Pustaka Hindu


Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“Tindakan bunuh diri dinyatakan “Ulah Pati” sebagai perbuatan dosa, karena bertentangan dengan ajaran Dharma. Dharma mengajarkan kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan ini dari perbuatan tidak baik menjadi baik/benar. Ulah Pati sangat tidak baik untuk dilakukan apalagi usia yang masih relatif muda. Sungguh disayangkan dan sia-sialah mereka yang mengambil jalan pintas melalui bunuh diri”

gantung-diri

Tidak bias dipungkiri, bahwasanya belakangan ini  kasus-kasus Bubuh Diri yang terjadi di Indonesia semakin meningkat. demikian juga yang mendera umat Hindu di berbagai daerah, mulai dari kasus yang terjadi pada anak-nanak, remaja, bahkan pada mereka yang sudah dewasa dan tua.


Bertambahnya tuntutan hidup membuat seseorang seringkali kehilangan akal sehat dan memaksanya untuk berpikir ekstra dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya,  baik primer maupun sekunder, jasmani dan rohani. Dalam keadaan seperti itu bagi yang tidak kuat secara psikis, emosi, mental dan spiritual akan menjadi beban secara kejiwaan yang lambat laun menjadi depresi hingga stroke yang berkepanjangan, sehingga acakali dipecahkan dengan caranya sendiri. Ada  beberapa indicator utama penyebab orang melakukan bunuh diri, seperti: masalah sosial ekonomi, asmara dan keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya suatu saat terhenti karena pikiran seakan buntu dalam keputus-asaan kemudian melakukan tindakan bunuh diri. Barangkali disinilah letak akar masalah kenapa dalam mencari solusi pemecahan masalah seseorang membuat keputusan sendiri ? Jika saja kondisi psikis, emosi, mental  dan spiritual seseorang tangguh, kokoh dan kuat maka tindakan konyol seperti bunuh diri bisa dihindari. Padahal kita juga tahu dan sadar, bahwa terlahir menjadi manusia merupakan kesempatan yang amat langka. Tetapi kesadaran ini sering terabaikan.  untuk itu kita perlu merenung kembali,tentang hakikat keutamaan kita sebagai manusia, seperti apa yang telah disuratkan dalam berbagai kitab Suci Weda, seperti yang termaktub dalam:

Sarasamuçcaya Sloka 2:
Manusah sarvabhutesu varttate vai çubhaçubhe Açubhesu samavistam çubhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk ; leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah gunanya (pahalanya)menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 3:
Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, Candalatvepi manusyam sarvvatha tata durlabham.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati ; sekalipun hidupmu tidak makmur ; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun dilahirkan hina sekalipun.

Sarasamuçcaya Sloka 4:
Iyam hi yoning prathama yam prapya jagatipate, Atmanam çakyate tratum karmabhih çubhalaksanaih.

Artinya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama ; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik ; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 6:
Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, Tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha.

Artinya : Kesimpulannya, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga ; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.


Bhagawadgita Adhyaya II .66:
Na’sti buddhir ayuktasya,

na ca yuktasya bhawana,

Na ca bhawayatah santir,

asantasya kutah sukham

Artinya : Tidak ada pikiran yang tidak terkendalikan Tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan Tidak ada ketegangan untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tenang, dimana kebahagiaan itu.
Sloka tadi mengisyaratkan bahwa kunci kebahagiaan adalah pikiran yang terkendali, konsentrasi yang terkendali, pemusatan pikiran, ketenangan pikiran.

Sebaliknya pikiran yang tidak terkendali ibarat perahu hanyut dalam samudra terbawa angin “Wayur nawan iwambhasi” demikian dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya II. 67.

Renungan

Secara Psikologis, manusia memerlukan media untuk melepaskan semua hal yang menyebabkannya mengalami kebuntuan berpikir jernih dan masuk akal. Susastra Weda memberikan kita arahan, untuk mengatasinya, dan diantaranya yang dapat dilakukan guna menguatkan dan menghidarkan diri dari perbuatan-perbuatan konyol  seperti bunuh diri, adalah; dengan Membaca Sloka-Sloka Kitab Suci Weda dan melantunkan Nama-Nama Suci Tuhan dalam setiap kesempatan. Hal ini sangat  membantu mengendalikan lamunan yang tidak perlu. karena Sloka dan atau  Mantra suci Weda ibarat kata-kata mutiara yang dapat memberikan motivasi dan semangat hidup bukan sebaliknya semangat mati. Memang kematian tidak dapat dihindari jika Tuhan menghendaki. Akan tetapi manusia diberi akal seyogyanya mampu menghadapi berbagai problem atau persoalan hidup.

Untuk melepaskan diri dari persoalan/problem hidup. Ingatlah hidup didunia ini tidak sendiri dan masih banyak orang yang lebih susah dari kita bahkan keterbatasan fisik, seperti tuna netra, tuna wisma, tuna rungu, tuna daksa, yatim piatu dsb. Oleh karena itu kendalikan pikiran, besarkan hati, sucikan jiwa secara konsisten dengan mengisi kegiatan yang produktif dan berkualitas baik kegiatan rohani maupun kegiatan duniawi.

NEPAL GANTUNG DIRI - 1.jpg

Kiat Pencegahan Tindakan Bunuh Diri.

Sebelum terjadi tindakan bunuh diri perlu diupayakan kiat pencegahan khususnya dalam perspektif Hindu :

1. Kiat Pembinaan Rohani:

  1. Sembahyang secara rutin dengan kesadaran sendiri
  2. Membaca kitab-kitab suci Weda terutama kata-kata mutiara yang dapat membangkitkan semangat hidup.
  3. Menerima hidup ini dengan ikhlas sebagai karma wasana.
  4. Sabar, jujur dan bersyukur.
  5. Tidak melupakan orang tua.
  6. Mengasihi seluruh keluarga

2. Kiat Pembinaan Fisik:

  1. Berolah raga secara teratur.
  2. Makan makanan dan minum minuman yang sehat sesuai kebutuhan

3. Kiat pembinaan Sosial Kemasyarakatan:

  1. Komunikasi secara intens dalam pergaulan social.
  2. Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan

 

bubuh-diri

Simpulan

  1. Tindakan bunuh diri bisa menimpa siapa saja, jika tidak kuat mengendalikan diri terutama mengendalikan pikiran maka bisa terjebak dalam kebingungan.
  2. Semua orang punya problem atau persoalan hidup bahkan mungkin lebih berat problem yang dihadapi orang lain dibandingkan dengan problem kita sendiri. Dengan menyadari ini, maka akan terlepas dari rasa rendah diri dan putus asa.
  3. Para Ketua  Banjar, PHDI, Sesepuh hendaknya lebih intens dalam komunikasi sosial dengan warganya sehingga lebih mengenal secara mendalam dan terjadinya hubungan yang akrab, dengan memerankan diri sebagai Bapak, sebagai Guru, sebagai Teman dan Sahabat.
  4. Pembinaan Rohani Hindu dijadikan landasan dalam pembinaan umat Hindu secara berkesinambungan.

    Demikian uraian singkat pokok-pokok pikiran  agama Hindu sebagai upaya pencegahan dalam menanggapi kejadian tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya

    Om Santih Santih Santih Om

​JANJI KEBANGKITAN LELUHUR ….KIAN TERBUKTI
KOMPLEKS PIRAMID TERBESAR ADA DI GUNUNG LAWU


Jika awam menyebut punden berundak di Gunung Padang sebagai piramid, maka saya berani mengabarkan bahwa kompleks piramid terbesar di Indonesia ada di Gunung Lawu. Sejak tahun 1997 saya tertarik dengan keberadaan punden-punden yang terdapat di kawasan puncak gunung yang dianggap sebagai jejak peninggalan Brawijaya Kang Kawekas (Sunan Lawu). Sejak itu saya sering datang kemari untuk penelitian atau sekedar refreshing. 


Di kawasan ini setidaknya ada 17 punden berundak berbagai ukuran. Sebelas sudah diukur dan didokumentasikan, antara lain Punden Berundak Argo Dalem, Argo Dumilah, Argo Tiling, Cokrosuryo, Keputren, dan Sabdo Palon. Masyarakat kejawen banyak yang percaya bahwa punden-punden berundak di Puncak Gunung Lawu merupakan bekas Kraton yang dibangun Brawijaya yang lari karena serangan dari Demak. Cerita ini dikuatkan dengan temuan menhir yang di ujungnya tertera torehan Surya Majapahit. Saya pribadi lebih percaya bahwa Brawijaya bukan lari, melainkan menghindari perang saudara. Ia memilih kedamaian dengan moksa di sebuah tempat yang menjadi poros manusia dengan Sang Pencipta.


Saya sering merasa miris (bukan iri) dengan perhatian publik pada Gunung Padang yang demikian besar, padahal, punden berundak di Gunung Lawu tidak kalah besar dan luas. Yang istimewa dari Lawu adalah bahwa tinggalan prasejarah ini masih terus digunakan dari waktu ke waktu. Menilik bentuk bangunan dan benda-benda yang kami temukan di sana, sebelum Brawijaya datang (jika cerita ini benar), belasan punden berundak ini sudah ada jauh sebelumnya. Tinggalan prasejarah ini kembali digunakan pada masa klasik ketika pusat-pusat peradaban Hindu-Budha di Jawa runtuh. Bahkan hingga sekarang, berbagai kalangan masih memanfaatkan belasan punden untuk berbagai kepentingan, termasuk doa politik dan pesugihan. Pabrik buku Kiky menorehkan haulnya di sini, juga ada monumen dari Angkatan.


Saya merasa perlu mengabarkan ini karena punden-punden itu kini terancam. Pada menhir Cokrosuryo saya dapati tulisan “wong bodo nyembah watu” (orang bodoh nyembah batu). Gerakan “anti syirik” ini begitu terasa ketika saya menggapai puncak Argo Tiling. Cungkup di teras tertingginya ada yang membakar. Selain itu, hampir seluruh bagian punden tertutup belukar dan sedimen. Para pendaki yang menjelajah puncak Gunung Lawu itu banyak sekali. Merek tidak sadar bahwa batu-batu yang ada di situ itu bagian dari situs penting. Mereka ijak, mereka pindahkan untuk membuat perapian, mereka gulingkan untuk mendapatkan tempat datar untuk mendirikan tenda. Ancaman yang lain adalah proses pemanfaatan baru yang menghilangkan jejak lama, seperti memperbaiki jalan masuk dengan keramik, membangun cungkup di teras tertinggi menggunakan metalroof, dan banyak hal lagi. 


Setiap ingat Lawu jantung saya selalu ratug. Saya dihantui rasa bersalah karena belum pernah publikasi. Masih banyak tanda tanya di kepala sehingga tulisan saya tentang Lawu tidak pernah selesai dan belum berani mempublikasikan. Namun, sore ini, setelah saya berdiskusi dengan teman-teman yang baru pulang penelitian dari Lawu, saya merasa menyelamatkan heritage di kawasan Lawu sangat mendesak untuk dilakukan. Semoga ada pihak, baik lembaga maupun perorangan, yang tertarik menyelamatkan Lawu, setidaknya membicarakannya agar kita tahu bahwa di puncak Gunung Lawu terdapat kompleks punden berundak terbesar di Indonesia.


Foto-foto oleh: Budi Saksono, Jajang A Sonjaya, Weningtyas Kismorodati

​Om Swastyastu


Ketika orang yang tidak mengerti prinsip kerja Dharma, ia akan melakukan hal yang tidak seharusnya, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi karma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untukmu atau para malaikat dan dewa penjaga melindungimu atau hari yang menguntungkan menolongmu. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika Anda percaya, Anda akan menderita. Anda akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Anda akan menderita walau hanya dengan cara itu. Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan Anda, dalam Karma Anda sendiri. Melakukan perbuatan baik, Anda akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, Anda akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, Anda membiarkan karma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, Anda hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (karma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Bisa jadi beberapa dari Anda telah datang dari berbagai tempat yang jauh, hanya untuk mendengarkan  mutiara dharma disini, di tepi Danau Batur. Berpikir bahwa Anda telah datang dari tempat yang sangat jauh dan melewati banyak rintangan untuk kesini. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok ini tetapi belum pernah memasuki pagar pondok saya ini. Ini membuat Anda semakin menghargai karma baik bukan?

Ketika Anda melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi Anda untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kamu dapat melihat diri Anda sendiri. Bahkan jika Anda masuk kedalam lubang yang dalam, Anda tetap akan menemui dirimu sendiri disana. Tidak mungkin Anda melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa Anda tidak melihat kesucian sendiri? Anda akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, Anda akan melihat ini semua untuk Anda sendiri. Makanya tak salah jika saya ungkapkan bahwa: 

“Segala hal yang terjadi pada diri kita sekecil apapun-smuanya tidak pernah berasal dari luar diri kita; semuanya bersumber dari diri kita sendiri~ dan inilah Hukum yang paling Kausal yakni Hukum Karma”. (I Wayan Sudarma).

Dengan menyadari prinsip hukum kausal ini, semoga saya, Anda dan kita semua dimampukan untuk kembali menata pola hidup kita, dengan demikian kita tidak perlu lagi mencari kambing hitam atas suka dan duka yang kita alami. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma© (Jero Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
 

“Tesam aham samuddharta, 

mrtyu-samsara- sagarat,

 bhavami na carat partha, 

mayy avesita-cetasam” (Bhagavadgita.XII.7)

Artinya: Bagi mereka yang pikiranya tertuju terus-menerus kepadaKu, wahai Partha (Arjuna) Aku segera menjadi penyelamat mereka dari lautan penderitaan mahluk fana

 

Demikian janji Tuhan kepada umat manusia yang beliau sabdakan dalam Bhagavadgita, indikasi yang bisa kita tangkap dari sloka ini bahwa dunia maya ini sesungguhnya adalah tempatnya penderitaan, jika tidak demikian halnya maka Tuhan mungkin tidak sampai menyabdakan hal itu.

Masih kuat dalam ingatan saya ada syair sederhana yang sangat akrab di telinga kita terutama bagi yang lahir dan besar di Bali terutama yang lahir dibawah tahun delapan puluhan karena bagi yang lahir ditahun sembilan puluhan keatas barangkali tidak seberapa akrab terkecuali bagi mereka yang memang menekuninya, adapun syairnya adalah seperti berikut:

Idupe mondong sengsare, 

Mangkin idup besok mati

Memanjakin keranjang padang

Peteng-lemah ia puponin

dan seterusnya……… 

Yang artinya kurang-lebih:

Hidup di dunia material ini sesungguhnya penuh dengan penderitaan memikul beban yang kian sarat. Sekarang hidup besok lusa jika sudah waktunya tiba tidak akan terhindar dari yang namanya kematian itu. Melayani keinginan, napsu atau indria yang sedemikian kuat tiada henti-hentinya bagaikan keranjang rumput yang setiap hari harus kita layani dengan mengisi rumput didalamya untuk pakan sang ternak, siang-malam menjadi budak dari sang napsu rajas dan tamas. 

 

Nah sedemikian menderitanya kehidupan di dunia ini maka setiap bayi yang lahir dari rahim ibunya ditandai dengan tangisan karena dia tahu dunia ini penuh dengan kesengsaraan lahir, penyakit, usia tua dan kematian.     

Demikianlah sepenggal bait geguritan Tamtam yang dikemas sangat indah dalam bentuk pupuh sinom oleh para leluhur kita dimasa silam, bukan saja sebagai karya sastra yang bernilai seni tinggi tetapi sekaligus mengandung ajaran rohani yang dalam sebagai sesuluh (cermin) dalam meniti hidup dan kehidupanya, karena didalamnya sarat dengan pesan-pesan dharma, terkandung nilai-nilai kesucian, kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan dan seterusnya. 

Nah kita sebagai parisentananya atau generasi penerusnya harus berani pula mengatakan dengan sejujurnya bahwa karya sastra ini masih relevan kita jadikan salah satu petunjuk atau penuntun jalan dalam kita menyusuri lorong-lorong perjalanan rohani kita baik sekarang maupun dimasa-masa yang akan datang.     

Dengan demikian secara benar dan wajar kita telah memberikan penghormatan, penghargaan dan penilaian yang tinggi kepada para leluhur kita, walaupun sesungguhnya beliau-beliau itu sebagai maha kawi sangat tidak mengharapkan hal itu.  

Jika kita cermati lalu kita hubungkan dengan sabda Krsna diawal tentu kedua-duanya sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain dimana Tuhan berjanji akan menyelamatkan orang-orang dari penderitaan duniawi. Namun kenyataannya dimasyarakat masa kini ternyata sebagian besar orang kebingungan dan tidak tahu bagaimana caranya membebaskan diri dari penderitaan itu. walaupun banyak tempat ibadah dibangun bahkan dengan megah, melaksanakan ritual-ritual keagamaan dengan meriah cendrung mahal dan yang sudah pasti adalah salah satu identitas dirinya adalah beragama.

Ternyata pembangunan tempat ibadah, melaksanakan ritual dan menyandang identitas manusia beragama tidaklah serta merta mengangkat manusia atau menyelamatkan manusia dari penderitaan. Ada sisi lain yang harus diupayakan secara terus-menerus sesuai sabda diatas dimana hanya orang-orang yang pikiranya terus-menerus tertuju kepaNya sajalah yang diselamatkan dari penderitaan itu.

Dalam kehidupan ini seharusnya ada satu keputusan maha penting yang harus kita ambil sebagai satu-satunya keputusan tertinggi diantara keputusan-keputusan yang lain dalam hidup ini yaitu keputusan untuk menekuni bhakti rohani kepada Tuhan, inilah keputusan yang tertinggi dalam kehidupan manusia, tidak ada lagi keputusan yang lebih tinggi daripada itu. Nah keputusan-keputusan yang lain yang telah dan akan diambil hanyalah sebagai pendunkung keputusan teringgi itu.

Misalnya keputusan untuk bekerja dimana saja dan sebagai apa saja, keputusan untuk berusaha atau berwiraswasta, ini adalah semata-mata keputusan untuk mendukung proses bhakti kita kepada Tuhan. Keputusan untuk sekolah atau kuliah meningkatkan kecerdasan intelektual dalam rangka mencerdaskan rohani menunjang proses bhakti kepada Tuhan.

Selama ini ada kesan dibalik-balik dimana orang kebanyakan berpikir membangun ekonomi terlebih dahulu baru membangun rohani dan ini sering kebablasan artinya setelah mereka sukses secara materi lalu proses pembangunan rohaninya terabaikan dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah kemerosotan dan kehancuran karena mereka tidak tahu untuk apa semua ini sebagai akibat dari rohani yang kian kering.  

Kemudian banyak juga yang berpikir bahwa sebaiknya pembangunan rohani dimulai pada saat usia menginjak tua, pemikiran semacam ini tentu kurang tepat karena proses bhakti rohani mestinya harus sudah dimulai sejak usia dini. Sebab jika setelah usia tua baru dimulai maka phisik kita tentu tidak menunjang lagi untuk melaksanakan aktifitas yang dibutuhkan dalam menekuni proses bhakti itu dan kematian itu sudahlah pasti tidak memandang usia, jika belum sempat menekuni bhakti kepada Tuhan tiba-tiba dewa yama datang menjemput maka sia-sialah kehidupan ini. 

 

Maka jika keputusan tertinggi itu sudah diputuskan sejak dini maka proses pembiasaan diri untuk selalu berpikir tentang Tuhan akan lebih mudah dilakukan, sebaiknya hal ini dilakukan melalui guru-guru kerohanian atau sering-sering bergaul dengan para sadu atau sadu sanga agar pikiran kita selalu mampu tertuju selalu padaNya. Jika demikian maka Tuhan akan menyelamatkan kita dari lautan penderitaan dunia maya ini.

Semoga semua mahluk berbahagia

Om Namo Bhagavate Vasudeva ya

Om Santih Santih Santih Om

Rahayu®

Om Swastyastu

Ketika saya iseng membersihkan rumah, tanpa disangka menemukan gulungan kecil kertas kasar atau lebih tepatnya kulit kayu, setelah dibuka, ada empat helai kecil, yang berisi suratan dalam aksara Bali dengan bahasa Bali Kuna, tersusun dalam pupuh pangkur, dan setelah dicermati isinya sangat menakjubkan, yakni: sebuah pesan tentang PERTIMBANGAN tatkala diharuskan membuat suatu KEPUTUSAN.

Kehati-hatian orang Bali Mula dalam mengambil keputusan tercermin dalam empat kata berjenjang ini “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa”. Hal ini  supaya tidak salah di kemudian hari, sesuai dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Leluhur kita mengajarkan supaya segala sesuatu dipertimbangkan masak-masak supaya tidak “mekamben di sunduk” (menyesal di belakang hari).

Isi Takepan Wulangreh: 

“Deduga lawan prayoga

myang watara reringa awya lali

iku parabot satuhu

tan kena tininggala

tangi lungguh angadeg tuwin lumaku

angucap meneng anendra

duga duga  nora kari” (pupuh 2)

“Muwah ing sabran karya

ing prakara gedhe kalawan cilik

papat itu datan kantun

kanggo sadina dina

lan ing wengi nagara muwah ing dusun

kabeh kan padha ambekan

papat iku nora kari” ( pupuh 3)

“Kalamun ana manusa

anyinggahi dugi lawan prayogi

iku wateke tan patut

awor lawan wong kathah

wong diksura dadulur tan wruh ing edur

aja sira pedhak pedhak

nora wurung neniwasi” (pupuh 4)

Sumber: (Takepan Wulangreh, pupuh pangkur lempir 2-4).

Wulangreh, Pangkur lempir: 2-4

Arti Pupuh: 

“Empat kata INTI” pada pupuh pangkur tersebut, yaitu:

(2) Deduga, Prayoga, Watara dan Riringa tidak boleh ditinggalkan saat kita bangun, duduk, berdiri dan berjalan, baik saat berbicara, diam bahkan saat tidur.

(3) Dalam segala hal, dalam kegiatan besar maupun kecil, setiap hari, siang maupun malam, orang kota maupun orang desa, semua orang yang masih bernapas, empat hal tersebut tidak boleh ditinggalkan. 

(4) Kalau ada manusia meninggalkan Duga dan Prayoga, dia tidak layak bergaul dengan orang banyak. Orang yang tidak tahu tatakrama (degsura), kurang ajar (daludur) dan sombong ( tan wruh ing edir) seperti ini jangan didekati karena hanya menimbulkan kesusahan.

Dapat disimpulkan bahwa keempat hal tersebut: Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa tidak boleh ditinggalkan oleh siapa saja sepanjang masih bernapas, baik orang kota maupun orang desa,  baik siang maupun malam. Orang yang meninggalkan keempat hal tersebut dapat dipastikan akan mengalami banyak permasalahan dan kebuntuan dalam usahanya mengarungi kehidupan.

Kajian Makna:

  1. “DEDUGA” boleh diartikan sebelum melangkah harus ada pertimbangan. Sebuah contoh sederhana misalkan kita punya pegawai yang kita anggap bodoh di kantor. Tiap hari membuat kita marah karena pekerjaannya. Lalu mau kita apakan dia? Dipecatkah? Jangan keburu memecat. Pertimbangkan dulu baik-baik.
  2. “PRAYOGA” sebaiknya bagaimana? Apa untungnya memecat dan mengganti? Demikian pula apa ruginya? Mengganti dengan orang baru sebenarnya bisa saja dengan beli kucing dalam karung. Kita tetap tidak tahu baik buruknya. Orang yang mau kita ganti ini bodoh tapi jujur dan loyal, jangan-jangan nanti kalau dapat orang baru, kita dapat yang pandai tapi tidak disiplin dan suka mencuri?Dados prayoganipun kadospundi? Ya kita  mesti berembug, bermusyawarah, berdisikusi bersama-sama.
  3. “WATARA”, Selanjutnya adalah kita tetap harus mengira-ira lagi dengan mempertimbangkan berbagai hal secara seimbang. Kita perlu konsultasi atau minta pendapat orang lain, tetapi yang memutuskan ya tetaplah kita.
  4. “RERINGA” , mengingatkan lagi bahwa kita harus berhati-hati dan benar-benar yakin sebelum mengetok palu, mengambil sebuah keputusan final.

Telaah: Pertimbangan bukan berarti Lambat

Hal ini yang menyebabkan seolah-olah orang Bali Mula umumnya lambat dalam mengambil keputusan. Di jaman sekarang, jaman yang serba cepat dimana perubahan bisa terjadi dalam hitungan menit, kelambatan mengambil keputusan bisa sama jeleknya dengan salah mengambil keputusan.

“Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” adalah pelajaran jaman dulu. Intisarinya amat bagus, jangan gegabah. Yang diperlukan adalah kecepatan. Guna memperbaiki kecepatan pada jaman sekarang sudah banyak sekali “toolkit” manajemen yang bisa kita pelajari. Misalnya saja analisis SWOT yang mempelajari Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (Ancaman) yang pada hakikatnya adalah analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa) yang sudah dibuat lebih sistematis dan terstruktur, oleh leluhur kita dari masa silam.

Jadi, cara mengambil keputusan melalui “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” bukan penyebab kelambanan. Kalau ada yang lamban maka yang lamban adalah “manusianya” yang terlalu mangu-mangu (ragu-ragu) bukan ajarannya. Ungkapan leluhur yang lain terkait dengan kebalikan hal ini adalah “Kurang duga prayoga” dan ”Kaduk wani kurang deduga”. Maknanya hampir sama, hanya yang pertama menekankan pada lemahnya pertimbangan sedang yang kedua menitikberatkan pada kegegabahan dalam bertindak.

* Catatan: 

  1. Duga: Pineh-pinehin riin untuk baiknya (demi baiknya semua tindakan harus dipikir terlebih dahulu)
  2. Duga-Prayoga: mabligbagan ngeruruh sane patut (berembug untuk baiknya)
  3. Duga-Wetara: pamineh, piteket (buah pikiran, pendapat)
  4. Prayoga: Pertimbangan baik
  5. Watara: Pangira-ira (Perkiraan)
  6. Reringa: Kanthi pangati-ati merga gojag-gajeg (Dengan penuh kehati-hatian karena masih ragu-ragu).

Demikian dapat saya ketengahkan sebuah ulasan Linuwih dari ceceran pesan Leluhur dalam Takepan Wulangreh bagi kita semua dalam rangka membuat putusan dalam hidup ini. Tujuannya tak ada lain~agar kita tiada menyesal di kemudian hari, karena kita tidak memperhatikan analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa). Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)®

​Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara” (Sebuah Telisik Pawisik Bathin)
Hung….Ahung

Sampurasun

Om Swastyastu
Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara.
Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama“Salokanagara / Salakanagara”. 

Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya :
* La = Hukum

* Hyang = Leluhur

* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8
Arti keseluruhannya ialah :  Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.
Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar. Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :
* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Naga = lambang penguasa darat & laut (samudra).

* Ra = Matahari
Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.
Demikian dapat saya ketengahkan, sebagai bahan renungan bahwasanya Peradaban Nusantara sedemikian hebatnya. Dan kewajiban bagi kita untuk terus menggali setiap SIRATAN makna dari Tanda~Tanda yang TERSURAT lewat simbol~simbol yang hingga kini masih bisa kita jumpai.
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu
♡ Jro Mangku Danu

* Diinspirasi Dari kitab: Yuganing Raja Kawasa.

​Sunda, Kujang, Keris, Nusantara dan Nagara  (Menyingkap Tabir Serpihan Sejarah Perjalanan Leluhur)
Hunggg…..Ahunggg

Om Swastyastu

Sampurasun

Hong Basuki Langgeng
Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara.

Peta Sunda


Sebenarnya negara kita memiliki beberapa nama, namun pada umumnya bangsa Indonesia hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirgantara” kemudian menjadi “Swargantara” lalu menjadi “Dwipantara” setelah itu menjadi “Nusantara” dan kini disebut “Indonesia”.

Lalu apa kaitannya dengan Kujang? Kenapa pula dianggap Kujang lebih tua dari Keris? dan apa sebabnya Kujang sering dikaitkan dengan Sunda? oleh sebab-sebab itulah kita harus melihat runtun kejadian di negara kita melalui catatan sejarah dan bukan mithos.

Pada dasarnya penggambaran Kujang itu sama dengan Garuda Pancasila di jaman sekarang. Artinya, kujang sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran kenegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (agama) bangsa. 
Kujang merupakan simbol “Api” (atau Ra = api kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi), dan kelak ketika negera ini mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim maka lahirlah bentuk Keris sebagai simbol Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi). 

Singkatnya, Kujang sebagai “Ra” dan Keris sebagai “Naga”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA, lalu kita menyebutnya sebagai NAGARA atau NEGARA.

Jaman Dirganta-Ra (Wilayah api kehidupan yang bercahaya) artinya Kujang dijadikan sebagai simbol Batara Durga (Api yang memberi kehidupan).
Jaman Swarganta-Ra (Wilayah kehidupan mandiri yang bercahaya) artinya Kujang = sebagai simbol Matahari (Sang Hyang Manon).
Jaman Dwipanta-Ra (Kehidupan Negeri Cahaya Kembar / Merah-Putih) artinya Kujang = sebagai simbol ajaran cahaya (merah/api/matahari) atau Salaka Domas, dan Keris = sebagai simbol negara air (maritim) atau Salaka Nagara artinya lahirnya konsep CAHAYA KEMBAR (Dwi) Naga dan Ra dengan simbol Kujang dan Keris atau Merah dan Putih (Vertikal dan Horisontal).
Maka itu sebabnya pula Prabhu Air Langga (tahun 1000 Masehi) disimbolkan mengendarai Garuda Wisnu (Menunggang seekor burung yang berdiri (bertumpu) di atas Naga/ular) yang mensiratkan era Banjaran Nagara.
Jaman Nusantara (Gerak/Kehidupan Manusa Cahaya) artinya menggambarkan lahirnya Panji Cahaya (Bende-Ra) sebagai lambang Negara (bendara Merah-Putih). Sebagai negara Maritim dalam era ini Keris lebih banyak berperan dibandingkan Kujang. Pada zaman ini dikenal sebagai era Pajajaran Nagara.
Jaman Indonesia (konsep negara Re-Publik), kerajaan diruntuhkan dan direbut atau dirampok oleh rakyat (Ra-Hayat).
* Kujang = simbol Batara Durga = simbol Dewa Api = simbol negara Matahari = simbol Salaka Domas = simbol Merah = Horisontal 
* Keris = simbol Dewa Air = simbol negara Maritim = simbol Salaka Nagara = simbol Putih = Vertikal
Dengan demikian makna “Bende-Ra” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” (bahasa  Inggris) sebab Merah-Putih adalah lambang kehidupan keagamaan dan kenegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan sistem tanda yang agung. Keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan sistem tanda untuk berkomunikasi, dan bangsa kita sudah melakukannya sejak ribuan tahun lalu….!
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu©

* Disarikan dari: Yuganing Raja Kawasa

Next Page »