Pustaka Hindu


Oleh: I Wayan Sudarma

Oṁ Swastyatu

A. Pendahuluan

Hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap orang, karena manusia tidak dapat hidup dalam kesendirian. Hidup bersama dalam masyarakat memerlukan pengorbanan dan saling pengertian. Tanpa kesediaan berkorban dan saling pengertian, maka hidup manusia akan mencemaskan, pada saat itu akan berlaku “matsyanyāya”, yakni, hukum rimba, yang kuat mengalahkan yang lemah. Kata “matsya nyāya”, mengandung arti kehidupan seperti ikan di samudra luas. Umumnya ikan yang kuat dan besar akan mudah saja menelan yang kecil, tetapi bila yang kecil bersatu dalam satu kelompok yang besar, maka ikan besarpun tidak akan berani menghampirinya. Matsya nyāya tersebut mengamanatkan pula betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih lagi dalam berbangsa dan bernegara.

B. Hakikat Penjelmaan

Hidup manusia menurut ajaran Hindu adalah untuk memperbaiki diri, memperbaiki karma-karma buruk yang dilakukan sebelumnya. Mahāṛṣi Vararuci dalam Sārasamuccaya (2-8) mengamanatkan, hanya dengan melaksanakan perbuatan baik, dapat melenyapkan pahala dari Karma atau perbuatan-perbuatan buruk di masa yang silam, oleh karena itu setiap orang hendaknya memanfaatkan penjelmaan ini untuk memperbaiki dirinya.

Tentang kelahiran sebagai manusia, mahaṛṣi Vararuci yang dikenal pula dengan Katyāyana di dalam Sarasamuccaya ( 8,9,10,11,19 ) menyatakan:

“Kelahiran menjadi orang (manusia) pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan kerdipan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh, oleh karena itu, gunakanlah kesempatan menjelma menjadi manusia ini, untuk merealisasikan Dharma, yang akan membebaskan dari proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga” (8)

“Seseorang yang memperoleh kesempatan menjelma sebagai manusia, ingkar dengan perbuatan Dharma (wimukha ring Dharma Sadhāna), sebaliknya amat suka mengejar harta, kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut tersesat, menyimpang dari jalan yang benar”. (9)

“Ia yang menjelma sebagai manusia, meskipun ia telah memperdalam ajaran Dharma, namun tidak terlepas dari proses lahir dan mati, orang yang semacam itu, masih sengsaralah namanya”. (10)

“Dalam mencari harta dan kepuasan nafsu, hendaknya selalu dilandasi Dharma, jangan sekali-sekali berbuat bertentangan dengan Dharma” (11)

“Adalah orang yang tidak ragu-ragu, hatinya tetap teguh untuk berpegang dan meralisasikan ajaran Dharma. orang itu hatinya sangat bahagia” (19)

Pedoman untuk memperbaiki diri telah diturunkan-Nya melalui berbagai agama dan kepercayaan, tinggal kepatuhan dan ketaatan umat manusia untuk mengikutinya. Bila ajaran agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa direalisasikan (diwujudnyatakan) dengan baik, maka ketentraman masyarakat akan terwujud. Sesungguhnya bila kita memperhatikan dengan seksama, kebaikan agama terletak pada penganutnya, yakni apakah ajaran yang dianut tersebut telah dilaksanakan dengan baik, dan hal ini benar-benar terwujud maka ketentraman dan kesejahtraan hidup baik dalam keluarga maupun masyarakat akan menjadi kenyataan.

C. Menjadi Saksi Yang Jujur

“Sadhukari sadhur bhavati pāpākari pāpobhavati, punyah punyena karmanā bhavati, pāpāh pāpena, athau khalv āhuḥ, kāmamaya evāyam puruṣa iti, sa yathākāmo bhavati, tat kratur bhavati, yat kratur bhavati, tat karma kurute, yat karma kurute, tat abhisampadyate” – ‘Seseorang akan menjadi baik hanya dengan berbuat kebaikan, seseorang menjadi jahat karena berbuat jahat , yang lain dari pada itu mengatakan bahwa seseorang itu terdiri dari nafsu. sebagai pula nafsunya demikian pulalah keinginannya, sebagai pula keinginannya, begitu pulalah perbuatan yang dia lakukan, tindakan apapapun yang dilakukan, pahala itu pulalah yang diperoleh. ( Bṛhadāranyaka Ūpaniṣad IV. 4.5)

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, bahwa yang dimaksud dengan Karma adalah perbuatan yang dilakukan seseorang baik atau buruk, benar atau salah tidak dapat dipungkiri pasti akan berpahala baik pada waktu hidupnya kini atau dalam penjelmaan atau kehidupannya yang akan datang. Perbuatan yang merupakan suatu rangkaian atau rentangan yang panjang ini akan berakhir bila seseorang telah dapat bersatu dengan Brahmān.

Berkaitan dengan pemberian kesaksian di depan sidang pengadilan, jika seseorang dapat memberikan kesaksian dengan jujur tentunya akan mendatangkan pahala karma kebaikan bagi yang bersaksi tersebut. Hal ini juga di jelaskan dalam kitab Svetāsvatara Ūpaniṣad VI. 4:

”Arabhya karmani guna vitani, bhavams ca sarvan viniyojayed yah, tesam abhave kṛta-karma-nasaḥ karmaksaye yati sa tattvato’nyaḥ ”- (Siapa yang melaksanakan kerja sesuai dengan sifat-sifat-Nya, dengan meletakkan hasilnya kepada Brahmān, maka hal itu berarti aktivitas kerjanya berhenti. Dengan berhentinya aktivitas kerjanya yang demikian itu, maka ia telah dapat manunggal dengan Brahmān).

Jadi menurut Ūpaniṣad tersebut di atas, seseorang akan dapat memutuskan rangkaian hukum sebab akibat (Karma) bila seseorang telah dapat melaksanakan kerja atau aktivitas sesuai dengan sifat-sifat-Nya dan bersatu dengan Brahmān. Dilihat dari pahala perbuatan yang dilaksanakan, maka Karma dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Karma yang baik atau Punyakarma (Sadhukari) dan Karma yang tidak baik (Papakarma) atau Papakari.

“Bhadram karnebhih sṛnuyāma deva, bhadram pasyemaksabhir yajatrah, sṭhirair anggais tustusvamas, tanubhir vyasemahi deva hitam yad ayuh” – Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah karuniaMu supaya kami dapat mendengar yang baik dari telinga kami, selalu melihat yang baik dengan mata kami, berikanlah kekuatan badan yang sehat supaya kami selalu dapat mengatakan kebenaran dan memujaMu dan sesuai dengan karma kami mendapatkan hidup yang lengkap dan tidak meninggal sebelum waktunya. (Yajurveda. 25.21)

 “Śata hasta samā hara sahasrahasta sam kira, kṛtasya kārya’sya cehasphārti samavaha “ – Bekerjalah kamu dengan seratus tanganmu, berdana punia (bersedekah)lah kamu dengan seribu tanganmu. Bila kamu bekerja dengan kesungguhan dan kejujuran (baik dalam pikiran, ucapan dan perbuatan), hasil yang diperoleh berlimpah ruah, beribu kali. Bagi yang mendermakannya sesuai dengan keperluan,Tuhan Yang Maha Esa akan menganugrahkan rakhmat-Nya. (Atharvaveda III.24.5).

”Subhāsubha phalair evam moksyase karma bandhanaih, Samnyāsayoga yuktāmā vimukto mām upaisyasi” – Dengan berkerja (baik dalam pikiran, berkata-kata, dan berbuat) sebagai bhakti kepada Aku, engkau terlepas dari belenggu Karma yang membawa pahala baik dan buruk. Dengan pikiran terpusatkan pada keikhlasan kerja,engkau akan bebas dan mencapai Aku. (Bhagavadgītā IX.28).

Demikian beberapa sloka yang mengisyaratkan kepada kita sebagai umat Hindu agar selalu dapat mengatakan kebenaran, yang harus kita dilakukan sepanjang hidup, karena Karma ini mempengaruhi kehidupan dan kelahiran seseorang di masa yang akan datang, termasuk ketika kita dijadikan sebagai saksi. Aopa yang kita katakan akan menentukan ke mana kita akan pergi (mencapai Moksa, ke sorga atau ke neraka dan terlahir kembali ke dunia dalam berbagai tingkatan kehidupan). Berikut kami kutipkan uraian pengaruh Karma terhadap kelahiran seseorang:

“Mereka yang melakukan perbuatan baik di sini akan segera memperoleh kelahiran yang baik, kelahiran sebagai Brāhman, kelahiran sebagai Kstriya atau kelahiran sebagai Vaisya. tetapi mereka yang perbuatannya di sini jahat, kelahirannya sebagai anjing, babi atau Cāndala” (Chāndogya Ūpaniṣad V.10.8).

Kitab Sarasamuccaya (110) secara tegas menyatakan: “Sifat-sifat dan sikap berikut hendaknya ditingalkan (oleh setiap orang), yaitu: tidak percaya adanya dunia akhirat, tidak percaya terhadap Karmaphala, mencela kitab suci Veda, menista atau mengejek para dewa, irihati, suka memuji diri sendiri, angkara, pemarah, sifat bengis, suka mendengar yang tidak patut didengar, sedemikian banyak yang harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dari dalam pikiran”, apalagi ucapan dan tindakan.

 

D. Simpulan dan Penutup

Berdasarkan uraian tersebut dapat kami simpulkan bahwa dapat bersaksi dengan jujur dan berani mengatakan kebenaran merupakan kewajiban hidup yang jika dilaksanakan akan mendatangkan pahala kemuliaan yang tidak boleh diragukan lagi. Menjadi saksi yang jujur merupakan kewajiban umat Hindu yang hendaknya senantiasa dipegang dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara, dengan demikian keluarga dan masyarakat yang sejahtra dan bahagia dapat diwujudkan.

Demikian materi Dharma wacana ini kami sampaikan untuk dapat dikembangkan di lapangan.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ

Bekasi, 23 Januari 2008

* Bahan masukan untuk KPK

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

A. Pendahuluan

Situasi nasional dewasa ini cukup memperihatinkan. Untuk itu kesabaran dan usaha untuk membina ketahanan mental patut terus-menerus diupayakan. Lingkungan kerja dan lingkungan sosial perlu dicermati, sebab, bila kurang waspada, kita akan terseret kepada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Usaha mengadakan pembinaan mental spiritual ini merupakan langkah yang positif mengantisipasi perkembangan atau situasi saat ini. Hal yang penting dalam usaha untuk meningkatkan kesadaran umat turut serta dalam pengungkapan kebenaran adalah dengan sebanyak-banyaknya mensosialisasikan ajaran-ajaran kebenaran yang berkaitan dengan perlindungan saksi dan korban. Karena ajaran agama pada hakekatnya memberi motivasi, mendorong umat manusia untuk memilih yang baik dan benar, menghindarkannya dari perbuatan yang tidak baik dan keliru, di samping hal yang terpenting bagi umat manusia adalah dengan mengamalkan ajaran agama dengan baik, mereka yang mengamalkannya akan mengalami perubahan perilaku, transformasi diri, sebab bila agama belum mampu mengubah perilaku seseorang, berarti ajaran agama tersebut belum diamalkan dengan baik. Tulisan singkat ini diharapkan adanya perubahan paradigma pada umat Hindu kaitannya dengan peran sertanya dalam pengungkapan kebenaranan, sebagai salah satu kewajiban sebagai wraga negara. Perilaku ini sangat penting diupayakan, sebab dengan prilaku yang baik, seseorang akan memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Perubahan perilaku diarahkan untuk meningkatkan keimanan (Sraddhā), dan dengan Sraddhā yang mantap kepada-Nya, Hyang Widhi selalu memberi perlindungan dan menganugrahkan kemakmuran, ketentraman dan kebahagiaan hidup.

B. Pahala Bagi Pengungkap Kebenaran

“Vacika nimitanta menemu sukha, Vacika ninitanta manemu mitra, Vacika ninitanta manemu duhka, Vacika ninitanta pati kapangguh” -Melalui ucapan engkau bisa mendapatkan bahagia, dengan ucapan engkau dapat memperoleh sahabat, dengan ucapan derita didapat, dan dengan ucapan pula kematian bisa didapat.

Ungkapan sloka tersebut di atas mengisyaratkan bahwa jika manusia hendak mendapatkan kebahagiaan, kemakmuran dan banyak sahabat adalah melalui ucapan yang disampaikannya. Dan tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan kebahagiaan, kemakmuran dan meiliki banyak sahabat.

“ Kayena manasa waca yad abhisanam nisevyate, Tadevapaharatyenam tasmat kalyanam acaret” – Yang menyebabkan orang itu terkenal adalah tingkah lakunya, buah pikirannya, ucapan-ucapannya, hal itulah yang diperhatikan oleh seseorang; oleh karena itu berbuat baik supaya dibiasakan dalam perbuatan, perkataan, (dan) pikiran. (Sarasamuccaya 77)

“ Yad dvayoranyor vetha karye’sminscestitam mithah, tad bruta sarvam satyena yusmakam hyata saksita” – Apa yang kamu kerjakan dan ketahui, katakanlah semua itu sesuai dengan kenyataan (kebenaran) karena kamu sebagai pelaksana dan saksi dalam hal ini. (Manavadharmasastra, VIII.80)

“Avak sirasramasyandhe kilbisi narakam vrajet, yah prasnam vitatham bruyat prstah sandharma niscaye” – Jatuh terjungkir ke neraka, bagi mereka yang memberi laporan palsu demi kepentingannya, lebih-lebih dalam sidang pengadilan ketika diadili (Manavadharmasastra, VIII.94)

 “Hanti jatanajatasca hiranya arthe’nrtam vada, sarvam bhumya’nrte hanti masma bhumya’nrtam vadih” – Dengan berkata bohong dan membuat laporan palsu untuk, memperoleh harta kekayaan, serta melakukan perbuatan yang tidak terpuji, merupakan dosa yang amat besar, oleh karena itu hati-hatilah dengan, keterangan palsu tentang harta. (Manavadharmasastra, VIII.99)

“Na vrtha sapatham kuryat svalpe’pyarthe naro budhah, vrtha hi sapatham kurvat pretya ceha ca nasyati” – Orang-orang arif bijaksana hendaknya jangan memberi keterangan palsu, walaupun dalam hal yang sangat menakutkan sekalipun, sebab mereka yang membuat keterangan palsu akan menderita, rusak namanya di dunia ini dan akhirnya masuk ke alam neraka. (Manavadharmasastra, VIII.111)

“Lobham mohad bhayan matrat kamat krodhat tathaiva ca, ajnanadbala bhavaca saksyam vitatham ucyate” – Laporan/keterangan yang disajikan karena sifat serakah, loba, kebingungan, karena persekongkolan, karena nafsu marah, kebodohan, dinyatakan tidak berlaku, hendaknya diulang dengan, keterangan yang sejujurnya, jika menginginkan hidup bahagia dan tenang. (Manavadharmasastra, VIII.118)

Dalam ajaran agama Hindu baik dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu yang lain kita temukan banyak ajaran yang mendorong umat manusia bekerja keras, berbuat kebaikan, mengatakan kebenaran yang dilandasi dengan keimanan atau Sraddhā dan Bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa. Kerja adalah suatu keharusan, sebab Tuhan Yang Maha Esapun tiada henti-hentinya menggerakkan hukum kemaha kuasaan-Nya. Perhatikanlah kutipan kitab suci Bhagavadgītā berikut: ”Utsīdeyur ime lokā na kuryām ced aham, sangkarasya ca kartā syāmupahanyām imāh prajah” – Jika sedetik saja Aku tidak bekerja alam semesta ini akan hancur lebur. Kalau Aku berbuat demikian, berarti Aku menyebabkan kehancuran umat manusia dan menghancurkan kedamaian semua makhluk. (Bhagavadgītā III.24).

Demikian pula mengatakan kebenaran adalah sebagai salah satu wujud kewajiban (kerja) yang mesti dilakukan oleh setiap orang. Seperti yang tersirat dalam Bhagavadgītā IX.27: ”Yat karosi yad asnāsi yaj juhosi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kurusva madarpanam – Apapun yang kau kerjakan, kau makan kau persembahkan, kau dermakan dan disiplin diri apapun yang kau laksanakan, lakukanlah wahai Arjuna sebagai bhakti kepada Aku.

”Subhāsubha phalair evam moksyase karma bandhanaih, Samnyāsayoga yuktāmā vimukto mām upaisyasi – Dengan berkerja sebagai bhakti kepada Aku, engkau terlepas dari belenggu Karma yang membawa pahala baik dan buruk. Dengan pikiran terpusatkan pada keikhlasan kerja,engkau akan bebas dan mencapai Aku. (Bhagavadgītā IX.28).

”Na rte srātasya sakhyāya devāh – Tuhan Yang Maha Esa hanya menyayangi orang yang bekerja keras. (Rgveda IV.33.11)

”Mā no nidrā īsata mota jalpih” – Hendanya sifat penidur tidak mengusai kami, juga kebiasaan omong kosong. (Rgveda VIII.48.14).

”Na svapnāya sprhayati – (Mereka yang tidak tidur (berlebihan), mengurangi kemalasan). Rgveda VIII.2.18.

”Niyatam kuru karma tvam karma jyāyo hi akarmanah, sarīrairayatrā’pi ca te na prasidhyed akarmanah” – Bekerjalah sesuai dengan tugas dan kewajiban yang telah ditentukan sebab bekerja jauh lebih baik dari pada tidak bekerja dan tubuhpun tidak akan terpelihara bila kita tidak bekerja. (Bhagavdgītā III.8)

”Karmany evādhikāraste mā phalesu kadācana, mā karma phala hetur bhùr mā te sango’stv akarmāni” – Kewajibanmu hanyalah bekerja, tidak hasil pekerjaan yang engkau pikirkan, jangan sekali-kali menjadi motif dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri. (Bhagavdgītā, II.47)

”Mayi sarvāni karmāni samnyāsadhyātmācetasā, nirāsīr nirmamo bhùtvā yudhyasva vigatava arah” – Persembahkanlah segala kerjamu kepada Aku dengan memusatkan pikiran kepada Aku. Lepaskanlah dirimu dari pamerih dan rasa keakuan serta bangkitlah,engkau akan terbebas dari pikiran yang susah. (Bhagavadgītā III.30).

Lebih jauh dalam salah satu kitab Upanisad dinyatakan : “Dharmo visvasya jagatah pratisthā loke dharmisþham prajā upasarpanti, Dharmena pāpam apanudanti dharme sarvam pratistham tasmad dharmam paramam vadanti” – Dharma adalah prinsip dasar yang bergerak dan tidak bergerak di dunia ini. Di dunia, manusia hendaknya bergairah mengikuti Dharma. Mereka membebaskan dirinya dari dosa-dosa dengan Dharma. Segala sesuatunya berjalan mantap atas dasar Dharma. Untuk itu patutlah Dharma disebut yang tertinggi” (Mahānārāyanopanisad XXII.1).

Pengertian Dharma sebagai hukum atau kewajiban lebih jelas diuraikan dalam kitab-kitab Itihāsa maupun Dharmasāstra, antara lain :

“Dharma disebut demikian karena melindungi segalanya, Dharma memelihara segala yang diciptakan oleh-Nya. Dharma adalah prinsip dasar yang menjamin keharmonisan di alam semesta”. (Mahābhārata Sāntiparva CIX.11). 

“Dharmenaivarsayas tīrnā dharme lokāh pratisathitāh dharmena devā vavridhur dharme chārthah samāhitah Tasmād dharmapradhānena bhavitayam yatātmanā” – Hanya dengan Dharma, para Rsi dapat menyeberangi (dunia penjelmaan dan kematian), mencapai Moksa,kokohnya dunia, tergantung atas Dharma. Oleh karena itu kita harus hidup dengan mengendalikan diri dan mengutamakan pelaksanaan Dharma. (Mahābhārata Sāntiparva CLVII,7,9)

“Dharma eva hato hanti dharmo raksati raksitah, tasmād dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt.- Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya, Dharma yang dipelihara akan memeliharanya,oleh karena itu Dharma jangan dilanggar, melanggar Dharma akan menghancurkan diri sendiri. (Manavadharmasāstra VIII.15)

C. Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa mengungkapkan kebenaran hendaknya senantiasa dilakukan atas dasar Dharma. Berkata yang dilandasi Dharma sangat mulia bila dipandang sebagai perwujudan Bhakti, dengan demikian mengatakan kebenarn adalah juga sebuah persembahan, yang akan mengantarkan umat manusia mencapai Tuhan Yang Maha Esa, terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin.

Om Śantih Śantih Śantih Om

Bekasi, 23 Januari 2008

*Merupakan Bahan masukan untuk kajian KPK

Oleh I Wayan Sudarma

Oṁ Swastyastu

A. Arti Kata Dharma

 Parisada Hindu Dharma Indonesia sebagai lembaga atau majelis tertinggi umat Hindu Dharma di Indonesia, sesuai dengan tugas dan kewajibannya yang diatur dalam anggaran dasarnya adalah untuk membina kehidupan umat Hindu di Indonesia dalam mewujudkan jagadhita (kesejahtraan hidup di dunia ini) dan mokṣa kebahagiaan dan kebebasan yang abadi, bersatunya Ātman dengan Brahman), maka Parisada Hindu Dharma Indonesia patut merumuskan ajaran-ajaran Agama Hindu untuk lebih mudah dipahami dan diamalkan oleh umat Hindu di Indonesia.

 Telah banyak perumusan yang telah dilakukan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia antara lain tentang tujuan Agama Hindu, yaitu: jagadhita dan mokṣa, Dasar keimanan Hindu yang disebut Pañca Śraddhā, Pola Pembinaan Umat Hindu Dharma Indonesia dan lain-lain. Demikian pula dalam hubungannya dengan topik tulisan ini, Melalaikan Svadharma adalah Dosa, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu pengertian kata Dharma sebagai berikut: Kata Dharma (kosa kata bahasa Sanskerta) dari urat kata kerja Dhṛ, yang artinya: memegang, mendukung atau menyangga (Whitney, 1988 : 84). Kata Dharma (di dalam Veda disebut dharman) berarti: yang telah mapan, tegak, perintah, hukum, aturan, pedoman tingkah laku, tugas dan kewajiban, keadilan, kesusilaan (moral), agama, ajaran agama, pekerjaan yang baik, mengikuti aturan yang baik, kebenaran, kepatutan, segala sesuatu mengikuti hukum alam, mengikuti aturan hukum dan lain-lain yang menyangga kelangsungan hidup manusia (Monier,1993: 510).

 Untuk jelasnya kami kutipkan salah satu mantram dari Ṛgveda Saṁhitā yang diterjemahkan oleh Svami Dayananda Sarasvati, seorang Yogi dan sarjana Veda yang sangat terkenal, pendiri gerakkan keagamaan Arya Samaj, sebagai berikut :

 Trīṇi padā cakrame Viṣṇur, gopā adābhyaḥ, ato dharmāṇi dhārayan. – Oleh karena hal ini tidak termusnahkan, Tuhan Yang Maha Esa, Pelindung dan Maha Ada yang meresapi segalanya, yang menyangga bumi, angkasa dan sorga, yang diciptakan oleh-Nya, segalanya tunduk kepada hukum Dharma, yang abadi, yang di- tetapkan oleh-Nya). Ṛgveda I. 22. 18

 Lebih jauh dalam salah satu kitab Upaniṣad dinyatakan :

 Dharmo viśvasya jagataḥ pratiṣṭhā, loke dharmiṣṭhaṁ prajā upasarpanti, Dharmeṇa pāpam apanudanti dharme sarvaṁ , pratiṣṭhaṁ tasmad dharmaṁ paramaṁ vadanti. – Dharma adalah prinsip dasar yang bergerak dan tidak bergerak di dunia ini. Di dunia, manusia hendaknya bergairah mengikuti Dharma. Mereka membebaskan dirinya dari dosa-dosa dengan Dharma. Segala sesuatunya berjalan mantap atas dasar Dharma. Untuk itu patutlah Dharma disebut yang tertinggi). Mahānārāyaṇopaniṣad XXII.1.

 Pengertian Dharma sebagai hukum atau kewajiban lebih jelas diuraikan dalam kitab-kitab Itihāsa maupun Dharmaśāstra, antara lain :

 Dhāraṇād dharmam itāyahur dharmeṇa vidhritāḥ prajāḥ, Yas syāt dhāraṇa-samyuktas sa dharma iti niśchayaḥ. – Dharma disebut demikian karena melindungi segalanya, Dharma memelihara segala yang diciptakan oleh-Nya. Dharma adalah prinsip dasar yang menjamin keharmonisandi alam semesta. (Mahābhārata Śāntiparva CIX.11).  

 Dharmeṇaivarṣayas tīrṇā dharme lokāḥ pratiṣaṭhitāḥ, dharmeṇa devā vavridhur dharme chārthaḥ samāhitaḥ. Tasmād dharmapradhānenabhavitayaṁ yatātmanā. – Hanya dengan Dharma, para Ṛṣi dapat menyeberangi (dunia penjelmaan dan kematian), mencapai Mokṣa, kokohnya dunia, tergantung atas Dharma. Oleh karena itu kita harus hidup dengan mengendalikan diri dan mengutamakan pelaksanaan Dharma.(Mahābhārata Śāntiparva CLVII, 7, 9).

 Idāniṁ dharma pramāṇānyāha: Vedo’khilo dharmamūlaṁ smṛti śīle ca tadvidam, ācāraścaiva sādhūnām ātmanastuṣṭir eva ca. – Seluruh pustaka suci Veda adalah sumber pertama dari Dharma,kemudian tradisi(adat-istiadat),tingkah laku orang terpuji dari orang – orang budiman yang mendalami Veda, juga kebiasaan orang – orang suci dan akhirnya kepuasan diri.(Manavadharmaśāstra II.6).

 Yājñavalkya dalam kitabnya Yājñavalkya smṛti seperti dikomentari Bālambhaṭṭa menyatakan bahwa Dharma dan Adharma adalah benih-benih yang mengakumulasikan Karma (Karmāśaya). Dari Karmāśaya ini tumbuh tiga pahala perbuatan, berupa :

a. Jāti, kelahiran baik dalam posisi yang tinggi atau rendah.

b. Āyu, umur seseorang baik panjang atau pendek.

c. Bhoga, kenikmatan atau penderitaan yang dialamai oleh setiap makhluk hidup.

 Bermacam-macam Dharma tersebut di atas, digambarkan dan ditetapkan sebagai Karma baik yang patut dilakukan manusia. Seluruh jenis Karma baik (Śubhakarma) meliputi: pengorbanan (Ijyā). upacara (āchāra), disiplin hidup (Dama), tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain (Ahimsā), pemberian dana (Dāna), dan mempelajari kitab suci Veda (Svādhyāya). Dharma yang tertinggi (Paramodharma) bagi umat manusia adalah merealisasikan Diri (Ātmadarśanam/Prabhu, 1990 : 35).

 Mahārṣi Jaimini mendefinisikan Dharma sebagai sesuatu perbuatan yang diperintahkan oleh kitab suci Veda dan dengan perbuatan itu seseorang bebas dari penderitaan. Demikian pula Mahāṛṣi Kaṇāda, penemu sistem filsafat Vaiśeṣika, telah memberikan pengertian Dharma yang terbaik dalam kitabnya Vaiśeṣikasūtra, yaitu: “Yatobhyudayaniśśreyasa siddhiḥ sadharmaḥ” – Yang menuntun untuk mewujudkan Abhyudaya, (kemakmuran di dunia) dan Niśśreyasa (penghentian dari derita untuk mencapai kebahagiaan abadi adalah Dharma (Sivananda, 1988: 38).

 Lebih jauh Svami Sivananda menyatakan :”Dharma secara umum didefinisikan sebagai “kebajikan” atau “kewajiban”. Dharma merupakan prinsip-prinsip dari kebajikan, kekudusan dan juga kesatuan. Bhīsma menyatakan kepada Yudhiṣṭhira, bahwa apapun yang menimbulkan pertentangan adalah Adharma (kebalikan dari Dharma), dan apapun yang mengakiri pertentangan dan membawa pada kesatuan dan keselarasan adalah Dharma. Apapun yang membantu untuk menyatukan segalanya dan mengembangkan cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa dan persaudaraan universal adalah Dharma. Apapun yang menimbulkan perselisihan, keretakan dan ketidak selarasan dan meninbulkan kebencian adalah Adharma. Dharma merupakan pengikat dan penghidup kehidupan masyarakat. Aturan-aturan Dharma telah diletakkan untuk mengatur masalah duniawi manusia. Dharma memberikan akibat kebahagiaan baik di dunia ini maupun di alam baka. Dharma merupakan cara pemeliharaan diri seseorang. Bila anda melanggarnya, ia akan membunuh anda. Bila anda menjaga Dharma, ia akan menjada anda. Ia akan merupakan teman anda satu-satunya setelah kematian. Ia adalah satu-satunya tempat berlindung dari umat manusia. Yang meningkatkan kualitas diri pribadi seseorang adalah Dharma, ini merupakan pengertian Dharma yang lain. Dharma adalah yang menuntun anda menuju jalan kesempurnaan dan kemuliaan. Dharma adalah yang menolong anda untuk memiliki penyatuan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa. dharmalah yang membuat anda memiliki sifat ketuhanan. Dharma merupakan tangga naik menuju Tuhan Yang Maha Esa. Realisasi diri adalah Dharma yang tertinggi. Dharma merupakan jantung etika Hindu. Tuhan Yang Maha Esa merupakan inti dari Dharma (Sivananda, 1988:37).

 Svami Sivananda (1988:37) juga menjelaskan bermacam-macam Dharma, yang pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Sāmānyadharma atau Dharma yang berlaku umum/ universal, dan Viśesadharma, yaitu Dharma khusus, perorangan. Dharma kemudian dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain: Sanātanadharma (hukum abadi), Sāmānyadharma (kewajiban umum), Viśesadharma (kewajiban khusus), Varnaśramadharma (kewajiban dan tata tertib dari golongan masyarakat berdasarkan profesi tertentu), Svadharma (kerwajiban sendiri), Yugadharma (kewajiban pada jaman tertentu), Kuladharma (kewajiban keluarga), Mānavadharma (kewajiban manusia), Puruṣadharma (kewajiban laki-laki), Strīdharma (kewajiban wanita), Rājadharma (kewajiban pemimpin), Prajādharma (kewajiban utama), Pravṛidharma (kewajiban dalam kehidupan duniawi) dan Nivṛṭṭidharma (kewajiban dalam kehidupan spiritual.

 Sejalan dengan adanya bermacam-macam Dharma tersebut di atas yang intinya adalah untuk untuk meningkatkan Karma yang baik (Śubhakarma), maka wajarlah Parisada Hindu Dharma Indonesia yang pada mulanya bernama Dharma Parisada Hindu Bali merumuskan dua jenis Dharma sebagai tugas dan kewajiban kepada agama dan negara yang populer kemudian dengan istilah Dharma Agama dan Dharma Negara.

 Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat kita analogikan bahwa Dharma Agama adalah hukum, tugas, hak dan kewajiban setiap orang untuk tunduk dan patuh serta melaksanakan ajaran agama dan aspek-aspek yang dikandung dalam ajaran agama itu. Bila seseorang taat melaksanakan kewajiban agama yang dipeluknya, maka ia akan menjadi umat beragama yang baik.

Selanjutnya yang dimaksud dengan Dharma Negara adalah hukum, tugas, hak dan kewajiban setiap orang untuk dan patuh kepada Negara, termasuk dalam pengertian yang seluas-luasnya. Di samping kita mengenal istilah Dharma sebagai hukum, yang kemudian dimaksudkan adalah hukum yang mengatur hidup manusia, termasuk dalam pengertian, tugas, hak dan kewajiban umat manusia, maka hukum yang mengatur gerak alam semesta disebut ṛta dan Tuhan Yang Maha Esa disebut ṛtavan, yakni sebagai pendukung atau pengendali ṛta :

 

B. Svadharma

 Membicarakan Svadharma, tidak terlepas dari usaha masing-masing individu untuk membiasakan dirinya tepat waktu, menghargai orang yang semestinya memikul tanggung jawab, keberanian untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, dan sebagainya. Semuanya itu tidak dapat dilakukan secara tiba-tiba saja tanpa ketekunan. Bila tiap individu mampu melakukan svadharmanya, dengan kepatuhan yang sungguh-sungguh dan dengan teratur, terbuka, bebas dari rasa takut dan tertib untuk melakukan sesuatu perbuatan disebut dengan Abhyāsa. Sumber ajaran ini adalah Dharma yakni kebajikan sebab tidak ada artinya seseorang yang hanya memahami Dharma sebagai teori tanpa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu membiasakan diri untuk berbuat baik, mengungkapkan kebenaran, untuk tepat waktu, untuk menepati janji (Satyavacana) dan memupuk kesabaran diri dan berdisiplin dalam mentaati peraturan perundan-undangan, seperti bersaksi dengan juur di depan pengadilan dan sebagainya merupakan bentuk-bentuk pengejawantahan svadaharma.

Di dalam kitab suci Upanisad, yakni Taittirīya Upaniṣad dijelaskan bahwa seseorang hendaknya senantiasa menepati janji, berpegang pada ajaran dharma, tekun meningkatkan diri dan tidak lalai merupakan butir-butir ajaran yang menuntut setiap umat manusia untuk melaksanakan svadahrmanya dengan sungguh-sungguh:

Satyaṁ vada dharmācāra Svādhyāya mā pramadaḥ – Hendaknya setiap orang berkata benar, jujur dan tepat janji, senantiasa pula berpegang pada ajaran Dharma, selalu tekun untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tidak lalai. Taittirīya Upaniṣad I.11.1.

Hal senada juga diungkapkan dalam Manavadharmaśāstra VIII.15, yaitu: Dharma eva hato hanti dharmo rakṣati rakṣitaḥ, tasmād dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt. -Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya, dharma yang dipelihara akan memeliharanya, oleh karena itu dharma jangan dilanggar, melanggar dharma adalah dosa dan akan menghancurkan diri sendiri.

“Mereka yang melakukan perbuatan baik (termasuk memberikan keterangan yang benar) di sini akan segera memperoleh kelahiran yang baik, kelahiran sebagai Brāhman, kelahiran sebagai Kstriya atau kelahiran sebagai Vaisya. tetapi mereka yang perbuatannya di sini jahat (memberikan keterangan palsu), kelahirannya sebagai anjing, babi atau Cāndala” (Chāndogya Ūpaniṣad V.10.8).

Dari penjelasan tersebut di atas, pelaksanaan svadharma bersandar pada kapatuhan untuk melaksanakan kebenaran, jujur, tidak ingkar janji atau Satya Vacana dilandasi dengan ajaran agama. Bila kejujuran bersemi, orang akan berusaha hidup yang teratur, tertib dan berdisiplin yang tinggi.

Langkah atau tindakan untuk mengembangkan svadharma ini adalah dengan mengamalkan dan mengembangkan ajaran Satya Abhyāsa, yakni usaha dengan sungguh-sungguh dan tekun untuk mengamalkan dan melaksanakan Svadharma yang telah menjadi pilihan hati atau profesi seseorang. Dengan demikian maka setiap orang wajib melaksanakan svadharmanya baik kaitannya sebagai mahluk individu, maupun sebagai warga negara Melaksanakan svadharma seperti telah di kutip dalam Bhavadgītā tersebut di atas (dalam ulasan. Bila seseorang tidak ingin dibahongi orang maka yang bersangkutan semestinya juga tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Dharma (Dharma rakṣati rakṣitaḥ mereka yang berbuat untuk Dharma akan dilindungi oleh Dharma).
C. Simpulan

 Melaksanakan Svadharma dalam diri dan masyarakat ibarat komponen-komponen mesin kendaraan, apa bila semuanya berjalan normal, maka kendaraanpun mulus jalannya. Demikianlah melaksanakan svadharma yang sesungguhnya merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk dapat hidup sejahtera dan bahagia.

 Bila setiap orang telah mengalami proses transformasi diri, maka sesungguhnya kita telah ikut dalam andil dalam mejamin bagi terciptanya rasa keadilan dalam masyarakat.

 Terkait dengan usaha Perlindungan Saksi dan Korban, maka bentuk pengamalan svadharma dapat berarti turut serta dalam mengungkapkan kebenaran yang didasari oleh kesadaran bahwa berpikir baik, berkata jujur, dan berbuat kebajikan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan.

 Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ.

Kota Bekasi,  23-01-2008

Oleh: I Wayan Sudarma
 Om Swastyastu

A. Pendahuluan

Pada dasarnya pembangunan manusia adalah pembangunan seutuhnya yaitu pembangunan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah. Untuk pembangunan jasmaniah, manusia memerlukan makanan, minuman, sex, istirahat, tidur, olah raga dan sebagainya. Sedangkan untuk pembangunan rohaniah manusia memerlukan kasih sayang, cinta, penghargaan, perlindungan, ketenangan, kedamaian, agama dan sebagainya.

Dalam fungsinya sebagai manusia sosial (homo sapien) manusia dapat mengadakan aktivitas sosial, tolong menolong, maupun mengembangkan organisasi sosial, seperti arisan, perkumpulan olah raga dan paguyuban lainnya. Manusia satu dan lainnya dapat memenuhi kehidupan sosialnya. Kesedihan dan kesusahan biasanya dapat dibantu dalam kehidupan bermasyarakat, namun mungkin dan akan terjadi bahwa pada suatu waktu kesedihan itu sangat sulit untuk diatasi. Karena itu, manusia akhirnya mencari perlindungan dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada yang paling berkuasa yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). 

B. Tujuan Agama Hindu dan Aspek Pengembangannya

 Bertitik tolak dari tujuan agama Hindu (Hindu Dharma) yaitu moksartham jagadhita (untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin, jasmaniah dan rohaniah), maka ada 2 (dua) aspek yang memerlukan pengembangan :

1.​ Aspek materi

2.​ Aspek non materi

Aspek materi adalah aspek yang menyangkut kesejahteraan duniawi, sedangkan aspek non materi (moksa) adalah aspek yang berkaitan dengan keadaan mental atau rohani. Dengan moksa dimaksudkan bahwa pikiran seseorang tidak lagi terikat oleh adanya keinginan-keinginan, rasa takut, benci, iri hati, tidak puas dan sebagainya. Untuk mencapai tujuan pengembangan dari kedua aspek tersebut di atas, diperlukan usaha atau upaya. Secara konkrit dapat dikatakan bahwa seseorang harus berkarya atau berkarma. Selain itu patut digaris bawahi bahwa karma itu perlu diyakini akan adanya pahala itu

C. Satyam (Kebenaran)

 “Satyam saksya bruvam saksi lokanproti puskalan, iha canuttamam kirtim vagesa brahmapujita” – Seseorang yang melaporkan (mengatakan) kebenaran dalam, pekerjaannya, akan memperoleh kebahagiaan yang terindah sebagai, rahmat dharma (kebenaran), jika mereka meninggal di dunia ini memperoleh nama baik dan harum dan di alam akhirat akan diterima oleh para dewa untuk diantar ke alam sorga (Manavadharmasastra VIII.81)

 Salah satu unsur dalam keimanan yang merupakan landasan ajaran Agama Hindu menurut Atharwa Atharwa Weda XII . 1.1., sebagai berikut : “Satyam brhad rtam ugram diksa, Tapo brahma yajna prthiwim dharayanti” – Sesungguhnya satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna yang menyangga dunia.

 Dengan ayat itu dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna. Dharayanti artinya menyangga dan dijelaskan pula bahwa alam semesta ini disangga oleh dharma. Adapun dharma yang menyangga dunia ini terdiri dari Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna itu, sehingga dengan demikian keenam unsur itu merupakan unsur dharma yang memelihara kehidupan ini.

 Kata satya dalam bahasa Sanskerta itu dipergunakan dalam banyak hubungan karena kata itu dapat berarti macam-macam. Adapun arti kata satya itu antara lain, ialah:

1.​ Satya yang berarti kebenaran, yaitu merupakan sifat hakekat dari pada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kata itu diartikan sama sebagai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata ini pula diartikan sama pula dengan kata deva, yaitu aspek sifat Tuhan atau wujud kekuasaan Tuhan yang bersifat khusus, atau juga sama dengan Malaekat.

2.​ Satya yang berarti kesetiaan atau kejujuran. Kata ini biasanya dirangkaikan dengan kata vak atau wacana yang berarti kata-kata. Satya wacana berarti setia pada kata-kata, atau segala apa yang dikatakan akan dilakukan sesuai menurut janji itu.

3.​ Satya dapat berarti kebenaran dalam arti relatif.

Kalau kita perhatikan ayat mantra dalam Atharwaweda dalam uraian terdahulu (Atharwa Weda XII,1.1.), kata Satya diartikan sama dengan kebenaran (Truth) yang diartikan sama dengan ajaran mengenai kepercayaan kepada ke Tuhanan. Di dalam mantra Rgveda, VIII, 62.12, kata Satya dipersamakan dengan Ke Tuhanan dengan mengatakan bahwa Satya adalah sifat dari pada Tuhan. Satya juga merupakan sifat dari pada Deva. Di dalam agama Sikh, yang mengambil bagian dari-pada ajaran agama Hindu, Guru Nanak di dalam ajarannya yang dibukukan di dalam kitab Japji, mengatakan, “Eka Om Sat Nama,” yang artinya sesungguhnya Om yang satu itu Satya namanya. Seperti kita ketahui, kata Om adalah simbol Ke Tuhanan dalam agama Hindu yang sering diterjemahkan pula dengan kata Tuhan.

Dari uraian di atas, maka Satya adalah dimaksudkan sama dengan ajaran Ke Tuhanan. Dengan ajaran satya tattwa itu, ini berarti, bahwa salah satu aspek dalam ajaran agama Hindu adalah mengajarkan ajaran ber Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Mengenai penjelasan ajaran Ke Tuhanan Yang Maha Esa menurut ajaran agama Hindu, akan diuraikan dalam buku tersendiri, Pengantar Agama Hindu V.

Kata Satya dalam arti Ke Tuhanan dipergunakan sebagai sifat, yang lazimnya dipergunakan dengan kata Sat yang artinya sama dengan Zat atau sering diterjemahkan dengan kata Yang Maha Ada, sebagai hakekat sifat benar dari pada Tuhan yang bersifat mutlak atau absolut. Kata Sat inilah yang sering kita jumpai dalam banyak sukta dari pada mantra-mantra dalam Rg Veda dan Upanisad.

Penggunaan kata Satya dalam arti bahasa sehari-hari dengan pengertian kebenaran atau kejujuran adalah dalam pengertian biasa menurut arti kata itu sendiri. Satya dijadikan dasar ajaran yang merupakan landasan untuk pengembangan sikap mental dan jalan pikiran dalam agama Hindu. Dengan kata Satya dimaksudkan agar setiap orang berlaku jujur dan selalu setia pada kata-kata. Sifat jujur, benar dan setia pada kata-kata adalah merupakan sifat terpuji karena sifat itu pula yang menjadi milik sifat Tuhan. Orang yang memiliki sifat satya itu dikatakan dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan atau dengan kata lain mereka itulah yang berjalan di jalan Tuhan. Setiap perbuatan, setiap kata-kata, setiap pikiran, hendaknya harus dilandasi dengan dasar satya, atau berdasarkan iman pada Tuhan. Inilah pokok pengertian Satya yang dapat kita jumpai di dalam Weda sebagai salah satu sendi keimanan dalam agama Hindu.

Kitab Yajur Weda XX.25 dinyatakan : “Vratena diksam apnoti, diksa yapnoti daksinam, daksinam sraddham apnoti, sraddhaya satyam apyate” – Dengan melakukan brata seseorang memperoleh Diksa, Dengan melakukan Diksa, seseorang memperoleh daksina, Dengan daksina seseorang memperoleh sraddha dan Dengan Sraddha seseorang memperoleh Satya (Kebenaran tertinggi).

Demikian juga seperti yang dijelaskan dalam dalam Yayurveda XIX. 30 dan 77 yang mengatakan : sraddha satyam apyati (Dengan sraddha orang akan mencapai kebenaran tertinggi yaitu Tuhan). sraddham satye prajapatih (Tuhan menetapkan dengan sraddha menuju kepada satya/kebenaran).

Om Santih Santih Santih Om

Bahan bacaan :

1. ​Sraddha (Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu) oleh Gde Pudja, MA., SH.

2.​ Pancha Sraddha oleh Drs. IB. Oka Punyatmadja

3.​ Pengantar Tattwa Darsana (Filsafat) oleh G. Sura, BA., IB. Kade Sndhu, BA., dan IB. G. Agastya, BA.

4.​ Upadesa, oleh Parisada Hindu Dharma

5.​ Dharma Sastra oleh Dr. IB. Oka Punyatmadja

“KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI HITA KARANA”
Ide Cerita: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)- Bekasi

Pernah dipentaskan dalam bentuk drama tari di Pura Agung Tirta Bhuana -Bekasi Th. 2007

PENDAHULUAN

Umat Hindu memercikkan, meminum dan mengusapkan AIR SUCI pada kepala dan mukanya sebagai pengakhir dari persembahyangan mereka. Untuk mengetahui apa yang dinamai AIR SUCI dalam Agama Hindu kami akan memulainya dengan menguraikan mengenai air Suci Sungai Gangga, yang ada di Bharata Warsa yaitu India.

Dunia Barat, yang kini terkenal menjadi tempat pusat kemajuan teknologi mutakhir itu, pada jaman turunnya wahyu Veda di Dunia Timur, masih merupakan hutan rimba yang dihuni oleh manusia-manusia primitive. Dengan turunnya wahyu Veda, berarti dimulainya peradaban manusia, dan itu dimulai dari Dunia Timur.

Wahyu Veda disabdakan Hyang Widhi ke dunia melalui para Maharsi Bangsa Arya, yang terkenal genius itu. Sabda Tuhan tersebut diterima oleh para Maharsi melalui pendengarannya, sehingga kemudian sabda tersebut dinamai Sruti. Para Maharsi mampu mengingat-ingat wahyu Veda tersebut sampai akhir hayatnya. Sebagai penerima wahyu, para Maharsi meiliki kewajiban untuk menyebarluaskan wahyu tersebut kepada masyarakat.

Dalam penyebarluasan Veda inilah para Maharsi mengalami kesulitan, karena kemampuan masyarakat berbeda-beda. Bagi mereka yang pikirannya mampu, diberikan pelajaran setara ilmiah. Tetapi bagi yang sangat awam, diajar Veda dengan penafsiran. Tafsir-tafsir Veda tersebut dinamai Smrti.

Salah satu macam tafsir Veda yang disebut kitab-kitab Purana, memuat dongeng-dongeng keagamaan. Kini, kitab-kitab Purana tersebut berjumlah 36 pustaka. Bagi yang terpelajar, mungkin akan tersenyum tidak percaya bila telah membaca kitab-kitab Purana tersebut. Bahkan menuduh, bahwa penulis kitab-kitab Purana itu pembohong, penipu masyarakat yang sangat awam. Akan tetapi, pendapat tersebut akan hilang, apabila ia tahu, bahwa penulisan dongeng-dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut hanya merupakan simbolik-simbolik, merupakan gambaran-gambaran yang mudah dimengerti oleh orang awam, yang mengandung makna dan kebenaran yang dapat diterima dengan wajar. Jadi penulisan dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut, hanya merupakan media atau alat pendidikan yang sederhana dan mudah bagi orang awam.

KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI
HITA KARANA

Tentang kesucian sungai Gangga juga dimuat dalam kitab Purana. Berbentuk cerita yang sangat menarik bila dibacakan.

PROLOG:

Dahulu, kerajaan Ayodhya pernah diperintah oleh seorang raja yang bernama SAGARA. Baginda mempunyai dua orang istri. Dari istrinya yang pertama, Sang Raja dianugerahi seorang Putra bernama ANSUMAN, dan setelah dewasa menjadi seorang pertapa. Dan istri kedua baginda mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang.

Diceritakanlah, pada suatu hari raja Sagara akan mengadakan Asvamedha Yajna atau Upacara Korban Kuda. Suatu upacara korban, harus didasari kesucian dan ketulusan hati. Nampaknya prinsip tersebut tidak dipegang oleh Sri Baginda. Ia mengadakan Asvamedha Yajna, hanya ingin mendapatkan kemasyuran dirinya belaka, dan hanya ingin menunjukkan kekuasaannya.

SITUASI & DIALOG I
Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Paruman Kerajaan

Perdana Menteri: Om Swatyastu Paduka Raja, semoga atas anugerah Hyang Widhi, Paduka dilimpahkan kemuliaan. Mohon paduka menyampaikan amanat kepada hamba semua, ada tugas apa yang harus kami lakukan sehingga Paduka mengumpulkan kami semuanya?

Raja Sagara : Wahai Rakyatku yang setia……….setelah sekian lama Aku memerintah kerajaan ini, tak terasa kerajaanku telah tumbuh menjadi kerajaan yang besar. Untuk itu Aku berniat menyelenggarakan Karya Agung yaitu Asvamedha Yajna, bagaimana menurutmu Perdana Menteri?

Perdana Menteri: Ampun Paduka, niat Paduka itu sangat mulia, karena Asvamedha Yajna adalah upacara yang paling utama dari semua upacara korban, hamba sangat setuju dan akan mendukung niat paduka tersebut.

Raja Sagara: Perlu kalian ketahui maksudku melaksanakan upacara ini, Aku ingin menjadi raja termasyur dan paling disegani di muka bumi ini. Aku ingin agar semuanya tunduk dan bersujud di bawah kekuasaanku, Aku ingin menjadi penguasa atas dunia ini.

Perdana Menteri: Baik Baginda…….Semua titah paduka akan hamba laksanakan.

Kemudian raja meninggalkan tempat diikuti oleh kedua istri, anak-anaknya dan diiringi oleh punggawa kerajaan.

SITUASI II

Pada saat upacara dilangsungkan yang dipimpin oleh pendeta kerajaan, niat jahat dari Sang Raja telah diketahui oleh Dewa Indra, dan untuk menggagalkan maksud nakal Raja Sagara tersebut, dewa Indra menjelma sebagai ASURA (Orang Jahat). Ketika Kuda yang dijadikan korban telah dilepas, di tengah perjalanan Kuda tersebut dihalau oleh ASURA hingga masuk ke dalam tanah.

SITUASI & DIALOG III

Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Tegang

Sri Baginda Raja Sagara sangat marah, setelah mengatahui kudanya hilang. Maka segeralah memerintahkan ke 60.000 putra-putranya untuk mencari kudanya yang telah menghilang itu.

Raja Sagara: Pengawal……. Pengawal……. Perdana menteri………. Senapati dimana kalian semua, mengapa kuda korbannya bisa hilang? Apa kerja kalian siang dan malam, Aku telah menyuruhmu untuk menjaga dan mengawasi kuda tersebut mengapa bisa hilang? Putra-putraku semuanya sekarang kalian cepat pergi…. cari ke seluruh penjuru dan jangan kembali sebelum kalian menemukan kudanya !

Putra Raja : Baik Ayahanda, semua perintah paduka akan hamba lakukan……..hamba mohon pamit! ( dengan sikap agak terpaksa dan ketakutan)

Demikianlah Sri Baginda Raja Sagara, yang sangat murka memerintahkan putra-putranya untuk mencari kuda korban itu tanpa ada yang berani membantah, walau dalam hati mereka sebenarnya enggan melaksanakan tugas tersebut.

SITUASI & DIALOG IV
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila
Situasi: Tegang

Belum lama mengadakan perjalanan, putra-putra Raja Sagara telah dapat menemukan kuda yang hilang itu. Ternyata kuda itu, berada di pertapaan Rsi Kapila. Hal ini menyebabkan Putra-putra Raja sagara tersebut berburuk sangka terhadap Rsi Kapila. Mereka menuduh Sang Rsi telah mencuri kudanya.

Putra Raja 1: Wahai Sang Rsi ……Kami Putra Raja Sagara dari kerajaan Ayodhya, sedang mencari kuda yajna yang menghilang, dan kami menemukan kuda tersebut di sini, pastilah Sang
Rsi yang telah mencurinya?

Rsi Kapila: Om Swastyastu…..terimalah hormat hamba sebagai abdimu, maaf tuan …..semua yang tuan tuduhkan itu tidaklah benar, kuda itu datang sendiri ke pertapaan hamba!

Putra Raja 2: Aah…. Dasar pencuri! Mana ada pencuri yang mengaku? Kakanda pastilah Dia yang telah mencuri kuda ini, dan dia pantas dihukum atas kejahatannya ini.

Putra Raja 3: Siksa saja Dia, lalu kita hanyutkan ke sungai, biar tahu rasa…..apa akibatnya kalau mencuri dan berbohong!

Niat buruk para Ksatria tersebut diketahui oleh Rsi Kapila, maka ia mendahului menghukum para Ksatria congkak itu. Melalui pancaran sinar sakti matanya, Rsi Kapila membakar habis ke 60.000 pura Raja Sagara hingga menjadi abu.

SITUASI & DIALOG V
Tempat : Kerajaan Ayodhya
Situasi : Cemas

Prabhu Sagara sangat gelisah, karena sudah cukup lama putra-putranya tidak kembali. Oleh karena itu, Sang Ansuman, putra yang telah menjadi pertapa itu, diperintahkan agar segera menyusul saudara-saudaranya dalam mencari kuda.

Raja Sagara: Pengawal……….segera engkau panggilkan putraku Sang Ansuman, untuk menghadapku!

Pengawal: Baik Yang Mulia

Sang Ansuman: Om Swastyastu ……Ayahanda, terimalah sembah bhakti hamba, kalau boleh hamba tahu apa yang menyebabkan mengapa Ayahanda begitu gelisah ?

Raja Sagara: Bagaimana Ayah tidak cemas, sejak kepergian saudara-saudaramu mencari kuda yajna, hingga hari ini belum juga kembali, jangan-jangan mereka mendapat celaka! Itulah sebabnya Ayah memanggilmu untuk segera menyusul saudara-saudaramu mencari kuda terebut.

Sang Ansuman: Jika itu penyebab kegelisahan Ayahanda, saya siap melaksanakan tugas ini dan menemukan kembali kuda dan saudara-saudara saya. Ijinkalah saya menyusulnya sekarang juga!

Raja Sagara: Berangkatlah, doa dan restu ayah menyertaimu!

Sang Ansuman, setelah menghaturkan sembah, segera berangkat napak tilas perjalanan saudara-saudaranya.

SITUASI DAN DIALOG VI
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila

Sampailah SangAnsuman di pertapaan Rsi Kapila. Ia melihat kuda yang dicarinya. Sang Ansuman, yang telah terbiasa bergaul dengan para pertapa, segera menghadap Sang Rsi. Ia duduk bersila di hadapan Rsi itu, kemudian menyembah kaki Rsi Kapila. Setelah mengahaturkan sembah, Sang Ansuman memulai pembicaraan

Sang Ansuman: Om swastyastu Wahai Rsi Agung, terimalah sembah sujud saya…… Hamba Sang Ansuman Putra Raja Sagara dari Ayodhya,…….maaf Rsi Agung, kedatangan saya ke sini untuk mencari kuda yang hilang. Mungkinkah kuda yang dipertapaan ini milik keluarga kami?

Rsi Kapila: Mungkin betul ananda. Kuda itu datang kemari sendiri dan aku hanya merawatnya. Periksalah terlebih dahulu, kalau memang kuda itu yang ananda cari, aku tidak keberatan untuk memberikan kuda itu kepadamu!

Belum sampai Sang Ansuman mengajukan permohonan, ternyata pertapa itu telah menyerahkan kuda itu kepadanya. Hal ini terjadi karena Rsi kapila sangat senang melihat Sang Ansuman yang gunawan.

Sang Ansuman: Terima kasih maha Rsi. Namun sebelum ananda mohon diri, perkenankanlah nanda mengajukan sebuah pertanyaan. Tidakkah Maha Rsi melihat ke 60.000 saudara saya, yang juga ditugaskan mencari kuda yang hilang?

Rsi Kapila: Memang anakku, saudara-saudaramu telah datang kemari!

Rsi Kapila menarik napas panjang, raut mukanya nampak serius, kemudian melanjutkan percakapannya.

Mereka datang kemari dengan tidak sopan, melanggar dharmaning ksatria, malah mereka telah berbuat Adipataka (dosa yang sangat besar dan berat). Mereka menuduhku mencuri kuda itu, dan mereka bermaksud akan mencelakakanku. Karena itulah, mereka terpaksa kumusnahkan, dengan menggunakan pancaran sakti mataku. Lihatlah sekeliling pertapaan ini, abu-abu yang berserakan itu adalah abu-abu saudaramu.

Sang Ansuman memandang sekeliling pertapaan. Ia terdiam seribu bahasa. Mukanya yang tadinya ceria, kini dengan cepatnya berubah menjadi sayu. Ia sangat sedih, walaupun mereka hanya saudara tiri, namun ia merasa turut kehilangan.

Rsi Kapila: Sudahlah Ansuman, Janganlah bersedih hati. Saudara-saudaramu itu masih bisa dihidupkan kembali. (kata Rsi Kapila menghibur).

Sang Ansuman: Betulkah itu Maha Rsi ?

Rsi Kapila: Ya, saudara-saudaramu itu akan hidup kembali bila Dewi Gangga berkenan turun dari Sorga ke Bumi. Lakukanlah tapa, untuk memohon agar Dewi Gangga turun ke dunia!

Ansuman tidak berkata apa-apa, tetapi menganggukkan kepalanya suatu tanda telah mengerti akan nasihat Sang Rsi. Setelah bersujud mohon pamit, Ansuman berdiri, kemudian berjalan menuju tempat kuda diikatkan. Ia menuntun kuda itu pulang dengan langkah yang lunglai.

SITUASI DAN DIALOG VII
Tempat: Istana Ayodhya
Situasi: Riang-sedih

Perjalanan yang dirasa dekat pada waktu berangkatnya, kini terasa jauh. Langkah demi langkah, akhirnya tiba pula di Ayodhya. Diikatkanlah kuda itu di kandangnya. Kemudian Sang Ansuman segera menghadap ayahanda raja, yang suatu kebetulan saat itu semua kerabat sedang berkumpul dalam persidangan. Sebagaimana biasanya, Sang Ansuman pun segera menghaturkan sembah ke hadapan ayahnya.

Sang Ansuman: Om Swastyastu …..sembah sujud hamba ayahanda.

Sang Raja yang menerima sembah itu tahu, bahwa putranya dalam keadaan murung. Sementara semua kerabat, yang turut hadir dalam persidangan itu diam. Tidak seorangpun yang berbicara. Semua memperhatikan Sang Ansuman dengan penuh tanda tanya. Sekali lagi Ansuman mencium kaki ayahandanya, namun sang raja, belum juga mengerti apa yang dirisaukan putranya.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi ananda?” Sang Prabu memulai pembicaraan.

Dengan kata-kata yang tersendat-sendat,

Sang Ansuman: “Ramanda, saudara-saudarakua telah kena kutuk pastu Bhagawan Kapila. Mereka dibakar habis menjadi abu.”

Suasana persidangan berubah seketika. Sekejap jerit tangis meledak memenuhi ruangan. Air mata bercucuran. Hanya Sri Bagindalah yang tidak meneteskan air mata. Beliau hanya menunduk sedih. Menyesali kejadian yang menimpa putra-putranya.

Sang Ansuman: “Ayahnda. Janganlah menyalahkan Rsi Kapila, apalagi menghukumnya. Beliau tidak bersalah justru saudara-saudarakulah yang telah berbuat Adipataka (dosa terbesar). Mereka telah merencanakan pembunuhan terhadap sang pertapa.”

Sang Raja: “Betul anakku merekalah yang bersalah. Terus apa yang dinasehatkan pertapa itu kepadamu?”

Sang Ansuman: “Saudara-saudaraku masih bisa dihidupkan kembali.”

Jawaban tersebut mengejutkan semua yang hadir, sehingga mengubah suasana persidangan. Suara tangispun mereda, walau isak-isak tangis masih terdengar di sana-sini. Mereka dengan tekun mengikuti pembicaraan, penuh harap, agar kejadian yang mustahil itu dapat terwujud.

Sang Raja: “Apa yang harus kita lakukan Ansuman?”

Sang Ansuman: “Rsi kapila menasehatkan, saudara-saudaraku bisa dihidupkan kembali, jika Dewi Gangga telah dapat diturunkan dari Surga ke bumi.”

Semua yang hadir dalam persidangan, penuh tanda tanya, tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Namun bagi Sri baginda, hal itu sudah cukup dimengerti, sehingga beliau menganggukkan kepalanya.

Sang Raja: “Ansuman anakku, dalam sastra suci telah disebutkan, bahwa putra adalah pelanjut dharma orang tua. Bersiap-siaplah, sudah waktunya ananda menggantikan ayah, memimpin rakyat Ayodhya. Jadilah pemimpin yang bijaksana, agar rakyat hidup tentram, damai, dan, sejahtera.”

Kisah selanjutnya, Ansuman menjadi raja di Ayodhya, sedang Prabhu Sagara melakukan tapa guna memohon turunnya Dewi Gangga. Sampai akhir hayatnya, permohonan Prabhu Sagara belum terkabulkan. Sehingga Ansuman melanjutkan melakukan tapa. Tapi masih berbasib sama dengan ayahandanya. Permohonan belum juga terkabulkan. Dilipa, putra Ansuman, juga menyusul melanjutkan dharma kakeknya. Ia gagal pula. Dan akhirnya, sang Bagiratha, Putra Dilipa yang terkabulkan permohonannya.

SITUASI DAN DIALOG VIII
Tempat: di tengah hutan
Situasi: damai

Sang Bagiratha, buyut Prabhu Sagara itu, telah bertapa dengan hebatnya. Sorga tergoncang oleh tapanya sehingga Dewa Brahma berkenan turun ke bumi.

Dewa Brahma: “Ananda Bagiratha, tapamu begitu hebatnya, yang meresahkan para dewata. Apa yang kau kehendaki?”

Bagiratha: “Dewata yang selalu hamba puja, hamba memohon agar Dewi Gangga diturunkan ke bumi di sekitar pertapaan Rsi Kapila. Hanya dengan cara itulah leluhurku yang terkena kutuk Rsi Kapila akan hidup kembali dan dibersihkan dari dosa dan noda.”

Dewa Brahma : Permohonanmu terkabulkan Bhagiratha, tetapi ketahuilah, Dewi Gangga akan turun dengan derasnya. Bumi pasti tergoncang karenanya. Segala yang dilaluinya pasti hancur, basmi buta semuanya. Hanya Dewa Siwalah yang dapat menghambatnya.”

SITUASI DAN DIALOG IX
Tempat: Di tengah hutan
Situasi: Damai

Setelah menerima sembah dari Bagiratha, Dewa Brahma segera kembali ke Brahmaloka. Bhagiratha melanjutkan tapanya, guna memohon turunnya Dewa Siwa. Tak lama kemudian Siwa turun ke bumi mendatangi Bagiratha.

Dewa Siwa: “Hai, Bagiratha, tidakkah Brahma telah mengabulkan permohonanmu? Apalagi yang kau kehendaki dariKu?”

Bagiratha: “Betul, permohonan hamba telah dikabulkan. Namun apa artinya hamba dapat menolong leluhur, tetapi membencanai orang lain? Oleh karena itu, hamba mohon, sudilah kiranya Hyang Siwa menghambat turunnya Dewi Gangga ke bumi secara tidak dhasyat.”

Dewa Siwa: “Permohonanmu kukabulkan, Bagiratha.”

Tanpa menunggu sembah Bhagiratha, Dewa Siwa segera menuju ke puncak gunung Kailasha. Bhagirathapun segera menuju ke pertapaan Rsi Kapila. Untuk menyaksikan sendiri keajaiban dunia yang akan segera terjadi itu.

SITUASI X

Sementara itu dunia menjadi gelap gulita dengan cepatnya. Awan hitam tebal menyelimuti bumi, suara gemuruh teriring kilatan petir yang yang dibarengi dengan suara geledek yang mengerikan. Seolah maha pralaya telah tiba. Bersamaan dengan itu Dewi Gangga turun ke bumi dengan dahsyatnya.

Dewa Siwa yang menyaksikan peristiwa itu segera berdiri di puncak Gunung Kailasha, anak pegunungan Himalaya. Dewi Gangga dapat dihadang oleh Dewa Siwa, akan tetapi Dewi Gangga selalu berontak melepaskan diri. Dewa Siwa segera membelit Dewi Gangga dengan perutnya, sehingga Dewi Gangga kehabisan akal. Namun Dewi Gangga dapat pula melepaskan diri dari lilitan rambut Dewa Siwa. Kini, muncullah Ia sendiri dari kepala Siwa, hanya saja Ia tercerai berai menjadi bagaian-bagaian kecil dan besar, mengalir ke seluruh India sehingga tidak membahayakan daerah-daerah yang di lewatinya. Bagiannya yang terbesar mengaliri pertapaan Rsi Kapila yang kini disebut Sungai Gangga. Bagian-bagian lainnya menjadi Sungai Yamuna, Saraswati, dan sebagainya.

Berbahagialah Sang Bagiratha karena permohonannya telah terkabulkan. Leluhurnya telah dibersihkan dari dosa dan noda. Kini leluhurnya yang terkena kutukan Rsi Kapila, telah hidup kembali.

KAJIAN MAKNA FILOSOFIS

Berkat dongeng tersebut di atas, sampai kini umat Hindu di India bahkan dunia mengakui dan mempercayai bahwa Sungai Gangga adalah sungai yang paling suci di muka bumi ini. Umat Hindu memujanya bukan karena takut, tetapi mereka memuja karena tahu bahwa sungai Gangga memiliki keajaiban.

Sekali lagi yang terpelajar harus bisa mengupas simbol-simbol yang terkandung dalam dongeng tersebut, misalnya:

1. Nama Sagara, berasal dari perkataan sansekerta, yang berarti lautan atau samudra.

2. Prabhu Sagara memilikki dua istri. Hal ini merupakan simbol, bahwa lautan itu memilikki dua sifat yang berlawanan, yaitu pasang dan surut (rwa bhineda)

3. Dari istri pertama, Prabhu Sagara mendapatkan Putra satu orang, sedang dari istri yang kedua mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang Hal ini menjelaskan bahwa samudralah menadi asal mula beribu-ribu sungai di di dunia. Dan sekian banyak sungai tersebut hanya satu yang dianggap paling suci, yaitu Gangga.

4. ke 60.000 orang putra sagara mencari kuda ke dalam tanah dalam sekali. Itu melambangkan bahwa setiap sungai mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang akhirnya kembali ke samudera.

5. ke 60.000 orang putra sagara terbakar habis menjadi abu. Hal ini melambangkan bahwa sungau-sungai itu bila mati akan kering hanya kelihatan pasir-pasir atau menjadi padang pasir.

6. Sabda Rsi Kapila, yang menyatakan putra-putra Sagara itu akan hidup kembali setelah Dewi Gangga berkenan turun ke bumi, melambangkan sungai-sungai itu akan hidup kembali jika hujan telah turun ke bumi.

7. sabda Dewa Brahma, “Dewi Gangga akan turun ke bumi dengan dahsyatnya dan akan membawa bencana di bumi, meunjukkan bahwa hujan yang lebat akan membawa korban, membencanai makhluk hiudp dan korban harta benda.

8. Dewa Siwa menghadang turunnya Dewi Gangga di puncak gunung Kailasha serta membelit dengan rambutnya, mengandung simbol bahwa kepala Dewa Siwa sebagai simbol puncak gunung, sedang rambut Siwa sebagai simbol akar-akar pohon yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Di daerah gununglah hujan yang lebat itu banyak terjadi. Air hujan itu meresap ke dalam tanah kemudian di tahan oleh akar pohon, maka air hujan tidak seluruhnya mengalir ke daerah lembah. Yang tertahan oleh akar-akar kemudian muncul sebagai mata air yang mengalir sepanjang masa, menyebabkan sungai-sungai hidup terus yang memberi kemakmuran.

Dari simbol-simbol itu dapatlah diambil kesimpulan, bahwa tujuan cerita tersebut adalah menerangkan sirkulasi air. Dan juga bermaksud mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, yaitu dengan cara menjaga hutan di lereng maupun di kaki gunung. Umat manusia tidak menebang pohon-pohon seenaknya.

Telah menjadi kenyataan, bahwa bencana banjir, tanah longsor yang kini sering terjadi di negara kita bahkan di dunia adalah suatu akibat penggundulan hutan oleh masyarakat, tentunya masyarakat yang sudah tidak mempercayai dongeng-dongeng yang sudah dianggap kuno itu.

Om Swastyastu

Apa yang dimaksud dengan menempuh kehidupan spiritual?

Kehidupan spiritual berarti membuang kecendrungan hewani dan mengungkapkan sifat-sifat ketuhanan yang merupakan pembawaan manusia sejak lahir. Namun ekses pendidikan modern telah banyak membuat manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Akibatnya, ia lupa pada sifat ketuhanan yang merupakan pembawaannya dan mengembangkan perangai seperti binatang.

Manusia menulikan telinganya untuk hal-hal yang baik dan benar, tetapi mendengarkan gosip dan cerita jahat dengan penuh perhatian, tetapi jika kisah suci Tuhan dituturkan, telinga mereka tersumbat. Orang-orang tidak pernah bosan menonton bioskop, TV, tetapi untuk memusatkan pandangan pada wujud Tuhan yang indah  semenitpun, mereka merasa sulit. Bagaimana orang semacam ini dapat mengharapkan Tuhan?

Demikianlah kenyataannya. Inilah kebenaran yang Aku sampaikan. Bila saat kematian tiba, akal budi berfungsi secara tidak benar. Manusia harus berusaha sedapat mungkin utk mengungkapkan sifat ketuhanan yang tersembunyi dalam dirinya. Hanya dgn demikianlah ia dapat di sebut seorang manusia sejati atau VYAKTI. 

Om Santih Santih Santih Om

*Dikutip dari Sai Anandayi, oleh: Bhagavan Shri Sathya Sai Baba

 Om Swastyastu

Jika Tuhan ada dimana-mana, mengapa sembahyang mesti di pura? Bagi orang-orang tertentu, dalam melakukan sadhana, kehadiran pura bukanlah persyaratan mutlak. Namun bagi umat kebanyakkan, fasilitas ini terasa penting, karena ia menyadari masih memiliki keterbatasan.

Pura bisa diumpamakan sebagai puting susu lembu. Memang benar dalam tubuh lembu,  semuanya mengandung susu. Namun untuk mendapatkan air susu, orang tidak mungkin mendapatkan di tanduknya, di ekornya, di di matanya, mulutnya, bahkan di kepalanya. Kita hanya bisa mendapatkan susu  dengan cara memerah lewat puting susunya. 
Demikianlah, Tuhan sesungguhnya ada dimana-mana, namun bagi orang-orang yang masih terbatas, ia baru merasa sreg kalau menghaturkan sembah bhakti di tempat yang khusus, seperti di pura, di sanggah, di merajan.

Om Santih Santih Santih Om
~Jro Mangku Danu ®

*photo: Umat sedang sembahyang di pura Luhur Poten-Bromo-Tengger
  

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers