upakara


Oleh: Darmayasa

Om Swastyastu

aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-dṛṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
(Bhagavad-gῑtā 17.11)

“Persembahan korban suci yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak menginginkan hasil dari persembahan korban suci yang dilakukan, persembahan korban suci yang dilakukan sesuai dengan aturan kitab suci, yang dilakukan setelah memantapkan dalam hati bahwa persembahan korban suci yang dilakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, persembahan korban suci seperti itu adalah korban suci dalam sifat kebaikan Sattva-guṇa.”

Bali terkenal sebagai pulau yajña. Mendengar nama Bali, orang luar Bali akan terbayang pada persembahan Banten, Canang, Gebogan, Banten Bebangkit, Pulagembal, Banten Taman Sari dan haturan-haturan yajña lain yang indah menarik. Persembahan-persembahan yajña seperti itu tidak ada duanya di dunia. Hanya ada di Bali. Warisan tradisi agama spiritual yang “the only one in the world” – satu-satunya di dunia. Sangat disayangkan jika ada orang berlebihan mempermasalahkan bebanten haturan indah tersebut. Sesuatu yang sangat indah dan merupakan satu-satunya di dunia, mengapakah kita sebagai umat Hindu Dharma tidak berbangga mempertahankan dan memperindah serta memurnikannya?

Pada umumnya umat belum memberikan pemahanan lebih pada persembahan suci yajña yang dilakukannya. Yajña ada dibedakan dalam tiga jenis, yaitu yajña dalam tingkat Tāmasa-guṇa, yaitu yajña yang dilakukan dalam sifat kegelapan dan kebodohan, Rājasika-guṇa yaitu persembahan suci yajña yang dilakukan dalam sifat kenafsuan, dan Sāttvika-guṇa, yaitu yajña-yajña yang dilakukan dalam sifat kebaikan, mulia, halus, indah asri penuh bhakti. Yajña yang dilakukan tidak semua sama. Ada pula yajña berbeda dipersembahkan kepada para Dewa-Dewi yang berbeda pula. Yajña dalam tutupan sifat alami Tri-guṇa tersebut dibedakan pula dalam 3 tingkatan, yaitu Kaniṣṭha-yajña (yajña yang terkecil paling sederhana), Madhyama-yajña (yajña menengah) dan Uttama-yajña (yang paling utama). Masing-masing juga dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi Navavidha-yajña atau sembilan jenis persembahan suci yajña. Keberadaan dan “rahasia” akan tiga jenis atau level yajña ini sangat penting diadakan pemahaman oleh umat. Jika tidak, maka umat akan melaksanakan yajña tanpa kendali dan tanpa arah jelas, hanya melihat lalu melakukan tanpa pemahaman yang benar.

Umat Hindu Dharma tidak bisa lepas dari yajña. Menurut Atharva Veda (12.1.1), pelaksanaan persembahan suci yajña juga berperan penting dalam usaha menjaga tegak dan damainya dunia (yajñaḥ pṛthivīṁ dhārayanti). Ida Sang Hyang Parama Kawi menciptakan alam semesta melalui yajña (saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā). Merupakan kewajiban umat untuk melakukan yajña. Kesadaran akan kewajiban dharma seperti itulah yang menyebabkan adanya tradisi pelaksanaan berbagai yajña setiap hari. Setidaknya umat sangat patuh mempertahankan tradisi pelaksanaan yajña-śeṣa atau masaiban setelah memasak. Selain itu, ada hari-hari tertentu dimana umat Hindu Dharma mempersembahkan yajña yang dilakukan secara khusus.

Secara umum yajña dibedakan dalam Nitya-yajña atau yajña yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari, misalnya Yajña-śeṣa, Agnihotra dan lain-lain, selainnya ada Naimitika-yajña yaitu yajña yang dilakukan sewaktu-waktu dalam kurun waktu tertentu, bahkan ada yang dilakukan hanya sekali seumur hidup. Yajña-yajña dalam Naimittika-yajña antara lain Kajeng Kliwon, Purnama (Pūrṇimā), Tilem (Amāvasya), Piodalan-piodalan, Galungan, Otonan, Pawiwahan, Ngaben, dan lain-lain.

Ada pula yajña yang dibedakan dalam Pravṛtti-yajña, yaitu yajña yang dilakukan dalam mengumpulkan kārma (keinginan) demi pencapaian hidup damai sejahtera di dunia dan pencapaian Surga setelah meninggal.

