Om Swastyastu,

Belakangan ini Pembicaraan tentang Tuhan dan Ketuhanan menjadi sangat intens dibahas dari berbagai perspektif. Ada yang menelaahnya menggunakan sumber rujukan yang dianggapnya sahih, ada yang membandingkannya, ada yang memberi komentar konsep-konsep ketuhanan dari berbagai agama, hingga pada hal-hal yang melecehkan konsep Ketuhanan agama lainnya. Dan yang paling Hot dan terkini adalah kasus Penistaan dan Penodaan. 
Kemudian muncul pertanyaan mendasar: siapa saja yang berhak atau memiliki otoritas berbicara tentang Tuhan, apakah mereka yang baru mengerti konsep Tuhan dari Buku, lantaran ia seorang cendekiawan, pengajar agama, pengkotbah—sudah fasih ayat-ayat agama…?? Mari kita simak Ulasan Kita Suci Bhagawad Gita yang dengan detail memberi arahan kepada kita semuanya.

Salah satu sloka  yang membahas hal termaksud adalah apa yang tersurat dalam Bhagawad Gita Adhyaya 6 Śloka 8:
ज्ञानविज्ञानतृप्तात्माकूटस्थोविजितेन्द्रियः। 

युक्तइत्युच्यतेयोगीसमलोष्टाश्मकाञ्चनः॥६- ८॥ 
jñāna-vijñāna-tṛptātmā 

kūṭa-stho vijitendriyaḥ 

yukta ity ucyate yogī 

sama-loṣṭrāśma-kāñcanaḥ 

Kosa Kata:
jñāna—oleh pengetahuan yang diperoleh; 

vijñāna—dan pengetahuan yang diinsafi; 

tṛpta—dipuaskan; 

ātmā—zat illahi yang menghidupi; 

kutasthah—mantap secara rohani;

 vijita-indriyaḥ—mengendalikan indera-indera; 

yuktaḥ—sanggup untuk keinsafan diri; iti—demikian; 

ucyate—dikatakan; 

yogī—seorang ahli kebatinan; sama—mantap secara seimbang; 

loṣṭra—batu kerikil; 

aśma—batu; 

kāñcanaḥ—emas.

Terjemahan

Dia yang batinnya sudah mencapai kedamaian oleh pengetahuan suci dan keinsyafan diri, dia yang teguh tidak tergoyahkan, yang sudah mengalahkan indria-indria duniawinya, dan dia yang mencapai tingkat kesadaran melihat batu kerikil dan emas sebagai sesuatu yang sama, maka orang seperti itu dikatakan sebagai seorang yogī yang sudah maju.

Ulasan:
Pengetahuan dari buku tanpa keinsafan terhadap Kebenaran Yang Paling Utama tidak berguna. Hal ini dinyatakan sebagai berikut:
ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi

na bhaved grāhyam indriyaiḥ

sevonmukhe hi jihvādau

svayam eva sphuraty adaḥ
Tiada seorangpun yang dapat mengerti sifat rohani, nama, bentuk, sifat, dan kegiatan Sri Krshna melalui indera-indera yang dicemari secara material. Hanya kalau seseorang kenyang secara rohani melalui pengabdian rohani kepada Tuhan, maka nama, bentuk, sifat dan kegiatan rohani Krishna diungkapkan kepadanya.” (Bhakti-rasamrta-sindhu 1.2.234)

Bhagawad Gita adalah ilmu pengetahuan kesadaran Tuhan. Tiada seorang pun yang dapat menyadari Tuhan hanya dengan kesarjanaan duniawi saja. Seseorang harus cukup beruntung hingga dapat mengadakan hubungan dengan orang yang kesadarannya murni. Orang yang sadar akan Tuhan sudah menginsafi pengetahuan atas berkat karunia Tuhan itu sendiri, sebab dia puas dengan bhakti yang murni. 
Seseorang menjadi sempurna melalui pengetahuan yang diinsafinya. Seseorang dapat menjadi mantap dalam keyakinannya melalui pengetahuan rohani. Tetapi seseorang mudah dikhayalkan dan dibingungkan oleh hal-hal yang kelihatannya merupakan penyangkalan kalau ia hanya memiliki pengetahuan dari perguruan tinggi saja. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya sebenarnya sudah mengendalikan diri, sebab ia sudah menyerahkan dirinya kepada Tuhan sebagai bentuk Bhaktinya. Dia melampaui keduniawian karena dia tidak mempunyai hubungan dengan kesarjanaan duniawi. Bagi orang itu, kesarjanaan duniawi dan angan-angan, yang barangkali sebagus emas menurut orang lain, tidak lebih berharga daripada kerikil atau batu.
Demikian Bahasan Adhyaya 6 Sloka 8 ini. Memiliki pengetahuan duniawi memang perlu, namun yang terpenting adalah menggunakan pengetahuan itu bagi pendakian kesadaran kita menuju Tuhan. Dan perlu disadari bahwa tiada satu ilmu apapun yang tidak bersumber dari Hyang Widhi. Maka kepadaNyalah kita mesti belajar dan mengarahkan semua pengetahuan yang saat ini ada bersama kita. Manggalamastu
Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Advertisements

Om Swastyastu
Beberapa waktu yang lalu Media Sosial dihebohkan oleh Ceramah oleh Seseorang yang menyandang gelar Sebagai Penceramah Agama. Dengan suara lantang, penuh semangat dan tanpa ada perasaan kasih sebagai seorang penceramah agama, justru dengan sangat mudahnya melontarkan kalimat-kalimat bernada SATIR terhadap beberapa Ajaran Agama lainnya. Seolah ia sedemikian hebatnya tentang ajaran agama dan dan seolah paling  berTuhan, sehingga seolah punya KLAIM ajaran agama orang lain boleh dilecehkan.

Namun saya bukan dalam rangka untuk menyerang balik pernyataannya, karena saya yakin HUKUM KARMAPHALA akan berlaku baginya, terlebih jika sudah berani memercikkan api ketidaksenangan di bumi Nusantara ini- suatu hari ia pasti akan jatuh dan justru akan diselamatkan oleh yang mereka lecehkan….Yakinlah…..karena Gusti Kang Maha Adil Mboten Sare…..

Tulisan ini adalah  sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai Pemeluk Hindu, untuk memenuhi permintaan rekan-rekan baik via sms, Inbok Twitter, dan inbok di Page FB serta dalam rangka untuk menguatkan Sraddha dan Bhakti umat Hindu  sedharma bahwa Memuja Ganesha bukanlah suatu yang keliru apalagi salah. Dan pemujaan terhadap Ganesha juga bukan tanpa dasar pijakan yang jelas. Ganesha justru dimaktubkan dalam VEDA SRUTI (Kitab Veda yang tergolong Wahyu). Berikut dapat saya uraikan, semoga bermanfaat bagi umat Hindu Khususnya dan umat Manusia umumnya. Dengan harapan di kemudian hari tidak ada lagi kasus-kasus merasa diri paling beriman, paling beragama dan sok jagoan merasa paling kenal dengan Tuhan;
Kita mulai dari pertanyaan sederhana: 

Siapakah Ganesha?
Mari kita mengawali penjelasanya dari nama beliau! penulisan dan pengucapan yang benar adalah गणेश “gaṇeśa” atau “gaNesha”. Dalam bahasa Sansekerta ini berarti Dewa Ganesha, pemimpin kelompok atau pengikut, dan golongan para siddha atau golongan orang yang tercerahkan.
Di atas adalah penulisan dan pengucapan yang merujuk kepada nama Dewa Ganesha. Sedangkan apabila pengucapan sanskertanya berbeda pengertianya juga akan mengalami perubahan arti. Jika di ucapkan dengan kata  “gāṇeśa (gANesha)” maka pengertian akan berubah menjadi pemujaan kepada Ganesha. Jadi yang membedakan pengucapanya adalah pada huruf “a” dan “ā”. huruf ” a” pertama di baca dengan suara pendek, sedangkan huruf kedua di baca dengan suara panjang.

