Renungan


Beginilah manusia…!!!

Tidak hanya untuk orang tua kita… Berlaku untuk SEMUA keluarga… Terutama;

Orang tua

Adik

Kakak

Suami

Istri

Anak

Hargai dan perhatikanlah semasa hidupnya.

PERCUMA menangisi dan menyesali saat mereka telah pergi selamanya!

INGAT!!! Kesempatan hanya sekali.

Salam Rahayu

❤ I Wayan Sudarma

Advertisements

Oleh; I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“dharma eva plavoyah Svargam Sama bhivān chatam, Sa Co na ur pvanisjastalam jaladheh pàramicchatah”.

Artinya:

Yang disebut kebenaran, adalah merupakan jalan untuk mencapai surga, seperti perahu yang merupakan sarana bagi pedagang untuk menyebrangi lautan. (Sarasamuccaya,14)

Ajaran kebenaran ibarat perahu yang dipergunakan oleh para pedagang untuk menyebrangi lautan. Bila badan diibaratkan perahu, maka ia pun merupakan alat untuk menyebrangi lautan hidup, lautan Samsara. 

Kebenaran adalah alat, karena itu pergunakanlah alat itu sebaik mungkin. Ia harus dipegang erat-erat, dijadikan pedoman dalam meniti hidup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Dalam kehidupan ini, perjalanan kita tidaklah terlalu mulus, banyak rintangan, hambatan, tantangan, gangguan dan godaan yang kita hadapi. Kita ingin bebas dan mampu menghadapi segala rintangan dan cobaan di atas. Apakah senjata yang ampuh untuk mengatasi semuanya itu ? Tidak ada yang lain adalah ajaran kebenaran, pendekatan diri kepada Tuhan, berbakti kepada – Nya, dan melayani dengan Kasih semua ciptaanNya maka Ia senantiasa akan menganugrahkan kasih dan waranugrahaNya kepada kita. Di dalam kebenaran memerlukan berbagai petunjuk untuk berhasil mencapai tujuan hidup dan kebahagiaan yang sejati.

Om Santih Santih Santih Om

(Sekedar mengingatkan saja, masihkah ada dihati kita..?)

Om Swastyastu
Banyak orang merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.

Saat mereka kaya dengan ilmu atau pun harta, maka akan sangat sulit untuk berbagi dan takut untuk disaingi.
Ketika orang menjadi sombong, mereka akan haus dengan pujian-pujian.
Kita dilahirkan dengan telanjang. Tidak ada bayi yang lahir dengan membawa gelar atau pun kekayaan.
Kita lahir pun juga karena pertolongan orang lain, kita tidak bisa lahir dengan sendirinya. Seorang ibu dengan bantuan dokter, bersama-sama berjuang melawan maut untuk melahirkan kita.

Lalu apa yang pantas untuk kita sombongkan?
Kesombongan dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Saat kita sombong, kita akan menjadi egois dan tidak membutuhkan orang lain.
Bagaimana saat kita mengalami kesukaran?

Dapatkah kita meminta pertolongan pada “kesombongan” itu sendiri?
Kesombongan dapat menjadi alat pembunuh untuk diri sendiri.
Kesombongan yang kita miliki dapat menyakiti perasaan orang-orang di sekitar kita. Dan sampai pada saatnya nanti, perasaan seperti itu akan kembali pada kita.
“Sombong itu tidak abadi. kerendahan hati membawa kenangan yang tak terlupakan”. 
Semoga Bermanfaat bagi kita semua.
Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Alkisah seorang lelaki yang memiliki 4 orang istri:
Istri ke-1 : Tua dan jelek, sehingga jarang tidak diperhatikan.

Istri ke-2 : Agak cantik, agak diperhatikan.

Istri ke-3 : Lumayan cantik dan cukup diperhatikan.

Istri ke-4: Sangat cantik, sangat diperhatikan dan disanjung-sanjung serta diutamakan!
Waktu pun berlalu begitu cepat dan tibalah saat sang lelaki (suami) tersebut mau meninggal, lalu dipanggilah 4

orang istrinya…
Dipanggilah istri ke-4 yang paling cantik dan ditanya…

“Maukah ikut menemaninya ke alam kubur?”

Si istri menjawab…

“Sorry, cukup sampai di sini saja saya ikut dengan mu…”
Saat dipanggil istri ke-3 dan ditanya hal yang sama, dia pun menjawab…

“Sorry, saya hanya akan mengantarmu sampai di kamar mayat dan paling jauh sampai di rumah duka.”
Kemudian dipanggil istri ke-2 dan ditanya hal yang sama… Maka dia pun menjawab,

“Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu Good Bye.”
Si Suami sungguh kecewa mendengar semua itu… Tetapi inilah kehidupan dan menjelang kematian…
Lalu dipanggil lah istri ke-1 dan ditanya hal yang sama, si suami tak menyangka akan jawabannya…

“Saya akan menemani ke manapun kamu pergi dan akan selalu mendampingimu…”
Bahan Renungan:
Mau tahu apa dan siapa istri ke-1 sampai ke-4 itu?
Istri ke-4 adalah “harta dan kekayaan”.

Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.
Istri ke-3 adalah “teman-teman” kita.

Mereka hanya akan mengantar jasad kita hanya sampai di saat disemayamkan.
Istri ke-2 adalah “keluarga”. Saudara dan teman dekat kita.

Mereka akan mengantar kita sampai dikuburkan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.
Istri ke-1 adalah “tindakan dan perbuatan” kita selama hidup di dunia. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya…
Berbuatlah banyak kebaikan selama kita masih hidup di dunia ini.
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Ini Dampak ketika kita belum mampu memaknai ajaran agama dengan benar, tapi sudah merasa diri paling benar.
Ini Dampak ketika tempat ibadat dikomersialkan menjadi obyek wisata, sehingga para pemuja Tuhan pun dianggapnya sebagai obyek tontonan
Ini dampak ketika hak yang paling Privasi di eksploitasi hanya untuk kepentingan perut.

Semoga kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi dimasa yang akan datang.
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma

 Om Swastyastu

Alangkah indahnya DIAM~bila BICARA dapat menyakiti orang lain,

Alangkah terhormatnya DIAM~bila BICARA hanya untuk merendahkan orang lain,

Alangkah bagusnya DIAM~bila BICARA bisa mengakibatkan terhinanya orang lain,

Alangkah cerdiknya DIAM~ bila BICARA dapat menjerumuskan orang lain,

Alangkah bijaknya DIAM~bila BICARA hanya untuk merugikan orang lain.


Maka pertimbangkanlah 

Kapan kita BICARA dan kapan kita DIAM

Jangan bicara tentang hartamu dihadapan orang miskin …

Jangan bicara tentang kesehatanmu dihadapan orang sakit …

Jangan bicara tentang kekuatanmu dihadapan orang lemah …

Jangan bicara tentang kebahagiaanmu dihadapan orang yang sedih …

Jangan bicara tentang kebebasanmu dihadapan orang yang terpenjara

Jangan bicara tentang anakmu dihadapan orang yang tidak punya anak


Seorang yang BIJAK ibarat AIR yang selalu tenang dan menyenangkan, Suci dan menyucikan, Sejuk dan menyejukkan, Segar dan menyegarkan, Lembut dan melembutkan.
Jadilah seperti AIR yang selalu mencari tempat lebih rendah …Bermakna, rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, dan tidak pernah merendahkan atau menghina orang lain.

Jadilah seperti AIR yang selalu memberi kehidupan bagi apapun dan siapapun. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma

Next Page »