Sedangkan jenis lain dinamakan Nivṛtti-yajña justru meninggalkan kāma (keinginan) untuk pencapaian pembebasan (mokṣa). Jenis dan tingkatan-tingkatan yajña ini sesungguhnya lebih banyak dilihat berdasarkan sarananya, bukan dari kegiatan apalagi hasil yang diperoleh dari pelaksanaannya.

Keutamaan sebuah yajña ditentukan oleh beberapa faktor. Yajña yang dilakukan dengan sarana yang sederhana (kaniṣṭha) bisa jadi nilainya lebih mulia daripada yajña yang dilakukan dengan sarana yang lebih mewah dan jumlah yang lebih banyak (madhyama atau uttama-yajña). Jika yajña dilakukan dengan baik dan penuh śraddha bhakti maka upacara kaniṣṭhaning kaniṣṭha (paling sederhana dari yang paling kecil sederhana) akan dapat mengalahkan upacara yang paling lengkap dari yang paling lengkap (uttamaning uttama).

Kekuatan śraddha bhakti sangat ampuh, yang mampu mengalahkan persyaratan upacara banten. Akan tetapi, kesiapan pemahaman seperti ini pastilah belum bisa diterima oleh masyarakat atau umat kebanyakan.

Peluang pergeseran pemahaman di masyarakat dapat terjadi yang menganggap keutamaan yajña ditentukan oleh sarana yang lebih banyak dengan biaya yang lebih mahal. Kecendrungan alpa seperti ini dapat terjadi dengan mudah pada siapa saja khususnya para Sarathi banten (tukang Banten) dan yang lainnya. Niat baik memperindah yajña di sana-sini belum tentu diperlukan dan/atau bisa terjadi penempatan yang tidak tepat. Hal tersebut bisa terjadi terutama pada Sarathi Banten yang alpa “nglinggihang” (memuja) Penguasa Banten, yaitu Sang Hyang Tāpinῑ serta para Ancangan pengiringnya (makadewaning tukang banten, Ida Hyang Bethari Umā, meraga Sang Hyang Tāpinῑ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keutamaan sebuah yajña untuk dapat ditingkatkan pada level Sātvika-yajña adalah keyakinan yang mantap (śraddhā), bahwa yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan (lascarya), artinya yajña harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh siapa pun, terlebih jika yajña dilakukan demi harga diri, prestige atau status di masyarakat, maka tanpa disadari orang sudah menurunkan nilai yajña karena yajña tidak sekadar membuat banten sampai pelaksanaan upacara selesai.

Pemahaman arti dan makna yajña di dalam masyarakat perlu diperluas antara lain yajña juga merupakan sebuah usaha untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera lahir-batin. Untuk mencapai tujuan ini maka pemahaman yajña diarahkan juga dalam bentuk dṛvya yajña atau yajña harta benda.
Persyaratan lain dari Sāttvika-yajña yang patut dipenuhi juga adalah śāstra-pramāṇa, bahwa pelaksanaan yajña harus sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam Veda, Dharmaśāstra atau lontar-lontar bonafid yang dapat dipercaya. Yajña yang dilakukan berdasarkan “terka-terkaan”, sesuai dengan keinginan pribadi atau persetujuan beberapa orang, atau yang bertentangan dengan Śāstra-pramāṇa tidak dapat dikelompokkan ke dalam Sāttvika-yajña. Selanjutnya Sang Yajamāna (yang menyelenggarakan yajña) juga harus menghaturkan dakṣiṇā, wajib memberikan sesuatu yang layak kepada pemimpin upacara sebagai bentuk keseimbangan antara menerima dan memberi.

Selesai pelaksanaan upacara yajña Anna-dāna atau Anna-sevā harus dilakukan. Pada upacara yajña yang melibatkan orang lain sebagai pemimpin upacara atau mānuṣa-sākṣῑ maka sang Yajamāna wajib memberikan makanan dan minuman kepada mereka sebagai bentuk pelayanan dan penghormatan. Pemberian makanan merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik-praktik upacara yajña yang dilakukan baik di Bali, India atau pun di tempat-tempat lain di dunia. Untuk Sāttvika-yajña Anna-dāna juga diusahakan yang Sāttvika-bhojanam, yaitu makanan dan minuman dalam sifat kebaikan (Sattva-guṇa).
Yajña hendaknya tidak dilakukan untuk tujuan pamer (nasmita). Sāttvika-yajña tentu harus dijauhkan dari tujuan pamer dan kebanggaan atau smita. Sattvika-yajña harus bersifat nasmita, bebas dari tujuan kebanggaan. Mereka yang hendak melaksanakan yajña diwajibkan menghitung kemampuan dirinya dan kemudian menentukan jenis, tingkat, atau besar-kecilnya yajña yang harus dilakukan. Umat yang baik akan menghindari pelaksanaan yajña yang “ditumpangi oleh rasa kebanggaan dan pamer, apalagi berakhir pada rasa tidak nyaman akibat utang-piutang dan kehabisan harta benda.

