Pustaka Hindu


Om Swastyastu

Mahavakya: “Ayam Atma Brahma”, dari kitab Mandukya Upanisad 1.2 dari kitab Atharva Veda ini, merupakan salah satu dari Empat Mahavakya Veda. Yang berarti:  “DIRI INI adalah Brahman”.

‘ Ayam ‘ berarti: ‘ ini ‘ , dan disini ‘seperti saat ini’ mengacu pada sifat diri yang bercahaya dan tanpa menengahi Diri, yang bersifat terdalam untuk segala sesuatu, tanpa kontaminasi dari Ahamkara atau ego dalam tubuh fisik.

image

KeESAan

“Diri ini Brahman”, adalah merupakan substansi dari mana semua hal-hal yang benar-benar menjadi ada. Brahman yang di mana-mana , juga di dalam diri kita , dan apa yang ada di dalam diri kita  juga ada di mana-mana. Inilah arti dari ‘Brahman’ , yang sesungguhnya, karena IA merupakan kesemestaan, mengisi semua ruang, berekspansi ke semua eksistensi, dan luas melampaui semua ukuran persepsi atau pengetahuan. Pada tiap entitas IA adalah Dirijati Yang Sejati, IA adalah Non-Relativitas dan juga merupakan Universalitas, karena sejatinya: “Atman dan Brahman adalah sama”.

Identifikasi “Diri” dengan yang “Absolute” bukanlah merupakan tindakan menyatukan dua kodrat yang berbeda, tetapi merupakan penegasan bahwa kemutlakan atau universalitas meliputi segala sesuatu, dan tidak ada yang di luar itu.

Demikian dapat saya ketengahkan secara singkat inti dari makna Mahavakya: “Ayam Atma Brahma”, ini….semoga bermanfaat bagi keluasan pemahaman kita akan Keluasan Ajaran Suci Veda. Dan guna meningkatkan kesadaran diri akan KeESAan ini. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
17/01/2016.

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Beberapa Istilah yang berkenaan dengan  NASI dalam banten/upakara.

1. Sekul: adalah bahan dari beras yang diolah dengan cara di kukus hingga setengah mateng. Dalam bahasa Bali lebih dikenal dengan istilah Nasi Aroan

2. Sega: adalah nasi yang sudah masak 100% baik melalui dikukus maupun di liwet.

3. Sega Gurih: Nasi yang campur dengan saur/serundeng

4. Sega Bunar/Punar: Nasi yang dicampur dengan aseban cenana dan kunir.

5. Tumpeng: Nasi yang dibentuk menyerupai gunung

6. Penek: Nasi yang dibentuk bulat datar/tapak

7. Untek: Nasi yang dibentuk menyerupai Tumpeng dibuat kecil-kecil, biasanya dibuat untuk banten sorohan alit (peras tulung sayut), untuk pecaruan.

8. Nasi Kepel: Nasi yang dibentuk menggunakan kepalan telapak tangan, biasanya digunakan dalam upakara bhuta yadnya seperti segehan kepel.

9. Pulung: Nasi yang dibentuk bulat seperti bola

10. Pangkonan: Nasi yang dibentuk menggunakan cetakan semisal menggunakan cawan/jembung/batok kelapa.

11. Nasi Selasahan: Nasi yang dialasi taledan kecil dilengkapi dengan irisan pisang, buah dan kue serta diisi kacang-saur, porosan dan bunga lalu dibungkus. Biasanya digunakan pada upacara bhuta yadnya.

12. Nasi Bira: nasi yang dicampur dengan kacangan-kacangan mateng

13. Nasi Pradnyan: nasi yang dicampur dengan aseban cenana, susu.

14. Nasi Wong-Wongan: Nasi yang dialasi dengan ujung daun pisang dibentuk menyerupai orang-orangan. Biasanya digunakan dalam upacada bhuta yadnya.

Om Santih Santih Santih Om
*Sumber: Lontar Sukla Kalpa

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Sesuai dengan petikkan isi lontar dharma caruban, lontar patik wenang dan tutur sutasoma, berikut puja mantra saat hendak menyembelih hewan, terutama saat hendak melaksanakan upacara yadnya.

Apabila akan menyembelih hewan (Ngelepas Patik Wenang), terlebih dahulu agar tercapainya kesucian (Sorga) baik yang akan disembelih maupun yang menyembelih serta tujuan dan sasaran dari pada penyelenggarannya, sebab pembunuhan merupakan perbuatan dosa (himsa Karma), jika sebelum melakukan pembunuhan kita awali dengan permohonan maka dosa yang kita perbuat akan mendapatkan pengampunan dari hyang Maha Pencipta.

image

Mebat

“Yan noramangkana tan anemu rahayu sang amejah pati wenang ika”.
Demikanlah tersebut dalam Lontar Patik Wenang.

“Apan maha petaka ngardha ingsa, tininda ring rat parasadhu melik, adoh mareng swargan paratre, sasar mareng tambra goh muka tembe”.  Maksudnya : Sebab amatlah sengsaranya perbuatan seseorang yang membunuh, akan tercela di dalam dunia, dimana terasing bagi para bijaksana, jauhlah untuk sampai kealam sorga, ketika saat meninggal dunia kelak menderitalah dia jatuh ke lembah penderitaan. Demikian Sang Sutasoma menasihati Harimau dalam Kekawin gubahan Pujangga Mpu Tantular.

Jadi apabila kita melakukan suatu yadnya dan penyembelihan terhadap hewan patutlah mengadakan pengelepasan tersebut, adapun doa/pengastawan yang diucapkan ketika akan menyembelih hewan berbeda menurut jenis hewannya.

1. Dwi Pada: hewan yang berkaki dua;
“Om Swasti swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Yang Nama Swaha”
Maksudnya: Bagi binatang sembelihan yang berkaki dua dan yang sejenisnya rohnya dikembalikan ke arah timur kehadapan Bhatara Iswara, dengan harapan kelak apabila numitis rohnya itu kedunia akan menjadi manusia yang sakti dan indah perawakanya, tak tercela dan selalu bisa bersedana (beramal) yang baik serta sepanjang hidupnya selalu berpegangan pada Dharma.

2. Catur Pada : hewan berkaki empat;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Bang Namah Swaha.
Maksudnya : Bagi binatang sembelihan yang berkaki empat seperti kerbau, sapi, babi dan sejenisnya rohnya dikembalikan ke arah selatan kehadapan Betara Brahma.

3. Asta Pada : hewan berkaki delapan;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Ung Namah Swaha.
maksudnya: Bagi binatang sembelihan yang berkaki delapan seperti ketam, Udang dan sejenisnya rohnya dikembalikan ke arah Utara kehadapan Betara Wisnu.

4. Halaku – laku Dada : berjalan dengan Dada/hewan melata;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Tang Namah Swaha.
Maksudnya : bagi binatang sembelihan yang berjalan dengan dada maka rohnya dikembalikan ke arah barat kehadapan Betara Mahadewa.

5. Sahang Samidha : kayu-kayu bakar;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Nang Namah Swahya.
Maksudnya : bila menggunakan kayu bakar /menebang pohon roh kayu tersebut dikembalikan ke arah tenggara kehadapan betara Maheswara.

6. Daun-daunan;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Mang Namah Swaha.
Maksudnya: bila menggunakan daun-daunan lebih lebih untuk kepentingan yadnya rohnya dikembalikan ke arah barat daya kehadapan Bethara Ludra.

7. Suku Tunggal : berkaki satu;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Sing namah Swaha
Maksudnya: bagi penyembelihan binatang yang berkaki satu rohnya dikembalikan ke arah barat laut kehadapan bhatara Sangkara.

8. Durpada: Hewan yang berkaki banyak;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Wang Namah Swaha.
Maksudnya : apabila menyembelih binatang yang deyet (yang kakinya tak terhitung) maka rohnya dikembalikan ke arah timur laut ke hadapan Bhatara Shambu.

9. Salwiring We: Jenis Ikan;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om yang namah swaha
maksudnya : bila menyembelih segala jenis ikan rohnya dikembalikan ke arah tengah kehadapan Bhatara Siwa

Mantra memecikkan Tirta sebelum menyembelih baik untuk pisau, talenan:

Om Ung Siwa nirmala namah swaha,
Om sadasiwa nirmala dhirgaya nama swaha,
Om Paramasiwa Niroga namah swaha,
Om ksama sampurna namah swaha.

Selain dari pada doa/ pengastawa yang dilakukan pada waktu menyembelih hewan, maka upakara/bebanten sebagai alat untuk memohonkan restu Hyang Widhi atas tercapainya kesucian roh hewan yang disembelih dan keselamatan si penyembelih. Adapun banten/upakara yang sederhana mungkin dalam memulai penyembelihan adalah :

Banten akan menyembelih: sebuah canang sari, segehan kepel yang lengkap dengan tetabuhannya serta tirta yang dimohon di tugu/ sanggah.

Om Santih Santih Santih Om

Write & Posted by: I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu

Prajnanam Brahma (Aitareya Upanisad. 3.3) artinya: “Kesadaran adalah Brahman”. Mahavakya ini untuk menjelaskan Tuhan sebagai Realitas Tertinggi.

Definisi terbaik dari Brahman yang memberikan ekspresi supra – esensial dari esensinya, dan tidak untuk menggambarkanNya dengan mengacu pada atribut disengaja atau dibuat,  seperti sebagai Pencipta, dan lain-lain.

image

Disini Brahman adalah yang akhirnya bertanggung jawab untuk semua kegiatan sensorik kosmologi ini, sebagai melihat, mendengar, dll, yaitu: “Kesadaran” (Prajnanam).

“Pikiran Kesadaran, yang tidak langsung melihat atau mendengar, adalah mustahil untuk memiliki kekuasaan sensorik tanpa tanpa Brahman. Oleh karena itu “Kesadaran Brahman harus dianggap sebagai makna akhir kegiatan totalitas mental dan fisik kita. Brahman adalah yang mutlak, mengisi semua ruang, lengkap dalam dirinya sendiri, yang tidak ada kedua, dan yang terus hadir dalam segala hal, dari pencipta turun hingga ke alam-alam terendah materi,  IA menjadi segala hal, juga meresap di masing-masing dan setiap individu.  Ini adalah arti dari Prajnanam Brahma dari Aitareya Upanisad ……:D🙏Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Write & Posted by: I W. Sudarma

Om Swastyastu

“Aham Brahmasmi” (Brhadaranyaka Upanisad 1.4.10). Mahavakya ini disarikan dari Kita Suci Yajur Veda.

image

Mahavakya: ‘Aham Brahmasmi, ‘ atau Aku adalah Brahma’. Kata ‘Aku’ menunjuk bahwa yang Tunggal Menyaksikan Kesadaran, berdiri terpisah dengan bentuk bahkan dengan intelek, berbeda dari ego, prinsip-prinsip, dan bersinar melalui setiap tindakan berpikir, perasaan, dan lain sebagainya.

image

Saksi – Kesadaran ini, bersifat sama pada semua hal, bersifat universal, dan tidak dapat dibedakan dari Brahman, yang merupakan Maha Mutlak.

Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa ‘Aku’  adalah yang penuh, super- rasional dan benderang, dan sejatinya sama dengan Brahman.  Ini bukan merupakan identifikasi individu terbatas ‘Aku dengan Brahman, tetapi merupakan  Lapisan bawah Universal dari individualitas yang menegaskan untuk menjadi apa itu. Kata kerja penghubung ‘Aku Adalah’ bukan berarti  hubungan empiris antara dua entitas, tetapi menegaskan esensi dari non – dualitas. Demikian makna Mahavakya ini yang dimaktubkan dalam Brhadaranyaka Upanisad.
__________

image

In the sentence, ‘ Aham Brahmasmi,’ or I am Brahman, the ‘I’ is that which is the One Witnessing Consciousness, standing apart form even the intellect, different from the ego-principle, and shining through every act of thinking, feeling, etc.

This Witness-Consciousness, being the same in all, is universal, and cannot be distinguished from Brahman, which is the Absolute.

image

Hence the essential ‘I’ which is full, super-rational and resplendent, should be the same as Brahman. This is not the identification of the limited individual ‘I’ with Brahman, but it is the Universal Substratum of individuality that is asserted to be what it is. The copula ‘am’ does not signify any empirical relation between two entities, but affirms the non-duality of essence. This dictum is from the Brhadaranyaka Upanisad.

Om Santih Santih Santih Om

Write & Posted by: I W. Sudarma

Om Swastyastu

Mahavakya “Tat Tvam Asi dimuat dalam kitab Chandogya Upanisad 6.8.7, yang merupakan saripati dari Kitab Sama Veda. Secara Etimologis ‘Tat Twam Asi’ berarti ‘ Aku dan Engkau adalah Itu’.

image

Aku & Engkau adalah Dia

Dalam sejarahnya, bahkan Maharsi Uddalaka mengulang Mahavakya ini sembilan kali kepada muridnya Svetaketu agar ia benar-benar pemahaman benar dan dapat mencapai sifat KeESAan.

Kata “ITU” menunjuk kepada Brahman yang merupakan sebagai Yang Satu saja tanpa kedua, tanpa nama dan bentuk, dan yang ada sebelum penciptaan, serta setelah penciptaan, sebagai Keberadaan Murni. Inilah makna tertinggi dari kata “Tat”.

Kata “Tvam”, adalah  istilah singkatan yang terdapat di relung terdalam dari mahluk hidup, tetapi yang transenden dengan kecerdasan, pikiran, indera, dan lain sebagainya. Kata ” Tvam” menunjuk pada ATMAN yang bersemayam pada pribadi orang lain.

Persatuan antara TAT dan TVAM menjadilah  ASI atau Realitas yang terpencil, terdalam dan termurni dari tiap entitas. Dan juga berarti  ‘AKU’ yang bersemayam dalam raga ini, yakni ATMAN.

Dari pengertian ini, kita dapati bahwa SEJATINYA antara Saya, Anda dan Itu/Dia adalah Esa. Kita diresapi oleh PRINSIP esensi yang sama yakni Brahman. Ini pula yang menyebabkan kita disebut sebagai SAUDARA; karena menghirup SAtu UDARA yang sama di atas pertiwi dan di bawah langit yang sama.

Adalah kesalahpahaman , yang wajib kita hapus, yang menyatakan  bahwa  diri kita terhalau oleh sekat dan batas. Karena sesungguhnya kita adalah sama dan satu dengan Realitas Tertinggi yaitu Brahman.

Harus ada kemauan untuk merubah pandangan dari konsep “Aku”, yang terpisah dengan entitas lainnya  menjadi “Kita”, yang hidup dalam satu keluarga peradaban, dan akhirnya menuju “Itu atau Dia”, yang Maha Mutlak: Brahman.

Semoga bermanfaat bagi pertumbuhan keadaban kita semua. Manggalamastu.

Write & Posted by: I W. Sudarma

Om Swastyastu

 
DALAM melangsungkan kehidupan, maka kita senantiasa melakukan bermacam-macam gerak dan aktivitas. Gerak dan aktivitas yang kita laksanakan itu pada umumnya untuk memenuhi segala kepuasan dan kenikmatan hidupnya secara lahir dan bhatin, yang disesuaikan dengan pandangan dan kebutuhan hidup masing-masing. Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut dengan karma. Menurut hukum sebab akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikian pulalah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau phala seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

 
Karma phala ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan hidup seseorang. Karena karma phala itulah yang menentukan bahagia atau menderitanya hidup seseorang, baik dalam masa hidup didunia ini, diakhirat maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Nasib seseorang tergantung pada karmanya sendiri. Barang siapa yang berbuat baik akan mengalami kebahagiaan, yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Apa saja yang dibuatnya, begitulah hasilnya. Apa yang ditanam begitulah tumbuhnya. Menanam padi tentu tumbuhnya padi.

 
Pengaruh hukum karma itu pulalah yang menentukan corak serta nilai dari pada watak seseorang. Oleh karena karma itu bermacam-macam jenisnya dan tak terhitung banyaknya. Maka watak seseorang pun beraneka macam pula ragamnya. Karma yang baik menciptakan watak yang baik dan karma yang buruk akan mewujudkan watak yang buruk pula. Segala macam karma yang kita lakukan akan selalu tercatat dalam alam pikiran kita. Yang kemudian akan menjadi watak dan berpengaruh terhadap Atma atau Roh.

 
Hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat kita rasakan dan kita nikmati, seperti halnya tangan yang menyentuh es akan seketika terasa dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasilnya. Setiap karma akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan-angan dan ada juga yang abstrak. Oleh karena itu hasil perbuatan atau phala karma yang tidak sempat kita nikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan kita nikmati setelah meninggal dan pada kehidupan yang akan datang.

 
Hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja akan dinikmatinya sendiri, namun akan diwarisi juga oleh para sentananya atau keturunannya. Misalnya seseorang yang hidupnya mewah dari hasil menghalalkan segala cara, namun setelah orang itu meninggal dunia, kekayaannya diwarisi oleh para sentananya, maka tidak jarang para sentananya mempunyai watak yang akan mewarisi watak purusanya atau leluhurnya. Sehingga kekayaan tersebut tidak akan bertahan lama untuk dinikmatinya dan pada akhirnya akan jatuh miskin, melarat dan menderita. Adanya suatu penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik (subha karma), hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma phala), terutama karma yang buruk harus dinikmati hasilnya sekarang, karena tidak sempat dinikmati pada kehidupannya yang terdahulu, sehingga mengakibatkan neraka cyuta (kelahiran dari neraka).

 
Begitu pula sebaliknya seseorang yang selalu berbuat tidak baik (asubha karma) namun hidupnya nampak bahagia, hal itu dikarenakan pada kehidupannya yang terdahulu ia memiliki phala karma yang baik karena ia merupakan kelahiran dari surga (swarga cyuta), akan tetapi perbuatan buruknya dalam kehidupan sekarang bisa dinikmati pada kehidupan sekarang, bisa juga dinikmati pada kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu marilah kita untuk senantiasa selalu dan selalu berbuat kebajikan, berjalan diatas dharma (kebenaran) sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, semoga Hyang Widhi selalu memberikan waranugraha-Nya pada kita semua.

 
Itulah sebabnya mengapa Hukum Karma Phala dikatakan sebagai hukum yang bersifat universal, karena tidak ada seorangpun dan tidak ada satu mahluk hidup pun yang bisa terbebas dari hukum ini. Untuk memperoleh phala karma yang baik hendaknyalah kita memperbanyak berkarma yang baik, dan pada akhirnya kita mampu melepaskan diri dari penderitaan atau samsara (kelahiran yang berulang-ulang) menuju kebahagiaan yang abadi (Sat Cit Ananda) yaitu bersatunya Sang Atman dengan Paramatman.

 

Om Santih Santih Santih Om

 

Oleh: I Wayan Sudarma

Bekasi, 10 Agustus 2009

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 231 other followers