Pustaka Hindu


Oleh: I W Sudarma

Om Swastyastu
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar bertindak adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. (Dorothy Nolte (dalam Titib, 2006:v)

Untaian Sloka Weda Guna Terbentuknya Anak Suputra:

Yetheyam prtiwi mahi bhutanam garbhamadadhe. Eva te dhiriyatam garbho anu suntum savite (Atharwaweda VI.17.1)

Terjemahannya:
Seperti halnya bumi yang luas ini mengandung semua mahkluk, demikian juga wahai istriku, engkau menjadi hamil dan dari kehamilan dapat lahir seorang putra seperti Sang Surya penuh dengan sinar cahaya.

Om Agni vayucandrasuryah, parayascittayo yuyam dewanam parayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi laksmi stanustamasya apahat swaha.

Terjemahannya:
Om Agni, Vayu, Candra dan Surya engkau adalah mensucikan segala prayascita, seperti mebersihkan segala kotoran. Mensucikan benda menjadi suci kembali. Dengan keinginan mencari Tuhan Yang Maha Esa, saya memohon perlindungan para Dewata supaya istriku bila pernah mendapat kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma yang mengakibatkan dosa mohon dimaafkan.

Om Suryo no divastu vato antariksat agnirah parthivebyah (Rg Weda X.158.1)

Terjemahannya:
Oh Dewa Surya anugerahkanlah dari surgaloka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam kandungan ini, demikian juga semoga dewa Bayu memberikan anugerah dari antraiksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi.

Ko asi katoma asi kayasi ko na-masi
Yasya te namamamahi yam twa some nantitrpama. Bhur bhuwah swah supraja-h prajabhih syam. Suviro viraih suposah posaih (Yayur Weda VII.29)

Terjemahannya:
Pada hari ini kami memberikan nama kepadamu dan juga memuaskan kamu dengan air susu ibu. Untuk itu wahai anakku siapkah sebenarnya kamu? dan milik siapa? dari manakah kamu? siapakah namamu? Tuhan Yang Maha Esa memberikan prana kebahagiaan dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapatkan keuturunan yang baik, dari semua unsur golongan manusia dan para katriya memperoleh keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan yang sehat penuh gizi.

Sa vahnih putrah pitroh pawitravan punatidhiro bhuvani mayaya (Rg Weda. I. 160.3)

Terjemahannya:
Putra dari orang tua yang mulia, saleh, gagah berani, dan berseri-seri bagaikan sanghyang Agni membersihkan (menyucikan dunia ini dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia

Yato virah karmanyah sudakso yuktagrava jayate dewakamah (Rg Weda III.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memperoleh seorang putra yang gagah berani giat, cerdas, yang mampu memeras soma dan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa lahir pada kami.

Pisangarupah subharo vayodhah srusti viro jayate dewakamah (Rg Weda II.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memproleh seorang putra yang berkulit kuning langsat yang berpotongan bagus yang panjang umur, yang berani dan bajik.

Te sunah swaspasah sudamasah (Rg Weda I.159.3)

Terjemahannya:
Putra-putra ini amat giat bekerja dan memiliki kekuatan-kekuatan yang mengagumkan

Sadhum putram hiranyayam (Atharwa Weda XX.129.5)

Terjemahannya:
Semoga kami memperoleh seorang putra yang mulia dan makmur

Ehy-asanam a tista asma bhawantu te tanuh (Atharwa Weda II.13.4)

Terjemahannya:
Wahai putra kemarilah dan berdirilah di atas batu ini, semoga tubuhmu kuat seperti sebongkah batu.

Yad bhadrasya purusasya putra bhawati dadhrshih (Atharwaweda XX.128.3)

Terjemahannya:
Dengan sesunguhnya anak laki-laki seorang ayah yang mat terkenal (termasyur) menjadi mulia

Anuvratah pituh putro, mata bhawantu sammanah (Atharwaweda III.30.2)

Terjemahannya:
Hendaknya anak laki-laki patuh epada ayahnya dan menyenangkan hati ibunya

Garbhair hamairjatakrama, Caudamahuncini bandhanah. Baicikam garbhairkam caino, Dwi janama pamujiate. (Manawadharmasastra II. 27)

Terjemahannya:

Dengan membakar bau-bauan harum pada waktu kehamilan, dengan upacara pitakarma (bayi waktu lahir), upacara cauda (gunting rambut pertama) dan upacara mahunji bandhaa (upacara memberikan kalung/ gelang) maka kekotoran yang didapat dari orang tua akan hilang.

Prangnabhi wardhanatpumso, Jatakarma widhyate, Mantrawatpracanam casya, Hiranyamadhu sarpisam (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Sebelum talipusar dipotong upacara jatakarma (upacara baru lahir) harus dilakukan untuk bayi laki-laki dan sementara mantra-mantra suci sedang diucapkan itu harus diberi makan madu dan mentega dengan sendok emas

Namadeyam dacamyam, tu dwadacyan wasya karayet, punye tithau muhurte wa, naksatre wa gunanwite (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Kemudian hendaknya orang tua melakukan upacara namadheya pada umur 10 atau 12 tahun hari setelah kelahirannya, atau pada waktu suatu hari baik dalam kedudukan muhurta dibawah bintang-bintang yang membawa kebahagiaan.

Caturthe masi kartwya, Cicorniskramanam grhat, Sasthe nnapracanam masi, Yadwetam manggalam kule. (Manawadharmasastra.II.34)

Terjemahannya:
Pada waktu bulan yang keempat harus dilakukan upacara Niskramana bagi bayi itu dan pada waktu umur enam bulan dilakukan upacara annaprasana dan wajib pula melakukan upacara kesucian yang biasa dilakukan dalam upacara itu

Garbhastame bde kurwita, brahmanasyopanayam, grbhadekadace rajno, garbttu dwadace wicah (Manawadharmasastra II.36)

Terjemahannya:
Pada tahun kedelapan setelah pembuahan seseorang harus melakukan upacara upanayana bagi golongan brahmana pada tahun kesebelas bagi ksatriaya sedangkan bagi bagi waisiaya pada tahun kedua belas.

Brahma warcasakam asya, Karyam wiprasya pancame, Rajno balarthinah sasthe, Waicasye harthino’ stame (Manawadharmasastra, II 37)

Terjemahannya:
Namun yang ingin ahli Weda harus melakukannya pada tahun ke 5, kesatria yang ingin perkasa memulai pada tahun ke enam, dan wesia yang berhasil dilakukan pada tahun kedelapn setelah pembuahan.

Asodacad brahmanasya,sawitri natiwartate, adwawimcat ksetra bandosa, Catur wimcate wicah (Manawadharmasastra, II.38)

Terjemahannya:
Waktu untuk melakukan upacara sawitri bagi seorang Brahmana tidak boleh lebih sampai genap umurnya 16 tahun setelah lahir, bagi ksatriya tidak boleh lebih dari umurnya 24 tahun

Atta urdhwam trayo pyete,Yatha kalama samskrtah,Sawitri patita wratya,Bhawantyarya wirgatah (Manawadharmasastra.II.39)

Terjemahannya:
Kalau sampai pada masa-masa itu orang belum meperoleh sakramen menurut waktunya bagi ketiga golongan ini, mereka dogolongkan Wrtaya serta dikeluarkan dari upacara sawitri dan tidak layak sebagai arya

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna (Manawa Dharmasastra III.37)

Terjemahannya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

Tuhun gawayanin suta nutanekeneka gawaya nika sang yayah juga Ika muhara harsaning yayah agong ri gati nika taman salah gawe, Samangkana kumawhruhig matanaya riawak ika sagunaya tan hilang, Tekap ni gatining suta ngulahaken gawaya guna saka wruhing yayah (Putra Sesana, 3)

Terjemahannya:
Segala kegiatan si anak harus mencontoh bakat baik orang tua itulah yang menyebabkan senangnya orang tua, karena prilakunya sangat tepat. Demikianlah orang tua harus patut mendidik anak agar kepandaiannya dapat di wariskan sehinga tidak punah. Oleh si anaklah yang patut menerima segala pekerjaan dan kepandaian orang tua.

Tingkahning suta cakasaneka kadi raja-tanaya ri sedeng limang tahun Saptaning warsa waraahulun sapuluhing tahun ika-taha wuruhken ring aksara yapwan sodacawara tulya wara mitra tinaha-taha denta midanaYan wus putra suputra tinghalana salahika wuruken ing nayengga (Nitisastra IV.20)

Terjemahannya:
Anak yang berumur lima tahun hendaknya diperlakuakan seperti anak raja, Jika sudah berumur tujuh tahun dilatih agar suka menurut, Jika sudah sepuluh tahun dipelajari membaca. Jika sudah enam belas tahun, diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukan kesalahan harus dengan hati-hati sekali. Jika ia sendiri sudah beranak, diamati saja tingkah lakunya, kalau hendak memberi pelajaran kepadanya cukup dengan gerakan dan alamat.

Nihan singgah anak, ikang carananing anatha, tumulung kadang kalaran doning saktinya, danakena donya antuknya angarjana, pangenening daridra donyan pasuruhan, ikang mangkana, yatikanak ngaranya.(Saracamuccaya 228)

Terjemahannya:
Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan serta untuk menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, untuk disedekahkan tujuannya, akan segala hasil usahanya, gunanya ia memasak, meyediakan makanan untuk orang-orang miskin, orang yang demikian itu putra sejati namanya.

Nyang waneh ikang wwang pinaracrayana kadangnya, kadi lwir sang hyng indra, an pinakakahuripaning sarwabhawa mwang kadi lwiring kayu, an pinakakahuripaning manuk, mangkana ta ya, pinakakahuripaning katumbanya, ikang wwang mangkana ya tikanak ngaranya.(Saracamuccaya 229)

Terjemahannya:
Demikian pula yang dijadikan tempat berlindung oleh, kaum kerabatnya sebagai hal Dewa Indra, Dewa hujan yang merupakan sumber kehidupan sekalian mahkluk dan bagaikan pohon kayu rindang yang meupakan kehidupan burung, demikialah ia itu merupakan kehidupan orang-orang seisi rumahnya, orang yang demikian keadaanya itulah sejati namanya.

Ikang anak ngarannya, matrtpitining bapa gina wenya, Kunang ikang bapa, sakwehning sukhaning anak ginawenya, Apan tan hana tinengetning bapa, cariranira towi, winehakenira ta ya (Saracamusccaya243)

Terjemahannya:
Yang disebut anak, patutnya membuat agar si bapa puas hatinya, sedangkan si bapa sebanyak-bnyaknya kesenangan si anak dikerjakan olehnya, sebab tidak aada yang dikikirka sibapa, badannya sekalipun akan direlakannya.

Mangkana ikang ibu, arata jugasihnira manak ya, apan wenang tan wenang, saguna, nirguna, daridra, sugih, ikang awak, kapwa rinaksanira, iningunira ika, tan hana ta pwa kadi sira, ring masiha mangingwana (Saracamusccaya 244

Terjemahannya:
Demikianlah si ibu, rata benar cinta kasihnya kepada anak-anaknya, sebab baik cakap ataupun tidak cakap, berkbajikan ataupun tidak, miskin atau kaya raya anak-anaknya itu semua dijaga baik-baik olehnya, dan diasuhnya mereka itu tidak ada yang melebihi kecintaannya beliau dalam hal mengasihi dan mengasuh anak-anaknya.

Te putra ye pitur bhaktah, Sa pit yastu posakah, Tam mitram yatra wiswasah, Sa bharya yatra nirwtih (Canakya Nitisastra. II,4)

Terjemahannya:
Yang disebut putra adalah mereka yang bhakti kepada Bapak. Yang disebut Bapak adalah dia yang menaggung memelihara anak-anaknya. Yang disebut teman adalah dia yang memiliki rasa percaya dan bisa dipercaya dan seorang istri adalah dia yang selalu memberiakn kebahagian.

Putras ca vividhaih silair, Niyojyah satatam budhih, Niti-jnah sila sampanna, Bhawanti kula pujitah (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Orang bijaksana hendaknya mengajarkan putranya tatasusila, pengetahuan Nitisastra dan ilmu pengetahuan suci lainnya, sebab seorang putra yang mahir dalam pengetahuan Nitisatra dan pengetahuan suci lainnya akan meyebabkan keluarga terpuji.

Mata satru pita bairi, Yena balo na pathitah, Na sobhate sabha madhye, Hamsa madye bako yatha (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Seorang Bapak dan ibu yang tidak memberikan pelajaran kesuciannya kepada anaknya, mereka berdua adalah musuh dari anak tersebut. Anak tersebut tidak aka nada artinya di masyarakat, bagaikan seekor bangau di tengah-tengah kumpulan burung angsa.

