Pustaka Hindu


Advertisements

Om Swastyastu

DEVI UMA adalah dari Sakti Deva Siva diberi nama sesuai dengan perwujudannya yang ganda, yaitu berwujud “santa” atau tenang, dan bersifat “raudra” atau “krodha”.

Ketika dalam wujud santa, sakti Deva Siva ini disebut dengan Parvati, yaitu seorang devi dengan penuh kecantikan dan kasih sayang. Selain disebut dengan Parvati, juga disebut dengan Devi Uma atau dewi Kedamaian.

Didalam kitab Purana disebutkan Devi Parvati pada penjelmaan pertamanya adalah Daksayani, yaitu putri dari Daksa dan Prasuti dan menikah dengan Siva. Karena tidak mampu memahami keagungan Siva, Daksa memakinya dan mulai membencinya. Ketika Daksa melakukan suatu upacara Yajna Agung, salah satu tamu yang tak diundang adalah Siva. Sangat bertentangan dengan saran pasangannya, Daksayani pergi ke tempat upacara tanpa diundang dan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dalam api yoga. Oleh sebab itu, kemudian ia dikenal dengan sebutan Sati yang tak berdosa.

Devi Uma sebagai Ibu Alam Semesta

Berikutnya dia terlahir kembali menjadi Parvati, putri dari Himawan dan Mena. Setelah melakukan tapa yang mendalam, dia mampu menyenangkan Siva dan membuat Siva dapat menerimanya kembali sebagai pendampingnya.

Selama Parvati melakukan pertapaan, dia menolak untuk makan dan minum, walau daun kering sekalipun. Sehingga dia memperoleh penampakan Aparna Ibunya Mena yang tidak tega menyaksikan putri kesayangannya menderita dalam melakukan tapa, dan berusaha mencegahnya dengan kata-kata “Uma, sayangku janganlah berbuat seperti ini” yang kemudian nama Uma menjadi nama lainnya.

Seperti pendamping Siva, Parvati juga memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu aspek lemah lembut, penyayang, dan berparas cantik, serta satu aspek lain adalah aspek menakutkan dan mengerikan.

Sebagai Parvati atau Uma dia dinyatakan dengan aspek yang lemah lembut, penyayang, penuh cinta kasih. Dimana dalam aspek ini, dia selalu bersama dengan Siva. Kemudian dalam aspek ini dia memiliki dua tangan, yang kanan memegang teratai biru, dan yang kiri menggantung bebas disebelahnya. Bila dinyatakan secara mandiri (Parvati Tunggal/tanpa Siva), dia tampak dengan empat tangan, dua tangan memegang taratai merah dan biru, sedangkan dua tangan yang lain memegang Varada dan Abhaya Mudra.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi pemahaman dan Sraddha Bhakti kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Orang-orang yang kurang cerdas, sering menertawakan dan mencela umat Hindu yang memuja Tuhan melalui Arca dan menganggapnya sebagai tahayul bahkan tak jarang diberi label musryik dan menyembah berhala. Padahal kita juga sama-sama tahu bahwa tidak ada satu agama atau keyakinan apapun yang ada di dunia ini yang tidak memuja Tuhan melalui simbol; seperti menggunakan arah/kiblat, suara, cahaya, arca, bangunan, gambar, bendera/panji-panji.

Arca adalah media yang sudah disakralisasi

Umat Hindu yang melakukan pemujaan melalui berbagai simbol atau niyasa/pratika termasuk melalui Arca-memiliki keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Ada juga bersemayam dalam simbol dihadapannya. Bagi umat Hindu arca bukanlah sekedar objek/sarana tambahan, tetapi merupakan bagian dari mekanisme batin dalam bhakti dan keyakinan.

Tentu saja semua puja yang dilakukan dengan gagasan bahwa arca tersebut hanyalah kayu/logam yang tidak bernyawa; benar-benar konyol dan amat membuang waktu. Tetapi bila hal ini dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa arca itu hidup penuh kesadaran dan kekuatan, bahwa Tuhan Yang Maha Segalanya, berada dimana-mana (vyapi vyapaka), meresapi segala yang ada (isvara sarva bhutanam) dan mengejawantah dalam tiap keberadaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak (visva virat svarupa), dan dengan keyakinan bahwa Tuhan merupakan kenyataan batin bagi semuanya berada didalamnya, maka pemujaan arca benar-benar bermanfaat dan membangunkan kesadaran Tuhan.

