Pustaka Hindu


DASYATNYA GETARAN DOA

Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Dua buah garputala (A & B) dihadap-hadapkan. Seorang siswa diminta untuk memukul garputala A. Sementara siswa lainnya mengamati apa yang terjadi dengan garputala B.

Saat itu saya sangat takjub. Bagaimana tidak, 2 garputala terpisah beberapa cm saling menggetarkan. Garputala A yang dipukul akan bergetar, sekaligus menggetarkan garputala B.

Yang lebih mengesankan, saat jumlah garputala ditambah. Bunyinya saling menguat dan terdengar semakin keras.
Seluruh siswa, termasuk saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Guru sains menjelaskan bahwa garputala A & B itu bisa saling menggetarkan, karena keduanya memiliki frekuensi sama.
Semakin banyak garputala (dengan frekuensi sama), makin keras bunyi yang dihasilkan.
Penjelasan sang guru bertahun-tahun lalu itu memotivasi utk menyelidiki lebih jauh.

image

by: Jro Mangku Danu

Hasilnya:
Oh….. ternyata tidak hanya garputala, namun seluruh isi alam semesta ini akan saling menggetarkan, bila memiliki frekuensi sama. Ya… SELURUH ISI ALAM SEMESTA, apa pun dan siapa pun.
___________
Bila kitaberpikir positif / berniat baik, maka kita akan mengirim pikiran positif / niat baik ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran baik / niat baik lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Sebaliknya, bila kita berpikir negatif / berniat jahat, maka kita akan mengirim pikiran negatif /niat jahat ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran negatif / niat jahat lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Itulah mengapa saat kita berpikir positif / berniat baik, kita akan dijumpai/ didekati oleh orang yang berpikiran sama dengan kita dan akan didekati dan didoakan oleh para Siddha Dewata atau Roh-Roh terang.

Sebaliknya, saat kita berpikir negatif / berniat jahat, kita akan dijumpai dan didekati oleh iblis, bhuta kala, setan dan para pengikutnya

Begitulah hukum SALING GETAR.

Hukum ini yang dimanfaatkan para pelaku teluh, santet, guna-guna dan semacamnya.
Tapi tenang, selama frekuensi kita tidak sama dengan frekuensi penyantet, maka kita tidak bisa disantet

Inilah yang perlu diketahui bahwa:

DOA.
Berdoalah yang baik-baik, agar kita MENGGETARKAN yang baik juga.

image

Namun, ada hal tambahan mengenai doa ini. Begini… berapa banyak kita berdoa seperti ini: “Tuhan… berilah SAYA ini… berilah SAYA itu…dan sebagainya.”

Saya yakin banyak diantara kita yang berdoa seperti itu, “hanya untuk saya…..”

Doa seperti itu tak salah, tapi TERLALU SEDIKIT Yang DIGETARKAN.!

Maksudnya? Kita jangan terlalu banyak berdoa untuk diri kita sendiri. Kok begitu?

Karena kalau kita berdoa untuk diri sendiri, maka KITA TAK PERNAH MENGGETARKAN SESUATU KE SESEORANG di luar sana

UBAH DOA KITA!

Berdoalah buat kedua orang tua kita, kerabat, sahabat, teman dan tetangga kita.

Kirimkanlah doa-doa kepada orang orang disekitar kita, komunitas, lingkungan kerja, tempat tinggal, kumpulan kita dan kepada siapa pun, dikenal maupun tidak.

Tahu apa yang akan terjadi terjadi?

SEMUA AKAN TERGETAR DAN SALING RESONASI MENGUATKAN.

Dan berita baiknya, bila kita berdoa bukan untuk diri kita sendiri, tapi berdoa untuk orang lain adalah kita DIDOAKAN KEMBALI OLEH PARA SIDDHA DEWATA dan ROH-ROH TERANG.

BEGITU KITA MERUBAH DOA KITA UNTUK ORANG LAIN TANPA SEPENGETAHUAN ORANGNYA MAKA DOA KITA AKAN BERGETAR KEMBALI KEPADA KITA.

Maka tidak bisa dibayangkan kalau kita semua saling mendoakan yang baik buat siapa pun, buat kota, buat negeri kita dan sebagainya, maka alam semesta ini akan dipenuhi dan diliputi gelombang frekuensi yang baik.

