Pustaka Hindu


Om Swastyastu

Sirawista dalam upacara Pawintenan

Sirawista Adalah tiga helai alang-alang  yang dirangkai sedemikian rupa hingga bagian depan/ujungnya membentuk lingkaran (windu) dan titik (nada), merupakan simbolisasi dari Aksara Suci OM- yang tersusun melalui Bija Aksara A-U-M.

Sirawista dipergunakan ketika sesorang  menjalani upacara pensucian diri (samskara ).
“SIRAWISTA”  diikatkan di kepala dengan maksud bahwa sejak itu seseorang telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk selalu mensucikan diri yakni dwngan selalu mengingat Hyang Widhi melalui aksara OMkara. Dengan diikatkannya Sirawista ini…yang akhirnya personel tersebut siap untuk melaksanakan swadharma berikutnya.

Sirawista juga bermakna untuk mensakralkan personal dalam kaitan pengukuhan atau sumpah, Misalnya dalam wiwaha pasangan penganten, Sudhi wadani, Potong gigi, Perkawinan dan lain-lain

* Sumber: Sasananing Aguron-guron

Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Benang suci TRIDATU adalah benang yg terdiri dari jalinan tiga buah benang yg berwarna putih, hitam dan merah yg menyimbolkan Brahma, Wisnu dan Siwa, juga simbol dari tiga serangkai lainnya Mahasaraswati, Mahalaksmi dan Mahakali. Melambangkan tiga guna; satwam, rajas tamas, melambangkan tiga suku kata tunggal A,U,M dari OM.

Saat istirahat siang hari ini juga,  seorang sahabat bertanya agak serius. “Bli Mangku….kenapa rata-rata orang Hindu, khususnya yang berasal dari Bali memakai gelang dari benang warna tiga?”

Tiang jelaskan demikian;
Tridatu. Saya nyaris selalu menggunakan gelang benang Tridatu. Karena belum yang satu putus, sudah ada tambahan baru, karena benang tridatu ternyata bertahan sekitar 4-5 bulan sebelum putus sendiri. Dalam kurun waktu tersebut, selalu ada saja upacara yang memang “layak” mentridatukan warga/pamedek/peserta upacara.

Setiap ada pertanyaan, selalu saya berikan jawabnya yang simpel dan filosofis. Misalnya, tridatu saya jelaskan sebagai simbol untuk selalu mengingatkan manusia bahwa hidup itu tidak hanya sewarna…, melainkan banyak warna. Paling tidak ada kelahiran, kehidupan, dan kematian…., dan dengan menggunakan tridatu, kita diingatkan atas semua itu..

image

Ada juga yang berKeyakinan dan percaya bahwa pemakaian benang suci akan mampu memberikan vibrasi kesucian dan perlindungan dari segala kejahatan dan mengusir roh – roh jahat.

Di India juga mengenal pemakaian benang suci di tangan. Jikalau kita berupa jalinan tiga buah benang yg disebut Tridatu, di India pemakaian benang ini disebut dengan Raksha Sutra, Raksha = perlindungan, Sutra = benang, jadi berarti benang suci perlindungan. Namun di India biasanya hanya satu warna, kuning atau merah atau putih.

image

Biasanya saat pemakaian benang ini akan dilantunkan swasti sukta yaitu mantra – mantra permohonan perlindungan.

Om Swastina indro wriddaswarah
Swastina pusha wiswadewah
Swastina tarkshyo aristanemih
Swastino brhaspatir dadathu.

Semoga Indra yg perkasa, Pusha (Matahari) yang terpelajar, Tarksya (Garuda) yang tak terkalahkan serta Brhaspati memberkati dan melindungi kita.

Atau bisa juga dengan mantra yang singkat:

Om Ang Ung Mang
Raksha – raksha Hum Phat Swaha.

Ang-Brahma
Ung-Wisnu
Mang-Siwa
Raksha-perlindungan
Hum-kawaca/baju jirah/tameng
Phat-bijaksara senjata
Swaha-permaisuri Agni, bisa juga berarti permohonan.