Seorang “Wamana” selama bertahun-tahun tidak pergi ke tempat ibadat manapun dan ia menertawakan orang-orang yang menganggap arca sebagai simbol Ketuhanan. Ketika putrinya meninggal, pada suatu hari ia memegang fotonya sambil menangisi kehilangan tersebut. Tiba-tiba saja ia tersadarkan bahwa bila foto itu dapat menyebabkan kesedihan padanya dan membawa air mata kerinduan-maka arca itu juga dapat menimbulkan kegembiraan dan membawa air mata bhakti pada mereka yang mengerti keindahan dan kemuliaan Tuhan. Simbol-simbol itu adalah alat untuk mengingatkan bahwa Tuhan hadir dimana-mana dan dalam segala sesuatu.

Hindu yang Ajarannya sangat Logis dan paling masuk akal, tentu memiliki banyak pijakan atau dasar Sastra, mengapa pemujaan Arca tersebut menjadi sahih. Penjelasan tentang archanam atau tatacara pemujaan arca sangat jelas disebutkan dalam Srimad Bhagavatam seperti yang dinyatakan Uddhava kepada Shri Krshna;

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.2:

etad vadanti munayo
muhur niḥśreyasaḿ nṛṇām
nārado bhagavān vyāsa
ācāryo ‘ńgirasaḥ sutaḥ.

Artinya:
Semua orang bijak/Rsi -Rsi mulia berulang kali menyatakan bahwa penyembahan semacam itu (archanam) membawa manfaat terbesar yang mungkin ada dalam kehidupan manusia. Inilah pendapat Nārada Muni, Vyāsadeva yang agung dan guru spiritual saya, Brhaspati (angirasah sutah).

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.3-4:

“niḥsṛtaḿ te mukhāmbhojād
yad āha bhagavān ajaḥ
putrebhyo bhṛgu -mukhyebhyo
devyai bhagavān bhavaḥ
etad vai sarva – varṇānām
āśramāṇāḿ ca sammatam
śreyasām uttamaḿ manye
strī – śūdrāṇāḿ ca māna – da.

Artinya:
Wahai Tuhan yang paling murah hati, pernyataan tentang proses penyembahan dalam bentuk arca ini dipancarkan dari bibir teratai Anda. Kemudian disampaikan oleh Brahmā yang hebat kepada putra-putranya yang dipimpin oleh Bhṛgu , Śiva menyampaikannya kepada saktinya, Pārvatī . Tatacara pemujaan seperti ini (archanam) diterima oleh semua lapisan masyarakat/warna dan semua tingkat kehidupan/asrama (sarwavarnam asramanam). Oleh karena itu, saya menganggap penyembahan kepada Anda dalam bentuk arca menjadi yang paling bermanfaat dari semua praktik spiritual, bahkan untuk wanita dan pelayan.

kemudian dipertegas lagi oleh pernyataan Krishna dalam sloka berikutnya :

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.9

“arcāyāḿ sthaṇḍile ‘gnau vā
sūrye vāpsu hṛdi dvijaḥ
dravyeṇa bhakti -yukto ‘rcet
sva – guruḿ mām amāyayā.

Artinya:
Seseorang yang telah didwijati harus menyembah-Ku dengan sepenuh hati, mempersembahkan berbagai perlengkapan persembahan yang sesuai dalam pengabdian penuh kasih kepada bentuk KeilahianKu sebagai arca atau bentuk DiriKu yang muncul di atas tanah, di api, di bawah sinar matahari, di air atau di dalam hati pemuja itu sendiri.

Jadi dengan Simbol atau Pengarcaan umat Hindu bisa menjumpai Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga bermanfaat bagi Keluasan pemahaman kita. Dan menguatkan Sraddha-Bhakti kita di jalan Dharma. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
Kitab-kitab suci Veda baik Sruti, Smrthi, dan Nibandha adalah bagaikan pohon kalpataru atau kalpavreksa yang kita yakini akan mengabulkan semua harapan, cita-cita dan bahkan keinginan. Tentunya hal teesebut bergantung pada  Sejauh mana orang memahaminya. sejauh itu pulalah ia memperoleh manfaat darinya. 


Kalpavreksa-Pohon yang memenuhi segala harapan manusia


Seperti  mereka yang bermain pada riak ombak di tepi pantai, maka seperti itulah halnya dengan mereka  yang lebih mengarahkan pandangan pada hal-hal duniawi. Mereka menafsirkan amanatnya yang sangat suci ini secara lahiriah dan merekapun hanya mendapatkan krikil dan pasir, ia hanya akan memperoleh kesadaran lahiriah yang sementara. 

