“Kita menikmati kehangatan karena pernah pernah kedinginan. Kita menghargai cahaya, karena kita pernah dalam kegelapan. Kegelapan bukan hukuman, ia adalah kerinduan jiwa di dalam untuk segera menemukan cahaya. Maka begitu pula, kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan.”
#mutiaradharma
#dailydiggest
#suluhurip

Advertisements

Om Swastyastu

DEVI UMA adalah dari Sakti Deva Siva diberi nama sesuai dengan perwujudannya yang ganda, yaitu berwujud “santa” atau tenang, dan bersifat “raudra” atau “krodha”.

Ketika dalam wujud santa, sakti Deva Siva ini disebut dengan Parvati, yaitu seorang devi dengan penuh kecantikan dan kasih sayang. Selain disebut dengan Parvati, juga disebut dengan Devi Uma atau dewi Kedamaian.

Didalam kitab Purana disebutkan Devi Parvati pada penjelmaan pertamanya adalah Daksayani, yaitu putri dari Daksa dan Prasuti dan menikah dengan Siva. Karena tidak mampu memahami keagungan Siva, Daksa memakinya dan mulai membencinya. Ketika Daksa melakukan suatu upacara Yajna Agung, salah satu tamu yang tak diundang adalah Siva. Sangat bertentangan dengan saran pasangannya, Daksayani pergi ke tempat upacara tanpa diundang dan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dalam api yoga. Oleh sebab itu, kemudian ia dikenal dengan sebutan Sati yang tak berdosa.

Devi Uma sebagai Ibu Alam Semesta

Berikutnya dia terlahir kembali menjadi Parvati, putri dari Himawan dan Mena. Setelah melakukan tapa yang mendalam, dia mampu menyenangkan Siva dan membuat Siva dapat menerimanya kembali sebagai pendampingnya.

Selama Parvati melakukan pertapaan, dia menolak untuk makan dan minum, walau daun kering sekalipun. Sehingga dia memperoleh penampakan Aparna Ibunya Mena yang tidak tega menyaksikan putri kesayangannya menderita dalam melakukan tapa, dan berusaha mencegahnya dengan kata-kata “Uma, sayangku janganlah berbuat seperti ini” yang kemudian nama Uma menjadi nama lainnya.

Seperti pendamping Siva, Parvati juga memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu aspek lemah lembut, penyayang, dan berparas cantik, serta satu aspek lain adalah aspek menakutkan dan mengerikan.

Sebagai Parvati atau Uma dia dinyatakan dengan aspek yang lemah lembut, penyayang, penuh cinta kasih. Dimana dalam aspek ini, dia selalu bersama dengan Siva. Kemudian dalam aspek ini dia memiliki dua tangan, yang kanan memegang teratai biru, dan yang kiri menggantung bebas disebelahnya. Bila dinyatakan secara mandiri (Parvati Tunggal/tanpa Siva), dia tampak dengan empat tangan, dua tangan memegang taratai merah dan biru, sedangkan dua tangan yang lain memegang Varada dan Abhaya Mudra.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi pemahaman dan Sraddha Bhakti kita semua. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Orang-orang yang kurang cerdas, sering menertawakan dan mencela umat Hindu yang memuja Tuhan melalui Arca dan menganggapnya sebagai tahayul bahkan tak jarang diberi label musryik dan menyembah berhala. Padahal kita juga sama-sama tahu bahwa tidak ada satu agama atau keyakinan apapun yang ada di dunia ini yang tidak memuja Tuhan melalui simbol; seperti menggunakan arah/kiblat, suara, cahaya, arca, bangunan, gambar, bendera/panji-panji.

Arca adalah media yang sudah disakralisasi

Umat Hindu yang melakukan pemujaan melalui berbagai simbol atau niyasa/pratika termasuk melalui Arca-memiliki keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Ada juga bersemayam dalam simbol dihadapannya. Bagi umat Hindu arca bukanlah sekedar objek/sarana tambahan, tetapi merupakan bagian dari mekanisme batin dalam bhakti dan keyakinan.

