Bhagavadgita


Om Swastyastu

Betapa adilihungnya ajaran Hindu, terutama terhadap ajaran kesetaraan. Kita selalu diajarkan untuk mengedepankan persamaan dan bukan memperbesar perbedaan. Setidaknya renungan sloka Bhawagad Gita ini bisa kita jadikan pegangan tatkala bergumul secara sosial di tengah masyarakat yang heterogen seperti halnya Indonesia
Mari kita simak dan renungkan sloka berikut…!
BHAGAWAD GITA 6.9:
Sloka:
सुहृन्मित्रार्युदासीनमध्यस्थद्वेष्यबन्धुषु। 

साधुष्वपिचपापेषुसमबुद्धिर्विशिष्यते॥६- ९॥ 
suhṛn-mitrāry-udāsīna 

madhyastha-dveṣya-bandhuṣu 

sādhuṣv api ca pāpeṣu 

sama-buddhir viśiṣyate 
Kosa Kata:
su-hṛt—kepada orang yang mengharapkan kesejahteraan sesuai sifatnya; 

mitra—penolong dengan kasih sayang; 

ari—musuh-musuh; 

udāsīna—orang yang mempunyai kedudukan netral antara orang yang bermusuhan; 

madhya-stha—perantara antara orang yang bermusuhan; 

dveṣya—orang yang iri hati; 

bandhuṣu—dan sanak keluarga atau orang yang mengharapkan kesejahteraan; 

sādhuṣu—kepada orang saleh; 

api—beserta; 

ca—dan; 

pāpeṣu—kepada orang berdosa; sama-buddhiḥ—mempunyai kecerdasan yang merata; 

viśiṣyate—sudah maju sekali.
Terjemahan: 

Orang yang memiliki pandangan yang sama terhadap sahabat yang sangat setia, sahabat yang baik, yang bersikap bermusuhan, yang tidak memihak, yang bersikap sebagai penghubung, yang tidak iri hati, dan (juga sama terhadap) sanak keluarga, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sudah sangat maju.
Ulasan:
Adalah sifat pikiran manusia untuk merespon secara berbeda terhadap teman dan musuh. Tapi sifat yogi yang sudah cerah tentu memiliki respon yang berbeda. Diberkahi dengan menyadari pengetahuan tentang Tuhan, para yogi  melihat keseluruhan ciptaan dalam kesatuannya dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka dapat melihat semua mahluk hidup dengan persamaan visi. Paritas visi ini juga terdiri dari berbagai tingkatan:
“Semua mahluk hidup adalah jiwa ilahi, dan karenanya ia adalah bagian dari Tuhan.” Jadi, mereka dipandang sama.
 “Ātmavat sarva bhūteṣu yaḥ paśyati sa paṇḍitaḥ ~ Seorang Pandita sejati adalah orang yang melihat setiap orang sebagai jiwa, dan karenanya serupa dengan diri sendiri. ”
Yang lebih tinggi adalah penglihatannya: “Tuhan duduk dalam semua orang, dan karenanya semua sama dan layak dihormati.”
Pada tingkat tertinggi, yogi mengembangkan penglihatannya: “Setiap orang adalah bentuk Tuhan.”
Kitab suci Veda berulang kali menyatakan bahwa seluruh dunia adalah bentuk yang benar dari Tuhan: 
īśhāvāsyam idam sarvaṁ yat kiñcha jagatyāṁ jagat (Īśo Upaniṣad 1.2). Seluruh alam semesta, dengan semua mahluk hidup dan tidak hidup adalah manifestasi dari Yang Mahatinggi, yang tinggal di dalamnya.
 “Puruṣa evedaṁ sarvaṁ” (Puruṣa Sūktam. 3)~Tuhan ada dimana-mana di dunia ini, dan semuanya adalah energinya.”
Oleh karena itu, yogi tertinggi melihat setiap orang sebagai manifestasi Tuhan. Diberkahi dengan tingkat penglihatan ini, Hanuman mengatakan: sīyā rāma maya saba jaga jānī (Ramayann.4)~ Saya melihat wajah Sita Rama pada semua orang.”
Kategori ini akan dirinci lebih lanjut dalam ulasan ke Sloka 6. 31. Mengacu pada ketiga kategori di atas, Shri Krshna mengatakan bahwa yogi yang dapat menjaga penglihatan yang setara terhadap semua orang bahkan lebih tinggi daripada yogi yang disebutkan dalam sloka sebelumnya. Setelah menggambarkan keadaan Yogi, dimulai dengan sloka berikutnya, Shri Krshna menjelaskan latihan yang denganNya, kita dapat mencapai keadaan itu.
Om Tat Sat