Persyaratan terpenting untuk sebuah Sāttvika-yajña adalah:

  1. yajña hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan hati sebagai sebuah kewajiban suci (yaṣṭavyam eva iti manaḥ samādhāya),
  2. yajña harus terbebaskan dari keinginan untuk mendapatkan hasil atau pahala (aphalākāṅkṣibhiḥ yajñaḥ), dan
  3. yajña harus mengacu dan/atau dilakukan berdasarkan pada vidhi-śāstra, kitab-kitab suci yang memang memberikan tuntunan serta aturan peraturan yang otentik untuk pelaksanaan Sāttvika-yajña. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements

Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma Patapan)

 

 

Om Swastyastu

Banten adalah Ciri yang nampak pada Peradaban Siwa Sidhanta di Bali, dan boleh juga  dinyatakan bahwa  Banten adalah Sarana cara beragama “AGAMA SIWA SIDHANTA” 


Sekilas Tentang Banten

Banten adalah tata cara yajna (persembahan) yang berasal dari jaman Veda dan berakar pada Tantra. Tata cara yajna ini dibawa dari India ke Nusantara oleh Maharsi Agastya (pada awal abad Masehi) dan Maharsi Markandeya (abad ke-8 M), dengan disesuaikan dengan keadaan dan situasi lokal. Lalu seiring waktu banten ini terus dikembangkan oleh orang-orang suci lokal, seperti (kalau khususnya di Bali) oleh Mpu Sangkulputih, Mpu Jiwaya, Danghyang Nirartha, dan yang lainnya.

FUNGSI BANTEN

1. Banten sebagai Yantra.
Yantra adalah sebuah teknologi spiritual. Yantra mewujudkan simbol-simbol suci dari misalnya alam semesta, kesadaran, para dewa-dewi, dan lain sebagainya. Selaras dengan isi Lontar Yadnya Parakerti, bisa disimpulkan bahwa banten adalah yantra, yaitu simbol-simbol mistik yang berfungsi sebagai kanal (saluran) penghubung dengan para dewa-dewi dan Brahman. Simbol-simbol ini dalam banten (seperti halnya yantra), diwujudkan dalam tata letak perpaduan warna, bunga-bunga, biji-bijian dan unsur-unsur lainnya dalam banten. 

2. Banten sebagai Mantra. 

Banten adalah mantra yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Tujuannya agar lebih kuat, sehingga apa yang diharapkan dapat lebih mudah terwujud [tercapai tujuan]. Contoh banten (hanya dimuat beberapa saja untuk mempersingkat) sebagai perwujudan fisik mantra, misalnya :
Sesayut Pageh Tuwuh, perwujudan mantra RgVeda VII.66.16

Om taccaksura devahitam sukram uccarat, pasyema saradah satam, jivema saradah satam

Artinya: Brahman dan para dewa-dewi, semoga sepanjang hidup hamba selalu melihat mata-Mu yang bersinar).
Daksina, perwujudan Gayatri Maha Mantram (RgVeda III.62.10)

Om bhur bhuvah svaha, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi, dhiyo yo nah pracodayat. 

Artinya: Kami bermeditasi kepada cahaya realitas mahasuci, yang merupakan dasar dari tiga macam alam semesta. Semoga pikiran kami dicerahkan.

Byakala Dhurmanggala, perwujudan mantra RgVeda V.82.5

Om visvani deva savitar, duritani para suva, yad bhadram tanna a suva. 

Artinya: Brahman sebagai cahaya realitas mahasuci, jauhkanlah segala energi jahat dan berkahi kami dengan yang terbaik.

Sesayut-canang pengrawos, perwujudan mantra RgVeda I.89.1

Om a no bhadrah krattavo yantu visvatah. Artinya: S
emoga pikiran yang mulia datang dari segala arah.

– Sesayut Pageh Urip, perwujudan Maha Mrityunjaya Mantra (RgVeda VII.59.12)
Om tryambakam yajamahe, sugandhim pusti-vardhanam, urvarukam iva bandhanan, mrtyor muksiya mamrtat.

Artinya: Kami memuja Dewa Shiva, yang penuh welas asih, yang wanginya memelihara semua mahluk. Semoga kami dibebaskan dari alam kematian menuju pembebasan. Laksana ketimun masak yang sangat mudah melepaskan diri dari tangkai yang mengikatnya.