Kirang langkung sinampura.
Om Santih Santih Santih Om

Jro Mangku Danu ( I W Sudarma)

Om Swastyastu
”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. Semua yang ada ini tidak terbatas dan
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong” Rgveda X.129.3.

Hari Raya Nyepi merupakan keterpaduan antara penyucian diri (mikrokosmos) dengan penyucian alam semesta (makrokosmos). Melaksanakan mulat sarira, mawas diri, dan menilai secara jujur dan jernih apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan selanjutnya di tahun mendatang.

Dilandasi ajaran Tat Tvam Asi sebagai konsep kemanusiaan yang universal, meletakkan dasar kesamaan derajat, harkat dan martabat serta hak dan tanggung jawab sebagai warga bangsa secara proporsional. Sesungguhnya semua umat manusia sama di hadapan Tuhan. Karena Ia berasal dari sinar kehidupan yang sama dan dapat bergerak atas kehendakNya. Sira ya ingsun, ingasun ya sira. Karena itu kita semua adalah bersaudara dalam keluarga besar bangsa Indonesia (vasudaiva kutumbhakam)

UCAPAN NYEPI 2015 jro mangku danu

Melasti- melakukan kegiatan ritual ke laut atau ke mata air dengan prosesi “Nagasankirtan” berjalan beriring-iringan mengusung arca pralingga. Untuk melebur berbagai kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan seraya memohon anugerah air suci, air kehidupan dari dalam samudera yang sekaligus bermakna menghanyutkan penderitaan dan noda-noda kehidupan. Melasti sebagai simbol pembersihan diri dengan membuang sifat-sifat buruk dan perilaku kotor sehingga upacara Nyepi dapat dilaksanakan dengan jiwa raga dan pikiran yang suci.

Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) yang dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan pecaruan yang disebut Tawur Kesanga yang dapat diartikan sebagai pemarisudha atau pembersihan dan bermakna sebagai sarana untuk mengharmoniskan hubungan Bhuana Agung (makrokosmos) dengan Bhuana Alit (mikrokosmos), menyeimbangkan hubungan Panca Maha Bhuta, menyelaraskan fungsi seluruh Indriya yang selama ini bebas mengembara menikmati pesona jagat Maya. Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) sesunguhnya sebagai momentum untuk intropekasi diri (Back And Look Inside), mengalahkan musuh sejati yang selama ini bercokol dalam diri: kebencian, amarah, egoisme, kebingungan, iri hati, dengki, kemunafikan, dan ketamakan. Dengan pengerupukan sebagai simbol telah saatnya Bhuta Kala untuk kembali ke asalnya yang disebut Somya atau senyap.

Sunyi (sepi) adalah ketika angin menyeruak dedaunan, tiada guman manusia, tiada deru kendaraan, tiada lolongan anjing, tiada gemerincing suara gamelan. Seakan seluruh kehidupan terhenti. Sebelum Matahari terbit sampai menjelang terbit kembali keesokan harinya, umat manusia melaksankan Catur Brata Penyepian: Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan meditasi; pembacaan ayat-ayat suci Veda dalam hati di kediaman masing-masing atau tempat-tempat suci. Menghentikan sejenenak aktivitas mikrokosmos dalam upaya intropeksi diri terhadap segala sepak terjang pikiran, perkataan, dan prilaku yang telah kita lakukan serta merenung, menyusun rencana apa yang akan kita lakukan kemudian guna perbaikan kualitas karma. Dengan Nyepi kita memberikan kesempatan kepada Ibu Pertiwi dan Semesta Jagat Raya yang merupakan Kalpa Vrksa (pemenuh segala keinginan) untuk beristirahat dan bermeditasi sejenak setelah setahun memenuhi segala kebutuhan dan asa semua penguninya, agar dapat mereposisi dirinya, sehingga manusia dan mahluk lainnya dapat hidup nyaman dan aman di kemudian hari.

Karena manusia sesungguhnya mendambakan keharmonisan hidup, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian. Kitab suci Arthasastra menyatakan bahwa: “dambaan manusia itu dijamin akan terwujud apabila telah terjadi hubungan harmonis antara empat faktor, yaitu: Ideologi, Agama, Pembangunan Politik, dan Keagamaan.

Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang “Multikultural” untuk bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God)

Melalui Dharma Santih kita berdoa dan berharap; semoga kita bangkit bersama di bawah sinar suciNya, guna membangun kesadaran dan rasa saling memaafkan, dilandasi kerendahan hati, saling hormat-menghormati, jujur, sederhana, toleransi, mampu memaknai kebebasan dengan rasa penuh tanggung jawab menuju kehidupan yang harmoni, damai, bahagia, dan sejahtera.

Marilah bangkit, bersatu padu dalam kebhinekaan, berkarya sepenuh hati dengan kebersamaan, menuju kesunyataan sejati; menggapai pembebasan tertinggi untuk Sang Diri dari lautan Samsara.

Om Santih Santih Santih Om
oleh: Shri Danu Dharma Patapan

Oleh: I W Sudarma

Om Swastyastu
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia belajar bertindak adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan. (Dorothy Nolte (dalam Titib, 2006:v)

Untaian Sloka Weda Guna Terbentuknya Anak Suputra:

Yetheyam prtiwi mahi bhutanam garbhamadadhe. Eva te dhiriyatam garbho anu suntum savite (Atharwaweda VI.17.1)

Terjemahannya:
Seperti halnya bumi yang luas ini mengandung semua mahkluk, demikian juga wahai istriku, engkau menjadi hamil dan dari kehamilan dapat lahir seorang putra seperti Sang Surya penuh dengan sinar cahaya.

Om Agni vayucandrasuryah, parayascittayo yuyam dewanam parayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi laksmi stanustamasya apahat swaha.

Terjemahannya:
Om Agni, Vayu, Candra dan Surya engkau adalah mensucikan segala prayascita, seperti mebersihkan segala kotoran. Mensucikan benda menjadi suci kembali. Dengan keinginan mencari Tuhan Yang Maha Esa, saya memohon perlindungan para Dewata supaya istriku bila pernah mendapat kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma yang mengakibatkan dosa mohon dimaafkan.

Om Suryo no divastu vato antariksat agnirah parthivebyah (Rg Weda X.158.1)

Terjemahannya:
Oh Dewa Surya anugerahkanlah dari surgaloka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam kandungan ini, demikian juga semoga dewa Bayu memberikan anugerah dari antraiksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi.

Ko asi katoma asi kayasi ko na-masi
Yasya te namamamahi yam twa some nantitrpama. Bhur bhuwah swah supraja-h prajabhih syam. Suviro viraih suposah posaih (Yayur Weda VII.29)

Terjemahannya:
Pada hari ini kami memberikan nama kepadamu dan juga memuaskan kamu dengan air susu ibu. Untuk itu wahai anakku siapkah sebenarnya kamu? dan milik siapa? dari manakah kamu? siapakah namamu? Tuhan Yang Maha Esa memberikan prana kebahagiaan dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapatkan keuturunan yang baik, dari semua unsur golongan manusia dan para katriya memperoleh keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan yang sehat penuh gizi.

Sa vahnih putrah pitroh pawitravan punatidhiro bhuvani mayaya (Rg Weda. I. 160.3)

Terjemahannya:
Putra dari orang tua yang mulia, saleh, gagah berani, dan berseri-seri bagaikan sanghyang Agni membersihkan (menyucikan dunia ini dengan perbuatan-perbuatannya yang mulia

Yato virah karmanyah sudakso yuktagrava jayate dewakamah (Rg Weda III.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memperoleh seorang putra yang gagah berani giat, cerdas, yang mampu memeras soma dan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa lahir pada kami.

Pisangarupah subharo vayodhah srusti viro jayate dewakamah (Rg Weda II.4.9)

Terjemahannya:
Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memproleh seorang putra yang berkulit kuning langsat yang berpotongan bagus yang panjang umur, yang berani dan bajik.

