Oleh I Made Titib

A Person must elevate themselves by their own mind,

not degrade themselves. The mind is the friend of conditioned soul,

and enemy as well. For one who has conquered the mind,

the mind is the best of friends; but for one who has failed to do so,

their very mind can be greatest enemy

Bhagavadgītā VI. 5-6

Non violence (ahimsa) is common to all religions,

But it has found hidgest expression and application in Hinduism

Mahatma Gandhi (1987 : 116)

  1. A. Pendahuluan

Menurut pandangan Hindu, baik-buruk kehidupan seseorang di dunia ini sangat tergantung pada karmavaśana itu. Karma atau perbuatan baik-buruk menurut ajaran agama Hindu, pahalanya dinikmati dalam tiga dimensi waktu, yang lalu, sekarang dan yang akan datang. Seseorang yang sadar untuk memperbaiki dirinya dengan berpegang teguh kepada ajaran dharma (agama) akan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya dan dapat mencapai moksa pada saat kehidupan ini (bhukti) atau pada akhir penjelmaan (mukti) atau pada penjelmaan selanjutnya, asalkan ia selalu melaksanakan ajaran dharma. Ajaran agama Hindu sangat menekankan umat-Nya untuk senantiasa berpegang kepada dharma sebab ajaran ini merupakan jalan keselamatan mutlak. Seseorang yang menyimpang dari pelaksanaan dharma dalam kehidupannya disebut sebagai sesuatu yang sia-sia menjelma menjadi manusia, seperti halnya orang yang sakit, pergi ke suatu tempat yang tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan karena di tempat itu tidak ada perawat, dokter atau dukun dan tersediannya obat-obatan.

Hidup dan kehidupan manusia adalah merupakan anugrah Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Menurut ajaran agama Hindu, manusia dan semua mahluk dihidupkan oleh ātman atau jīvātman (yang menjadikan sesuatunya hidup atau bernyawa). Jīvātman berasal dan merupakan percikan sinar suci Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu setiap umat manusia dituntut untuk memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya sehingga ātman atau jīvātmannya dapat bersatu kembali dengan paramātman atau Tuhan Yang Maha Esa.

Di dalam Manavadharmaśāstra atau Manusmrti (XII.105-106) dinyatakan : “Seseorang yang ingin memperoleh penyucian dharma (dharmaśuddhi) seharusnya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Hanya mereka yang menguasai tarka (kemampuan untuk menganalisis sesuatu) dan tidak bertentangan dengan Veda (Vedaśastra) dengan ajaran suci Veda, yang merupakan ajaran dharma yang diajarkan oleh para ŗşi, yang akan menguasai dharma, tidak yang lain”. Lebih jauh di dalam kitab yang sama (IV.175-176) juga dinyatakan : “Oleh karena itu seseorang hendaknya selalu terpuji, sebagai orang yang mulia, selalu suci hati …… Suatu perbuatan yang bila pada akhirnya tidak memberikan kebahagiaan dan sangat dikutuk di dunia ini (lokavikruşţa) bukanlah Dharma dan harus ditinggalkan”. Hal yang sama juga diungkapkan dalam Yajñavalkya Smŗti (VI.156).

Selanjutnya tentang penguasaan ajaran suci Veda, Śrī Kŗşņa di dalam Bhagavadgītā (XVI.24) menyatakan : “Oleh karena itu jadikanlah kitab suci menjadi pegangan hidupmu untuk menentukan yang harus dilakukan. Dengan mengetahui ajaran suci (Veda) tersebut, hendaknya engkau melakukan kegiatan kerja di dunia ini”. Kedudukan kitab suci Veda yang merupakan pegangan hidup yang harus ditaati, di dalam kitab Manavadharmaśāstra (II.6) dinyatakan bahwa seluruh isi kitab suci Veda (śruti) merupakan sumber tertinggi ajaran Dharma, kemudian kitab-kitab hukum (smŗti), teladan tingkah laku terpuji orang-orang suci (śīla), adat istiadat atau tradisi yang baik (ācara) dan kepuasan batin semua pihak (ātmanaşţuşţi) yang pada śloka yang lain disebut juga dengan istilah priyamātmanah (Manavadharmaśā II.12). Kātyāyana (yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama mahārşi Vararuci) dalam kitabnya Kātyāyanapariśişţapratijña (I.1) menyebutkan bahwa Veda meliputi kitab-kitab mantra dan brāhmana (mantra brāhmaņayor vedanām adheyam). Dalam Āpastambaśrauta-sūtra (24.1.31) disebutkan hal yang sama (mantrabrāhmanam veda ityācaksate). Demikian pula dalam Bhodhāyanagŗhyasūtra, 2.6.2 (mantrāścabrāhmananca vedah). Pendapat para rsi tersebut didukung pula oleh para rsi pengikut Mīmāmsaka, termasuk pula Śankarācāry. Pāņini (IV.2.66) seperti halnya Yāska dalam Nirukta (V.3.4 membedakan antara Nigama (chanda) dan Brāhmana. Swami Dayananda Sarasvati pendiri dari Arya Samaj menyatakan yang dimaksud Veda hanyalah kitab-kitab Samhitā, yakni Ŗgveda, Yajurveda, Sāmaveda dan Atharvaveda. Pendapat ini didukung oleh Śrī Aurobindo dan T.V. Kapali Sastry (Murty, 1993:1). Secara umum di samping kitab-kitab Samhitā, kitab-kitab Āraņyaka dan Upanisad juga disebut Veda.

  1. B. Pengertian Hidup dan Mahluk Hidup

Bila kita mengkaji pengertian hidup dan mahluk hidup, maka terlebih dahulu marilah kita pahami bahwa dalam ajaran agama Hindu dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan, di antaranya : brahman, ātman, prāna, karma, samsāra dan moksa yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut :

  1. Brahman. Disebut juga paramātman, viddhi (dalam bahasa Indonesia ditulis Widhi) dan sebutan lain ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya termasuk semua mahluk. Brahman sebagai pencipta alam semesta dinyatakan dalam kitab suci Veda diantaranya Rgveda X.19.3, X.90.1-16. dan lain-lain juga dalam kitab-kitab Upanisad seperti Taittrīya Upanisad, Svetāśvatara Upanisad, Aitareya Upanisad, Brahadāranyaka Upanisad, Chāndogya Upanisad dan sejenisnya, termasuk jug akitab Brahmasūtra, Bhagavadgītā, kitab-kitab Tattwa lainnya.
  2. Ātman. Merupakan bagian atau percikan dari sinar suci Brahman atau Paramātman, yakni ātman yang tertinggi (sebagai sumber hidup dan kehidupan) yang menghidupkan seluruh mahluk hidup. Setiap mahluk yang dinyatakan hidup kalau terdapat ātman yang menghidupkan mahluk itu. Bila ātman meninggalkan badan maka mahlukitu dinyatakan mati, karena yang menghidupkan mahluk telah lenyap dari badan. Badan mahluk disebut śarīra yang terdiri dari materi yang berasal dari panca tanmātra dan panca mahābhūta. Yang dimaksud panca tanmātra adalah lima unsur yang sangat halus (tidak dapat diukur) yang terdiri dari :śabda (unsur suara), sparśa (unsur sentuhan), rūpa (unsur panas), rasa (unsur air) dan gandha (unsur bau) dan panca mahābhūta adalah ākāśa (ether), vāyu (angin), teja (panas), apah (air) dan prathivī (tanah). Unsur-unsur panca tanmātra dan panca mahābhūta inilah yang membentuk alam semesta dan tubuh mahluk hidupyang terdiri dari empat jenis, yaitu yang lahir dari telur (andjah), yang lahir dari lendir (svedajah), yang lahir melalui kehamilan atau bersama ari-ari/kandungan (jarayujah) dan yang tumbuh dengan biji-bijian atau yang membelah diri (ubdijah). Ātman juga disebut nafas vital atau nafas hidup, karena secara sederhana dapat diamati setiap mahluk yang mati, nafas hidupnya terhenti.
  3. Prāna adalah energi atau panas yang menggerakkan mahluk hidup untuk tumbuh dan berkembang. Dalam susunan tubuh manusia, prāna merupakan lapisan tubuh kedua setelah badan kasar. Untuk jelasnya tentang susunan tubuh manusia terdiri dari lima lapisan, yaitu : (1) annamāyākosa, yaitu lapisan tubuh yang paling luar (disebut juga sthula śarira) terdiri dari sari-sari makanan yang berasal dari bumi. (2) Prānamāyākosa, yaitu lapisan tubuh yang lebih di dalam dari annamāyākosa, berupa prāna atau vayu, yakni panas atau energi tubuh yang terdiri dari sepuluh macam, yaitu prāna, energi yang terdapat pada rongga mulut dan hidung, apāna, energi yang menggerakkan anus dan kelamin, Samāna energi yang menggerakkan hati, udāna energi yang terdapat pada tulang tengkorak dan mendorong pertumbuhan bulu rambut, vyāna energi yang menggerakkan persendian, mendorong rasa marah dan umur tua, nāga energi yang menyebabkan muntah (mual), kūrma, energi yang menggerakkan mata (berkedip), kŗkara, energi yang menyebabkan bersin dan devadatta energi yang menyebabkan menguap (mulut terbuka). Prāna yang terakhir ini masih tetap tinggal pada mayat sampai mayat hancur. (3) Manomāyākosa, yaitu lapisan tubuh manusia berupa alam pikiran yang digunakan untuk mempertimbangkan baik dan buruk. Lapisan tubuh ini lebih dalam dari prānamāyākosa. (4) vijnānamāyākosa, yaitu lapisan tubuh yang lebih dalam dari manomāyākosa berupa intelek dan kecerdasan. (5) anandamāyākosa yaitu lapisan tubuh yang paling dalam yang membelenggu ātman, sumber hidup manusia, merupakan lapisan kebahagiaan, memancarkan kasih sayang dan kebahagiaan. Di samping lima seluibung atau lapisan tubuh yang membelenggu ātman yang disebut juga śarīra, kdang-kadang lima badan ini disederhanakan dalam 3 bagian, yaitu sthula śarīra yakni badan kasar (terdiri dari annamāyākosa dan prānamāyākosa), suksma śarīra atau badan halus (gaib) terdiri dari manomāyākosa, vijnānamāyākosa dan anandamāyākosa, serta antahkārana śarīra yaitu ātman sebagai sumber hidup mahluk.
  4. Karma artinya perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau mahluk (dengan kesadaran atau tanpa disadari) berupa perbuatan baik atau buruk, salah dan benar dan semuanya itu memberikan pahala yang baik berupa kebahagiaan atau sorga dan bahkan moksa sedang karma yang buruk menjadikan seseorang memperoleh penderitaan bahkan neraka di dunia atau di akhirat nanti. Pahala atau akibat perbuatan baik dan buruk dibedakan dalam 3 dimensi waktu. Yaitu (1) prarabdha , pahala perbuatan yang diperoleh dalam hidup ini sebagai hasil perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan ini. Karma yang dilakukan kini dan hasilnya langsung dinikmati dalam penjelmaannya kini, (2) śancita yaitu karma yang dilakukan sekarang, tetapi hasilnya akan diterima nanti yakni pada penjelmaan yang akan datang, baik atau buruk, akan menyenangkan atau menyusahkan, (3) āgamin atau kriyamana yaitu karma yang dilakukan sekarang, pahala diperolehnya nanti, baik setelah penjelmaannya kini atau sesudahnya.

Konsekuensi dari ajaran karma adalah keyakinan terhadap penjelmaan kembali atau samsara.

  1. Samsāra disebut juga punarjanma atau punarbhava yang artinya menjelma kembali. Adapun yang menyebabkan penjelmaan kembali ini adalah pahala dari belenggu karma. Bila mereka melakukan perbuatan baik, melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya, maka tali karma akan putus dan umat manusia dalam wujud ātman akan bersatu dengan paramātman, brahman atau Tuhan Yang Maha esa yang disebut moksa, laksana air sungai bertemu kembali dengan asalnya yakni air laut. Ātman yang telah menghidupkan dan tinggal dalam mahluk disebut Jīvātman atau secara singkat disebut jīva, artinya “yang hidup”. Bila Ātman belum mencapai moksa dan sudah meninggalkan badannya (hanya memakai badan gaib) dan menikmati pahala perbuatannya, baik atau buruk disebut preta. Ātman yang dibungkus suksma śarīra berupa sisa-sisa perbuatan (karmavaśana) menjelma kembali berulang-ulang di beberapa tempat dengan mengambil berbagai tubuh, sesuai dengan hasil karmanya, memilih tubuh yang kasar atau halus. Nampak keadaannya berbeda-beda antara mahluk yang satu yang sangat sederhana atau mengambil tubuh yang lebih sempurna seprti halnya tubuh manusia.
  2. Moksa berarti kebebasan, bebas dari ikatan keduniawian dan individualistis, kepicikan dan keterbatasan. Moksa merupakan hasil dari berkembangnya kasih sayang dan kebebasan, bebas dari ikatan avidyā. Avidyā berarti ikatan, kegelapan dan kebodohan. Jadi vidyā berarti moksa. Seseorang yang mencapai moksa memliki pengetahuan tentang ātman dan brahman dan dengan pengetahuan itu, ātman pada dirinya dapat bersatu dengan brahman. Setelah mencapai lautan air sungai itu menyatu dengan air laut dan ia menjadi air lautan. Seorang yang mencapai brahman menjadi brahman. Moksa merupakan kebahagiaan sejati dan tujuan tertinggi ajaran agama Hindu. Seseorang yang mencapai moksa berhasil memutuskan ikatan karama (perbuatan baik-buruk) dan lingkaran penjelmaan.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, yang dimaksud dengan hidup adalah terbelenggunya ātman dalam tubuh mahluk, sedang yang dimaksud dengan mahluk hidup adalah manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia memiliki 3 pramana (tri pramana/tiga kekuatan): bayu (tenaga), śabda (kemampuan berbicara/bersuara), dan idep (kemampuan berpikir), binatang hanya memilik bayu dan śabda, dan tumbuh-tumbuhan hanya memiliki bayu, yakni tenaga untuk tumbuh dan berkembang tanpa insting. Ātman yang terbelenggu itu disebut jiva (dibaca jiwa dalam bahasa Indonesia). Kata jiva berasal dari urat kata jiv yang artinya hidup, jiva berarti yang menghidupkan, sedang kehidupan berarti gerak aktivitas tubuh selama selama jiva masih tinggal di dalam badan, maka badan berfungsi sebagaimana mestinya.

Ajaran agama Hindu memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, khususnya untuk menjelma sebagai manusia., mahluk yang paling sempurna dibanding mahluk hidup yang lain. Kelebihan manusia, karena manusia memiliki kemampuan berpikir, mampu membedakan yang baik dan buruk, salah dan benar dan dengan keyakinan agama, mereka dapat melepaskan ikatan yang membelenggu dirinya untuk mencapai moksa dengan jalan berbuat baik, oleh karena itu Hindu memandang penjelmaan manusia penuh arti dan sangat bermanfaat bila dengan kesadarannya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidupnya.

  1. C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Dalam dasar warsa terakhir hingga dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Berbagai temuan telah diumumkan, IPTEK ibarat pisau bermata dua, di satu pihak sangat diharapkan manfaatnya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan, meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Dengan IPTEK yang semakin canggih harapan untuk memperbaiki mutu hidup dan kehidupan menjadi kenyataan. Namun sebaliknya akibat dari kemajuan IPTEK yang demikian pesat, menimbulkan pula kekhawatiran dari dampak negatif yang diakibatkannya. Dampak negatifnya justru sangat mencemaskan dengan temuan-temuan modern, termasuk lubang ozon semakin lebar, pemanasan global, tidak adanya batas-batas budaya, berkembangnya pemikiran filsafat hedonisme yang berorientasi pada kenikmatan duniawi (Material and Pleasure Oriented), sistem klon, rekayasa genetika dan lain-lain yang memerlukan pengkajian yang mendalam terhadap berbagai aspek.

Hindu Dharma memandang bahwa setiap orang hendaknya meningkatkan dirinya dengan memperdalam ilmu pengetahuan. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dapat menganalisa dengan tajam segala sesuatu yang dihadapi melalui kekuatan intelek yang dimilikinya. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan ketajaman intelek atau kecerdasan diamanatkan dalam kitab suci Veda (Rgveda VIII.35.16), demikian pula mengasah ketajaman intelek bagaikan memiliki mata ketiga (Rgveda X.56.1). Atas dasar sabda Tuhan Yang Maha Esa inilah, merupakan kewajiban bagi umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia.

Dalam kitab suci Veda, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai Dewi Sarasvatī, yakni dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang menganugrahkan kesejahteraan (material) dan kebahagiaan (spiritual). Untuk itu pengembangan ilmu pengetahuan dan juga teknologi hendaknya kedua hal ini tidak mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, moral, etika dan spiritual. Penggambaran Dewi Sarasvatī sebagai seorang dewi yang sangat cantik, berkulit putih dan busana putih mulus melambangkan bahwa hakekat ilmu pengetahuan adalah untuk kesucian. Tangan Dewi Sarasvatī berjumlah 4 menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bersumber pada kitab Catur Veda (empat kitab suci Veda) yang juga melambangkan kemahakuasaan-Nya. Tuhan Yang Maha Esa melalui ciptaan-Nya adalah sumber ilmu pengetahuan (dilambangkan dengan keropak/pustaka atau lontar), pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui konsentrasi dan analisa yang mendalam (dilambangkan dengan tasbih), mereka yang memiliki pengetahuan yang tinggi hakekatnya juga seorang seniman (dilambangkan dengan Vina atau gitar yang dipegang oleh Dewi Sarasvatī), bunga teratai yang dipegang oleh Sarasvatī melambangkan kesucian atau hakekat ilmu pengetahuan adalah untuk menyucikan moral, etika dan spiritual umat manusia dan seekor angsa yang dipakai wahana dewi Sarasvatī melambangkan Vivekajnāna, yakni kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang dan mendayagunakan ilmu pengetahuan setinggi-tingginya untuk diabdikan kepada keluhuran hidup manusia. Seekor merak yang selalu dekat di bawah kaki Dewi Sarasvatī menunjukkan egoisma, kecongkakan, keangkuhan, dan sejenisnya yang dimiliki ilmuwan hendaknya ditekan oleh dewi kebijaksanaan. Jadi seorang ilmuwan tidak takabur dan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dengan menghancurkan kehidupan oang lain.

Dalam kaitannya dengan keanekaragaman hayati, kitab suci Veda memandang bahwa pada setiap hayati terdapat jiwa yang menghidupkan hayati atau mahluk tersebut baik yang terlihat oleh mata maupun tidak nampa (Atharvaveda I.32.1). Sinar matahari membrikan energi kepada setiap mahluk, khususnya tumbuh-tumbuhan untuk berbuah, berkembang atau berbiak (Yajurveda VI.2). Kitab suci Veda memandang terciptanya alam semesta adalah atas dasar Yajña, oleh karena itu dengan Yajña pula mahluk hendaknya hidup dan berkembang biak dan menjadikan alam semesta ini sebagai lembu perahan untuk memperoleh air susunya. Di dalam Yajurveda XXIII.62 dinyatakan: Ayam yajno bhuvanasya nabhih, yajna adalah pusat terciptanya alam semesta.

Kata Yajña dalam bahasa Sanskerta berarti pengorbanan yang tulus dan iklas dan Yajña juga berarti cinta kasih. Penciptaan adalah karya spiritual dari Tuhan Yang Maha Esa, yang Absolut (Aksara) sebagai Līla atau Krida-Nya, untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Selanjutnya dalam Atharvaveda XX.1.1. kita jumpai penjelasan yang menyatakan bahwa Yajña, disamping kebenaran, hukum abadi yang ditegakkan-Nya, penyucian, pengendalian diri dan doa, sedang di dalam Bhagavadgītā ditegaskan :

“kecuali untuk tujuan Yajña, kehidupan ini dibelenggu oleh

hukum karma, Wahai Arjuna, karena itu bekerjalah

demi Yajña tanpa kepentingan pribadi “

“Pada jaman dahulu, Tuhan Yang Maha Esa (disebut Prajapati)

menciptakan alam semesta dan segala isinya serta bersabda :

“ Wahai mahluk hidup, dengan Yajña ini engkau berkembang

biak peliharalah alam semesta ini menjadi sapi perahanmu”

(Bhagavadgītā III.9-10)

Berdasarkan uraian diatas, bila dicermati, maka nampaklah hubungan yang erat antara Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta dengan segala isinya termasuk pula beraneka jenis mahluk hidup, dari yang sangat sederhana (satu sel), tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia merupakan ciptaan yang sangat dikasihi-Nya. Hubungan yang erat antara manusia, Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta ini diikat oleh tali yajna-Nya, oleh karena itu pula, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup mahluk termasuk umat manusia dan kelestarian alam lingkungan serta segala isi alam semesta tidak terlepas dari ikatan yajna dan tentunya pula merupakan kewajiban bagi umat manusia (sebagai mahluk yang paling sempurna) untuk melaksanakan yajna kepada-Nya dan kepada segala ciptaan-Nya.