Lananad bahavo dosas, Tadanad bahavo gunas, Tasmat putram ca sisyam, Tadeyam na tu lalayet (Canakya Nitisastra II,12)

Terjemahannya:
Anak yang dididik dengan memanjakan akan menjadi durhaka dan jahat Sedangkan dengan memberikan hukuman-hukuman ia akan menjadi baik. Oleh karena itu, didiklah putra-putri dan murid-murid anda dengan cara memberikan hukuman-hukuman dan tidak dengan memanjakan.

Abhyadad dharyate vidya, Kulum silena dharyate, Gunena jnayate tvvaryah, Kopo netrena gamyate (Canakya Nitisatra III.8)

Terjemahannya:
Ilmu pengetahuan itu dipelihara dengan mempraktekannya, Kemuliaan keluarga dipelihara dengan tingkah laku yang baik Orang terhormat dapat dilihat dari sifat-sifat luhurnya dan kalau marah dapat dilihat dari matanya

Ekanapi suvksena, Puspitena suganddhita, Wasistem tadvanam sarwam, Suputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,12)

Terjemahannya:
Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga kalau didalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra.

Ekena suska-vrksena, Dahyamanena vahnina, Dahyate tadvanam sarwam, kuputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra mengahncurkan dan meberikan abib bagi kleuarganya

Ekenapi suputrena, Vidya yuktena sadhuna, Ahladitam kulam sarwam,Yatha candrena sarwari (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Sebagaiman bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan rohani, insaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan.

Kim jatair bahubhih putraih, soka santapakaih, varamekah kulalambi, yatra visramyate kulam (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Apa gunanya melahirkan anak terlalu banyak kalau mereka hanya mengakibatkan kesengsaraan dan selalu memberikan kedukaan. Walaupunseorang anak tetapi berkepribadian utama dan membentu keluarga satu anak yang meringankan keluarga inilah paling baik.

Lalayet panca varsani, Dasa varsani tadayet, Prapte tu sodase varse, Putram mitravadacaret (Canakya Nitisastra III,18)

Terjemahannya:
Asuhlah putra dengan cara memanjakannya sampai berumur lima tahun, memberikan hukuman-hukuman selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah menginjak umur enam belas tahun didiklah ia dengan cara berteman

Kupasataswai paramam sarapi, Sarah sated wai parama pi yajnah, Yajnahsatad wai paramapi putra

Kalingganya, hana pawekang magawe sumur satus alah ika dening magawe.Telaga seratus, alah ika palanya dening wwang magaweakan yajna sapisan. Atyanta luwih ing gumawe aken yajna. Kunangikang wwang wwang mayajna ping satus alah ika phalanya dening kang wwang maanak tunggal, yang anak wisesa. Kalingganya ikang manak aneka tan lwih phalanya.

Terjemahannya:
Membuat telag untuk umu lebih baik daripada menggali sertus sumur, melakukan yajna sekali lebih utama dari membuat seratus telaga, empunyai anak yang suputra lebih utama daripada melakukan seratus yajna.

Sanghyang Chandra Tranggana pinaka dipa memadangi ri kalaning wengi Sanghyang Surya sedeng prabhasa, Maka dipa memandangi bhumi mandala Widhya sastra suddharma dipanikanang tribhuana sumene prabhasa, Yan ning putra suputra sadhu gunawan, Memandangi kula wandhu wandhawa (Niti Sastra IV)

Terjemahannya;
Bulan dan bintang bersinar, sebagi pelita, Menerangi dikala malam.Matahari terbit, sebagi pelita menerangi seluruh wilayah bumi, Ilmu pengetahuan, sastra yangutama, sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna, kalau dikalangan putra (anak),anak yang utama sebagai pelita menerangi seluruh keluarga.

Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu
Pengetahuan yang Transcendent dikatakan “berliku-liku” karena pengertiannya tidak langsung dapat dipahami, di luar lingkup logika umat manusia.

Tanda tambah yang sederhana tidak hanya menggambarkan reduksi ruang menuju satu kesatuan, tetapi juga lapangan manifestasi abadi yang dari titik pusat, bindu, simbol ether, mengembang ke 4 arah mata angin dan 4 unsur yang nampak.

Hal ini, bagaimanapun, tidak benar dilihat dari pandangan kedewataan yang luhur, yang tidak dapat diambil sedemikian rupa dalam satu kesatuan. Hal ini diperlihatkan dengan cabang berliku dari kemurahan swastika, yang bagaimanapun dihubungkan dengan titik pusat material, saat ini titik tidak dapat ditentukan luas ruang angkasa).

Pengetahuan yang transcendet merupakan aspek kedewataan hanya dicapai secara langsung, melalui jalan kanan atau jalan kiri. Demikianlah dua arah yang merupakan cabang dari swastika dapat dibengkokkan. Digunakan di mana saja sebagai tanda keberuntungan, swastika berarti untuk mengingatkan umat manusia terhadap Ralitas Tertinggi, yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran maupun indria manusia. Tentang Tuhan Yang Maha Esa yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia, di dalam terminologi Jawa Kuno dinyatakan dengan kalimat “tankagrahita dening manah mwang indriya”.

Om Santih Santih Santih
~ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu

*Sumber bacaan:  Mantra, Yantra dan Rerajahan

Arti dan Filosofi Jari Tangan menurut Teks Sanyasa Tantra:

Om Swastyastu
1. Ibu jari (jempol) merupakan perlambang penguasa. Ibu jari adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain, dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang tepat. Cobalah genggam palu dengan empat jari selain ibu jari dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti palu itu terbang entah kemana. Ibu jari adalah  jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.

2. Telunjuk adalah perlambang orang kaya, itulah kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk.

3. Jari Tengah adalah perlambang seorang yang beriman (orang yang berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan jari tengah.

4. Jari Manis adalah perlambang pemuda, pemuda selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal-hal lain, kau tahu, katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu perlambang keindahan pemuda!!

5. Kelingking tak lain tak bukan adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking adalah  jari terlemah diantara semuanya. tapi bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah? itulah kenapa permainan “suit” kita memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut dengan wanita. Kelingking kalah dengan telunjuk seperti wanita dengan harta.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W Sudarma
* Sumber: Buku Sanyasa Tantra

Om Swastyastu

1. Ibu Jari/Jempol – Yudhistira

Sebagai kakak tertua yang mengayomi dan contoh sopan santun dalam kehidupan. Yudhistira adalah salah satu karakter yang nerimo, dalam arti Yudhistira adalah orang yang selalu menyatakan “silahkan “monggo”. Masyarakat Hindu (Jawa, Bali) juga selalu menggunakan jempol untuk menunjukkan arah atau menyatakan persetujuan.

2. Jari Telunjuk – Bima

Bima dikenal sebagai orang yang lurus dan terus terang, walaupun keras dan apa adanya. Bahkan, dia hanya menggunakan bahasa halus hanya kepada orang tua dan gurunya, Dewa Ruci. Bima dikenal sebagai orang yang keras dan berusaha mengingatkan dengan galak. Masyarakat kita, jika memarahi orang atau mengingatkan orang, akan menggunakan jari telunjuk yang teracung. Hal tersebut merupakan simbolisme Bima yang sedang mengingatkan kesalahan kepada orang lain.

3. Jari Tengah – Arjuna

Lelananging jagad (prianya dunia) yang dikenal sebagai impian setiap wanita. Dalam pewayangan India, Arjuna tidak digambarkan sebagai orang yang tampan sekali. Arjuna dikenal sebagai impian setiap wanita karena mampu menyenangkan hati para wanita. Lewat keberanian, ketenangan, dan kecerdikannya, tepat sekali jika jari tengah yang disimbolkan sebagai Arjuna sebagai penyeimbang Pandawa.

4. Jari Manis – Nakula

Sebagai kakak kembar dari Sahadewa, Nakula sebenarnya lebih tampan daripada Arjuna. Nakula juga merupakan simbol dari ketampanan, keindahan, dan keharmonisan. Oleh karena itu, cincin sebagai asesoris, dan sebagai lambang ikatan pernikahan diletakkan di jari manis, sesuai dengan sifat Nakula yang tampan, indah, dan harmonis. Hal ini juga dijelaskan dalam Ramayana  saat Sang Rama ketika menyunting Dewi Sita…dengan menyematkan Cincin di jari manisnya sebagai lambang Kesetiaan.

5. Jari Kelingking – Sahadewa

Adik terkecil dan adik kembar dari Nakula, digambarkan sebagai wayang yang paling membawa kestabilan dan kebersihan. Bahkan di salah satu kisah, Sahadewa adalah satu-satunya wayang yang mampu meruwat (membersihkan) Bhatari Durga untuk kembali kepada bentuk awal beliau (Dewi Uma). Jika dikembalikan ke fungsinya, hanya jari kelingking yang mampu membersihkan kotoran yang tersembunyi, seperti hidung dan telinga.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W Sudarma

* Sumber: buku insklopedi wayang purwo

Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Om Śri Lakṣmī Mahādevī, Pīta varṇā pītāmbarā, dala vāyavya sthānañ ca, sarva pāpa praharaṇam. (Aṣtadevīstava.6)
(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu yang sangat mulia, dewi Lakṣmī yang menganugrahkan kemakmuran yang maha agung. Warna dan bhusananya serba kuning, bersthana di Barat Laut dari daun bunga teratai. Melenyapkan segala kepapaan dan penderitaan).

Dewi Lakṣmī digambarkan sebagai dewi yang mengenakan bhusana (kain sari) berwarna merah, warna perhiasan (bhusananya) gemerlapan warna kuning (emas) sebagai wujud dewi kemakmuran yang menganugrahkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Lakṣmī bertangan empat sebagai wujud kemaha kuasaan-Nya. Dua tangan di belakang memegang padma (teratai merah) melambangkan kesucian, tangan kanan depan dalam sikap Vāramudra, yakni menganugrahkan kepingan-kepingan uang emas sebagai lambang menganugrahkan kemakmuran, tangan kiri depan memegang kendi Amṛta, lambang air kehidupan dan kebahagiaan abadi.

Umumnya pada alas Dīpa (lampu) bagian depan terdapat tulisan Śubha dan pada lampu kiri Lābha, yang maknanya dengan kebajikan memperoleh keberuntungan dan di depan padmāsana-Nya (tempat duduk teratai) terdapat tulisan di atas lembaran kitab yang terbuka, yakni Śri Lakṣmī Prasanna, yang artinya dewi kemakmuran yang maha suci dan penuh rakhmat.

Biasanya dewi Lakṣmī digambarkan dalam sikap berdiri menganugrahkan berkeping-keping uang mas yang di tampung dalam sebuah piring. Uang atau emas adalah sarana untuk memperoleh kemakmuran. Di Indonesia (Bali) seperti halnya di India dewi ini dipuja (sebagai Iṣtadevatā, devatā pujaan utama) oleh para pedagang (Vaiṣya). Seperti halnya pemujaan kepada dewi Sarasvatī, maka pemujaan kepada dewi Lakṣmī dirangkaikan dengan pemujaan kepada dewi Durgā (setahun dua kali). Pada hari itu, arca dewi Lakṣmī dihiasi dengan uang kertas baru, seperti halnya Bhatara Rambut Sadhana di Bali (Indonesia). Sebuah kidung menyatakan: Durgā-Lakṣmī-Sarasvatī mapahi jagatmata, yang maknanya ketiga dewi itu (Durgā, Lakṣmī dan Sarasvatī merupakan perwujudan ibu alam semesta.

Di Bali Lakṣmi digambarkan sebagai Śri Sadhana, yakni dewa-dewi yang badan dan perhiasannya terbuat dari uang kepeng dan pemujaan kepada-Nya dirangkaiakan dengan hari Sarasvatī. Dewi Laksmi di Bali dipuja pada hari: Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Budha Cemeng Kelawu setahun dua kali. Bahkan oleh para pedagang di pasar Beliau dipuja sebagai dewi Melanting.

Om Santih Santih Santih Om
Bali-21 Januari 2001

image

Oleh: Shri Danu Dharma P ( I W Sudarma)

Oṁ Swastyastu
Barhiṣadaḥ pitara śti arvāg, imā va havyā cakṛmā juṣadhvam, ta ā gata avasā śaṁtamena, atha naḥ śaṁyor arapo dadhāta – Para leluhur kami yang kami sucikan, yang duduk bertebaran (di angkasa), hadirlah kemari, ke tempat upacāra yang kami persembahkan ini, semogalah anda berbahagia, anugrahkanlah pertolongan, kesehatan dan rahmat, dan bebaskan kami dari keperihan hidup). Ṛgveda X.15.4.

A. PENDAHULUAN
Upacāra agama merupakan ekspresi dan perwujudan dari pengamalan ajaran agama Hindu. Sejak wahyu suci Veda diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, upacāra-upacāra agama senantiasa dilaksanakan oleh umat. Berbagai bentuk upacāra itu sesungguhnya merupakan pengamalan dari ajaran Yajña. Kata Yajña mengandung pengertian yang jauh lebih luas dan merupakan landasan filosofis dari pelaksanaan upacāra agama. Secara garis besar Yajña dikelompokkan ke dalam 5 jenis yang dikenal dengan sebutan Pañca Yajña atau Pañca Maha Yajña.

Salah satu bentuk dari Pañca Yajña tersebut adalah Piṭṛa Yajña yang merupakan pengorbanan suci kepada para leluhur, di antaranya berupa upacāra Mamukur, yang merupakan upacāra kelanjutan dari upacāra Ngaben yang di India disebut Antyesti atau Mṛtyu Samskara. Biasanya bila seseorang atau sebuah keluarga besar melaksanakan upacāra Mamukur, maka diiringi pula oleh upacāra lainnya seperti upacāra Mapandes, Otonan dan kadang-kadang pula upacāra Pawintenan. Ketiga upacāra terakhir ini sering disebut upacāra Manusa Yajña, yang merurut sumber-sumber kepustakaan yang lebih tua seperti kitab-kitab Gṛhyasutra, Manavadharmaśāstra dan di Indonesia dijumpai pula dalam kitab Agastyaparva, merupakan upacāra Śarīra Samskara, Vidhi-vidhana atau upacāra penyucian diri pribadi. Upacāra Manusa Yajña dalam bentuknya yang sederhana adalah dengan memberikan pertolongan kepada sesama umat manusia, yakni mereka yang miskin dan memerlukan pertolongan.

Di India, seperti telah disebutkan di atas, upacāra Ngaben disebut Antyesti, Nyekah, disebut Sapindikaraṇa atau Piṭṛapinda dan terakhir, mensthanakan roh suci disebut Śrāddha. Upacāra ini secara besar-besaran pernah dilakukan oleh raja Hayam Wuruk, pada masa kejayaan Majapahit, untuk mensthanakan leluhur di Hyang I Palah, yakni di Candi Penataran, dekat Blitar, jawa Timur.

Tulisan ringkas ini menguraikan makna upacāra Mamukur, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan upacāra Yajña tersebut, terutama bagi sang Yajamana, yang melaksanakan upacāra, masyarakat di sekitarnya serta para Athiti, undangan yang berkenan hadir untuk turut serta mendoakan suksesnya pelaksanaan upacāra dimaksud.

B. PENGERTIAN UPACĀRA MAMUKUR
Guna memantapkan pengertian kita terhadap upacāra Mamukur, kiranya terlebih dahulu kami sampaikan tentang struktur pribadi kita, yakni sebagai umat manusia yang hidup dan mampu melaksanakan aktivitas karena dihidupi atau dihidupkan oleh Ātma yang di dalam tubuh mahluk sering disebut Jivàtmà. Ātma individual ini dibelenggu oleh 5 selaput yang disebut Pañca Koṣa, yang terdiri dari:
* Annamayakoṣa, selubung yang paling luar berupa badan wadag yang terdiri dari berbagai unsur makanan, yang tersusun dari unsur-unsur Pañca Tan Matra dan Pañca Māha Bhūta.
* Prāṇamayakoṣa, selubung yang lebih di dalam dari selaput yang paling luar (Annamayakoṣa) yang dalam bentuknya yang paling sederhana adalah berupa tenaga vital (energi) dalam tubuh setiap mahluk.
* Manomayakoṣa, selubung yang ketiga dari luar, merupakan badan pikiran.
* Vijñānamayakoṣa, selubung keempat dari luar, berbentuk kecerdasan budi (intelektualitas).
* Anandamayakoṣa, selubung yang paling tengah, tidak lain adalah Ātma, sumber hidup setiap mahluk.
Kelima pembungkus tersebut, dapat disederhanakan menjadi tiga badan atau Tri Śarīra, yakni Sthula Śarīra (badan wadag, terdiri dari Annamayakoṣa dan Prāṇamayakoṣa), Suksma Śarīra (badan halus, terdiri dari Manomayakoṣa dan Vijñànamayakoṣa), serta Antahkarana Śarira, yakni Anandamayakoṣa, Ātma atau Sang Diri.

Bila seseorang meninggal dunia, maka badan wadag (Sthula Śarīra, atau Annamayakoṣa dan Prāṇamayakoṣa) akan hancur, sedang badan lainnya masih tetap utuh. Upacāra Ngaben atau Antyesti itu bertujuan untuk membebaskan Ātma yang masih terbungkus oleh badan halus atau Suksma Śarīra (Manomayakoṣa dan Vijñànamayakoṣa) dari ikatan badan wadag (Sthula Śarīra) tersebut. Bila dalam kurun waktu tertentu (12 hari), badan wadag tidak diupacārakan (dikremasi), maka Ātma yang masih terbungkus oleh badan halus (Suksma Śarīra) itu akan tetap berstatus sebagai Preta. Untuk membebaskan Preta menjadi Piṭṛa inilah, upacāra Antyesti atau Ativahika mesti dilaksanakan. Upacāra Ativahika ini di Kalimantan dikenal dengan istilah Tiwah, di Jawa dan Bali disebut Atiwa-tiwa atau Atatiwa dan kini umum disebut Ngaben, yang berasal dari kata api, yang mengandung makna upacāra pembakaran jenasah.

Rangkaian upacāra selanjutnya, adalah menyucikan Ātma yang terbungkus dengan Suksma Śarīra itu, sehingga benar-benar menjadi suci dan tidak terikat dengan badan halusnya itu. Upacāra penyucian Ātma agar tidak terbelenggu oleh badan halus ini disebut dengan berbagai istilah, di antaranya Nyekah (dari kata sekar, karena simbol perwujudan roh atau puṣpaśarīra berupa bunga, dan badannya terbuat dari daun beringin sejumlah 108 lembar), Ngeroras (karena umummya upacāra ini dilakukan setelah 12 hari upacāra Ngaben), Mamukur (dari kata bukur, yang merupakan tempat abu puṣpaśarīra baik berupa bokor, maupun sebuah usungan dengan atap bertingkat-tingkat, seperti meru). Disamping itu dikenal juga dengan upacāra Maligya dan sebagainya.