Dari penjelasan di atas apakah Beliau hanya sebatas pemimpin kelompok? apakah Beliau sebatas mahluk tercerahkan? jawabanya tidak. Beliau adalah perwujudan Tuhan!. Kemudia apa alasanya? jawabanya ada di bawah ini:
Selanjutnya untuk mengenal beliau mari kita lihat simbolis dari tubuh Dewa Ganesha:

1. Kepala Ganesha melambangkan Tuhan yang memiliki pengetahuan yang luas;

2. Telinga yang lebar melambangkan Tuhan sebagai maha mendengar segala doa-doa dari pemuja;

3. Kedua mata Beliau yang sipit atau kecil melambangkan konsentrasi atau pemusatan pikiran. Ini juga berarti Tuhan sebagai pengendali dari Tri Guna (sifat satwam, rajas, dan tamas). Satwam berarti kesetabilan, rajas berarti sifat aktif, dan tamas berarti sifat lamban;

4. Memiliki satu gading gajah yang utuh dan satu gading gajah yang patah. Gadang gajah yang utuh melambangkan Tuhan sebagai satu kesatuan yaitu yang Maha Esa. Sedangkan gading gajah yang retak atau patah melambangkan Tuhan yang selalu dapat membuang segala sesuatu yang buruk dan dapat mempertahankan segala sesuatu yang baik;

5. Gading gajah melambangkan Tuhan dalam kemampuan adapaptasi dan efisiensi (adaptasi yang dimaksud disini adalah Tuhan memiliki kemampuan berada di segala tempat. Sedangkan efisiensi yang di maksud disini adalah kegunaan yang tepat atau sifat Tuhan yang selalu bertujuan untuk kebaikan atau positif );

6. Mulut yang kecil melambangkan pengontrolan organ bicara. Dalam pengontrolan organ bicara ini Tuhan menyatakan pengendalian dalam ucapan, sehingga beliau hanya menyebarkan ajaran cinta kasih ke semua penjuru dan ucapan beliau yang selalu menyenangkan, sekaligus mendamaikan;

7. Bagian-bagian dari empat tangan:

– Memegang Modaka (sejenis makanan dari India); melambangkan pemberkahan dari sadhana (Tuhan akan selalu memberikan setiap  penyembah beliau sesuai dengan tindakan yang dilakukan).

– Tangan dengan sikap memberkati atau abhaya mudra;  melambangkan Tuhan yang memberi restu akan segala yang dilakukan (sadhana) oleh pemujaNya dalam bertindak berdasarkan kebaikan.

– Memegang kampak;  melambangkan Tuhan yang selalu dapat memotong segala keterikatan atau bisa berarti Tuhan sebagai pelindung dari bahaya.

– Memegang tali;  melambangkan Tuhan yang dapat selalu membimbing umatnya untuk menuju ke tingkat spiritual yang lebih tinggi.
8. Perut yang besar melambangkan Tuhan yang selalu dapat mencerna dan mengetahui segala sesuatu yang baik dan tidak baik. Ini juga berarti Tuhan selalu menyimpan doa-doa yang di panjatkan untuk beliau sebelum mereka pantas untuk menerima berkah sesuai dengan karma mereka masing-masing;
9. Tugangan tikus melambangkan Tuhan sebagai pengendali sifat-sifat buruk yang berasal dari pikiran dan perbuatan.

Ganesha dilihat dari Veda.

|| Ganapathi prarthana ||
oṁ ga̱ṇānā̎m tvā ga̱ṇapa̍tiguṁ havāmahe ka̱viṁ ka̍vī̱nām̄u̍pa̱maśra̍vastamam | jye̱ṣṭha̱rāja̱ṁ brahma̍ṇāṁ brahmaṇaspata̱ ā na̍ḥ śrṛ̱ṇvannū̱tibhı̍ssīda̱ sāda̍nam ||1||  (Rg.veda;2.23.1)
praṇo’devī sara’svatī | vāje’bhir vājinīvatī | dhīnāma’vitrya’vatu || 2|| (Rg.veda;6.61.4)

gaṇeśāya’ namaḥ | sarasvatyai namaḥ | śrī gurubhyo namaḥ | hariḥ oṃ ||
Artinya: 

Kami mengundang-Mu, Tuhan dan pemimpin dari kelompok, yang bijaksana dari orang bijak, engkau yang paling mengetahui dari orang yang mengetahui, engkau yang teragung dari yang agung, raja tertinggi dari kidung suci. Wahai Brahmanaspati (Tuhan tertinggi), dengarlah kami dan duduk dan datanglah di tempat pengorbanan ini, datang dengan seluruh perlindungan-Mu.

Wahai dewi saraswati, engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan semoga memelihara kecerdasan kami.

Salam kepada ganesha, salam kepada sarasvati, salam kepada srii guru dan Tuhan yang satu.
Bagian pertama adalah Mantra dari Rg.Veda; 2.23.1 yang di gabung dengan Mantra  Rg.veda; 6.61.4 sehingga Mantra ini disebut Ganapathi Prartahana. Pada bait ini menekankan dengan pemanggilan kepada pemimpin dari yajna atau pengorbanan. Ini juga sebagai alasan kenapa Ganesha mesti di puja atau di hormati pertama kali jika di pandang dari sudut Veda. Ganesha di kenal sebagai ganapathi atau pemimpin kelompok. Sedangkan di kalangan masyarakat juga di kenal sebagai kelompok ghana (mahluk astral). Namun, pengertian dari pemimpin kelompok astral tidaklah tepat beliau adalah pemimpin dari setiap kelompok dan disebut sebagai perwujudan Tuhan. Ini alasan kenapa Ganesha di puja di setiap rumah-rumah jika di pandang dari sudut Veda. Ini juga sebagai alasan kenapa saya menuliskan bagian dari tubuh ganesha sebagai simbol ke-Tuhanan.

Pada  Mantra Rg.Veda bagian pertama adalah pujian untuk Brahmaṇaspati, sedangkan yang pujian kedua untuk Sarasvatī sebagai dewi pengetahuan. 
Untuk memperjelas dan memperkuat lagi pernyataan saya di atas mengenai bahwa Ganesha sebagai perwujudan Tuhan dan merupakan konsep ke-Tuhanan dapat dilihat melaui bait Atharva Veda. Bagian ini disebut dengan Ganapathi Atharva Sirsham: 
oṁ nama̍ste ga̲ṇapa̍taye | tvame̲va pra̲tyakṣa̲ṁ tattva̍masi | tvame̲va ke̲vala̲ṁ kartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ dhartā̍’si | tvame̲va ke̲vala̲ṁ hartā̍’si | tvameva sarvaṁ khalvida̍ṁ brahmā̲si | tvaṁ sākṣādātmā̍’si ni̲tyam || 1 ||  
sarvaṁ jagadidam tva̍tto jā̲yate | sarvaṁ jagad-idaṁ tva̍ttas ti̲ṣṭhati | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi laya̍meṣya̲ti | sarvaṁ jagadidaṁ tvayi̍ pratye̲ti | tvaṁ bhūmirāpo̍nalo̍ni̍lo na̲bhaḥ | tvaṁ catvāri vā̎kpadā̲ni ||  5 || 
tvam gu̲ṇa-tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ avasthā tra̍yātī̲taḥ | tvaṁ de̲hatra̍yātī̲taḥ | tvaṁ kā̲latra̍yātī̲taḥ | tvaṁ mūlādhārasthito̍’si ni̲tyam | tvaṁ śaktitra̍yātma ̱kaḥ | tvāṁ yogino dhyāya̍nti ni̲tyam | tvaṁ brahmā tvaṁ viṣṇustvaṁ rudrastvam indrastvam agnistvam vāyustvaṁ sūryastvaṁ candramāstvaṁ brahma̲ bhūr-bhuva̲ḥ svarom ||  6 ||
Artinya: 
Salam kepada pemimpin kelompok, engkau sebenarnya adalah yang satu, engakau adalah sang pencipta, engkau adalah yang mengambil semua beban, engkau adalah penghancur, engkau adalah Tuhan yang Maha Esa, engkau adalah jiwa yang abadi.

Semua alam semesta berasal dari engkau,

Semua alam semesta ada karena engkau.

Semua alam semesta ahirnya menyatu di dalam diri engkau.

Semua alam semesta tidak lain adalah engkau.

Engkau adalah bumi, air, api, udara dan langit, 

Engakau adalah empat jenis ucapan dan semua kata-kata,

Engkau berada di luar Sattvam, Rajas dan Tamas,

Egkau berada di luar tiga jenis keadaan; bangun,

tidur dan mimpi,

Engkau berada di luar bagian tubuh kasar, halus dan kasual,

Engkau berada di luar tiga divisi waktu-masa lalu, masa sekarang dan masa depan,

Engkau selalu dan setiap hari tinggal di Muladhara Chakra, 

Engkau adalah tiga bagian energi penciptaan, pemeliharaan dan kehancuran, 

Engkau pusat meditasi oleh orang bijak,

Engkau adalah Brahma, Wisnu, Shiva. Indra, Agni, Vayu, Surya, Candra,dan engkau termasuk semuanya dan meresapi semuanya.

