Pustaka Hindu


“KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI HITA KARANA”
Ide Cerita: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)- Bekasi

Pernah dipentaskan dalam bentuk drama tari di Pura Agung Tirta Bhuana -Bekasi Th. 2007

PENDAHULUAN

Umat Hindu memercikkan, meminum dan mengusapkan AIR SUCI pada kepala dan mukanya sebagai pengakhir dari persembahyangan mereka. Untuk mengetahui apa yang dinamai AIR SUCI dalam Agama Hindu kami akan memulainya dengan menguraikan mengenai air Suci Sungai Gangga, yang ada di Bharata Warsa yaitu India.

Dunia Barat, yang kini terkenal menjadi tempat pusat kemajuan teknologi mutakhir itu, pada jaman turunnya wahyu Veda di Dunia Timur, masih merupakan hutan rimba yang dihuni oleh manusia-manusia primitive. Dengan turunnya wahyu Veda, berarti dimulainya peradaban manusia, dan itu dimulai dari Dunia Timur.

Wahyu Veda disabdakan Hyang Widhi ke dunia melalui para Maharsi Bangsa Arya, yang terkenal genius itu. Sabda Tuhan tersebut diterima oleh para Maharsi melalui pendengarannya, sehingga kemudian sabda tersebut dinamai Sruti. Para Maharsi mampu mengingat-ingat wahyu Veda tersebut sampai akhir hayatnya. Sebagai penerima wahyu, para Maharsi meiliki kewajiban untuk menyebarluaskan wahyu tersebut kepada masyarakat.

Dalam penyebarluasan Veda inilah para Maharsi mengalami kesulitan, karena kemampuan masyarakat berbeda-beda. Bagi mereka yang pikirannya mampu, diberikan pelajaran setara ilmiah. Tetapi bagi yang sangat awam, diajar Veda dengan penafsiran. Tafsir-tafsir Veda tersebut dinamai Smrti.

Salah satu macam tafsir Veda yang disebut kitab-kitab Purana, memuat dongeng-dongeng keagamaan. Kini, kitab-kitab Purana tersebut berjumlah 36 pustaka. Bagi yang terpelajar, mungkin akan tersenyum tidak percaya bila telah membaca kitab-kitab Purana tersebut. Bahkan menuduh, bahwa penulis kitab-kitab Purana itu pembohong, penipu masyarakat yang sangat awam. Akan tetapi, pendapat tersebut akan hilang, apabila ia tahu, bahwa penulisan dongeng-dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut hanya merupakan simbolik-simbolik, merupakan gambaran-gambaran yang mudah dimengerti oleh orang awam, yang mengandung makna dan kebenaran yang dapat diterima dengan wajar. Jadi penulisan dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut, hanya merupakan media atau alat pendidikan yang sederhana dan mudah bagi orang awam.

KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI
HITA KARANA

Tentang kesucian sungai Gangga juga dimuat dalam kitab Purana. Berbentuk cerita yang sangat menarik bila dibacakan.

PROLOG:

Dahulu, kerajaan Ayodhya pernah diperintah oleh seorang raja yang bernama SAGARA. Baginda mempunyai dua orang istri. Dari istrinya yang pertama, Sang Raja dianugerahi seorang Putra bernama ANSUMAN, dan setelah dewasa menjadi seorang pertapa. Dan istri kedua baginda mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang.

Diceritakanlah, pada suatu hari raja Sagara akan mengadakan Asvamedha Yajna atau Upacara Korban Kuda. Suatu upacara korban, harus didasari kesucian dan ketulusan hati. Nampaknya prinsip tersebut tidak dipegang oleh Sri Baginda. Ia mengadakan Asvamedha Yajna, hanya ingin mendapatkan kemasyuran dirinya belaka, dan hanya ingin menunjukkan kekuasaannya.

SITUASI & DIALOG I
Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Paruman Kerajaan

Perdana Menteri: Om Swatyastu Paduka Raja, semoga atas anugerah Hyang Widhi, Paduka dilimpahkan kemuliaan. Mohon paduka menyampaikan amanat kepada hamba semua, ada tugas apa yang harus kami lakukan sehingga Paduka mengumpulkan kami semuanya?

Raja Sagara : Wahai Rakyatku yang setia……….setelah sekian lama Aku memerintah kerajaan ini, tak terasa kerajaanku telah tumbuh menjadi kerajaan yang besar. Untuk itu Aku berniat menyelenggarakan Karya Agung yaitu Asvamedha Yajna, bagaimana menurutmu Perdana Menteri?

Perdana Menteri: Ampun Paduka, niat Paduka itu sangat mulia, karena Asvamedha Yajna adalah upacara yang paling utama dari semua upacara korban, hamba sangat setuju dan akan mendukung niat paduka tersebut.

Raja Sagara: Perlu kalian ketahui maksudku melaksanakan upacara ini, Aku ingin menjadi raja termasyur dan paling disegani di muka bumi ini. Aku ingin agar semuanya tunduk dan bersujud di bawah kekuasaanku, Aku ingin menjadi penguasa atas dunia ini.

Perdana Menteri: Baik Baginda…….Semua titah paduka akan hamba laksanakan.

Kemudian raja meninggalkan tempat diikuti oleh kedua istri, anak-anaknya dan diiringi oleh punggawa kerajaan.

SITUASI II

Pada saat upacara dilangsungkan yang dipimpin oleh pendeta kerajaan, niat jahat dari Sang Raja telah diketahui oleh Dewa Indra, dan untuk menggagalkan maksud nakal Raja Sagara tersebut, dewa Indra menjelma sebagai ASURA (Orang Jahat). Ketika Kuda yang dijadikan korban telah dilepas, di tengah perjalanan Kuda tersebut dihalau oleh ASURA hingga masuk ke dalam tanah.

SITUASI & DIALOG III

Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Tegang

Sri Baginda Raja Sagara sangat marah, setelah mengatahui kudanya hilang. Maka segeralah memerintahkan ke 60.000 putra-putranya untuk mencari kudanya yang telah menghilang itu.

Raja Sagara: Pengawal……. Pengawal……. Perdana menteri………. Senapati dimana kalian semua, mengapa kuda korbannya bisa hilang? Apa kerja kalian siang dan malam, Aku telah menyuruhmu untuk menjaga dan mengawasi kuda tersebut mengapa bisa hilang? Putra-putraku semuanya sekarang kalian cepat pergi…. cari ke seluruh penjuru dan jangan kembali sebelum kalian menemukan kudanya !

