Pustaka Hindu


Om Swastyastu

Ahimsa adalah filosofi hidup non-kekerasan di dalam Veda. Filosofi ini sering disalahpahami oleh para pengikut ajaran Veda sendiri, yang disebut penganut agama Hindu. Ajaran ahimsa sering dipahami setengahnya saja, separo saja, pantang melakukan kekerasan. Akibatnya, penganut Hindu banyak yang jadi generasi lembek, penakut, termasuk takut dalam menegakkan kebenaran.

Ahimsa bukanlah tidak adanya kekerasan; filosofi ini juga mengajarkan kekerasan untuk mencegah ataupun melawan kekerasan demi melindungi Dharma (Kebenaran). Pesan lengkap Mahabharata, yang intisarinya dijadikan pustaka suci terindah di dunia Bhagavadgītā:
“Ahimsa paramo dharma, Dharma himsa tathaiva cha”
Yang artinya: Non-kekerasan adalah dharma tertinggi, demikian juga kekerasan untuk menegakkan Dharma.

Pesan lengkap Sri Krishna inilah yang menjadikan Arjuna akhirnya tegak berdiri berani berperang. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Om swastyastu

Menandai Digelarnya Upacara Ngusaba Di Pura Dalém Pingit Desa Pakraman Kedisan-Kintamani yang jatuh pada Purnama Sasih Kadasa adalah dilaksanakannya Upacara NYÉLUB WASTRA, MÉNEK CANANG dan MAIDÈR GITA.

NYÉLUB WASTRA;
Pagi-pagi sekali Para Daha desa, Nunas Tirta Ring Bhatari Gangga (Tirta Tangga-Tangga) di Pura Dalém Siwa/Suci, dengan sarana Péjati jangkép. Kegiatan ini hanya dilaksanakan oleh Para Daha. Tirta inilah yang digunakan untuk menyiapkan Wastra Ida Bhatara Ring Dalém Pingit. Kain yang tadinya berwarna Putih dicelub dengan menggunakan pewarna alami yang berwarna Kuning, sehingga kain tadi berubah menjadi berwarna Kuning, dan kemudian disucikan kembali dengan Tirta Tangga-Tangga, lalu Wastra inilah yang digunakan pada Pelinggih Ida Bhatara Sanghyang Jero. Para Daha yang melaksanakan upacara ini adalah Daha Bunga (mereka yang masih Suci). Warna kain Putih melambangkan Kesucian lalu dicelub menjadi berwarna Kuning yang melambangkan Kemakmuran, Kebijaksanaan, Taksu, dan Kewibawaan.

MÉNEK CANANG;
Seusi upacara Nyélub Wastra dan dikenakan pada Pralinggan Ida Bhatara lalu dilanjutkan dengan Upacara Mének Canang yakni pada hari ini ngunggahang Upakara Sorohan genep ring Pelinggih Ida Bhatara Sanghyang Jero dan Memasang Ceniga dan Gantung-Gantungan pada Pelinggih-Pelinggih yang ada.

Adapun makna Upacara Mének Canang ini adalah sebagai Penanda bahwa Karya Ngusaba Kadasa di Dalem Pingit Dimulai Secara Resmi.

MAIDÉR GITA (MACÉRÉGÉK;
Selanjutnya pada hari yang sama juga dilaksanakan Upacara “MAIDÉR GITA” atau lebih familiar dinamai “Upacara Macérégék”.

Upacara ini dilaksanakan oleh Linggih Dane Jéro Peduluan Lanang, dengan cara melantunkan sebuah lagu yang dibarengi dengan berbagai gerakan tanga (mudra) sambil mengelilingi Pura dan membawa Nasi Takilan Dengan lauk pauknya uyah-séra-sudang-taluh, dan minuman tuak-arak.

Adapun nada lagunya diucapkan bergiliran mulai dari Jéro Kubayan Mucuk bersahutan/bergantian, lalu oleh Jéro Bahu sampai kepada Peduluan Guru yang berjumlah 4 orang.

Lagu Maidér Gita atau Macérégék:

PAN CÉKÉL (oleh: Jéro Kubayan Mucuk), PAN CAMBÉNG (oleh: Jéro Kubayan Dauhan), MANGIDÉRIN (oleh: Jéro Bahu Danginan), MANANGGAPIN (oleh: Jéro Bahu Dauhan), CRET (oleh: Jéro Guru sane makta genah petabuh Tuak), GÉK (oleh: Jéro Guru sane makta genah perabuh Tuak).

Seusai Upacara Linggih Dane Jéro Kubayan, Jéro Bahu, Jéro Guru lan Linggih Dane Jéro Pényarikan Desa nunas Nasi Takilan, dan tuak-arak.

Makna Upacara ini adalah untuk membentengi areal Upacara Piodalan atau Ngusaba dari gangguan yang bersifat negatif, sekaligus sebagai tanda kesiapan krama dalam nyanggra Upacara Piodalan/Ngusaba Kadasa Ring Pura Dalém Pingit.

Demikian yang dapat dijelaskan secara singkat. Suksma.

Om Santih Santih Santih Om

Dikumpulkan oleh: JM. I Wayan Sudarma

*Sumber Bacaan: Prasasti Kedisan

*Wawancara Dengan: Linggih Dane Jéro Penyarikan Datar, Jéro Bahu Dias, lan Linggih Dane Jero Mangku Sédéng Tanggal: 19 Juni 2012

*Catatan: Tahun 2019, Ketiga Upacara ini akan dilaksanakan pada hari Anggara Wage Wuku Uye, Pinanggal 12 Sasih Kadasa, tanggal 18 Maret 2019.

Om Swastyastu

Rangkaian selanjutnya dari suatu proses Upacara Pujawali/Piodalan adalah Upacara Matur Piuning.

Secara etimologi Matur Piuning memiliki pengertian Suatu upacara pemberitahuan (bahasa Bali: Mewangsit) kepada yang akan diupacarakan, dalam hal ini adalah Ida Sasuhunan suatu pura yang akan melaksanakan Pujawali/Piodalan.

Dengan menghaturkan Upakara Pejati di pelinggih pokok sebagai tanda Kesungguhan/Kemantapan Hati untuk Nangun Yasa Kerti menggelar Upacara Suci.

Pada upacara Matur Piuning ini juga dilaksanakan upacara pensucian pewaregan/dapur dan genah metanding yang akan digunakan membuat sarana upakara, dan pensucian uparengga, sarana-sarana yang akan digunakan untuk membuat upakara, seperti beras, kacang-kacangan, janur, slepan, kelapa, bambu, kayu, kain, jun pere, dan lain sebagainya. Pada hari ini juga Menstanakan Bhatari Tapini dan Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Penuntun para Serati/Tukang Banten dan Yajamana (Panitia dan Krama) dalam menyiapkan sarana upakara-upacara.

Juga memohon kehadapan Sanghyang Catur Raksa agar seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan lancar dan siddhakarya, yang ditandai dengan menstanakan beliau dalam Sanggar Cukcuk di setiap sudut areal upacara, yabg dilengkapi dengan masing-masing banten: Peras, Penyeneng, dan di sornya dengan segehan cacahan dan petabuh arak-berem, canang sari. Dan selama upacara berlangsung dari matur piuning hingga nyimpen/nyineb, setiap hari ngaturang banten ajuman/soda. Adapun Catur Raksa yang dimaksud adalah:
1. Di bucu Kaja Kangin (Airsanya), menstanakan Sanghyang SRI RAKSA, agar dalam seluruh rangkaian upacara dianugerahkan: Kemudahan, Kemakmuran (Sri), artinya agar segala hal yang diperlukan bagi keperluan upacara dimudahkan dalam mencari dan menyediakannya, umat banyak yang menghaturkan Dana dan Punia, sehingga upacara itu tidak kekurangan baik material (natura) maupun pendanaan. Karena jika upacara kekurangan bahan upacara apalagi kekurangan dana, maka upacara tersebut tentu akan mengalami hambatan.

2. Di Bucu Kelod Kangin (Gneyan), menstanakan Sanghyang AJI RAKSA. Sanghyang Aji Raksa adalah Beliau yang menganugerahkan Pengetahuan (Sarwa Aji Jnana), karena sejatinya upacara agama adalah tempat dimana Umat bisa Belajar tentang banyak hal, khususnya terkait upakara dan upacara baik cara membuat, menyusun, dan maknanya. Pada saat ngayah umat bisa saling belajar satu sama lainnya. Dengan harapan jika umat sudah memiliki pengetahuan (Ajian), tentu upakara akan dapat dibuat lebih cepat dan upacara bisa dilaksanakan lebih tertib dan lancar. Disini perlunya ada transfer pengetahuan dari yang sudah bisa kepada yang belum bisa, yang didasari oleh semangat ngayah saling asah asih asuh.

3. Di Bucu Kelod Kauh (Neriti), menstanakan Sanghyang RUDRA RAKSA. Beliau yang menganugerahkan semangat (Raksa Bandha) kepada semua pengayah dan krama, agar tetap sehat rahayu selama menyiapkan upakara dan upacara, agar umat tidak ada yang sakit, agar selama proses upacara diberikan kekuatan, dan keselamatan. Tidak ada yang berselisih faham, dan menghindarkan krama dari perbuatan yang dapat membuat upacara iti cemer atau cuntaka.

4. Di Bucu Kaja Kauh (Wayabya), menstanakan Sanghyang KALA RAKSA. Hal ini dimaksudkan agar semua upakara bebantenan yang disiapkan bisa selesai tepat waktu dan tepat sasaran. Jangan sampai saat diperlukan upakaranya belum selesai atau ada yang kurang. Juga agar tidak bebanten yang dibuat banyak yang terbuang karena kurang pertimbangan/prediksi perencanaan. Itu sebabnya setiap upacara memerlukan perencanaan dan susunan/dudonan acara yang rapi dan terjadwal dengan baik.

Demikian dapat saya ketengahkan makna rangkaian Upacara Matur Piuning, dan Catur Raksa yang sarat dengan pesan etika spiritual. Dengan harapan ketika kita nangun yadnya dapat menjadi acuan minimal sehingga upacara dapat dilaksanakan dengan baik. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
~JM. I Wayan Sudarma

*Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat
** Sumber Bacaan: Teks Dewa Tattwa, Teks Tutur Tapeni, Teks Aji Swamandala, Wiswakarma Tattwa.

*** Diperuntukkan Dalam Rangka Karya Ngusaba Kadasa Pura Dalem Pingit-Desa Kedisan, Kintamani

Om Swastyastu

Setiap upacara agama Hindu merupakan proses yang sangat detail, terperinci, penuh etika dan tentunya penuh kandungan makna. Namun seringkali kita meluputkan diri untuk mencari tau mengapa rangkaian tersebut dilaksanakan.

Pembahasan pertama kali ini saya akan mulai dari Upacara Negtegang Karya.

Secara harfiah kata Negtegang Karya memiliki pengertian: metaki-taki, bersiap-siap, medabdaban; guna menyongsong suatu karya/pekerjaan (mulia atau penting)

Secara upakara kegiatan ini ditandai dengan aktivitas krama mulai ngayah mareresik, makedas-kedas; membersihkan uparengga pura dan areal upacara, termasuk didalamnya kegiatan membuat tetaring, pewaregan dan lain sebagainya. Dari sisi upakara ditandai dengan upacara pejati uning kepada Sasuhunan dimana upacara akan dilangsungkan. Yang dimaksudkan sebagai tanda/upasaki Kesungguhan Hati (Pejati), dan kesiapan diri untuk Nangun Karya dan juga untuk memberitahukan (nguningang) niat dan maksud upacara kepada Ida Sasuhunan dan Krama, serta memohon agar semua rangkaian upacara berjalan lancar dan rahayu.

