Renungan


Om Swastyastu

Wong Ndeso :
“Penak dadi wong kota…..
opo-opo ono, mall cedak, dalane alus.”

Wong Kota :
“Penak piye ? Mangkat kerjo macet, mulih kerjo macet. Malem minggu macet, tanggal nom macet, parkir gak iso sembarangan lan mesti mbayar. Neng ndeso lalu-lintas lancar, parkir bebas lan gratis.

Sing penak ki dadi pegawai hotel. Lingkungane mewah, ber AC, makanane mewah dan terjamin.”

Pegawai Hotel:
“Penak apane ? Yen musim liburan malah ora iso liburan. Yen sepi gak oleh extra penghasilan. Sing penak ki dadi pedagang…”

Pedagang :
“Penak apane ? Barang sak warung utangan kabeh, Nek ono suloyone kedunan rego biso-biso bangkrut.
Penak ki dadi Pegawai Negeri,
kabeh-kabeh ngajeni…
Ketemu tonggo : Monggo Pak… monggo Bu…
Tanggal nom mesti gajian.”

Pegawai Negeri:
“Penak apane ?
Iyo tanggal nom gajian, tanggal tuwek totalan….Gajine “jerman” di jejer wis ora uman. Sing penak iku yo dadi Pak Lurah.. Neng endi-endi ketemu rakyate…
Monggo Pak Lurah !!!
Yen jagong/kondangan manggone ngarep dhewe.
Saben dino entuk punjungan/berkat.”

Lurah:
“Penak apane ? oRa nyucuk karo modale….Sawah didol, mobil didol nggo nyalon…Gajine ora nutup, saben dino jagongan. Sing enak yo dadi DPR.”

DPR :
“Penak apane dadi DPR ?
Ora cucuk karo modale, duwit entek nggo kampanye…Bareng dadi gak iso obah blas…Ono proyek sithik wae di penthelengi KPK…

Luwih penak yo dadi tukang cukur, iso ngongkeki sirahe wong akeh, sirahe pak camat, bupati… presiden diongkak-ongkek sirahe yo podo meneng wae.”

Tukang Cukur :
“Penak apane ?salah
Nek potongane opo meneh kesilet sirahe gocer, sing cukur muring-muring sesasi ra meneng.😅

Tibak-e kabeh ora ono sing penak.
Anggere isih urip yo isih MUMET, PUSING, NGELU, BINGUNG…
mergo kabeh mau gathuke wong urip…

TERUS KON KUDU yo opo…???

Monggo dulur, menikmati peran kita masing-masing.
Apa pun pekerjaan kita… NIKMATILAH dan SELALU BERSYUKUR,
BERSYUKUR dan
BERSYUKUR…

Salam Seduluran, jangan lupa bahagia dan selalu bersyukur…
😊😊😊

Om Santih Santih Santih Om

💙 I W. Sudarma

Advertisements

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa semoga saya, keluarga saya, teman-teman saya, orang-orang dekat saya, kenalan-kenalan saya dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu. Berita bunuh diri telah menjadi hiasan tetap bagi setiap koran di dunia.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Bukan hanya terjadi di tanah air kita melainkan juga di seluruh dunia. Dunia Barat pun tidak terbebas dari bahaya bunuh diri. Seorang teman saya yang warga Inggris telah kehilangan saudara terkasihnya. Saudaranya adalah orang sukses dan sangat terkenal bahkan di dunia. Tetapi, rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan kesadarannya sehingga memilih jalan bunuh diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin dan mengimbau Saudara-saudara se-tanah air untuk menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan tidak tepat, tergesa-gesa, jalan yang salah dan selain ia adalah tindakan dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka yang paling gelap:
“ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH.”
Artinya: Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi. (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13).

Tindakan-tindakan konyol biasanya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan baik, disebabkan kegelapan yang menutupi batin seseorang.

Kitab suci Upanishad memberikan doa-mantra untuk membantu diri kita terbebaskan dari kegelapan agar kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.
OM…, tamaso ma jyotir gamaya,
Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..
Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun, saya minta kematian.

Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya mempunyai seorang teman bernama Merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo tersebut akhirnya ia mengganti namanya dalam panggilan menjadi Amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Banyak orang tidak membedakan hidup keagamaan dengan hidup spiritual Sesungguhnya spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktik agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda.

Om Santih Santih Santih Om
05 Januari 2018

Beginilah manusia…!!!

Tidak hanya untuk orang tua kita… Berlaku untuk SEMUA keluarga… Terutama;

Orang tua

Adik

Kakak

Suami

Istri

Anak

Hargai dan perhatikanlah semasa hidupnya.

PERCUMA menangisi dan menyesali saat mereka telah pergi selamanya!

INGAT!!! Kesempatan hanya sekali.

Salam Rahayu

❤ I Wayan Sudarma

Oleh; I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“dharma eva plavoyah Svargam Sama bhivān chatam, Sa Co na ur pvanisjastalam jaladheh pàramicchatah”.