Putra Raja : Baik Ayahanda, semua perintah paduka akan hamba lakukan……..hamba mohon pamit! ( dengan sikap agak terpaksa dan ketakutan)

Demikianlah Sri Baginda Raja Sagara, yang sangat murka memerintahkan putra-putranya untuk mencari kuda korban itu tanpa ada yang berani membantah, walau dalam hati mereka sebenarnya enggan melaksanakan tugas tersebut.

SITUASI & DIALOG IV
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila
Situasi: Tegang

Belum lama mengadakan perjalanan, putra-putra Raja Sagara telah dapat menemukan kuda yang hilang itu. Ternyata kuda itu, berada di pertapaan Rsi Kapila. Hal ini menyebabkan Putra-putra Raja sagara tersebut berburuk sangka terhadap Rsi Kapila. Mereka menuduh Sang Rsi telah mencuri kudanya.

Putra Raja 1: Wahai Sang Rsi ……Kami Putra Raja Sagara dari kerajaan Ayodhya, sedang mencari kuda yajna yang menghilang, dan kami menemukan kuda tersebut di sini, pastilah Sang
Rsi yang telah mencurinya?

Rsi Kapila: Om Swastyastu…..terimalah hormat hamba sebagai abdimu, maaf tuan …..semua yang tuan tuduhkan itu tidaklah benar, kuda itu datang sendiri ke pertapaan hamba!

Putra Raja 2: Aah…. Dasar pencuri! Mana ada pencuri yang mengaku? Kakanda pastilah Dia yang telah mencuri kuda ini, dan dia pantas dihukum atas kejahatannya ini.

Putra Raja 3: Siksa saja Dia, lalu kita hanyutkan ke sungai, biar tahu rasa…..apa akibatnya kalau mencuri dan berbohong!

Niat buruk para Ksatria tersebut diketahui oleh Rsi Kapila, maka ia mendahului menghukum para Ksatria congkak itu. Melalui pancaran sinar sakti matanya, Rsi Kapila membakar habis ke 60.000 pura Raja Sagara hingga menjadi abu.

SITUASI & DIALOG V
Tempat : Kerajaan Ayodhya
Situasi : Cemas

Prabhu Sagara sangat gelisah, karena sudah cukup lama putra-putranya tidak kembali. Oleh karena itu, Sang Ansuman, putra yang telah menjadi pertapa itu, diperintahkan agar segera menyusul saudara-saudaranya dalam mencari kuda.

Raja Sagara: Pengawal……….segera engkau panggilkan putraku Sang Ansuman, untuk menghadapku!

Pengawal: Baik Yang Mulia

Sang Ansuman: Om Swastyastu ……Ayahanda, terimalah sembah bhakti hamba, kalau boleh hamba tahu apa yang menyebabkan mengapa Ayahanda begitu gelisah ?

Raja Sagara: Bagaimana Ayah tidak cemas, sejak kepergian saudara-saudaramu mencari kuda yajna, hingga hari ini belum juga kembali, jangan-jangan mereka mendapat celaka! Itulah sebabnya Ayah memanggilmu untuk segera menyusul saudara-saudaramu mencari kuda terebut.

Sang Ansuman: Jika itu penyebab kegelisahan Ayahanda, saya siap melaksanakan tugas ini dan menemukan kembali kuda dan saudara-saudara saya. Ijinkalah saya menyusulnya sekarang juga!

Raja Sagara: Berangkatlah, doa dan restu ayah menyertaimu!

Sang Ansuman, setelah menghaturkan sembah, segera berangkat napak tilas perjalanan saudara-saudaranya.

SITUASI DAN DIALOG VI
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila

Sampailah SangAnsuman di pertapaan Rsi Kapila. Ia melihat kuda yang dicarinya. Sang Ansuman, yang telah terbiasa bergaul dengan para pertapa, segera menghadap Sang Rsi. Ia duduk bersila di hadapan Rsi itu, kemudian menyembah kaki Rsi Kapila. Setelah mengahaturkan sembah, Sang Ansuman memulai pembicaraan

Sang Ansuman: Om swastyastu Wahai Rsi Agung, terimalah sembah sujud saya…… Hamba Sang Ansuman Putra Raja Sagara dari Ayodhya,…….maaf Rsi Agung, kedatangan saya ke sini untuk mencari kuda yang hilang. Mungkinkah kuda yang dipertapaan ini milik keluarga kami?

Rsi Kapila: Mungkin betul ananda. Kuda itu datang kemari sendiri dan aku hanya merawatnya. Periksalah terlebih dahulu, kalau memang kuda itu yang ananda cari, aku tidak keberatan untuk memberikan kuda itu kepadamu!

Belum sampai Sang Ansuman mengajukan permohonan, ternyata pertapa itu telah menyerahkan kuda itu kepadanya. Hal ini terjadi karena Rsi kapila sangat senang melihat Sang Ansuman yang gunawan.

Sang Ansuman: Terima kasih maha Rsi. Namun sebelum ananda mohon diri, perkenankanlah nanda mengajukan sebuah pertanyaan. Tidakkah Maha Rsi melihat ke 60.000 saudara saya, yang juga ditugaskan mencari kuda yang hilang?

Rsi Kapila: Memang anakku, saudara-saudaramu telah datang kemari!

Rsi Kapila menarik napas panjang, raut mukanya nampak serius, kemudian melanjutkan percakapannya.

Mereka datang kemari dengan tidak sopan, melanggar dharmaning ksatria, malah mereka telah berbuat Adipataka (dosa yang sangat besar dan berat). Mereka menuduhku mencuri kuda itu, dan mereka bermaksud akan mencelakakanku. Karena itulah, mereka terpaksa kumusnahkan, dengan menggunakan pancaran sakti mataku. Lihatlah sekeliling pertapaan ini, abu-abu yang berserakan itu adalah abu-abu saudaramu.

Sang Ansuman memandang sekeliling pertapaan. Ia terdiam seribu bahasa. Mukanya yang tadinya ceria, kini dengan cepatnya berubah menjadi sayu. Ia sangat sedih, walaupun mereka hanya saudara tiri, namun ia merasa turut kehilangan.

Rsi Kapila: Sudahlah Ansuman, Janganlah bersedih hati. Saudara-saudaramu itu masih bisa dihidupkan kembali. (kata Rsi Kapila menghibur).

Sang Ansuman: Betulkah itu Maha Rsi ?

Rsi Kapila: Ya, saudara-saudaramu itu akan hidup kembali bila Dewi Gangga berkenan turun dari Sorga ke Bumi. Lakukanlah tapa, untuk memohon agar Dewi Gangga turun ke dunia!

Ansuman tidak berkata apa-apa, tetapi menganggukkan kepalanya suatu tanda telah mengerti akan nasihat Sang Rsi. Setelah bersujud mohon pamit, Ansuman berdiri, kemudian berjalan menuju tempat kuda diikatkan. Ia menuntun kuda itu pulang dengan langkah yang lunglai.

SITUASI DAN DIALOG VII
Tempat: Istana Ayodhya
Situasi: Riang-sedih

Perjalanan yang dirasa dekat pada waktu berangkatnya, kini terasa jauh. Langkah demi langkah, akhirnya tiba pula di Ayodhya. Diikatkanlah kuda itu di kandangnya. Kemudian Sang Ansuman segera menghadap ayahanda raja, yang suatu kebetulan saat itu semua kerabat sedang berkumpul dalam persidangan. Sebagaimana biasanya, Sang Ansuman pun segera menghaturkan sembah ke hadapan ayahnya.

Sang Ansuman: Om Swastyastu …..sembah sujud hamba ayahanda.

Sang Raja yang menerima sembah itu tahu, bahwa putranya dalam keadaan murung. Sementara semua kerabat, yang turut hadir dalam persidangan itu diam. Tidak seorangpun yang berbicara. Semua memperhatikan Sang Ansuman dengan penuh tanda tanya. Sekali lagi Ansuman mencium kaki ayahandanya, namun sang raja, belum juga mengerti apa yang dirisaukan putranya.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi ananda?” Sang Prabu memulai pembicaraan.

Dengan kata-kata yang tersendat-sendat,

Sang Ansuman: “Ramanda, saudara-saudarakua telah kena kutuk pastu Bhagawan Kapila. Mereka dibakar habis menjadi abu.”

Suasana persidangan berubah seketika. Sekejap jerit tangis meledak memenuhi ruangan. Air mata bercucuran. Hanya Sri Bagindalah yang tidak meneteskan air mata. Beliau hanya menunduk sedih. Menyesali kejadian yang menimpa putra-putranya.

Sang Ansuman: “Ayahnda. Janganlah menyalahkan Rsi Kapila, apalagi menghukumnya. Beliau tidak bersalah justru saudara-saudarakulah yang telah berbuat Adipataka (dosa terbesar). Mereka telah merencanakan pembunuhan terhadap sang pertapa.”

Sang Raja: “Betul anakku merekalah yang bersalah. Terus apa yang dinasehatkan pertapa itu kepadamu?”

Sang Ansuman: “Saudara-saudaraku masih bisa dihidupkan kembali.”

Jawaban tersebut mengejutkan semua yang hadir, sehingga mengubah suasana persidangan. Suara tangispun mereda, walau isak-isak tangis masih terdengar di sana-sini. Mereka dengan tekun mengikuti pembicaraan, penuh harap, agar kejadian yang mustahil itu dapat terwujud.

Sang Raja: “Apa yang harus kita lakukan Ansuman?”

Sang Ansuman: “Rsi kapila menasehatkan, saudara-saudaraku bisa dihidupkan kembali, jika Dewi Gangga telah dapat diturunkan dari Surga ke bumi.”

Semua yang hadir dalam persidangan, penuh tanda tanya, tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Namun bagi Sri baginda, hal itu sudah cukup dimengerti, sehingga beliau menganggukkan kepalanya.

Sang Raja: “Ansuman anakku, dalam sastra suci telah disebutkan, bahwa putra adalah pelanjut dharma orang tua. Bersiap-siaplah, sudah waktunya ananda menggantikan ayah, memimpin rakyat Ayodhya. Jadilah pemimpin yang bijaksana, agar rakyat hidup tentram, damai, dan, sejahtera.”

Kisah selanjutnya, Ansuman menjadi raja di Ayodhya, sedang Prabhu Sagara melakukan tapa guna memohon turunnya Dewi Gangga. Sampai akhir hayatnya, permohonan Prabhu Sagara belum terkabulkan. Sehingga Ansuman melanjutkan melakukan tapa. Tapi masih berbasib sama dengan ayahandanya. Permohonan belum juga terkabulkan. Dilipa, putra Ansuman, juga menyusul melanjutkan dharma kakeknya. Ia gagal pula. Dan akhirnya, sang Bagiratha, Putra Dilipa yang terkabulkan permohonannya.

SITUASI DAN DIALOG VIII
Tempat: di tengah hutan
Situasi: damai

Sang Bagiratha, buyut Prabhu Sagara itu, telah bertapa dengan hebatnya. Sorga tergoncang oleh tapanya sehingga Dewa Brahma berkenan turun ke bumi.

Dewa Brahma: “Ananda Bagiratha, tapamu begitu hebatnya, yang meresahkan para dewata. Apa yang kau kehendaki?”

Bagiratha: “Dewata yang selalu hamba puja, hamba memohon agar Dewi Gangga diturunkan ke bumi di sekitar pertapaan Rsi Kapila. Hanya dengan cara itulah leluhurku yang terkena kutuk Rsi Kapila akan hidup kembali dan dibersihkan dari dosa dan noda.”

Dewa Brahma : Permohonanmu terkabulkan Bhagiratha, tetapi ketahuilah, Dewi Gangga akan turun dengan derasnya. Bumi pasti tergoncang karenanya. Segala yang dilaluinya pasti hancur, basmi buta semuanya. Hanya Dewa Siwalah yang dapat menghambatnya.”

SITUASI DAN DIALOG IX
Tempat: Di tengah hutan
Situasi: Damai

Setelah menerima sembah dari Bagiratha, Dewa Brahma segera kembali ke Brahmaloka. Bhagiratha melanjutkan tapanya, guna memohon turunnya Dewa Siwa. Tak lama kemudian Siwa turun ke bumi mendatangi Bagiratha.

Dewa Siwa: “Hai, Bagiratha, tidakkah Brahma telah mengabulkan permohonanmu? Apalagi yang kau kehendaki dariKu?”

Bagiratha: “Betul, permohonan hamba telah dikabulkan. Namun apa artinya hamba dapat menolong leluhur, tetapi membencanai orang lain? Oleh karena itu, hamba mohon, sudilah kiranya Hyang Siwa menghambat turunnya Dewi Gangga ke bumi secara tidak dhasyat.”

Dewa Siwa: “Permohonanmu kukabulkan, Bagiratha.”

Tanpa menunggu sembah Bhagiratha, Dewa Siwa segera menuju ke puncak gunung Kailasha. Bhagirathapun segera menuju ke pertapaan Rsi Kapila. Untuk menyaksikan sendiri keajaiban dunia yang akan segera terjadi itu.

SITUASI X

Sementara itu dunia menjadi gelap gulita dengan cepatnya. Awan hitam tebal menyelimuti bumi, suara gemuruh teriring kilatan petir yang yang dibarengi dengan suara geledek yang mengerikan. Seolah maha pralaya telah tiba. Bersamaan dengan itu Dewi Gangga turun ke bumi dengan dahsyatnya.

Dewa Siwa yang menyaksikan peristiwa itu segera berdiri di puncak Gunung Kailasha, anak pegunungan Himalaya. Dewi Gangga dapat dihadang oleh Dewa Siwa, akan tetapi Dewi Gangga selalu berontak melepaskan diri. Dewa Siwa segera membelit Dewi Gangga dengan perutnya, sehingga Dewi Gangga kehabisan akal. Namun Dewi Gangga dapat pula melepaskan diri dari lilitan rambut Dewa Siwa. Kini, muncullah Ia sendiri dari kepala Siwa, hanya saja Ia tercerai berai menjadi bagaian-bagaian kecil dan besar, mengalir ke seluruh India sehingga tidak membahayakan daerah-daerah yang di lewatinya. Bagiannya yang terbesar mengaliri pertapaan Rsi Kapila yang kini disebut Sungai Gangga. Bagian-bagian lainnya menjadi Sungai Yamuna, Saraswati, dan sebagainya.

Berbahagialah Sang Bagiratha karena permohonannya telah terkabulkan. Leluhurnya telah dibersihkan dari dosa dan noda. Kini leluhurnya yang terkena kutukan Rsi Kapila, telah hidup kembali.

KAJIAN MAKNA FILOSOFIS

Berkat dongeng tersebut di atas, sampai kini umat Hindu di India bahkan dunia mengakui dan mempercayai bahwa Sungai Gangga adalah sungai yang paling suci di muka bumi ini. Umat Hindu memujanya bukan karena takut, tetapi mereka memuja karena tahu bahwa sungai Gangga memiliki keajaiban.

Sekali lagi yang terpelajar harus bisa mengupas simbol-simbol yang terkandung dalam dongeng tersebut, misalnya:

1. Nama Sagara, berasal dari perkataan sansekerta, yang berarti lautan atau samudra.

2. Prabhu Sagara memilikki dua istri. Hal ini merupakan simbol, bahwa lautan itu memilikki dua sifat yang berlawanan, yaitu pasang dan surut (rwa bhineda)

3. Dari istri pertama, Prabhu Sagara mendapatkan Putra satu orang, sedang dari istri yang kedua mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang Hal ini menjelaskan bahwa samudralah menadi asal mula beribu-ribu sungai di di dunia. Dan sekian banyak sungai tersebut hanya satu yang dianggap paling suci, yaitu Gangga.

4. ke 60.000 orang putra sagara mencari kuda ke dalam tanah dalam sekali. Itu melambangkan bahwa setiap sungai mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang akhirnya kembali ke samudera.

5. ke 60.000 orang putra sagara terbakar habis menjadi abu. Hal ini melambangkan bahwa sungau-sungai itu bila mati akan kering hanya kelihatan pasir-pasir atau menjadi padang pasir.

6. Sabda Rsi Kapila, yang menyatakan putra-putra Sagara itu akan hidup kembali setelah Dewi Gangga berkenan turun ke bumi, melambangkan sungai-sungai itu akan hidup kembali jika hujan telah turun ke bumi.

7. sabda Dewa Brahma, “Dewi Gangga akan turun ke bumi dengan dahsyatnya dan akan membawa bencana di bumi, meunjukkan bahwa hujan yang lebat akan membawa korban, membencanai makhluk hiudp dan korban harta benda.

8. Dewa Siwa menghadang turunnya Dewi Gangga di puncak gunung Kailasha serta membelit dengan rambutnya, mengandung simbol bahwa kepala Dewa Siwa sebagai simbol puncak gunung, sedang rambut Siwa sebagai simbol akar-akar pohon yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Di daerah gununglah hujan yang lebat itu banyak terjadi. Air hujan itu meresap ke dalam tanah kemudian di tahan oleh akar pohon, maka air hujan tidak seluruhnya mengalir ke daerah lembah. Yang tertahan oleh akar-akar kemudian muncul sebagai mata air yang mengalir sepanjang masa, menyebabkan sungai-sungai hidup terus yang memberi kemakmuran.

Dari simbol-simbol itu dapatlah diambil kesimpulan, bahwa tujuan cerita tersebut adalah menerangkan sirkulasi air. Dan juga bermaksud mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, yaitu dengan cara menjaga hutan di lereng maupun di kaki gunung. Umat manusia tidak menebang pohon-pohon seenaknya.

Telah menjadi kenyataan, bahwa bencana banjir, tanah longsor yang kini sering terjadi di negara kita bahkan di dunia adalah suatu akibat penggundulan hutan oleh masyarakat, tentunya masyarakat yang sudah tidak mempercayai dongeng-dongeng yang sudah dianggap kuno itu.

Om Swastyastu

Apa yang dimaksud dengan menempuh kehidupan spiritual?

Kehidupan spiritual berarti membuang kecendrungan hewani dan mengungkapkan sifat-sifat ketuhanan yang merupakan pembawaan manusia sejak lahir. Namun ekses pendidikan modern telah banyak membuat manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Akibatnya, ia lupa pada sifat ketuhanan yang merupakan pembawaannya dan mengembangkan perangai seperti binatang.

Manusia menulikan telinganya untuk hal-hal yang baik dan benar, tetapi mendengarkan gosip dan cerita jahat dengan penuh perhatian, tetapi jika kisah suci Tuhan dituturkan, telinga mereka tersumbat. Orang-orang tidak pernah bosan menonton bioskop, TV, tetapi untuk memusatkan pandangan pada wujud Tuhan yang indah  semenitpun, mereka merasa sulit. Bagaimana orang semacam ini dapat mengharapkan Tuhan?

Demikianlah kenyataannya. Inilah kebenaran yang Aku sampaikan. Bila saat kematian tiba, akal budi berfungsi secara tidak benar. Manusia harus berusaha sedapat mungkin utk mengungkapkan sifat ketuhanan yang tersembunyi dalam dirinya. Hanya dgn demikianlah ia dapat di sebut seorang manusia sejati atau VYAKTI. 

Om Santih Santih Santih Om

*Dikutip dari Sai Anandayi, oleh: Bhagavan Shri Sathya Sai Baba

 Om Swastyastu

Jika Tuhan ada dimana-mana, mengapa sembahyang mesti di pura? Bagi orang-orang tertentu, dalam melakukan sadhana, kehadiran pura bukanlah persyaratan mutlak. Namun bagi umat kebanyakkan, fasilitas ini terasa penting, karena ia menyadari masih memiliki keterbatasan.

Pura bisa diumpamakan sebagai puting susu lembu. Memang benar dalam tubuh lembu,  semuanya mengandung susu. Namun untuk mendapatkan air susu, orang tidak mungkin mendapatkan di tanduknya, di ekornya, di di matanya, mulutnya, bahkan di kepalanya. Kita hanya bisa mendapatkan susu  dengan cara memerah lewat puting susunya. 
Demikianlah, Tuhan sesungguhnya ada dimana-mana, namun bagi orang-orang yang masih terbatas, ia baru merasa sreg kalau menghaturkan sembah bhakti di tempat yang khusus, seperti di pura, di sanggah, di merajan.

Om Santih Santih Santih Om
~Jro Mangku Danu ®

*photo: Umat sedang sembahyang di pura Luhur Poten-Bromo-Tengger
  

Om Swastyastu

Sirawista dalam upacara Pawintenan

Sirawista Adalah tiga helai alang-alang  yang dirangkai sedemikian rupa hingga bagian depan/ujungnya membentuk lingkaran (windu) dan titik (nada), merupakan simbolisasi dari Aksara Suci OM- yang tersusun melalui Bija Aksara A-U-M.

Sirawista dipergunakan ketika sesorang  menjalani upacara pensucian diri (samskara ).
“SIRAWISTA”  diikatkan di kepala dengan maksud bahwa sejak itu seseorang telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk selalu mensucikan diri yakni dwngan selalu mengingat Hyang Widhi melalui aksara OMkara. Dengan diikatkannya Sirawista ini…yang akhirnya personel tersebut siap untuk melaksanakan swadharma berikutnya.

Sirawista juga bermakna untuk mensakralkan personal dalam kaitan pengukuhan atau sumpah, Misalnya dalam wiwaha pasangan penganten, Sudhi wadani, Potong gigi, Perkawinan dan lain-lain

* Sumber: Sasananing Aguron-guron

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Benang suci TRIDATU adalah benang yg terdiri dari jalinan tiga buah benang yg berwarna putih, hitam dan merah yg menyimbolkan Brahma, Wisnu dan Siwa, juga simbol dari tiga serangkai lainnya Mahasaraswati, Mahalaksmi dan Mahakali. Melambangkan tiga guna; satwam, rajas tamas, melambangkan tiga suku kata tunggal A,U,M dari OM.

Saat istirahat siang hari ini juga,  seorang sahabat bertanya agak serius. “Bli Mangku….kenapa rata-rata orang Hindu, khususnya yang berasal dari Bali memakai gelang dari benang warna tiga?”

Tiang jelaskan demikian;
Tridatu. Saya nyaris selalu menggunakan gelang benang Tridatu. Karena belum yang satu putus, sudah ada tambahan baru, karena benang tridatu ternyata bertahan sekitar 4-5 bulan sebelum putus sendiri. Dalam kurun waktu tersebut, selalu ada saja upacara yang memang “layak” mentridatukan warga/pamedek/peserta upacara.

Setiap ada pertanyaan, selalu saya berikan jawabnya yang simpel dan filosofis. Misalnya, tridatu saya jelaskan sebagai simbol untuk selalu mengingatkan manusia bahwa hidup itu tidak hanya sewarna…, melainkan banyak warna. Paling tidak ada kelahiran, kehidupan, dan kematian…., dan dengan menggunakan tridatu, kita diingatkan atas semua itu..

image

Ada juga yang berKeyakinan dan percaya bahwa pemakaian benang suci akan mampu memberikan vibrasi kesucian dan perlindungan dari segala kejahatan dan mengusir roh – roh jahat.

Di India juga mengenal pemakaian benang suci di tangan. Jikalau kita berupa jalinan tiga buah benang yg disebut Tridatu, di India pemakaian benang ini disebut dengan Raksha Sutra, Raksha = perlindungan, Sutra = benang, jadi berarti benang suci perlindungan. Namun di India biasanya hanya satu warna, kuning atau merah atau putih.

image

Biasanya saat pemakaian benang ini akan dilantunkan swasti sukta yaitu mantra – mantra permohonan perlindungan.

Om Swastina indro wriddaswarah
Swastina pusha wiswadewah
Swastina tarkshyo aristanemih
Swastino brhaspatir dadathu.

Semoga Indra yg perkasa, Pusha (Matahari) yang terpelajar, Tarksya (Garuda) yang tak terkalahkan serta Brhaspati memberkati dan melindungi kita.

Atau bisa juga dengan mantra yang singkat:

Om Ang Ung Mang
Raksha – raksha Hum Phat Swaha.

Ang-Brahma
Ung-Wisnu
Mang-Siwa
Raksha-perlindungan
Hum-kawaca/baju jirah/tameng
Phat-bijaksara senjata
Swaha-permaisuri Agni, bisa juga berarti permohonan.

Kirang langkung sinampura.
Om Santih Santih Santih Om

Jro Mangku Danu ( I W Sudarma)

Om Swastyastu
”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. Semua yang ada ini tidak terbatas dan
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong” Rgveda X.129.3.

Hari Raya Nyepi merupakan keterpaduan antara penyucian diri (mikrokosmos) dengan penyucian alam semesta (makrokosmos). Melaksanakan mulat sarira, mawas diri, dan menilai secara jujur dan jernih apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan selanjutnya di tahun mendatang.

Dilandasi ajaran Tat Tvam Asi sebagai konsep kemanusiaan yang universal, meletakkan dasar kesamaan derajat, harkat dan martabat serta hak dan tanggung jawab sebagai warga bangsa secara proporsional. Sesungguhnya semua umat manusia sama di hadapan Tuhan. Karena Ia berasal dari sinar kehidupan yang sama dan dapat bergerak atas kehendakNya. Sira ya ingsun, ingasun ya sira. Karena itu kita semua adalah bersaudara dalam keluarga besar bangsa Indonesia (vasudaiva kutumbhakam)

UCAPAN NYEPI 2015 jro mangku danu

Melasti- melakukan kegiatan ritual ke laut atau ke mata air dengan prosesi “Nagasankirtan” berjalan beriring-iringan mengusung arca pralingga. Untuk melebur berbagai kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan seraya memohon anugerah air suci, air kehidupan dari dalam samudera yang sekaligus bermakna menghanyutkan penderitaan dan noda-noda kehidupan. Melasti sebagai simbol pembersihan diri dengan membuang sifat-sifat buruk dan perilaku kotor sehingga upacara Nyepi dapat dilaksanakan dengan jiwa raga dan pikiran yang suci.

Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) yang dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan pecaruan yang disebut Tawur Kesanga yang dapat diartikan sebagai pemarisudha atau pembersihan dan bermakna sebagai sarana untuk mengharmoniskan hubungan Bhuana Agung (makrokosmos) dengan Bhuana Alit (mikrokosmos), menyeimbangkan hubungan Panca Maha Bhuta, menyelaraskan fungsi seluruh Indriya yang selama ini bebas mengembara menikmati pesona jagat Maya. Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) sesunguhnya sebagai momentum untuk intropekasi diri (Back And Look Inside), mengalahkan musuh sejati yang selama ini bercokol dalam diri: kebencian, amarah, egoisme, kebingungan, iri hati, dengki, kemunafikan, dan ketamakan. Dengan pengerupukan sebagai simbol telah saatnya Bhuta Kala untuk kembali ke asalnya yang disebut Somya atau senyap.

Sunyi (sepi) adalah ketika angin menyeruak dedaunan, tiada guman manusia, tiada deru kendaraan, tiada lolongan anjing, tiada gemerincing suara gamelan. Seakan seluruh kehidupan terhenti. Sebelum Matahari terbit sampai menjelang terbit kembali keesokan harinya, umat manusia melaksankan Catur Brata Penyepian: Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan meditasi; pembacaan ayat-ayat suci Veda dalam hati di kediaman masing-masing atau tempat-tempat suci. Menghentikan sejenenak aktivitas mikrokosmos dalam upaya intropeksi diri terhadap segala sepak terjang pikiran, perkataan, dan prilaku yang telah kita lakukan serta merenung, menyusun rencana apa yang akan kita lakukan kemudian guna perbaikan kualitas karma. Dengan Nyepi kita memberikan kesempatan kepada Ibu Pertiwi dan Semesta Jagat Raya yang merupakan Kalpa Vrksa (pemenuh segala keinginan) untuk beristirahat dan bermeditasi sejenak setelah setahun memenuhi segala kebutuhan dan asa semua penguninya, agar dapat mereposisi dirinya, sehingga manusia dan mahluk lainnya dapat hidup nyaman dan aman di kemudian hari.

Karena manusia sesungguhnya mendambakan keharmonisan hidup, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian. Kitab suci Arthasastra menyatakan bahwa: “dambaan manusia itu dijamin akan terwujud apabila telah terjadi hubungan harmonis antara empat faktor, yaitu: Ideologi, Agama, Pembangunan Politik, dan Keagamaan.

Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang “Multikultural” untuk bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God)

Melalui Dharma Santih kita berdoa dan berharap; semoga kita bangkit bersama di bawah sinar suciNya, guna membangun kesadaran dan rasa saling memaafkan, dilandasi kerendahan hati, saling hormat-menghormati, jujur, sederhana, toleransi, mampu memaknai kebebasan dengan rasa penuh tanggung jawab menuju kehidupan yang harmoni, damai, bahagia, dan sejahtera.

Marilah bangkit, bersatu padu dalam kebhinekaan, berkarya sepenuh hati dengan kebersamaan, menuju kesunyataan sejati; menggapai pembebasan tertinggi untuk Sang Diri dari lautan Samsara.

Om Santih Santih Santih Om
oleh: Shri Danu Dharma Patapan

Oleh: I W Sudarma

Om Swastyastu
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar bertindak adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. (Dorothy Nolte (dalam Titib, 2006:v)

Untaian Sloka Weda Guna Terbentuknya Anak Suputra:

Yetheyam prtiwi mahi bhutanam garbhamadadhe. Eva te dhiriyatam garbho anu suntum savite (Atharwaweda VI.17.1)

Terjemahannya:
Seperti halnya bumi yang luas ini mengandung semua mahkluk, demikian juga wahai istriku, engkau menjadi hamil dan dari kehamilan dapat lahir seorang putra seperti Sang Surya penuh dengan sinar cahaya.

Om Agni vayucandrasuryah, parayascittayo yuyam dewanam parayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi laksmi stanustamasya apahat swaha.

Terjemahannya:
Om Agni, Vayu, Candra dan Surya engkau adalah mensucikan segala prayascita, seperti mebersihkan segala kotoran. Mensucikan benda menjadi suci kembali. Dengan keinginan mencari Tuhan Yang Maha Esa, saya memohon perlindungan para Dewata supaya istriku bila pernah mendapat kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma yang mengakibatkan dosa mohon dimaafkan.

Om Suryo no divastu vato antariksat agnirah parthivebyah (Rg Weda X.158.1)

Terjemahannya:
Oh Dewa Surya anugerahkanlah dari surgaloka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam kandungan ini, demikian juga semoga dewa Bayu memberikan anugerah dari antraiksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi.

Ko asi katoma asi kayasi ko na-masi
Yasya te namamamahi yam twa some nantitrpama. Bhur bhuwah swah supraja-h prajabhih syam. Suviro viraih suposah posaih (Yayur Weda VII.29)

Terjemahannya:
Pada hari ini kami memberikan nama kepadamu dan juga memuaskan kamu dengan air susu ibu. Untuk itu wahai anakku siapkah sebenarnya kamu? dan milik siapa? dari manakah kamu? siapakah namamu? Tuhan Yang Maha Esa memberikan prana kebahagiaan dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapatkan keuturunan yang baik, dari semua unsur golongan manusia dan para katriya memperoleh keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan yang sehat penuh gizi.

Sa vahnih putrah pitroh pawitravan punatidhiro bhuvani mayaya (Rg Weda. I. 160.3)

Terjemahannya:
Putra dari orang tua yang mulia, saleh, gagah berani, dan berseri-seri bagaikan sanghyang Agni membersihkan (menyucikan dunia ini dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia

Yato virah karmanyah sudakso yuktagrava jayate dewakamah (Rg Weda III.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memperoleh seorang putra yang gagah berani giat, cerdas, yang mampu memeras soma dan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa lahir pada kami.

Pisangarupah subharo vayodhah srusti viro jayate dewakamah (Rg Weda II.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memproleh seorang putra yang berkulit kuning langsat yang berpotongan bagus yang panjang umur, yang berani dan bajik.

Te sunah swaspasah sudamasah (Rg Weda I.159.3)

Terjemahannya:
Putra-putra ini amat giat bekerja dan memiliki kekuatan-kekuatan yang mengagumkan

Sadhum putram hiranyayam (Atharwa Weda XX.129.5)

Terjemahannya:
Semoga kami memperoleh seorang putra yang mulia dan makmur

Ehy-asanam a tista asma bhawantu te tanuh (Atharwa Weda II.13.4)

Terjemahannya:
Wahai putra kemarilah dan berdirilah di atas batu ini, semoga tubuhmu kuat seperti sebongkah batu.

Yad bhadrasya purusasya putra bhawati dadhrshih (Atharwaweda XX.128.3)

Terjemahannya:
Dengan sesunguhnya anak laki-laki seorang ayah yang mat terkenal (termasyur) menjadi mulia

Anuvratah pituh putro, mata bhawantu sammanah (Atharwaweda III.30.2)

Terjemahannya:
Hendaknya anak laki-laki patuh epada ayahnya dan menyenangkan hati ibunya

Garbhair hamairjatakrama, Caudamahuncini bandhanah. Baicikam garbhairkam caino, Dwi janama pamujiate. (Manawadharmasastra II. 27)

Terjemahannya:

Dengan membakar bau-bauan harum pada waktu kehamilan, dengan upacara pitakarma (bayi waktu lahir), upacara cauda (gunting rambut pertama) dan upacara mahunji bandhaa (upacara memberikan kalung/ gelang) maka kekotoran yang didapat dari orang tua akan hilang.

Prangnabhi wardhanatpumso, Jatakarma widhyate, Mantrawatpracanam casya, Hiranyamadhu sarpisam (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Sebelum talipusar dipotong upacara jatakarma (upacara baru lahir) harus dilakukan untuk bayi laki-laki dan sementara mantra-mantra suci sedang diucapkan itu harus diberi makan madu dan mentega dengan sendok emas

Namadeyam dacamyam, tu dwadacyan wasya karayet, punye tithau muhurte wa, naksatre wa gunanwite (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Kemudian hendaknya orang tua melakukan upacara namadheya pada umur 10 atau 12 tahun hari setelah kelahirannya, atau pada waktu suatu hari baik dalam kedudukan muhurta dibawah bintang-bintang yang membawa kebahagiaan.

Caturthe masi kartwya, Cicorniskramanam grhat, Sasthe nnapracanam masi, Yadwetam manggalam kule. (Manawadharmasastra.II.34)

Terjemahannya:
Pada waktu bulan yang keempat harus dilakukan upacara Niskramana bagi bayi itu dan pada waktu umur enam bulan dilakukan upacara annaprasana dan wajib pula melakukan upacara kesucian yang biasa dilakukan dalam upacara itu

Garbhastame bde kurwita, brahmanasyopanayam, grbhadekadace rajno, garbttu dwadace wicah (Manawadharmasastra II.36)

Terjemahannya:
Pada tahun kedelapan setelah pembuahan seseorang harus melakukan upacara upanayana bagi golongan brahmana pada tahun kesebelas bagi ksatriaya sedangkan bagi bagi waisiaya pada tahun kedua belas.

Brahma warcasakam asya, Karyam wiprasya pancame, Rajno balarthinah sasthe, Waicasye harthino’ stame (Manawadharmasastra, II 37)

Terjemahannya:
Namun yang ingin ahli Weda harus melakukannya pada tahun ke 5, kesatria yang ingin perkasa memulai pada tahun ke enam, dan wesia yang berhasil dilakukan pada tahun kedelapn setelah pembuahan.

Asodacad brahmanasya,sawitri natiwartate, adwawimcat ksetra bandosa, Catur wimcate wicah (Manawadharmasastra, II.38)

Terjemahannya:
Waktu untuk melakukan upacara sawitri bagi seorang Brahmana tidak boleh lebih sampai genap umurnya 16 tahun setelah lahir, bagi ksatriya tidak boleh lebih dari umurnya 24 tahun

Atta urdhwam trayo pyete,Yatha kalama samskrtah,Sawitri patita wratya,Bhawantyarya wirgatah (Manawadharmasastra.II.39)

Terjemahannya:
Kalau sampai pada masa-masa itu orang belum meperoleh sakramen menurut waktunya bagi ketiga golongan ini, mereka dogolongkan Wrtaya serta dikeluarkan dari upacara sawitri dan tidak layak sebagai arya

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna (Manawa Dharmasastra III.37)

Terjemahannya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

Tuhun gawayanin suta nutanekeneka gawaya nika sang yayah juga Ika muhara harsaning yayah agong ri gati nika taman salah gawe, Samangkana kumawhruhig matanaya riawak ika sagunaya tan hilang, Tekap ni gatining suta ngulahaken gawaya guna saka wruhing yayah (Putra Sesana, 3)

Terjemahannya:
Segala kegiatan si anak harus mencontoh bakat baik orang tua itulah yang menyebabkan senangnya orang tua, karena prilakunya sangat tepat. Demikianlah orang tua harus patut mendidik anak agar kepandaiannya dapat di wariskan sehinga tidak punah. Oleh si anaklah yang patut menerima segala pekerjaan dan kepandaian orang tua.

Tingkahning suta cakasaneka kadi raja-tanaya ri sedeng limang tahun Saptaning warsa waraahulun sapuluhing tahun ika-taha wuruhken ring aksara yapwan sodacawara tulya wara mitra tinaha-taha denta midanaYan wus putra suputra tinghalana salahika wuruken ing nayengga (Nitisastra IV.20)

Terjemahannya:
Anak yang berumur lima tahun hendaknya diperlakuakan seperti anak raja, Jika sudah berumur tujuh tahun dilatih agar suka menurut, Jika sudah sepuluh tahun dipelajari membaca. Jika sudah enam belas tahun, diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukan kesalahan harus dengan hati-hati sekali. Jika ia sendiri sudah beranak, diamati saja tingkah lakunya, kalau hendak memberi pelajaran kepadanya cukup dengan gerakan dan alamat.

Nihan singgah anak, ikang carananing anatha, tumulung kadang kalaran doning saktinya, danakena donya antuknya angarjana, pangenening daridra donyan pasuruhan, ikang mangkana, yatikanak ngaranya.(Saracamuccaya 228)

Terjemahannya:
Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan serta untuk menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, untuk disedekahkan tujuannya, akan segala hasil usahanya, gunanya ia memasak, meyediakan makanan untuk orang-orang miskin, orang yang demikian itu putra sejati namanya.

Nyang waneh ikang wwang pinaracrayana kadangnya, kadi lwir sang hyng indra, an pinakakahuripaning sarwabhawa mwang kadi lwiring kayu, an pinakakahuripaning manuk, mangkana ta ya, pinakakahuripaning katumbanya, ikang wwang mangkana ya tikanak ngaranya.(Saracamuccaya 229)

Terjemahannya:
Demikian pula yang dijadikan tempat berlindung oleh, kaum kerabatnya sebagai hal Dewa Indra, Dewa hujan yang merupakan sumber kehidupan sekalian mahkluk dan bagaikan pohon kayu rindang yang meupakan kehidupan burung, demikialah ia itu merupakan kehidupan orang-orang seisi rumahnya, orang yang demikian keadaanya itulah sejati namanya.

Ikang anak ngarannya, matrtpitining bapa gina wenya, Kunang ikang bapa, sakwehning sukhaning anak ginawenya, Apan tan hana tinengetning bapa, cariranira towi, winehakenira ta ya (Saracamusccaya243)

Terjemahannya:
Yang disebut anak, patutnya membuat agar si bapa puas hatinya, sedangkan si bapa sebanyak-bnyaknya kesenangan si anak dikerjakan olehnya, sebab tidak aada yang dikikirka sibapa, badannya sekalipun akan direlakannya.

Mangkana ikang ibu, arata jugasihnira manak ya, apan wenang tan wenang, saguna, nirguna, daridra, sugih, ikang awak, kapwa rinaksanira, iningunira ika, tan hana ta pwa kadi sira, ring masiha mangingwana (Saracamusccaya 244

Terjemahannya:
Demikianlah si ibu, rata benar cinta kasihnya kepada anak-anaknya, sebab baik cakap ataupun tidak cakap, berkbajikan ataupun tidak, miskin atau kaya raya anak-anaknya itu semua dijaga baik-baik olehnya, dan diasuhnya mereka itu tidak ada yang melebihi kecintaannya beliau dalam hal mengasihi dan mengasuh anak-anaknya.

Te putra ye pitur bhaktah, Sa pit yastu posakah, Tam mitram yatra wiswasah, Sa bharya yatra nirwtih (Canakya Nitisastra. II,4)

Terjemahannya:
Yang disebut putra adalah mereka yang bhakti kepada Bapak. Yang disebut Bapak adalah dia yang menaggung memelihara anak-anaknya. Yang disebut teman adalah dia yang memiliki rasa percaya dan bisa dipercaya dan seorang istri adalah dia yang selalu memberiakn kebahagian.

Putras ca vividhaih silair, Niyojyah satatam budhih, Niti-jnah sila sampanna, Bhawanti kula pujitah (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Orang bijaksana hendaknya mengajarkan putranya tatasusila, pengetahuan Nitisastra dan ilmu pengetahuan suci lainnya, sebab seorang putra yang mahir dalam pengetahuan Nitisatra dan pengetahuan suci lainnya akan meyebabkan keluarga terpuji.

Mata satru pita bairi, Yena balo na pathitah, Na sobhate sabha madhye, Hamsa madye bako yatha (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Seorang Bapak dan ibu yang tidak memberikan pelajaran kesuciannya kepada anaknya, mereka berdua adalah musuh dari anak tersebut. Anak tersebut tidak aka nada artinya di masyarakat, bagaikan seekor bangau di tengah-tengah kumpulan burung angsa.

Lananad bahavo dosas, Tadanad bahavo gunas, Tasmat putram ca sisyam, Tadeyam na tu lalayet (Canakya Nitisastra II,12)

Terjemahannya:
Anak yang dididik dengan memanjakan akan menjadi durhaka dan jahat Sedangkan dengan memberikan hukuman-hukuman ia akan menjadi baik. Oleh karena itu, didiklah putra-putri dan murid-murid anda dengan cara memberikan hukuman-hukuman dan tidak dengan memanjakan.

Abhyadad dharyate vidya, Kulum silena dharyate, Gunena jnayate tvvaryah, Kopo netrena gamyate (Canakya Nitisatra III.8)

Terjemahannya:
Ilmu pengetahuan itu dipelihara dengan mempraktekannya, Kemuliaan keluarga dipelihara dengan tingkah laku yang baik Orang terhormat dapat dilihat dari sifat-sifat luhurnya dan kalau marah dapat dilihat dari matanya

Ekanapi suvksena, Puspitena suganddhita, Wasistem tadvanam sarwam, Suputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,12)

Terjemahannya:
Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga kalau didalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra.

Ekena suska-vrksena, Dahyamanena vahnina, Dahyate tadvanam sarwam, kuputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra mengahncurkan dan meberikan abib bagi kleuarganya

Ekenapi suputrena, Vidya yuktena sadhuna, Ahladitam kulam sarwam,Yatha candrena sarwari (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Sebagaiman bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan rohani, insaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan.

Kim jatair bahubhih putraih, soka santapakaih, varamekah kulalambi, yatra visramyate kulam (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Apa gunanya melahirkan anak terlalu banyak kalau mereka hanya mengakibatkan kesengsaraan dan selalu memberikan kedukaan. Walaupunseorang anak tetapi berkepribadian utama dan membentu keluarga satu anak yang meringankan keluarga inilah paling baik.

Lalayet panca varsani, Dasa varsani tadayet, Prapte tu sodase varse, Putram mitravadacaret (Canakya Nitisastra III,18)

Terjemahannya:
Asuhlah putra dengan cara memanjakannya sampai berumur lima tahun, memberikan hukuman-hukuman selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah menginjak umur enam belas tahun didiklah ia dengan cara berteman

Kupasataswai paramam sarapi, Sarah sated wai parama pi yajnah, Yajnahsatad wai paramapi putra

Kalingganya, hana pawekang magawe sumur satus alah ika dening magawe.Telaga seratus, alah ika palanya dening wwang magaweakan yajna sapisan. Atyanta luwih ing gumawe aken yajna. Kunangikang wwang wwang mayajna ping satus alah ika phalanya dening kang wwang maanak tunggal, yang anak wisesa. Kalingganya ikang manak aneka tan lwih phalanya.

Terjemahannya:
Membuat telag untuk umu lebih baik daripada menggali sertus sumur, melakukan yajna sekali lebih utama dari membuat seratus telaga, empunyai anak yang suputra lebih utama daripada melakukan seratus yajna.

Sanghyang Chandra Tranggana pinaka dipa memadangi ri kalaning wengi Sanghyang Surya sedeng prabhasa, Maka dipa memandangi bhumi mandala Widhya sastra suddharma dipanikanang tribhuana sumene prabhasa, Yan ning putra suputra sadhu gunawan, Memandangi kula wandhu wandhawa (Niti Sastra IV)

Terjemahannya;
Bulan dan bintang bersinar, sebagi pelita, Menerangi dikala malam.Matahari terbit, sebagi pelita menerangi seluruh wilayah bumi, Ilmu pengetahuan, sastra yangutama, sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna, kalau dikalangan putra (anak),anak yang utama sebagai pelita menerangi seluruh keluarga.

Om Santih Santih Santih Om

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers