spiritual


Om Swastyastu
Hand & Body Lotion sedemikian akrab dengan kehidupan harian kita, kita gunakan untuk melindungi diri kita dari hal-hal negatif dunia luar; dari sengatan sinar mentari, debu, gangguan binatang dan sebagainya, ia juga menjaga kelembutan kulit, sehingga kita akan tampak segar setiap saat. 

Demikian juga Nama Tuhan yang diucapkan setiap saat ibarat Lotion yang tidak saja melindungi kita dari negativitas dunia luar, tidak saja akan menghaluskan hidup kita, bukan saja akan membuat kita tetap segar, tenang, tapi lebih dari itu, mengucapkan, merenungkan Nama Tuhan akan membangkitkan kesadaran Diri Sejati kita, akan membawa kita semakin dekat dengan pulau Idaman bernama Santih. 

Om Namame Smaranam (Ya Tuhan, Ijinkan hamba untuk selalu mengidungkan namamMu)

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Bali, 04/05/2014

Advertisements

Om Swastyastu
Merasa paling Bertuhan…?? Inilah Setan Pikiran”.


Banyak pengkondisian di masyarakat dalam keadaan demikian. Mengaku bertuhan, tetapi sesungguhnya masih jauh sebagaimana dari yang dimaksudkan. Sifat Tuhan yang kita kenal adalah kasih dan sayang. Tetapi benarkah kita sudah memiliki sifat yang demikian?

Ketika seseorang masih saja menganggap bahwa miliknya adalah paling baik dan benar, ia belum memiliki sifat yang selama ini diberikan kepada Dia. Jika untuk membuka diri saja tidak mampu, bagaimana bisa berkembang. Kita lupa bahwa Tuhan terus berekspansi. Tuhan terus berkembang. Perhatikan alam semesta, setiap saat ditemukan planet atau bahkan galaksi baru. Tuhan tidak berada di suatu tempat. Jika tempat tersebut bisa di tempati oleh Tuhan, ia dapat dipastikan lebih kecil dari tempat tersebut.
Lucunya, mengaku bertuhan, tetapi ketika diajak untuk memahami bahwa semua utusan Tuhan benar, sedikit sekali orang berani menerima. 
Ketidakberanian untuk menerima berarti menutup diri terhadap perkembangan. Ketakutan untuk menerima kebenaran dari keyakinan dan kepercayaan lain sebagai bukti ketertutupan diri. Kondisi seperti ini tidak selaras dengan sifat Tuhan yang terus meluas.

Kita selalu saja menutup diri bila menganggap apa yang diyakininya paling baik. Banyak yang beragumentasi bahwa jika tidak menganggap paling baik, bagaimana kita bisa tetap pada jalan tersebut? Kita lupa bahwa tujuan keberadaan di bumi adalah menafikan ego. Membunuh pikiran. Selama ini kita selalu saja menganggap setan di luar diri. Kita lupa bahwa setan sesungguhnya ada di dalam benak kita sendiri. Pikiran yang penuh dengan keinginan untuk merasa paling baik, itulah setan.

Setan penghambat penyatuan diri dengan Tuhan. Kita lupa bahwa agama bukanlah tujuan. A – gama terdiri dari dua kata. ‘A’ berarti tidak. ‘Gama’ berarti perpecahan. Tujuan agama adalah penyatuan atau keterhubungan kembali dengan Tuhan. Tetapi apa yang terjadi? Ketika agama sudah dijadikan lembaga atau instansi, ego pun muncul. Lupa pada para nabi yang membawa pesan perdamaian. Segala sesuatu yang ada dalam agama merupakan pesan perdamaian dari para nabi. Sumber pengetahuan dari para nabi satu dan sama, Tuhan.

Pikiran kita yang nakal, selalu saja mangajak kita untuk menjauh dari Tuhan. Pikiran kita selalu saja memberontak ketika diajak untuk mengakui bahwa Dia yang mengirimkan utusan bagi berbagai bangsa dengan pesan yang satu dan sama. Kedamaian dan kasih bagi semua umat. Hanya dengan mengembangkan rasa lasih dalam diri bisa mendekati Tuhan.

Tanpa adanya pengembangan rasa kasih, tiada kemungkinan mendekati Dia Yang Maha Pengasih. Pengembangan ego dengan anggapan bahwa yang diyakininya paling benar justru semakin menjauhkan diri dari Sang Sumber Agung. Sumber kasih.

