Om Swastyastu

Ahimsa adalah filosofi hidup non-kekerasan di dalam Veda. Filosofi ini sering disalahpahami oleh para pengikut ajaran Veda sendiri, yang disebut penganut agama Hindu. Ajaran ahimsa sering dipahami setengahnya saja, separo saja, pantang melakukan kekerasan. Akibatnya, penganut Hindu banyak yang jadi generasi lembek, penakut, termasuk takut dalam menegakkan kebenaran.

Ahimsa bukanlah tidak adanya kekerasan; filosofi ini juga mengajarkan kekerasan untuk mencegah ataupun melawan kekerasan demi melindungi Dharma (Kebenaran). Pesan lengkap Mahabharata, yang intisarinya dijadikan pustaka suci terindah di dunia Bhagavadgītā:
“Ahimsa paramo dharma, Dharma himsa tathaiva cha”
Yang artinya: Non-kekerasan adalah dharma tertinggi, demikian juga kekerasan untuk menegakkan Dharma.

Pesan lengkap Sri Krishna inilah yang menjadikan Arjuna akhirnya tegak berdiri berani berperang. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Om swastyastu

Menandai Digelarnya Upacara Ngusaba Di Pura Dalém Pingit Desa Pakraman Kedisan-Kintamani yang jatuh pada Purnama Sasih Kadasa adalah dilaksanakannya Upacara NYÉLUB WASTRA, MÉNEK CANANG dan MAIDÈR GITA.

NYÉLUB WASTRA;
Pagi-pagi sekali Para Daha desa, Nunas Tirta Ring Bhatari Gangga (Tirta Tangga-Tangga) di Pura Dalém Siwa/Suci, dengan sarana Péjati jangkép. Kegiatan ini hanya dilaksanakan oleh Para Daha. Tirta inilah yang digunakan untuk menyiapkan Wastra Ida Bhatara Ring Dalém Pingit. Kain yang tadinya berwarna Putih dicelub dengan menggunakan pewarna alami yang berwarna Kuning, sehingga kain tadi berubah menjadi berwarna Kuning, dan kemudian disucikan kembali dengan Tirta Tangga-Tangga, lalu Wastra inilah yang digunakan pada Pelinggih Ida Bhatara Sanghyang Jero. Para Daha yang melaksanakan upacara ini adalah Daha Bunga (mereka yang masih Suci). Warna kain Putih melambangkan Kesucian lalu dicelub menjadi berwarna Kuning yang melambangkan Kemakmuran, Kebijaksanaan, Taksu, dan Kewibawaan.

MÉNEK CANANG;
Seusi upacara Nyélub Wastra dan dikenakan pada Pralinggan Ida Bhatara lalu dilanjutkan dengan Upacara Mének Canang yakni pada hari ini ngunggahang Upakara Sorohan genep ring Pelinggih Ida Bhatara Sanghyang Jero dan Memasang Ceniga dan Gantung-Gantungan pada Pelinggih-Pelinggih yang ada.

Adapun makna Upacara Mének Canang ini adalah sebagai Penanda bahwa Karya Ngusaba Kadasa di Dalem Pingit Dimulai Secara Resmi.

MAIDÉR GITA (MACÉRÉGÉK;
Selanjutnya pada hari yang sama juga dilaksanakan Upacara “MAIDÉR GITA” atau lebih familiar dinamai “Upacara Macérégék”.

Upacara ini dilaksanakan oleh Linggih Dane Jéro Peduluan Lanang, dengan cara melantunkan sebuah lagu yang dibarengi dengan berbagai gerakan tanga (mudra) sambil mengelilingi Pura dan membawa Nasi Takilan Dengan lauk pauknya uyah-séra-sudang-taluh, dan minuman tuak-arak.

Adapun nada lagunya diucapkan bergiliran mulai dari Jéro Kubayan Mucuk bersahutan/bergantian, lalu oleh Jéro Bahu sampai kepada Peduluan Guru yang berjumlah 4 orang.

Lagu Maidér Gita atau Macérégék:

PAN CÉKÉL (oleh: Jéro Kubayan Mucuk), PAN CAMBÉNG (oleh: Jéro Kubayan Dauhan), MANGIDÉRIN (oleh: Jéro Bahu Danginan), MANANGGAPIN (oleh: Jéro Bahu Dauhan), CRET (oleh: Jéro Guru sane makta genah petabuh Tuak), GÉK (oleh: Jéro Guru sane makta genah perabuh Tuak).

