Pustaka Hindu


​Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara” (Sebuah Telisik Pawisik Bathin)
Hung….Ahung

Sampurasun

Om Swastyastu
Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara.
Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama“Salokanagara / Salakanagara”. 

Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya :
* La = Hukum

* Hyang = Leluhur

* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8
Arti keseluruhannya ialah :  Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.
Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar. Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :
* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Naga = lambang penguasa darat & laut (samudra).

* Ra = Matahari
Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.
Demikian dapat saya ketengahkan, sebagai bahan renungan bahwasanya Peradaban Nusantara sedemikian hebatnya. Dan kewajiban bagi kita untuk terus menggali setiap SIRATAN makna dari Tanda~Tanda yang TERSURAT lewat simbol~simbol yang hingga kini masih bisa kita jumpai.
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu
♡ Jro Mangku Danu

* Diinspirasi Dari kitab: Yuganing Raja Kawasa.

​Sunda, Kujang, Keris, Nusantara dan Nagara  (Menyingkap Tabir Serpihan Sejarah Perjalanan Leluhur)
Hunggg…..Ahunggg

Om Swastyastu

Sampurasun

Hong Basuki Langgeng
Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara.

Peta Sunda


Sebenarnya negara kita memiliki beberapa nama, namun pada umumnya bangsa Indonesia hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirgantara” kemudian menjadi “Swargantara” lalu menjadi “Dwipantara” setelah itu menjadi “Nusantara” dan kini disebut “Indonesia”.

Lalu apa kaitannya dengan Kujang? Kenapa pula dianggap Kujang lebih tua dari Keris? dan apa sebabnya Kujang sering dikaitkan dengan Sunda? oleh sebab-sebab itulah kita harus melihat runtun kejadian di negara kita melalui catatan sejarah dan bukan mithos.

Pada dasarnya penggambaran Kujang itu sama dengan Garuda Pancasila di jaman sekarang. Artinya, kujang sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran kenegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (agama) bangsa. 
Kujang merupakan simbol “Api” (atau Ra = api kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi), dan kelak ketika negera ini mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim maka lahirlah bentuk Keris sebagai simbol Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi). 

Singkatnya, Kujang sebagai “Ra” dan Keris sebagai “Naga”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA, lalu kita menyebutnya sebagai NAGARA atau NEGARA.

Jaman Dirganta-Ra (Wilayah api kehidupan yang bercahaya) artinya Kujang dijadikan sebagai simbol Batara Durga (Api yang memberi kehidupan).
Jaman Swarganta-Ra (Wilayah kehidupan mandiri yang bercahaya) artinya Kujang = sebagai simbol Matahari (Sang Hyang Manon).
Jaman Dwipanta-Ra (Kehidupan Negeri Cahaya Kembar / Merah-Putih) artinya Kujang = sebagai simbol ajaran cahaya (merah/api/matahari) atau Salaka Domas, dan Keris = sebagai simbol negara air (maritim) atau Salaka Nagara artinya lahirnya konsep CAHAYA KEMBAR (Dwi) Naga dan Ra dengan simbol Kujang dan Keris atau Merah dan Putih (Vertikal dan Horisontal).
Maka itu sebabnya pula Prabhu Air Langga (tahun 1000 Masehi) disimbolkan mengendarai Garuda Wisnu (Menunggang seekor burung yang berdiri (bertumpu) di atas Naga/ular) yang mensiratkan era Banjaran Nagara.
Jaman Nusantara (Gerak/Kehidupan Manusa Cahaya) artinya menggambarkan lahirnya Panji Cahaya (Bende-Ra) sebagai lambang Negara (bendara Merah-Putih). Sebagai negara Maritim dalam era ini Keris lebih banyak berperan dibandingkan Kujang. Pada zaman ini dikenal sebagai era Pajajaran Nagara.
Jaman Indonesia (konsep negara Re-Publik), kerajaan diruntuhkan dan direbut atau dirampok oleh rakyat (Ra-Hayat).
* Kujang = simbol Batara Durga = simbol Dewa Api = simbol negara Matahari = simbol Salaka Domas = simbol Merah = Horisontal 
* Keris = simbol Dewa Air = simbol negara Maritim = simbol Salaka Nagara = simbol Putih = Vertikal
Dengan demikian makna “Bende-Ra” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” (bahasa  Inggris) sebab Merah-Putih adalah lambang kehidupan keagamaan dan kenegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan sistem tanda yang agung. Keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan sistem tanda untuk berkomunikasi, dan bangsa kita sudah melakukannya sejak ribuan tahun lalu….!
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu©

* Disarikan dari: Yuganing Raja Kawasa

Om Swastyastu

Tuhan sebagai Pribadi Tertinggi, pemilik dari sifat-sifat mulia yang tiada terbatas merupakan salah satu konsep yang paling fundamental dalam siddhanta-siddhanta theistik dalam Veda (kesimpulan ajaran yang sangat menekankan keberadaan Tuhan sebagai pusat penyembahan, pemujaan, pelayanan, dan pengabdian), dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa juga dikenal sebagai Ananta-kalyana-gunanidhi (samudera kemuliaan yang tiada terbatas).

Secara khusus pengutamaan atas aspek Pribadi (Personal) Tuhan merupakan sumbangan keinsafan Vaishnava bagi kekayaan konsep Ketuhanan dalam Hindu. Apabila Upanishad menjelaskan Parabrahman sebagai nirgunam atau tanpa sifat, menurut Vaishnava-siddhanta bukanlah berarti bahwa Brahman sungguh-sungguh tidak memiliki sifat apapun, namun hal ini bermakna bahwa Beliau tidak memiliki rupa dan sifat duniawi yang penuh kekurangan seperti makhluk fana atau heya-guna.

Nirguna juga bermakna bahwa Beliau sepenuhnya berada di atas pengaruh tiga sifat alam yaitu: kebaikan (sattvam), nafsu (rajas), dan kebodohan (tamas), dengan demikian Beliau disebut pula sebagai Trigunatita. Apabila kata nirguna ini diterima sebagai keadaan tanpa sifat apapun, maka akan timbul ketidaksesuaian di antara deskripsi sastra-sastra suci Veda.

Kontradiksi antar pernyataan Veda tidak boleh ada dalam penjelasan yang berasal dari perguruan-perguruan filsafat Vaishnava.

Pribadi Parabrahman berada dalam sifat kebaikan murni yang mutlak, non relatif, yang diistilahkan sebagai keadaan visuddha-sattvam, yang tidak mungkin hadir dalam diri mahluk terikat manapun.

image

Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan dalam terminologi Vaishnava, tidak pernah jatuh dari keadaan ini. Kitab suci menguraikan delapanbelas kekurangan atau sifat-sifat negatif yang tampak dalam diri roh terikat yaitu: jatuh dalam khayalan, rasa kantuk, tidak beradab, nafsu birahi, loba, kegilaan, irihati, kelicikan, meratap sedih, berusaha terlampau keras, kecenderungan menipu, amarah, ketakutan, berbuat kesalahan, ketidaksabaran, dan kebergantungan.

Kitab suci menyatakan dengan jelas bahwa sifat-sifat Tuhan sepenuhnya bebas dari segala kelemahan dan kekurangan ini. Maka dalam vaishnava siddhanta, heya-pratyanikatva atau tiadanya sifat-sifat duniawi merupakan salah satu indikasi pengenal (lingam) dari Kebenaran Mutlak Tertinggi, yang adalah merupakan kalyana-gunakaratva, pemilik sifat-sifat mulia yang tak terbatas.

Jadi dua hal ini, yaitu tiadanya kekurangan atau tiadanya sifat negatif dan penuh sempurnanya kemuliaan, merupakan dua indikasi (ubhaya-lingam) terpenting dari Parabrahman.

Dalam Vedanta, Nirguna dan Saguna tidak menyatakan dua Vastu (substansi) yang berbeda. Parabrahman adalah nirguna dalam artian heya-pratyanikatva dan saguna dalam artian kalyana-gunakaratva. (akhila-heya-pratyanika kalyanaikatana-svetara vastu vilakshana ananta jnana anandaika svarupa).

Demikian secara singkat dapat saya ketengahkan telaah Nirguna dan Saguna Brahman dalam dalam perspektif Vaishnava. Semoga menambah kazanah pemahaman kita terhadap KeESAaan Hyang Widhi. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)
Jakarta, 09/06/1998

DASYATNYA GETARAN DOA

Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Dua buah garputala (A & B) dihadap-hadapkan. Seorang siswa diminta untuk memukul garputala A. Sementara siswa lainnya mengamati apa yang terjadi dengan garputala B.

Saat itu saya sangat takjub. Bagaimana tidak, 2 garputala terpisah beberapa cm saling menggetarkan. Garputala A yang dipukul akan bergetar, sekaligus menggetarkan garputala B.

Yang lebih mengesankan, saat jumlah garputala ditambah. Bunyinya saling menguat dan terdengar semakin keras.
Seluruh siswa, termasuk saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Guru sains menjelaskan bahwa garputala A & B itu bisa saling menggetarkan, karena keduanya memiliki frekuensi sama.
Semakin banyak garputala (dengan frekuensi sama), makin keras bunyi yang dihasilkan.
Penjelasan sang guru bertahun-tahun lalu itu memotivasi utk menyelidiki lebih jauh.

image

by: Jro Mangku Danu

Hasilnya:
Oh….. ternyata tidak hanya garputala, namun seluruh isi alam semesta ini akan saling menggetarkan, bila memiliki frekuensi sama. Ya… SELURUH ISI ALAM SEMESTA, apa pun dan siapa pun.
___________
Bila kitaberpikir positif / berniat baik, maka kita akan mengirim pikiran positif / niat baik ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran baik / niat baik lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Sebaliknya, bila kita berpikir negatif / berniat jahat, maka kita akan mengirim pikiran negatif /niat jahat ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran negatif / niat jahat lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Itulah mengapa saat kita berpikir positif / berniat baik, kita akan dijumpai/ didekati oleh orang yang berpikiran sama dengan kita dan akan didekati dan didoakan oleh para Siddha Dewata atau Roh-Roh terang.

Sebaliknya, saat kita berpikir negatif / berniat jahat, kita akan dijumpai dan didekati oleh iblis, bhuta kala, setan dan para pengikutnya

Begitulah hukum SALING GETAR.

Hukum ini yang dimanfaatkan para pelaku teluh, santet, guna-guna dan semacamnya.
Tapi tenang, selama frekuensi kita tidak sama dengan frekuensi penyantet, maka kita tidak bisa disantet

Inilah yang perlu diketahui bahwa:

DOA.
Berdoalah yang baik-baik, agar kita MENGGETARKAN yang baik juga.

image

Namun, ada hal tambahan mengenai doa ini. Begini… berapa banyak kita berdoa seperti ini: “Tuhan… berilah SAYA ini… berilah SAYA itu…dan sebagainya.”

Saya yakin banyak diantara kita yang berdoa seperti itu, “hanya untuk saya…..”

Doa seperti itu tak salah, tapi TERLALU SEDIKIT Yang DIGETARKAN.!

Maksudnya? Kita jangan terlalu banyak berdoa untuk diri kita sendiri. Kok begitu?

Karena kalau kita berdoa untuk diri sendiri, maka KITA TAK PERNAH MENGGETARKAN SESUATU KE SESEORANG di luar sana

UBAH DOA KITA!

Berdoalah buat kedua orang tua kita, kerabat, sahabat, teman dan tetangga kita.

Kirimkanlah doa-doa kepada orang orang disekitar kita, komunitas, lingkungan kerja, tempat tinggal, kumpulan kita dan kepada siapa pun, dikenal maupun tidak.

Tahu apa yang akan terjadi terjadi?

SEMUA AKAN TERGETAR DAN SALING RESONASI MENGUATKAN.

Dan berita baiknya, bila kita berdoa bukan untuk diri kita sendiri, tapi berdoa untuk orang lain adalah kita DIDOAKAN KEMBALI OLEH PARA SIDDHA DEWATA dan ROH-ROH TERANG.

BEGITU KITA MERUBAH DOA KITA UNTUK ORANG LAIN TANPA SEPENGETAHUAN ORANGNYA MAKA DOA KITA AKAN BERGETAR KEMBALI KEPADA KITA.

Maka tidak bisa dibayangkan kalau kita semua saling mendoakan yang baik buat siapa pun, buat kota, buat negeri kita dan sebagainya, maka alam semesta ini akan dipenuhi dan diliputi gelombang frekuensi yang baik.

Semoga renungan ini, mampu menggetarkan doa-doa kita kepada siapa saja. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om

🙏DOA ADALAH SUMBER KEKUATAN🙏

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Ketika orang yang tidak mengerti prinsip kerja Dharma, ia akan melakukan hal yang tidak seharusnya, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi karma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untuk kita atau para malaikat dan dewa penjaga melindungi kita atau hari yang menguntungkan menolong kita. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika kita percaya, kita akan menderita. Kita akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Kita akan menderita walau hanya dengan cara itu.

image

Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan kita, dalam Karma kita sendiri. Melakukan perbuatan baik, kita akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, kita akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, kita membiarkan karma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, kita hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (karma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Sebagai contoh dari kita telah datang dari tempat yang bermil-mil jauhnya, untuk mencari, mendengarkan melaksanakan Dharma ke suatu pura. Berpikir bahwa kita telah datang dari tempat yang sangat jauh dan melewati banyak rintangan untuk ke pura tersebut. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok pura tersebut tetapi belum pernah memasuki pagar pura tersebut. Jika kita renungkan hal ini, tentunya akan membuat kita semakin menghargai karma baik bukan?

Ketika kita melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi kita untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kita dapat melihat diri kita sendiri. Bahkan jika kita masuk kedalam lubang yang dalam, kita tetap akan menemui diri kita sendiri disana. Tidak mungkin kita melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa kita tidak melihat kesucian sendiri? Kita akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, kita akan melihat ini semua untuk kita sendiri. Karena tiada hal yang lebih Valid, yang lebih Sahih selain Hukum Kausal bernama Hukum Karmaphala ini.

Semoga renungan singkat ini, memberikan kita arah dan petunjuk yang semakin jelas-ke arah mana bidak kehidupan ini mesti kita arahkan. Semua tergantung pada diri kita sendiri, karena saat ini Kunci itu sudah berada di Tangan kita masing-masing. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu

“Jika ibu wajahnya selalu memancarkan keceriaan, seluruh rumah tangga berbahagia, tetapi jika wajahnya cemberut,semuanya akan kelihatan suram”. (Manavadharmasastra, III.62)

Setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari Ibu~sebagai penghormatan atas jasanya kepada putra-putrinya yang telah melahirkan bangsa ini. Bila kita membicarakan ibu, maka perhatian kita pada sebuah keluarga (keluarga inti) yang terdiri dari ibu, bapak dan anak-anak. Keluarga merupakan tahapan hidup yang kedua bagi setiap orang. Tahapan yang pertama disebut Brahmacari, yakni menuntut ilmu pengetahuan selaras pula dengan perkembangan jasmani dan rohani manusia. Ketika ia mencapai kematangan jasmani dan rohani, mereka memasuki kehidupan berumah tangga yang disebut Grhastha asrama. Kehidupan keluarga ini dimulai dengan upacara perkawinan (Vivaha). Perkawinan tanpa upacara (Vivaha tan sinangaskara) tidak dibenarkan dalam agama Hindu dan diyakini sebagai dosa yang membuat kehancuran rumah tangga dan masyarakat. Untuk lebih memahami tentang peranan ibu dalam mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia, terlebih marilah kita tinjau makna dari perkawinan menurut kitab-kitab Manavadharmasastra, yaitu :

1. Dharmasampati;  suami istri secara bersama-sama melaksanakan ajaran Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban hidup sesuai dengan ajaran agama.
2. Praja; suami istri mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang suputra, berkualitas yang akan melajutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur.
3. Rati; suami istri dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma (kebenaran).

Bila setiap rumah tangga dapat mewujudkan ketiga hal tersebut di atas, maka kesejahtraan dan kebahagiaan akan dapat diwujudkan rumah tangga itu. Dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya dinyatakan bahwa hubungan antara suami- istri dinyatakan sebagai satu jiwa dalam dua badan :

“Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri, penuh keindahan. Hendaknya senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian. Mereka stu jiwa bagi keduanya” (Atharvaveda VII.36.1).

Selanjutnya kitab Manavadharmasastra menyatakan: Hendaknya suami istri tidak jemu-jemunya mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagiaan rumah tangga.

“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, tidak jemu-jemunya mengusahakan dan mewujudkan agar mereka tidak bercerai, mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan dan jangan melanggar kesetiaan antara yang satu dengan yang lainnya”.(Manavadharmasastra, IX.102).

“Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus diyakini sebagai hukum yang tertinggi bagi suami-istri”.
(Manavadharmasastra, IX.101).

“Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula istri terhadap suaminya, di sana kebahagiaan pasti kekal abadi”. (Manavadharmasastra, III.60).

Suami dan istri diamanatkan oleh Tuhan Yang Mahaesa dalam kitab suci Veda untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan mengikuti jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku), memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sendiri dan hidup dengan sejahtra dan bahagia di dalamnya:

“Wahai suami dan istri hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukan tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya”.  (Atharvaveda XIV.2.43).

Terjemahan mantra Veda ini sangat relevan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini. Seseorang yang telah siap untuk memasuki rumah tangga harus mampu mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Untuk bisa mandiri, seseorang hendaknya memiliki penghasilan yang tetap dan untuk itu peranan pendidikan dan kerja keras yang juga senantiasa ditekankan dalam kitab suci Veda mengantarkan orang dapat mandiri. Demikian pula untuk memiliki putra-putri yang perwira, suputra atau berkualitas, setiap keluarga bila sepenuhnya mengikuti ajaran agama (termasuk disiplin dalam hubungan suami sitri), putra- putri yang dicita-citakan akan lalhir pada keluarga itu. Di sinilah agama berperanan penting dalam menyiapkan SDM atau generasi yang berkualitas sesuai harapan setiap keluarga. Idealnya dalam setiap keluarga, suami sebagai kepala rumah tangga (disebut Grhapatya, Grhapati atau disingkat dengan Pati) sedang istri adalah ratu rumah tangga yang disebut Rajni atau Patni. Suami istri sering disebut Patipatni atau Dhampati. Sebelum membahas perana ibu dalam mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagian, marilah kita tinjau tugas suami sebagai kepala rumah tangga dan ayah bagi anak-anaknya .

Di dalam Manavadharmasastra IX.2,3,9 dan 11 dapat dirangkumkan sebagai berikut :

a. Suami wajib melindungi istri dan anak-anak serta memperlakukan istri dengan wajar dan hormat. Wajib memelihara kesucian hubungannya dengan saling mempercayai sehingga terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.

b. Suami hendaknya menyerahkan harta kekayaannya dan menugaskan istrinya untuk mengurusnya juga urusan dapur, upacara agama dalam rumah tangga dan dalam upacara-upacara yang besar bersama suaminya.

c. Suami berusaha menjamin kehidupan istrinya serta memberikan nafkah, terutama bila dalam suatu urusan atau ketika ia harus melaksanakan tugas ke luar daerah.

d. Suami wajib menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama menjamin kesucian peribadi dan keturunannya serta menjauhkan diri dari segala unsur yang mengakibatkan perceraian.

e. Suami hendaknya selalu merasa puas dan bahagia bersama istrinya karena bila dalam rumah tangga suami istri selalu merasa puas, maka rumah tangga itu akan terpelihara kelangsungannya.

f. Suami wajib menjalankan Dharma Grhastha dengan baik, Dharma kepada keluarga (Kula Dharma), terhadap masyarakat dan bangsa (Vamsa Dharma) serta wajib mengawinkan putra-putrinya pada waktunya.

g. Suami berkewajiban melaksanakan Sraddha, Pitrapuja kepada leluhurnya, memelihara anak cucunya serta melaksanakan Yajna. Demikian antara lain tugas dan tanggung jawab suami sebagai Bapak atau sebagai kepala rumah tangga. Bila dilaksanakan dengan baik, kelangsungan dan kebahagiaan rumah tangga atau keluarga akan dapat diwujudkan.

Peranan Ibu dalam keluarga Di dalam Vanaparva Mahabharata (VIII.29) terdapat dialog antara Yudhistira dengan Yaksa yang menanyakan apakah yang lebih berat dari pada bumi dan lebih tinggi dari langit. Yudhistira menjawab : Ibu lebih berat dari bumi dan ayah lebih tinggi dari langit. Penjelasan yang sama dapat kita jumpai dalam Sarasamuccaya 240. Mengapa ibu dilambangkan dengan bumi dan ayah dengan langit. Pengorbanan ibu demikian besar dan tulus.Masyarakat Bali membandingkan saat seorang ibu melahirkan seperti tergantung pada sehelai rambut, sangat berbahaya dan bila salah sedikit ibu atau bayi atau keduanyapun akan korban. Penderitaan ibu saat melahirkan dari ibu tiada taranya. Seorang anak mungkin bisa melupakan kasih ibunya, tetapi seorang ibu tidak akan tidak mencintai anaknya :

“Demikianlah Ibu, dalam kasih sayang kepada anaknya sama rata, sebab baik anaknya mampu atau tidak mampu, yang baik budi pekertinya atau yang tidak baik, yang miskin atau kaya, anak-anaknya itu semua dicintai dan dijaganya, diasuhnya mereka itu, tidak ada yang melebih kecintaan ibu dalam mencintai dan mengasuh anak-anaknya”. (Sarasamuccaya 245).

Di dalam kitab suci Veda, suami hendaknya mengucapkan janji dan harapan kepada istrinya sebagai berikut: “Wahai istriku menjadilah pelopor dalam hal kebaikan, cerdas, teguh, mandiri, mampu merawat dan memelihara rumah, senantiasa taat kepada hukum seperti halnya bumi pertiwi. Aku memilikimu untuk kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga” (Yajurveda XIV.22).

“Seorang istri sesungguhnya adalah seorang cendekiawan dan mampu membimbing keluarganya”. (Rgveda VIII.33.19).

Seorang wanita, istri atau ibu juga diminta berpenampilan lemah lembut :

“Wahai wanita, bila berjalan lihatlah ke bawah, jangan menengadah dan bila duduk tutuplah kakimu rapat-rapat”.(Rgveda VIII.33.19).

“Wahai istri, tunjukkan keramahanmu, keberuntungan dan kesejahtraan, usahakanlah melahirkan anak. setia dan patuhlah kepada suamimu (Patibrata), siap sedialah menerima anugrah-Nya yang mulia”. (Atharvaveda XIV.1.42).

“Wahai para istri, senantiasalah memuja Sarasvati dan hormatlah kamu kepada yang lebih tua”. (Atharvaveda XIV.2.20).

“Hendaknya istri berbicara lembut terhadap suaminya dengan keluhuran budi pekerti”. (Atharvaveda , III.30.2).

Sesungguhnya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga tidaklah semata tanggung jawab ibu, istri atau suami saja, tapi kedua belah pihak berusaha mewujudkan hal tersebut :

“Wahai suami istri, binalah keluhuran keluarga, bekerjalah keras untuk meningkatkan kesejahtraan hidupmu. semoga kemashuran dan kekayaan yang engkau peroleh memberikan kebahagiaan”. (Rgveda V.28.3).

“Wahai suami-istri, tekunlah dan tetaplah laksanakan kebajikan, hanya orang yang memiliki Sradha (keimanan) yang teguh akan sukses di dunia ini”. (Atharvaveda VI.122.3).

Suami istri tidak dibenarkan terlalu menurutkan hawa nafsunya dan senantiasa tekun untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan : “Hendaknya dorongan nafsu seksual tidak menodai kesucian pribadi” (Atharva istri tahan ujilah kamu, rawatlah dirimu, lakukan tapa brata, laksanakan Yajna di dalam rumah, bergembiralah kamu, bekerjalah keras kamu, engkau akan memperoleh kejayaan”.  (Yajurveda XVII.85).

“Jadikanlah rumahmu itu seperti sorga, tempat pikiran-pikiran mulia, kebajikan dan kebahagiaan berkumpul di rumahmu itu”. (Atharvaveda VI.120.3).

“Hendaknya dewi kemakmuran bersedia tinggal disini, tempat yang menyenangkan di rumah ini, dalam keluarga dan juga pada ternakmu”. (Yajurveda VI.120.3).

Di dalam berbagai susastra Hindu banyak dijumpai petunjuk-petunjuk untuk mewujudkan keharmonisan, kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga. Kunci keberhasilan untuk mencapai hal itu adalah kerja keras dan tekun melakukan kebaktian kepada Tuhan Yang Mahaesa. Memperhatikan uraian tersebut di atas, ibu sangat menentukan (bersama bapak) dan sangat berperanan dalam mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga. Menurut tradisi Hindu, ada 6 jenis ibu yang patut dihormati seperti ibu kandung sendiri, yaitu:
1. Ibu kandung yang melahirkan,
2. Bidan atau dukun yang membantu ibu melahirkan.
3. Istri guru yang memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
4. Istri pejabat (pemerintah) yang turut serta membangun kesejahtraan kesejahtraan rakyat.
5. Sapi yang membantu petani dalam mengolah tanah dan memberikan susu.
6. Ibu Pertiwi, bumi tercinta yang memberikan kesejahtraan kepada semua makhluk.

Demikian antara lain peranan seorang ibu dalam mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga.

Om Dirgayur astu tat astu svaha.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma ( Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Bhagavad-Gītā, Adhyaya  IX.32:

māṁ hi pārtha vyapāśritya, ye ‘pi syuḥ pāpa-yonayaḥ
striyo vaiśyās tathā śūdrās, te ‘pi yānti parāṁ gatim

Artinya:
Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi.
__________
O son of Pṛthā, even for very sinful people, labours, farmers, merchants and women, but by fully sheltering on Me then they will reach the ultimate destination.

Makna Kekinian:
Disinilah tercermin Kerendahan Hati Yang Maha Kuasa, tercermin juga KemurahanNya dan KasihNya. Memang Yang Maha Esa ini Maha Pemurah dan Penyayang sehingga jalan kepadaNya terbuka untuk siapa saja yang menginginkannya secara tulus. Adalah salah kalau ada anggapan bahwa hanya  Brahmana atau Ksatrya saja yang dapat mencapaiNya. Itu hanya ilusi dan peraturan buatan manusia saja, yang penuh dengan rasa egois, keserakahan, dan angkara, yang justru bertentangan dengan ajaran Bhagavad Gita dan ajaran-ajaran Hindu lainnya. Semua orang maupun mahluk tanpa kecuali dapat pergi dan sampai kepadaNya, karena Ia milik semuanya tanpa diskriminasi, apalagi seseorang yang menyalakan pelita di dalam hatinya untukNya semata tanpa pamrih.

Demikian kupasan singkat Sloka ke-32 dari Adhyaya IX Ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita pribadi yang selalu optimis, karena semua entitas dapat Manunggal dengan Tuhan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 317 other followers