Betapa kerasnya hati manusia. Batu masih bisa berlubang oleh tetesan air. Hati yang tidak berbentuk materi jauh lebih keras dari batu yang paling keras. Semua ulah pikiran. Kita diperbudak setan pikiran. Ada pepatah yang indah:
‘Lebih mudah membangunkan orang yang benar-benar tidur daripada orang yang berpura-pura tidur’

Semua akibat perbudakan ego. Mengabdi pada kebenaran diri sendiri adalah tanda ego yang menguat. Inilah orang yang berpura-pura tidur. Kita telah membuat batas imajinasi sesuai dengan pikiran kita…Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma©

Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu DP)

Om Swastyastu

“Sraddhavan anasuyas ca,

srnuyad api ya narah,

so ‘pi muktah subhal lokhan,

prapnuyap punya karmanam”.



Artinya: 

“Orang yang mempunyai keyakinan dan tidak mencela, orang seperti itu walaupun hanya sekedar hanya mendengar, ia juga terbebas, mencapai dunia kebahagiaan manusia yang berbuat kebajikan”. (Bhagavadgita 18.71)

_________

Arjuna Menjadi Pendengar Baik Saat Shri Krishna Mewedarkan ajaran Dharma

Sloka ini memberi kita penjelasan bahwasanya siapa saja yang dengan keyakinan mantap yang telah ia miliki akan kebenaran Veda, kemudian ia tidak mencela ajaran Suci Veda yang telah disabdakan oleh Hyang Widhi. Walaupun kita tidak/belum menjadi orang ahli Veda dan cukup hanya baru bisa mendengarkan wejangan-wejangan Ajaran Veda, misalnya melalui dharma wacana, dharma tula dengan penuh kesungguhan dan rasa bhakti…kita sudah diberikan jaminan oleh Tuhan untuk bisa mencapai Pembebasan dari siklus samsara dan akan mencapai alam kebahagiaan (sukha tan pawali duhkha); karena mendengarkan penuh seksama dan bhakti wejangan-wejangan suci Veda merupakan perbuatan kebajikan yang uttama. Inilah salah satu lagi keluwesan dan keluasan Hindu, yang memberikan banyak pilihan kepada pemeluknya bisa mencapai kemahardikaan, yakni hanya cukup menjadi seorang Pendengar penuh Bhakti, dan tidak mencela dan meboya terhadap ajaran suci Veda.
Dari sini kita diajak untuk MAU meluangkan waktu menjadi pendengar yang budiman. Salah satu ajaran Nava Vida Bhakti adalah Sravanam (Mendengarkan wejangan dan ajaran suci Veda/Dharma/Kebenaran). Lewat Sravanam semua dosa khususnya dosa melalui indriya pendengarkan akan dibersihkan, dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang peka terhadap getaran-getaran kesucian. Dan dimampukan untuk memfilter hal-hal yang buruk.

Agastya Parwa
juga  mengingatkan kita bahwa: “Jika saat ini orang terlahir menjadi orang tuli dan bebal~itu disebabkan karena pada kelahirannya terdahulu selalu menutup telinga dan menjauh tatkala ada yang membicarakan dharma, namun selalu mendekatkan telinganya ketika ada orang yang bergunjing, menebar issue dan fitnah”.
Tentang keutamaan dari mendengar Vedanta juga menegaskan demikian: “Antara yang memperdengarkan dan mendengarkan ajaran Suci Veda akan mendapatkan Pahala Kebajikan yang sama”.

Mendengarkan Dalam Hening Suara KosmisNya

Untuk itu mari kita berusaha untuk menjadi pribadi-pribadi yang mau mendengar ajaran kebenaran; dan  mari jangan mencelanya~walaupun jika kebenaran itu disampaikan oleh mereka yang kita anggap hina sekalipun. 

Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

Bali, 19 Oktober 2016

Om Swastyastu

“The Root of Suffering is Attachment ~ Akar dari Penderitaan adalah Kemelekatan.” (Vedanta).

Pengertian Niskama adalah tidak serakah, tidak terikat, melepas, menghentikan, tidak melekat. 

Di Dalam pandangan benar, salah satu penyempurnaan pandangan benar adalah dengan mengikis keserakahan (lobha) yang merupakan akar dari semua kekotoran batin/pikiran. Pelatihan pikiran tanpa kemelekatan (niskama) ini berguna untuk membentuk pikiran tanpa keserakahan yang berulang-ulang, sehingga akan membentuk pandangan yang menghancurkan keserakahan (lobha).

Veda mengajarkan pelepasan atau penghentian kemelekatan. Mengapa harus menekan kemelekatan kita? Kalau kita menyadari kehidupan saat ini, setiap hari kita menjalani hidup dengan  dorongan keserakahan. Setiap saat, sesuatu yang berada di luar kita selalu menggoda. Iklan-iklan di televisi menawarkan berbagai macam barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita selalu memuaskan diri dan memanjakan diri di dalam kemelekatan. Sadar atau tidak sadar, sifat serakang dalam diri semakin melekat dan sulit dihilangkan. 

Keserakahan kita-lah yang telah mengancam bumi dengan kerusakan lingkungan. 

Keserakahan yang membuat seseorang melakukan korupsi. Kita harus menyadari bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab dari berbagai permasalahan di dunia.

Keserakahan terkadang kita samarkan sebagai kebutuhan. 

Kemelekatan terjadi karena pikiran senantiasa berusaha untuk menyamarkan keserakahan menjadi kebutuhan. Memang pada dasarnya kebutuhan juga mempunyai sifat ingin, karena bila tidak ingin bagaimana bisa didapat? Persoalannya bagaimana kita membedakan antara keinginan yang melekat dengan keinginan untuk kebutuhan. 

Berbicara mengenai makan, jelas adalah kebutuhan. Jadi keinginan makan untuk kebutuhan adalah wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan, namun kita perlu berhati-hati agar keinginan makan tidak menjadi keserakahan makan. Keserakahan makan biasanya terjadi ketika proses akan melakukan makan. Keinginan kita menjadi keserakahan tatkala hidangan yang tersaji lengkap dan banyak di depan mata. Keserakahan berwujud menjadi pengambilan makanan berlebih-lebihan. Sehingga yang terjadi adalah makanan sisa di piring atau selesai dengan perut kenyang.

Cara untuk menghentikan kemelekatan bukanlah dengan jalan menyiksa diri, memenuhi pikiran dengan rasa takut atau muak. Cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menekan masalah. Seperti memotong cabang-cabang dari suatu pohon yang akan kembali tumbuh ketika diberi pupuk (godaan). 

Yang diajarkan Veda melalui Astangga Yoga adalah suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap pikiran sendiri sehingga kita dapat langsung mencabut sampai ke akar-akarnya. Rsi Patanjali mengajarkan agar kita mengubah cara pandang kita. Didukung dengan renungan mendalam, kita akan menyadari bahwa apa yang selama ini kita pertahankan, suatu saat akan berubah. Suatu saat kita akan mengalami kematian juga. Lalu buat apa kita berusaha mempertahankan  keinginan yang tiada habis-habisnya dan terus melekat padanya?

Cara lain menekan kemelekatan adalah dengan menyadari bahwa dengan sesedikit mungkin keinginan (tidak serakah), kemelekatan kita akan semakin berkurang dan kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejati atau kedamaian (Moksa). 

Kedamaian bukan terletak di luar diri, namun pada pikiran dan perasaan sendiri. Kedamaian bukan didapat dengan memuaskan diri terus-menerus. Kedamaian akan didapat jika tidak ada rasa khawatir, takut maupun benci. 

Oleh karena itu, semakin sedikit keinginan semakin sedikit pula rasa khawatir atau takut untuk kehilangan karena pikiran tak melekat.

Semoga pemahaman singkat ini bermanfaat bagi kuasa kita untuk selalu berusaha melepaskan segala bentuk kemelekatan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

❤ I Wayan Sudarma ( Jero Mangku Danu)

KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD
Om Swastyastu

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” adalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih: Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya.

“Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” adalah bagian dari salah satu bait “Pupuh Kinanthi” dalam “Serat Witaradya” buah karya RN. Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan Raden Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.


Cermin memantulkan sesuai dengan Objeknya

PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG:

Selengkapnya “Pupuh Kinanthi” tersebut adalah sebagai berikut:

“Jagra angkara winangun;

Sudira marjayeng westhi;

Puwara kasub kawasa;

 Sastraning jro Wedha muni;

Sura dira jayaningrat;

 Lebur dening pangastuti”.


