sruti


Om Swastyastu

“We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world.
(Vedanta)

Pikiran benar dapat kita tinjau dari dua sisi, yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif dari pikiran benar menganjurkan kita untuk menghindari hal-hal yang negatif dari pikiran agar mendukung sisi aktif dari pikiran benar. Sedangkan sisi aktif dari pikiran benar adalah aspek yang harus kita jalankan dan latih untuk menyempurnakan pikiran benar.

“Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekedar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang.” (Jro Mangku Danu)

image

Melatih Pikiran Benar

Yang dimaksud dengan pikiran benar dari sisi pasif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yakni ”
1. Tanpa Kemelekatan/Keserakahan (Niskama)
2. Tanpa Niat Jahat/Kebencian (Awyapada)
3. Tanpa Kekejaman/Kekerasan (Ahimsa)

Sedangkan yang dimaksud pikiran benar dari sisi aktif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yaitu :
1. Melepas dengan memberi (Dana)
2. Cinta Kasih (Maitri)
3. Welas Asih atau Belas Kasih (Karuna)

Sisi positif lainnya dari pikiran benar yang dapat kita kembangkan adalah dengan pengembangan pikiran:
a. Kebahagiaan Simpati (Mudita)
b. Ketenangseimbangan Batin (Upeksa)
c. Memaafkan (Ksama)
d. Keyakinan (Sraddha)

Cinta Kasih, Welas Asih, Simpati dan Ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (Brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Advertisements

Om Swastyastu
Dalam doa sering kita berucap….. Tuhan ijinkan Aku agar
dapat melayaniMU..walau hanya sekali saja..! Di saat yang sama Tuhan hadir sebagai fakir miskin, yang kurus, dan dekil misalnya….dan meminta untuk dilayani….

Tapi karena kita telah memformat bahwa Tuhan adalah sebuah Pribadi yang Agung, Bersih, Berwibawa, Suci,dan sebagainya. Maka kita tidak dapat melihat bahkan merasakan bahwa Tuhan telah mewujud sebagai rupa yang lain.
Kiranya cara pandang kita tentang Tuhanlah yang harus diluruskan.
Sahabat…mari kita temukan dan temui Tuhan di mana saja Kita berada, karena semua Nama, Rupa, dan Warna adalah perwujudanNya.

Om Santih Santih Santih Om
Bali, 09/11/2014
~I W Sudarma

IMG_2412.JPG

Oleh: I Wayan Sudarma

Harih Om
OMKARA juga disebut sebagai Brahmabija atau Brahmvidya atau Pranava.

OM dalam bahasa yang mendasar dapat diartikan dengan: “Saya berbakti”, “Saya setuju”, “Saya menerima”.

“Sesungguhnya suku kata ini adalah persetujuan, sebagai wujud persetujuan apa yang telah disetujui, ia ucapkan secara sederhana.Sungguh mantra ini adalah realisasi, tentang sesuatu, persetujuan”(Chandogya Upanisad I.1.8).

Mantram ini ditujukan untuk membimbing seseorang untuk mencapai realisasi tertinggi, mencapai kebebasan dari keterikatan, untuk mencapai Realitas Tertinggi (Brahman). Penggunaannya setiap mulai acara ritual, mulai dan mengakhiri mantra.

Sumber rujukan lainnya: Chandogya Upanisad, Mandhukya Upanisad, Tantra Tatva Prakasa, Tantra Sara, Bhagavadgita,dan lain-lain.

Namaste _/I\_

DEWATĀ (PENJELASAN )

Dedicated by: I W Sudarma
1. ŚIVA MAHĀDEVA

Om Namah Śivāya Śarvāya, Deva-devāyā vai namaḥ, Rudrāya Bhuvaneśāya, Śiva rūpāya vai namaḥ.

Oṁ Tvaṁ Śivas tvaṁ Mahādeva Īśvara Parameśvaraḥ, Brahmā Viṣṇuś ca Rudraś ca, Puruṣaḥ Prakṛtis tathā.

Oṁ Tvaṁ Kālas tvaṁ Yamo Mṛtyur  Varuṇas Kuberakaḥ, Indraḥ Sūryaḥ Śaśaṅkaś ca graha nakṣatra tarakaḥ.

Śivastava 1-3.

‘Om Hyang Vidhi, Hamba memuja-Mu sebagai Śiva, yang menganugrahkan kerahayuan dan keberuntungan, penguasa alam semesta, dewata dari para dewa, Rudra, yang menakutkan,Engkau dalam wujud-Mu yang maha pengasih, Śiva Mahādeva’.
‘Om Hyang Vidhi, Engkau adalah Śiva (yang menganugrahkan kerahayuan), Mahādeva (devatā yang tertinggi), Īśvara (maha kuasa), Parameśvara (penguasa hukum tertinggi), Brahmā (pencipta alam), Viṣṇu, Engkau adalah Puruṣa (kesadaran agung) dan Prakṛti (unsur kebendaan)’

‘Om Hyang Vidhi, Engkau adalah Kāla (penguasa waktu), Yama (pengendali hukum), Mṛtyur (kematian), Varuṇa (penguasa air/laut), Kubera (penguasa kekayaan), Indra (penguasa tertinggi kahyangan), Sūrya (penguasa matahari) Śaśaṅka (penguasa bulan), penguasa planet-planet dan bintang-bintang’ (more…)