Bila kita memahami hakekat dari setiap Yajña yang dilakukan, maka sebenarnya cinta kasih adalah landasan dari kelangsungan hidup umat manusia dan seluruh mahluk hidup lainnya di alam semesta ini. Kitab Suci Veda mengamanatkan hendaknya setiap orang membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, para Dewa dan alam semesta termasuk seluruh mahluk hidup (hayati) dan jasad renik penghuni alam ini (Yajurveda XXXVI.17). Atas dasar keyakinan ini, agama Hindu memandang bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dari yang sederhana sampai yang tinggi, hendaknya tetap memelihara kelestarian alam semesta dan mahluk hidup di dalamnya, oleh karena itu sangat tepat Soeryo Adiwibowo dkk. Dalam tulisannya Bioteknologi dan Dampaknya terhadap Sosial Ekonomi dan Etika, bahwa sudah saatnya ilmu pengetahuan tidak bebas moral dan etika (1995:33). Jadi menurut hemat kami sebagaimana telah kami sebutkan di ats, bahwa ilmu pengetahuan akan mempunyai makna apabila senantiasa berlandaskan ajaran moral, etika dan spiritual. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi tidak terlepas dari frame ajaran moral, etika dan spiritual.

  1. D. Rekayasa Genetika, Kloning, Transplantasi dan Implikasinya pada berbagai Aspek Kehidupan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sangat maju dan akan terus maju, namun kemajuan ilmu ppengetahuan dan teknologi khusunya rekayasa genetika dan impilikasinya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia memerlukan pengkajian yang mendalam. Berbagai pertanyaan dapat dimunculkan terutama yang menyangkut ajaran moral, etika dan spiritual terhadap kemajuan IPTEK pada bidang ini. Apakah kemajuan IPTEK khususnya rekayasa genetika tidak bertentangan dengan ajaran moral, etika dan spiritual? Bagaiman dampak kehidupan sosial, ekonomi, hukum dan berbagai aspek kehiduapn manusia?

Agama Hindu memandang bahwa kehidupan setiap mahluk tergantung dari karma-nya masing-masing. Apakah seseorang akan menjelma kembali sebagai manusia atau sebalinya jatuh sebagai binatang, tumbuh-tumbuhan atau jasad renik tergantungdari karmanyamasing-masing. Di antara berbagai penjelmaan itu, menjelma sebagai manusia adalah kesempatan emas, kesempatan yang terbaik, oleh karena hanya manusialah yang dapat memperbaiki dirinya dengan jalan berbuat baik, melaksanakan sepenuhnya ajaran agama, atau dharma sesuai dengan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing.

Rekayasa genetika adalah suatu usaha para pakar genetika mengeluarkan sebua gen tunggaldari sel suatu spesies mahluk hidup dan memasukkannya ke dalam sel-sel spesies lainnya (Khonphalindo, 1995:6). Rekayasa genetika dapat dikatakan merupakan “The Ultimate Technology” dari manusia dalam mengendalikan kekuatan alam yang belum pernah dicapi dalam sejarah umat manusia (Ibid : 30). Selanjutnya tentang “kloning” berarti ‘tunas’, ‘ranting’ dan diperluas sampai arti ‘cangkokan’ atau ranting baru yang dicangkok dalam batang pohon’. Di dalam biologi, kloning (kloning) sekarang dimengerti sebagai “the techinique of producing a genitically identical duplicate of an organism by replacing nucleus of an unfertilized ovum with the nucleus of a body cell from organism’. Penjelasan ini memang sesuai dengan prosedur yang ditempuh Ian Wilmut untuk menghasilkan klon domba Dolly (Februari 1997). Tetapi transfer inti sel tidak selalu diperlukan untuk melakukan kloning, karena itu dalam buku The Human Embryonic Stem Cell Edebate (Glossary) para editor memberi penjelasan lebih luas ‘production of precise genetic copy of molecule (including DNA), cell, tissue, plant or animal’. Yang dimaksud dengan ‘klon’ adalah prosedur kloning ini. Jadi, klon adalah copy secara genetis identik dari sebuah gen, molekul, sel atau organisme. Kini sering dibedakan anatar kloning reproduktif dan kloning terapeutik. Kloning reproduktif menghasilkan organisme baru (tumbuhan, hewan dan manusia) yang menjadi copy genetis dari sel yang sudah ada. Kloning terapeutik (juga disebut “kloning eksperimental”) menghasilkan copy genetis dengan maksud menyelidiki kemungkinan terapi baru bagi penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya. Jadi perbedaan antara kedua macam kloning ini ditentukan dari tujuannya (Bertens, 2003:97)

Rifkin (1993) menyatakan : “pakar bioteknologi kini telah berperan sebagai Tuhan” (Hartoko,10). Pernyataan ini tentu membuat terkesimanya setiap orang terlebih lagi mereka yang tidak kuat imannya. Bila manusia bertindak melampaui kuasa Tuhan Yang Maha Esa, sejarah telah membuktikan bahwa konsekuensi pandangan dan tindakan yang demikian berakibat kehancuran peradaban umat manusia. Kuasa Tuhan Yang Maha Esa menunjukkan kepada kita dimana pun umat manusia tidak mampu mengendalikan dirinya, disana akan terjadi kehancuran moral, etika, dan spiritual yang di dalam Hindu dinyatakan dalam kehancuran dharma oleh adharma. Namun Tuhan yang Maha Esa senantiasa memberikan perlindungan bagi umat-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Bhagavadgita IV.7 sebagai berikut :

Kapan saja dan dimana saja pelaksanaan Dharma merosot

dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela,

pada waktu itulah Aku turun menjelma, wahai putra keluarga Bharata

Berdasarkan kutipan diatas, maka bila mana tingkat kejahatan semakin kuat dan proses kehancuran moral, etika dan spiritual semakin keras, maka Tuhan Yang Maha Esa akan menunjukkan kekuasaan-Nya menyelamatkan manusia. Bila ajaran moral, etika, spiritual yang berasal dari ajaran agama (dharma) yang hakekatnya adalah sabda Tuhan Yang Maha Esa dilanggar oleh umat-Nya, maka Tuhan Yang Maha Esa akan senantiasa mengambil langkah untuk menyelamatkannya. Langkah-langkah itu dapat berupa kehancuran yang akan mengingatkan kesalahan umat-Nya dalam bertindak dan berbuat. Segala sesuatu tidak terlepas dari proses penciptaan, kelangsungan dan kehancuran. Ketiga proses ini secara sederhana digambarkan sebagai lahir, hidup dan mati yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap sel maupun oleh setiap organisme. Ketiga proses ini di dalam Hindu disebut trikona : utpati, sthiti, pralaya, yang sesungguhnya merupakan nafas brahman, Tuhan Yang Maha Agung.

Berdasarkan berbagai sumber, data dan informasi bahwa rekayasa genetika akan berimplikasi pada berbagai aspek kehidupan manusia baik berdampak positif maupun negatif. Bila benar-benar bahwa rekayasa genetika berdampak positif bagi hidup dan kehidupan manusia dan pelestarian alam termasuk juga keanekaragaman hayati, maka rekayasa genetika itu dapat dikembangkan terus, tetapi bila ternyata berdampak negatif, tentu segera dihentikan dan jangan membiarkan sampai korban keanekaragaman hayati semakin bertambah ataupun musnah sama sekali dari alam semesta ini. Bila kehancuran hayati terjadi, maka sabda Tuhan di dalam veda menyatakan kekuasaan-Nya, sebagai berikut :

“ Aku bentangkan busur untuk kelestarian alam semesta,

oleh karena itu anak panah-Ku akan menghancurkan kekuatan jahat.

Aku bangkitkan kesadaran di hati umat manusia untuk memerangi kejahatan.

Aku meresapi bumi dan langit. Tidak seorang pun melanggar

hukum-hukumKu yang abadi” (Rgveda X.125.6)

Dari sudut padang Hindu , segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran moral, etika, dan spiritual akan menghancurkan diri dan peradaban manusia, demikian pula kita kaji implikasi rekayasa genetika, kloning dan transplantasi dalam kaitannya dengan ajaran agama Hindu, tentu dalam beberapa hal bertentangan dengan ajaran agama Hindu., misalnya memasukkan gen manusia pada tumbuih-tumbuhan dan binatang, sedang tumbuh-tuymbuhan nantinya akan dikonsumsi oleh manusia. Maka paling tidak perasaan mereka yang berimana akan tersinggung karena mereka memandang akan mengkonsumsi gen manusia., walaupun secara ilmiah gen-gen manusia unsur-unsurnya sama saja dengan gen-gen tumbuh-tumbuhan dan binatang. Demikian pula akan menimbulkan kekeewaan yang sangat mendalam bagi umat Hindu yang berpantang makan makanann yang berasal dari hewan (binatang), yakni kehidupan vegetarian yang umumnya dilakukan oleh orang-orang suci seperti sanyasin, sadhu, yogi, pandita atau rohaniwan lainnya. Sangat berdosalah mereka apabila produk makanan yang dijual tanpa isi label tentang asal usul unsur-unsur makanan itu apakah nabati atau hewani. Kita masih ingat terhadapa kasus lemak babi yang muncul di Surabaya dan Bandung beberapa tahun silam, yang bila tidak ditangani dengan bijaksana oleh pemerintah akan menjurus kepada masalah SARA yang dapat mengancam kehidupan, berbangsa dan bernegara. Untuk itu peranana dant tanggung jawab moral, etika, dan spiritual cendikiawan, usahawan dan birokrat (negarawan) sangat menentukan.

  1. E. Permasalahan yang Timbul dari Penerapan Rekayasa Genetika, Kloning, Transplantasi dan Pemecahannya

Teknologi rekayasa genetika sudah demikian maju. Berbagai penemuan telah diujicobakan dan akan terus dilakukan. Beraneka ragam permasalahan yang timbul dari penerapan rekayasa genetika menghadang di depan kita. Di antara berbagai permasalahan itu ada yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan ajaran agama, di antaranya adalah masalah penyisipan atau trasnfer gen manusia pada tumbuhan dan hewan atau sebaliknya. Meningat penyisipan gen manusia pada tumbuh-tumbuhan atau hewan yang akan dikonsumsi manusia, maka hal ini akan merupakan masalah yang besar, sebab secara tidak langsung dipandang mengkonsumsi daging manusia yang disisipkan pada tumbuhan dan hewan tersebut dan bila dugaan ini benar, maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Ia akan menjadi raksasa pemakan manusia atau kanibalisme. Fenomena ini jelas sebuah dehumanisasi. Permasalahan lainnya adalah sistem cangkok, tempel, gunting dan menyisipkan gen dari satu organisme ke organisme lain, mengkloning dan sejenisnya yang akan menciptakan mahluk hidup baru dan bila mahlukitu lahir tidak terkendalikan hidupnya, ia akan menjadi musuh yang besar bagi umat manusia.

Di dalam kitab suci Veda dapat ditemukan tentang dewa Aśvina (dibaca Aśvin), devata kembar, yang sangat tampan dan selalu awet muda (Rgveda VII.67.10/Taittriya Samhita VII.2.7.2) bahkan dewa termuda di antara semua dewa-dewa dalam Veda. Mereka keduanya disebut dokter ke-devatā-an, atau dokter khayangan (divine physicians (Rgveda VIII.22.10 dan yang lain), yang memberi pengobatan terhadap penyakit, memperbaiki penglihatan seseorang (Rgveda I.116.16), menyembuhkan seseorang buta, sakit dan mengembalikan mereka yang cacat menjadi normal (Rgveda X.39.3). Mereka merupakan dokter khayangan, penjaga keabadian, yang menjauhkan kematian bagi pemujanya. Disebut sebagai penolong yang sangat cepat dan membebaskan para dari penderitaan pada umumnya (Rgveda I.112.2, I.118.3). Dewa Aśvin menyelamatkan dari keadaan yang membahayakan, merupakan satu wujud devata yang memberikan kedamaian disebutkan dalam Gopatha Brāhmana Uttarabhāga (II.6). Cukup banyak legenda yang menggambarkan kemampuan untuk membantu para dewa di khayangan ditunjukkan dalam kitab suci Rgveda. Rsi Cyavāna, ketika umurnya bertambah tua dan kehausan di padang gurun, dewa Aśvin memberi pertolongan, menghindarkan dari kekeringan, memperpanjanbg umuryang bersangkutan dan bahkan memulihkannya kembali menjadi awet muda dan memenuhi keinginannya untuk bertemu istrinya dan bahkan menjadi suami bagi istri yang juga kembali muda (Rgveda I.116.10). Cerita lebih mendetail tentang bagaimana rsi Cyavāna dikembalikan menjadi muda oleh dewa Aśvin disebutkan dalam kitab Satapatha Brāhmana (IV.1.5). Aśvin juga memperbaharui dan mengembalikannya menjadi muda Kali yang sudah semakin tua (Rgveda X.39.8) dan menjadikan sahabatnya serta mencarikan gadis sebagai istrinya. Mereka berdua memperbaiki wajah Visnāpu, yang nampaknya bagaikan binatang terlantar, juga memperbaiki penglihatan penyembahnya bernama Viśvaka, putra Krsna (Rgveda I.116.23, I.117.20, X.65.12), yang menurut para komentator Vedan adalah ayahnya sendiri. Mereka menyelamatkan rsi Atri Saptavadhri yang bersama pengikutnya tercebur ke dalam nyala api dalam sebuah jambangan besar karena tipu muslihat seorang raksasa. Mereka mengambilnya, dan memberikkan kesejukan, menyegarkan tubuhnya dari kebakaran, melindungi tubuh yang terbakar, akhirnya membebaskannya dari penderitaan dan mengembalikannya menjadi muda dan kuat. Aśvin juga memperbaiki penglihatan Rijjrāśva uang buta karena siksaan ayahnya (Rgveda I.116.16, I.117.17-18). Mereka juga menyembuhkan kerusakan dan kebutaan mata serta ratapan Parāvrj (Rgveda I.112.8). Ketika kaki Viśpalā (seorang komandan tempur) dipatahkan dan potongan kakinya terlempar seperti terbangnya kedua sayap burung, dewa Aśvin mengganti kakinya dengan kaki dari besi, sehingga pasukan tetap maju di bawah perintahnya (I.116.15). Menurut pendapat Bergaigne dan sarjana lainnya, berbagai keajaiban dan mujizat yang ditunjukkan oleh dewa Aśvin adalah perwujuadan dari antripmorphic dari gejala matahari dan sinarnya (Macdonell, 1981:50-51). Pendapat tentunya dapat diterima, karena Aśvin adalah salah satu aspek ata abhisekanāma dari dewa Surya,namun dalam kaitannya dengan topik makalah ini, paling tidak zaman Veda atau ketika Veda dituliskan kembali, sudah terdapat informasi berbagai hal tentang pengobatan, operasi pergantian kaki, dan kemungkinan transplantasi sudah juga dilaksanakan.

Lebih jauh tentang dewa Aśvin, kitab Mahābhārata, Sabhaparva (81.14) menyebutkan bahwa dewa ini memberikan anugrah kebaikan hati dan ketampanan/kecantikan kepada para penyembahnya bilamana mereka bersedia mandi sekali saja pada Aśvinda-tirtha. Upamanyu, yang jatuh ke sumur dan menjadi buta, dapat kembali normal dengan memuja dewa Aśvin (Mahābhārata, Adiparva, 3). Banyak lagi peranan dewa Aśvin dalam kitab Mahābhārata, demikian pula hal yang sama dapat ditemukan di dalam kitab-kitab Purana.

Di dalam mitologi Hindu kita temukan berbagai cerita tentang mahluk baru yang diciptakan oleh dewa-dewa. Di antara mahluk ciptaan baru tersebut adalah Ganeśa, devatā berbadan manusia berkepala gajahyang kelahirannya diuraikan dalam berbagai versi, utamanya menurut kitab-kitab Purana, termasuk pula kitab Uttara Rāmāyana. Dari berbagai versi cerita kelahiran Ganeśa terdapat versi transplantasi, yakni ketika kepala dewa Ganeśa yang semula berwujud manusia, kemudian dipenggal dan disambungkan dengan kepala gajah (Titib, 2003: 337-352). Demikian pula halnya Hayagriva, devata berbadan manusia berkepala kuda (Titib, 2003: 69).

Di dalam Kālatattwa (cerita kelahiran Bhattara Kala), pada suatu hari dewa Siva bercengkerama di angkasa bersama saktinya dewiUmā, tanpa disadari oleh dewa Siva, spermanya jatuh ke laut dan di dalam laut ternyata benih dewa Siva berubah wujud menjadi Bhttara Kāla, yakni monster laut yang sangat mengerikan. Kemudian monster ini terbang ke angkasa dan bahkan ke sorga mengejar para dewa yang tunggang langgang berlarian. Monster ini mengamuk di sorga dan menghancurkan sorga. Syuikur situasi itu dapat diatasi oleh dewa Siva shingga Kāla dapat ditundukkan.

Versi yang hampir sama dengan kekawin Bhomāntaka yang menguraikan raksasa (monster) bernama Bhoma lahir karena perkawinan Visnu yang berwujud babi dengan dewi Prthivi (Pertivi). Akibat perkawinan yang tidak normal ini lahirtlah monster raksasa yang sangat menakutkan yang kemudian menghancurkan bumi dan sorga. Syukur Bhoma dapat dibunuh oleh Sri Krsna. Episode ceritra-cerita tentang monster banyak diketemukan dalam kitab-kitab Purana, yakni cerita-cerita keagamaan kuno. Di India versi lainnya adalah lahirnya Ganeśa, manusia berkepala gajah yang bijaksana dan menolong para dewa dari serangan raksasa bernama Nilarudraka. Monster lainnya adalah kirttiomukha, raksasa yang muncul atas kemarahan dewa Siva (Padma Puaran, Uttarakhanda 50/Mani, 1989:412). Demikian pula halnya Sikhandi yang berubah kelamin menjadi laki-laki (Mani, 1989:28), Yayāti menjadi muda kembali (Mani, 1989:897) dan lain-lain.

Demikian pula kelahiran 100 putra Kaurava pada hari bersamaan yang sebelumnya muncul berupa gumpalan daging dari perut dewi Gandhari dan gumpalan itu pecah menjadi seratu pacahan besar dan kecil-kecil dan atas nasehat mahārsi Vyāsa gumpalan daging itu diperam dengan minyak susu, dimasukkan masing-masing ke dalam 100 buah belanga, ditempatkan pada tempat yang tertutup dan diperciki degan ari dingin dari gumpalan daging tersebut. (Mahābhārata, Adiparva 114.20). Peristiwa ini mengingatkan kita dengan teknologi kloning yang berkembang dewasa ini, dan akibat yang ditimbulkan oleh 100 putra Kaurava adalah kerajaan Hastinapura hancur berantakan karena terjadinya perang Bharatayuddha, yang diawali oleh sifat dan keserakahan 100 Kaurava tersebut.

Rupanya rekayasa genetika yang dilakukan oleh para dewa (cendekiawan) apalagi tidak dilandasi dengan niat yang suci dapat menghancurkan kehidupan seluruh mahluk di jagat raya ini. Bila pakar bioteknologi ternyata menciptakan organisme-organisme yang membahayakan dunia, maka cerita-cerita mitologi Hindu ini tidaklah fiksi belaka, melainkan adalah kenyataan.

Permasalahan lainnya adalah bayi klon yang juga direkayasa tanpa melalui lembaga perkawinan yang sah atau dibenarkan menurut ajaran agama. Bayi-bayi yang lahir ini tentunya akan menimbulkan permasalahan tentang status hukumnyadan hal-hal lebih mengerikan bila pada diri anak-anak itu dimasuki roh-roh raksasa yang tentunya akan sulit dikendalikan. Permasalahan yang ditimbulkan oleh dampak negatif bioteknologi lainnya adalah organisme baru hasil rekayasa juga akan mengacam organisme yang telah eksis sebelumnya di muka bumi ini. Lenyapnya sumber hayati di bumi ini atas ulah manusia, juga merupakan dosa besar karena telah menghancurkan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Segala ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya tidak merugikan bagi diri manusia jika dikaji lebih jauh dan mendalam.

Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana kemampuan para pakar bioteknologi merekayasa segala sesuatunya itu benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia tanpa mengorbankan mahluk hidup yang lain. Adapun kunci permasalahan dapat disederhanakan adalah para pakar bioteknologi hendaknya senantiasa berpegang kepada ajaran moral, etika dan spiritual sebagai pengejawantahan dari ajaran agama. Bila para pakar telah berpegang kepada kaidah-kaidah moral, etika dan spiritual, tentu mereka tidak akan bertindak sewenang-wenang, bertanggung jawab, tidak merugikan kehidupan manusia atau bahkan mahluk lain sekalipun. Pakar yang demikian disebut sebagai pakar yang arif dan bijaksana yang mempertanggungjawabkan karyanya tidak saja kepada umat manusia, tetapi lebih tinggi dari itu yakni kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. F. Paten pada Bentuk-Bentuk Kehidupan

Paten adalah bentuk penghargaan terhadapa hak milik intelektual (HMI) atau Intelectual Property Right (IPR) yang dalam beberapa hal bertentangan dengan konsep nilai-nilai dalam banyak kebudayaan yang menghormati nilai intrinsik mahluk hidup dan bertentangan dengan hak masyarakat untuk menggunakan dan mengembangkan daya tradisional mereka (Irwan Julianto, 1995). Berdasarkan pengertian ini maka hak paten sepertinya tidak nampak pada masyarakat tradisional. Dalam masyarakat tradisional, kolektivitas merupakan suatu yang menentukan. Seseorang akan mendapatkan penghargaan bila ia bersamadan senantiasa berada dalam masyarkat serta hasil karyanya dapat dinikmati atau ditiru oleh sebagian anggota masyarakatnya.

Dalam masyarakat tradisional seperti halnya masyarakat di Bali, kita tidak mengetahui siapa yang menciptakan atau menemukan sesuatu di balik berbagai kreativitas seperti halnya produk seni. Kita tidak tahu siapa arsitek pura yang besar-besar dan megah-megah di daerah ini. Demikian pula siapa seniman ukir pembuat patung yang gagah perkasa yang dipajangkan di sebuah pura. Siapakah pencipta tarian barong, tari rejang, baris, panyembrama dan sebagainya. Bagi para seniman (arsitek, pangrawit, koreografer, dan lain-lain) mereka sangat bahagia bila karya mereka dapat memberikan kepuasan bagi khalayak. Pada mulanya karya seniman Bali diabdikan untuk keagungan agamannya, artinya semua karya itu pada mulanya adalah karya persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, para dewa manifestasi-Nya dan para leluhur di pura. Kini karya seniman itu tidak hanya untuk kepentingan spiritual atau agama, melainkan sudah menjadi komoditi yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang berminat utamanya adalah wisatawan yang datang ke bali. Di masa lalu, seniman Bali tidak mengenal hak paten karena mereka percaya dengan ditiru oleh banyak orang dan dinikmati banyak orang merupakan penghargaan yang tinggi terhadap semua karya seni. Kini pandangan itu walaupun tidak semuanya lenyap, dengan ditetapkannya Undang-undang Hak Cipta (1989), para seniman mulai berangsur-angsur mendaftarkan karyanya, walaupun tidak seluruh seniman setuju dengan Undang-Undang ini. Mereka rela saja karyanya dijiplak oleh pihak lain.

Sejalan dengan pandangan di atas, maka hak paten pada bentuk-bentuk kehidupan adalah tidak mendasar, karena kehidupan itu bukan milik dari penemunya. Kehidupan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, bila para pakar mampu merekayasa lahirnya organisme tertentu, dia bukanlah pencipta kehidupan itu sendiri seperti yang diungkapkan Ananda Mohan Chakravarty, ketika dia mempatenkan penemuan bakteri Psedomonas yang telah direkayasa genetika (1971). Ia mengambil plasmida dari tiga jenis bakteri dan menanamkannya ke dalam satu jenis bakteri lain. Ia sendiri menjelaskan : “ saya hanya mempertukarkan gen dan mengubah bakteri yang sudah ada” (Vandana Shiva: 1994: 11), jadi ia bukanlah menciptakan kehidupan.

Bila kehidupan itu tidak dicptakan atau ditemukan oleh pakar bioteknologi, maka kita bisa memahami, bahwa yang dipatenkan itu adalah teknik penemuannya, dengan demikian karya itu adalah karya seorang pakar bioteknologi dalam mengungkap sesuatu dari misteri alam yang maha luas.

Selanjutnya bila kita kaitkan dengan ajaran agama Hindu, maka pernyataan yang diungkapkan sendiri oleh pakar bioteknologi (Ananda Mohan Chakrvarty), bahwa dia secara tidak langsung mengatakan ia bukan pencipta kehidupan, maka bila kita kaitkan dengan ajaran agama Hindu, kehidupan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, beliaulah yang kuasa atas hidup dan kehidupan kita. Dapatkah seorang kini merekayasa tentang kapan seseorang akan mati atau hidup kembali? Dalam ajaran agama Hindu, hidup mati seseorang tergantung karma yang bersangkutan. Kapan karma itu berakhir? Semuanya itu berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Umat manusia tidak dapat memahami rahasia-Nya.

Kitab suci Veda mengamanatkan seseorang hendaknya maju terus mengejar ilmu pengetahuan, karena Tuhan yang Maha Esa menganugrahkan kepada umat-Nya dua hal, yaitu : Kekuatan dan kecerdasan (Atharvaveda VIII.1.4). Dengan kecerdasan yang dimiliki maka umat manusia wajib mengembangkan IPTEK. Untuk itu dalam memecahkan rekayasa genetika, seseorang hendaknya kembali kepada iman dan takwa sebab dengan iman (sraddhā) dan takwa (bhakti) ini seseorang tidak akan berani berbuat untuk merugikan siapa saja, dirinya sendir apalagi terhadap mahluk lain. Pertanggungjawaban tertinggi hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad (VII.19.1), hanya dengan iman dan takwa seseorang akan berhasil melaksanakan tugas dan kewajiban serta tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. G. Antisipasi Umat Hindu terhadap Perkembangan IPTEK

Dengan merenungkan kembali manfaat IPTEK, maka kita menyadari tentang penggunaan atau manfaat IPTEK itu. Telah diungkapkan pada bagian awal tulisan ini IPTEK ibarat pisau bermata dua, di satu pihak akan sangat bermanfaat bila didayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, kemakmuran dan kebahagiaan umat manusia, tetapi disisi lainnya akan sangat tidak ada gunanya jika IPTEK menjerumuskan umat manusia pada jurang kehancuran, misalnya seperti bom nuklir atau bom kimia yang dapat menghancurkan umat manusia yang tidak berdosa, mahluk hidup yang lain dan kerusakan alam pada lokasi bom itu diledakkan atau di-ujicobakan. Dari media massa kita bisa mendapatkan informasi tentang aktivitas pencinta perdamaian dan lingkungan menentang berbagai percobaan nuklir, menunjukkan bahwa kemajuan IPTEK akan sangat berbahaya bila digunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak menguntungkan umat manusia.

Dalam pengembangan IPTEK tentunya umat beragama punya tanggung jawab moral, etika, dan spiritual untuk menjaga pengembangan IPTEK khususnya yang dikembangkan oleh para pakar bioteknologi untuk tidak mencampuradukkan berbagai gen dan menciptakan organisme yang kemudian menjadi monster-monster yang mengancam kelestarian alam dan kesejahteraan umat manusia. Umat beragama kiranya dapat mengantisipasi kemajuan IPTEK dengan kembali kepada makna IPTEK ditinjau dari sudut pandang agama, yaitu : untuk mendekatkan diri manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan belajar dari ciptaan-Nya yang mengagumkan dan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan kebahagiaan umat manusia. Sepanjang IPTEK bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, meningkatkan kecerdasan dan keluhuran budi pekerti serta tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, umat manusia dan segala ciptaan-Nya, maka agama sangat mendorong kemajuan IPTEK, tetapi IPTEK yang disalahgunakan untuk menghancurkan umat manusia, berbagai mahluk hidup serta alam ciptaan-Nya maka IPTEK itu hendaknya ditinggalkan. Untuk itu kitab suci Veda mendorong umat-Nya untuk senantiasa kreatif dan selalu maju seperti diamanatkan dalam kitab suci Veda berikut :

Wahai umat manusia, maju teruslah kamu, jangan mundur. Aku anugrahkan dua hal yaitu : Kekuatan dan kecerdasan

(Atharvaveda VIII.1.6)

Wahai umat manusia maju dan naiklah, jangan turun dan mundur. Semoga engkau dapat memecahkan ikatan kematian

(Atharvaveda VIII.1.4)

“ Wahai umat manusia majulah kamu dari kegelapan pikiran, menuju cahaya yang terang” (Atharvaveda VIII.1.8)

Wahai umat manusia, bangkitlah dan tataplah ke depan

(Atharvaveda X.179.1)

Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa, membuat kemajuan di bumi dengan menurunkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tingkah laku yang bertanggung jawab / terpuji” (Rgveda X.29.7)

Berdasarkan kutipan tersebut, umat beragama, khususnya mengantisipasi dampak IPTEK adalah dengan jalan kembali kepada ajaran Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci veda maupun susastra Hindu lainnya. Demikian pula dapat dijumpai sebuah adigium di dalam Hindu yang menyatakan : “Bukanlah seorang maharsi (muni / cendekiawan) bila ia tidak memberikan pendapat (tafsir kembali) terhadap apa yang dipahami mereka”. Jadi pengkajian terhadap ajaran agama dengan menyingkapi makna ilmu pengetahuan dan teknologi serta manfaat penjelmaan dapat mengantar seseorang mencapai kebahagiaan.

  1. H. Simpulan

Mengakhiri tulisan ini ketengahkan beberapa kesimpulan terhadap kemajuan perkembangan IPTEK, khususnya bioteknologi dewasa ini, disatu pihak menjadi harapan yang sangat didambakan untuk meningkatkan kecemasan atau kekhawatiran terhadap keselamatan hidup manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan termasuk keanekaragaman hayati, sebagai berikut :

  1. Agama Hindu memandang bahwa menjelma sebagai manusia adalah kesempatan yang terbaik, sebab diantara berbagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, hanya manusialah yang memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu, membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah serta dapat menghargai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Hidup dan kehidupan manusia adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Semua mahluk hidup dijiwai oleh ātman, yakni percikan dari paramātman, ātman tertinggi yang tidak lain adalah Brahman, Tuhan yang Maha Esa yang memiliki ribuan nama yang ditujukan kepada-Nya. Ātman yang menghidupkan (memberikan nyawa) kepada semua mahluk, dari mahluk yang paling sempurna sampai yang susunan tubuhnya sederhana (satu sel) disebut jīva atau jivātman.
  3. Dalam kitab suci Veda, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai dewi Sarasvatī, dewi ilmu pengetahuan dan teknologi, namun pengembangan IPTEK tidak boleh bertentangan dengan ajaran moral, etika dan spiritual yang bersumber pada ajaran agama.
  4. Rekayasa genetika yang dikembangkan oleh pakar bioteknologi akan berimplikasi pada berbagai aspek kehidupan manusia baik yang berdampak positif hendaknya dikembangkan sedang yang berdampak negatif yang merugikan kehidupan umat manusia, tumbuh-tumbuhan serta lingkungan alam hendaknya dicegah dan ditanggulangi dengan sebaik-baiknyaa. Untuk itu tanggung jawab moraal, etika dan spiritual para pakar bioteknologi, tidak saja dihadapkan kepada masalah kemanusiaan , tetapi yang penting adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Permasalahan rekayasa genetika (khususnya cloning, transplantasi termasuk bayi tabung) yang bila dilaksanakan atas dasar himśakarma dan bertentangan dengan ajaran agama secara mantap niscaya hal-hal yang negatif itu dapat dicegah dengan baik.
  6. Kloning terapeutik dapat dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran ahimśa, sedang cloning reproduksi kiranya tidak dapat diterima karena hala tersebut akan berimplikasi dan bertentangan dengan ajarn agama, etika-moralitas, hokum dan sosial budaya
  7. Paten bentuk-bentuk kehidupan adalah tidak berdasar, karena kehidupan bukanlah milik penemunya. Kehidupan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, bila pakar bioteknologi mampu merekayasa lahirnya organisme tertentu, maka dia bukanlah pencita kehidupan itu.
  8. Dalam pengembangan IPTEK, umat beragama punya tanggung jawab moral, etika dan spiritual untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif yang muncul, untuk itu setiap orang telah dikaruniai kekuatan dan kecerdasan hendaknya diarahkan pada karya posiytif yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan terpeliharanya kelestarian alam lingkungan.

Daftar Pustaka

  1. Bertens, K. 2003. Pertimbangan Etika Sekitas Kloning Reproduktif dan Kloning Terapeutik, Majalah Kedokteran Atmajaya, Vol.2 No.2, Jakarta: Universitas Kristen Atmajaya.
  2. Bose, Abhinash Candra, 1988. The Call of the Vedas, Bombay: Bharathiya Vidya Bhavan
  3. Dvivedi, Kapil Deva. 1990. The Essence of the Vedas, Gyanpur, Varanasi, India : Vishva Bharati Research Institute.
  4. Hartiko, Hari, dkk. 1995. Bioteknologi dan Keselamatan Hayati, Jakarta : Konphalindo.
  5. Macdonell, Arthur Anthony.1981. Vedic Mythology, New Delhi, : Motilal Banarsidass.
  6. Mani, Vettam. 1989. Purānic Encyclopedia, New Delhi, : Motilal Banarsidass.
  7. Pendit, Nyoman S. 1978. Bhagavadgita, Jakarta: Tim Penerjemah Kitab Suci Veda, Ditjen. Bimas Hindu dan Buddha, Dep. Agama R.I.
  8. Radhakrishan, S. 1990. The Principals of Upanisads, Bombay : Oxford University Press.
  9. Shiva, Vandana. 1994. Can life be made? Can life be owned, Pune: Parisar Annual Lecture.
  10. Titib, I Made. 1996. Veda, Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya: Paramita.
  11. 2003. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, Surabay: Paramita.