Om Santih Santih Santih
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Advertisements

Om Swastyastu,

Belakangan ini Pembicaraan tentang Tuhan dan Ketuhanan menjadi sangat intens dibahas dari berbagai perspektif. Ada yang menelaahnya menggunakan sumber rujukan yang dianggapnya sahih, ada yang membandingkannya, ada yang memberi komentar konsep-konsep ketuhanan dari berbagai agama, hingga pada hal-hal yang melecehkan konsep Ketuhanan agama lainnya. Dan yang paling Hot dan terkini adalah kasus Penistaan dan Penodaan. 
Kemudian muncul pertanyaan mendasar: siapa saja yang berhak atau memiliki otoritas berbicara tentang Tuhan, apakah mereka yang baru mengerti konsep Tuhan dari Buku, lantaran ia seorang cendekiawan, pengajar agama, pengkotbah—sudah fasih ayat-ayat agama…?? Mari kita simak Ulasan Kita Suci Bhagawad Gita yang dengan detail memberi arahan kepada kita semuanya.

Salah satu sloka  yang membahas hal termaksud adalah apa yang tersurat dalam Bhagawad Gita Adhyaya 6 Śloka 8:
ज्ञानविज्ञानतृप्तात्माकूटस्थोविजितेन्द्रियः। 

युक्तइत्युच्यतेयोगीसमलोष्टाश्मकाञ्चनः॥६- ८॥ 
jñāna-vijñāna-tṛptātmā 

kūṭa-stho vijitendriyaḥ 

yukta ity ucyate yogī 

sama-loṣṭrāśma-kāñcanaḥ 

Kosa Kata:
jñāna—oleh pengetahuan yang diperoleh; 

vijñāna—dan pengetahuan yang diinsafi; 

tṛpta—dipuaskan; 

ātmā—zat illahi yang menghidupi; 

kutasthah—mantap secara rohani;

 vijita-indriyaḥ—mengendalikan indera-indera; 

yuktaḥ—sanggup untuk keinsafan diri; iti—demikian; 

ucyate—dikatakan; 

yogī—seorang ahli kebatinan; sama—mantap secara seimbang; 

loṣṭra—batu kerikil; 

aśma—batu; 

kāñcanaḥ—emas.

Terjemahan

Dia yang batinnya sudah mencapai kedamaian oleh pengetahuan suci dan keinsyafan diri, dia yang teguh tidak tergoyahkan, yang sudah mengalahkan indria-indria duniawinya, dan dia yang mencapai tingkat kesadaran melihat batu kerikil dan emas sebagai sesuatu yang sama, maka orang seperti itu dikatakan sebagai seorang yogī yang sudah maju.

Ulasan:
Pengetahuan dari buku tanpa keinsafan terhadap Kebenaran Yang Paling Utama tidak berguna. Hal ini dinyatakan sebagai berikut:
ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi

na bhaved grāhyam indriyaiḥ

sevonmukhe hi jihvādau

svayam eva sphuraty adaḥ
Tiada seorangpun yang dapat mengerti sifat rohani, nama, bentuk, sifat, dan kegiatan Sri Krshna melalui indera-indera yang dicemari secara material. Hanya kalau seseorang kenyang secara rohani melalui pengabdian rohani kepada Tuhan, maka nama, bentuk, sifat dan kegiatan rohani Krishna diungkapkan kepadanya.” (Bhakti-rasamrta-sindhu 1.2.234)

