebelum peradaban Atlantis.Para peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar periode 75.000 SM – 11.000 SM. Jika kita lihat dari periode itu, bangsa Atlantis dan Lemuria seharusnya pernah hidup bersama selama ribuan tahun lamanya. Gagasan benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-1908), seorang peneliti dan penulis pada abad ke-19 yang mengadakan penelitian terhadap situs-situs purbakala peninggalan bangsa Maya di Yucatan.

Informasi tersebut diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya. Dari hasil terjemahan, diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka (Atlantis). Namun dikatakan juga, bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu yang sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat meluluh lantakkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam tersebut. Hingga saat ini, letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, kemungkinan besar peradaban tersebut berlokasi di samudera Pasifik (di sekitar Indonesia sekarang).

Banyak arkeolog memepercayai bahwa Easter Island yang misterius itu merupakan bagian dari benua Lemuria. Hal ini jika dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang mengitari pulau dan beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artefak yang mengacu pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam. Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap di pulau-pulau disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu kala pernah ada sebuah daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur diterjang oleh gelombang pasang air laut dasyat (tsunami), namun sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat peperangan. Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban Atlantis, memiliki tanah yang subur, masyarakat yang makmur dan penguasaan terhadap beberapa cabang ilmu pengetahuan yang mendalam. faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi bangsa Lemuria untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak ahli/ilmuwan yang dapat menciptakan suatu trobosan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mereka.

Seperti banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi, bahwa bangsa Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.

Edgar Cayce, seorang spiritualis Amerika melalui channelingnya berkali-kali mengungkapkan hal yang sama. Kuil-kuil Lemuria dan Atlantis menempatkan sebuah crystal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai penyembuhan.

Banyak info mengenai atlantis dan lemurian diperoleh dengan men-channel kristal-kristal `old soul’ yang pernah digunakan pada kedua jaman ini. Beberapa monumen batu misterius yang berhasil ditemukan di bawah perairan Yonaguni, Jepang, memungkinkah monumen-monumen ini merupakan sisa-sisa dari peradaban Lemuria.

Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik, teknologi dan gemar berperang, bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi, sangat damai dan bermoral.
Menurut Edgar Cayce, munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa di dunia, di antaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat. Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik, invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.

Sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian, mereka tidak
dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa Atlantean, sehingga dalam
sekejap, Lemuria pun jatuh ketangan Atlantis. Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak, ahirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi, mungkin keberadaan mereka saat ini belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat ini mereka tinggal di Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades).

Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalakan bumi untuk menetap di planet lain ini sedikit tidak masuk akal, tapi perlu kita ketahui bahwa teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju, penguasaan teknologi penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat mereka realisasikan pada jauh hari. Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era peradaban kita ini, belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan. (Baca artikel Piri Reis Map sebagai bahan pertimbangan).

Dari sekelumit kisah yang saya uraikan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa para Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang dialami oleh para Atlantean, namun karena peranglah yang membuat sebagian dari mereka berguguran.

Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis, otomatis wilayah Lemuria dikuasai oleh para Atlantean, sampai saat ahirnya daratan itu diterpa oleh bencana yang sangat dasyat yang kemudian menenggelamkannya bersama beberapa daratan lainnya, termasuk diantaranya Atlantis itu sendiri.

Sebagai referensi, Istana Taifurkhafi di Istanbul, Turki, tersimpan selembar peta kuno yang sangat unik. Peta kuno yang terbuat dari bahan kulit rusa (Gazelle skin) ini ditemukan pada awal abad ke-18, sekilas jika dilihat mungkin hanyalah merupakan selembar replika peta daratan dimasa masa lalu. Dalam peta tersebut, hanya kawasan Laut Tengah yang tergambar secara persis, sedangkan kawasan lainnya, seperti benua Amerika dan benua Afrika tergambar sangat berbeda.