Bait Atharva Sirsham di atas sudah jelas-jelas menyatakan bahwa Ganesha merupakan perwujudan Tuhan. Jika Purana menyatakan dalam bertuk cerita itu hanya sebagai pengetahuan agar mempermudah untuk memahami Beliau. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas Beliau adalah perwujudan Tuhan itu sendiri.
Demikian dapat saya utarakan secara singkat, SIAPA GANESHA….bahwa Ganesha adalah Perwujudan Tuhan Itu sendiri. Dan jika ada yang bertanya Kok Tuhan Wajahnya setengah Manusia setengah Hewan; jawabannya sederhana: Tuhan Bersifat Maha Segala-Galanya, Beliau Punya Hak Bebas untuk berwujud seperti Apa….termasuk dalam Perwujudan Ganesha, Garuda, Hanoman, dan sebagainya. Itulah Kuasa Tuhan yang diyakini oleh agama Hindu yang disuratkan dalam kitab Wahyu: Veda Sruti. Dan mereka yang belum faham tentang ajaran Hindu, tapi sudah berbusa membicarakannya, sebaiknya belajar lagi dan bertapa lagi. Agar suatu saat tidak bicara ngawur. Manggalamastu. 
Silahkan di share agar umat kita semakin cerdas dan tak mudah diolok-olok oleh oknum yang sok tau agama Hindu tercinta……!!!

Om  Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Om Swastyastu
Banyak Orang mungkin masih sering bertanya “Pak/Bu itu pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya? 
Nah sebagai Orang Hindu wajib hukumnya kita bisa memberikan penjelasan yang benar agar tidak memberikan multitafsir bagi si-penanya.
Cukup Jawab Simple saja:
Apakah Anda percaya bahwa Tuhan Itu Segala-Galanya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kecil, dan IA yang menciptakan segala yang ada di Dunia Ini…???. Kalau percaya- maka Hewan, Tumbuhan dan hingga Virus dan Bakteri adalah CiptaanNya. Jadi tidak ada satu hal pun yang bukan MilikNya, dan tidak ada satu halpun yang tidak diresapi olehNya.
Jadi kalau orang Hindu sembahyang Dan memberikan sajen kepada Pohon itu semata-mata karena orang Hindu Meyakini bahwa dalam Pohon juga bersemayam Zat Ilahi Tuhan, dalam agama Hindu disebut: Stavana (esensi Tuhan yang menghidupi tumbuhan). Terlebih Pohon sangat membantu keberlangsungan kehidupan ini, karena ia menghasilkan oksigen yang dihirup gratis oleh manusia, yang menyerap karbon dioksida yang merupakan racun untuk manusia. Yang menjaga sirkukasi air, cuaca. Dan tentu lewat pohon kita bisa menikmati warna-warni dan harumnya bunga dan ranum serta lezat buah-buahan. Melalui Alamlah Tuhan Menghidupi Kita. 
Atas karunia Tuhan melalui Tumbuhan, maka manusia Hindu juga mengucapkan syukur kepada tumbuhan-yang sejatinya ditujukan kepada keMAHAan Tuhan.
Orang-orang yang menanyakan, bahkan mungkin merendahkan dan meremehkan orang Hindu menghaturkan sesajen kepada Pohon adalah orang yang TIDAK MEMAHAMI KEMAHAKUASAAN TUHAN. Ia telah MEMENJARAKAN dan MENGKERDILKAN KeMAHAan Tuhan. Memang orang yang demikian bisa jadi ucapannya setiap saat berkata: Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Agung, Tuhan Maha Segalanya….tapi itu baru ucapan di bibir, bukan pemahaman yang mendalam dari pengetahuan keESAan. Lagi pula sikap yang mengejek seperti itu bisa jadi adalah merupakan KECEMBURUANnya karena belum bisa menghayati Ketuhanan seperti orang Hindu, yang hidup harmoni dengan alam, sesama dan Tuhan.
“Zat energi ilahi Tuhan; ada dan merasuk di setiap aspek kehidupan-sehingga menjaga dan merawat alam sama halnya menghormati Tuhan/Brahman itu Sendiri”.
—————
Hindu Worship Trees ..?
Om Swastyastu
Many people may still often ask “Sir/Madam…why is the tree worshiped or tied up with the fabric Black & White (poleng)? Is there any Spirits living there?
Well as the Hindu we can provide the correct explanation, so there will not provide multiple interpretations for the questioner.
Simply just answer with Simple:
Do you believe that God is Everything, Almighty, Great, Greatest, and He Who created everything that exists in this World … ???. If you believe-then Animals, Plants and Viruses and Bacteria are His Creations. So there is not one thing that is not His, and there is not one thing that is not permeated by Him.
So if the Hindu worshipers and give the offering to the Tree solely because Hindus believe that in the Tree also residing Divine God, in the Hindu religion is called: Stavana (the essence of God who sustains the plant). Moreover Trees are very helpful for the survival of this life, because it produces free inhaled oxygen by humans, which absorbs carbon dioxide which is toxic to humans. That keeps the water sirculation, weather. And of course through the tree we can enjoy the colors and fragrance of flowers and ripe and delicious fruits. It is through Nature that God lives our life.
By the grace of God through the plant, the Hindu people also give thanks to the plants-which are actually addressed to God’s mercy.
Those who ask, perhaps even undermine and belittle the Hindus to offer offerings to the Tree are those who DO NOT UNDERSTAND THE DIVINE OF GOD. He has IMPRISON AND DWARFS OF GOD’S POWER, Indeed such a person could be his utterance at all times saying: God is Great, God is Great, God is All-Everything …. but that is just a word on the lips, not a deep understanding of the Divine knowledge. Moreover, such a mocking attitude could be its their JEALOUSY because they has not been able to live the Deity like a Hindu, who lives in harmony with nature, neighbor and God.
“God’s divine energy is present and pervades every aspect of life-so keeping and caring for nature is just as much as honoring God / Brahman Himself.”
Rahayu

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)
Baca juga ulasan ini: https://www.google.co.id/amp/s/dharmavada.wordpress.com/2016/01/13/tumpek-wariga-hari-lingkungan-hindu-model-hindu/amp/

Om Swastyastu
Selanjutnya mari kita bahas Kelanjutan dari Bhawagad Gita Adhyaya 5 ini. Dan sekarang adalah ulasan dari Sloka terakhir yakni sloka ke-29

Dalam kehidupan  kita meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita-penyebabnya adalah berasal dari kita, atau yang lebih kita kenal dengan istilah sebagai Hukum Karmaphala. Pada pemaknaan ini Bahwasanya Hyang Widhi tidak berperan apa-apa, karena memang pada salah satu Sifat Hyang Widhi adalah hanya sebagai Saksi Agung atas karma-karma semua mahluk di semesta ini, IA berada di luar semua ciptaanNya tapi juga sekaligus berada di dalam ciptaanNya. Pada Sloka Ke-29 ini, Hyang Widhi justru memberikan penegasan Bahwa IA adalah segala hal ini, IA juga adalah penikmat akhir dari setiap karma.
Bhagawad Gita 5.29:
भोक्तारं यज्ञतपसां सर्वलोकमहेश्वरम् |

सुहृदं सर्वभूतानां ज्ञात्वा मां शान्तिमृच्छति || 29||
bhoktāraṁ yajña-tapasāṁ 

sarva-loka-maheśvaram

suhṛdaṁ sarva-bhūtānāṁ 

jñātvā māṁ śāntim ṛcchati
Kosa Kata: 
Bhoktāram-sang penikmat; 

Yajña-pengorbanan; 

Tapasām-segala bentuk pertapaan; 

Sarva-loka-dari semua dunia; 

Mahā-īśvaram-Tuhan Tertinggi; 

Suhṛdam-teman tanpa pamrih; 

Sarva-dari semua; 

Bhūtānām-mahluk hidup; 

Jñātvā-setelah menyadari; 

Mām-aku (Tuhan); 

Śāntim-peace; 

Ṛcchati-mencapai

Arti:
Setelah menyadari bahwa Aku sebagai penikmat segala pengorbanan dan pertapaan, Penguasa Tertinggi seluruh dunia dan Sahabat tanpa pamrih dari semua mahluk hidup, pemujaKu mencapai kedamaian.

Ulasan:
Ia yang teguh dalam disiplin kerohanian (sādhanā), yang dijelaskan dalam dua sloka sebelumnya, dapat menyebabkan pelakunya memiliki ātma jñāna (pengetahuan tentang diri). Tapi untuk me dapatkan Brahma Jñāna (pengetahuan tentang Tuhan) ia membutuhkan waranugraha Hyang Widhi, yang datang melalui pengabdian. Kata-kata: sarva loka maheśwaram berarti “Penguasa Yang Berdaulat dari seluruh dunia,” dan kata-kata: suhṛdaṁ sarva-bhūtānāṁ berarti “penghormatan baik baik dari semua makhluk hidup”.
Dengan cara ini, Hyang Widhi menekankan bahwa jalan pertapaan juga disempurnakan dalam penyerahan diri kepada Tuhan, dengan pengetahuan bahwa Tuhan Tertinggi adalah penikmat segala pertapaan dan pengorbanan.
Hal senada diunhkapkan oleh Jagadguru Shri Kripaluji Maharaj sebagai berikut:
Hari kā viyogī jīva govind rādhe, sañco yoga soī jo hari se milāde (Rādhā Govinda Gita, v.22)
“Jiwa terputus dari Tuhan sejak kekekalan. Yogi sejati adalah yang menyatukan jiwa dengan Tuhan. Makanya, tidak ada sistem Yoga yang lengkap tanpa masuknya bhakti”.
Dalam “Bhagawad Gita“, Kepribadian Tuhan dengan indah memasukkan semua jalan spiritual sejati, namun setiap saat; pada akhirnya DIA menegaskan bahwa mereka mesti memenuhi syarat bahwa demi kesuksesan di jalan ini juga membutuhkan bhakti. Hal senada dapat kita lihatbjuga pada sloka: 6. 46-47, 8. 22, 11. 53-54, 18. 54-55, dan yang lainnya.
Dengan berakhirnya sloka ke -29 maka berkahir pula Adhyaya Ke- 6 tentang tema yang mengungkapkan pentingnya pengabdian.

Semoga ulasan ini semakin meneguhkan Keyakinan kita, bahwa segala hal yang kita lakukan dengan penuh Bhakti, hal tersebut akan mengantar kita pada Sang Penikmat Sejati dari seluruh keberadaan di semestai ini, yaitu Sanghyang Widhi Wasa-Tuhan Yang Maha Kuasa. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu


Mutiara Dharma 04/06/2017:

“Semua manusia adalah bersaudara. Dan adalah tugas suci setiap orang untuk menanamkan idea luhur ini dalam  kesadarannya, hidup dalam semangat persaudaraan dan memperlakukan setiap orang sebagai keluarga. Jika kita tidak mampu melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.. setidaknya diamlah, dan jangan menambah penderitaannya dengan melukai atau merugikan mereka.  


Jagalah agar pelita cinta kasih  agar selalu menyala dalam hati dan menerangi setiap langkah. Nyala  kasih ini akan menjauhkan setiap orang dari pekatnya sifat buruk keserakahan, iri hati dan kesombongan. Cinta kasih akan menempa setiap pribadi menjadi rendah hati dan bersedia menundukkan kepala di hadapan kemuliaan dan kebesaran kuasaNya melalui semua keberadaan di semesta ini.” (Sai Upanisad).



Om Santih Santih Santih Om

I  Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

Mutiara Dharma 03/06/2017:
“Jalan menuju Next Level tidaklah selalu Mulus; Ada tikungan bernama Kegagalan, Ada bundaran bernama Kebingungan, Tanjakkan dan Turunan bernama Teman, Lampu merah bernama Musuh, Lampu kuning bernama Keluarga. Kita akan mengalami ban Pecah itulah Proses. Jika Kita membawa ban serep bernama Tekad, Mesin bernama Ketekunan, Asuransi bernama Percaya, dan Percaya ada Penolong yaitu: Tuhan; maka dapat dipastikan Kita akan sampai di daerah yang disebut Ketulusan, Kesabaran dan Ketabahan melakoni Hidup. Disinilah Ladang Bahagia itu menghampar untuk kita.”
Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastaystu
Mutiara Dharma 02/06/2017:
“Bilamana kita menerima sesuatu yang tidak kita harapkan, yang tak sanggup kita dapatkan, yang kita ingin kan ?~»Itu adalah waranugraha Tuhan …yang mengetahui keinginan/suara hati kita. Mari kita nikmati penuh angayubagia tiap anugerah yang Hyang Widhi limpahkan kepada kita hingga saat ini.”

Om Santih Santih Santih Om

❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Saat Berbagi Jnana dengan Umat Desa Restu Rahayu; Siwa Ratri-Januari 2017