Semoga renungan ini, mampu menggetarkan doa-doa kita kepada siapa saja. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om

🙏DOA ADALAH SUMBER KEKUATAN🙏

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Ketika orang yang tidak mengerti prinsip kerja Dharma, ia akan melakukan hal yang tidak seharusnya, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi karma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untuk kita atau para malaikat dan dewa penjaga melindungi kita atau hari yang menguntungkan menolong kita. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika kita percaya, kita akan menderita. Kita akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Kita akan menderita walau hanya dengan cara itu.

image

Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan kita, dalam Karma kita sendiri. Melakukan perbuatan baik, kita akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, kita akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, kita membiarkan karma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, kita hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (karma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Sebagai contoh dari kita telah datang dari tempat yang bermil-mil jauhnya, untuk mencari, mendengarkan melaksanakan Dharma ke suatu pura. Berpikir bahwa kita telah datang dari tempat yang sangat jauh dan melewati banyak rintangan untuk ke pura tersebut. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok pura tersebut tetapi belum pernah memasuki pagar pura tersebut. Jika kita renungkan hal ini, tentunya akan membuat kita semakin menghargai karma baik bukan?

Ketika kita melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi kita untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kita dapat melihat diri kita sendiri. Bahkan jika kita masuk kedalam lubang yang dalam, kita tetap akan menemui diri kita sendiri disana. Tidak mungkin kita melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa kita tidak melihat kesucian sendiri? Kita akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, kita akan melihat ini semua untuk kita sendiri. Karena tiada hal yang lebih Valid, yang lebih Sahih selain Hukum Kausal bernama Hukum Karmaphala ini.

Semoga renungan singkat ini, memberikan kita arah dan petunjuk yang semakin jelas-ke arah mana bidak kehidupan ini mesti kita arahkan. Semua tergantung pada diri kita sendiri, karena saat ini Kunci itu sudah berada di Tangan kita masing-masing. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu

“Jika ibu wajahnya selalu memancarkan keceriaan, seluruh rumah tangga berbahagia, tetapi jika wajahnya cemberut,semuanya akan kelihatan suram”. (Manavadharmasastra, III.62)

Setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari Ibu~sebagai penghormatan atas jasanya kepada putra-putrinya yang telah melahirkan bangsa ini. Bila kita membicarakan ibu, maka perhatian kita pada sebuah keluarga (keluarga inti) yang terdiri dari ibu, bapak dan anak-anak. Keluarga merupakan tahapan hidup yang kedua bagi setiap orang. Tahapan yang pertama disebut Brahmacari, yakni menuntut ilmu pengetahuan selaras pula dengan perkembangan jasmani dan rohani manusia. Ketika ia mencapai kematangan jasmani dan rohani, mereka memasuki kehidupan berumah tangga yang disebut Grhastha asrama. Kehidupan keluarga ini dimulai dengan upacara perkawinan (Vivaha). Perkawinan tanpa upacara (Vivaha tan sinangaskara) tidak dibenarkan dalam agama Hindu dan diyakini sebagai dosa yang membuat kehancuran rumah tangga dan masyarakat. Untuk lebih memahami tentang peranan ibu dalam mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia, terlebih marilah kita tinjau makna dari perkawinan menurut kitab-kitab Manavadharmasastra, yaitu :

1. Dharmasampati;  suami istri secara bersama-sama melaksanakan ajaran Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban hidup sesuai dengan ajaran agama.
2. Praja; suami istri mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang suputra, berkualitas yang akan melajutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur.
3. Rati; suami istri dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma (kebenaran).

Bila setiap rumah tangga dapat mewujudkan ketiga hal tersebut di atas, maka kesejahtraan dan kebahagiaan akan dapat diwujudkan rumah tangga itu. Dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya dinyatakan bahwa hubungan antara suami- istri dinyatakan sebagai satu jiwa dalam dua badan :

“Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri, penuh keindahan. Hendaknya senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian. Mereka stu jiwa bagi keduanya” (Atharvaveda VII.36.1).

Selanjutnya kitab Manavadharmasastra menyatakan: Hendaknya suami istri tidak jemu-jemunya mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagiaan rumah tangga.

“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, tidak jemu-jemunya mengusahakan dan mewujudkan agar mereka tidak bercerai, mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan dan jangan melanggar kesetiaan antara yang satu dengan yang lainnya”.(Manavadharmasastra, IX.102).

“Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus diyakini sebagai hukum yang tertinggi bagi suami-istri”.
(Manavadharmasastra, IX.101).

“Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula istri terhadap suaminya, di sana kebahagiaan pasti kekal abadi”. (Manavadharmasastra, III.60).