Seusai Upacara Linggih Dane Jéro Kubayan, Jéro Bahu, Jéro Guru lan Linggih Dane Jéro Pényarikan Desa nunas Nasi Takilan, dan tuak-arak.

Makna Upacara ini adalah untuk membentengi areal Upacara Piodalan atau Ngusaba dari gangguan yang bersifat negatif, sekaligus sebagai tanda kesiapan krama dalam nyanggra Upacara Piodalan/Ngusaba Kadasa Ring Pura Dalém Pingit.

Demikian yang dapat dijelaskan secara singkat. Suksma.

Om Santih Santih Santih Om

Dikumpulkan oleh: JM. I Wayan Sudarma

*Sumber Bacaan: Prasasti Kedisan

*Wawancara Dengan: Linggih Dane Jéro Penyarikan Datar, Jéro Bahu Dias, lan Linggih Dane Jero Mangku Sédéng Tanggal: 19 Juni 2012

*Catatan: Tahun 2019, Ketiga Upacara ini akan dilaksanakan pada hari Anggara Wage Wuku Uye, Pinanggal 12 Sasih Kadasa, tanggal 18 Maret 2019.

Om Swastyastu

Rangkaian selanjutnya dari suatu proses Upacara Pujawali/Piodalan adalah Upacara Matur Piuning.

Secara etimologi Matur Piuning memiliki pengertian Suatu upacara pemberitahuan (bahasa Bali: Mewangsit) kepada yang akan diupacarakan, dalam hal ini adalah Ida Sasuhunan suatu pura yang akan melaksanakan Pujawali/Piodalan.

Dengan menghaturkan Upakara Pejati di pelinggih pokok sebagai tanda Kesungguhan/Kemantapan Hati untuk Nangun Yasa Kerti menggelar Upacara Suci.

Pada upacara Matur Piuning ini juga dilaksanakan upacara pensucian pewaregan/dapur dan genah metanding yang akan digunakan membuat sarana upakara, dan pensucian uparengga, sarana-sarana yang akan digunakan untuk membuat upakara, seperti beras, kacang-kacangan, janur, slepan, kelapa, bambu, kayu, kain, jun pere, dan lain sebagainya. Pada hari ini juga Menstanakan Bhatari Tapini dan Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Penuntun para Serati/Tukang Banten dan Yajamana (Panitia dan Krama) dalam menyiapkan sarana upakara-upacara.

Juga memohon kehadapan Sanghyang Catur Raksa agar seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan lancar dan siddhakarya, yang ditandai dengan menstanakan beliau dalam Sanggar Cukcuk di setiap sudut areal upacara, yabg dilengkapi dengan masing-masing banten: Peras, Penyeneng, dan di sornya dengan segehan cacahan dan petabuh arak-berem, canang sari. Dan selama upacara berlangsung dari matur piuning hingga nyimpen/nyineb, setiap hari ngaturang banten ajuman/soda. Adapun Catur Raksa yang dimaksud adalah:
1. Di bucu Kaja Kangin (Airsanya), menstanakan Sanghyang SRI RAKSA, agar dalam seluruh rangkaian upacara dianugerahkan: Kemudahan, Kemakmuran (Sri), artinya agar segala hal yang diperlukan bagi keperluan upacara dimudahkan dalam mencari dan menyediakannya, umat banyak yang menghaturkan Dana dan Punia, sehingga upacara itu tidak kekurangan baik material (natura) maupun pendanaan. Karena jika upacara kekurangan bahan upacara apalagi kekurangan dana, maka upacara tersebut tentu akan mengalami hambatan.

2. Di Bucu Kelod Kangin (Gneyan), menstanakan Sanghyang AJI RAKSA. Sanghyang Aji Raksa adalah Beliau yang menganugerahkan Pengetahuan (Sarwa Aji Jnana), karena sejatinya upacara agama adalah tempat dimana Umat bisa Belajar tentang banyak hal, khususnya terkait upakara dan upacara baik cara membuat, menyusun, dan maknanya. Pada saat ngayah umat bisa saling belajar satu sama lainnya. Dengan harapan jika umat sudah memiliki pengetahuan (Ajian), tentu upakara akan dapat dibuat lebih cepat dan upacara bisa dilaksanakan lebih tertib dan lancar. Disini perlunya ada transfer pengetahuan dari yang sudah bisa kepada yang belum bisa, yang didasari oleh semangat ngayah saling asah asih asuh.

3. Di Bucu Kelod Kauh (Neriti), menstanakan Sanghyang RUDRA RAKSA. Beliau yang menganugerahkan semangat (Raksa Bandha) kepada semua pengayah dan krama, agar tetap sehat rahayu selama menyiapkan upakara dan upacara, agar umat tidak ada yang sakit, agar selama proses upacara diberikan kekuatan, dan keselamatan. Tidak ada yang berselisih faham, dan menghindarkan krama dari perbuatan yang dapat membuat upacara iti cemer atau cuntaka.

4. Di Bucu Kaja Kauh (Wayabya), menstanakan Sanghyang KALA RAKSA. Hal ini dimaksudkan agar semua upakara bebantenan yang disiapkan bisa selesai tepat waktu dan tepat sasaran. Jangan sampai saat diperlukan upakaranya belum selesai atau ada yang kurang. Juga agar tidak bebanten yang dibuat banyak yang terbuang karena kurang pertimbangan/prediksi perencanaan. Itu sebabnya setiap upacara memerlukan perencanaan dan susunan/dudonan acara yang rapi dan terjadwal dengan baik.

Demikian dapat saya ketengahkan makna rangkaian Upacara Matur Piuning, dan Catur Raksa yang sarat dengan pesan etika spiritual. Dengan harapan ketika kita nangun yadnya dapat menjadi acuan minimal sehingga upacara dapat dilaksanakan dengan baik. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
~JM. I Wayan Sudarma

*Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat
** Sumber Bacaan: Teks Dewa Tattwa, Teks Tutur Tapeni, Teks Aji Swamandala, Wiswakarma Tattwa.

*** Diperuntukkan Dalam Rangka Karya Ngusaba Kadasa Pura Dalem Pingit-Desa Kedisan, Kintamani

Om Swastyastu

Setiap upacara agama Hindu merupakan proses yang sangat detail, terperinci, penuh etika dan tentunya penuh kandungan makna. Namun seringkali kita meluputkan diri untuk mencari tau mengapa rangkaian tersebut dilaksanakan.

Pembahasan pertama kali ini saya akan mulai dari Upacara Negtegang Karya.

Secara harfiah kata Negtegang Karya memiliki pengertian: metaki-taki, bersiap-siap, medabdaban; guna menyongsong suatu karya/pekerjaan (mulia atau penting)

Secara upakara kegiatan ini ditandai dengan aktivitas krama mulai ngayah mareresik, makedas-kedas; membersihkan uparengga pura dan areal upacara, termasuk didalamnya kegiatan membuat tetaring, pewaregan dan lain sebagainya. Dari sisi upakara ditandai dengan upacara pejati uning kepada Sasuhunan dimana upacara akan dilangsungkan. Yang dimaksudkan sebagai tanda/upasaki Kesungguhan Hati (Pejati), dan kesiapan diri untuk Nangun Karya dan juga untuk memberitahukan (nguningang) niat dan maksud upacara kepada Ida Sasuhunan dan Krama, serta memohon agar semua rangkaian upacara berjalan lancar dan rahayu.

Upacara Negtegang secara rohani/spiritual, mengajak I Krama untuk juga metaki-taki, menyiapkan diri sekala dan niskala dalam menyongsong dan menyukseskan Karya Hayu yang akan dilaksanakan. Mulai menahan diri untuk tidak memproduksi pikiran-pikiran negatif, menjauhkan segala ucapan cah-cauh, kata-kata kotor, bohong, fitnah atau hoax dan ujaran negatif lainnya. Menghindarkan diri untuk tidak marah dan sombong/angkuh.

Negtegang Karya ibarat mendiamkan air agar lumpur dan kotoran bisa mengendap. Demikian pula mulai hari dimana Negtegang Karya dilaksanakan I Krama mulai mengendapkan segala bentuk negatifitas baik yang bersumber dari pikiran, ucapan dan prilaku. Hanya dengan cara Mategtegang seperti inilah Karya tersebut akan mencapai Karya Pinih Hayu.

Om Santih Santih Santih Om

~JM. I Wayan Sudarma
* Ketua Bidang Kebudayaan & Kearifan Lokal PHDI Pusat
**Sumber bacaan: Teks Dewa Tatwa, Tutur Tapeni

Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tentu banyak masalah yang dapat timbul terhadap adanya kawin kontrak, di antaranya masalah status anak dan posisi wanita (istri kontrak) itu yang oleh masyarakat dianggap sebagai manusia yang tidak memiliki harkat dan martabat kemanusiaan. Keluarga pihak istripun mestinya malu karena tidak berhasil membina putrinya Suami istri yang melakukan kawin kontrak menganggap lembaga perkawinan itu hanya sebagai lembaga pelampiasan nafsu belaka. Untuk mencegah merebak timbulnya kawin kontrak di kalangan masyarakat, masyarakat perlu diingatkan kembali tentang makna dari lembaga perkawinan itu.

Perkawinan adalah sarana untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia. Keluarga sejahtra dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Untuk mewujudkan hal itu perlu usaha yang sungguh-sungguh dari setiap orang dalam keluarga itu. Banyak keluarga-keluarga yang berhasil membina hubungan yang harmonis di antara anggota keluarganya maupun dengan anggota masyarakat, namun sebaliknya kita masih melihat tidak sedikit pula keluarga-keluarga yang brantakan. Banyak faktor penyebab kehancuran keluarga dan untuk diperlukan pengamatan yang seksama mengapa hal itu bisa terjadi.

Demikian pula sebaliknya banyak keluarga-keluarga yang berhasil mewujudkan keluarga ideal, keluarga yang sejahtra dan bahagia. Untuk dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia tentunya kita harus memahami, fungsi-fungsi keluarga, makna perkawinan dan faktor-faktor lainnya yang mendukung terwujudnya keluarga sejahtra dan bahagia. Kerukunan dan saling pengertian di antara sesama anggota, serta tidak jemu-jemunya antara suami istri dan anak-anaknya untuk mewujudkan keluarga rukun merupakan salah satu landasan untuk merealisasikan hal itu. Keluarga sejahtra dan bahagia tidak dapat diukur dengan kekayaan duniawi, tetapi suasana yang tentram dan menyejukan hati setiap anggotanya adalah salah satu indikasi ke arah berhasilnya mewujudkan hal tersebut.

Di dalam sistem kemasyarakatan Hindu kita mengenal dua jenis keluarga, yakni keluarga inti yang terdiri dari suami istri dan anak-anak dan keluarga dalam
pengertian klen atau kawitan (satu leluhur). Keluarga akan menjadi sangat kompleks bila kita lihat dari hukum waris Hindu, sistem pamarajan dan padharman.

Dengan demikian keluarga dalam pengertian Hindu dibatasi oleh adanya hubungan perkawinan, keturunan (darah), adopsi (pengangkatan santana) dan lain-lain. Keluarga dalam pengertian yang pertama ( inti ) adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami dan istri dan anak-anaknya atau pula karena situasi tertentu adalah hanya ayah dan anak-anaknya atau ibu dan anak-anaknya saja.

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita tentang pengertian keluarga kiranya patut dikaji tujuan dan fungsi dari keluarga, yang menurut M.F. Nimkoff dalam bukunya “Marriage and Family” adalah untuk membentuk suatu tempat penampungan yang merupakan tempat bagi seorang ayah atau seluruh anggota keluarga memperoleh ketenangan atau kebahagiaan hidup. Dalam kawin kontrak, pihak istri dan keluarga istri serta anak-anak yang lahir tentu diliputi oleh berbagai kecemasan yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati.

Selanjutnya untuk mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtra, pengertian tentang keluarga sejahtra dinyatakan sebagai berikut: “Keluarga Sejahtra adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan ingkungannya” .

Hubungan seorang laki-laki dan wanita dalam rumah tangga (sebagai suami istri) hanya dibenarkan bila dilakukan dalam ikatan perkawinan yang sah dan perkawinan telah dianggap sah bila dilaksanakan menurut hukum agamanya. Dalam agama Hindu perkawinan yang disebut dengan istilah Vivāha diyakini telah dianggap sah bila telah dilaksanakannya Vivàha Saýskara yang di Bali disebut Vidhi-vidhana, yakni telah diupacarakan sesuai dengan ritual Hindu baik yang paling sederhana, maupun dalam upacara besar yang disaksikan oleh seluruh kerabat. Dalam Vivāha Samskara, adanya tiga persaksian yang diyakini dapat mengesahkan upacara tersebut adalah : Devasāksi, berupa sesajen atau persembahan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Bhutasāksi yang disimboliskan dengan api dan Manusasāksi yakni masyarakat yang turut menghadiri upacara perkawinan tersebut.

Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra untuk mengukuhkan perkawinan, sehingga hubungan keluarga dalam perkawinan ini diharapkan bersifat abadi. Perhatikanlah terjemahan mantra berikut:

1. YaTuhan Yang Mahaesa, Anugrahkanlah kepada pasangan penganten ini kebahagiaan yang abadi.Keduanya tidak terpisahkan dan panjang umur.Semoga mereka mendapatkan mendapatkan anugrah putra-putri dan cucu-cucu yang memberikan penghiburan, tinggal di rumahnya yang penuh kegembiraan (Rgveda X.85.42).

2. Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian. Semoga satu jiwa bagi keduanya (Atharvaveda VII.36.1).

3. Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti luhur,penuh kasih sayang dan kemesraan di antara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira,
bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah dengan suka cita di dalamnya” (Atharvaveda XIV.2.43).

Selanjutnya kitab Manavadharmasastra mengamanatkan hendaknya suami istri mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agarmereka tidak bercerai mewujudkan kebahagiaan dan jangan sampai melanggar kesetiaan di antara mereka:

1. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam perkawinan, mengusahakan agar tidak mereka bercerai dan mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Hendaknya pula jangan melanggar kesetiaan antara yang satu dengan yang lain. (Manavadharmasa stra IX.101).

2. Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya hal ini dianggap sebagai hukum yang tertinggi bagi suami – istri. (Manavadharmasastra III.60).

Lebih jauh tentang makna dan prinsip dasar tentang tujuan perkawinan ditegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:

1. Dharmasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah, Yajna atau pengorbanan akan dapat dilaksanakan secara sempurna.

2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan(putra- putri) yang akan melanjut kan amanat dan kewajiban pada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhurnya (Pitrarna) kepada Tuhan Yang Mahaesa (Devarna) dan kepada para Rsi, pandita atau guru (Rsirna).

3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kenikmatan-kenikmat an lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka perkawinan merupakan institusi yang legal sebagai wahana untuk mengamalkan ajaran agama dalam arti yang seluas-luasnya. Demikian pula bila suami dan istri melakukan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya serta anak-anak mendapatkan pendidikan yang memadai baik di rumah (di luar pendidikan sekolah) dan dalam pendidikan sekolah, maka anak-anak akan menjadi putra yang suputra. Tentang putra yang suputra ini di dalam Nitisastra dinyatakan akan mampu mengangkat drajat keluarga dan masyarakat lingkungannya (putra suputra mamadangi kula wandhu wandhawa).

Untuk menyamakan persepsi kita tentang keluarga sejahtra dan bahagia tidaklah mudah, karena setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Seorang petani dengan pola hidupnya yang sederhana, taat melaksanakan kewajiban agama, istrinya setia dan putra-putrinya patuh kepada kedua orang tuanya tentu sangat berbeda dengan seorang manager pada sebuah perusahanan yang sangat sibuk dengan jumlah karyawan yang banyak, memerlukan berbagai fasilitas untuk mendukung tugas dan kewajibannya, maka pola hidupnya akan berbeda dengan petani di atas. Bagaimanakah kita bisa mengukur kondisi yang berbeda-beda pada setiap keluarga ?

Situasi atau kondisi pada era globalisasi ini telah menampakkan titik orientasi yang berbeda, hal ini nampak pada masyarakat Barat yang pandangan hidupnya sangat berbeda dengan masyarakat Timur. Masyarakat Barat dewasa ini (walaupun tidak seluruhnya demikian) berusaha mencari kepuasan atau kesenangan dengan mengeksploitasi berbagai obyek indria (pleasure oriented), sedang masyarakat Timur pada umumnya mencari ketenangan, kerahayuan atau keselamatan (peace oriented), sebab dibalik kedamaian atau ketentraman hidup terdapat kebahagiaan yang sejati. Memuaskan nafsu (Kama) tidak akan memberikan jaminan keselamatan dikemudian hari. Memenuhi segala keinginan indria ibarat menyiram api yang membara dengan minyak tanah atau bensin, tidak akan memadamkan api melainkan akan semakin berkobar dan menghancurkan kehidupan manusia. Mencari ketenangan, berbeda dengan mencari kesenangan. Mencari kesenangan orientasinya ke luar, mencari obyek-obyek indria, sedang mencari ketenangan, obyeknya ada di dalam diri manusia, ibarat seekor penyu yang memasukkan seluruh anggota badannya. Selamatlah dia dari bencana yang datang dari luar.

Bila kepuasan atau kesenangan indria yang selaludipenuhi,manusia tidak akan mampu mengendalikan dirinya bahkan akan jatuh ke lembah penderitaan atau neraka seperti dinyatakan dalam Bhagavadgita XVI.21, berikut: “Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jurang menuju kehancuran diri, yaitu nafsu (kāma), amarah (krodha) dan serakah (lobha), setiap orang hendaknya meninggalkan sifa kecendrungan ini.”

Manusia yang di dalam bahasa Sanskerta disebut Manava sesuai dengan ajaran agama Hindu diamanatkan untuk meningkatkan kualitas dirinya, untuk selalu meningkatkan kemajuan baik jasmani dan rohani, dengan demikian sesuai dengan ajaran Sri Krsna, Sang Pūrna Awatara di dalam Bhagavadgītā hendaknya mengembangkan sifat Daivisampat, yakni sifat kedewataan, sesuai namanya, manuûya (menjadi kata manusia dalam bahasa Indonesia) yakni mahluk yang memiliki manah (kemampuan untuk mempertimbangkan baik dan buruk) menjadi devasya (yang memiliki cahaya spiritual yang terang). Dengan demikian Manava-Manava sesaui dengan tujuan penjelmaannya ke dunia ini adalah untuk menjadi Madhava-Madhava, yakni manusia yang jujur, ramah (lembut dan manis bagaikan madhu) yang pada akhirnya berhasil mencapai Moksa baik di dunia ini (saat kehidupan ini) melalui Dhyàna dan Samādhi. Tidak sebaliknya ia jatuh dan jauh atau bertentangan atau sama sekali tidak mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, ia akan jatuh atau menjadi Danava-Danava (manusia berjiwa raksasa) yang sangat rakus yang mengantarkannya ke lembah neraka.

Bagaimanakah dapat mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagaia ? Ajaran agama Hindu, khususnya kitab suci Veda mengamanatkan supaya setiap orang selalu hidup tentram dan bahagia dan tentunya dengan melaksanakan swadharma masing-masing sebaik-baiknya.

Hal yang sangat penting dan mendasar dalam usaha mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa danjadikanlah salah satu manifestasi yang paling kita dambakan sebagai dewata

Istadevatā, yang akan selalu memberikan perlindungan kepada umat-Nya yang bhakti kepada-Nya:

Bila kita senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan yang Mahaesa dan menjadikan badan kita sebagai sthana suci-Nya maka kesejahtraan dan kebahagiaan segara dapat diwujudkan.

Bila Tuhan Yang Mahaesa berkenan hadir dan memberikan bimbingan kepada kita, kehidupan jasmani dan rohani kita akan senantiasa mendapat perlindungan- Nya. Berbagai persoalan hidup akan terpecahkan. Anak-anak yang tidak patuh akan berubah menjadi baik, suami-suami yang tidak bertanggung jawab akan menjadi suami berubah menjadi suami yang penuh tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat, demikian pula istri-istri yang pada mulanya kurang setia kepada suami akan berubah menjadi istri yang dapat dipercaya. Masalah “atilar kawitan, istri tidak patuh dengan suami, suami atau istri yang tidak memiliki pendirian dan anak-anak yang diliputi oleh kebimbangan” dan lain sebagainya akan dapat diatasi, karena Tuhan Yang Mahaesa akan melindungi umat-Nya yang benar-benar bhakti kepada-Nya. Kehidupan yang sederhana namun dipenuhi oleh limpahan karunia karena bhakti kita yang tulus merupakan pintu kesejahtraan dan kebahagiaan keluarga.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, kawin kontrak nampaknya hanya menekankan tujuan perkawinan yang ketiga yakni untuk memenuhi kepuasan nafsu (seks/Rati) semata tanpa tanggung jawab terhadap kelangsungan keluarga dan anak keturunannya. Kawin kontrak dapat disebut sebagai perkawinan semu dan tidak pada tempatnya untuk mendapat pengesahana secara agama. Bila hal itu disahkan secara agama, maka status perkawinan tersebut hendaknya dirubah menjadi perkawinan yang sebenarnya. Bila agama hanya dipakai kedok untuk memuluskan wujud kawin kontrak tersebut, maka yang bersangkutan telah membohongi diri mereka. Untuk mencegah tidak berkembangnya hal tersebut, lembaga yang mengesahkan perkawinan hendaknya benar-benar memperhatikan sikap dan prilaku calon mempelai guna mencegah perkawinan semu tersebut.

Bila masyarakat (termasuk aparat pemerintah, desa, parisada, adat) membiarkan gejala semacam itu terus berkembang di daerah ini, maka nilai-nilai atau ajaran agama sudah semakin luntur di amalkan oleh masyarakat. Sikap hidup permisisf sangat membahayakan kelestarian budaya Bali. Gejala permisifme ini saya kira belum begitu merebak, bila terjadi satu dua orang wanita Hindu melakukan hal itu, tidaklah berarti masyarakat Hindu membiarkan hal itu terus terjadi.

* Makalah Seminar: Menuju Keluarga Bahagia

Om Santih Santih Santih Om

=======

Your Hand On Works But Your Heart On God”

=======

Om Swastyastu

Anak: “Guru bagaimana caranya agar bisa menjadi orang bijak?”

Guru itu kemudian mengajaknya ke meja makan dan menuangkan air teko ke dalam gelas kosong. Diisinya gelas itu hingga penuh dan luber, namun sang guru tidak juga menghentikannya. Murid itu menghentikannya dan berkata: “sudah penuh kenapa guru mengisinya terus?” Guru itu menghentikannya dan berkata:”Seperti itulah, dirimu. Jika engkau ingin belajar, pertama-tama kosongkanlah dirimu terlebih dahulu maka engkau akan bisa menerima apa pun!”

~Tidak sedikit orang pergi ke sekolah, kampus, bahkan ke tempat sembahyang datang sebagai orang yang merasa dirinya sudah penuh dan mumpuni. Karena itu, ilmu dan ajaran sesaleh dan seberharga apa pun, bahkan sapaan Tuhan pun tidak akan sanggup untuk tinggal dan berdiam di sana~

Saudara/i ku…bahwa kita memang tidaklah kosong itu memang benar, tidak sedikit perbendeharaan talenta dan ilmu yang kita miliki yang patut disyukuri. Namun hendaknya semua itu tidak membuat kita merasa hebat dan sempurna, apalagi sombong dan takabur. Inilah langkah pertama dan utama bagaimana kita bisa menjadi orang bijak.

Om Santih Santih Santih Om
Jakarta, 15 Februari 2019
~I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tuhan disebut-sebut sebagai yang maha pengasih dan maha penyayang tapi mengapa beliau menciptakan kesengsaraan? Kenapa harus ada kesengsaraan jika kebahagian ada, bukankah kita lebih memilih kebahagiaan dari pada kesengsaraan? Mengapa Tuhan membiarkan kesengsaraan itu berlangsung di dunia ini?

Secara batin dan lahiriah kita selalu menginginkan kebahagiaan tapi terkadang kita mendapatkan penderitaan/ kesengsaraan, mengapa hal seperti itu terjadi? Hindu percaya akan adanya hukum karma phala, segala sesuatu yang kita perbuat pasti akan menghasilkan sesuatu, begitu juga penderitaan dan kebahagiaan yang kita peroleh, itu adalah hasil dari karma yang kita lakukan. Sesungguhnya penderitaan adalah buatan manusia itu sendiri, manusialah yang menimbulkan kesengsaraan itu, kita sering menyalahkan Tuhan ketika kita sengsara, ini adalah tindakan keliru, Tuhan hanya menciptakan hukum Rta yaitu hukum sebab akibat, mungkin jika kita hari ini menderita itu disebabkan karma buruk yang kita lakukan di hari yang lalu, Tuhan hanya memberi pilihan saja antara penderitaan dan kebahagiaan, kita sebagai sebagai ciptaannya yang bebas untuk memilih apakah kita memilih penderitaan atau kebahagiaan.

Kesengsaraan terjadi hanyalah untuk mendewasakan diri manusia itu sendiri, sehingga manusia lebih mengerti bahwa kesengsaraan bukanlah yang kita inginkan dan selalu ingat dengan Sang Pencipta, kita sering menganggap Tuhan membiarkan kesengsaraan itu terjadi dan tidak mencegahnya, ini adalah anggapan yang keliru, justru Sang Pencipta selalu menuntun manusia kearah kebahagiaan, apa buktinya? Sudah banyak kita tahu bahwa wahyu suci yang diturunkan Tuhan untuk manusia adalah semata-mata untuk kebahagian semua ciptaan-Nya khususnya manusia, di sana berisi petunjuk-petunjuk dari Tuhan bagaimana memperoleh kebahagiaan. Bukti lainnya adalah Tuhan menciptakan manusia-manusia unggul untuk membimbing manusia yang lain guna mencapai kebahagiaan, bahkan dalam beberapa agama dan kepercayaan lain meyakini Tuhan sendiri yang turun atau menitis ke dunia fana ini untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan, contoh, Hindu meyakini Awatara-Awatara seperti Sri Krsna, Sri Rama dan lain-lain adalah manisfestasi Tuhan sebagai sang pemelihara alam semesta yaitu Dewa Wisnu yang turun kedunia sebagai Awatara untuk menyelamatkan manusia yang selalu berada di jalan kebenaran dari penderita, Buddha yang membimbing manusia kepada kebebasan dan kebahagiaan abadi, Nabi Muhammad yang menuntun manusia lainnya yang berada dalam kegelapan menuju cahaya pencerahan, Yesus sang juru selamat yang rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan manusia dari dosa. Itu semua bukti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan penderitaan bahkan membiarkan penderitaan. Penderitaan muncul akibat manusia yang memilihnya. Dahulu pada saat nazi memilih membantai lebih dari 3 juta orang, memberikan kita pelajaran bahwa itu adalah kesalahan dan kebodohan terbesar manusia, menyadarkan manusia bahwa tindakkan seperti itu adalah salah, sehingga munculah peraturan-peraturan yang melindungi hak asasi manusia bahkan ada Organisasi yang khusus untuk itu. Kekejaman itu telah menyadarkan manusia sekarang untuk bisa menghargai manusia yang lainnya. Hal hasil manusia sekarang lebih banyak memilih perdamaian dari pada perperangan, lebih banyak memilih bersatu dari pada terpecah. Kesengsaraan mampu menguatkan iman seseorang, mampu menghapus kesombongan, kesengsaraan mampu membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Seperti Dewi Kunti yang selalu memohon penderitaan agar ia selalu ingat dengan Tuhan sepanjang hidupnya.

Penderitaan dan kebahagiaan akan selalu ada di dunia ini guna terciptanya keseimbangan. Jika penderitaan terjadi pasti akan selalu ada kebahagiaan yang terselip diantara penderitaan tersebut. Penderitaan dan kesengsaraan adalah sebuah pelajaran agar mendorong manusia untuk lebih memilih kebahagiaan dengan mengikuti segala petunjuk yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Sekali lagi, Tuhan hanya memberikan pilihan antara penderitaan dan kebahagiaan, manusialah yang memiliki kebebasan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut dan Tuhan telah memberikan petunjuk bagaimana memperoleh kebahagiaan dan bagaimana lepas dari segala penderitaan, tergantung kita sebagai manusia untuk memilih, kebahagian ataukah penderitaan yang akan kita pilih. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Karawang, 14 Februari 2019
~ I Wayan Sudarma