Kitab Veda-Sumber dan Gudang Kebijaksanaan

 
Tetapi mereka yang tangguh dalam kerohanian~yang mengarahkan pandangan ke dalam batin, akan tiada henti berjuang, menyelam hingga ke dasar yang paling dalam dan mendapatkan permata dan mutiara yang samgat berharga. Mutiara itu adalah kebenaran, kebijaksanaan, kedamaian dan cinta kasih sejati.

Mari kita luangkan waktu secara disiplin untuk membuka dan menengok serta menyelami nektar kemuliaan Veda. Dan kita patut angayubagia dilahirkan sebagai Hindu yang kaya raya akan sumber kebjiksanaan, yang tidak akan kita bisa jumpai di tempat lainnya. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Disampaikan penuh kasih oleh: I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Kata tertua adalah ONG, kata HONG adalah pengucapan logat untuk bahasa Nusantara luar Bali. Ciri bahasa Nusantara seperti kata ‘hujan’ dengan kata ‘ujan’. Kata AHUNG jika bunyi H di tengah kata dihilangkan akan menjadi AUNG lalu bunyi A dan U akan mengalami sandi menjadi O sehingga akan menjadi ONG. Jadi AHUNG adalah sama dengan ONG begitu pula HONG sama dengan ONG. Inilah yang disebut KUTAMAMTRA.
ONG-HONG-AHUNG dalam Susastra Sanskerta, Sunda Kuna dan Jawa Kuna juga disebut sebagai Brahmabija (Benih/Saripati Hyang Widhi/Tuhan atau Brahmavidya (Saripati Pengetahuan Sejati) atau Pranava (Yang Memberi Hidup setiap Ucapan/Bahasa)
ONG-HONG-AHUNG dalam bahasa yang mendasar dapat diartikan dengan: “Saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”.
“Sesungguhnya suku kata singkat ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana. Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”, demikian Chandogya Upanisad I.1.8 menjelaskan dengan sangat gamblang.
Pengucapan ONG-HONG-AHUNG, oleh siapa saja-sejatinya ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Sanghyang Paramesti Guru/Hyang Widhi. Penggunaannya bisa pada setiap mulai acara ritual, dan mengakhirinya.
Sumber rujukan lainnya: Chandogya Upanisad, Mandhukya Upanisad, Tantra Tatva Prakasa, Tantra Sara, Sevaka Dharma, Tutur Sanghyang Kamahayanikan, Tutur Kalepasan, Bhagavadgita,dan lain-lain.
Dalam catatan saya, Dalam Bahasa Sanskerta Penulisan konsonan ‘M‘ dengan tanda ‘titik’ diatasnya; ini dinamakan ANUSWARA, misalkan kata Om, Samsara, Samkhya, dan yang lainnya. Maka kata tersebut di Nusantara kemudian dibaca: ‘Om menjadi Ong’, ‘Samsara menjadi Sangsara’, ‘Samkhya menjadi Sangkhya’.
ONG-HONG-AHUNG
Semoga bermanfaat bagi kita semua