Tentu saja semua puja yang dilakukan dengan gagasan bahwa arca tersebut hanyalah kayu/logam yang tidak bernyawa; benar-benar konyol dan amat membuang waktu. Tetapi bila hal ini dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa arca itu hidup penuh kesadaran dan kekuatan, bahwa Tuhan Yang Maha Segalanya, berada dimana-mana (vyapi vyapaka), meresapi segala yang ada (isvara sarva bhutanam) dan mengejawantah dalam tiap keberadaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak (visva virat svarupa), dan dengan keyakinan bahwa Tuhan merupakan kenyataan batin bagi semuanya berada didalamnya, maka pemujaan arca benar-benar bermanfaat dan membangunkan kesadaran Tuhan.

Seorang “Wamana” selama bertahun-tahun tidak pergi ke tempat ibadat manapun dan ia menertawakan orang-orang yang menganggap arca sebagai simbol Ketuhanan. Ketika putrinya meninggal, pada suatu hari ia memegang fotonya sambil menangisi kehilangan tersebut. Tiba-tiba saja ia tersadarkan bahwa bila foto itu dapat menyebabkan kesedihan padanya dan membawa air mata kerinduan-maka arca itu juga dapat menimbulkan kegembiraan dan membawa air mata bhakti pada mereka yang mengerti keindahan dan kemuliaan Tuhan. Simbol-simbol itu adalah alat untuk mengingatkan bahwa Tuhan hadir dimana-mana dan dalam segala sesuatu.

Hindu yang Ajarannya sangat Logis dan paling masuk akal, tentu memiliki banyak pijakan atau dasar Sastra, mengapa pemujaan Arca tersebut menjadi sahih. Penjelasan tentang archanam atau tatacara pemujaan arca sangat jelas disebutkan dalam Srimad Bhagavatam seperti yang dinyatakan Uddhava kepada Shri Krshna;

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.2:

etad vadanti munayo
muhur niḥśreyasaḿ nṛṇām
nārado bhagavān vyāsa
ācāryo ‘ńgirasaḥ sutaḥ.

Artinya:
Semua orang bijak/Rsi -Rsi mulia berulang kali menyatakan bahwa penyembahan semacam itu (archanam) membawa manfaat terbesar yang mungkin ada dalam kehidupan manusia. Inilah pendapat Nārada Muni, Vyāsadeva yang agung dan guru spiritual saya, Brhaspati (angirasah sutah).

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.3-4:

“niḥsṛtaḿ te mukhāmbhojād
yad āha bhagavān ajaḥ
putrebhyo bhṛgu -mukhyebhyo
devyai bhagavān bhavaḥ
etad vai sarva – varṇānām
āśramāṇāḿ ca sammatam
śreyasām uttamaḿ manye
strī – śūdrāṇāḿ ca māna – da.

Artinya:
Wahai Tuhan yang paling murah hati, pernyataan tentang proses penyembahan dalam bentuk arca ini dipancarkan dari bibir teratai Anda. Kemudian disampaikan oleh Brahmā yang hebat kepada putra-putranya yang dipimpin oleh Bhṛgu , Śiva menyampaikannya kepada saktinya, Pārvatī . Tatacara pemujaan seperti ini (archanam) diterima oleh semua lapisan masyarakat/warna dan semua tingkat kehidupan/asrama (sarwavarnam asramanam). Oleh karena itu, saya menganggap penyembahan kepada Anda dalam bentuk arca menjadi yang paling bermanfaat dari semua praktik spiritual, bahkan untuk wanita dan pelayan.

kemudian dipertegas lagi oleh pernyataan Krishna dalam sloka berikutnya :

Śrīmad Bhāgavatam 11.27.9

“arcāyāḿ sthaṇḍile ‘gnau vā
sūrye vāpsu hṛdi dvijaḥ
dravyeṇa bhakti -yukto ‘rcet
sva – guruḿ mām amāyayā.

Artinya:
Seseorang yang telah didwijati harus menyembah-Ku dengan sepenuh hati, mempersembahkan berbagai perlengkapan persembahan yang sesuai dalam pengabdian penuh kasih kepada bentuk KeilahianKu sebagai arca atau bentuk DiriKu yang muncul di atas tanah, di api, di bawah sinar matahari, di air atau di dalam hati pemuja itu sendiri.

Jadi dengan Simbol atau Pengarcaan umat Hindu bisa menjumpai Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga bermanfaat bagi Keluasan pemahaman kita. Dan menguatkan Sraddha-Bhakti kita di jalan Dharma. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

sri wisnu

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai maharaja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Srilanka, semua pasukan Sri Rama telah kembali ke Ayodhya. Sri Rama bersama dewi Sita dan Laksamana mengendarai kereta terbang bernama Manipuspaka, yang merupakan hadiah dari dewa Kuvera. Setibanya di keraton Ayodhya, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Sri Rama berhasil menundukkan Ravana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Sri Rama membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali dewi Sita. Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanuman untuk menerima hadiah dari Sri Rama. Saat itu Hanuman tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat ia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanuman, dengan Sri Rama menginjinkan dirinya sebagai abdi sang Purna Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati.

Terhadap penolakan Hanuman ini, Sri Rama dan dewi Sita kembali mendesak Hanuman untuk bersedia menerima hadiah sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan di medan perang. Demikian pula keberhasilan Hanuman sebagai Duta serta keberanian dan kekuatan Hanuman mendapat pujian dari segenap yang hadir. Hanuman tidak menjawab. Saat itu dewi Sita berbisik kepada suaminya, untuk mengijinkan kalung mutiara hadiah Prabhu Janaka, ayahda dewi Sita diberikan kepada Hanuman. Sri Ramapun menyetujuinya, walaupun kalung mutiara itu memiliki arti yang istimewa bagi Sri Rama dan Sita, karena dihadiahkan saat Sri Rama berhasil mematahkan busur milik dewa Siva dalam sayembara dan berhasil memenangkan serta mempersunting dewi Sita sebagai istrinya. Saat Hanuman tertunduk, Sri Ramapun langsung membuka kalung dewi Sita dan tampil ke depan menyerahkannya kepada Hanuman. Hanuman seperti terpaksa menerima hadiah tersebut. Hanuman merasa malu, seorang yang telah lama diterima sebagai abdi harus menerima hadiah bukankah hal ini salah satu wujud kerakusan ? Setelah Hanuman menerima hadiah tersebut, satu-persatu butiran mutiara itu diperhatikan oleh Hanuman, maksudnya untuk menemukan gambar Sri Rama dan Sita pada biji-biji mutiara tersebut. Iapun tidak menemukan hal itu, tanpa disadari ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menggigit rangkaian mutiara itu dan melemparkannya ke tanah. Hadiran tercengang dan gemas menyaksikan kejadian itu. Panglima Sugriwa sangat marah dan membentak Hanuman. “Hai Hanuman, engkau kera hina tidak tahu diri, kelakuanmu itu memalukan, kuhancurkan wajahmu! Kau telah hina persidangan yang agung ini !” Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan hendak memukul Hanuman. Bila saja tidak di depan persidangan yang mulia itu, Sugriwa sudah pasti menempeleng muka Hanuman. Sugriwa sangat geram, tubuhnya gemetar menahan marah.

Pada saat yang menegangkan itu, Sri Rama dan Sita tersenyum dan memandang Sugriwa yang sedang marah. Demikian tatapan Sri Rama dan Sita menyapu wajah Sugriwa, saat itu pula emosi dan kemarahan Sugriwa lenyap. Sri Rama dan Sita benar-benar mengalirkan pancaran kasih yang tiada taranya. Selanjutnya Sri Rama mendatangi Hanuman dan menepuk bahunya : “Engkau seperti anak kecil, mengapa lakukan hal itu ?”. Maaf tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita, hamba telah mengecewakan persidangan yang mulia ini. Memang hamba seekor kera yang hina, tetapi hamba kira diri hamba tidak lebih rendah dari seorang manusia. Bagi hamba dengan diijinkan sebagai abdi, hamba sudah bahagia, karena ketika hamba dekat dengan tuan dan ibu sebagai perwujudan Avatara Tuhan Yang Mahaesa dan dewi Laksmi, saat itu pula kebahagiaan tiada taranya hamba peroleh dari tuan. Bukankah dengan pemberian hadiah ini hamba menunjukkan kerakusan hamba ?”.

Sri Rama kembali menepuk bahu Hanuman. “Tidak ! Engkau tidak rakus. Lalu apa yang engkau minta Hanuman! Katakanlah jangan seperti anak kecil !” “Baiklah tuan dan ibu dewi Sita, bila hamba boleh meminta lagi, ijinkanlah hamba senantiasa dekat tidak saja secara jasmaniah, tetapi tuan dan ibu dewi Sita hendaknya selalu berada di hati kami. Untuk itu sudikah tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita untuk bersthana pada jantung hati kami. Pada singasana bunga hati kami. Bila tuan dan ibu dewi Sita berkenan bersthana, maka itulah hadiah yang hamba senantiasa mohon”.

Sri Rama selanjutnya berdiri tegak dan bersabda : “Hai Hanuman dan hadirin yang tercinta dan supaya di dengar pula oleh seluruh jagat raya. Siapa saja yang maju satu langkah menghadap Aku dan mau mendekatkankan dirinya serta membuka pintu hatinya. Aku akan datang sepuluh langkah mendekati mereka, masuk ke dalam hatinya dan memberikan kebahagiaan yang sejati tiada taranya!”. Mendengar sabda Sri Rama demikian merdu dan menggetarkan alam semesta. Hanuman dengan mencium kaki Sri Rama terlebih dahulu, kemudian menegakkan dadanya. Dengan kekuatan “Bayubajra”, bagaikan kekuatan petir, tiba-tiba dengan kukunya yang tajam ia menoreh dadanya. Dan dengan tenaganya yang dahsyat, tiba-tiba yang merobek dadanya, darah berhamburan ke berbagai arah. Saat itu pula Sri Rama dan dewi Sita hilang dari singgasana kencananya yang indah. Suasana menjadi hening dan terdengar mantra-mantra para dewa dan rsi-rsi sorga dengan taburan bunga harum semerbak, nampaklah cahaya gemerlapan pada dada Hanuman yang menganga lebar. Pada cahaya itu kemudian nampak sebuah singasana emas di atas padma hati Hanuman. Ketika itu kelihatan Sri Rama dan Sita duduk melambaikan tangan dengan sikap Abhaya dan Waramudra, yaitu sikap tangan menjauhkan serta menolak bencana dan memberi hadiah. Hadirin mengucapkan Jaya-jaya Sri Rama, Jaya-jaya dewi Sita. Setelah suana hening kembali. Hanumanpun menutup dadanya, tidak nampak ada luka dan tiba-tiba Sri Rama dan dewi Sita sudah kembali bersthana pada singasana kencana di depan persidangan.

padma hrdayam

Demikian nukilan singkat dari ceritra Ramayana yang memberikan pendidikan secara simbolis, bila di hati kita telah bersthana Sang Avatara, para dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, maka niscaya kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita. Berbagai upacara termasuk piodalan dan lain-lain mengandung makna untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dengan mendekatkan diri, maka Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Anandarupa, yakni kebahagiaan yang sejati akan turun dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga kepada kita.

Om sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah,
sarve bhadrani pasyantu, ma kascid duhkha bhag bhavet.
(Ya Tuhan Yang Mahaesa, karuniailah kami, semooga kami selalu
melihat kebaikan, semoogalah tiada halangan, semogalah kebajikan
selalu di depan kami dan semogalah semuanya terbebas dari
kedukaan).
Om Santih Santih Santih

Om Swastyastu

“Agama bukanlah untuk memisahkan seseorang dengan orang lain, agama bertujuan untuk menyatukan mereka. Adalah suatu malapetaka bahwa saat ini agama telah sedemikian terdistorsi sehingga menjadi penyebab perselisihan dan pembantaian” (Mahatma Gandhi, 2004:170)

Semua orang, semua bangsa di dunia bahkan semua mahluk menghendaki kehidupan yang damai, rukun tanpa konflik. Agama-agama diturunkan ke dunia untuk mewujudkan kedamaian yang sangat mulia itu.

Hari Suci Nyepi datang lagi, tahun ini berbarengan dengan hari Suci Saraswati. Umat Hindu memperingati dengan beberapa rangkaian kegiatan sosial dan spiritual, pada hakikatnya melaksanakan ajaran Tri Hita Karana, seperti yang diamanatkan dalam Bhagawad Gita III.10:

Sahayajñah prajah strishtva puro vacha prajapatih, anena prasavishya dhvam esha va stv ishta kamadhuk

Filosofi Trihita Karana (3 sumber kebahagiaan) yakni: Dialog, hubungan dengan Prajapati, Tuhan (Parahyangan), Dialog dengan sesama sebagai Praja, manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan Kamadhuk yakni alam, lingkungan (Palemahan). Jadi Nyepi mewujudkan kebahagiaan yang bersumber dari ketiga hubungan/dialog itu. Jika semua ciptaanNya atas dasar prakarsa manusia, merasakan kebahagiaan niscaya kedamaian tercipta.

Umat Hindu di Maluku dalam rangkaian Nyepi tahun 2018 disamping melakukan kegiatan ritual juga melaksanakan berbagai aksi sosial, antara lain menyelenggarakan: kerja bakti kebersihan, menanam pohon , donor darah, kegiatan Yoga, bhakti sosial dan lain sebagainya.

Rangkaian upacara Hari Suci Nyepi yang diawali dengan Upacara Melasti memiliki pesan spiritual agar manusia kembali membersihkan dan mensucikan dirinya sshingga memiliki kesiapan baik sekala dan niskala (jasmani-rohani) dalam menyongsong Hari saat dimana ia harus Hening-menelisik diri. Kemudian sehari sebelum Nyepi adalah Hari Taur Agung Kasanga yang pada hakikatnya adalah untuk mendoakan, memohon keselamatan jagat, dunia beserta semua ciptaanNya. Puncak Nyepi 17 Maret 2018, libur nasional dan Ngembak Geni dan Dharma Santi melakukan simakrama dengan keluarga kerabat dan handai taulan, dan masyarakat umum.

Makna Nyepi adalah sebagai hari Keheningan dan mendoakan, menyerukan terwujudnya kedamaian, sedangkan Saraswati untuk menerima aliran Pengetahuan Suci dari Hyang Widhi, sehingga manusia Hindu dapat tumbuh menjadi pribadi yang santun, toleran, empaty dan lenyapnya segala sifat buruk dan kejahatan manusia. Dua makna hari raya ini saling berkaitan, karena kedamaian akan terwujud bila segala perilaku hidup manusia di bumi ini didasarkan pada pengetahuan suci dharma atau kebenaran hakiki.

Nyepi dan Kedamaian

Merenungkan kembali Pesan Nyepi seperti yang termaktub dalam kitab Suci Veda:

Hendaknya mereka yang memeluk agama yang berbeda-beda dan dengan mengucapkan bahasa yang berbeda-beda pula, tinggal bersama di bumi pertiwi ini, hendaknya rukun bagaikan satu keluarga, seperti halnya induk sapi yang selalu memberikan susu kepada anaknya, demikian bumi pertiwi memberikan kebahagiaan kepada umat manusia” (Atharvaveda XII.1.45).

Jadi makna dan tujuan Nyepi adalah untuk beryadnya (berkurban) mendoakan alam semesta, dunia untuk tercapai kedamaian. Pada kenyataannya kedamain itu mahal, sulit terwujud. Konflik pribadi, menimbulkan ketidakdamaian dalam diri karena pertentangan antara keinginan dan norma sosial, norma agama. Konflik rumah tangga merenggut kedamaian karena konflik kepentingan, perbedaan pendapat di antara anggota keluarga. Konflik di masyarakat dapat timbul karena perbedaan, demikian juga kehidupan suatu negara.

Kedamaian hilang karena konflik kepentingan, konflik ideologi, ketidakadilan, diskriminasi, hubungan antar kelompok, hubungan antar agama yang disharmoni. Kini banyak negara di dunia, seperti di beberapa negara di Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin dan banyak lagi di wilayah lain berkonflik bahkan perang.

Konflik karena perbedaan suku, agama, antar golongan (SARA). Konflik juga muncul dalam internal agama karena perbedaan aliran berbalut politik yang diwarnai ambisi berkuasa. Warga negara tidak damai lagi di negaranya sendiri, kini banyak yang mengungsi ke Eropa yang kebanyakan agama berbeda. Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, kapan penganut-penganut agama-agama itu berperan menciptakan perdamaian yang sejati, baik internal agamanya maupun antar agama. Di negeri sendiri sumber konflik yang diakibatkan oleh mencuatnya isu SARA yang berbalut politik menjadi isu aktual dan potensial bahkan merambah kepada hal hal yang multidimensional.

Di tengah merenungkan Nyepi mari saling mengingatkan bahwa kedamaian itu sejatinya ditumbuhkan dalam diri, di rumah tangga, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Empat pilar kehidupan berbangsa, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI tidak perlu disangsikan lagi karena mampu mengelola pluralisme, mereduksi fanatisme dan radikalisme.

Selain rangkaian hari raya Nyepi yang telah dikemukakan, kegiatan spiritual kerohanian pada puncak hari Nyepi; Sabtu, 17 Maret 2018 adalah Catur Berata Penyepian yakni: Amati karya, tidak melakukan aktivitas/kerja. Amati lelungan, tidak melaksanakan bepergian ke luar rumah. Amati lelanguan, mengendalikan emosi, tidak menyelenggarakan hiburan, pesta pora. Amati geni, tidak menyalakan api/lampu,

Sehari setelah Nyepi yakni pada Minggu 18 Maret 2018. Keesokan harinya dikenal sebagai hari Ngembak Geni, aktivitas kehidupan mulai dilakukan, pada hari ini juga dilakukan Simakrama; saling bersalaman meminta maaf dan memaafkan, saling berkunjung mengucapkan rasa terima kasih. Semua kegiatan dan pernak-pernik Nyepi diliputi suasana Bhakti adalah dalam usaha umat Hindu memancarkan Kebenaran (Sathyam), Kesucian dan Keheningan (Sivam), dan Keindahan (Sundaram). Melalui pelbagai ritual dan spiritual memerangi kejahatan dan nafsu angkara murka manusia merupakan cara yang hakiki mewujudkan kedamaian.

Bahkan Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan dan tokoh yang menentang apartheid menyerukan: “Mengubah dendam menjadi pengampunan, kebencian menjadi persahatan, kecurigaan menjadi kepercayaan, perbedaan menjadi kekayaan hidup bersama”.

Bahkan Bung Karno, dalam percakapan dengan RM P. Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) mengatakan, “Saya melawan politik Belanda, tetapi seni memerintahkan saya untuk tidak membeci orang Belanda” (Agus Dermawan T, Kompas, 30 Nov. 2016). Dalam rangka refleksi Nyepi, biarlah dialog kita sesuai ajaran Tri Hita Karana ikut mewujudkan Santih Lan Jagadhita (damai dan sejahtera di bumi) agar kedamaian tidak menjadi barang mahal. .

Om Santih Santih Santih Om

Ambon, 07 April 2018

PH PHDI Pusat


Kabid Kebudayaan & Kearifan Lokal

I Wayan Sudarma

Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

nāma vā ṛg-vedo yajur-vedaḥ sāma-veda atharvanaś caturtha itihāsa-purāṇaḥ pañcamo vedānāṁ vedaḥ.

(Kauthumῑya Chandogya Upaniṣad 7.1.4)

“Sesungguhnya Ṛg Veda, Yajur Veda, Sāma Veda, dan Atharva Veda adalah nama-nama dari Catur Veda. Sedangkan Itihāsa dan Purāṇa merupakan Pañcama Veda atau Veda Kelima.”

Sebagai Veda Kelima, Bhagavad Gῑtā menempati keterkenalan yang luar biasa di dalam literatur Veda. Kitab suci Bhagavad Gῑtā merupakan “petikan” dari kitab Itihāsa, yaitu di kitab Mahābhārata. Oleh karena itulah Bhagavad Gῑtā dikenal sebagai Pañcamo Veda atau Veda Kelima. Selain itu, Bhagavad Gῑtā dikenal sebagai Pañcamo Veda juga karena ia merupakan wejangan langsung oleh Tuhan YME, sama seperti turunnya langsung ajaran Catur Veda dari Tuhan YME sehingga Catur Veda dikenal sebagai kitab Wahyu langsung dari Tuhan. Jadi, yang dikenal dan diterima sebagai ajaran wahyu langsung dari Tuhan YME di dalam literatur Veda adalah 4 Veda (Catur Veda), dan Bhagavad Gῑtā sebagai Veda Kelima (Pañcamo Veda).

Chandogya Upaniṣad menyebutkan kitab Itihāsa sebagai Veda Kelima (Pañcamo Veda) bersamaan dengan kitab-kitab Purāṇa. Kitab yang tergolong dalam Itihāsa ada dua, yaitu Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. Sedangkan yang termasuk di dalam Purāṇa adalah kitab-kitab Bhagavata (18.000 śloka atau ayat), Viṣṇu (23.000), Padma (55.000 śloka), Nāradῑya (25.000 śloka), Garuḍa (19.000 śloka), Varāha (24.000 śloka), Matsya (14.000 śloka), Kūrma (17.000 śloka), Liṅga (11.000 śloka), Śiva (24.000 śloka), Vāyu (24.000 śloka), Skanda (81.100 śloka), Agni (15.400 śloka), Brahmāṇḍa (12.000 śloka), Brahmavaivarta (17.000 śloka), Mārkandeya (9.000 śloka), Vāmana (10.000 śloka), dan Brahma Purāṇa (10.000 śloka). Sering Bhaviṣya Purāṇa (14.500 śloka) juga dimasukkan dalam daftar Mahā Purāṇa atau Purāṇa Utama.

Menurut kitab Kūrma Purāṇa, Pūva-bhāga 1.17-20, terdapat pula daftar Upa Purāṇa, atau Purāṇa “alit” alias Purāṇa “Minor”, yaitu Sanatkumāra (Ādya Purāṇa), Narasiṁha, Skaṇḍa, Bṛhannāradῑya, Kapila, Śivadharma, Maheśvara, Brahmāṇḍa, Durvāsa, Kapila, Vāmana, Auśanasa, Marica, Bhārgava, Kālikā, Samba, Saura, dan Parāśara Upa Purāṇa.

Chandogya Upaniṣad 7.1.2 juga menegaskan pedudukan Itihāsa dan Purāṇa sebagai Veda Kelima (itihāsa-purāṇaṁ pañcamo vedānāṁ vedaḥ). Maharesi Kṛṣṇadvaipāyana Vyāsa sendiri menekankan dalam kitab Mahābhārata bahwa orang hendaknya menjelaskan mantra-mantra Veda melalui kitab-kitab Purāṇa dan Itihāsa, khususnya pada zaman Kaliyuga dimana orang-orang tidak lagi memiliki kecerdasan spiritual yang diperlukan untuk memahami mantra-mantra Veda secara langsung.

Bhagavad Gῑtā merupakan kitab suci yang sedang beramai-ramai dilupakan oleh kita semua. “Keagungan Bhagavad Gῑtā ” dikenali hanya oleh tokoh-tokoh besar dunia, dan oleh para maharesi. Orang biasa pada umumnya bahkan sebaliknya memahami bahwa dirinya tidak layak menyentuh dan/atau mendiskusikan Bhagavad Gῑtā. (bersambung)

Salam dari New Delhi 25/3/2018

Om Śāntih Śāntih Śāntih Om