Artinya:

Yang disebut kebenaran, adalah merupakan jalan untuk mencapai surga, seperti perahu yang merupakan sarana bagi pedagang untuk menyebrangi lautan. (Sarasamuccaya,14)

Ajaran kebenaran ibarat perahu yang dipergunakan oleh para pedagang untuk menyebrangi lautan. Bila badan diibaratkan perahu, maka ia pun merupakan alat untuk menyebrangi lautan hidup, lautan Samsara. 

Kebenaran adalah alat, karena itu pergunakanlah alat itu sebaik mungkin. Ia harus dipegang erat-erat, dijadikan pedoman dalam meniti hidup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Dalam kehidupan ini, perjalanan kita tidaklah terlalu mulus, banyak rintangan, hambatan, tantangan, gangguan dan godaan yang kita hadapi. Kita ingin bebas dan mampu menghadapi segala rintangan dan cobaan di atas. Apakah senjata yang ampuh untuk mengatasi semuanya itu ? Tidak ada yang lain adalah ajaran kebenaran, pendekatan diri kepada Tuhan, berbakti kepada – Nya, dan melayani dengan Kasih semua ciptaanNya maka Ia senantiasa akan menganugrahkan kasih dan waranugrahaNya kepada kita. Di dalam kebenaran memerlukan berbagai petunjuk untuk berhasil mencapai tujuan hidup dan kebahagiaan yang sejati.

Om Santih Santih Santih Om

(Sekedar mengingatkan saja, masihkah ada dihati kita..?)

Om Swastyastu
Banyak orang merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.

Saat mereka kaya dengan ilmu atau pun harta, maka akan sangat sulit untuk berbagi dan takut untuk disaingi.
Ketika orang menjadi sombong, mereka akan haus dengan pujian-pujian.
Kita dilahirkan dengan telanjang. Tidak ada bayi yang lahir dengan membawa gelar atau pun kekayaan.
Kita lahir pun juga karena pertolongan orang lain, kita tidak bisa lahir dengan sendirinya. Seorang ibu dengan bantuan dokter, bersama-sama berjuang melawan maut untuk melahirkan kita.

Lalu apa yang pantas untuk kita sombongkan?
Kesombongan dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Saat kita sombong, kita akan menjadi egois dan tidak membutuhkan orang lain.
Bagaimana saat kita mengalami kesukaran?

Dapatkah kita meminta pertolongan pada “kesombongan” itu sendiri?
Kesombongan dapat menjadi alat pembunuh untuk diri sendiri.
Kesombongan yang kita miliki dapat menyakiti perasaan orang-orang di sekitar kita. Dan sampai pada saatnya nanti, perasaan seperti itu akan kembali pada kita.
“Sombong itu tidak abadi. kerendahan hati membawa kenangan yang tak terlupakan”. 
Semoga Bermanfaat bagi kita semua.
Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Alkisah seorang lelaki yang memiliki 4 orang istri:
Istri ke-1 : Tua dan jelek, sehingga jarang tidak diperhatikan.

Istri ke-2 : Agak cantik, agak diperhatikan.

Istri ke-3 : Lumayan cantik dan cukup diperhatikan.

Istri ke-4: Sangat cantik, sangat diperhatikan dan disanjung-sanjung serta diutamakan!
Waktu pun berlalu begitu cepat dan tibalah saat sang lelaki (suami) tersebut mau meninggal, lalu dipanggilah 4

orang istrinya…
Dipanggilah istri ke-4 yang paling cantik dan ditanya…

“Maukah ikut menemaninya ke alam kubur?”

Si istri menjawab…

“Sorry, cukup sampai di sini saja saya ikut dengan mu…”
Saat dipanggil istri ke-3 dan ditanya hal yang sama, dia pun menjawab…

“Sorry, saya hanya akan mengantarmu sampai di kamar mayat dan paling jauh sampai di rumah duka.”
Kemudian dipanggil istri ke-2 dan ditanya hal yang sama… Maka dia pun menjawab,

“Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu Good Bye.”
Si Suami sungguh kecewa mendengar semua itu… Tetapi inilah kehidupan dan menjelang kematian…
Lalu dipanggil lah istri ke-1 dan ditanya hal yang sama, si suami tak menyangka akan jawabannya…

“Saya akan menemani ke manapun kamu pergi dan akan selalu mendampingimu…”
Bahan Renungan:
Mau tahu apa dan siapa istri ke-1 sampai ke-4 itu?
Istri ke-4 adalah “harta dan kekayaan”.

Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.
Istri ke-3 adalah “teman-teman” kita.

Mereka hanya akan mengantar jasad kita hanya sampai di saat disemayamkan.
Istri ke-2 adalah “keluarga”. Saudara dan teman dekat kita.

Mereka akan mengantar kita sampai dikuburkan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.
Istri ke-1 adalah “tindakan dan perbuatan” kita selama hidup di dunia. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya…
Berbuatlah banyak kebaikan selama kita masih hidup di dunia ini.
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Next Page »