Upacara Negtegang secara rohani/spiritual, mengajak I Krama untuk juga metaki-taki, menyiapkan diri sekala dan niskala dalam menyongsong dan menyukseskan Karya Hayu yang akan dilaksanakan. Mulai menahan diri untuk tidak memproduksi pikiran-pikiran negatif, menjauhkan segala ucapan cah-cauh, kata-kata kotor, bohong, fitnah atau hoax dan ujaran negatif lainnya. Menghindarkan diri untuk tidak marah dan sombong/angkuh.

Negtegang Karya ibarat mendiamkan air agar lumpur dan kotoran bisa mengendap. Demikian pula mulai hari dimana Negtegang Karya dilaksanakan I Krama mulai mengendapkan segala bentuk negatifitas baik yang bersumber dari pikiran, ucapan dan prilaku. Hanya dengan cara Mategtegang seperti inilah Karya tersebut akan mencapai Karya Pinih Hayu.

Om Santih Santih Santih Om

~JM. I Wayan Sudarma
* Ketua Bidang Kebudayaan & Kearifan Lokal PHDI Pusat
**Sumber bacaan: Teks Dewa Tatwa, Tutur Tapeni

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tentu banyak masalah yang dapat timbul terhadap adanya kawin kontrak, di antaranya masalah status anak dan posisi wanita (istri kontrak) itu yang oleh masyarakat dianggap sebagai manusia yang tidak memiliki harkat dan martabat kemanusiaan. Keluarga pihak istripun mestinya malu karena tidak berhasil membina putrinya Suami istri yang melakukan kawin kontrak menganggap lembaga perkawinan itu hanya sebagai lembaga pelampiasan nafsu belaka. Untuk mencegah merebak timbulnya kawin kontrak di kalangan masyarakat, masyarakat perlu diingatkan kembali tentang makna dari lembaga perkawinan itu.

Perkawinan adalah sarana untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia. Keluarga sejahtra dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Untuk mewujudkan hal itu perlu usaha yang sungguh-sungguh dari setiap orang dalam keluarga itu. Banyak keluarga-keluarga yang berhasil membina hubungan yang harmonis di antara anggota keluarganya maupun dengan anggota masyarakat, namun sebaliknya kita masih melihat tidak sedikit pula keluarga-keluarga yang brantakan. Banyak faktor penyebab kehancuran keluarga dan untuk diperlukan pengamatan yang seksama mengapa hal itu bisa terjadi.

Demikian pula sebaliknya banyak keluarga-keluarga yang berhasil mewujudkan keluarga ideal, keluarga yang sejahtra dan bahagia. Untuk dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia tentunya kita harus memahami, fungsi-fungsi keluarga, makna perkawinan dan faktor-faktor lainnya yang mendukung terwujudnya keluarga sejahtra dan bahagia. Kerukunan dan saling pengertian di antara sesama anggota, serta tidak jemu-jemunya antara suami istri dan anak-anaknya untuk mewujudkan keluarga rukun merupakan salah satu landasan untuk merealisasikan hal itu. Keluarga sejahtra dan bahagia tidak dapat diukur dengan kekayaan duniawi, tetapi suasana yang tentram dan menyejukan hati setiap anggotanya adalah salah satu indikasi ke arah berhasilnya mewujudkan hal tersebut.

Di dalam sistem kemasyarakatan Hindu kita mengenal dua jenis keluarga, yakni keluarga inti yang terdiri dari suami istri dan anak-anak dan keluarga dalam
pengertian klen atau kawitan (satu leluhur). Keluarga akan menjadi sangat kompleks bila kita lihat dari hukum waris Hindu, sistem pamarajan dan padharman.

Dengan demikian keluarga dalam pengertian Hindu dibatasi oleh adanya hubungan perkawinan, keturunan (darah), adopsi (pengangkatan santana) dan lain-lain. Keluarga dalam pengertian yang pertama ( inti ) adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami dan istri dan anak-anaknya atau pula karena situasi tertentu adalah hanya ayah dan anak-anaknya atau ibu dan anak-anaknya saja.

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita tentang pengertian keluarga kiranya patut dikaji tujuan dan fungsi dari keluarga, yang menurut M.F. Nimkoff dalam bukunya “Marriage and Family” adalah untuk membentuk suatu tempat penampungan yang merupakan tempat bagi seorang ayah atau seluruh anggota keluarga memperoleh ketenangan atau kebahagiaan hidup. Dalam kawin kontrak, pihak istri dan keluarga istri serta anak-anak yang lahir tentu diliputi oleh berbagai kecemasan yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati.

Selanjutnya untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtra, pengertian tentang keluarga sejahtra dinyatakan sebagai berikut: “Keluarga Sejahtra adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan ingkungannya” .

Hubungan seorang laki-laki dan wanita dalam rumah tangga (sebagai suami istri) hanya dibenarkan bila dilakukan dalam ikatan perkawinan yang sah dan perkawinan telah dianggap sah bila dilaksanakan menurut hukum agamanya. Dalam agama Hindu perkawinan yang disebut dengan istilah Vivāha diyakini telah dianggap sah bila telah dilaksanakannya Vivàha Saýskara yang di Bali disebut Vidhi-vidhana, yakni telah diupacarakan sesuai dengan ritual Hindu baik yang paling sederhana, maupun dalam upacara besar yang disaksikan oleh seluruh kerabat. Dalam Vivāha Samskara, adanya tiga persaksian yang diyakini dapat mengesahkan upacara tersebut adalah : Devasāksi, berupa sesajen atau persembahan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Bhutasāksi yang disimboliskan dengan api dan Manusasāksi yakni masyarakat yang turut menghadiri upacara perkawinan tersebut.

Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra untuk mengukuhkan perkawinan, sehingga hubungan keluarga dalam perkawinan ini diharapkan bersifat abadi. Perhatikanlah terjemahan mantra berikut:

1. YaTuhan Yang Mahaesa, Anugrahkanlah kepada pasangan penganten ini kebahagiaan yang abadi.Keduanya tidak terpisahkan dan panjang umur.Semoga mereka mendapatkan mendapatkan anugrah putra-putri dan cucu-cucu yang memberikan penghiburan, tinggal di rumahnya yang penuh kegembiraan (Rgveda X.85.42).

2. Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian. Semoga satu jiwa bagi keduanya (Atharvaveda VII.36.1).

3. Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti luhur,penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira,
bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya” (Atharvaveda XIV.2.43).

Selanjutnya kitab Manavadharmasastra mengamanatkan hendaknya suami istri mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agarmereka tidak bercerai mewujudkan kebahagiaan dan jangan sampai melanggar kesetiaan di antara mereka:

1. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam perkawinan, mengusahakan agar tidak mereka bercerai dan mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Hendaknya pula jangan melanggar kesetiaan antara yang satu dengan yang lain. (Manavadharmasa stra IX.101).

2. Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya hal ini dianggap sebagai hukum yang tertinggi bagi suami – istri. (Manavadharmasastra III.60).

Lebih jauh tentang makna dan prinsip dasar tentang tujuan perkawinan ditegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:

1. Dharmasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah, Yajna atau pengorbanan akan dapat dilaksanakan secara sempurna.

2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan(putra- putri) yang akan melanjut kan amanat dan kewajiban pada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhurnya (Pitrarna) kepada Tuhan Yang Mahaesa (Devarna) dan kepada para Rsi, pandita atau guru (Rsirna).

3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kenikmatan-kenikmat an lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka perkawinan merupakan institusi yang legal sebagai wahana untuk mengamalkan ajaran agama dalam arti yang seluas-luasnya. Demikian pula bila suami dan istri melakukan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya serta anak-anak mendapatkan pendidikan yang memadai baik di rumah (di luar pendidikan sekolah) dan dalam pendidikan sekolah, maka anak-anak akan menjadi putra yang suputra. Tentang putra yang suputra ini di dalam Nitisastra dinyatakan akan mampu mengangkat drajat keluarga dan masyarakat lingkungannya (putra suputra mamadangi kula wandhu wandhawa).

Untuk menyamakan persepsi kita tentang keluarga sejahtra dan bahagia tidaklah mudah, karena setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Seorang petani dengan pola hidupnya yang sederhana, taat melaksanakan kewajiban agama, istrinya setia dan putra-putrinya patuh kepada kedua orang tuanya tentu sangat berbeda dengan seorang manager pada sebuah perusahanan yang sangat sibuk dengan jumlah karyawan yang banyak, memerlukan berbagai fasilitas untuk mendukung tugas dan kewajibannya, maka pola hidupnya akan berbeda dengan petani di atas. Bagaimanakah kita bisa mengukur kondisi yang berbeda-beda pada setiap keluarga ?

Situasi atau kondisi pada era globalisasi ini telah menampakkan titik orientasi yang berbeda, hal ini nampak pada masyarakat Barat yang pandangan hidupnya sangat berbeda dengan masyarakat Timur. Masyarakat Barat dewasa ini (walaupun tidak seluruhnya demikian) berusaha mencari kepuasan atau kesenangan dengan mengeksploitasi berbagai obyek indria (pleasure oriented), sedang masyarakat Timur pada umumnya mencari ketenangan, kerahayuan atau keselamatan (peace oriented), sebab dibalik kedamaian atau ketentraman hidup terdapat kebahagiaan yang sejati. Memuaskan nafsu (Kama) tidak akan memberikan jaminan keselamatan dikemudian hari. Memenuhi segala keinginan indria ibarat menyiram api yang membara dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan memadamkan api melainkan akan semakin berkobar dan menghancurkan kehidupan manusia. Mencari ketenangan, berbeda dengan mencari kesenangan. Mencari kesenangan orientasinya ke luar, mencari obyek-obyek indria, sedang mencari ketenangan, obyeknya ada di dalam diri manusia, ibarat seekor penyu yang memasukkan seluruh anggota badannya. Selamatlah dia dari bencana yang datang dari luar.

Bila kepuasan atau kesenangan indria yang selaludipenuhi,manusia tidak akan mampu mengendalikan dirinya bahkan akan jatuh ke lembah penderitaan atau neraka seperti dinyatakan dalam Bhagavadgita XVI.21, berikut: “Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jurang menuju kehancuran diri, yaitu nafsu (kāma), amarah (krodha) dan serakah (lobha), setiap orang hendaknya meninggalkan sifa kecendrungan ini.”

Manusia yang di dalam bahasa Sanskerta disebut Manava sesuai dengan ajaran agama Hindu diamanatkan untuk meningkatkan kualitas dirinya, untuk selalu meningkatkan kemajuan baik jasmani dan rohani, dengan demikian sesuai dengan ajaran Sri Krsna, Sang Pūrna Awatara di dalam Bhagavadgītā hendaknya mengembangkan sifat Daivisampat, yakni sifat kedewataan, sesuai namanya, manuûya (menjadi kata manusia dalam bahasa Indonesia) yakni mahluk yang memiliki manah (kemampuan untuk mempertimbangkan baik dan buruk) menjadi devasya (yang memiliki cahaya spiritual yang terang). Dengan demikian Manava-Manava sesaui dengan tujuan penjelmaannya ke dunia ini adalah untuk menjadi Madhava-Madhava, yakni manusia yang jujur, ramah (lembut dan manis bagaikan madhu) yang pada akhirnya berhasil mencapai Moksa baik di dunia ini (saat kehidupan ini) melalui Dhyàna dan Samādhi. Tidak sebaliknya ia jatuh dan jauh atau bertentangan atau sama sekali tidak mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, ia akan jatuh atau menjadi Danava-Danava (manusia berjiwa raksasa) yang sangat rakus yang mengantarkannya ke lembah neraka.

Bagaimanakah dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagaia ? Ajaran agama Hindu, khususnya kitab suci Veda mengamanatkan supaya setiap orang selalu hidup tentram dan bahagia dan tentunya dengan melaksanakan swadharma masing-masing sebaik-baiknya.

Hal yang sangat penting dan mendasar dalam usaha mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa danjadikanlah salah satu manifestasi yang paling kita dambakan sebagai dewata

Istadevatā, yang akan selalu memberikan perlindungan kepada umat-Nya yang bhakti kepada-Nya:

Bila kita senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan yang Mahaesa dan menjadikan badan kita sebagai sthana suci-Nya maka kesejahtraan dan kebahagiaan segara dapat diwujudkan.

Bila Tuhan Yang Mahaesa berkenan hadir dan memberikan bimbingan kepada kita, kehidupan jasmani dan rohani kita akan senantiasa mendapat perlindungan- Nya. Berbagai persoalan hidup akan terpecahkan. Anak-anak yang tidak patuh akan berubah menjadi baik, suami-suami yang tidak bertanggung jawab akan menjadi suami berubah menjadi suami yang penuh tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat, demikian pula istri-istri yang pada mulanya kurang setia kepada suami akan berubah menjadi istri yang dapat dipercaya. Masalah “atilar kawitan, istri tidak patuh dengan suami, suami atau istri yang tidak memiliki pendirian dan anak-anak yang diliputi oleh kebimbangan” dan lain sebagainya akan dapat diatasi, karena Tuhan Yang Mahaesa akan melindungi umat-Nya yang benar-benar bhakti kepada-Nya. Kehidupan yang sederhana namun dipenuhi oleh limpahan karunia karena bhakti kita yang tulus merupakan pintu kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, kawin kontrak nampaknya hanya menekankan tujuan perkawinan yang ketiga yakni untuk memenuhi kepuasan nafsu (seks/Rati) semata tanpa tanggung jawab terhadap kelangsungan keluarga dan anak keturunannya. Kawin kontrak dapat disebut sebagai perkawinan semu dan tidak pada tempatnya untuk mendapat pengesahana secara agama. Bila hal itu disahkan secara agama, maka status perkawinan tersebut hendaknya dirubah menjadi perkawinan yang sebenarnya. Bila agama hanya dipakai kedok untuk memuluskan wujud kawin kontrak tersebut, maka yang bersangkutan telah membohongi diri mereka. Untuk mencegah tidak berkembangnya hal tersebut, lembaga yang mengesahkan perkawinan hendaknya benar-benar memperhatikan sikap dan prilaku calon mempelai guna mencegah perkawinan semu tersebut.

Bila masyarakat (termasuk aparat pemerintah, desa, parisada, adat) membiarkan gejala semacam itu terus berkembang di daerah ini, maka nilai-nilai atau ajaran agama sudah semakin luntur di amalkan oleh masyarakat. Sikap hidup permisisf sangat membahayakan kelestarian budaya Bali. Gejala permisifme ini saya kira belum begitu merebak, bila terjadi satu dua orang wanita Hindu melakukan hal itu, tidaklah berarti masyarakat Hindu membiarkan hal itu terus terjadi.

* Makalah Seminar: Menuju Keluarga Bahagia

Om Santih Santih Santih Om

=======

Your Hand On Works But Your Heart On God”

=======

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Vratena dīkṣām āpnoti
dīkṣāyā āpnoti dakṣiṇām
dakṣinā śraddhām āpnoti
śraddhayā satyam āpyate
Yajurveda XIX.36
Dengan menjalankan Brata seseorang mencapai
dīkṣā (penyucian diri). Dengan dīkṣā seseorang
memperoleh dakṣina (penghormatan). Dengan
dakṣina seseorang mencapai śraddhā
(keyakinan yang teguh). Melalui śraddhā
seseorang menyadari Satya
(Tuhan Yang Maha Esa)

A. Pendahuluan
Perkembangan masyarakat modern cenderung hedonis karena sebagian masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual. Kepuasan nafsu merupakan tujuan hidup dan agama kurang mendapat tempat di hati mereka. Di lain pihak seperti dinujumkan oleh John Naisbitt, justru pada milenum ke-3, umat manusia memasuki pencerahan kehidupan spiritual. Hal ini adalah logis, mengingat pada masyarakat modern, kepuasan duniawi ternyata bersifat semu dan tidak mengantarkannya menuju kebahagiaan yang sejati. Kepuasan duniawi bersifat sementara, bagi mereka yang memili bakat di bidang spiritual, tentu segera akan berpaling dari kehidupan duniawi menuju kehidupan spiritual yang penuh makna, dapat memahami makna hidup dan kehidupan serta tujuan yang ingin diwujudkan. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ajaran agama dan setiap agama mendasarkan ajarannya kepada kitab suci sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkan kehidupan spiritual yang mantap, maka peranan para pandita sangat besar, mereka tidak cukup untuk menuntun umat melalui praktek ritual, upakara dan upacara, melainkan dituntut lebih untuk membimbing umat manusia melalui jalan spiritual. Upakara dan upacara merupakan jalan Bhakti dan Karma sedang jalan spiritual merupakan jalan Jñāna dan Raja atau Yoga Marga. Kita dapat melihat kehidupan spiritual telah merebak di kalangan umat Hindu, misalnya bila kita memperhatikan kegiatan Tīrthayātra, meditasi, melaksanakan Japa, Tapa dan Brata dan lain sebagainya. Berbeda dengan jalan Bhakti dan Karma, jalan spiritual ini kurang mendapat perhatian di kalangan tokoh-tokoh umat Hindu, utamanya di kalangan para pandita.

sulinggih

Untuk itu di dalam menatap citra para pandita dan mengantisipasi perkembangan masa depan, kami mengetengahkan topik tulisan ini guna dapat menyumbangkan buah pikiran sebagai salah satu usaha pengembangan agama Hindu, khususnya membangun citra pandita yang mumpuni dan senantiasa disegani oleh umat Hindu.

B. Peranan dan Fungsi Lokapālāśraya – Patīrthaning Sarāt
Usaha menyucikan diri melalui dīkṣā, salah satu perwujudan Dharma seperti diamanatkan dalam Vṛhaspati Tattva, 25 merupakan kewajiban setiap orang. Di dalam Vṛhaspati Tattva dinyatakan, yang disebut Dharma meliputi tujuh hal, yaitu: śīla, yajña, tapa, dāna, pravṛjya, dīkṣā dan yoga. Untuk itu seseorang menjadi pandita adalah merupakan pengamalan ajaran Dharma yang utuh. Menjadi pandita di samping mewujudkan pengamalan ajaran Dharma, juga merupakan pelaksanaan dari Bhisama leluhur, untuk mengikuti jejaknya. Bila seseorang tidak melaksanakan dīkṣā pada kehidupan ini, setelah meninggal rohnya diupacarakan dengan upacara dīkṣā yang dilaksanakan di Pamarajan keluarga. Upacara ini umumnya disebut “ngaskara”, dari kata “saṁskara”, yang artinya penyucian dari. Sebelum secara khusus membahas tentang fungsi “lokapālāśraya”, terlebih dahulu kami sampaikan siapa saja yang disebut “dīkṣita” atau seseorang yang telah menjalani upacara dīkṣā. Berdasarkan tradisi maka yang disebut “dīkṣita” atau “kṛtadīkṣita” adalah mereka yang telah diinisiasi dengan simbolis dilahirkan kembali melalui upacara suci, oleh karena itu mereka disebut “sang dvijāti”, terdiri dari : ācharya, ṛṣi, bhikṣu (disebut juga dengan istilah bikku atau viku), vipra, kavi, sadhu, sannyasin, yogi, muni, upādhyāya dan bahkan para Brahmacari dan Brahmacarini juga disebut dvijāti, karena mereka seluruhnya mengikuti upacara “dīkṣā”. Di Indonesia, sesuai Ketetapan Mahasabha II/PHDI/1968 mereka yang disebut “dīkṣita” adalah: Rṣi, Mpu (Ida Pandita Mpu), Pedanda, Bhujangga, Dukuh, Danghyang dan Bhagawan. Dengan demikian maka merteka yang telah mengikuti upacara “dīkṣā” digolongkan ke dalam golongan Brahmana yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan beragama umat Hindu.

dukun tengger1
Adapun peranan penting seorang Brahmana atau seorang “kṛtadīkṣita” sesuai dengan uraian yang terdapat di dalam kitab Udyogaparva (99) dan Agastyaparva 391.20 sebagai berikut:
“kunang hetuning dīkṣā hinanaken ta wekasan,
tinūt sang guru maweh tattwa i sang śiṣya.
Apan tan dadi sang siddhayogīswara amarahaken
bhaṭāra irikang wwang tan padīkṣā”

(Adapun sebab munculnya “dīkṣā” yang selanjutnya diteruskan
kemudian, mengikuti jejak guru memberikan ajaran tattwa kepada
śiṣya. Oleh karena tidak boleh seorang yang sudah mencapai
tingkatan Yogiśwara menguraikan hakekat ketuhanan kepada
seseorang yang belum “dīkṣita”)
Berdasarkan penjelasan tersebut seorang pandita atau “dīkṣita” merupakan sarana atau jalan untuk mentransfer pengetahuan ketuhanan (Brahmavidyā). Jadi demi kemurnian ajaran, maka garis perguruan yang di India disebut “param-para” dan di Bali dikenal dengan sebutan “aguron-guron” benar-benar dipertahankan kemurnian dan kesuciannya, oleh karena itu tidak sembarangan seorang “Nabe” akan menganugrahkan “dīkṣā”. Penjelasan lebih lanjut tentang peranan “Nabe” dalam menganugrahkan “dīkṣā” dijelaskan kembali dalam Agastyaparva (391), sebagai berikut: “Ikang kadīkṣā (n) mwang upadeśa sang yogīśwara ya rakwa wenang lumepasaken ikang mānusa” (orang yang telah diinisiasi dan petunjuk hidup dari seorang Yogīśvara, konon yang dapat melepaskan (belenggu) umat manusia).
Lebih jauh tentang fungsi seorang pandita bagi masyarakat (umat) adalah seperti dinyatakan dalam kakawin Bhomāntaka (III.26), sebagai berikut: “Dharma-dharmaning ri sang pinandita mahārdika pinaka patīthaning sarāt” (Dalam hal dharma atau kewajiban seorang pandita yang sempurna merupakan tempat memohon air kehidupan, penyucian dan kebahagiaan hidup bagi masyarakat).
Dari penjelasan singkat di atas dapatlah dinyatakan bahwa fungsi seorang pandita adalah untuk memberikan pendidikan, tuntunan dan mengentaskan kegelapan pikiran umat (masyarakat) demi terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Jadi fungsi atau pengertian “lokapālāśraya” yang selama ini dipahami oleh sebagian umat cenderung dalam pengertiannya yang sempit, hanya sebagai “pemimpin/pemuput” upacara yajña perlu dikaji lebih jauh.
Selanjutnya tentang tugas seorang pandita, sesuai dengan Ketetapan Mahasabha II PHDI/1968 adalah:

  1. Memimpin umat dalam hidup dan kehidupannya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin.
  2. Melakukan pemujaan penyelesaian upacara Yajña.
  3. Dalam memimpin upacara Yajña agar menyesuaikan dengan ketentuan sastra untuk itu.
  4. Pandita juga diharapkan mampu membimbing para pinandita/pamangku.
  5. Aktif mengikuti “paruman” dalam rangka penyesuaian dan pemantapan ajaran agama sesuai dengan perkembangan masyarakat.
  6. Pandita juga memberikan bimbingan “Dharma Upadeśa” melalui Dharma Wacana, Dharma Tula”, Tīrthayatra, dan lain-lain.
    Demikian sekilas peranan dan fungsi seorang pandita yang bertanggung jawab mentranfer ilmu ketuhanan kepada sisya, membimbing umat (masyarakat) dengan “Dharma Upadeśa” yang disampaikan olehnya.

 

C. Disiplin diri dan sikap batin
Kunci keberhasilan seseorang melaksanakan swadharmanya dapat dilihat dari disiplin hidup yang dilaksanakan. Demikian pula seorang pandita, tanpa disiplin hidup mustahil akan dapat melaksanakan fungsinya sebagai yang diharapkan. Disiplin hidup menurut ajaran agama Hindu dilaksanakan dalam sistem aśrama (Brahmacari, Gṛhastha, Vanaprastha dan Sannyasa) bertujuan untuk dapat merealisasikan Puruṣārtha (4 tujuan hidup: Dharma, Artha, Kāma dan Mokṣa). Untuk memupuk dan menumbuh kembangkan disiplin diri dan mengingat fungsi pandita sebagai patīthaning sarāt, kepada seorang pandita dituntut untuk memahami dan mempraktekkan ajaran Yoga, yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Landasan foundamental ajaran Yoga adalah Yama dan Niyama Brata dan akan sangat sempurna bila dapat mempraktekkan Aṣtānggayoga (Yama, Niyama, Asana, Prāóayama, Pratyāhara, Dharana, Dhyāna dan Samādhi) sesuai dengan uraian maharsi Patañnjali dalam kitabnya Yogasùtra. Dengan melatih mempraktekkan ajaran Yoga, khususnya Yama dan Niyama Brata, seorang pandita akan mampu memupuk disiplin hidup dan disiplin diri dan tanpa disiplin ini, seorang pandita akan gagal melaksanakan fungsi atau tugasnya seperti telah diuraikan di atas.

dukun tengger.jpg

Seorang pandita hendaknya memiliki keimanan (śraddhā) yang mantap terhadap ajaran agama Hindu. Keimanan ini merupakan sikap batin seorang pandita. Melalui keimanan yang mantap, penguasaan, pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama menjadikan seorang pandita mengalami perubahan diri (self transformation) dalam perilaku dan tindakannya. Seorang pandita akan mampu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang pandita memancarkan cahaya spiritual yang mempengaruhi umat dan lingkungannya, seperti diungkapkan dalam pendahuluan kakawin Rāmāyana, “ring Ayodhya subhageng rāt, kakwehan sang mahārddhika suśīla” (masyarakat Ayodhya makmur sejahtra, karena banyak (di sana) para pandita utama). Salah satu abhiseka bagi seorang pandita adalah sebagai “Śiva” atau “Śivasakala” (perwujudan nyata Sang Hyang). Kata Śiva mengandung arti yang menganugrahkan kerahayuan. Penyrataan di atas, di dukung pula oleh pernyataan di dalam Taittirīya Upaniṣad (I.11): Ācharyadevo bhava (seorang pandita/guru adalah perwujudan dewata. Sebagai perwujudan dewata dimaksudkan bahwa ia mampu mengemban fungsi dan tugasnya dengan baik.
Disiplin diri dan sikap batin seorang pandita merupakan landasan foundamental terutama dalam praktek kepanditaan menurut tradisi “aguron-guron di Indonesia (Bali). perlu pula ditegaskan bahwa sistem kepanditaan di Indonesia bersifat Saivis dengan warna tantrik. Dalam sistem ini pandita hendaknya mampu menyucikan diri, membakar segala kotoran bathin dan menjadikan dirinya sebagai media untuk mewujudkan Śiva dalam tubuhnya. Dalam kitab Maitreyi Upaniṣad (2.1) dinyatakan:
“dehi devalayaḥ proktaḥ
sajīva kevalaḥ śivah”
(badan jasmani adalah te,pat suci,
jiwa adalah Śiva yang maha kuasa)
Usaha untuk menyucikan diri terus menerus melalui berbagai “sadhana” atau latihan rohani ditegaskan dalam berbagai kitab yang menguraikan tentang disiplin hidup seorang pandita seperti kitab Śīlakrama, Śivaśāsana, Vratiśāsana, Tattvajñāna, Mahājñāna, Vṛhaspati Tattva, Ganapati Tattva, Ślokāntara, Sarasamuccaya, dan lain-lian. Dengan kesucian bathin dan sikap yang mantap terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan Dharmaning Kapanditan, seorang pandita akan sukses mengemban fungsi atau tugasnya itu.
D. Penguasaan ajaran agama
Menjadi seorang pandita yang mantap dalam wawasan isoterik hendaknya mampu menguasai ajaran agama secara komprehensip. Penguasaan ajaran agama yang parsial dan wawasan yang sempit menjadikan seorang pandita tidak mampu melaksanakan fungsinya dengan baik. Ia akan cenderung tertutup, fanatik sempit, egoistis, bahkan rendah diri atau minder bila berhadapan dengan cendekiawan umat Hindu dan sulit dibayangkan apabila berhadapan dengan cendekiawan atau rahaniwan umat beragama lain yang memang disiapkan sejak diri untuk tugas-tugas kependetaan. Persiapan dini ini berlanjut melalui metoda akademis yang memadai. Berbeda dengan kondisi penyiapan yang secara tradisional di kalangan umat Hindu tanpa sistem pendidikan yang memadai, di samping pula penguasaan ajaran agama yang sangat terbatas.
Untuk memantapkan sistem pendidikan calon pandita dalam wawasan isoterik yang mantap, penguasaan ajaran agama yang komprehensip mutlak diperlukan. Untuk itu pula menguasai ajaran agama Hindu yang terdiri dari empat aspek seperti: Veda, sumber ajaran agama Hindu, Śraddhā, Tattwa atau keimanan, Tata Susila atau Etika yang merupakan pancaran pengamalan ajaran agama Hindu dan Ācāra Agama yang meliputi Yajña, upacara, upakara, tempat pemujaan, hari raya, padewasan (menentukan hari baik), hukum Hindu, sosiologi Hindu dan lain-lain secara mendalam mutlak diperlukan.
Untuk penguasaan ajaran agama Hindu dicoba diketengahkan kurikulim pendidikan calon pandita meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang yang bila dikaji dengan seksama dan dikuasai secara mendalam terutama dalam kelompok inti akan kelihatan bahwa semuanya itu mencerminkan ruang lingkup yang komprehensip.
Sesungguhnya permasalahn yang merupakan kendala alah sangat terbatasnya buku-buku agama Hindu yang berbahasa Indonesia, demikian pula bila kita mencari buku-buku agama Hindu yang berbahasa Inggris, kami rasakan sangat kesulitan, kecuali kita menyediakan sejumlah dana. Untuk itu melalui usaha memantapkan sistem pendidikan pandita ini, kami mengaharapkan uluran tangan semua pihak agar segera terwujud sebuah perpustakaan Hindu yang memadai di daerah ini. Di satu sisi kami melihat pembangunan fisik di negara sudah demikian mantap, tetapi penangan masalah pendidikan agama Hindu kurang mendapatkan perhatian. Bukankah sumber budaya Bali adalah agama Hindu dan bagaimana pula melestarikan agama ini bila tidak adanya perpustakaan yang memadai. Kita kadang-kadang bangga punya ribuan lontar yang tersebar di daerah ini. Sudahkah ada pengkajian yang benar-benar ditangani oleh umat Hindu tentang hal ini?

E. Merealisasikan ajaran agama (Dharma Sādhana)
Merealisasikan ajarana agama Hindu dalam kehidupan seharihari adalah mutlak bagi setiap umat Hindu. Demikian pula dan seharusnya lebih nayata lagi bagi seorang pandita karena fungsinya sebagai “patīrthaning sarāt”. Seorang pandita yang tekun melakukan swadharma, melaksanakan Sūryasevana, memimpin upacara keagamaan, mendalami s astra dan melakukan berbagai praktek Yoga akan lebih mudah merealisasikan ajaran agama. Intisari ajaran agama adalah memancarnya cinta kasih, tutur kata yang lemah lembut, sikap yang sopan dan ramah, rendah hati, menghargai sesama umat manusia dan segala ciptaan-Nya.
Agama pada prinsipnya adalah membimbing kehidupan spiritual umat untuk mewujudkan kebahagiaan, dengan demikian agama adalah sarana untuk meringankan beban kehidupan umat-Nya. Tidaklah tepat bila faktor material menghambat seseorang untuk melaksanakan ajaran agama atau memajukan kehidupan spiritual. Demikian pula ajaran agama yang menyangkut aspek ācāra, yakni upacara korban. Upacara korban yang kecil (disebut Kanistha sering salah sebut nista saja) sesungguhnya adalah upacara inti. Upacara adalah salah satu aspek dari yajña dan inti dari yajña adalah keikhlasan.
Dengan pemahanan dan penguasaan ajaran agama Hindu yang mantap, baik oleh umat awam pada umumnya dan pandita khususnya, maka tujuan hidup yang sekaligus tujuan agama dapat diwujudkan. Setiap umat Hindu akan senantiasa bahagia dan sejahtra karena tuntunan Dharma dan Wacana-Wacana yang diberikan oleh seorang pandita. Umat akan mantap melaksanakan swadharmanya masing-masing.
Merealisasikan ajaran agama tidaklah mudah tanpa pemahaman ajaran agama maupun “Śikṣa Abhyāsa” (belajar dan latihan rohani yang tekun). Melihat hal tersebut betapa pentingnya memantapkan pendidikan calon-calon pandita yang qualified.

E. Mengantisipasi perkembangan dan masa depan
Mengantisipasi perkembangan dan masa depan umat Hindu di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengembangkan pendidikan bagi calon pandita. Berbicara masalah pendidikan calon pandita, kita akan menemukan beberapa komponen dalam sistem pendidikan yang saling berhubungan dan merupakan satu rangkaian yang utuh, tidak terpisahkan. Demikian pula dalam menyiapkan pendidikan calon pandita, maka komponen-komponen itu harus merupakan sistem yang terpadu untuk mencapai satu tujuan.

basir dayak.jpg

Untuk menyiapkan sistem pendidikan calon pandita yang mungkin dikembangkan di Indonesia, khususnya di Bali sebagai satu aleternatif adalah dengan memadukan “sistem pendidikan Gurukula (Ashram)” dan pendidikan tradisional “Aguron-guron” dengan “sistem pendidikan modern”.
Adapun pelaksanaannya secara ideal dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Para calon pandita diashramakan dalam ashrama “Pangadyayan”.
  2. Pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan metodologi yang relevan (misalnya seperti kursus, tutorial, penyegaran dan lain-lain).
  3. Para guru (dosen) adalah para pandita dan walaka yang akhli di bidangnya.
  4. Materi pelajaran dan lamanya pendidikan diatur dalam kurikulum.
  5. Di samping pelajaran teori di kelas, juga praktek dan observasi di lapangan
  6. Diadakan berbagai evaluasi dan kepada yang memenuhi syarat dinyatakan lulus dan diberikan sertifikat.
  7. Calon yang telah lulus dianjurkan mencari “Nabe” sesuai dengan tradisi dan rekomendasi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Dengan memajukan pendidikan bagi calon panditanya, tentunya pendidikan umat Hindu di Indonesia pada umumnya akan semakin mantap dan tangguh. Pada akhirnya seorang pandita yang berkualitas akan mampu mengentaskan kebodohan dan belenggu umat dari keduniawian, seperti diamanatkan pada mantra Veda yang telah dikutipkan pada bagian awal dari tulisan ini.

F. Penutup
Sesungguhnya makalah singkat yang disajikan di atas merupakan langkah awal dan tentunya berhasil atau tidaknya memantapkan sistem pendidikan pandita ini akan memantapkan citra pandita dan hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bila para pandita Hindu mampu melaksanakan tugas dan fgungsi atau swadharmanya dengan baik, maka umat Hindu akan sangat mudah mengamalakan ajaran agamanya, sekaligua akan mengantarkan umat Hindu mencapai tujuan agama, yakni “mokṣa” (kebahagiaan abadi) dan “Jagadhita” (kesejahtraan duniawi) dan tentunya keteladanan para pandita dalam membina dan mengemban umat senantiasa mendapat perhatian dari para pandita Hindu. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Next Page »