Kemudian, di saat para ilmuwan menelitinya dengan lebih lanjut, hasil yang diperoleh sangat mengejutkan, karena ternyata peta kuno ini sebenarnya adalah gambar pandangan udara dari atas angkasa yang sangat detail dan terperinci. Jika disandingkan dengan gambar yang diambil dari pesawat Apollo 8, maka peta kuno Turki ini bagaikan fotokopinya. Gambar perubahan garis besar pada benua Amerika dan Afrika di peta kuno tersebut, sesuai dengan gambar yang diambil melalui pesawat Apollo 8. Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah, bahwa peta kuno itu melukiskan bentuk rumit permukaan bumi, kutub selatan yang tertutup lapisan es tebal tidak ada perbedaan sedikit pun dengan hasil gambar pemetaan menggunakan fatometer yang dilakukan oleh tim eksplorasi kutub selatan pada tahun 1952, yang mengadakan penyelidikan keadaan bumi di bawah lapisan es.

Lalu siapakah pada masa purbakala yang sudah menguasai teknologi tinggi pemotretan melalui angkasa luar? Dari penemuan peta kuno ini menjadi suatu bukti akan kemajuan pengetahuan ilmu astronomi peradaban masa silam yang sampai detik inipun belum bisa dikuasai oleh manusia-manusia zaman sekarang yang notabene mungkin mempunyai peralatan yang lebih canggih dari mereka. Studi lebih lanjut mengatakan mungkin mereka telah dapat menciptakan suatu trobosan teknologi yang luar biasa pada masa itu,seperti telah melakukan penjelajahan luar angkasa dan pendaratan diplanet lain. Apalagi hal tersebut didukung oleh beberapa penemuan artefak-artefak kuno yang menggambarkan beberapa gambaran imajinasi astronot-astronot pada masa silam. Lalu, mungkinkah nenek moyang kita sudah ada yang bermigrasi dan menetap di planet-planet lain, yang memiliki karakteristik mirip dengan bumi yang pada saat mungkin belum dapat ditemukan keberadaannya oleh para astronom kita? Jikalau benar demikian, apakah ada benarnya juga kisah mengenai bangsa Lemuria yang dikisahkan sebagian penduduknya banyak yang bermigrasi keluar dari Bumi untuk mencari tempat tinggal baru diplanet lain, ketika diambang kekalahannya dengan bangsa Atlantis pada dahulu kala?

PERADABAN DUNIA BERAWAL DARI INDONESIA!

Teori ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer, seperti memutarbalikkan sejarah yang sudah ada.
Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara!

Hal itu disampaikan Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul ‘Eden in The East’ di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis 28 Oktober 2010. Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia.

Buku “Eden in The East” oleh Stephen Oppenheimer
Lulusan fakultas kedokteran Oxford University melalui bukunya mengubah paradigma yang ada selama ini, bahwa peradaban paling awal adalah berasal dari daerah Barat. Perjalanan yang dilakukannya dimulai dengan komentar tanpa sengaja oleh seorang pria tua di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini. Dari situ dia mendapati kisah pengusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia. Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang prasejarah. Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan menenggelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya.

Peta migrasi manusia selama 160.000 tahun zaman es terakhir oleh Stephen Oppenheimer. Ini adalah hasil kerjanya yang didasarkan pada DNA mitokondria, bukti kromosom Y, arkeologi, klimatologi, dan studi fosil dan melacak rute dan waktu migrasi manusia keluar dari Afrika dan ke seluruh dunia. Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopotamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam. “Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya,” ujar dia. Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara.

Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.
Akibat iklim Bumi yang semakin panas saat zaman es secara dramatis pada 65-52 ribu tahun yang lalu, membuat air laut semakin naik di daerah khatulistiwa yaitu Indonesia. Keadaam itu memaksa nenek moyang manusia pindah dari daerah khatulistiwa ke daerah utara dan selatan Bumi. (Stephen Oppenheimer) Eden In The East juga mengungkapkan bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua. Buku ini ‘membalikkan’ sejumlah fakta-fakta yang selama ini diketahui dan dipercaya masyarakat dunia tentang sejarah peradaban manusia.

TEMUAN ARKEOLOG DI GUNUNG PADANG CIANJUR, BISA UBAH PETA BERADABAN DUNIA

Ada yang baru dari hasil eskavasi di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Ternyata ada struktur menarik di situs megalitikum itu. Di lapisan bawah tanah, di kedalaman 4,5 meter ditemukan teknologi unik.

“Di antara struktur tersebut ditemukan pecahan logam besi sepanjang 10 centimeter. Selain itu di antara batu-batu terdapat lapisan semen purba yang berfungsi sebagai perekat,”

Jadi pembangunan itu diduga dilakukan oleh beberapa generasi.  Karena  setelah  teknik  dengan  semen dan pecahan logam besi, pembangunan setelahnya hanya batu yang ditumpuk. Hal itu bisa dilihat dari hasil dating carbon yang dilakukan.

Hasil Laboratorium Beta Analityc Radiocarbon Dating (BETA) di Miami, Amerika Serikat, yang diakui secara internasional, berhasil menentukan umur atau usia absolut situs ini. Pada kedalaman 0,5 meter situs ini berusia 500 Sebelum Masehi (SM). Pada kedalaman 3 meter, situs ini berusia 4700 SM.

“Ditemukannya struktur batu pada kedalaman tersebut membuktikan bahwa di Indonesia pernah ada bangunan yang dibuat oleh manusia pada 4700 SM atau jauh lebih tua dari bangunan-bangunan kuno yang ada di dunia. Sebagai pembanding, bangunan piramida di Mesir dibuat pada sekitar 3000 SM. Hasil ekskavasi arkeologi di Gunung Padang ini tentu saja telah mengubah peradaban dunia,”

Rencananya, tim ini bulan depan akan melanjutkan ekskavasi untuk terus menelusuri struktur yang masih terpendam di dalam tanah. Sebagai pembanding, Candi Prambanan yang dibuat pada sekitar 800 Masehi didirikan di atas tanah urukan setebal 14 meter.

“Jika di Gunung Padang ditemukan susunan batu buatan manusia sampai dengan kedalaman 8 meter, maka dunia pun akan tercengang. Pada kedalaman tersebut kemungkinan akan ditemukan bukti peradaban umat manusia pada 11600 SM. Padahal peradaban besar dunia baik di Mesopotamia, Mesir, Cina, maupun Yunani yang tertua berusia sekitar 4000 SM,”.

(Dari Berbagai Sumber……, Semoga bermanfaat.)

Satyam Eva Jayate

Om Svaha

Om Santih Santih Santih Om

~I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Masjid Tuha Indrapuri merupakan sebuah masjid kuno yang terletak di desa Indrapuri, Aceh Besar. Sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Masjid ini memang tampak berbeda dari majid pada umumnya yang memiliki kubah.

Selain karena usianya yang telah empat abad, Masjid Indrapuri juga berdiri di atas bangunan bekas kuli masa kerajaan Hindu Lamuri yang berperang melawan pasukan bajak laut dari Tiongkok. Dalam sejarahnya, saat berperang kerajaan Hindu Namuri dibantu oleh Meurah Johan yaitu Pangeran dari Lingga yang kemudian menjadikan kerajaan Lamuri sebagai penganut agama Islam.

Bangunan utama masjid memiliki atap piramida bersusun tiga yang ditopang dengan 36 kayu penyangga. Gaya atap susun tiga ini diyakini sebagai perpaduan budaya Aceh dan Hindu masa lalu. Kini, masjid Tuha menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi.

Om Santih Santih Santih Om
image

Om Swastyastu

Seorang Awatara adalah seorang inkarnasi Tuhan. Ketika Tuhan turun ke bumi dalam suatu bentuk hidup apapun, maka
kita menyebut itu Awatara.

Menurut kitab-kitab purana, tak terhitung banyaknya Awatara yang pernah turun ke dunia ini. Awatara-awatara tersebut tidak selamanya merupakan “inkarnasi langsung” atau “penjelmaan langsung” dari Sang Hyang Wisnu. Beberapa Awatara diyakini memiliki “jiwa yang terberkati” atau mendapat “kekuatan Tuhan” sebagai makhluk yang terpilih. Misalnya:

1. Purusha Awatara: Awatara pertama Tuhan yang memengaruhi penciptaan alam semesta. Awatara tersebut yakni:
– Vasudeva
– Sankarshan
– Pradyumna
– Aniruddha

2. Guna Awatara: Awatara-Awatara yang mengatur tiga macam aspek dalam diri makhluk hidup. Awatara-Awatara tersebut yakni:
* Brahmā, pengatur nafsu dan keinginan, penciptaan.
* Wisnu, pengatur sifat-sifat kebaikan, pemeliharaan
* Siwa, pengatur sifat pemralina hingga pralaya.