Rangkaian terakhir, dari upacāra ini adalah upacāra mensthanakan Ātma yang telah berubah status menjadi Piṭṛa atau DewaPiṭṛa, yang di India maupun pada jaman Majapahit disebut dengan upacāra Śrāddha.

Berdasarkan uraian tersebut, yang dimaksud upacāra Mamukur, adalah upacāra kelanjutan dari upacāra Ngaben, berupa penyucian Ātma agar tidak terbelenggu oleh badan halus, mengubah dan meningkatkan status Ātma menjadi Piṭṛa atau DewaPiṭṛa untuk nantinya setelah disthanakan, dapat disembah oleh pratisantana atau anak cucu keturunannya.

C. PELAKSANAAN UPACĀRA MAMUKUR DAN DEWAPIṬṚA PRATIṢṬHA
Pelaksanaan upacāra Mamukur, seperti upacāra-upacāra Yajña lainnya disesuaikan dengan kemampuan Sang Yajamana, yakni mereka yang melaksanakan upacāra tersebut. Secara garis besar, sesuai kemampuan umat dibedakan menjadi 3 kelompok, yakni yang besar (uttama), menengah (madhya) dan yang sederhana (kanistama). Pada upacāra Mamukur yang besar, rangkaian upacāranya terdiri dari:
1). Ngangget Don Bingin, yakni upacāra memetik daun beringin (kalpataru/kalpavṛiksa) untuk dipergunakan sebagai bahan puṣpaśarīra (simbol badan roh) yang nantinya dirangkai sedemikian rupa seperti sebuah tumpeng (dibungkus kain putih), dilengkapi dengan prerai (ukiran/lukisan wajah manusia, laki/perempuan) dan dihiasi dengan bunga ratna. Upacāra ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain, sebagai alas daun yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.
Ngangget don Bingin: dalam kutipan lontar Taru Sorga, dijelaskan: “…. ketlatarang inggih punika, Ngangget don bingin mawit sakit karuna ngangget, don, miwah bingin. Ngangget sajeroning bahasa Bali tegesnyane ngimpuk utawi ngalap nganggen tungguan kejangkepin tiuk. Don mawit saking bahasa Bali, daun molihang sanditasi dados don. Yening bingin, sampun meteges “punyan bingin” wantah taru pinih ageng taler kesengguh silih sinunggil taru sane tenget/angker. Paiketang saking pengabenan, punyan bingin ketarka pinaka cihna taru sorga ring mercapada, taru sorga wentenne ring suargan kebaos taru wreksa, kapercaya prasida ngicen napi sane ketunas. Taru puniki taler kebaos kalpataru. Tegesnyane upacara ngangget don bingin wantah sinunggil upacara ngalap don bingin, lumrahnyane megenah ring genah suci utawi pura, pacang keanggen sarana ngawi sekah utawi puspa sarira sajeroning upacara mamukur. Ngangget don bingin dumunan wawu upacara memukur”.
2). Ngajum, Setelah daun beringin tiba di tempat upacāra, maka untuk masing-masing perwujudan roh, dipilih sebanyak 108 lembar, ditusuk dan dirangkai sedemikian rupa kemudian disebut Sekah. Jumlah Sekah sebanyak roh yang akan diupacārakan, di samping jumlah tersebut, dibuat juga untuk Lingga atau Sangge. Setelah Sekah dihiasi seperti tubuh manusia dengan busana selengkapnya (berwarna putih), dilakukan upacāra Ngajum, yakni mensthanakan roh pada Sekah tersebut, sekaligus ditempatkan di panggung upacāra yang disebut Payajñan (tempat upacāra Yajña yang khusus untuk hal itu, terbuat dari batang pinang yang sudah dihaluskan).
3). Amet Toya Hening. Rangkaian upacāra selanjutnya, dapat dilakukan pada pagi hari menjelang hari “H”, berupa prosesi (mapeed) mengambil air jernih (toya hening) sebagai bahan utama air suci (Tirtha) bagi pandita atau dwijati yang akan memimpin upacāra yajña Mamukur tersebut. Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujan (Pawedan) di depan panggung Payajñan.
4). Mapinton atau Mapajati, Upacāra ini berupa prosesi (mapeed) bagi puṣpaśarīra (roh yang diupacārakan) untuk mempermaklumkan kepada para dewata yang bersthana pada pura-pura terdekat, utamanya pura untuk pemujaan leluhur (Kawitan).
5). Mapradaksina, Upacāra ini sering disebut Mapurwadaksina, yakni prosesi (mapeed) bagi puṣpaśarīra (yang dipangku atau dijunjung oleh anak cucu keturunannya, memakai bhusana serba putih), dilakukan pada hari “H”, setelah upacāra Mapinton, mengelilingi panggung Payajñan sebanyak 3 kali (dari arah Selatan ke arah Timur) mengikuti jejak lembu putih (sapi gading), yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, dilakukan secara khusuk , diiringi gamelan gambang, saron atau selonding, gong gede, kidung, kakawin, pembacaan parwa (Mahābhārata) dan Putrupasaji (biasa oleh Walaka senior).
Puncak Upacāra (Pandita Muput Yajña). Bersamaan dengan upacāra Mapradaksina, seorang atau beberapa pandita (Sulinggih) yang memimpin pelaksanaan upacāra, melakukan pula upacāra;
6). Melaspas bukur atau madhya, atau padma anglayang, alat untuk mengusung puṣpaśarīra yang telah disucikan (di-pralina) berupa meru (beratap tumpang) dihias dengan hiasan kertas emas, kemudian ditempatkan di dekat panggung Payajñan.
7). Ngaliwet, yakni upacāra menanak nasi sebagai saji tarpana (di India umumnya nasi tersebut dibuat bulat seperti bola pingpong (penek/pulung-pulung kecil) disebut pinda, sebanyak 108 buah, dipersembahkan kepada roh yang diupacārakan, di samping dipersembahkan kepada para dewata dan leluhur). Memasaknya dilakukan di depan Sanggar Tawang (depan panggung Payajñan) dipimpin oleh pandita. Beras yang dipersiapkan di atas nyiru berisi lukisan padma dan wijaksara (huruf suci) tertentu dituangi empehan (susu) dan madu (madhuparka).
8). Ngenyitin Damar Kurung (Menyalakan Lampu Terkurung/Lampion) yang ditempatkan di sebelah panggung Payajñan atau di pintu masuk areal upacāra.
Ngilenang Padudusan, yakni melaksanakan upacāra penyucian ditujukan kepada Sanggar Tawang (Sanggar Surya), untuk memohon perkenan para dewa/dewata turun menyaksikan dan menganugrahkan keberhasilan Yajña tersebut, di panggung Payajñan, untuk menyucikan roh-roh yang diupacārakan.
9). Muspa, yakni upacāra persembahyangan yang didahului pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi agung alam semesta, kemudian kepada para dewata dan leluhur, serta sembah untuk pelepasan roh (Ātma) dari ikatan Suksma Śarīra yang diikuti oleh Sang Yajamana dan seluruh keluarga besarnya.
10). Pralina, yakni upacāra tahap akhir dilakukan oleh pandita (Sulinggih) sebagai simbol pelepasan Ātma dari ikatan Suksma Śarīra.
11). Papendetan, yakni mempersembahkan tari-tarian, bahwa tapa pelepasan roh telah dilaksanakan, para leluhur sesaat lagi akan menuju alam sorga.
12). Ngeseng Puṣpalingga, yakni membakar puṣpaśarīra (wujud roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, panguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api pembakaran yang diberikan oleh pandita pemimpin upacāra. Upacāra ini sangat baik dilakukan pada dini hari, saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Ātma dari keduniawian.
Sekah tunggal. Selesai upacāra Ngeseng, maka arang/abu dari puṣpaśarīra dimasukkan ke dalam degan (kelungah) kelapa gading, dibungkus kain putih dan dihias dengan bunga harum selanjutnya disthanakan di dalam bukur, di atas padma anglayang atau di dalam bokor perak, diikuti dengan persembahyangan oleh keluarga.
13). Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini merupakan tahap terakhir dari upacāra Mamukur, dapat dilakukan langsung selesai upacāra Ngeseng Sekah (upacāra ini umumnya disebut Ngalanus) atau keesokan pagi harinya disebut upacāra Ngirim. Setelah tiba di tepi pantai, arang/abu yang ditempatkan dalam kelungah kelapa gading dikeluarkan dan ditebarkan di tepi pantai yang didahului dengan upacāra persembahan sesajen kepada Sang Hyang Baruna, sebagai dewata penguasa laut, sekaligus permohonan penyucian terhadap roh yang diupacārakan dan diakhiri dengan persembahyangan oleh keluarga.
14). Dewapiṭṛa Pratiṣṭha (Ngalinggihang Dewapiṭṛa/Dewapitara). Upacāra ini bukan merupakan bagian dari upacāra Mamukur, melainkan merupakan upacāra kelanjutan dari upacāra Mamukur itu. Upacāra ini sering disebut Ngalinggihang Dewa Hyang, merupakan tradisi lebih lanjut dari men-dharma-kana leluhurnya pada pura Kawitan masing-masing yang dirangkai pula dengan upacāra Nyagara-Gunung atau Majar-ajar, seperti ke pantai Goalawah dan pura Dalem Puri, Penataran Agung Besakih.

Demikian sepintas pelaksanaan upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha yang umum dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia, khususnya umat Hindu di daerah Bali.

D. MAKNA UPACĀRA MAMUKUR & DEWAPIṬṚA PRATIṢṬHA
Memperhatikan rangkaian pelaksanaan upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha seperti tersebut di atas, maka makna yang dikandung dari rangkaian upacāra tersebut adalah:
1). Ngangget Don Bingin. Pohon bingin atau beringin di dalam kitab suci veda dan susastra Hindu lainnya disebut Kalpataru atau Kalpavṛikṣa. Sejenis dengan pohon ini disebut pula Asvatta. Pohon beringin pada mulanya tumbuh di sorga dan untuk kemakmuran umat manusia, pohon ini diturunkan ke bumi sebagai simbolis untuk memperoleh kemakmuran. Pohon kalpataru ini benyak dipahatkan pada dinding luar mandir atau candi, seperti halnya dapat kita lihat di candi Prambananan, Jawa Tengah. Upacāra Ngangget Don Bingin mengandung makna untuk memantapkan hati sang Yajamana beserta keluarganya untuk menyelenggarakan upacāra penyucian arwah leluhur dengan menjadikan daun beringin (108 lembar) sebagai badan spiritual bagi arwah yang akan disucikan ini. Arwah atau roh yang disucikan itu diharapkan natinya mencapai sorga, juga sering disebut “munggah ring ron baingin”.
2). Ngajum Puṣpaśarīra atau Puṣpalingga. Upacāra ini mengandung makna supaya leluhur yang diupacārakan berkenan hadir dan menjadikan Puṣpaśarīra sebagai perwujudan badannya. Ātma yang akan disucikan sebagai puruûa, sedang Puṣpaśarīra sebagai prakṛti-nya.
3). Mapradaksina atau mapurwadaksina. Upacāra ini mengandung makna untuk menurunkan roh leluhur yang akan diupacārakan berkenan turun hadir dalam upacāra, selanjutnya mengikuti jejak lembu putih (sapi gading) sebagai simbol mengikuti jalan ketuhanan, karena lembu putih adalah kendaraan dewa Śiva. Melalui upacāra ini dimohon kehadapan Sang Hyang Śiva supaya leluhur yang diupacārakan dapat mencapai sorga, sthana Sang Hyang Śiva di gunung Kailaśa di arah Ttimur Laut yang menjulang tinggi.
4). Ngaliwet. Upacāra ini mengandung makna sebagai persembahan atau bekal roh untuk selanjutnya dipersembahkan kepada Sang Hyang Śiva. Persembahan berupa nasi yang dibuat berbentuk seperti bola pingpong itu di India disebut Pióîa atau Piṭṛapinda. Dalam upacāra Ngaben, umat Hindu mempersembahkan bubur bundar (bubur-pitara) sebagai persembahan roh kepada Sang Hyang Yama, putra Sang Hyang Sūrya (Śiva) sebagai penguasa alam kematian (Piṭṛaloka), demikian pula dalam upacāra memukur ini, roh yang telah disecikan disebut Piṭṛa atau Pitara dimohon pula dapat membimbing kehidupan anak cucunya di dunia ini untuk mencapai kesejahtraan dan kebahagiaan.
5). Ngeseng Puṣpaśarīra. Inilah puncak acara untuk melenyapkan keterikatan Ātma dengan Suksma Śarīra atau keduniawiannya, sehingga Ātma yang bersangkutan dapat mencapai sorga bahkan lebih tinggi lagi yakni mencapai Moksa, bersatu dengan Hyang Widhi. Upacāra ini didahului dengan Mapadudus, yang mengandung makna penyucian, upacāra Tarpana, mempersembahkan sajian kepada roh yang diupacārakan, Ngelepas Ātma (membebaskan ma dari keterikatan duniawi) dan Muspa atau persembahyangan guna memohonkan Ātma tersebut bebas dari keduniawian, untuk selanjutnya dapat disembah oleh anak cucunya untuk memohon wara nugraha dan perlindungan.
6). Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini mengandung makna bahwa abu bekas Puṣpaśarīra ini dikembalikan ke usur alam yang disebut Pañca Māhabhūta yang disimboliskan dengan air. Air laut berfungsi sebagai rangkaian akhir hanyutnya kekotoran dunia, sekaligus pula sebagai tempat penyucian dan tirtha Amṛita (air kehidupan dan keabadian).
7). Dewapiṭṛa Pratiṣṭha. Upacāra ini mengandung makna permohonan kepada Ātma yang disucikan itu berkenan untuk bersthana pada pura keluarga, Sanggah Kamulan, pamarajan atau Kawitan, untuk disembah, dimohon wara nugraha dan perlindungannya. Upacāra ini dirangkai pula dengan upacāra Nyagara-gunung atau Majar-ajar mengandung makna memberitahukan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur sebagai perwujudan Piṭṛa ṛnam, bakti anak cucu kepada leluhurnya.

E. TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DAN KELUARGA
Upacāra Mamukur dan upacāra-upacāra Piṭṛa Yajña lainnya, pada hakekatnya adalah merupakan tanggung jawab keluarga seperti diamanatkan dalam kitab Manavadhaśāstra, bahwa kalurga, khususnya anak tertua laki-laki mempunyai kewajiban untuk melakukan upacāra Śrāddha bagi leluhur atau orang tuanya. Dengan pengertian ini, sesungguhnya seorang Gṛihastin, berkewajiban tidak hanya memelihara orang tua sejak beliau mulai tidak mampu secara lahir dan batin untuk melakukan tugas kehidupan, tetapi juga sampai hayat hidup, sejak kematiannya (Ngaben), Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha.
Sebaliknya upacāra Mapandes adalah merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) untuk menyelenggarakannya, dan bila kita kaji secara seksama, seorang anak sesungguhnya adalah pula leluhur kita yang menjelma untuk meningkatkan kualitas kehidupannya (lahir dan batin) yang pada akhirnya dapat mengantarkannya guna mewujudkan Jagadhita (kesejahtraan dan kebahagian hidup di dunia ini) dan Mokṣa (bersatunya Ātman dengan Paramātman).
Dalam melakukan Yajña ini, landasan yang paling mendasar bagi Sang Yajamana (yang melaksanakan atau yang memiliki upacāra itu), Sang Amancagra (tukang bebanten dan sangging), dan Sang Pandita (yang memimpin dan menyelesaikan upacāra) adalah ketulusan hati. Ketulusan ini patut pula diikuti oleh para Athiti tamu undangan) guna Yajña tersebut berhasil Śiddhakarya.
Untuk mengembangkan ketulusan hati, utamanya Sang Yajamana bersama keluarga hendaknya dapat melakukan berbagai Brata, seperti Upavaśa (mengendalikan diri untuk tidak menikmati makanan) pada saat puncak upacāra berlangsung, dan senantiasa memustkan pikiran kehadapan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur untuk keberhasilan dari Yajña yang diselenggaraka.

Demikian sepintas makna upacāra Mamukur dan Dewapiṭṛa Pratiṣṭha yang dilakukan oleh umat Hindu untuk menunjukkan bakti pratisantana (anak cucu) kepada leluhurnya, dengan demikian hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi, para dewata dan leluhur dapat diwujudnyatakan untuk kesejahtraan dan kebahagian hidup umat manusia.

E. PENUTUP
Demikianlah tulisan singkat ini kami sampaikan dalam rangka mewujudkan partisipasi kami, semoga Yajña yang sangat mulia ini mencapai Śiddhaning Don, Śiddhakarya sebagai yang kita harapkan.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ
Sumber Bacaan:
Lontar Yama Tatwa
Lontar Yama Purwa Tatwa
Lontar Yama Purwana Tatwa
Lontar Aji Pelelayon
Lontar Tutur Wong Pejah
Lontar Dharma Kahuripan
Lontar Taru Sorga

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

“Purusa memiliki sifat “sadar-pasif” & Pradhana memiliki sifat “tidak sadar-aktif”. Purusa seperti seorang yang melihat tetapi lumpuh, sedangkan Pradhana seperti soeorang buta tapi sehat. ..dan untuk mencapai tujuan (bahagia) Pradhana yang buta tapi sehat menggendong Purusa yang melihat tapi lumpuh. ..keduanya bekerja sama saling menguntungkan”.
image

Dalam bhuana alit, jiwa adalah aspek purusa dan badan adalah aspek pradhana, tanpa badan sang jiwa tidak dapat mencapai tujuan (kebahagiaan) dan demikian pula sebaliknya. ..

Saudara/i, kita tak bisa mengabaikan keberadaan badan (pradhana), walau memang sejatinya kita bukanlah badan. …tapi dalam kehidupan ini badan adalah perahu yang akan membantu kita menyeberangi lautan kehidupan ini….Kerjasama antara Purasa dengan Pradhana akan melahirkan karya baik dan buruk, dan Dominasi salah satu akan menimbulkan disharmoni.

Keduanya berperan penting, namun demikian Kontrol berada pada yang sadar/melihat….menunjukkan ke arah mana si sehat harus melangkah. Jika si buta yang mengontrol perjalanan-kemungkinan tersesat sangat terbuka lebar.
Si buta yang sehat harus tetap sehat, sdang si melihat harus tetap sadar dan tidak kepincut dengan pesona maya yang ilusi

Om Santih Santih Santih Santih
Oleh: I W. Sudarma ( Shri Danu Dharma Patapan)
Bali-11/09/2011

image

Written & Posted by: IW. Sudarma

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers