Pustaka Hindu


Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
 

“Tesam aham samuddharta, 

mrtyu-samsara- sagarat,

 bhavami na carat partha, 

mayy avesita-cetasam” (Bhagavadgita.XII.7)

Artinya: Bagi mereka yang pikiranya tertuju terus-menerus kepadaKu, wahai Partha (Arjuna) Aku segera menjadi penyelamat mereka dari lautan penderitaan mahluk fana

 

Demikian janji Tuhan kepada umat manusia yang beliau sabdakan dalam Bhagavadgita, indikasi yang bisa kita tangkap dari sloka ini bahwa dunia maya ini sesungguhnya adalah tempatnya penderitaan, jika tidak demikian halnya maka Tuhan mungkin tidak sampai menyabdakan hal itu.

Masih kuat dalam ingatan saya ada syair sederhana yang sangat akrab di telinga kita terutama bagi yang lahir dan besar di Bali terutama yang lahir dibawah tahun delapan puluhan karena bagi yang lahir ditahun sembilan puluhan keatas barangkali tidak seberapa akrab terkecuali bagi mereka yang memang menekuninya, adapun syairnya adalah seperti berikut:

Idupe mondong sengsare, 

Mangkin idup besok mati

Memanjakin keranjang padang

Peteng-lemah ia puponin

dan seterusnya……… 

Yang artinya kurang-lebih:

Hidup di dunia material ini sesungguhnya penuh dengan penderitaan memikul beban yang kian sarat. Sekarang hidup besok lusa jika sudah waktunya tiba tidak akan terhindar dari yang namanya kematian itu. Melayani keinginan, napsu atau indria yang sedemikian kuat tiada henti-hentinya bagaikan keranjang rumput yang setiap hari harus kita layani dengan mengisi rumput didalamya untuk pakan sang ternak, siang-malam menjadi budak dari sang napsu rajas dan tamas. 

 

Nah sedemikian menderitanya kehidupan di dunia ini maka setiap bayi yang lahir dari rahim ibunya ditandai dengan tangisan karena dia tahu dunia ini penuh dengan kesengsaraan lahir, penyakit, usia tua dan kematian.     

Demikianlah sepenggal bait geguritan Tamtam yang dikemas sangat indah dalam bentuk pupuh sinom oleh para leluhur kita dimasa silam, bukan saja sebagai karya sastra yang bernilai seni tinggi tetapi sekaligus mengandung ajaran rohani yang dalam sebagai sesuluh (cermin) dalam meniti hidup dan kehidupanya, karena didalamnya sarat dengan pesan-pesan dharma, terkandung nilai-nilai kesucian, kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan dan seterusnya. 

Nah kita sebagai parisentananya atau generasi penerusnya harus berani pula mengatakan dengan sejujurnya bahwa karya sastra ini masih relevan kita jadikan salah satu petunjuk atau penuntun jalan dalam kita menyusuri lorong-lorong perjalanan rohani kita baik sekarang maupun dimasa-masa yang akan datang.     

Dengan demikian secara benar dan wajar kita telah memberikan penghormatan, penghargaan dan penilaian yang tinggi kepada para leluhur kita, walaupun sesungguhnya beliau-beliau itu sebagai maha kawi sangat tidak mengharapkan hal itu.  

Jika kita cermati lalu kita hubungkan dengan sabda Krsna diawal tentu kedua-duanya sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain dimana Tuhan berjanji akan menyelamatkan orang-orang dari penderitaan duniawi. Namun kenyataannya dimasyarakat masa kini ternyata sebagian besar orang kebingungan dan tidak tahu bagaimana caranya membebaskan diri dari penderitaan itu. walaupun banyak tempat ibadah dibangun bahkan dengan megah, melaksanakan ritual-ritual keagamaan dengan meriah cendrung mahal dan yang sudah pasti adalah salah satu identitas dirinya adalah beragama.

Ternyata pembangunan tempat ibadah, melaksanakan ritual dan menyandang identitas manusia beragama tidaklah serta merta mengangkat manusia atau menyelamatkan manusia dari penderitaan. Ada sisi lain yang harus diupayakan secara terus-menerus sesuai sabda diatas dimana hanya orang-orang yang pikiranya terus-menerus tertuju kepaNya sajalah yang diselamatkan dari penderitaan itu.

Dalam kehidupan ini seharusnya ada satu keputusan maha penting yang harus kita ambil sebagai satu-satunya keputusan tertinggi diantara keputusan-keputusan yang lain dalam hidup ini yaitu keputusan untuk menekuni bhakti rohani kepada Tuhan, inilah keputusan yang tertinggi dalam kehidupan manusia, tidak ada lagi keputusan yang lebih tinggi daripada itu. Nah keputusan-keputusan yang lain yang telah dan akan diambil hanyalah sebagai pendunkung keputusan teringgi itu.

Misalnya keputusan untuk bekerja dimana saja dan sebagai apa saja, keputusan untuk berusaha atau berwiraswasta, ini adalah semata-mata keputusan untuk mendukung proses bhakti kita kepada Tuhan. Keputusan untuk sekolah atau kuliah meningkatkan kecerdasan intelektual dalam rangka mencerdaskan rohani menunjang proses bhakti kepada Tuhan.

Selama ini ada kesan dibalik-balik dimana orang kebanyakan berpikir membangun ekonomi terlebih dahulu baru membangun rohani dan ini sering kebablasan artinya setelah mereka sukses secara materi lalu proses pembangunan rohaninya terabaikan dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah kemerosotan dan kehancuran karena mereka tidak tahu untuk apa semua ini sebagai akibat dari rohani yang kian kering.  

Kemudian banyak juga yang berpikir bahwa sebaiknya pembangunan rohani dimulai pada saat usia menginjak tua, pemikiran semacam ini tentu kurang tepat karena proses bhakti rohani mestinya harus sudah dimulai sejak usia dini. Sebab jika setelah usia tua baru dimulai maka phisik kita tentu tidak menunjang lagi untuk melaksanakan aktifitas yang dibutuhkan dalam menekuni proses bhakti itu dan kematian itu sudahlah pasti tidak memandang usia, jika belum sempat menekuni bhakti kepada Tuhan tiba-tiba dewa yama datang menjemput maka sia-sialah kehidupan ini. 

 

Maka jika keputusan tertinggi itu sudah diputuskan sejak dini maka proses pembiasaan diri untuk selalu berpikir tentang Tuhan akan lebih mudah dilakukan, sebaiknya hal ini dilakukan melalui guru-guru kerohanian atau sering-sering bergaul dengan para sadu atau sadu sanga agar pikiran kita selalu mampu tertuju selalu padaNya. Jika demikian maka Tuhan akan menyelamatkan kita dari lautan penderitaan dunia maya ini.

Semoga semua mahluk berbahagia

Om Namo Bhagavate Vasudeva ya

Om Santih Santih Santih Om

Rahayu®

Om Swastyastu

Ketika saya iseng membersihkan rumah, tanpa disangka menemukan gulungan kecil kertas kasar atau lebih tepatnya kulit kayu, setelah dibuka, ada empat helai kecil, yang berisi suratan dalam aksara Bali dengan bahasa Bali Kuna, tersusun dalam pupuh pangkur, dan setelah dicermati isinya sangat menakjubkan, yakni: sebuah pesan tentang PERTIMBANGAN tatkala diharuskan membuat suatu KEPUTUSAN.

Kehati-hatian orang Bali Mula dalam mengambil keputusan tercermin dalam empat kata berjenjang ini “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa”. Hal ini  supaya tidak salah di kemudian hari, sesuai dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Leluhur kita mengajarkan supaya segala sesuatu dipertimbangkan masak-masak supaya tidak “mekamben di sunduk” (menyesal di belakang hari).

Isi Takepan Wulangreh: 

“Deduga lawan prayoga

myang watara reringa awya lali

iku parabot satuhu

tan kena tininggala

tangi lungguh angadeg tuwin lumaku

angucap meneng anendra

duga duga  nora kari” (pupuh 2)

“Muwah ing sabran karya

ing prakara gedhe kalawan cilik

papat itu datan kantun

kanggo sadina dina

lan ing wengi nagara muwah ing dusun

kabeh kan padha ambekan

papat iku nora kari” ( pupuh 3)

“Kalamun ana manusa

anyinggahi dugi lawan prayogi

iku wateke tan patut

awor lawan wong kathah

wong diksura dadulur tan wruh ing edur

aja sira pedhak pedhak

nora wurung neniwasi” (pupuh 4)

Sumber: (Takepan Wulangreh, pupuh pangkur lempir 2-4).

Wulangreh, Pangkur lempir: 2-4

Arti Pupuh: 

“Empat kata INTI” pada pupuh pangkur tersebut, yaitu:

(2) Deduga, Prayoga, Watara dan Riringa tidak boleh ditinggalkan saat kita bangun, duduk, berdiri dan berjalan, baik saat berbicara, diam bahkan saat tidur.

(3) Dalam segala hal, dalam kegiatan besar maupun kecil, setiap hari, siang maupun malam, orang kota maupun orang desa, semua orang yang masih bernapas, empat hal tersebut tidak boleh ditinggalkan. 

(4) Kalau ada manusia meninggalkan Duga dan Prayoga, dia tidak layak bergaul dengan orang banyak. Orang yang tidak tahu tatakrama (degsura), kurang ajar (daludur) dan sombong ( tan wruh ing edir) seperti ini jangan didekati karena hanya menimbulkan kesusahan.

Dapat disimpulkan bahwa keempat hal tersebut: Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa tidak boleh ditinggalkan oleh siapa saja sepanjang masih bernapas, baik orang kota maupun orang desa,  baik siang maupun malam. Orang yang meninggalkan keempat hal tersebut dapat dipastikan akan mengalami banyak permasalahan dan kebuntuan dalam usahanya mengarungi kehidupan.

Kajian Makna:

  1. “DEDUGA” boleh diartikan sebelum melangkah harus ada pertimbangan. Sebuah contoh sederhana misalkan kita punya pegawai yang kita anggap bodoh di kantor. Tiap hari membuat kita marah karena pekerjaannya. Lalu mau kita apakan dia? Dipecatkah? Jangan keburu memecat. Pertimbangkan dulu baik-baik.
  2. “PRAYOGA” sebaiknya bagaimana? Apa untungnya memecat dan mengganti? Demikian pula apa ruginya? Mengganti dengan orang baru sebenarnya bisa saja dengan beli kucing dalam karung. Kita tetap tidak tahu baik buruknya. Orang yang mau kita ganti ini bodoh tapi jujur dan loyal, jangan-jangan nanti kalau dapat orang baru, kita dapat yang pandai tapi tidak disiplin dan suka mencuri?Dados prayoganipun kadospundi? Ya kita  mesti berembug, bermusyawarah, berdisikusi bersama-sama.
  3. “WATARA”, Selanjutnya adalah kita tetap harus mengira-ira lagi dengan mempertimbangkan berbagai hal secara seimbang. Kita perlu konsultasi atau minta pendapat orang lain, tetapi yang memutuskan ya tetaplah kita.
  4. “RERINGA” , mengingatkan lagi bahwa kita harus berhati-hati dan benar-benar yakin sebelum mengetok palu, mengambil sebuah keputusan final.

Telaah: Pertimbangan bukan berarti Lambat

Hal ini yang menyebabkan seolah-olah orang Bali Mula umumnya lambat dalam mengambil keputusan. Di jaman sekarang, jaman yang serba cepat dimana perubahan bisa terjadi dalam hitungan menit, kelambatan mengambil keputusan bisa sama jeleknya dengan salah mengambil keputusan.

“Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” adalah pelajaran jaman dulu. Intisarinya amat bagus, jangan gegabah. Yang diperlukan adalah kecepatan. Guna memperbaiki kecepatan pada jaman sekarang sudah banyak sekali “toolkit” manajemen yang bisa kita pelajari. Misalnya saja analisis SWOT yang mempelajari Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (Ancaman) yang pada hakikatnya adalah analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa) yang sudah dibuat lebih sistematis dan terstruktur, oleh leluhur kita dari masa silam.

Jadi, cara mengambil keputusan melalui “Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa” bukan penyebab kelambanan. Kalau ada yang lamban maka yang lamban adalah “manusianya” yang terlalu mangu-mangu (ragu-ragu) bukan ajarannya. Ungkapan leluhur yang lain terkait dengan kebalikan hal ini adalah “Kurang duga prayoga” dan ”Kaduk wani kurang deduga”. Maknanya hampir sama, hanya yang pertama menekankan pada lemahnya pertimbangan sedang yang kedua menitikberatkan pada kegegabahan dalam bertindak.

* Catatan: 

  1. Duga: Pineh-pinehin riin untuk baiknya (demi baiknya semua tindakan harus dipikir terlebih dahulu)
  2. Duga-Prayoga: mabligbagan ngeruruh sane patut (berembug untuk baiknya)
  3. Duga-Wetara: pamineh, piteket (buah pikiran, pendapat)
  4. Prayoga: Pertimbangan baik
  5. Watara: Pangira-ira (Perkiraan)
  6. Reringa: Kanthi pangati-ati merga gojag-gajeg (Dengan penuh kehati-hatian karena masih ragu-ragu).

Demikian dapat saya ketengahkan sebuah ulasan Linuwih dari ceceran pesan Leluhur dalam Takepan Wulangreh bagi kita semua dalam rangka membuat putusan dalam hidup ini. Tujuannya tak ada lain~agar kita tiada menyesal di kemudian hari, karena kita tidak memperhatikan analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa). Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)®

​Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara” (Sebuah Telisik Pawisik Bathin)
Hung….Ahung

Sampurasun

Om Swastyastu
Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara.
Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama“Salokanagara / Salakanagara”. 

Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya :
* La = Hukum

* Hyang = Leluhur

* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8
Arti keseluruhannya ialah :  Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.
Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar. Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :
* Sa = Esa / Tunggal / Satu

* Loka = Tempat / Wilayah

* Naga = lambang penguasa darat & laut (samudra).

* Ra = Matahari
Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.
Demikian dapat saya ketengahkan, sebagai bahan renungan bahwasanya Peradaban Nusantara sedemikian hebatnya. Dan kewajiban bagi kita untuk terus menggali setiap SIRATAN makna dari Tanda~Tanda yang TERSURAT lewat simbol~simbol yang hingga kini masih bisa kita jumpai.
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu
♡ Jro Mangku Danu

* Diinspirasi Dari kitab: Yuganing Raja Kawasa.

​Sunda, Kujang, Keris, Nusantara dan Nagara  (Menyingkap Tabir Serpihan Sejarah Perjalanan Leluhur)
Hunggg…..Ahunggg

Om Swastyastu

Sampurasun

Hong Basuki Langgeng
Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000-12.000 tahun Sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara.

Peta Sunda


Sebenarnya negara kita memiliki beberapa nama, namun pada umumnya bangsa Indonesia hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirgantara” kemudian menjadi “Swargantara” lalu menjadi “Dwipantara” setelah itu menjadi “Nusantara” dan kini disebut “Indonesia”.

Lalu apa kaitannya dengan Kujang? Kenapa pula dianggap Kujang lebih tua dari Keris? dan apa sebabnya Kujang sering dikaitkan dengan Sunda? oleh sebab-sebab itulah kita harus melihat runtun kejadian di negara kita melalui catatan sejarah dan bukan mithos.

Pada dasarnya penggambaran Kujang itu sama dengan Garuda Pancasila di jaman sekarang. Artinya, kujang sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran kenegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (agama) bangsa. 
Kujang merupakan simbol “Api” (atau Ra = api kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi), dan kelak ketika negera ini mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim maka lahirlah bentuk Keris sebagai simbol Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi). 

Singkatnya, Kujang sebagai “Ra” dan Keris sebagai “Naga”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA, lalu kita menyebutnya sebagai NAGARA atau NEGARA.

Jaman Dirganta-Ra (Wilayah api kehidupan yang bercahaya) artinya Kujang dijadikan sebagai simbol Batara Durga (Api yang memberi kehidupan).
Jaman Swarganta-Ra (Wilayah kehidupan mandiri yang bercahaya) artinya Kujang = sebagai simbol Matahari (Sang Hyang Manon).
Jaman Dwipanta-Ra (Kehidupan Negeri Cahaya Kembar / Merah-Putih) artinya Kujang = sebagai simbol ajaran cahaya (merah/api/matahari) atau Salaka Domas, dan Keris = sebagai simbol negara air (maritim) atau Salaka Nagara artinya lahirnya konsep CAHAYA KEMBAR (Dwi) Naga dan Ra dengan simbol Kujang dan Keris atau Merah dan Putih (Vertikal dan Horisontal).
Maka itu sebabnya pula Prabhu Air Langga (tahun 1000 Masehi) disimbolkan mengendarai Garuda Wisnu (Menunggang seekor burung yang berdiri (bertumpu) di atas Naga/ular) yang mensiratkan era Banjaran Nagara.
Jaman Nusantara (Gerak/Kehidupan Manusa Cahaya) artinya menggambarkan lahirnya Panji Cahaya (Bende-Ra) sebagai lambang Negara (bendara Merah-Putih). Sebagai negara Maritim dalam era ini Keris lebih banyak berperan dibandingkan Kujang. Pada zaman ini dikenal sebagai era Pajajaran Nagara.
Jaman Indonesia (konsep negara Re-Publik), kerajaan diruntuhkan dan direbut atau dirampok oleh rakyat (Ra-Hayat).
* Kujang = simbol Batara Durga = simbol Dewa Api = simbol negara Matahari = simbol Salaka Domas = simbol Merah = Horisontal 
* Keris = simbol Dewa Air = simbol negara Maritim = simbol Salaka Nagara = simbol Putih = Vertikal
Dengan demikian makna “Bende-Ra” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” (bahasa  Inggris) sebab Merah-Putih adalah lambang kehidupan keagamaan dan kenegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan sistem tanda yang agung. Keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan sistem tanda untuk berkomunikasi, dan bangsa kita sudah melakukannya sejak ribuan tahun lalu….!
Pun Sapun…Paralun

Ka pupunclak Agung

Sang Rama, Sang Ratu, Sang Resi

Sabab geus loba anu nyambat ka Pajajaran

Kaula nyatur sabab Kujang geus aya anu neang
Rahayu Rahayu Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu©

* Disarikan dari: Yuganing Raja Kawasa

Om Swastyastu

Tuhan sebagai Pribadi Tertinggi, pemilik dari sifat-sifat mulia yang tiada terbatas merupakan salah satu konsep yang paling fundamental dalam siddhanta-siddhanta theistik dalam Veda (kesimpulan ajaran yang sangat menekankan keberadaan Tuhan sebagai pusat penyembahan, pemujaan, pelayanan, dan pengabdian), dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa juga dikenal sebagai Ananta-kalyana-gunanidhi (samudera kemuliaan yang tiada terbatas).

Secara khusus pengutamaan atas aspek Pribadi (Personal) Tuhan merupakan sumbangan keinsafan Vaishnava bagi kekayaan konsep Ketuhanan dalam Hindu. Apabila Upanishad menjelaskan Parabrahman sebagai nirgunam atau tanpa sifat, menurut Vaishnava-siddhanta bukanlah berarti bahwa Brahman sungguh-sungguh tidak memiliki sifat apapun, namun hal ini bermakna bahwa Beliau tidak memiliki rupa dan sifat duniawi yang penuh kekurangan seperti makhluk fana atau heya-guna.

Nirguna juga bermakna bahwa Beliau sepenuhnya berada di atas pengaruh tiga sifat alam yaitu: kebaikan (sattvam), nafsu (rajas), dan kebodohan (tamas), dengan demikian Beliau disebut pula sebagai Trigunatita. Apabila kata nirguna ini diterima sebagai keadaan tanpa sifat apapun, maka akan timbul ketidaksesuaian di antara deskripsi sastra-sastra suci Veda.

Kontradiksi antar pernyataan Veda tidak boleh ada dalam penjelasan yang berasal dari perguruan-perguruan filsafat Vaishnava.

Pribadi Parabrahman berada dalam sifat kebaikan murni yang mutlak, non relatif, yang diistilahkan sebagai keadaan visuddha-sattvam, yang tidak mungkin hadir dalam diri mahluk terikat manapun.

image

Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan dalam terminologi Vaishnava, tidak pernah jatuh dari keadaan ini. Kitab suci menguraikan delapanbelas kekurangan atau sifat-sifat negatif yang tampak dalam diri roh terikat yaitu: jatuh dalam khayalan, rasa kantuk, tidak beradab, nafsu birahi, loba, kegilaan, irihati, kelicikan, meratap sedih, berusaha terlampau keras, kecenderungan menipu, amarah, ketakutan, berbuat kesalahan, ketidaksabaran, dan kebergantungan.

Kitab suci menyatakan dengan jelas bahwa sifat-sifat Tuhan sepenuhnya bebas dari segala kelemahan dan kekurangan ini. Maka dalam vaishnava siddhanta, heya-pratyanikatva atau tiadanya sifat-sifat duniawi merupakan salah satu indikasi pengenal (lingam) dari Kebenaran Mutlak Tertinggi, yang adalah merupakan kalyana-gunakaratva, pemilik sifat-sifat mulia yang tak terbatas.

Jadi dua hal ini, yaitu tiadanya kekurangan atau tiadanya sifat negatif dan penuh sempurnanya kemuliaan, merupakan dua indikasi (ubhaya-lingam) terpenting dari Parabrahman.

Dalam Vedanta, Nirguna dan Saguna tidak menyatakan dua Vastu (substansi) yang berbeda. Parabrahman adalah nirguna dalam artian heya-pratyanikatva dan saguna dalam artian kalyana-gunakaratva. (akhila-heya-pratyanika kalyanaikatana-svetara vastu vilakshana ananta jnana anandaika svarupa).

Demikian secara singkat dapat saya ketengahkan telaah Nirguna dan Saguna Brahman dalam dalam perspektif Vaishnava. Semoga menambah kazanah pemahaman kita terhadap KeESAaan Hyang Widhi. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)
Jakarta, 09/06/1998

DASYATNYA GETARAN DOA

Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Dua buah garputala (A & B) dihadap-hadapkan. Seorang siswa diminta untuk memukul garputala A. Sementara siswa lainnya mengamati apa yang terjadi dengan garputala B.

Saat itu saya sangat takjub. Bagaimana tidak, 2 garputala terpisah beberapa cm saling menggetarkan. Garputala A yang dipukul akan bergetar, sekaligus menggetarkan garputala B.

Yang lebih mengesankan, saat jumlah garputala ditambah. Bunyinya saling menguat dan terdengar semakin keras.
Seluruh siswa, termasuk saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Guru sains menjelaskan bahwa garputala A & B itu bisa saling menggetarkan, karena keduanya memiliki frekuensi sama.
Semakin banyak garputala (dengan frekuensi sama), makin keras bunyi yang dihasilkan.
Penjelasan sang guru bertahun-tahun lalu itu memotivasi utk menyelidiki lebih jauh.

image

by: Jro Mangku Danu

Hasilnya:
Oh….. ternyata tidak hanya garputala, namun seluruh isi alam semesta ini akan saling menggetarkan, bila memiliki frekuensi sama. Ya… SELURUH ISI ALAM SEMESTA, apa pun dan siapa pun.
___________
Bila kitaberpikir positif / berniat baik, maka kita akan mengirim pikiran positif / niat baik ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran baik / niat baik lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Sebaliknya, bila kita berpikir negatif / berniat jahat, maka kita akan mengirim pikiran negatif /niat jahat ini ke seantero semesta.
Kita akan menggetarkan pikiran negatif / niat jahat lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Itulah mengapa saat kita berpikir positif / berniat baik, kita akan dijumpai/ didekati oleh orang yang berpikiran sama dengan kita dan akan didekati dan didoakan oleh para Siddha Dewata atau Roh-Roh terang.

Sebaliknya, saat kita berpikir negatif / berniat jahat, kita akan dijumpai dan didekati oleh iblis, bhuta kala, setan dan para pengikutnya

Begitulah hukum SALING GETAR.

Hukum ini yang dimanfaatkan para pelaku teluh, santet, guna-guna dan semacamnya.
Tapi tenang, selama frekuensi kita tidak sama dengan frekuensi penyantet, maka kita tidak bisa disantet

Inilah yang perlu diketahui bahwa:

DOA.
Berdoalah yang baik-baik, agar kita MENGGETARKAN yang baik juga.

image

Namun, ada hal tambahan mengenai doa ini. Begini… berapa banyak kita berdoa seperti ini: “Tuhan… berilah SAYA ini… berilah SAYA itu…dan sebagainya.”

Saya yakin banyak diantara kita yang berdoa seperti itu, “hanya untuk saya…..”

Doa seperti itu tak salah, tapi TERLALU SEDIKIT Yang DIGETARKAN.!

Maksudnya? Kita jangan terlalu banyak berdoa untuk diri kita sendiri. Kok begitu?

Karena kalau kita berdoa untuk diri sendiri, maka KITA TAK PERNAH MENGGETARKAN SESUATU KE SESEORANG di luar sana

UBAH DOA KITA!

Berdoalah buat kedua orang tua kita, kerabat, sahabat, teman dan tetangga kita.

Kirimkanlah doa-doa kepada orang orang disekitar kita, komunitas, lingkungan kerja, tempat tinggal, kumpulan kita dan kepada siapa pun, dikenal maupun tidak.

Tahu apa yang akan terjadi terjadi?

SEMUA AKAN TERGETAR DAN SALING RESONASI MENGUATKAN.

Dan berita baiknya, bila kita berdoa bukan untuk diri kita sendiri, tapi berdoa untuk orang lain adalah kita DIDOAKAN KEMBALI OLEH PARA SIDDHA DEWATA dan ROH-ROH TERANG.

BEGITU KITA MERUBAH DOA KITA UNTUK ORANG LAIN TANPA SEPENGETAHUAN ORANGNYA MAKA DOA KITA AKAN BERGETAR KEMBALI KEPADA KITA.

Maka tidak bisa dibayangkan kalau kita semua saling mendoakan yang baik buat siapa pun, buat kota, buat negeri kita dan sebagainya, maka alam semesta ini akan dipenuhi dan diliputi gelombang frekuensi yang baik.

Semoga renungan ini, mampu menggetarkan doa-doa kita kepada siapa saja. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om

🙏DOA ADALAH SUMBER KEKUATAN🙏

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Ketika orang yang tidak mengerti prinsip kerja Dharma, ia akan melakukan hal yang tidak seharusnya, mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun melihatnya. Tetapi karma kita selalu melihat. Kita tidak benar-benar bisa kabur dari apapun.

Perbuatan baik menimbulkan hasil baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untuk kita atau para malaikat dan dewa penjaga melindungi kita atau hari yang menguntungkan menolong kita. Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika kita percaya, kita akan menderita. Kita akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Kita akan menderita walau hanya dengan cara itu.

image

Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan kita, dalam Karma kita sendiri. Melakukan perbuatan baik, kita akan mewarisi kebaikan, melakukan perbuatan buruk, kita akan mewarisi keburukan.

Melalui latihan benar, kita membiarkan karma lampau keluar dengan sendirinya. Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, kita hanya bisa mewaspadai dan membiarkan (karma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.

Sebagai contoh dari kita telah datang dari tempat yang bermil-mil jauhnya, untuk mencari, mendengarkan melaksanakan Dharma ke suatu pura. Berpikir bahwa kita telah datang dari tempat yang sangat jauh dan melewati banyak rintangan untuk ke pura tersebut. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang tinggal hanya di luar tembok pura tersebut tetapi belum pernah memasuki pagar pura tersebut. Jika kita renungkan hal ini, tentunya akan membuat kita semakin menghargai karma baik bukan?

Ketika kita melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi kita untuk bersembuyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kita dapat melihat diri kita sendiri. Bahkan jika kita masuk kedalam lubang yang dalam, kita tetap akan menemui diri kita sendiri disana. Tidak mungkin kita melakukan perbuatan perbuatan buruk dan kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa kita tidak melihat kesucian sendiri? Kita akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan, kita akan melihat ini semua untuk kita sendiri. Karena tiada hal yang lebih Valid, yang lebih Sahih selain Hukum Kausal bernama Hukum Karmaphala ini.

Semoga renungan singkat ini, memberikan kita arah dan petunjuk yang semakin jelas-ke arah mana bidak kehidupan ini mesti kita arahkan. Semua tergantung pada diri kita sendiri, karena saat ini Kunci itu sudah berada di Tangan kita masing-masing. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Next Page »