Suami dan istri diamanatkan oleh Tuhan Yang Mahaesa dalam kitab suci Veda untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan mengikuti jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku), memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sendiri dan hidup dengan sejahtra dan bahagia di dalamnya:

“Wahai suami dan istri hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukan tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya”.  (Atharvaveda XIV.2.43).

Terjemahan mantra Veda ini sangat relevan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini. Seseorang yang telah siap untuk memasuki rumah tangga harus mampu mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Untuk bisa mandiri, seseorang hendaknya memiliki penghasilan yang tetap dan untuk itu peranan pendidikan dan kerja keras yang juga senantiasa ditekankan dalam kitab suci Veda mengantarkan orang dapat mandiri. Demikian pula untuk memiliki putra-putri yang perwira, suputra atau berkualitas, setiap keluarga bila sepenuhnya mengikuti ajaran agama (termasuk disiplin dalam hubungan suami sitri), putra- putri yang dicita-citakan akan lalhir pada keluarga itu. Di sinilah agama berperanan penting dalam menyiapkan SDM atau generasi yang berkualitas sesuai harapan setiap keluarga. Idealnya dalam setiap keluarga, suami sebagai kepala rumah tangga (disebut Grhapatya, Grhapati atau disingkat dengan Pati) sedang istri adalah ratu rumah tangga yang disebut Rajni atau Patni. Suami istri sering disebut Patipatni atau Dhampati. Sebelum membahas perana ibu dalam mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagian, marilah kita tinjau tugas suami sebagai kepala rumah tangga dan ayah bagi anak-anaknya .

Di dalam Manavadharmasastra IX.2,3,9 dan 11 dapat dirangkumkan sebagai berikut :

a. Suami wajib melindungi istri dan anak-anak serta memperlakukan istri dengan wajar dan hormat. Wajib memelihara kesucian hubungannya dengan saling mempercayai sehingga terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.

b. Suami hendaknya menyerahkan harta kekayaannya dan menugaskan istrinya untuk mengurusnya juga urusan dapur, upacara agama dalam rumah tangga dan dalam upacara-upacara yang besar bersama suaminya.

c. Suami berusaha menjamin kehidupan istrinya serta memberikan nafkah, terutama bila dalam suatu urusan atau ketika ia harus melaksanakan tugas ke luar daerah.

d. Suami wajib menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama menjamin kesucian peribadi dan keturunannya serta menjauhkan diri dari segala unsur yang mengakibatkan perceraian.

e. Suami hendaknya selalu merasa puas dan bahagia bersama istrinya karena bila dalam rumah tangga suami istri selalu merasa puas, maka rumah tangga itu akan terpelihara kelangsungannya.

f. Suami wajib menjalankan Dharma Grhastha dengan baik, Dharma kepada keluarga (Kula Dharma), terhadap masyarakat dan bangsa (Vamsa Dharma) serta wajib mengawinkan putra-putrinya pada waktunya.

g. Suami berkewajiban melaksanakan Sraddha, Pitrapuja kepada leluhurnya, memelihara anak cucunya serta melaksanakan Yajna. Demikian antara lain tugas dan tanggung jawab suami sebagai Bapak atau sebagai kepala rumah tangga. Bila dilaksanakan dengan baik, kelangsungan dan kebahagiaan rumah tangga atau keluarga akan dapat diwujudkan.

Peranan Ibu dalam keluarga Di dalam Vanaparva Mahabharata (VIII.29) terdapat dialog antara Yudhistira dengan Yaksa yang menanyakan apakah yang lebih berat dari pada bumi dan lebih tinggi dari langit. Yudhistira menjawab : Ibu lebih berat dari bumi dan ayah lebih tinggi dari langit. Penjelasan yang sama dapat kita jumpai dalam Sarasamuccaya 240. Mengapa ibu dilambangkan dengan bumi dan ayah dengan langit. Pengorbanan ibu demikian besar dan tulus.Masyarakat Bali membandingkan saat seorang ibu melahirkan seperti tergantung pada sehelai rambut, sangat berbahaya dan bila salah sedikit ibu atau bayi atau keduanyapun akan korban. Penderitaan ibu saat melahirkan dari ibu tiada taranya. Seorang anak mungkin bisa melupakan kasih ibunya, tetapi seorang ibu tidak akan tidak mencintai anaknya :

“Demikianlah Ibu, dalam kasih sayang kepada anaknya sama rata, sebab baik anaknya mampu atau tidak mampu, yang baik budi pekertinya atau yang tidak baik, yang miskin atau kaya, anak-anaknya itu semua dicintai dan dijaganya, diasuhnya mereka itu, tidak ada yang melebih kecintaan ibu dalam mencintai dan mengasuh anak-anaknya”. (Sarasamuccaya 245).

Di dalam kitab suci Veda, suami hendaknya mengucapkan janji dan harapan kepada istrinya sebagai berikut: “Wahai istriku menjadilah pelopor dalam hal kebaikan, cerdas, teguh, mandiri, mampu merawat dan memelihara rumah, senantiasa taat kepada hukum seperti halnya bumi pertiwi. Aku memilikimu untuk kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga” (Yajurveda XIV.22).

“Seorang istri sesungguhnya adalah seorang cendekiawan dan mampu membimbing keluarganya”. (Rgveda VIII.33.19).

Seorang wanita, istri atau ibu juga diminta berpenampilan lemah lembut :

“Wahai wanita, bila berjalan lihatlah ke bawah, jangan menengadah dan bila duduk tutuplah kakimu rapat-rapat”.(Rgveda VIII.33.19).

“Wahai istri, tunjukkan keramahanmu, keberuntungan dan kesejahtraan, usahakanlah melahirkan anak. setia dan patuhlah kepada suamimu (Patibrata), siap sedialah menerima anugrah-Nya yang mulia”. (Atharvaveda XIV.1.42).

“Wahai para istri, senantiasalah memuja Sarasvati dan hormatlah kamu kepada yang lebih tua”. (Atharvaveda XIV.2.20).

“Hendaknya istri berbicara lembut terhadap suaminya dengan keluhuran budi pekerti”. (Atharvaveda , III.30.2).

Sesungguhnya untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga tidaklah semata tanggung jawab ibu, istri atau suami saja, tapi kedua belah pihak berusaha mewujudkan hal tersebut :

“Wahai suami istri, binalah keluhuran keluarga, bekerjalah keras untuk meningkatkan kesejahtraan hidupmu. semoga kemashuran dan kekayaan yang engkau peroleh memberikan kebahagiaan”. (Rgveda V.28.3).

“Wahai suami-istri, tekunlah dan tetaplah laksanakan kebajikan, hanya orang yang memiliki Sradha (keimanan) yang teguh akan sukses di dunia ini”. (Atharvaveda VI.122.3).

Suami istri tidak dibenarkan terlalu menurutkan hawa nafsunya dan senantiasa tekun untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan : “Hendaknya dorongan nafsu seksual tidak menodai kesucian pribadi” (Atharva istri tahan ujilah kamu, rawatlah dirimu, lakukan tapa brata, laksanakan Yajna di dalam rumah, bergembiralah kamu, bekerjalah keras kamu, engkau akan memperoleh kejayaan”.  (Yajurveda XVII.85).

“Jadikanlah rumahmu itu seperti sorga, tempat pikiran-pikiran mulia, kebajikan dan kebahagiaan berkumpul di rumahmu itu”. (Atharvaveda VI.120.3).

“Hendaknya dewi kemakmuran bersedia tinggal disini, tempat yang menyenangkan di rumah ini, dalam keluarga dan juga pada ternakmu”. (Yajurveda VI.120.3).

Di dalam berbagai susastra Hindu banyak dijumpai petunjuk-petunjuk untuk mewujudkan keharmonisan, kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga. Kunci keberhasilan untuk mencapai hal itu adalah kerja keras dan tekun melakukan kebaktian kepada Tuhan Yang Mahaesa. Memperhatikan uraian tersebut di atas, ibu sangat menentukan (bersama bapak) dan sangat berperanan dalam mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga. Menurut tradisi Hindu, ada 6 jenis ibu yang patut dihormati seperti ibu kandung sendiri, yaitu:
1. Ibu kandung yang melahirkan,
2. Bidan atau dukun yang membantu ibu melahirkan.
3. Istri guru yang memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
4. Istri pejabat (pemerintah) yang turut serta membangun kesejahtraan kesejahtraan rakyat.
5. Sapi yang membantu petani dalam mengolah tanah dan memberikan susu.
6. Ibu Pertiwi, bumi tercinta yang memberikan kesejahtraan kepada semua makhluk.

Demikian antara lain peranan seorang ibu dalam mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga.

Om Dirgayur astu tat astu svaha.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma ( Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Bhagavad-Gītā, Adhyaya  IX.32:

māṁ hi pārtha vyapāśritya, ye ‘pi syuḥ pāpa-yonayaḥ
striyo vaiśyās tathā śūdrās, te ‘pi yānti parāṁ gatim

Artinya:
Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi.
__________
O son of Pṛthā, even for very sinful people, labours, farmers, merchants and women, but by fully sheltering on Me then they will reach the ultimate destination.

Makna Kekinian:
Disinilah tercermin Kerendahan Hati Yang Maha Kuasa, tercermin juga KemurahanNya dan KasihNya. Memang Yang Maha Esa ini Maha Pemurah dan Penyayang sehingga jalan kepadaNya terbuka untuk siapa saja yang menginginkannya secara tulus. Adalah salah kalau ada anggapan bahwa hanya  Brahmana atau Ksatrya saja yang dapat mencapaiNya. Itu hanya ilusi dan peraturan buatan manusia saja, yang penuh dengan rasa egois, keserakahan, dan angkara, yang justru bertentangan dengan ajaran Bhagavad Gita dan ajaran-ajaran Hindu lainnya. Semua orang maupun mahluk tanpa kecuali dapat pergi dan sampai kepadaNya, karena Ia milik semuanya tanpa diskriminasi, apalagi seseorang yang menyalakan pelita di dalam hatinya untukNya semata tanpa pamrih.

Demikian kupasan singkat Sloka ke-32 dari Adhyaya IX Ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita pribadi yang selalu optimis, karena semua entitas dapat Manunggal dengan Tuhan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Apa pengertian dan maksud “JRO ” dalam kata Jro Mangku, Jro Balian dan Jro Dalang ?. Secara harfiah istilah Jro sebenarnya berarti dalam. Misalnya: di Jro (jero) berarti didalam (di dalam pura/jeroan).

Dari istilah Jro yang berarti dalam itu nantinya bisa juga diberi makna sebagai suatu sebutan untuk seseorang yang mendalami atau bergerak atas dasar keahliannya dibidang tertentu. Maka lahirlah sebutan Jro Mangku untuk seseorang yang mendalami sekaligus bergerak dibidang kepemangkuan. Kemudian Jro Balian berlaku bagi orang ya g bergerak sekaligus ahli dibidang pengobatan alternatif (tradisional). Sedangkan istilah Jro Dalang digunakan atau dilekatkan pada seseorang yang bergerak sekaligus ahli dibidang pedalangan.

Karena sebutan Jro untuk contoh-contoh diatas sudah melekat sebagai bagian dari identitas diri seseorang, maka dimanapun dan kapanpun kita akan tetap bisa menyebutnya dengan panggilan “Jro”.

Perihal proses seseorang untuk bisa disebut sebagai “Jro” cukup banyak macamnya. Diantaranya karena keahlian dan atau bergerak dibidang tertentu seperti Jro Mangku, Jro Balian, Jro Dalang, dan lain-lainnya. Juga bisa diperuntukkan bagi seseorang karena statusnya sebagai orang dalam, misalnya sebagai pengayah di puri, bisa disebut “penyeroan”.

Kadang-kadang bagi seseorang yang karena belum dikenal pun bisa dipanggil dengan sebutan Jro contohnya: Jro lanang atau Jro istri.

Bahkan terhadap binatang tertentu tidak aneh diberi sebutan Jro, misalnya terhadap tikus, acapkali dipanggil “Jro ketut”.

Ada juga karena sakit atau petunjuk tertentu kemudian mewinten(upacara untuk jadi Jro mangku) dan juga dipanggil “Jro”.

Jadi istilah “Jro” cukup bervariasi arti dan maksud pemberian sebutan itu, yang kalau dikelompokkan setidaknya mempunyai dua pengertian yaitu: sebagai profesi dan bentuk penghormatan terhadap seseorang.

Demikian dapat tiang kemukakan sedikit tentang istilah “Jro” ini, dan ampura kalau ada hal-hal yg kurang berkenan. Salam cinta kasih penuh persaudaraan.
Suksma & Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Saat ini pemberantasan perjudian sedang digalakkan oleh pihak kepolisian kita. Begitu pula razia premanisme dan pelacuran. Judi, premanisme, dan pelacuran dianggap merupakan salah satu “penyakit masyarakat” yang banyak menimbulkan keresahan, seperti kejahatan atau tindak kriminal.

image

Pada zaman dulu tindak kriminal pun selalu dihubungkan dengan perjudian dan pelacuran. Maka untuk mengurangi kejahatan itu pihak aparat keamanan selalu bekerja sama dengan tuha judi atau juru judi (pengawas perjudian) dan juru jalir (pengawas pelacuran). Sayangnya juru judi dan juru jalir hanya disebutkan sepintas bersama petugas-petugas kerajaan yang lebih berperan dalam masyarakat, seperti petugas pajak dan petugas pengadilan, sehingga kita tidak mengetahui pasti apa peran juru judi dan juru jalir ketika itu. Uniknya, sebutan juru judi dan juru jalir hanya terdapat pada prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Timur.

Sumber-sumber kuno yang mengungkapkan juru judi dan juru jalir antara lain adalah Prasasti Kuti (840 M), Kancana (860 M), Waharu I (873 M), Barsahan (908 M), Kaladi (909 M), Sugih Manek (915 M), Sangguran (928 M), Cane (1021 M), dan Hantang (1135 M). Menurut sumber-sumber itu pembegalan, perjudian, pelacuran, mabuk-mabukan, dan sejenisnya merupakan salah satu gaya premanisme. Untuk mengantisipasi tindakan-tindakan negatif itu, maka pihak penguasa menyusun kitab undang-undang hukum pidana. Yang paling dikenal adalah Kitab Kutara-Manawadharmasastra. Kitab ini kemudian menjadi dasar Perundang-undangan Majapahit.

Penerapan kedua kitab itu berhasil gemilang berkat kecakapan para pelaksananya, yakni Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Keduanya mampu mengangkat Majapahit sebagai negara tenteram dan makmur hingga puluhan tahun lamanya.

Pembegalan

Tindak kriminal yang paling banyak diungkapkan prasasti, terutama dari zaman Mataram Hindu, adalah pembegalan dan pembunuhan. Yang relatif panjang lebar disebutkan dalam Prasasti Balingawan (891 M), sebagaimana pernah diungkapkan epigraf Boechari (almarhum), seperti berikut: Selama beberapa waktu rakyat desa Balingawan selalu merasa resah karena terlalu sering membayar denda atas rah kasawur dan wanke kabunan. Rah kasawur adalah perkelahian berdarah, sementara wanke kabunan adalah mayat yang terkena embun. Maksudnya suatu pembunuhan yang terjadi di malam hari kemudian mayatnya dibuang sehingga terkena embun di pagi hari.

Namun pelaku perkelahian dan pembunuhan itu tidak diketahui. Berkali-kali rakyat desa hanya menemukan darah berceceran dan sesosok mayat tergeletak di tegalan Gurubhakti di waktu pagi. Karena tegalan tersebut masuk wilayah Balingawan, maka rakyat desa itulah yang harus bertanggung jawab sekaligus membayar denda.

Berbagai jenis kejahatan umumnya terdapat dalam bagian prasasti yang disebut sukhaduhkha, kira-kira berarti segala perbuatan yang buruk dan yang baik dalam masyarakat. Misalnya wakcapala (memaki orang lain), hastacapala (baku hantam), mamuk (mengamuk membabi buta), dan amungpang (merampas, merampok, memerkosa).

Adanya kasus pembegalan juga dapat ditafsirkan dari Prasasti Mantyasih (907 M). Karena itu Rakai Watukura Dyah Balitung memberikan anugerah sima (tanah yang dicagarkan) kepada lima orang patih di Mantyasih secara bergantian. Mereka dinilai berjasa karena telah memenuhi permintaan rakyat desa Kuning untuk menjaga keamanan di jalanan. Sejak adanya mereka, rakyat di desa Kuning merasa tidak ketakutan lagi.

Hal senada juga diungkapkan Prasasti Kaladi (909 M). Alkisah dulu ada hutan arangan yang memisahkan desa Gayam dan Pyapya sehingga penduduk kedua desa menjadi ketakutan. Ini karena warga desa senantiasa mendapat serangan dari Mariwung yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan khawatir akan keselamatan mereka siang dan malam (M. Boechari, 1986).

Di kerajaan Mataram Hindu bahkan pernah ada sekelompok orang yang sering mengganggu keamanan (samahala). Prasasti Rukam (907 M) menyebut demikian, “…Seluruh petani desa Rukam memohon perlindungan kepada bhatara di Limwung terhadap orang-orang yang semula sering mengganggu keamanan daerah itu…” (Titi Surti Nastiti dkk, 1982).

Bentuk kejahatan lain diinformasikan Prasasti Kamalagyan (1037 M). Mungkin ini sabotase gaya kuno. “…Ada sekelompok orang hendak menghancurkan bendungan yang baru saja selesai dibangun. Padahal pembangunan waduk itu dilakukan dengan swadaya masyarakat dan campur tangan raja…,” demikian cuplikannya.

Kasus pencurian pernah dikemukakan Prasasti Wulig (934 M) dan Baru (1030 M), yakni tentang pencurian ikan di bendungan dan pencurian tanaman di kebun.

Denda

Ada kejahatan, tentu ada hukumannya. Namun sampai sejauh ini prasasti belum menyebutkan besarnya hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan. Hanya secara sepintas Prasasti Wuatantija (880 M) mengatakan mereka dikenakan denda berupa …mas ma 8 muang wuru wuruan 2 i satahun….

Beberapa prasasti seperti Waharu II (929 M) menyebutkan hukuman berupa kutukan. Pelanggar kejahatan disumpahin agar kakinya terantuk ranjau busuk, mati busung (perut membesar), menemui lima kesengsaraan (pancamahapataka), menderita sakit ayan (epilepsi), dan mendapat malu.

Kutukan dan sumpah juga dikeluarkan Prasasti Wukayana (angka tahunnya sudah rusak). Barang siapa berani mengusik sima di Wukayana, ibarat kepala ayam yang telah putus dari badannya dan tak akan kembali lagi. Ibarat telur yang hancur lebur, tak akan kembali utuh lagi. Bila orang tersebut pergi ke hutan agar dipatuk ular. Bila pergi ke ladang agar disambar petir meskipun tidak hujan. Bila datang ke sungai agar dibelit binatang air.

Soal kesadaran hukum, orang dulu pantas ditiru. Mereka tidak main hakim sendiri seperti pada zaman sekarang. Para penjahat harus dihadapkan ke sidang pengadilan, itu aturannya. Di situlah diputuskan apakah penjahat itu cukup dikenai denda atau harus dihukum badan. Besarnya denda pun berbeda-beda. Bila melakukan anjarah (merampok) sendiri dikenai denda 20.000, sementara jika beramai-ramai maksimum 160.000. Entah, belum diketahui satuan apa dendanya.

Denda, menurut arkeolog Slamet Pinardi (1986), juga dijatuhkan kepada anumpu (orang yang membunuh sepasang suami isteri di waktu malam untuk dirampas harta bendanya) dan ambaranang (orang yang membakar rumah-rumah di suatu desa dan penghuninya yang lari ke luar dibunuh).

Penerapan kitab hukum pada zaman dulu sangat ketat. Ini dapat dilihat ketika Ratu Sima memotong kaki sang anak karena dia telah melanggar undang-undang kerajaan. Meskipun para menteri sudah meminta keringanan hukuman, tetap saja Ratu Sima tidak bergeming dengan keputusannya itu. Kita yang hidup di masa kini, sudah seharusnya mempunyai undang-undang yang keras macam di Majapahit dan penguasa yang tidak pandang bulu seperti Ratu Sima.

Om Santih Santih Santih Om
#CyberDharmaIndonesia

Source: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=792060717566163&substory_index=0&id=277174302388143

Om Swastyastu

“Bekerjalah demi kewajibanmu, bukan demi hasil perbuatan itu, jangan sekali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tidak bekerja”(Bhagawad-Gita II.47)

“Bekerjalah seperti apa yang telah ditentukan, sebab bekerja lebih baik daripada tidak bekerja, dan bahkan tubuh pun tidak berhasil terpelihara jika tanpa bekerja” (Bhagawad-Gita III.8)

“Seperti orang bodoh yang bekerja karena keterikatan atas kerja mereka, demikianlah orang yang pandai bekerja tanpa kepentingan pribadi (tanpa pamrih) dan bekerja untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial “ (Bhagawad-Gita III-25)

”Mereka mempersembahkan semua kerjanya kepada Brahman dan, bekerja tanpa motif keinginan apa-apa, mereka tak terjamah oleh dosa, laksana daun teratai tak basah oleh air” (Bhagawad-Gita V-10)

image

Bekerja Demi Kerja

Kajian Makna:
Keempat sloka suci di atas menjadi prinsip dasar ajaran Karma Yoga atau bekerja menurut Hindu, yakni bagaimana umat Hindu menjalani hidup yang semestinya dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya agar hidup di dunia secara sejahtera (Jagadhita) dan menikmati kebahagiaan. Kegiatan pokok manusia selama hidupnya adalah beristirahat (termasuk tidur) dan bekerja (bekerja dalam hal ini meliputi berbagai aktivitas seperti beribadah, belajar, dan berusaha), dimana pada umumnya sepertiga waktu untuk istirahat dan duapertiganya untuk bekerja.

Bagi umat Hindu, bekerja adalah kewajiban (Swadharma), bekerja adalah suatu keharusan, baik itu karena memang perintah dari Tuhan maupun karena tuntutan untuk kelangsungan hidup di dunia.

Lebih jelas lagi, sesuai dengan keempat sloka di atas, bekerja yang diwajibkan adalah:
* Pertama, bekerja untuk Tuhan, bekerja adalah ibadah, dan bekerja adalah suatu persembahan kepada Tuhan;
*  Kedua, bekerja tanpa pamrih atau bekerja tanpa kepentingan pribadi; dan
* Ketiga, bekerja tidak terikat pada hasil kerja dan pahala; kemudian,
* Keempat, bekerja untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial. Jadi ada empat macam prinsip bekerja yang diwajibkan dalam ajaran Hindu, dimana empat prinsip ini merupakan satu kesatuan, tidak dapat dipisahkan.

Mari kita bahas satu persatu:
1.  Pertama, bekerja untuk Tuhan, atau bekerja sebagai persembahan kepada Tuhan. Yang dimaksud dengan ini adalah bekerja sungguh-sungguh dengan sebaik-baiknya dan dengan seluruh kemampuan seperti halnya kerja seorang maestro menghasilkan karya masterpiece atau monumental, karena Tuhan adalah Maha Baik yang hanya menerima persembahan yang baik dan benar. Bekerja adalah bagian dari beribadah, seperti sembahyang, bekerja adalah kewajiban setiap manusia, bahkan bekerja adalah upaya memenuhi panggilan Tuhan dan menjalankan perintah dan kehendak-Nya. Meskipun sibuk dan fokus pada pekerjaan namun tidak pernah lupa kepada Tuhan, seperti ditunjukkan dengan sebelum dan sesudah bekerja selalu ingat mengucapkan doa permohonan dan puji syukur.

2. Bekerja tanpa pamrih, bekerja seperti ini sama seperti di atas, yaitu sebagai konskuensi kerja merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan, seperti halnya melakukan yajna maka bekerja harus didasarkan niat yang tulus ikhlas, tanpa pamrih, tidak merasa terpaksa, namun karena memang senang melakukannya, sesuai dengan keahlian dan kemampuan, serta menyadari manfaat pekerjaannya baik bagi dirinya maupun orang lain. Bekerja tanpa kepentingan pribadi maksudnya bekerja bukan karena dorongan hawa nafsu dan egoisme semata namun untuk menjaga martabat atau harga diri serta untuk memperoleh eksistensi diri karena dibutuhkan oleh orang banyak.

3. Bekerja tanpa terikat pahala, hal ini juga kosekuensi dari kerja sebagai persembahan kepada Tuhan, maka kita sadar bahwa Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kasih, Beliau pasti membalas perbuatan baik dengan pahala baik yang berlimpah, dan membalas perbuatan jahat dengan hukuman yang setimpal, mekanisme ini sudah merupakan kepastian dimana mekanisme ini disebut dengan hukum karmapala. Sadar dan meyakini tentang hal ini, maka setiap orang tidak usah terlalu sibuk memikirkan atau berhitung pahala sebagai hasil bekerja, misalnya selalu berpikir untung rugi dalam melakukan perbuatan baik, dalam berbisnis. Model berpikir ini tepat, namun kurang tepat jika diterapkan dalam relasi sosial dan kemanusiaan. Setiap manusia diharapkan menggunakan logika, rasa dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan suatu urusan.

4. Selanjutnya, bekerja untuk kesejahteraan semua (sarvodaya menurut versi Gandhi), di atas sudah disebutkan bekerja bukan untuk kepentingan pribadi, jadi buat kepentingan siapa? Jawabannya jelas, bekerja untuk kepentingan semua, kepentingan bersama, kepentingan umum, kepentingan rakyat, kepentingan kemanusiaan dan tentunya kepentingan Dharma. Mengapa demikian? Itu karena keadilan, ketertiban dan kedamaian sangat lekat dengan kebersamaan, kesetaraan, keseluruhan, dan kemanusiaan, dimana keadilan, ketertiban dan kedamaian adalah kondisi idaman setiap orang dan kesejahteraan dan kebahagiaan hanya dapat terwujud dimana keadilan, ketertiban dan kedamaian tercipta terlebih dulu. Inilah hubungan bekerja tanpa kepentingan pribadi dan bekerja untuk kesejahtraan semua. Kepentingan pribadi tidak selalu sejalan dengan kepentingan semua, jadi kepentingan pribadi bisa jadi suatu saat merusak upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Semoga kita senantiasa dapat melaksanakan swadharma dengan sebaik-baiknya. Dan mari gunakan kerja sebagai jalan untuk menuju Hyang Widhi. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 267 other followers