Pada baris ke-4 ada yang menulis: “Wasita jro wedha muni”

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Jagra: Bangun (dalam pengertian “melek”); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);  (2) Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam … ;Westhi: Marabahaya; (3) Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa;  (4) Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Weda: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara;  (5) Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad (6) Lebur: Hancur; Dening: Oleh;Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Arti bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Baris ke -1 s.d 3:

Menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. 

Sedangkan baris ke-4 s.d 6:

menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.

Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti”.

BEBERAPA KISAH:

1. Kisah Nyai Pamekas

Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang

Dengan tutur kata lembut dan “ulat sumeh” Nyai Pamekas berupaya menyadarkan Raden Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di”sirep” (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti Raden Citrasoma, tentu saja me”nyirep” orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan Raden Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan Raden Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Raden Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

2. Kisah Yudhistira  dan Candrabhirawa

Menjelang akhir perang Bharatayudha, Yudhistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabhirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bhima dan Arjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabbirawa berhadapan dengan Yudhistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabhirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabhirawa pun kembali ke tuannya

Kajian Makna: KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD

Kelembutan Menaklukkan Kekerasan

Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan“pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat”  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut:

“Ring janma di kang winangun;

Kumenyar wimbaning rawi;

Prabangkara dumipeng rat;

Menang kang sarwa dumadi; 

Ambek santa paramarta; 

 Puwara anyakrawati”.

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

(1) Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata;

(2) Kumenyar: Bercahaya; Wimba: Seperti; Rawi: matahari 

(3) Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad 

(4) Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua mahluk 

(5) Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana 

(6): Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki

Itulah “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”, yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke  “adigang, adigung, adiguna” Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini. Manggalamastu


Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)©

Om Swastyastu

“Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekedar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang.”

Om Santih Santih Santih Om
#MangkuDanuQoutes

image

TAKSU

Om Swastyastu
Akan semakin indah bila manusia bisa mengistirahatkan dirinya secara sempurna dalam kesadaran tanpa pikiran dualistik justru tatkala badannya masih hidup.

Sejak awal yang tidak berawal hingga akhir yang tidak berakhir, siang bergantian dengan malam, kebaikan saling menerangi dengan kejahatan, kesuksesan berpelukan dengan kegagalan.

Dalam bahasa tetua Bali: rwa bhinedane tampi. Bila terang cahaya pemahamannya seperti ini, tugas berikutnya hanya satu melaksanakan kasih sayang.

Dalam bahasa seorang Guru, kapan Ayah akasa (ruang, langit) memeluk lembut Ibu pertiwi, itulah pencerahan.

Maknanya, saat kesadaran yang sudah seluas ruang (bisa memberi tempat pada apa saja dan siapa saja), diisi kegiatan mengolah semuanya menjadi bunga (sebagaimana bumi), di sana muncul cahaya terang keagungan.

Meminjam nama sebuah Pura warisan tetua Bali di kawasan Batu Karu Tabanan, inilah Taksu Agung. Taksu adalah salah satu kausa kata dalam bahasa Bali yang sulit diterjemahkan. Ada karisma, wibawa, cahaya, namun tetap ada makna yang tidak terungkapkan. Dan karisma ini bukan sembarang karisma, tapi karisma yang dipeluk keagungan. Bukan keagungan yang diikuti keangkuhan, melainkan keagungan yang berintisarikan kasih sayang.

image

Bila sebagian pesan agama meletakkan kasih sayang sebagai perintah yang diharuskan, dalam Taksu Agung kasih sayang serupa air yang lembut, mirip bumi yang mengolah apa saja menjadi buah dan bunga. Sebagaimana air tidak bisa dipisahkan dengan kelembutan, Taksu Agung tidak bisa dipisahkan dengan kasih sayang. Sebagai hasilnya, apa saja boleh terjadi dalam kehidupan (termasuk berita menjadi mencerca, mencerca menjadi berita), tetapi secara alamiah semuanya diolah menjadi buah dan bunga kehidupan.

Rahajeng Rahinan Suci Tumpek Kuningan, Semoga Taksu Agung semakin tumbuh dalam kehidupan kita. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

♡ Jero Mangku Danu (I Wayan Sudarma)

Next Page »