Te sunah swaspasah sudamasah (Rg Weda I.159.3)

Terjemahannya:
Putra-putra ini amat giat bekerja dan memiliki kekuatan-kekuatan yang mengagumkan

Sadhum putram hiranyayam (Atharwa Weda XX.129.5)

Terjemahannya:
Semoga kami memperoleh seorang putra yang mulia dan makmur

Ehy-asanam a tista asma bhawantu te tanuh (Atharwa Weda II.13.4)

Terjemahannya:
Wahai putra kemarilah dan berdirilah di atas batu ini, semoga tubuhmu kuat seperti sebongkah batu.

Yad bhadrasya purusasya putra bhawati dadhrshih (Atharwaweda XX.128.3)

Terjemahannya:
Dengan sesunguhnya anak laki-laki seorang ayah yang mat terkenal (termasyur) menjadi mulia

Anuvratah pituh putro, mata bhawantu sammanah (Atharwaweda III.30.2)

Terjemahannya:
Hendaknya anak laki-laki patuh epada ayahnya dan menyenangkan hati ibunya

Garbhair hamairjatakrama, Caudamahuncini bandhanah. Baicikam garbhairkam caino, Dwi janama pamujiate. (Manawadharmasastra II. 27)

Terjemahannya:

Dengan membakar bau-bauan harum pada waktu kehamilan, dengan upacara pitakarma (bayi waktu lahir), upacara cauda (gunting rambut pertama) dan upacara mahunji bandhaa (upacara memberikan kalung/ gelang) maka kekotoran yang didapat dari orang tua akan hilang.

Prangnabhi wardhanatpumso, Jatakarma widhyate, Mantrawatpracanam casya, Hiranyamadhu sarpisam (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Sebelum talipusar dipotong upacara jatakarma (upacara baru lahir) harus dilakukan untuk bayi laki-laki dan sementara mantra-mantra suci sedang diucapkan itu harus diberi makan madu dan mentega dengan sendok emas

Namadeyam dacamyam, tu dwadacyan wasya karayet, punye tithau muhurte wa, naksatre wa gunanwite (Manawadharmasastra. II.29)

Terjemahannya:
Kemudian hendaknya orang tua melakukan upacara namadheya pada umur 10 atau 12 tahun hari setelah kelahirannya, atau pada waktu suatu hari baik dalam kedudukan muhurta dibawah bintang-bintang yang membawa kebahagiaan.

Caturthe masi kartwya, Cicorniskramanam grhat, Sasthe nnapracanam masi, Yadwetam manggalam kule. (Manawadharmasastra.II.34)

Terjemahannya:
Pada waktu bulan yang keempat harus dilakukan upacara Niskramana bagi bayi itu dan pada waktu umur enam bulan dilakukan upacara annaprasana dan wajib pula melakukan upacara kesucian yang biasa dilakukan dalam upacara itu

Garbhastame bde kurwita, brahmanasyopanayam, grbhadekadace rajno, garbttu dwadace wicah (Manawadharmasastra II.36)

Terjemahannya:
Pada tahun kedelapan setelah pembuahan seseorang harus melakukan upacara upanayana bagi golongan brahmana pada tahun kesebelas bagi ksatriaya sedangkan bagi bagi waisiaya pada tahun kedua belas.

Brahma warcasakam asya, Karyam wiprasya pancame, Rajno balarthinah sasthe, Waicasye harthino’ stame (Manawadharmasastra, II 37)

Terjemahannya:
Namun yang ingin ahli Weda harus melakukannya pada tahun ke 5, kesatria yang ingin perkasa memulai pada tahun ke enam, dan wesia yang berhasil dilakukan pada tahun kedelapn setelah pembuahan.

Asodacad brahmanasya,sawitri natiwartate, adwawimcat ksetra bandosa, Catur wimcate wicah (Manawadharmasastra, II.38)

Terjemahannya:
Waktu untuk melakukan upacara sawitri bagi seorang Brahmana tidak boleh lebih sampai genap umurnya 16 tahun setelah lahir, bagi ksatriya tidak boleh lebih dari umurnya 24 tahun

Atta urdhwam trayo pyete,Yatha kalama samskrtah,Sawitri patita wratya,Bhawantyarya wirgatah (Manawadharmasastra.II.39)

Terjemahannya:
Kalau sampai pada masa-masa itu orang belum meperoleh sakramen menurut waktunya bagi ketiga golongan ini, mereka dogolongkan Wrtaya serta dikeluarkan dari upacara sawitri dan tidak layak sebagai arya

Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna (Manawa Dharmasastra III.37)

Terjemahannya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.

Tuhun gawayanin suta nutanekeneka gawaya nika sang yayah juga Ika muhara harsaning yayah agong ri gati nika taman salah gawe, Samangkana kumawhruhig matanaya riawak ika sagunaya tan hilang, Tekap ni gatining suta ngulahaken gawaya guna saka wruhing yayah (Putra Sesana, 3)

Terjemahannya:
Segala kegiatan si anak harus mencontoh bakat baik orang tua itulah yang menyebabkan senangnya orang tua, karena prilakunya sangat tepat. Demikianlah orang tua harus patut mendidik anak agar kepandaiannya dapat di wariskan sehinga tidak punah. Oleh si anaklah yang patut menerima segala pekerjaan dan kepandaian orang tua.

Tingkahning suta cakasaneka kadi raja-tanaya ri sedeng limang tahun Saptaning warsa waraahulun sapuluhing tahun ika-taha wuruhken ring aksara yapwan sodacawara tulya wara mitra tinaha-taha denta midanaYan wus putra suputra tinghalana salahika wuruken ing nayengga (Nitisastra IV.20)

Terjemahannya:
Anak yang berumur lima tahun hendaknya diperlakuakan seperti anak raja, Jika sudah berumur tujuh tahun dilatih agar suka menurut, Jika sudah sepuluh tahun dipelajari membaca. Jika sudah enam belas tahun, diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukan kesalahan harus dengan hati-hati sekali. Jika ia sendiri sudah beranak, diamati saja tingkah lakunya, kalau hendak memberi pelajaran kepadanya cukup dengan gerakan dan alamat.

Nihan singgah anak, ikang carananing anatha, tumulung kadang kalaran doning saktinya, danakena donya antuknya angarjana, pangenening daridra donyan pasuruhan, ikang mangkana, yatikanak ngaranya.(Saracamuccaya 228)

Terjemahannya:
Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan serta untuk menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, untuk disedekahkan tujuannya, akan segala hasil usahanya, gunanya ia memasak, meyediakan makanan untuk orang-orang miskin, orang yang demikian itu putra sejati namanya.

Nyang waneh ikang wwang pinaracrayana kadangnya, kadi lwir sang hyng indra, an pinakakahuripaning sarwabhawa mwang kadi lwiring kayu, an pinakakahuripaning manuk, mangkana ta ya, pinakakahuripaning katumbanya, ikang wwang mangkana ya tikanak ngaranya.(Saracamuccaya 229)

Terjemahannya:
Demikian pula yang dijadikan tempat berlindung oleh, kaum kerabatnya sebagai hal Dewa Indra, Dewa hujan yang merupakan sumber kehidupan sekalian mahkluk dan bagaikan pohon kayu rindang yang meupakan kehidupan burung, demikialah ia itu merupakan kehidupan orang-orang seisi rumahnya, orang yang demikian keadaanya itulah sejati namanya.

Ikang anak ngarannya, matrtpitining bapa gina wenya, Kunang ikang bapa, sakwehning sukhaning anak ginawenya, Apan tan hana tinengetning bapa, cariranira towi, winehakenira ta ya (Saracamusccaya243)

Terjemahannya:
Yang disebut anak, patutnya membuat agar si bapa puas hatinya, sedangkan si bapa sebanyak-bnyaknya kesenangan si anak dikerjakan olehnya, sebab tidak aada yang dikikirka sibapa, badannya sekalipun akan direlakannya.

Mangkana ikang ibu, arata jugasihnira manak ya, apan wenang tan wenang, saguna, nirguna, daridra, sugih, ikang awak, kapwa rinaksanira, iningunira ika, tan hana ta pwa kadi sira, ring masiha mangingwana (Saracamusccaya 244

Terjemahannya:
Demikianlah si ibu, rata benar cinta kasihnya kepada anak-anaknya, sebab baik cakap ataupun tidak cakap, berkbajikan ataupun tidak, miskin atau kaya raya anak-anaknya itu semua dijaga baik-baik olehnya, dan diasuhnya mereka itu tidak ada yang melebihi kecintaannya beliau dalam hal mengasihi dan mengasuh anak-anaknya.

Te putra ye pitur bhaktah, Sa pit yastu posakah, Tam mitram yatra wiswasah, Sa bharya yatra nirwtih (Canakya Nitisastra. II,4)

Terjemahannya:
Yang disebut putra adalah mereka yang bhakti kepada Bapak. Yang disebut Bapak adalah dia yang menaggung memelihara anak-anaknya. Yang disebut teman adalah dia yang memiliki rasa percaya dan bisa dipercaya dan seorang istri adalah dia yang selalu memberiakn kebahagian.

Putras ca vividhaih silair, Niyojyah satatam budhih, Niti-jnah sila sampanna, Bhawanti kula pujitah (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Orang bijaksana hendaknya mengajarkan putranya tatasusila, pengetahuan Nitisastra dan ilmu pengetahuan suci lainnya, sebab seorang putra yang mahir dalam pengetahuan Nitisatra dan pengetahuan suci lainnya akan meyebabkan keluarga terpuji.

Mata satru pita bairi, Yena balo na pathitah, Na sobhate sabha madhye, Hamsa madye bako yatha (Canakya Nitisatra II.10)

Terjemahannya:
Seorang Bapak dan ibu yang tidak memberikan pelajaran kesuciannya kepada anaknya, mereka berdua adalah musuh dari anak tersebut. Anak tersebut tidak aka nada artinya di masyarakat, bagaikan seekor bangau di tengah-tengah kumpulan burung angsa.

Lananad bahavo dosas, Tadanad bahavo gunas, Tasmat putram ca sisyam, Tadeyam na tu lalayet (Canakya Nitisastra II,12)

Terjemahannya:
Anak yang dididik dengan memanjakan akan menjadi durhaka dan jahat Sedangkan dengan memberikan hukuman-hukuman ia akan menjadi baik. Oleh karena itu, didiklah putra-putri dan murid-murid anda dengan cara memberikan hukuman-hukuman dan tidak dengan memanjakan.

Abhyadad dharyate vidya, Kulum silena dharyate, Gunena jnayate tvvaryah, Kopo netrena gamyate (Canakya Nitisatra III.8)

Terjemahannya:
Ilmu pengetahuan itu dipelihara dengan mempraktekannya, Kemuliaan keluarga dipelihara dengan tingkah laku yang baik Orang terhormat dapat dilihat dari sifat-sifat luhurnya dan kalau marah dapat dilihat dari matanya

Ekanapi suvksena, Puspitena suganddhita, Wasistem tadvanam sarwam, Suputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,12)

Terjemahannya:
Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga kalau didalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra.

Ekena suska-vrksena, Dahyamanena vahnina, Dahyate tadvanam sarwam, kuputrena kulam yatha (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra mengahncurkan dan meberikan abib bagi kleuarganya

Ekenapi suputrena, Vidya yuktena sadhuna, Ahladitam kulam sarwam,Yatha candrena sarwari (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Sebagaiman bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan rohani, insaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan.

Kim jatair bahubhih putraih, soka santapakaih, varamekah kulalambi, yatra visramyate kulam (Canakya Nitisastra III,15)

Terjemahannya:
Apa gunanya melahirkan anak terlalu banyak kalau mereka hanya mengakibatkan kesengsaraan dan selalu memberikan kedukaan. Walaupunseorang anak tetapi berkepribadian utama dan membentu keluarga satu anak yang meringankan keluarga inilah paling baik.

Lalayet panca varsani, Dasa varsani tadayet, Prapte tu sodase varse, Putram mitravadacaret (Canakya Nitisastra III,18)

Terjemahannya:
Asuhlah putra dengan cara memanjakannya sampai berumur lima tahun, memberikan hukuman-hukuman selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah menginjak umur enam belas tahun didiklah ia dengan cara berteman

Kupasataswai paramam sarapi, Sarah sated wai parama pi yajnah, Yajnahsatad wai paramapi putra

Kalingganya, hana pawekang magawe sumur satus alah ika dening magawe.Telaga seratus, alah ika palanya dening wwang magaweakan yajna sapisan. Atyanta luwih ing gumawe aken yajna. Kunangikang wwang wwang mayajna ping satus alah ika phalanya dening kang wwang maanak tunggal, yang anak wisesa. Kalingganya ikang manak aneka tan lwih phalanya.

Terjemahannya:
Membuat telag untuk umu lebih baik daripada menggali sertus sumur, melakukan yajna sekali lebih utama dari membuat seratus telaga, empunyai anak yang suputra lebih utama daripada melakukan seratus yajna.

Sanghyang Chandra Tranggana pinaka dipa memadangi ri kalaning wengi Sanghyang Surya sedeng prabhasa, Maka dipa memandangi bhumi mandala Widhya sastra suddharma dipanikanang tribhuana sumene prabhasa, Yan ning putra suputra sadhu gunawan, Memandangi kula wandhu wandhawa (Niti Sastra IV)

Terjemahannya;
Bulan dan bintang bersinar, sebagi pelita, Menerangi dikala malam.Matahari terbit, sebagi pelita menerangi seluruh wilayah bumi, Ilmu pengetahuan, sastra yangutama, sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna, kalau dikalangan putra (anak),anak yang utama sebagai pelita menerangi seluruh keluarga.

Om Santih Santih Santih Om

Om Swastyastu
Pengetahuan yang Transcendent dikatakan “berliku-liku” karena pengertiannya tidak langsung dapat dipahami, di luar lingkup logika umat manusia.

Tanda tambah yang sederhana tidak hanya menggambarkan reduksi ruang menuju satu kesatuan, tetapi juga lapangan manifestasi abadi yang dari titik pusat, bindu, simbol ether, mengembang ke 4 arah mata angin dan 4 unsur yang nampak.

Hal ini, bagaimanapun, tidak benar dilihat dari pandangan kedewataan yang luhur, yang tidak dapat diambil sedemikian rupa dalam satu kesatuan. Hal ini diperlihatkan dengan cabang berliku dari kemurahan swastika, yang bagaimanapun dihubungkan dengan titik pusat material, saat ini titik tidak dapat ditentukan luas ruang angkasa).

Pengetahuan yang transcendet merupakan aspek kedewataan hanya dicapai secara langsung, melalui jalan kanan atau jalan kiri. Demikianlah dua arah yang merupakan cabang dari swastika dapat dibengkokkan. Digunakan di mana saja sebagai tanda keberuntungan, swastika berarti untuk mengingatkan umat manusia terhadap Ralitas Tertinggi, yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran maupun indria manusia. Tentang Tuhan Yang Maha Esa yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia, di dalam terminologi Jawa Kuno dinyatakan dengan kalimat “tankagrahita dening manah mwang indriya”.

Om Santih Santih Santih
~ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu

*Sumber bacaan:  Mantra, Yantra dan Rerajahan

Arti dan Filosofi Jari Tangan menurut Teks Sanyasa Tantra:

Om Swastyastu
1. Ibu jari (jempol) merupakan perlambang penguasa. Ibu jari adalah jari yang mengumpulkan semua keunggulan empat jari yang lain, dan mengontrolnya untuk dapat melakukan sesuatu, mensinergikan semua kekuatan empat jari yang lain, dan meledakkannya pada momentum yang tepat. Cobalah genggam palu dengan empat jari selain ibu jari dan ayunkan palu itu sekuat tenaga, hampir pasti palu itu terbang entah kemana. Ibu jari adalah  jari paling besar yang mengontrol empat jari lainnya.

2. Telunjuk adalah perlambang orang kaya, itulah kenapa kita terbiasa menunjuk-nunjuk sesuatu, atau memerintahkan seseorang melakukan sesuatu dengan telunjuk, persis seperti orang kaya yang kelakuannya mau apa-apa tinggal tunjuk.

3. Jari Tengah adalah perlambang seorang yang beriman (orang yang berilmu), jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari,  akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengah akan menarik diri menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulah perlambang kebijakan jari tengah.

4. Jari Manis adalah perlambang pemuda, pemuda selalu manis untuk dipandang, entah karna kepintarannya, luas pengetahuannya, anggun rupanya, atau karna hal-hal lain, kau tahu, katanya, itulah kenapa kita pasang cincin di jari manis kita, itu perlambang keindahan pemuda!!

5. Kelingking tak lain tak bukan adalah perlambang wanita, katanya. Kelingking adalah  jari terlemah diantara semuanya. tapi bukankah tidak selamanya perempuan itu lemah? itulah kenapa permainan “suit” kita memenangkan kelingking dari ibu jari, penguasa saja bisa bertekuk lutut dengan wanita. Kelingking kalah dengan telunjuk seperti wanita dengan harta.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W Sudarma
* Sumber: Buku Sanyasa Tantra

Om Swastyastu

1. Ibu Jari/Jempol – Yudhistira

Sebagai kakak tertua yang mengayomi dan contoh sopan santun dalam kehidupan. Yudhistira adalah salah satu karakter yang nerimo, dalam arti Yudhistira adalah orang yang selalu menyatakan “silahkan “monggo”. Masyarakat Hindu (Jawa, Bali) juga selalu menggunakan jempol untuk menunjukkan arah atau menyatakan persetujuan.

2. Jari Telunjuk – Bima

Bima dikenal sebagai orang yang lurus dan terus terang, walaupun keras dan apa adanya. Bahkan, dia hanya menggunakan bahasa halus hanya kepada orang tua dan gurunya, Dewa Ruci. Bima dikenal sebagai orang yang keras dan berusaha mengingatkan dengan galak. Masyarakat kita, jika memarahi orang atau mengingatkan orang, akan menggunakan jari telunjuk yang teracung. Hal tersebut merupakan simbolisme Bima yang sedang mengingatkan kesalahan kepada orang lain.

3. Jari Tengah – Arjuna

Lelananging jagad (prianya dunia) yang dikenal sebagai impian setiap wanita. Dalam pewayangan India, Arjuna tidak digambarkan sebagai orang yang tampan sekali. Arjuna dikenal sebagai impian setiap wanita karena mampu menyenangkan hati para wanita. Lewat keberanian, ketenangan, dan kecerdikannya, tepat sekali jika jari tengah yang disimbolkan sebagai Arjuna sebagai penyeimbang Pandawa.

4. Jari Manis – Nakula

Sebagai kakak kembar dari Sahadewa, Nakula sebenarnya lebih tampan daripada Arjuna. Nakula juga merupakan simbol dari ketampanan, keindahan, dan keharmonisan. Oleh karena itu, cincin sebagai asesoris, dan sebagai lambang ikatan pernikahan diletakkan di jari manis, sesuai dengan sifat Nakula yang tampan, indah, dan harmonis. Hal ini juga dijelaskan dalam Ramayana  saat Sang Rama ketika menyunting Dewi Sita…dengan menyematkan Cincin di jari manisnya sebagai lambang Kesetiaan.

5. Jari Kelingking – Sahadewa

Adik terkecil dan adik kembar dari Nakula, digambarkan sebagai wayang yang paling membawa kestabilan dan kebersihan. Bahkan di salah satu kisah, Sahadewa adalah satu-satunya wayang yang mampu meruwat (membersihkan) Bhatari Durga untuk kembali kepada bentuk awal beliau (Dewi Uma). Jika dikembalikan ke fungsinya, hanya jari kelingking yang mampu membersihkan kotoran yang tersembunyi, seperti hidung dan telinga.

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W Sudarma

* Sumber: buku insklopedi wayang purwo

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers