Pustaka Hindu


Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Vratena dīkṣām āpnoti
dīkṣāyā āpnoti dakṣiṇām
dakṣinā śraddhām āpnoti
śraddhayā satyam āpyate
Yajurveda XIX.36
Dengan menjalankan Brata seseorang mencapai
dīkṣā (penyucian diri). Dengan dīkṣā seseorang
memperoleh dakṣina (penghormatan). Dengan
dakṣina seseorang mencapai śraddhā
(keyakinan yang teguh). Melalui śraddhā
seseorang menyadari Satya
(Tuhan Yang Maha Esa)

A. Pendahuluan
Perkembangan masyarakat modern cenderung hedonis karena sebagian masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual. Kepuasan nafsu merupakan tujuan hidup dan agama kurang mendapat tempat di hati mereka. Di lain pihak seperti dinujumkan oleh John Naisbitt, justru pada milenum ke-3, umat manusia memasuki pencerahan kehidupan spiritual. Hal ini adalah logis, mengingat pada masyarakat modern, kepuasan duniawi ternyata bersifat semu dan tidak mengantarkannya menuju kebahagiaan yang sejati. Kepuasan duniawi bersifat sementara, bagi mereka yang memili bakat di bidang spiritual, tentu segera akan berpaling dari kehidupan duniawi menuju kehidupan spiritual yang penuh makna, dapat memahami makna hidup dan kehidupan serta tujuan yang ingin diwujudkan. Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ajaran agama dan setiap agama mendasarkan ajarannya kepada kitab suci sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkan kehidupan spiritual yang mantap, maka peranan para pandita sangat besar, mereka tidak cukup untuk menuntun umat melalui praktek ritual, upakara dan upacara, melainkan dituntut lebih untuk membimbing umat manusia melalui jalan spiritual. Upakara dan upacara merupakan jalan Bhakti dan Karma sedang jalan spiritual merupakan jalan Jñāna dan Raja atau Yoga Marga. Kita dapat melihat kehidupan spiritual telah merebak di kalangan umat Hindu, misalnya bila kita memperhatikan kegiatan Tīrthayātra, meditasi, melaksanakan Japa, Tapa dan Brata dan lain sebagainya. Berbeda dengan jalan Bhakti dan Karma, jalan spiritual ini kurang mendapat perhatian di kalangan tokoh-tokoh umat Hindu, utamanya di kalangan para pandita.

sulinggih

Untuk itu di dalam menatap citra para pandita dan mengantisipasi perkembangan masa depan, kami mengetengahkan topik tulisan ini guna dapat menyumbangkan buah pikiran sebagai salah satu usaha pengembangan agama Hindu, khususnya membangun citra pandita yang mumpuni dan senantiasa disegani oleh umat Hindu.

B. Peranan dan Fungsi Lokapālāśraya – Patīrthaning Sarāt
Usaha menyucikan diri melalui dīkṣā, salah satu perwujudan Dharma seperti diamanatkan dalam Vṛhaspati Tattva, 25 merupakan kewajiban setiap orang. Di dalam Vṛhaspati Tattva dinyatakan, yang disebut Dharma meliputi tujuh hal, yaitu: śīla, yajña, tapa, dāna, pravṛjya, dīkṣā dan yoga. Untuk itu seseorang menjadi pandita adalah merupakan pengamalan ajaran Dharma yang utuh. Menjadi pandita di samping mewujudkan pengamalan ajaran Dharma, juga merupakan pelaksanaan dari Bhisama leluhur, untuk mengikuti jejaknya. Bila seseorang tidak melaksanakan dīkṣā pada kehidupan ini, setelah meninggal rohnya diupacarakan dengan upacara dīkṣā yang dilaksanakan di Pamarajan keluarga. Upacara ini umumnya disebut “ngaskara”, dari kata “saṁskara”, yang artinya penyucian dari. Sebelum secara khusus membahas tentang fungsi “lokapālāśraya”, terlebih dahulu kami sampaikan siapa saja yang disebut “dīkṣita” atau seseorang yang telah menjalani upacara dīkṣā. Berdasarkan tradisi maka yang disebut “dīkṣita” atau “kṛtadīkṣita” adalah mereka yang telah diinisiasi dengan simbolis dilahirkan kembali melalui upacara suci, oleh karena itu mereka disebut “sang dvijāti”, terdiri dari : ācharya, ṛṣi, bhikṣu (disebut juga dengan istilah bikku atau viku), vipra, kavi, sadhu, sannyasin, yogi, muni, upādhyāya dan bahkan para Brahmacari dan Brahmacarini juga disebut dvijāti, karena mereka seluruhnya mengikuti upacara “dīkṣā”. Di Indonesia, sesuai Ketetapan Mahasabha II/PHDI/1968 mereka yang disebut “dīkṣita” adalah: Rṣi, Mpu (Ida Pandita Mpu), Pedanda, Bhujangga, Dukuh, Danghyang dan Bhagawan. Dengan demikian maka merteka yang telah mengikuti upacara “dīkṣā” digolongkan ke dalam golongan Brahmana yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan beragama umat Hindu.

dukun tengger1
Adapun peranan penting seorang Brahmana atau seorang “kṛtadīkṣita” sesuai dengan uraian yang terdapat di dalam kitab Udyogaparva (99) dan Agastyaparva 391.20 sebagai berikut:
“kunang hetuning dīkṣā hinanaken ta wekasan,
tinūt sang guru maweh tattwa i sang śiṣya.
Apan tan dadi sang siddhayogīswara amarahaken
bhaṭāra irikang wwang tan padīkṣā”

(Adapun sebab munculnya “dīkṣā” yang selanjutnya diteruskan
kemudian, mengikuti jejak guru memberikan ajaran tattwa kepada
śiṣya. Oleh karena tidak boleh seorang yang sudah mencapai
tingkatan Yogiśwara menguraikan hakekat ketuhanan kepada
seseorang yang belum “dīkṣita”)
Berdasarkan penjelasan tersebut seorang pandita atau “dīkṣita” merupakan sarana atau jalan untuk mentransfer pengetahuan ketuhanan (Brahmavidyā). Jadi demi kemurnian ajaran, maka garis perguruan yang di India disebut “param-para” dan di Bali dikenal dengan sebutan “aguron-guron” benar-benar dipertahankan kemurnian dan kesuciannya, oleh karena itu tidak sembarangan seorang “Nabe” akan menganugrahkan “dīkṣā”. Penjelasan lebih lanjut tentang peranan “Nabe” dalam menganugrahkan “dīkṣā” dijelaskan kembali dalam Agastyaparva (391), sebagai berikut: “Ikang kadīkṣā (n) mwang upadeśa sang yogīśwara ya rakwa wenang lumepasaken ikang mānusa” (orang yang telah diinisiasi dan petunjuk hidup dari seorang Yogīśvara, konon yang dapat melepaskan (belenggu) umat manusia).
Lebih jauh tentang fungsi seorang pandita bagi masyarakat (umat) adalah seperti dinyatakan dalam kakawin Bhomāntaka (III.26), sebagai berikut: “Dharma-dharmaning ri sang pinandita mahārdika pinaka patīthaning sarāt” (Dalam hal dharma atau kewajiban seorang pandita yang sempurna merupakan tempat memohon air kehidupan, penyucian dan kebahagiaan hidup bagi masyarakat).
Dari penjelasan singkat di atas dapatlah dinyatakan bahwa fungsi seorang pandita adalah untuk memberikan pendidikan, tuntunan dan mengentaskan kegelapan pikiran umat (masyarakat) demi terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Jadi fungsi atau pengertian “lokapālāśraya” yang selama ini dipahami oleh sebagian umat cenderung dalam pengertiannya yang sempit, hanya sebagai “pemimpin/pemuput” upacara yajña perlu dikaji lebih jauh.
Selanjutnya tentang tugas seorang pandita, sesuai dengan Ketetapan Mahasabha II PHDI/1968 adalah:

  1. Memimpin umat dalam hidup dan kehidupannya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin.
  2. Melakukan pemujaan penyelesaian upacara Yajña.
  3. Dalam memimpin upacara Yajña agar menyesuaikan dengan ketentuan sastra untuk itu.
  4. Pandita juga diharapkan mampu membimbing para pinandita/pamangku.
  5. Aktif mengikuti “paruman” dalam rangka penyesuaian dan pemantapan ajaran agama sesuai dengan perkembangan masyarakat.
  6. Pandita juga memberikan bimbingan “Dharma Upadeśa” melalui Dharma Wacana, Dharma Tula”, Tīrthayatra, dan lain-lain.
    Demikian sekilas peranan dan fungsi seorang pandita yang bertanggung jawab mentranfer ilmu ketuhanan kepada sisya, membimbing umat (masyarakat) dengan “Dharma Upadeśa” yang disampaikan olehnya.

 

C. Disiplin diri dan sikap batin
Kunci keberhasilan seseorang melaksanakan swadharmanya dapat dilihat dari disiplin hidup yang dilaksanakan. Demikian pula seorang pandita, tanpa disiplin hidup mustahil akan dapat melaksanakan fungsinya sebagai yang diharapkan. Disiplin hidup menurut ajaran agama Hindu dilaksanakan dalam sistem aśrama (Brahmacari, Gṛhastha, Vanaprastha dan Sannyasa) bertujuan untuk dapat merealisasikan Puruṣārtha (4 tujuan hidup: Dharma, Artha, Kāma dan Mokṣa). Untuk memupuk dan menumbuh kembangkan disiplin diri dan mengingat fungsi pandita sebagai patīthaning sarāt, kepada seorang pandita dituntut untuk memahami dan mempraktekkan ajaran Yoga, yakni usaha untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Landasan foundamental ajaran Yoga adalah Yama dan Niyama Brata dan akan sangat sempurna bila dapat mempraktekkan Aṣtānggayoga (Yama, Niyama, Asana, Prāóayama, Pratyāhara, Dharana, Dhyāna dan Samādhi) sesuai dengan uraian maharsi Patañnjali dalam kitabnya Yogasùtra. Dengan melatih mempraktekkan ajaran Yoga, khususnya Yama dan Niyama Brata, seorang pandita akan mampu memupuk disiplin hidup dan disiplin diri dan tanpa disiplin ini, seorang pandita akan gagal melaksanakan fungsi atau tugasnya seperti telah diuraikan di atas.

dukun tengger.jpg

Seorang pandita hendaknya memiliki keimanan (śraddhā) yang mantap terhadap ajaran agama Hindu. Keimanan ini merupakan sikap batin seorang pandita. Melalui keimanan yang mantap, penguasaan, pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama menjadikan seorang pandita mengalami perubahan diri (self transformation) dalam perilaku dan tindakannya. Seorang pandita akan mampu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang pandita memancarkan cahaya spiritual yang mempengaruhi umat dan lingkungannya, seperti diungkapkan dalam pendahuluan kakawin Rāmāyana, “ring Ayodhya subhageng rāt, kakwehan sang mahārddhika suśīla” (masyarakat Ayodhya makmur sejahtra, karena banyak (di sana) para pandita utama). Salah satu abhiseka bagi seorang pandita adalah sebagai “Śiva” atau “Śivasakala” (perwujudan nyata Sang Hyang). Kata Śiva mengandung arti yang menganugrahkan kerahayuan. Penyrataan di atas, di dukung pula oleh pernyataan di dalam Taittirīya Upaniṣad (I.11): Ācharyadevo bhava (seorang pandita/guru adalah perwujudan dewata. Sebagai perwujudan dewata dimaksudkan bahwa ia mampu mengemban fungsi dan tugasnya dengan baik.
Disiplin diri dan sikap batin seorang pandita merupakan landasan foundamental terutama dalam praktek kepanditaan menurut tradisi “aguron-guron di Indonesia (Bali). perlu pula ditegaskan bahwa sistem kepanditaan di Indonesia bersifat Saivis dengan warna tantrik. Dalam sistem ini pandita hendaknya mampu menyucikan diri, membakar segala kotoran bathin dan menjadikan dirinya sebagai media untuk mewujudkan Śiva dalam tubuhnya. Dalam kitab Maitreyi Upaniṣad (2.1) dinyatakan:
“dehi devalayaḥ proktaḥ
sajīva kevalaḥ śivah”
(badan jasmani adalah te,pat suci,
jiwa adalah Śiva yang maha kuasa)
Usaha untuk menyucikan diri terus menerus melalui berbagai “sadhana” atau latihan rohani ditegaskan dalam berbagai kitab yang menguraikan tentang disiplin hidup seorang pandita seperti kitab Śīlakrama, Śivaśāsana, Vratiśāsana, Tattvajñāna, Mahājñāna, Vṛhaspati Tattva, Ganapati Tattva, Ślokāntara, Sarasamuccaya, dan lain-lian. Dengan kesucian bathin dan sikap yang mantap terhadap ajaran agama serta mampu melaksanakan Dharmaning Kapanditan, seorang pandita akan sukses mengemban fungsi atau tugasnya itu.
D. Penguasaan ajaran agama
Menjadi seorang pandita yang mantap dalam wawasan isoterik hendaknya mampu menguasai ajaran agama secara komprehensip. Penguasaan ajaran agama yang parsial dan wawasan yang sempit menjadikan seorang pandita tidak mampu melaksanakan fungsinya dengan baik. Ia akan cenderung tertutup, fanatik sempit, egoistis, bahkan rendah diri atau minder bila berhadapan dengan cendekiawan umat Hindu dan sulit dibayangkan apabila berhadapan dengan cendekiawan atau rahaniwan umat beragama lain yang memang disiapkan sejak diri untuk tugas-tugas kependetaan. Persiapan dini ini berlanjut melalui metoda akademis yang memadai. Berbeda dengan kondisi penyiapan yang secara tradisional di kalangan umat Hindu tanpa sistem pendidikan yang memadai, di samping pula penguasaan ajaran agama yang sangat terbatas.
Untuk memantapkan sistem pendidikan calon pandita dalam wawasan isoterik yang mantap, penguasaan ajaran agama yang komprehensip mutlak diperlukan. Untuk itu pula menguasai ajaran agama Hindu yang terdiri dari empat aspek seperti: Veda, sumber ajaran agama Hindu, Śraddhā, Tattwa atau keimanan, Tata Susila atau Etika yang merupakan pancaran pengamalan ajaran agama Hindu dan Ācāra Agama yang meliputi Yajña, upacara, upakara, tempat pemujaan, hari raya, padewasan (menentukan hari baik), hukum Hindu, sosiologi Hindu dan lain-lain secara mendalam mutlak diperlukan.
Untuk penguasaan ajaran agama Hindu dicoba diketengahkan kurikulim pendidikan calon pandita meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang yang bila dikaji dengan seksama dan dikuasai secara mendalam terutama dalam kelompok inti akan kelihatan bahwa semuanya itu mencerminkan ruang lingkup yang komprehensip.
Sesungguhnya permasalahn yang merupakan kendala alah sangat terbatasnya buku-buku agama Hindu yang berbahasa Indonesia, demikian pula bila kita mencari buku-buku agama Hindu yang berbahasa Inggris, kami rasakan sangat kesulitan, kecuali kita menyediakan sejumlah dana. Untuk itu melalui usaha memantapkan sistem pendidikan pandita ini, kami mengaharapkan uluran tangan semua pihak agar segera terwujud sebuah perpustakaan Hindu yang memadai di daerah ini. Di satu sisi kami melihat pembangunan fisik di negara sudah demikian mantap, tetapi penangan masalah pendidikan agama Hindu kurang mendapatkan perhatian. Bukankah sumber budaya Bali adalah agama Hindu dan bagaimana pula melestarikan agama ini bila tidak adanya perpustakaan yang memadai. Kita kadang-kadang bangga punya ribuan lontar yang tersebar di daerah ini. Sudahkah ada pengkajian yang benar-benar ditangani oleh umat Hindu tentang hal ini?

E. Merealisasikan ajaran agama (Dharma Sādhana)
Merealisasikan ajarana agama Hindu dalam kehidupan seharihari adalah mutlak bagi setiap umat Hindu. Demikian pula dan seharusnya lebih nayata lagi bagi seorang pandita karena fungsinya sebagai “patīrthaning sarāt”. Seorang pandita yang tekun melakukan swadharma, melaksanakan Sūryasevana, memimpin upacara keagamaan, mendalami s astra dan melakukan berbagai praktek Yoga akan lebih mudah merealisasikan ajaran agama. Intisari ajaran agama adalah memancarnya cinta kasih, tutur kata yang lemah lembut, sikap yang sopan dan ramah, rendah hati, menghargai sesama umat manusia dan segala ciptaan-Nya.
Agama pada prinsipnya adalah membimbing kehidupan spiritual umat untuk mewujudkan kebahagiaan, dengan demikian agama adalah sarana untuk meringankan beban kehidupan umat-Nya. Tidaklah tepat bila faktor material menghambat seseorang untuk melaksanakan ajaran agama atau memajukan kehidupan spiritual. Demikian pula ajaran agama yang menyangkut aspek ācāra, yakni upacara korban. Upacara korban yang kecil (disebut Kanistha sering salah sebut nista saja) sesungguhnya adalah upacara inti. Upacara adalah salah satu aspek dari yajña dan inti dari yajña adalah keikhlasan.
Dengan pemahanan dan penguasaan ajaran agama Hindu yang mantap, baik oleh umat awam pada umumnya dan pandita khususnya, maka tujuan hidup yang sekaligus tujuan agama dapat diwujudkan. Setiap umat Hindu akan senantiasa bahagia dan sejahtra karena tuntunan Dharma dan Wacana-Wacana yang diberikan oleh seorang pandita. Umat akan mantap melaksanakan swadharmanya masing-masing.
Merealisasikan ajaran agama tidaklah mudah tanpa pemahaman ajaran agama maupun “Śikṣa Abhyāsa” (belajar dan latihan rohani yang tekun). Melihat hal tersebut betapa pentingnya memantapkan pendidikan calon-calon pandita yang qualified.

E. Mengantisipasi perkembangan dan masa depan
Mengantisipasi perkembangan dan masa depan umat Hindu di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri untuk tidak mengembangkan pendidikan bagi calon pandita. Berbicara masalah pendidikan calon pandita, kita akan menemukan beberapa komponen dalam sistem pendidikan yang saling berhubungan dan merupakan satu rangkaian yang utuh, tidak terpisahkan. Demikian pula dalam menyiapkan pendidikan calon pandita, maka komponen-komponen itu harus merupakan sistem yang terpadu untuk mencapai satu tujuan.

basir dayak.jpg

Untuk menyiapkan sistem pendidikan calon pandita yang mungkin dikembangkan di Indonesia, khususnya di Bali sebagai satu aleternatif adalah dengan memadukan “sistem pendidikan Gurukula (Ashram)” dan pendidikan tradisional “Aguron-guron” dengan “sistem pendidikan modern”.
Adapun pelaksanaannya secara ideal dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Para calon pandita diashramakan dalam ashrama “Pangadyayan”.
  2. Pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan metodologi yang relevan (misalnya seperti kursus, tutorial, penyegaran dan lain-lain).
  3. Para guru (dosen) adalah para pandita dan walaka yang akhli di bidangnya.
  4. Materi pelajaran dan lamanya pendidikan diatur dalam kurikulum.
  5. Di samping pelajaran teori di kelas, juga praktek dan observasi di lapangan
  6. Diadakan berbagai evaluasi dan kepada yang memenuhi syarat dinyatakan lulus dan diberikan sertifikat.
  7. Calon yang telah lulus dianjurkan mencari “Nabe” sesuai dengan tradisi dan rekomendasi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Dengan memajukan pendidikan bagi calon panditanya, tentunya pendidikan umat Hindu di Indonesia pada umumnya akan semakin mantap dan tangguh. Pada akhirnya seorang pandita yang berkualitas akan mampu mengentaskan kebodohan dan belenggu umat dari keduniawian, seperti diamanatkan pada mantra Veda yang telah dikutipkan pada bagian awal dari tulisan ini.

F. Penutup
Sesungguhnya makalah singkat yang disajikan di atas merupakan langkah awal dan tentunya berhasil atau tidaknya memantapkan sistem pendidikan pandita ini akan memantapkan citra pandita dan hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bila para pandita Hindu mampu melaksanakan tugas dan fgungsi atau swadharmanya dengan baik, maka umat Hindu akan sangat mudah mengamalakan ajaran agamanya, sekaligua akan mengantarkan umat Hindu mencapai tujuan agama, yakni “mokṣa” (kebahagiaan abadi) dan “Jagadhita” (kesejahtraan duniawi) dan tentunya keteladanan para pandita dalam membina dan mengemban umat senantiasa mendapat perhatian dari para pandita Hindu. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Om Swastyastu

DEVI UMA adalah dari Sakti Deva Siva diberi nama sesuai dengan perwujudannya yang ganda, yaitu berwujud “santa” atau tenang, dan bersifat “raudra” atau “krodha”.

Ketika dalam wujud santa, sakti Deva Siva ini disebut dengan Parvati, yaitu seorang devi dengan penuh kecantikan dan kasih sayang. Selain disebut dengan Parvati, juga disebut dengan Devi Uma atau dewi Kedamaian.

Didalam kitab Purana disebutkan Devi Parvati pada penjelmaan pertamanya adalah Daksayani, yaitu putri dari Daksa dan Prasuti dan menikah dengan Siva. Karena tidak mampu memahami keagungan Siva, Daksa memakinya dan mulai membencinya. Ketika Daksa melakukan suatu upacara Yajna Agung, salah satu tamu yang tak diundang adalah Siva. Sangat bertentangan dengan saran pasangannya, Daksayani pergi ke tempat upacara tanpa diundang dan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dalam api yoga. Oleh sebab itu, kemudian ia dikenal dengan sebutan Sati yang tak berdosa.

Devi Uma sebagai Ibu Alam Semesta

Berikutnya dia terlahir kembali menjadi Parvati, putri dari Himawan dan Mena. Setelah melakukan tapa yang mendalam, dia mampu menyenangkan Siva dan membuat Siva dapat menerimanya kembali sebagai pendampingnya.

Selama Parvati melakukan pertapaan, dia menolak untuk makan dan minum, walau daun kering sekalipun. Sehingga dia memperoleh penampakan Aparna Ibunya Mena yang tidak tega menyaksikan putri kesayangannya menderita dalam melakukan tapa, dan berusaha mencegahnya dengan kata-kata “Uma, sayangku janganlah berbuat seperti ini” yang kemudian nama Uma menjadi nama lainnya.

Seperti pendamping Siva, Parvati juga memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu aspek lemah lembut, penyayang, dan berparas cantik, serta satu aspek lain adalah aspek menakutkan dan mengerikan.

Sebagai Parvati atau Uma dia dinyatakan dengan aspek yang lemah lembut, penyayang, penuh cinta kasih. Dimana dalam aspek ini, dia selalu bersama dengan Siva. Kemudian dalam aspek ini dia memiliki dua tangan, yang kanan memegang teratai biru, dan yang kiri menggantung bebas disebelahnya. Bila dinyatakan secara mandiri (Parvati Tunggal/tanpa Siva), dia tampak dengan empat tangan, dua tangan memegang taratai merah dan biru, sedangkan dua tangan yang lain memegang Varada dan Abhaya Mudra.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi pemahaman dan Sraddha Bhakti kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Orang-orang yang kurang cerdas, sering menertawakan dan mencela umat Hindu yang memuja Tuhan melalui Arca dan menganggapnya sebagai tahayul bahkan tak jarang diberi label musryik dan menyembah berhala. Padahal kita juga sama-sama tahu bahwa tidak ada satu agama atau keyakinan apapun yang ada di dunia ini yang tidak memuja Tuhan melalui simbol; seperti menggunakan arah/kiblat, suara, cahaya, arca, bangunan, gambar, bendera/panji-panji.

Arca adalah media yang sudah disakralisasi

Umat Hindu yang melakukan pemujaan melalui berbagai simbol atau niyasa/pratika termasuk melalui Arca-memiliki keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Ada juga bersemayam dalam simbol dihadapannya. Bagi umat Hindu arca bukanlah sekedar objek/sarana tambahan, tetapi merupakan bagian dari mekanisme batin dalam bhakti dan keyakinan.

Tentu saja semua puja yang dilakukan dengan gagasan bahwa arca tersebut hanyalah kayu/logam yang tidak bernyawa; benar-benar konyol dan amat membuang waktu. Tetapi bila hal ini dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa arca itu hidup penuh kesadaran dan kekuatan, bahwa Tuhan Yang Maha Segalanya, berada dimana-mana (vyapi vyapaka), meresapi segala yang ada (isvara sarva bhutanam) dan mengejawantah dalam tiap keberadaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak (visva virat svarupa), dan dengan keyakinan bahwa Tuhan merupakan kenyataan batin bagi semuanya berada didalamnya, maka pemujaan arca benar-benar bermanfaat dan membangunkan kesadaran Tuhan.

Seorang “Wamana” selama bertahun-tahun tidak pergi ke tempat ibadat manapun dan ia menertawakan orang-orang yang menganggap arca sebagai simbol Ketuhanan. Ketika putrinya meninggal, pada suatu hari ia memegang fotonya sambil menangisi kehilangan tersebut. Tiba-tiba saja ia tersadarkan bahwa bila foto itu dapat menyebabkan kesedihan padanya dan membawa air mata kerinduan-maka arca itu juga dapat menimbulkan kegembiraan dan membawa air mata bhakti pada mereka yang mengerti keindahan dan kemuliaan Tuhan. Simbol-simbol itu adalah alat untuk mengingatkan bahwa Tuhan hadir dimana-mana dan dalam segala sesuatu.

Hindu yang Ajarannya sangat Logis dan paling masuk akal, tentu memiliki banyak pijakan atau dasar Sastra, mengapa pemujaan Arca tersebut menjadi sahih. Penjelasan tentang archanam atau tatacara pemujaan arca sangat jelas disebutkan dalam Srimad Bhagavatam seperti yang dinyatakan Uddhava kepada Shri Krshna;

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.2:

etad vadanti munayo
muhur niḥśreyasaḿ nṛṇām
nārado bhagavān vyāsa
ācāryo ‘ńgirasaḥ sutaḥ.

Artinya:
Semua orang bijak/Rsi -Rsi mulia berulang kali menyatakan bahwa penyembahan semacam itu (archanam) membawa manfaat terbesar yang mungkin ada dalam kehidupan manusia. Inilah pendapat Nārada Muni, Vyāsadeva yang agung dan guru spiritual saya, Brhaspati (angirasah sutah).

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.3-4:

“niḥsṛtaḿ te mukhāmbhojād
yad āha bhagavān ajaḥ
putrebhyo bhṛgu -mukhyebhyo
devyai bhagavān bhavaḥ
etad vai sarva – varṇānām
āśramāṇāḿ ca sammatam
śreyasām uttamaḿ manye
strī – śūdrāṇāḿ ca māna – da.

Artinya:
Wahai Tuhan yang paling murah hati, pernyataan tentang proses penyembahan dalam bentuk arca ini dipancarkan dari bibir teratai Anda. Kemudian disampaikan oleh Brahmā yang hebat kepada putra-putranya yang dipimpin oleh Bhṛgu , Śiva menyampaikannya kepada saktinya, Pārvatī . Tatacara pemujaan seperti ini (archanam) diterima oleh semua lapisan masyarakat/warna dan semua tingkat kehidupan/asrama (sarwavarnam asramanam). Oleh karena itu, saya menganggap penyembahan kepada Anda dalam bentuk arca menjadi yang paling bermanfaat dari semua praktik spiritual, bahkan untuk wanita dan pelayan.

kemudian dipertegas lagi oleh pernyataan Krishna dalam sloka berikutnya :

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.9

“arcāyāḿ sthaṇḍile ‘gnau vā
sūrye vāpsu hṛdi dvijaḥ
dravyeṇa bhakti -yukto ‘rcet
sva – guruḿ mām amāyayā.

Artinya:
Seseorang yang telah didwijati harus menyembah-Ku dengan sepenuh hati, mempersembahkan berbagai perlengkapan persembahan yang sesuai dalam pengabdian penuh kasih kepada bentuk KeilahianKu sebagai arca atau bentuk DiriKu yang muncul di atas tanah, di api, di bawah sinar matahari, di air atau di dalam hati pemuja itu sendiri.

Jadi dengan Simbol atau Pengarcaan umat Hindu bisa menjumpai Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga bermanfaat bagi Keluasan pemahaman kita. Dan menguatkan Sraddha-Bhakti kita di jalan Dharma. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Kitab-kitab suci Veda baik Sruti, Smrthi, dan Nibandha adalah bagaikan pohon kalpataru atau kalpavreksa yang kita yakini akan mengabulkan semua harapan, cita-cita dan bahkan keinginan. Tentunya hal teesebut bergantung pada  Sejauh mana orang memahaminya. sejauh itu pulalah ia memperoleh manfaat darinya. 


Kalpavreksa-Pohon yang memenuhi segala harapan manusia


Seperti  mereka yang bermain pada riak ombak di tepi pantai, maka seperti itulah halnya dengan mereka  yang lebih mengarahkan pandangan pada hal-hal duniawi. Mereka menafsirkan amanatnya yang sangat suci ini secara lahiriah dan merekapun hanya mendapatkan krikil dan pasir, ia hanya akan memperoleh kesadaran lahiriah yang sementara. 

Kitab Veda-Sumber dan Gudang Kebijaksanaan

 
Tetapi mereka yang tangguh dalam kerohanian~yang mengarahkan pandangan ke dalam batin, akan tiada henti berjuang, menyelam hingga ke dasar yang paling dalam dan mendapatkan permata dan mutiara yang samgat berharga. Mutiara itu adalah kebenaran, kebijaksanaan, kedamaian dan cinta kasih sejati.

Mari kita luangkan waktu secara disiplin untuk membuka dan menengok serta menyelami nektar kemuliaan Veda. Dan kita patut angayubagia dilahirkan sebagai Hindu yang kaya raya akan sumber kebjiksanaan, yang tidak akan kita bisa jumpai di tempat lainnya. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Disampaikan penuh kasih oleh: I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Kata tertua adalah ONG, kata HONG adalah pengucapan logat untuk bahasa Nusantara luar Bali. Ciri bahasa Nusantara seperti kata ‘hujan’ dengan kata ‘ujan’. Kata AHUNG jika bunyi H di tengah kata dihilangkan akan menjadi AUNG lalu bunyi A dan U akan mengalami sandi menjadi O sehingga akan menjadi ONG. Jadi AHUNG adalah sama dengan ONG begitu pula HONG sama dengan ONG. Inilah yang disebut KUTAMAMTRA.
ONG-HONG-AHUNG dalam Susastra Sanskerta, Sunda Kuna dan Jawa Kuna juga disebut sebagai Brahmabija (Benih/Saripati Hyang Widhi/Tuhan atau Brahmavidya (Saripati Pengetahuan Sejati) atau Pranava (Yang Memberi Hidup setiap Ucapan/Bahasa)
ONG-HONG-AHUNG dalam bahasa yang mendasar dapat diartikan dengan: “Saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”.
“Sesungguhnya suku kata singkat ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana. Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”, demikian Chandogya Upanisad I.1.8 menjelaskan dengan sangat gamblang.
Pengucapan ONG-HONG-AHUNG, oleh siapa saja-sejatinya ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Sanghyang Paramesti Guru/Hyang Widhi. Penggunaannya bisa pada setiap mulai acara ritual, dan mengakhirinya.
Sumber rujukan lainnya: Chandogya Upanisad, Mandhukya Upanisad, Tantra Tatva Prakasa, Tantra Sara, Sevaka Dharma, Tutur Sanghyang Kamahayanikan, Tutur Kalepasan, Bhagavadgita,dan lain-lain.
Dalam catatan saya, Dalam Bahasa Sanskerta Penulisan konsonan ‘M‘ dengan tanda ‘titik’ diatasnya; ini dinamakan ANUSWARA, misalkan kata Om, Samsara, Samkhya, dan yang lainnya. Maka kata tersebut di Nusantara kemudian dibaca: ‘Om menjadi Ong’, ‘Samsara menjadi Sangsara’, ‘Samkhya menjadi Sangkhya’.
ONG-HONG-AHUNG
Semoga bermanfaat bagi kita semua

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
#KembaliKeLeluhur

#BahasaIbuNusantara

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Next Page »