3. Lila Awatara: Awatara yang sering ditampilkan dalam kitab-kitab Purana, seperti Dasa Awatara dan Awatara lainnya. Awatara tersebut turun secara teratur ke dunia, dari zaman ke zaman untuk menjalankan misi menegakkan Dharma dan menunjukkan jalan Bhakti dan Moksha.

4. Manwantara Awatara: Awatara yang diyakini sebagai pencipta para leluhur dari umat manusia di muka bumi.

5. Shaktyawesa Awatara: ada dua jenis:
1). makhluk yang merupakan penjelmaan Tuhan secara langsung; dan
2) makhluk diberkati yang mendapatkan kekuatan dari Tuhan.
Jenis tersebut memiliki jumlah yang besar, dan merupakan Awatara yang istimewa. Awatara jenis ini, misalnya saja: Narada Muni atau Sang Buddha. Awatara jenis tersebut kadang-kadang dikenal dengan sebutan Saktyamsavatar, Saktyaveshavatar atau Avesha avatar.

Awatara lain yang termasuk jenis kedua, misalnya: Parashurama, yang mana Tuhan tidak secara langsung menjelma. Dalam jenis yang kedua tersebut, menurut Srivaishnavism, ada dua macam lagi, yakni:
1) Tuhan memasuki jiwa mahluk yang terpilih tersebut (seperti: Parashurama);
2) Tuhan tidak memasuki jiwa secara langsung, namun memberikan kekuatan suci (misalnya Vyasa, penyusun Veda).

Awatara jenis kedua tersebut tidak dipuja sebagaimana mestinya Awatara yang lain. Hanya Awatara yang merupakan penjelmaan langsung yang kini sering dipuja, seperti: Narasimha, Rama, dan Sri Krishna.

Menurut aliran Waisnawa, Krishna merupakan Awatara yang tertinggi di antara Awatara yang lain.

Namun, pengikut Sri Chaitanya, Nimbarka,Vallabhacharya memiliki filsafat berbeda dengan pengikut aliran Waisnawa, seperti: Ramanuja dan Madhva dan menganggap bahwa Krishna merupakan kepribadian dariTuhan yang Maha Esa, dan bukan seorang Awatara belaka.

Dalam beberapa filsafat Hinduisme, tidak ada perbedaan dalam memuja Sang Hyang Widhi ataupun Awataranya karena semua pemujaan tersebut akan menuju kepada-Nya.

Contoh lainnya misalnya:
– Hanoman dalam Ramayana merupakan Awatara Siwa.
– Menurut kepercayaan umat Hindu, Dattatreya adalah seorang Awatara yang merupakan penjelmaan dari Trimurti (tiga dewa utama), yaitu Brahma,Wisnu dan Siwa. Dattatreya lahir sebagai putera Resi Atri dan Anasuya. Nama Dattatreya berasal dari kata datta dan atreya. Kata datta berarti “diberi”, oleh karena Trimurti telah memberikan perwujudan sebagai putera Atri dan Anasuya. Kata atreyasecara harfiah berarti “putra Atri”. Dalam tradisi Natha, Dattatreya dianggap sebagai awatara atau inkarnasi dari Dewa Siwa dan sebagai Adi-Guru (guru pertama) dalam tradisi Adinath Sampradaya. Di India, Dattatreya dipuja oleh berjuta-juta umat Hindu dan berbagai tradisi dilakukan untuk memuliakannya.
– Binatang Angsa adalah salah satu awatara (inkarnasi) Wisnu yang disebut dalam kitab Bhagawatapurana. Angsa merupakan salah satu awatara yang muncul pada zaman Satyayuga atau zaman kebajikan. Angsa muncul sebagai awatara berwujud angsa yang memberi pengetahuan suci kepada Dewa Brahma dan para putra Beliau (Catursana).
– Dalam Teks -Teks Lontar seperti: Perthiti Sambut Pada, Lontar Wrhaspati Kalpa, Tutur Gong Besi, juga dijelaskan bahwa pada setiap kelahiran manusia akan kita dapati kata-kata demikian….”Rare embas dina soma (misalnya)…..MANUMADI BHATARA..A, B, C…

Hal ini berarti bahwa setiap kelahiran manusia merupakan Awatara dari Istadewata….hanya saja kita belum menyadarinya..

Dengan demikian, pemahaman kita selama ini yang mengatakan bahwa Awatara hanya ada 10, tidak serta merta mesti kita terima begitu saja.

Dan semoga tulisan singkat ini dapat menambah kasanah pemahaman kita akan KELUASAN & KELUWESAN Hindu. Bahwa Hindu bukanlah agama kaku yang Fixed Price.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)
* Dari Berbagai Sumber

Oleh: Gede Prama

Tatkala Profesor Karen Armstrong (salah satu raksasa spiritual di zaman ini) berkunjung ke Indonesia awal Juni 2013 diundang penerbit Mizan, terlihat jelas sangat terkesan dengan cerita Bali sebagai pulau kasih sayang. Sehari setelah penulis buku “Compassion” ini mendengar cerita ini, di depan banyak sekali peserta seminar di Jakarta beliau terang-terangan mengemukakan tidak bisa tidur setelah mendengar cerita ini. Bahkan setelah beliau pulang ke Inggris pun masih menyempatkan waktu mengirim e-mail yang kurang lebih berisi pesan seperti ini: “I was so moved by your speech…let us keep in touch about making Bali an island of compassion”.

Sekuntum Bunga untuk Teroris

Pesan kosmik bom Bali jelas sekali. Ia terjadi persis satu angka setelah serangan teroris di Amerika Serikat. Persisnya, di AS terjadi 11-9-2001 dan di Bali terjadi 12-10-2002. Dari tanggal 11 ke tanggal 12, dari bulan 9 ke bulan 10, dari tahun 2001 ke tahun 2002. Dan bila serangan teroris terhadap kota New York diikuti oleh serangan balik banyak peluru, di Bali tidak ada satu batu kecil pun yang dilemparkan ke tempat suci sahabat non Bali. Lebih indah lagi, orang yang paling banyak mendapat piagam penghargaan pasca bom Bali adalah tokoh Islam kelahiran Kintamani Bali bernama Bapak Haji Bambang.

Di tempat lain, semua bom teroris diikuti oleh api amarah dan dendam. Tapi di Bali, sebagaimana cerita ringkas di atas, teroris malah memperoleh sekuntum bunga cinta. Setelah belajar dari sini, di kedalaman meditasi pernah terdengar, samsara ada di kepala, nirvana ada di hati. Dan kedalaman kasih sayang (compassion) yang membawa ke mana seseorang nantinya pergi. Bukan kebetulan kalau bagian awal kata compassion adalah compass. Bagian tengah kata compassion adalah pass. Ia yang menekuni Sang Jalan menggunakan compassion sebagai kompas, suatu hari akan lulus (pass).

Upacara Cinta

Salah satu ciri menonjol pulau Bali adalah upacara di mana-mana. Uniknya, upacara ini tidak dilakukan untuk alam atas seperti dewa, dewi, Tuhan, Buddha, tapi juga memberi makan dan ruang pada alam bawah. Di hampir setiap rumah orang Bali ada penunggun karang, semacam rumah bagi spirit-spirit setempat yang sudah tinggal di sana terlebih dahulu. Di banyak upacara, sering kali diisi dengan memberi makan pada makhluk di alam bawah. Tentu ini bukan berarti orang Bali menyembah setan, sekali lagi bukan!. Ia adalah wakil kasih sayang yang sempurna. Bila bisa memberi makan pada setan, lebih mudah memberi persembahan pada Tuhan. Jika bisa memberi ruang pada makhluk dari alam gelap, mudah menghormat pada makhluk dari alam cahaya.

Putaran waktu di Bali dibagi ke dalam putaran waktu ke atas (menyembah alam atas), dan putaran waktu ke bawah (menghidupi alam bawah). Ada hari suci untuk mengucapkan terimakasih ke pepohonan, binatang, barang. Dan tentu saja ada hari suci untuk menyembah ke atas. Jika dibahasakan dalam bahasa kekinian, upacara orang Bali adalah upacara cinta. Serangkaian pancaran cahaya cinta agar seisi alam semesta bahagia serta bebas derita.

Dan upacara jenis ini tidak saja monopoli Bali. Di Prancis Selatan serta Yunani Utara para arkeolog menemukan gua-gua yang berumur jutaan tahun. Di dinding gua yang sangat panjang dan dalam berisi relief yang diukir di atas batu, bercerita tentang rasa cinta manusia kepada binatang yang di saat itu menjadi sumber makanan utama manusia. Di Tibet serupa, salah satu bagian upacara orang Tibet juga menghidupi alam bawah. Digabung menjadi satu, dari zaman dulu sekali hati manusia sudah rindu mendalam akan kasih sayang.

Makhluk Kasih Sayang

Diterangi cerita upacara cinta, layak diendapkan ternyata manusia adalah makhluk yang penuh dengan kasih sayang. Manusia lahir di planet ini untuk memberkahi planet ini dengan cinta, kebajikan, kasih sayang. Dan planet ini baru terberkahi bila manusia menemukan kembali dirinya yang utuh dan otentik. Itu sebabnya, tetua Bali menyebut manusia dengan sebutan dewa ya kala ya. Dalam diri manusia ada Tuhan sekaligus setan. Cuman, setan bukan musuhnya Tuhan. Keduanya adalah bagian dari apa yang disebut psikolog Carl G. Jung sebagai authentic Self. Diri Agung yang utuh dan otentik.

Agama-agama di tingkatan awal memang menyebut kemarahan, dendam, iri sebagai wakil kegelapan alam setan. Agama-agama juga menyebut kebaikan, cinta, kasih sayang sebagai wakil alam cahaya. Tapi tanpa kegelapan maka cahaya kehilangan maknanya. Ke-u-Tuhan baru ketemu tatkala manusia bisa memeluk semua dualitas (termasuk dualitas Tuhan-setan) dengan kualitas senyuman yang sama. Meditasi sangat membantu dalam hal ini karena tugas terpenting meditasi adalah menyaksikan dengan penuh kasih sayang (compassionate witness).

Tapi ini jauh dari mudah. Dalam bahasa Carl G. Jung: “The most terrifying thing in life is accepting oneself completely”. Hal yang paling menakutkan dalam hidup adalah menerima diri secara utuh. Khususnya menerima kekurangan, kesialan, ketidaksempurnaan. Itu sebabnya di bagian lain karyanya Jung berpesan: “People will do everything to avoid the Soul”. Manusia akan melakukan apa saja agar bisa menjauh dari Sang Jiwa, karena bagi manusia yang belum utuh perjumpaan dengan Sang Jiwa sangat menakutkan.

Untuk membantu manusia berjumpa Sang Jiwa, di Bali Tuhan diberi nama Embang. Secara absolut, Embang dekat artinya dengan kebijaksanaan, kekosongan, keheningan. Makanya, Bali menjadi satu-satunya pulau di dunia yang merayakan tahun baru dengan hari raya Nyepi. Oleh karena kekosongan memberi ruang pada apa saja untuk bertumbuh tanpa membeda-bedakan maka aspek relatif Embang (Tuhan) adalah kasih sayang yang sempurna. Ini tercermin dari ketulusan memberikan makan pada alam bawah, serta menyediakan tempat tinggal bagi mereka.

Hanya spirit yang sudah berjumpa ke-u-Tuhan inilah yang bisa memberikan karangan bunga cinta pada siapa saja termasuk karangan bunga cinta pada teroris. Seperti rumah yang penuh karangan bunga kemudian bertabur keindahan, tempat di mana manusia utuh kerap melaksanakan upacara cinta, tempat itu akan bertabur keindahan. Dan ini bukannya tanpa bukti, salah satu pesan simbolik yang dikagumi dunia sepuluh tahun terakhir adalah buku dan film indah berjudul “Eat, Pray, Love”. Makanan enak ada di Italia, doa indah terdengar di India, cinta yang menyentuh ditemukan di Bali.

Mendengar cerita seperti ini, lewat ekspresi muka, bahasa tubuh, suka cita menyebarkan cerita ini ke mana-mana, email yang dikirim – bahkan berjanji menceritakan kisah ini ke Amerika Serikat – jelas sekali kalau Profesor Karen Armstrong sangat impresif tatkala mendengar kesimpulan seperti ini: “Tidak saja Seattle layak disebut kota kasih sayang, Bali juga layak disebut pulau kasih sayang”.

Next Page »