3. Banten sebagai yajna (persembahan)

Bisa dikatakan bahwa secara umum landasan pokok dari yajna adalah welas asih dan rasa terimakasih, ke semua arah dan semua loka (alam semesta). Apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, kita kembalikan dalam bentuk persembahan suci [mebanten, yajna, upakara]. Dan aktifitas ini bukannya tidak ada efeknya. Bagi orang-orang yang mata bathinnya sudah terbuka, akan bisa melihat vibrasi kosmik kesucian dan kedamaian di Pulau Bali sungguh luar biasa.

4. Banten sebagai sastra (ajaran dharma) 
Pada jaman dahulu sarana komunikasi tidaklah semudah sekarang. Tidak ada percetakan yang dalam sekejap bisa mencetak ribuan buku, tidak ada internet, dll. Terlebih lagi jaman dahulu banyak sekali orang yang buta huruf. Sehingga oleh para tetua kita yang bijak, ajaran dharma diletakkan atau ”disembunyikan” di dalam banten.

Banten adalah ajaran dharma dalam bentuk simbol-simbol yang mona (diam), seperti halnya huruf-huruf tulisan yang diam. Tapi seandainya kita cukup memahami sasahaning tukang banten, lalu disaat kita mejejaitan, maka banten itu dengan sendirinya akan banyak menuturkan berbagai ajaran dharma yang selaras dengan Veda dan Vedanta. Misalnya pada banten itu ada reringgitan dan tetuwasan yang melambangkan keteguhan bathin. Ini bermakna sebagai wujud keteguhan bathin di dalam menghadapi berbagai bentuk godaan kehidupan.

Dalam keadaan banyak sekali hambatan untuk meneruskan ajaran dharma secara tertulis di jaman dahulu, para tetua kita yang bijak mengharapkan ajaran dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik, melalui pembuatan banten.

5. Banten sebagai sarana untuk membuat segala sesuatu menjadi baik.
Ada berbagai macam tata-cara banten sesuai tujuannya, yaitu sebagai sarana penyucian, sarana somya (harmonisasi), dari pikiran gelap menuju terang, dari keadaan suram menuju sejahtera, dari bencana menuju aman-tenteram, dan lain-lain. Secara garis besar, inilah tujuan tertinggi dari banten, yaitu membuat segala sesuatu menjadi baik. Tidak ada tujuan lainnya lagi yang lebih penting.

Misalnya (salah satu contoh) banten sebagai sarana somya (harmonisasi). Alam semesta berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna (tiga sifat alam), yaitu : sattvam, rajas dan tamas. Sehingga tidak hanya manusia yang memiliki tingkatan-tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita juga. Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi energi yang muncul dari persembahan mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam, sekaligus membangkitkan dan meningkatkan vibrasi unsur sattvam. Sehingga memurnikan vibrasi kosmik alam sekitarnya.

Semuanya adalah pengetahuan rahasia yang diperoleh sebagai berkah dari alam dewa oleh para maha-siddha, yang kita warisi sampai saat ini.

FAKTOR PENTING YANG MEMBUAT BANTEN BISA BERFUNGSI SEMPURNA 
Yajna yang baik adalah Yajna yang sattvika. Dan ini sama sekali tidak diukur dari besar-kecilnya volume banten atau besar-kecilnya biaya yang dihabiskan. Melainkan harus memenuhi tiga persyaratan di bawah ini :

1. Sumber bahan harus baik. 
Banten harus bersumber dari bahan atau uang yang baik, tidak dari hasil korupsi, mencuri, merampok, menipu, berhutang, menjual tanah warisan, dan lain-lain. Banten yang bersumber dari bahan atau uang yang tidak baik, tidak nyambung dan sia-sia. Persembahan yang bersumber dari bahan atau uang seperti itu percuma, sebab vibrasi sattvam (jyoti atau cahaya) dari banten-nya hilang.

Maka dari itu, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai.

2. Proses pembuatan. 
Ketika membuat banten, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung surgawi [atau boleh juga dengan lagu-lagu mantra ala modern], agar pikiran kita terpusat. Jangan membuat banten sambil bergosip atau omongan aneh-aneh lainnya. Kita bisa bandingkan dengan saat banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan.

Kalaupun banten-nya membeli, membelinya jangan disertai dengan keluhan-keluhan ini-itu. Sebab hal ini berpengaruh kepada vibrasi banten-nya.

3. Proses menghantar. 
Apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan banten, jangan lupa dilaksanakan dengan sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau marah-marah, hal ini sangat mempengaruhi banten-nya. Jangan pernah sampai karena banten, yajna atau upakara kita jadi menyakiti hati orang lain.

BESAR-KECILNYA BANTEN
Ada sembilan alternatif volume banten, yaitu mula-mula dibagi dalam 3 kelompok, alit, madya, utama. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya : aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dan lain-lain.

Tidak benar kalau ada yang menyebutkan bahwa besar-kecilnya volume banten menentukan hasil yajna (upakara). Tidak benar bahwa untuk setiap upakara diharuskan dengan volume banten besar. Ini ada dua kemungkinan, salah kaprah (ketidak-tahuan) atau sebuah ketidak-jujuran yang bermotif materi.

Dalam berbagai lontar kuno di Bali banyak yang menjelaskan hal ini, diantaranya Lontar Kusuma Dewa (copy original tersimpan di Gedong Kertya, Singaraja). Kesembilan alternatif volume banten itu adalah sama, tidak berbeda tingkatan secara siginifikan. Hal yang membedakan adalah, semakin kecil volume bantennya, maka semakin banyak mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Sebaliknya semakin besar volume bantennya, maka semakin sedikit mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Ini berarti bahwa volume banten yang kecil bisa digantikan oleh mantra.

Sekali lagi, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai. Karena yang menentukan banten adalah sumber bahan, proses pembuatan dan proses menghantar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

BAGAIMANA KALAU TIDAK ADA BANTEN

Banten adalah yajna (persembahan), sehingga banten tetap dibutuhkan. Tapi dalam keadaan tertentu, kita mungkin saja mengalami kesulitan memperoleh banten yang sesuai.

Misalnya (hanya contoh) kita punya niat untuk sembahyang ke sebuah pura, tapi karena satu hal kita tidak bisa membuat atau memperoleh pejati. Disini pejati bisa kita ganti dengan cukup satu buah canang sari saja, karena canang sari adalah volume alit dari pejati (pejati = utama, canang sari = alit). Tapi kalaupun canang sari juga tetap tidak bisa, kita bisa ganti dengan cukup ketulusan dan kebersihan bathin. Dan ini adalah pondasi dasar yang terpenting dari semuanya.

HAL YANG TERPENTING
Sebagian kecil orang ada yang menganggap perjalanan bhatin, perjalanan karma dan perjalanan ke alam kematian akan selesai dengan banten dan upakara. Hal ini adalah sebuah pendapat yang sangat salah. Satu-satunya hal yang paling berguna adalah bathin yang bersih, sejuk dan terang.

Menjadi penganut Hindu itu sakral, karena sejak lahir sampai mati, tidak terhitung banyaknya upakara yang dibikin untuk diri kita hanya untuk membuat kita menjadi baik (mulai bayi baru lahir di RS, bayi pulang sampai di rumah, 12 hari, 3 bulan, 6 bulan, otonan, dan seterunya). Dan satu hal yang akan membuat kesakralan ini baru muncul cahaya terangnya adalah, kalau di dalam bathin dan di dalam keseharian, kita juga baik.

Banten, yajna dan upakara itu baik dan penting. Tapi yang nomor satu terpenting adalah bagaimana membuat bathin kita menjadi bersih, sejuk dan terang. Bagaimana cara mendasar untuk membuat bathin kita bersih, sejuk dan terang ? Dengan welas asih, kebaikan, kesabaran, rendah hati dan selalu berpikir positif. Di jalan dharma, kita boleh lupa yang lain, tapi harus ingat yang satu hal pokok yang terpenting, yaitu welas asih dan kebaikan. Rasa hormat dan welas asih kepada orang lain, mahluk lain, pepohonan, gunung, sungai, dan lain-lain, semua yang ada di bumi ini, secara nyata dalam keseharian kita.

 

Om Santih Santih Santih Om

* Disampaikan sebagai Bahan Rapat Kerja Sabha Walaka PHDI Pusat, dalam Penyusunan Rancangan Keputusan Tentang Yajna Sattvika.

Perpaduan Sesajen Bali dan Sunda


 

Om Swastyastu
Banten Ajuman/Soda Yang menjadi unsur-unsur banten Ajuman/Soda:

Alasnya tamas/taledan/ceper; berisi buah, pisang dan kue secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk yang dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, canang sari. 


Fungsi: 

Sarana yang dipakai untuk memuliakan Hyang Widhi (ngajum, menghormat, sujud kepada Hyang Widhi). Dalam mempersembahkan banten Soda/Ajuman ini bisa berdiri sendiri, atau dipersembahkan bersama kedalam suatu banten tertentu, misalnya untuk melengkapi banten pejati, menjadi bagian dalam banten ayaban tumpeng lima, tumpeng pitu, dan sorohan banten lainnya.
Mantra:

Saat menghaturkan banten Soda/Ajuman dapat menggunakan mantra: Om Atma tatwatma suddhamam swaha, swasti swasti sarwa bhoga sukha pradhana ya namah, sraddha bhakti nugrahaka bhyo namah swaha

Artinya: Om Hyang Widhi yang bersemayam dalam semua mahluk, Yang Maha Suci, hamba memujaMu dengan persembahan bebanten (Bhoga) ini, semoga berkenan memberkati persembahan yang hamba haturkan dengan penuh sukacita ini, dan hamba memperoleh kemantapan dalam sraddha dan bhakti kepadaMu.
Kajian Makna:

1. Nasi penek adalah nasi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk bundar dan sedikit pipih, adalah lambang dari keteguhan atau kekokohan bhatin dalam mengagungkan Tuhan, dalam diri manusia adalah simbol Sumsuma dan Pinggala yang menyangga agar manusia tetap eksis. Dalam tradisi Hindu Jawa banten Soda/Ajuman ini dinamakan Sega Kokoh, yang fungsinya dan maknanya sama, yakni sebagai bentuk keteguhan dan kekokohan bhatin.
2. Sampyan Plaus/Petangas; dibuat dari janur kemudian dirangkai dengan melipatnya sehingga berbentuk seperti kipas, memiliki makna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi manusia harus menyerahkan diri secara totalitas di pangkuan Hyang Widhi, dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang Widhi akan turun ketika BhaktaNya telah siap.  
Demikian dapat saya jelaskan secara singkat tentang Banten Soda/Ajuman ini, semoga bermanfaat bagi Umat Sedharma dimanapun berada. Manggalamastu
* Sumber bacaan: 

Lontar Mpu Lutuk-Koleksi Jero Mangku Danu

Lontar Tutur Tapeni-Koleksi Jero Mangku Danu
Om Santih Santih Santih Om,
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Seperti kita ketahui bersama, bahwa setiap upakara yang kita hendak persembahkan, adalah upakara yang sukla, bersih dan tentunya juga suci.

Kaitannya dengan “Sukla”, harus dipastikan bahwa upakara itu baru alias belum pernah dipakai sebelumnya. Tapi untuk uperengga semisal tempeh, klatkat, ngiyu dan sebagainya masih bisa digunakan berulang kali, tapi sebelumnya harus dibersihkan kembali.

Untuk mendapatkan bahan upakara yang “Bersih”, sedapat mungkin sudah dipilih bahan yang memang bagus, segar dan tidak rusak. Kaitannya dengan bahan-bahan upakara, ada yang patut kita cuci terlebih dahulu dengan air bersih-untuk menghilangkan debu, kotoran, dan hal-hal lainnya yang tidak menyehatkan baik secara sekala dan niskala. 

Dibanyak tempat, saya masih menjumpai banyak umat kita yang tidak mencuci bahan upakara, sebagai salah satu contoh misalnya….saya masih bisa menemukan telor daksina tidak dicuci sehingga masih ada bekas kotoran induknya. Demikian juga dengan buah-buahan, masih banyak yang tidak mencucinya terlebih dahulu, tapi langsung ditanding-padahal bisa jadi buah-buahan itu diberikan karbit, bahan pengawet atau masih dihinggapi tanah dan lumpur, yang tidak baik bagi kesehatan.

Agastya Parwa kaitannya dengan kebersihan upakara menjelaskan: “…..bahwa jika ada seseorang  yang saat ini berwajah tidak rupawan/tidak cantik, berperangai buruk, jutek dan judes hal ini disebabkan karena pada kelahiran sebelumnya saat ia membuat upakara yadnya tidak mencuci baha upakaranya, ini didinamakan sebagai Cona atau Kumel)…”.

Untuk masalah “Kesucian” upakara; pastikan bahwa upakara yang kita persembahkan adalah upakara yang didapat dengan jalan dharma, dirangkai dengan penuh lascarya (tulus) dan tidak ada motif Nasmita (Pamer dan jor-joran) dalam membuatnya, kemudian dipersembahkan dengan penuh Bhakti.

Kembali ke soal kebersihan bahan upakara; harus dipastikan bahwa bahan-bahan tersebut sebelum ditanding harus dicuci dengan bersih. Nah….saat mencucinya kita bisa sambil mengucapkan mantra untuk Mencuci Bahan Upakara, seperti mencuci daun/plawa, bunga, kelapa, buah-buahan, dan bahan-bahan lain yang patut dicuci sebelum di tanding, yaitu:

Om sarva visa vinasanam, kala drngga-drnggi patyam, prani rogani murchantam, trivistapopajivanam, parisuddham sarvaya namah svaha. (Sumber:  Lontar Tutur Bhuana Mahbah)

Artinya: 

Om Hyang Widhi semoga atas anugerahMu semua racun (penyebab penyakit),  menjadi netral, yang angker-angker hilang, setiap penyakit yang disentuh oleh air ini lenyap serta memasukkanlah kekuatan yang melindungi bahan upakara ini, agar semuanya layak hamba persembahkan, Sucilah semua atas karuniaMu.

Setelah bahan upakara dicuci bersih selanjutnya ditempatkan ditempat yang layak, tidak ditaruh sembarangan, usahakan tidak dilangkahi.

Demikian dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua. Dengan harapan suatu saat jika kita numadi bisa hadir sebagai pribadi yang rupawan/cantik, ramah, welas asih dan penuh bhakti. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu

01 Nopember 2016

* Bahan Bacaan:

  1. Lontar Agastya Parwa
  2. Lontar Bhuana Mahbah

​MAKNA UPACARA NGELEMEKIN

Om Swastyastu

Tiga hari setelah piodalan biasanya dilakukan upacara Ngelemekin. Maksud  dari Ngelemekin yaitu:

  1. Ucapan angayubagia karena upacara telah usai, terutama kepada Aspek Tuhan ; Bhatari Tapini dan Wiswakarma karena telah menuntun dan melindungi serta memudahkan segala urusan upacara.
  2. Ngelemekin artinya memupuk hal~hal yang baik sehingga  membawa manfaat untuk hari~hari berikutnya. Misalnya memupuk rasa kebersamaan, persatuan, welas asih. Jangan sampai usai piodalan malah banyak timbul masalah, friksi, umat ada konflik antar pengurus retak, pemangku saling cureng, dll.
  3. Ngelemekin sebagai tanda berakhirnya tugas kepanitiaan secara niskala.
  4. Ngelemekin menghaturkan suksma kepada alat~alat atau uparengga yang sudah digunakan dalam upacara.

Inti bantennya adalah “yang lebeng akedusan”, misalnya mekukus, melablab.

Dalam teks lontar Tapini Tatwa dijelaskan demikian:

  1. Bhatara Wisnu/Dewi Sri. Untuk mendapat anugerah dan panyupatan, sarana bebalinya matang dengan cara direbus.
  2. Kepada Bhatara Iswara matang dengan cara di kuskus.
  3. Kepada Bhatara Brahma matang dengan dipanggang.
  4. Kepada Bhatara Mahadewa matang dengan di goreng.
  5.  Kepada Bhatara Siwa matang dengan cara proses alam.

Jadi inti persembahan saat ngelemekin adalah untuk:

  1. Bhatara Wisnu/Sri karena telah diberi kemudahan dalam hal logistik  dan sarwa siddha saat pujawali.
  2. Untuk Bhatara Iswara karena telah memberikan sumber pengetahuan/ sarwa siddhi dan Pensucian/sarwa suddha pada pujawali tersebut.

Tapini merupakan manifestasi dari Dewi Uma, yang menjadi Dewanya para Serati 

Wiswakarma merupakan aspek Siwaistik yang menjadi Arsitek alam semesta.

Om Santih Santih Santih Om

(sumber: Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

image

Sirih, pinang, kapur, gambir

Berikut saya petikan lontar Mpu Lutuk Alit tentang porosan: “Nihan kramaning angawe porosan lwirnya: sedah (sirih), jambe (pinang), pamor (kapur), mwang gambir. Yan tan hana gambir, jambe wenang juga. Porosan pinaka untenging sahananing canang, sahananing banten. Yan tan hana porosan tan canang tan banten ngaraniya, nihan kautaman porosan ngaran”.

image

Bentuk porosan

Artinya:
Ini caranya membuat porosan, terdiri dari: daun sirih, buah pinang, kapur, dan gambir, jika tidak ada gambir cukuplah buah pinang. Porosan adalah inti dari canang, inti dari banten. Kalau tanpa porosan bukan canang namanya bukan banten namanya, demikianlah keuatamaan porosan.

Berbagai Bentuk dan Penggunaan Porosan:
1. Tampelan atau Base Tampelan 
Dibuat dari dua lembar daun sirih, satu lembar berfungsi sebagai alas dan satu lembar lagi diatasnya diisi sedikit pinang dan kapur, kemudian dilipat turun dan naik lalu dijeprit dengan semat. Tampelan ini dipergunakan dalam tetandingan banten Canang Sari, Penyeneng, Peras , segehan dan sejenisnya.

2. Lekesan
Dibuat dari dua lembar daun sirih, masing-masing diisi kapur dan gambir lalu diikat dengan benang, sedangkan pinang dan tembakaunya dialasi dengan kojong tersendiri diletakan disebelahnya. Biasanya digunakan dalam Canang Pengraos, Nasi Bira, Nasi Wong-Wongan.

3. Base Tubungan
Dibuat dari empat lembar daun sirih, dijadikan dua bagian masing-masing diisi pinang dan kapur, kemudian digulung dijadikan satu lalu dimasukan pada sebuah kojong yang juga dibuat selembar sirih. Penggunaannya sebagai pelengkap tatandingan Canang Tubungan, Canang Oyodan dan Tandingan Catur.

4. Base Tulak
Sarananya sama dengan base tubungan, hanya saja sebelum dimasukan pada sebuah kojong , meletakan sirihnya bolak-balik, sehingga kelihatannya tidak merata.Penggunaan base tulak sebagai pelengkap dalam tetandingan Banten Byakala atau Byakaon.

5. Porosan Silih Asih
Bahannya sama dengan porosan biasa. Hanya saja satu digulung bagian dalamnya dan satu bagian luarnya. Sebagai simbol Purusa-Pradana. Biasanya digunakan pada Kuangen, Daksina Linggih, Pedagingan, Banten Pawiwahan, Panten Pawintenan, Banten Mepandes.

*Sumber: lontar mpu lutuk lp 11a)

Om Santih Santih Santih Om
♡ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)

Write & Posted by: I W. Sudarma

Om Swastyastu

Sirawista  atau Karawista Adalah tiga helai alang-alang  yang dirangkai sedemikian rupa hingga bagian depan/ujungnya membentuk lingkaran (windu) dan titik (nada), merupakan simbolisasi dari Aksara Suci OM- yang tersusun melalui Bija Aksara A-U-M.

Secara etimologi kata Sirawista merupakan  kata yang terbentuk dari kata ‘SIRAH’ (kepala, mahkota, bagian puncak), dan kata ‘WISTA’ yang artinya: pengendalian untuk mencapai kemanunggalan (dengan yang dipuja). Ini sesuai dengan isi Lontar Aji Gurnita dalam bentuk alih aksara pada tahun 1993, koleksi Kantor Dokumentasi Budaya Bali, yang menyebutkan istilah “Sirawista”.

Sedangkan kata ‘Karawista’, sesuai petikan Lontar Śiwapakarana. Ada dua Lontar Śiwapakarana yang dipakai sumber acuan yaitu lontar koleksi Ida Pedanda Gde Putra Tembau serta lontar koleksi  Perpustakaan UNHI Denpasar, secara prinsip isi ke-dua lontar tersebut tidak jauh berbeda, secara umum isinya memaparkan tentang dewa yang bersemayam pada masing-masing sarana pemujaan, tempatnya dalam tubuh sang wiku, asal kedatangannya, hakikat dari karawista, hakikat dari air (tirtha) dalam bhuana agung dan bhuana alit, inti sari dari petanganan dan selebihnya mengenai ajaran kediatmikan. Pada lontar ini ‘Karawista’ berarti pengikatan tiga helai alang-alang (ambengan: bahasa bali), di kepala sebagai lambang agar seluruh Tubuh yang memakai bisa terpusat pada obyek yang dipuja. Kata ‘kara’ menunjuk pada badan/tubuh baik badan jasmani maupun badan rohani. Itu sebabnya saat proses sembahyang ada istilah ‘kara suddhamam’, yang artinya pensucian (suddha)  badan (kara), sendiri (mam).

Jadi Sirawista dan atau Karawista dipergunakan ketika sesorang  menjalani upacara pensucian diri (samskara ).
“SIRAWISTA/KARAWISTA”  diikatkan di kepala dengan maksud bahwa sejak itu seseorang telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk selalu mensucikan diri yakni dengan selalu mengingat Hyang Widhi melalui aksara OMkara. Dengan diikatkannya Sirawista/Karawista ini…yang akhirnya personel tersebut siap untuk melaksanakan swadharma berikutnya.

Sirawista/Karawista juga bermakna untuk mensakralkan personal dalam kaitan pengukuhan atau sumpah, Misalnya dalam wiwaha pasangan penganten, Sudhi wadani, Potong gigi, Perkawinan dan lain-lain

* Sumber:
1. Lontar Sasananing Aguron-guron
2. Lontar Aji Gurnita
3. Lontar Siwapakarana

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Next Page »