Bhagawad Gita adalah ilmu pengetahuan kesadaran Tuhan. Tiada seorang pun yang dapat menyadari Tuhan hanya dengan kesarjanaan duniawi saja. Seseorang harus cukup beruntung hingga dapat mengadakan hubungan dengan orang yang kesadarannya murni. Orang yang sadar akan Tuhan sudah menginsafi pengetahuan atas berkat karunia Tuhan itu sendiri, sebab dia puas dengan bhakti yang murni. 
Seseorang menjadi sempurna melalui pengetahuan yang diinsafinya. Seseorang dapat menjadi mantap dalam keyakinannya melalui pengetahuan rohani. Tetapi seseorang mudah dikhayalkan dan dibingungkan oleh hal-hal yang kelihatannya merupakan penyangkalan kalau ia hanya memiliki pengetahuan dari perguruan tinggi saja. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya sebenarnya sudah mengendalikan diri, sebab ia sudah menyerahkan dirinya kepada Tuhan sebagai bentuk Bhaktinya. Dia melampaui keduniawian karena dia tidak mempunyai hubungan dengan kesarjanaan duniawi. Bagi orang itu, kesarjanaan duniawi dan angan-angan, yang barangkali sebagus emas menurut orang lain, tidak lebih berharga daripada kerikil atau batu.
Demikian Bahasan Adhyaya 6 Sloka 8 ini. Memiliki pengetahuan duniawi memang perlu, namun yang terpenting adalah menggunakan pengetahuan itu bagi pendakian kesadaran kita menuju Tuhan. Dan perlu disadari bahwa tiada satu ilmu apapun yang tidak bersumber dari Hyang Widhi. Maka kepadaNyalah kita mesti belajar dan mengarahkan semua pengetahuan yang saat ini ada bersama kita. Manggalamastu
Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu
Selanjutnya mari kita bahas Kelanjutan dari Bhawagad Gita Adhyaya 5 ini. Dan sekarang adalah ulasan dari Sloka terakhir yakni sloka ke-29

Dalam kehidupan  kita meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita-penyebabnya adalah berasal dari kita, atau yang lebih kita kenal dengan istilah sebagai Hukum Karmaphala. Pada pemaknaan ini Bahwasanya Hyang Widhi tidak berperan apa-apa, karena memang pada salah satu Sifat Hyang Widhi adalah hanya sebagai Saksi Agung atas karma-karma semua mahluk di semesta ini, IA berada di luar semua ciptaanNya tapi juga sekaligus berada di dalam ciptaanNya. Pada Sloka Ke-29 ini, Hyang Widhi justru memberikan penegasan Bahwa IA adalah segala hal ini, IA juga adalah penikmat akhir dari setiap karma.
Bhagawad Gita 5.29:
भोक्तारं यज्ञतपसां सर्वलोकमहेश्वरम् |

सुहृदं सर्वभूतानां ज्ञात्वा मां शान्तिमृच्छति || 29||
bhoktāraṁ yajña-tapasāṁ 

sarva-loka-maheśvaram

suhṛdaṁ sarva-bhūtānāṁ 

jñātvā māṁ śāntim ṛcchati
Kosa Kata: 
Bhoktāram-sang penikmat; 

Yajña-pengorbanan; 

Tapasām-segala bentuk pertapaan; 

Sarva-loka-dari semua dunia; 

Mahā-īśvaram-Tuhan Tertinggi; 

Suhṛdam-teman tanpa pamrih; 

Sarva-dari semua; 

Bhūtānām-mahluk hidup; 

Jñātvā-setelah menyadari; 

Mām-aku (Tuhan); 

Śāntim-peace; 

Ṛcchati-mencapai

Arti:
Setelah menyadari bahwa Aku sebagai penikmat segala pengorbanan dan pertapaan, Penguasa Tertinggi seluruh dunia dan Sahabat tanpa pamrih dari semua mahluk hidup, pemujaKu mencapai kedamaian.

Ulasan:
Ia yang teguh dalam disiplin kerohanian (sādhanā), yang dijelaskan dalam dua sloka sebelumnya, dapat menyebabkan pelakunya memiliki ātma jñāna (pengetahuan tentang diri). Tapi untuk me dapatkan Brahma Jñāna (pengetahuan tentang Tuhan) ia membutuhkan waranugraha Hyang Widhi, yang datang melalui pengabdian. Kata-kata: sarva loka maheśwaram berarti “Penguasa Yang Berdaulat dari seluruh dunia,” dan kata-kata: suhṛdaṁ sarva-bhūtānāṁ berarti “penghormatan baik baik dari semua makhluk hidup”.
Dengan cara ini, Hyang Widhi menekankan bahwa jalan pertapaan juga disempurnakan dalam penyerahan diri kepada Tuhan, dengan pengetahuan bahwa Tuhan Tertinggi adalah penikmat segala pertapaan dan pengorbanan.
Hal senada diunhkapkan oleh Jagadguru Shri Kripaluji Maharaj sebagai berikut:
Hari kā viyogī jīva govind rādhe, sañco yoga soī jo hari se milāde (Rādhā Govinda Gita, v.22)
“Jiwa terputus dari Tuhan sejak kekekalan. Yogi sejati adalah yang menyatukan jiwa dengan Tuhan. Makanya, tidak ada sistem Yoga yang lengkap tanpa masuknya bhakti”.
Dalam “Bhagawad Gita“, Kepribadian Tuhan dengan indah memasukkan semua jalan spiritual sejati, namun setiap saat; pada akhirnya DIA menegaskan bahwa mereka mesti memenuhi syarat bahwa demi kesuksesan di jalan ini juga membutuhkan bhakti. Hal senada dapat kita lihatbjuga pada sloka: 6. 46-47, 8. 22, 11. 53-54, 18. 54-55, dan yang lainnya.
Dengan berakhirnya sloka ke -29 maka berkahir pula Adhyaya Ke- 6 tentang tema yang mengungkapkan pentingnya pengabdian.

Semoga ulasan ini semakin meneguhkan Keyakinan kita, bahwa segala hal yang kita lakukan dengan penuh Bhakti, hal tersebut akan mengantar kita pada Sang Penikmat Sejati dari seluruh keberadaan di semestai ini, yaitu Sanghyang Widhi Wasa-Tuhan Yang Maha Kuasa. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu




Tujuan utama kelahiran ke dunia menurut agama Hindu adalah: Moksartham Jagadhita. (Kebahagiaan Sekala dan Niskala/Lahir-Bhatin) atau dengan kata lain adalah agar kita kembali bisa bersatu dengan Sang Asal kita yang Sejati yakni Menunggal dengan Tuhan itu sendiri.



Dan Prasyarat agar kita bisa mencapai keadaan tersebut; yakni Kemanunggalan dengan Hyang Widhi/Tuhan, kita dapat menyimaknya dari Bhagawad Gita 5.25




 sloka ke-25: 




लभन्ते ब्रह्मनिर्वाणमृषय: क्षीणकल्मषा: |

छिन्नद्वैधा यतात्मान: सर्वभूतहिते रता: || 
labhante brahma-nirvāṇam

ṛṣayaḥ kṣīṇa-kalmaṣāḥ

chinna-dvaidhā yatātmānaḥ

sarva-bhūta-hite ratāḥ




Kosa Kata:



labhante—mencapai; 

brahma-nirvāṇam—pembebasan di dalam Yang Maha kuasa;

ṛṣayaḥ—orang yang giat di dalam; 

kṣīṇa-kalmaṣāḥ—orang bebas dari segala dosa;

chinna—setelah merobek; 

dvaidhāḥ—hal-hal yang relatif; 

yata-ātmanāḥ—sibuk dalam keinsafan diri; 

sarva-bhūta—untuk semua mahluk hidup; 

hite—dalam pekerjaan demi kesejahteraan; 

ratāḥ—sibuk.

Terjemahan:
Orang yang berada di luar hal-hal yang relatif yang berasal dari keragu-raguan, dengan pikirannya tekun di dalam hati, selalu sibuk bekerja demi kesejahteraan semua makhluk hidup, dan bebas dari segala dosa, mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa.

Ulasan:
Hanya orang yang sadar akan Hyang Widhi sepenuhnya dapat dikatakan sibuk di dalam pekerjaan demi kesejahteraan semua mahluk hidup. Apabila seseorang sungguh-sungguh memiliki pengetahuan bahwa Hyang Widhi adalah sumber segala sesuatu, maka bila dia bertindak dengan semangat seperti itu, ia bertindak untuk semua orang. Manusia menderita karena orang melupakan Hyang Widhi sebagai Kepribadian Tuhan Yang Paling Utama yang menikmati, Pemilik Yang Paling Utama, dan Kawan Yang Paling Utama. 
Karena itu, kalau seseorang bertindak untuk menghidupkan kembali kesadaran tersebut dalam seluruh masyarakat manusia, itulah pekerjaan tertinggi demi kesejahteraan orang. Seseorang tidak dapat menekuni pekerjaan kelas utama demi kesejahteraan orang seperti itu kalau ia belum mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa. Orang yang sadar akan Hyang Widhi, tidak ragu-ragu tentang KeMahakuasaan Hyang Widhi. Dia tidak ragu-ragu karena dia sudah bebas sepenuhnya dari segala dosa. Inilah keadaan cinta-bhakti yang suci.
Orang yang hanya sibuk melayani kesejahteraan jasmani masyarakat manusia sebenarnya tidak dapat menolong siapapun. Kalau seseorang hanya membuat badan jasmani dan pikiran merasa lega untuk sementara waktu, itu tidak memuaskan. Sebenarnya orang harus menghadapi kesulitan dalam perjuangan hidup yang keras karena mereka melupakan hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Apabila seseorang sudah sepenuhnya menyadari hubungannya dengan Hyang Widhi, maka ia benar-benar mencapai pembebasan, walaupun mungkin ia masih berada di dalam badan material.
Demikian ulasan sloka ini dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi tumbuhnya kesadaran kita. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Photo Persembahyangan Umat Desa Restu Rahayu Pada Pemujaan Siwa Ratri, Januari 2017

Om Swastyastu



Kebahagiaan yang bersumber dari Luar itu bersifat Temporal, demikian pula kebahagiaan yang dicari di luar diri bersifat sangat dangkal; namun Kebahagiaan yang bersumber dari Dalam Hati yang Murni dan Kebahagiaan bersama Tuhan inilah Kebahagiaan yang Sejati. Seperti yang dinyatakan dalam Bhagawad Gita Adhyaya 5 Sloka 24, sebagai berikut:

Sloka:

योऽन्त:सुखोऽन्तरारामस्तथान्तज्र्योतिरेव य: ।

स योगी ब्रह्मनिर्वाणं ब्रह्मभूतोऽधिगच्छति ।। 
yo ‘ntaḥ-sukho ‘ntar-ārāmas

tathāntar-jyotir eva yaḥ

sa yogī brahma-nirvāṇaḿ

brahma-bhūto ‘dhigacchati





Kosa Kata:
yaḥ—orang yang; 

antaḥ-sukhaḥ—berbahagia dari dalam Diri-Nya; 

antaḥ-ārāmaḥ—giat menikmati di dalam Diri-Nya;

tathā—beserta; 

antaḥ-jyotiḥ—tujuan di dalam Diri-Nya; 

evā—pasti; 

yaḥ—siapapun;

saḥ—dia; 

yogī—seorang ahli kerohanian;

brahma-nirvāṇam—pembebasan dalam Yang Mahakuasa; 

brahma-bhūtaḥ—dengan menginsafi diri; 

adhigacchati—mencapai.

Terjemahan:
Orang yang berbahagia di dalam Diri-Nya, giat dan riang di dalam Diri-Nya, dan tujuannya di dalam Diri-Nya, sungguh-sungguh ahli kerohanian yang sempurna. Dia mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa, dan akhirnya dia mencapai kepada Yang Mahakuasa.

Ulasan:
Kalau seseorang tidak dapat menikmati kebahagiaan di dalam hatinya, bagaimana mungkin ia mengundurkan diri dari kesibukan lahiriah yang dimaksudkan untuk memperoleh kebahagiaan yang dangkal? Orang yang sudah mencapai pembebasan menikmati kebahagiaan melalui pengalaman yang nyata. Karena itu, ia dapat duduk diam di tempat manapun dan menikmati kegiatan hidup dari dalam hatinya. Orang yang sudah mencapai pembebasan seperti itu tidak menginginkan kesenangan material lagi dari luar. Keadaan ini disebut brahmabhuta, dan kalau seseorang sudah mencapai keadaan ini, terjamin bahwa dia akan pulang, kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian dapat tiang uraikan secara singkat mengenai Bhagawad Gita adhyaya 5 sloka 24 ini, semoga langkah-langkah kita dimudahkan untuk menuju Hyang Widhi. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu

Dalam Bhagawad Gita Hal yang berkenaan dengan Pengendalian Diri (Pengendalian Indera, dan berbagai Keinginan dan amarah), sangat gamblang dijelaskan, seperti yang termaktub dalam sloka ke-23 ini.

Sloka Bhagawad Gita 5.23:
शक्नोतीहैव य: सोढुं प्राक्शरीरविमोक्षणात् |

कामक्रोधोद्भवं वेगं स युक्त: स सुखी नर: || 
śaknotīhaiva yaḥ soḍhuḿ

prāk śarīra-vimokṣaṇāt

kāma-krodhodbhavaḿ vegaḿ

sa yuktaḥ sa sukhī naraḥ
Kosa Kata:

śaknoti—dapat; 

iha evā—di dalam badan yang dimiliki sekarang; 

yaḥ—orang yang; 

soḍhum—menahan; 

prāk—sebelum; 

śarīra—badan; 

vimokṣaṇāt—meninggalkan; 

kāma—keinginan; 

krodha—dan amarah; 

udbhāvam—dihasilkan dari; 

vegam—dorongan; 

saḥ—dia; 

yuktaḥ—dalam semadi; 

saḥ—dia; 

sukhī—bahagia; 

naraḥ—manusia.
Terjemahan:
Kalau seseorang dapat menahan dorongan indera-indera material dan menahan kekuatan keinginan dan amarah sebelum ia meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, maka kedudukannya akan menjadi baik dan ia berbahagia di dunia ini.
Ulasan:
Kalau seseorang ingin mencapai kemajuan yang mantap dalam menempuh jalan keinsafan diri, dia harus berusaha mengendalikan dorongan-dorongan indera-indera material. Ada dorongan untuk berbicara, dorongan amarah, dorongan pikiran, dorongan perut, dorongan kemaluan, dan dorongan lidah. Orang yang dapat mengendalikan dorongan berbagai indera dan pikiran inilah yang layak disebut Brahmana, Para Brahmana hidup dengan cara yang pengendalian Indera secara ketat. Mereka meninggalkan dorongan-dorongan indera sama sekali. Apabila keinginan material tidak dipuaskan, maka keinginan-keinginan itu menimbulkan amarah, dan dengan demikian pikiran, mata, dan dada menjadi tegang. Karena itu, seseorang harus melatih diri untuk mengendalikan keinginan duniawi sebelum dia meninggalkan badan material ini. Dimengerti bahwa orang yang sudah dapat melakukan demikian sudah insaf akan diri. Dengan demikian, ia berbahagia dalam keadaan keinsafan diri. Kewajiban seorang rohaniwan ialah berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan keinginan dan amarah.
Demikian Ulasan sloka ini dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mamggalamastu
Om Santih Santih Santih Om
❤️ I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

Om Swastyastu,

Rahajeng semeng, selanjutnya mari kita bahas Bhagawad Gita  5.22
येहिसंस्पर्शजाभोगादुःखयोनयएवते। 

आद्यन्तवन्तःकौन्तेयनतेषुरमतेबुधः॥५- २२॥ 
ye hi saṁsparśa-jā bhogā 

duḥkha-yonaya eva te 

ādy-antavantaḥ kaunteya 

na teṣu ramate budhah
Kosa Kata:
Ye-Kamu, yang; 

Hi-benar; 

Sansparśa-jāḥ-lahir dari kontak dengan objek indra; 

bhogāh-kesenangan; 

Duḥkha-kesengsaraan; 

Yonayaḥ-sumber; 

Eva-Benar-benar; 

Te-mereka; 

Ādya-antavantaḥ – memiliki awal dan akhir; 

Kaunteya-Arjuna, putra Kunti; 

Na-tidak pernah; 

Teṣu-di dalamnya; 

Ramate-mengambil kesenangan; 

Budhaḥ-orang bijak

̣ 

Terjemahan
Wahai Putra Kuntī…, kesukaan yang diperoleh akibat sentuhan indria-indria dengan objek-objek indria ada awal dan ada akhirnya serta menjadi penyebab dari segala kedukaan. Oleh karena itu, orang-orang bijaksana tidak tertarik untuk menikmati kesenangan seperti itu.
Ulasan:
Indera menciptakan sensasi kenikmatan dalam kontak dengan objek indera. Pikiran, yang seperti indera keenam, memperoleh kesenangan dari kehormatan, pujian, keadaan, kesuksesan, dan lain-lain. 
Semua kesenangan dari tubuh dan pikiran ini dikenal sebagai bhoga (kenikmatan materi). Kesenangan duniawi semacam itu tidak dapat memuaskan jiwa karena alasan berikut:

  1. Kesenangan duniawi terbatas, dan karenanya perasaan kekurangan tetap melekat di dalamnya. Seseorang mungkin merasa bahagia menjadi jutawan, tapi jutawan yang sama merasa tidak puas saat menemui miliarder, dan berpikir, “Seandainya saja saya juga memiliki satu miliar, maka saya juga akan bahagia. “Sebaliknya, kebahagiaan Tuhan itu tak terbatas, dan karenanya memberi kepuasan yang utuh.
  2. Kesenangan duniawi bersifat sementara. Begitu mereka selesai, mereka kembali meninggalkannya dengan perasaan kesengsaraan. Misalnya, seorang pecandu alkohol menikmati kenikmatan minum alkohol di malam hari, tapi keesokan paginya, mabuk itu membuatnya sakit kepala. Namun, kebahagiaan Tuhan itu kekal, dan sekali tercapai, itu tetap selamanya.
  3. Kesenangan duniawi adalah insentient, dan karenanya mereka terus menurun. Ketika orang melihat film pemenang Hadiah Academy yang baru, mereka sangat gembira, tapi jika mereka harus menonton film ini untuk kedua kalinya memberi perusahaan kepada teman, kegembiraan mereka mengering. Dan jika teman kedua bersikeras bahwa mereka melihatnya untuk ketiga kalinya, mereka berkata, “Beri aku hukuman, tapi jangan meminta saya melihat film itu lagi. “Kesenangan dari benda-benda material terus menurun saat kita menikmatinya. Di bidang Ekonomi, ini didefinisikan sebagai Hukum Pengembalian yang Mengurangi. Tapi kebahagiaan Tuhan itu murni; Itu adalah sat-cit-ānanda (kebahagiaan ilahi yang kekal abadi). Oleh karena itu, seseorang dapat terus mengidungkan nama-nama suci Tuhan yang sama untukTuhan sepanjang hari, dan ia akan menikmati suka cita pengabdian yang selalu baru.

Tidak ada orang waras yang menikmati hidangan penutup lezat yang bersedia memberikannya dan malah makan lumpur. Demikian pula, ketika seseorang mulai menikmati kebahagiaan sejati, pikiran kehilangan semua selera untuk kesenangan materi. Mereka yang dianugerahi fakultas diskriminasi memahami tiga kekurangan kesenangan material di atas, dan menahan indera mereka darinya.
Demikian Sloka ini dapat saya komentari, harapannya semoga kita semakin diberikan kesadaran daya pemilah (wiweka) sehingga kita semakin cakap untuk bisa membedakan mana yang sementara dan mana yang sejati. Mamggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
❤ I Wayan Sudarma  (Jero Mangku Danu)

Next Page »