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
#KembaliKeLeluhur

#BahasaIbuNusantara

Om Swastyastu
Apakah dengan memperdebatkan Tuhan akan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan…??
Mana yang lebih cepat mengantarkan kita pada Tuhan: Mendebatkannya atau Mengalaminya…??
Karena Ada semacam Tuduhan (sinis) dari para pemikir agama yang getol membaca, suka memperdebatkan, membandingkan teori-teori Ketuhanan, yang mengatakan bahwa Orang Hindu Di Bali tidak mengenal dan mengerti konsep tentang Tuhan, apalagi memperdebatkannya, orang Hindu di Bali pun dikatakan tidak bisa menjelaskan Konsep Tuhan yang diyakininya.
Tetapi analisa saya……Kalau Hindu di Bali dinyatakan tidak mengenal Tuhan, seperti tuduhan para indolog dan filsuf yang menghabiskan dirinya pada kajian teks dan buku di meja kampus, bagaimana mungkin Orang Bali bisa melakukan ajaran agamanya penuh Bhakti…dengan keyakinan yang Mantap-bahwa yang dilakoninya adalah untuk Tuhan Semata.
Saya justru menganalisa bahwa Orang Hindu di Bali sangat memahami Tuhannya-dengan demikian ia tak perlu lagi memperdebatkannya, baginya urusannya dengan Tuhan sudah selesai-mereka sudah mengalami bersama Tuhan.
Para Indolog dan para Pemikir tentang Tuhan-mereka memahami Tuhan dari Pinggir secara Teoritis, sementara Orang Hindu di Bali menikmati bersama Tuhan, lewat prilaku nyata dalam Bhakti dan Karma. 
Kisah orang Hindu di Bali sama dengan kisah orang yang mendebatkan sebuah mangga masak yang jatuh dari pohon. Indolog dan filsuf menghabiskan waktu dalam perdebatan bagaimana mangga itu bisa jatuh, ada yang bersikeras mengatakan karena ada burung yang bertengger di ranting pohon itu, ada yang bersikukuh mangga itu jatuh karena ada angin; sementara orang Hindu di Bali mengambil mangga itu-mengupas, dan menikmatinya penuh sukacita. Baginya Buah mangga yang matang tak perlu diperdebatkan-ia cukup dicerap lewat mengalami dan dinikmati. Rasa Ketuhanan ia nikamti lewat mengalami dalam keseharian dalam segala aspek. Kecintaan orang Hindu Bali pada Tuhan ia wujudkan dalam berbagai bentuk Pengamalan Bhakti dan Karma Yoga.
Memang benar tantangan bagi Hindu Di Bali, kita tidak boleh berhenti hanya pada bentuk-bentuk ritual semata, ada Tak terhingga Tattwa-Tattwa sastra yang juga harus didalami, karena Leluhur Bali banyak meninggalkan Karya-Karya uttama dalam bidang Tattwa. Budaya Nyastra lewat pesantian, geria, pasraman harus kita hidupkan kembali, sehingga anak-anak dan generasi Hindu di Bali tetap memiliki keutuhan Konsep Hidup yang seimbang antara Tattwa-Susila dan Upacara.
Om Santih Santih Santih Om
#banggamenjadihindubali

#balishanti

#hindunusantara
*disarikan dari Diskusi: Paguyuban Sastra Bali 
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

“Tindakan bunuh diri dinyatakan “Ulah Pati” sebagai perbuatan dosa, karena bertentangan dengan ajaran Dharma. Dharma mengajarkan kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan ini dari perbuatan tidak baik menjadi baik/benar. Ulah Pati sangat tidak baik untuk dilakukan apalagi usia yang masih relatif muda. Sungguh disayangkan dan sia-sialah mereka yang mengambil jalan pintas melalui bunuh diri”

gantung-diri

Tidak bias dipungkiri, bahwasanya belakangan ini  kasus-kasus Bubuh Diri yang terjadi di Indonesia semakin meningkat. demikian juga yang mendera umat Hindu di berbagai daerah, mulai dari kasus yang terjadi pada anak-nanak, remaja, bahkan pada mereka yang sudah dewasa dan tua.


Bertambahnya tuntutan hidup membuat seseorang seringkali kehilangan akal sehat dan memaksanya untuk berpikir ekstra dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya,  baik primer maupun sekunder, jasmani dan rohani. Dalam keadaan seperti itu bagi yang tidak kuat secara psikis, emosi, mental dan spiritual akan menjadi beban secara kejiwaan yang lambat laun menjadi depresi hingga stroke yang berkepanjangan, sehingga acakali dipecahkan dengan caranya sendiri. Ada  beberapa indicator utama penyebab orang melakukan bunuh diri, seperti: masalah sosial ekonomi, asmara dan keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya suatu saat terhenti karena pikiran seakan buntu dalam keputus-asaan kemudian melakukan tindakan bunuh diri. Barangkali disinilah letak akar masalah kenapa dalam mencari solusi pemecahan masalah seseorang membuat keputusan sendiri ? Jika saja kondisi psikis, emosi, mental  dan spiritual seseorang tangguh, kokoh dan kuat maka tindakan konyol seperti bunuh diri bisa dihindari. Padahal kita juga tahu dan sadar, bahwa terlahir menjadi manusia merupakan kesempatan yang amat langka. Tetapi kesadaran ini sering terabaikan.  untuk itu kita perlu merenung kembali,tentang hakikat keutamaan kita sebagai manusia, seperti apa yang telah disuratkan dalam berbagai kitab Suci Weda, seperti yang termaktub dalam:

Sarasamuçcaya Sloka 2:
Manusah sarvabhutesu varttate vai çubhaçubhe Açubhesu samavistam çubhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk ; leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah gunanya (pahalanya)menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 3:
Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, Candalatvepi manusyam sarvvatha tata durlabham.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati ; sekalipun hidupmu tidak makmur ; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun dilahirkan hina sekalipun.

Sarasamuçcaya Sloka 4:
Iyam hi yoning prathama yam prapya jagatipate, Atmanam çakyate tratum karmabhih çubhalaksanaih.

Artinya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama ; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik ; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 6:
Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, Tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha.

Artinya : Kesimpulannya, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga ; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.


Bhagawadgita Adhyaya II .66:
Na’sti buddhir ayuktasya,

na ca yuktasya bhawana,

Na ca bhawayatah santir,

asantasya kutah sukham

Artinya : Tidak ada pikiran yang tidak terkendalikan Tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan Tidak ada ketegangan untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tenang, dimana kebahagiaan itu.
Sloka tadi mengisyaratkan bahwa kunci kebahagiaan adalah pikiran yang terkendali, konsentrasi yang terkendali, pemusatan pikiran, ketenangan pikiran.

Sebaliknya pikiran yang tidak terkendali ibarat perahu hanyut dalam samudra terbawa angin “Wayur nawan iwambhasi” demikian dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya II. 67.

Renungan

Secara Psikologis, manusia memerlukan media untuk melepaskan semua hal yang menyebabkannya mengalami kebuntuan berpikir jernih dan masuk akal. Susastra Weda memberikan kita arahan, untuk mengatasinya, dan diantaranya yang dapat dilakukan guna menguatkan dan menghidarkan diri dari perbuatan-perbuatan konyol  seperti bunuh diri, adalah; dengan Membaca Sloka-Sloka Kitab Suci Weda dan melantunkan Nama-Nama Suci Tuhan dalam setiap kesempatan. Hal ini sangat  membantu mengendalikan lamunan yang tidak perlu. karena Sloka dan atau  Mantra suci Weda ibarat kata-kata mutiara yang dapat memberikan motivasi dan semangat hidup bukan sebaliknya semangat mati. Memang kematian tidak dapat dihindari jika Tuhan menghendaki. Akan tetapi manusia diberi akal seyogyanya mampu menghadapi berbagai problem atau persoalan hidup.

Untuk melepaskan diri dari persoalan/problem hidup. Ingatlah hidup didunia ini tidak sendiri dan masih banyak orang yang lebih susah dari kita bahkan keterbatasan fisik, seperti tuna netra, tuna wisma, tuna rungu, tuna daksa, yatim piatu dsb. Oleh karena itu kendalikan pikiran, besarkan hati, sucikan jiwa secara konsisten dengan mengisi kegiatan yang produktif dan berkualitas baik kegiatan rohani maupun kegiatan duniawi.

NEPAL GANTUNG DIRI - 1.jpg

Kiat Pencegahan Tindakan Bunuh Diri.

Sebelum terjadi tindakan bunuh diri perlu diupayakan kiat pencegahan khususnya dalam perspektif Hindu :

1. Kiat Pembinaan Rohani:

  1. Sembahyang secara rutin dengan kesadaran sendiri
  2. Membaca kitab-kitab suci Weda terutama kata-kata mutiara yang dapat membangkitkan semangat hidup.
  3. Menerima hidup ini dengan ikhlas sebagai karma wasana.
  4. Sabar, jujur dan bersyukur.
  5. Tidak melupakan orang tua.
  6. Mengasihi seluruh keluarga

2. Kiat Pembinaan Fisik:

  1. Berolah raga secara teratur.
  2. Makan makanan dan minum minuman yang sehat sesuai kebutuhan

3. Kiat pembinaan Sosial Kemasyarakatan:

  1. Komunikasi secara intens dalam pergaulan social.
  2. Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan

 

bubuh-diri

Simpulan

  1. Tindakan bunuh diri bisa menimpa siapa saja, jika tidak kuat mengendalikan diri terutama mengendalikan pikiran maka bisa terjebak dalam kebingungan.
  2. Semua orang punya problem atau persoalan hidup bahkan mungkin lebih berat problem yang dihadapi orang lain dibandingkan dengan problem kita sendiri. Dengan menyadari ini, maka akan terlepas dari rasa rendah diri dan putus asa.
  3. Para Ketua  Banjar, PHDI, Sesepuh hendaknya lebih intens dalam komunikasi sosial dengan warganya sehingga lebih mengenal secara mendalam dan terjadinya hubungan yang akrab, dengan memerankan diri sebagai Bapak, sebagai Guru, sebagai Teman dan Sahabat.
  4. Pembinaan Rohani Hindu dijadikan landasan dalam pembinaan umat Hindu secara berkesinambungan.

    Demikian uraian singkat pokok-pokok pikiran  agama Hindu sebagai upaya pencegahan dalam menanggapi kejadian tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya

    Om Santih Santih Santih Om

Next Page »