Renungan


Om Swastyastu

Seorang murid yang penasaran dengan pemaparan sang Guru mulai mengajukan permintaan,

“Guru, engkau adalah manusia tercerahkan, sudah pula berjumpa Tuhan, hanya satu permintaanku, tolonglah sampaikan doa-doaku kepadaNya sehingga segala doaku segera terkabul”.

Mendengar permintaan si murid, Guru tak segera menjawab melainkan meminta kepada murid tersebut untuk segera bangkit dan kemudian melangkah munuju kamar kecil menggantikan sang guru kencing.

Si murid heran dengan permintaan gurunya, sebab mana mungkin itu bisa dilakukan. Mengetahui muridnya dalam kebingungan, Guru lantas berkata,

“Untuk kencing semudah itu saja aku tidak bisa mewakilkannya kepadamu, bagaimana mungkin perjalanan sesulit bertemu Tuhan kamu wakilkan kepadaku?”

Dibanyak kisah perjalanan manusia hendak berjumpa dengan Tuhan, sampai sekarang hampir belum pernah tercatat bahwa ada manusia yang pernah mengalaminya. Mungkin karena sulitnya atau malah memang sama sekali tidak tahu apa dan siapa Tuhan itu sebenarnya, belakangan ramai tersiar kabar bahwa ada beberapa orang yang telah mampu merealisasikan perjumpaan tersebut. Dan darinya, tak sedikit pula yang meyakininya sebagai kebenaran.

Mungkin karena yakin, terlebih keyakinan itu dikuatkan oleh Bahasa kitab suci, maka penyerahan total kehidupan manusia pun dilakukan, bahwa baik semasa hidup pun setelah kematian menjemput nanti, ada sesosok “Mahluk” yang telah melindungi mereka. Mahluk inilah satu-satunya jembatan yang mampu menghubungkan siapa saja guna bertemu juga dengan Tuhan.

Namun, sebelum terlalu jauh tenggelam dalam keyakinan, ada baiknya kembali menyimak cerita sebelumnya. Bila untuk hal-hal yang tampak lebih mudah untuk dilakukan nyatanya itu tidak bisa diwakilkan, apalagi untuk sesuatu yang berada jauh diluar jangkauan pikiran manusia. Alih-alih mewakilkan, seseorang mesti melakukan perjalanannya sendiri guna bertemu dengan DiriNya sendiri.

Om Santih Santih Santih Om
~ I Wayan Sudarma

Advertisements

Om Swastyastu

Kekacauan Bali…Yang salah siapa?

Itulah pertanyaan mendasar yang saat ini sering dipertanyakan oleh banyak pihak, mulai dari rakyat jelata, pejabat, politikus, pelancong baik domestik pun mancanegara…..mengapa….?? Karena Bali sekarang dimana-mana macet, tambahan penduduk kian berjubel, alih fungsi lahan dari pertanian ke bangunan beton tak terbendung…..dan banyak lagi….hingga selorohan ‘kekacauan bali’ dari pelbagai dimensi memang tak bisa kita kesampingkan.

Terhadap pertanyaan di atas setidaknya ada dua jawaban yang biasanya…bisa kita dijadikan dalil, yakni:

  1. Masyarakat akan mengatakan yang salah jelas pemimpin dan wakil rakyatnya…yang sudah mengeksploitasi berlebihan atas nama pendapatan daerah dan pariwisata, dan berlindung dibalik pelbagai aturan….boro boro melindungi alam dan warisan para leluhur, yang ada malah ikut bertindak jadi calo cari-cari proyek….. Perbandingannya selalu kepada pemerintahan Gubernur Ida Bagus Mantra..dimana beliau sangat kuat dan keras melindungi alam serta budaya warisan leluhur…contoh kecil..ART CENTER, PKB, MELARANG MASYARAKAT MENJUAL TANAHNYA UNTUK INDUSTRI PARIWISATA (menyarankan untuk menyewakan saja agara dikemudian hati rakyat bali tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri dan bukan menjadi penonton di tanahnya sendiri), ATURAN BANGUNAN YANG TIDAK LEBIH DARI TINGGI POHON KELAPA DLL.
  2. Pemimpin dan para Wakil rakyat akan mengatakan jelas yang salah adalah masyarakat sendiri….siapa suruh berpikir pendek dan bersaing jual tanah juga beryadnya (upacara dan upakara) berlebihan cuma untuk jor-joran biar terlihat hebat dan bisa seperti keluarga Raja…kami cuma memfasilitasi keinginan masyarakat luas…dll.

Salah-menyalahkan buat saya sih sudah terlambat saat ini…..karena sudah terjadi..dan Bali memang sudah kian kacau sekala-niskala akibat keserakahan dan sok tau juga maha benarnya para preman dan orang pintar yang sekarang yang sangat pandai bersilat lidah melebihi pengacara senior…

Entah kapan ini bisa dihentikan…atau mungkin memang sudah tak terhentikan ? …
Berhenti saat semua sudah hancur lebur dan kita babak belur ?

Jika dulu para leluhur berkata: “kutitipkan warisan alam, tradisi, budaya yang adiluhung ini kepada kalian agar langgeng selamanya”. Maka berbeda dengan saat ini…kita akan berkata: “kutitipkan kehancuran alam, tradisi budaya dan tanah warisan untuk kalian jual lewat calo-calo terpercaya…utamakan yang dekat dengan pusat kekuasaan, pusat duit, dan yang memberi untung.”

Tentu….kita masih ingat sentilah lagu: “Kembalikan Baliku padaku…..” Dalam amatan bodoh saya …. Bali memang saat ini serasa bak “Sapi Perahan”, dimana Susunya dinikmati namun induknya lupa dijaga kesehatannya. Orang-orang mengekploitasi Bali-namun mereka tak semua menjaga Tanah Bali agar tetap sehat sekala dan niskala dan dari Kehancuran….

Apakah akan kita biarkan.???….Kuncinya ada di tangan Kita Semua…..!!

Om Swastyastu

Wong Ndeso :
“Penak dadi wong kota…..
opo-opo ono, mall cedak, dalane alus.”

Wong Kota :
“Penak piye ? Mangkat kerjo macet, mulih kerjo macet. Malem minggu macet, tanggal nom macet, parkir gak iso sembarangan lan mesti mbayar. Neng ndeso lalu-lintas lancar, parkir bebas lan gratis.

Sing penak ki dadi pegawai hotel. Lingkungane mewah, ber AC, makanane mewah dan terjamin.”

Pegawai Hotel:
“Penak apane ? Yen musim liburan malah ora iso liburan. Yen sepi gak oleh extra penghasilan. Sing penak ki dadi pedagang…”

Pedagang :
“Penak apane ? Barang sak warung utangan kabeh, Nek ono suloyone kedunan rego biso-biso bangkrut.
Penak ki dadi Pegawai Negeri,
kabeh-kabeh ngajeni…
Ketemu tonggo : Monggo Pak… monggo Bu…
Tanggal nom mesti gajian.”

Pegawai Negeri:
“Penak apane ?
Iyo tanggal nom gajian, tanggal tuwek totalan….Gajine “jerman” di jejer wis ora uman. Sing penak iku yo dadi Pak Lurah.. Neng endi-endi ketemu rakyate…
Monggo Pak Lurah !!!
Yen jagong/kondangan manggone ngarep dhewe.
Saben dino entuk punjungan/berkat.”

Lurah:
“Penak apane ? oRa nyucuk karo modale….Sawah didol, mobil didol nggo nyalon…Gajine ora nutup, saben dino jagongan. Sing enak yo dadi DPR.”

DPR :
“Penak apane dadi DPR ?
Ora cucuk karo modale, duwit entek nggo kampanye…Bareng dadi gak iso obah blas…Ono proyek sithik wae di penthelengi KPK…

Luwih penak yo dadi tukang cukur, iso ngongkeki sirahe wong akeh, sirahe pak camat, bupati… presiden diongkak-ongkek sirahe yo podo meneng wae.”

Tukang Cukur :
“Penak apane ?salah
Nek potongane opo meneh kesilet sirahe gocer, sing cukur muring-muring sesasi ra meneng.😅

Tibak-e kabeh ora ono sing penak.
Anggere isih urip yo isih MUMET, PUSING, NGELU, BINGUNG…
mergo kabeh mau gathuke wong urip…

TERUS KON KUDU yo opo…???

Monggo dulur, menikmati peran kita masing-masing.
Apa pun pekerjaan kita… NIKMATILAH dan SELALU BERSYUKUR,
BERSYUKUR dan
BERSYUKUR…

Salam Seduluran, jangan lupa bahagia dan selalu bersyukur…
😊😊😊

Om Santih Santih Santih Om

💙 I W. Sudarma

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa semoga saya, keluarga saya, teman-teman saya, orang-orang dekat saya, kenalan-kenalan saya dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu. Berita bunuh diri telah menjadi hiasan tetap bagi setiap koran di dunia.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Bukan hanya terjadi di tanah air kita melainkan juga di seluruh dunia. Dunia Barat pun tidak terbebas dari bahaya bunuh diri. Seorang teman saya yang warga Inggris telah kehilangan saudara terkasihnya. Saudaranya adalah orang sukses dan sangat terkenal bahkan di dunia. Tetapi, rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan kesadarannya sehingga memilih jalan bunuh diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin dan mengimbau Saudara-saudara se-tanah air untuk menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan tidak tepat, tergesa-gesa, jalan yang salah dan selain ia adalah tindakan dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka yang paling gelap:
“ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH.”
Artinya: Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi. (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13).

Tindakan-tindakan konyol biasanya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan baik, disebabkan kegelapan yang menutupi batin seseorang.

Kitab suci Upanishad memberikan doa-mantra untuk membantu diri kita terbebaskan dari kegelapan agar kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.
OM…, tamaso ma jyotir gamaya,
Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..
Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun, saya minta kematian.

Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya mempunyai seorang teman bernama Merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo tersebut akhirnya ia mengganti namanya dalam panggilan menjadi Amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Banyak orang tidak membedakan hidup keagamaan dengan hidup spiritual Sesungguhnya spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktik agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda.

Om Santih Santih Santih Om
05 Januari 2018

Beginilah manusia…!!!

Tidak hanya untuk orang tua kita… Berlaku untuk SEMUA keluarga… Terutama;

Orang tua

Adik

Kakak

Suami

Istri

Anak

Hargai dan perhatikanlah semasa hidupnya.

PERCUMA menangisi dan menyesali saat mereka telah pergi selamanya!

INGAT!!! Kesempatan hanya sekali.

Salam Rahayu

❤ I Wayan Sudarma

Oleh; I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“dharma eva plavoyah Svargam Sama bhivān chatam, Sa Co na ur pvanisjastalam jaladheh pàramicchatah”.

Artinya:

Yang disebut kebenaran, adalah merupakan jalan untuk mencapai surga, seperti perahu yang merupakan sarana bagi pedagang untuk menyebrangi lautan. (Sarasamuccaya,14)

Ajaran kebenaran ibarat perahu yang dipergunakan oleh para pedagang untuk menyebrangi lautan. Bila badan diibaratkan perahu, maka ia pun merupakan alat untuk menyebrangi lautan hidup, lautan Samsara. 

Kebenaran adalah alat, karena itu pergunakanlah alat itu sebaik mungkin. Ia harus dipegang erat-erat, dijadikan pedoman dalam meniti hidup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Dalam kehidupan ini, perjalanan kita tidaklah terlalu mulus, banyak rintangan, hambatan, tantangan, gangguan dan godaan yang kita hadapi. Kita ingin bebas dan mampu menghadapi segala rintangan dan cobaan di atas. Apakah senjata yang ampuh untuk mengatasi semuanya itu ? Tidak ada yang lain adalah ajaran kebenaran, pendekatan diri kepada Tuhan, berbakti kepada – Nya, dan melayani dengan Kasih semua ciptaanNya maka Ia senantiasa akan menganugrahkan kasih dan waranugrahaNya kepada kita. Di dalam kebenaran memerlukan berbagai petunjuk untuk berhasil mencapai tujuan hidup dan kebahagiaan yang sejati.

Om Santih Santih Santih Om

(Sekedar mengingatkan saja, masihkah ada dihati kita..?)

Om Swastyastu
Banyak orang merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.

Saat mereka kaya dengan ilmu atau pun harta, maka akan sangat sulit untuk berbagi dan takut untuk disaingi.
Ketika orang menjadi sombong, mereka akan haus dengan pujian-pujian.
Kita dilahirkan dengan telanjang. Tidak ada bayi yang lahir dengan membawa gelar atau pun kekayaan.
Kita lahir pun juga karena pertolongan orang lain, kita tidak bisa lahir dengan sendirinya. Seorang ibu dengan bantuan dokter, bersama-sama berjuang melawan maut untuk melahirkan kita.

Lalu apa yang pantas untuk kita sombongkan?
Kesombongan dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Saat kita sombong, kita akan menjadi egois dan tidak membutuhkan orang lain.
Bagaimana saat kita mengalami kesukaran?

Dapatkah kita meminta pertolongan pada “kesombongan” itu sendiri?
Kesombongan dapat menjadi alat pembunuh untuk diri sendiri.
Kesombongan yang kita miliki dapat menyakiti perasaan orang-orang di sekitar kita. Dan sampai pada saatnya nanti, perasaan seperti itu akan kembali pada kita.
“Sombong itu tidak abadi. kerendahan hati membawa kenangan yang tak terlupakan”. 
Semoga Bermanfaat bagi kita semua.
Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma

Next Page »