upakara


Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P.)

Om Swastyastu

1). SANGGAR SURYA: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati, Penastan, Ring Sor: Segehan Agung, petabuh arak-berem-tuak.

2). PADMASANA: Daksina Pralingga, Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati, Ayaban Tumpeng pitu , Penastan, Rantasan, Cane, Sesayut Amertha Dewa, Orti, Ulap-ulap, Sapsap, Lamak, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Agung.

3). PANUNGGUN KARANG: Daksina Pralingga, Suci Alit, Pejati, Ketipat Dampulan, Ayaban Tumpeng lima, Rantasan, Orti, Ulap-ulap, Sapsap, Lamak, gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan Hitam.

4). LAPAAN / PANGGUNGAN: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati , Ayaban Tumpeng 11 (Peras, Pengulapan, Pengambyan, Dapetan, Penyeneng, Kurenan, Panyegjeg, Pancoran, soda, pangkonan), Jerimpen Sumbu 1 pasang, pajegan buah 1, Pajegan bunga, Sesayut lembaran: Sesayut Tulus Ayu, Sesayut Siddha Karya, Sesayut Siddha Lungguh, Sesayut Siddha Sampurna, Sesayut Dewa Rame Rawuh. Penastan, Lamak, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan.

5). BANTEN PEMELASPAS PELINGGIH: Suci Alit, Pejati, Sesayut Pemelaspas, Urip-urip, Perabot Tukang (siku, palu, pahat).

6). BANTEN PEMELASPAS RUMAH: Suci Alit, Pejati, Ayaban Tumpeng Lima, Sesayut Pemelaspas, Urip-urip, Ulap-ulap, Orti, Ceniga, Gantung-gantungan, Segehan Cacahan.

7). BANTEN PELANGKIRAN (kalau ada): Pejati, ceniga, gantung-gantungan, segehan cacahan.
BANTEN DAPUR, SUMUR: @ peras, daksina, segehan cacahan.

8). BANTEN PEMESU: Soda 2 set, ceniga, gantung-gantungan @ 2 set, segehan panca warna.

9). CARU PANCA SATA DI NATAH:
A. Arah Timur: Caru ayam putih tulus, dengan urip 5, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna putih.
B. Arah Selatan: Caru ayam biying (merah), dengan urip 9, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng,Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, koberwarna .
C. Arah Barat: Caru ayam Putih Kuning, dengan urip 7, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna kuning.
D. Arah Utara: Caru ayam Hitam, dengan urip 4, lengkap dengan banten ayaban caru, suci alit, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober warna Hitam.
E. Di Tengah: Caru ayam brumbun, dengan urip 8, lengkap dengan banten ayaban caru, Suci Laksana, Daksina Gede, sanggah cucuk lengkap dengan bantennya peras penyeneng, Ceniga, Gantung-gantungan, penjor, kober lima warna. Sesayut Byakala, Prayscita, Durmenggala
F. Perlengkapan Caru yang lainnya:
Masing-masih Caru berisi nasi bulan dengan lauk kuning telor ayam, nasi matan ai dengan lauk putih telor ayam, nasi segara muncar dengan lauk darah mentah. Masing-masing caru berisi: nasi selasahan, tulung urip dengan lauk kacang sawur, cau petik dengan lauk kacang sawur, cau tampak dengan lauk kacang sawur, tri kona dengan lauk ikan laut, dan nasi takep-takep dengan lauk ikan tawar, masing-masing ditanding sesuai dengan arah, warna dan urip. Sapu, tulud, kulkul, tetimpug, arak-berem-tuak-toya anyar.

10). AREPAN SANG MAMUJA: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati,sesayut Dharma Wiku, Prayascita, Byakala, Durmenggala, Pengulapan, Eteh-eteh Padudusan alit, Payuk Pelukatan, Sibuh Pepek, Kuskusan Sudamala, Lis Gede 1 buah. Ceniga, Gantung-gantungan, di bawahnya Segehan Cacahan.

* Catatan: kalau mau diturunkan tinggal merubah suci laksana menjadi suci alit, dari suci alit menjadi suci sibakan. Caru dari panca sata menjadi eka sata.

Om Santih Santih Santih Om
Sumber:
* Lontar Mpu Lutuk-Koleksi pribadi
* Lontar Kala Tatwa-Kolekasi pribadi
* Lontar Indik Nguangun Parahyangan-Koleksi pribadi
* Lontar Wiswakarma Tatwa-Koleksi pribadi

Written & Posted by: Sudarma

(Sebagai Media Pecaruan Yang Praktis Dan Ahimsa Karma)

Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P.)

Om Swastyastu

Pengertian:
Secara umum Bhumi Suddha dapat diartikan: sebagai sebuah usaha yang dilakukan oleh manusia Hindu agar tetap terjaganya kondisi Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang diliputi oleh kesucian, kedamaian dan keharmonisan. Karena kondisi yang damai dan aman memungkinkan manusia untuk beraktivitas sesuai dengan dharma

Banten Bhumi Suddha

nya. Banten Bhumi Suddha diwariskan oleh leluhur kita adalah untuk menjawab semua tantangan bahwa umat Hindu yang semakin lama semakin kritis, terutama antara ajaran Ahimsa dan Dharma Vighata. Hindu adalah agama yang fleksibel dan luwes ini dibuktikan dengan adanya banten Bhumi Suddha yang memiliki fungsi sama dengan pecaruan yang hingga kini masih menggunakan berbagai binatang sebagai bahan/upakaranya. Bahkan menurut beberapa praktisi spiritual, baik pandita maupun pinandita yang telah menggunakan Bhumi Suddha sebagai media pecaruan mengatakan bahwa: ’Bhumi Suddha’ dapat menghasilkan energi spirit yang lebih besar dan lebih murni’, jika dibandinkan dengan pecaruan yang masih menggunakan binatang. Namun hal tersebut kembali lagi tergantung kepada keyakinan dan kepuasan bhatin umat yang menjadi Yajamana dari upacara tersebut.

Tandingan Banten Bhumi Suddha:
Banten Bhumi Suddha; Alasnya dapat menggunakan Ngiyu/ tampah yang agak besar, kemudian diatasnya sebuah kain putih (-/+ 1/5 mtr) ditulisi dengan Aksara Dasa Bhayu, kulit sesayut yang bundar kemudian disusun dari bawah yaitu Pala bungkah seperti ubi, talas, singkong, kentang, dan lain sebagainya. Berbagai jenis bumbu dapur lengkap masing-masing dialasi dengan ceper yang kecil, berbagai jenis kacan-kacangan juga dialasi dengan ceper kecil, beras empat warna dialasi dengan ceper kecil diletakkan sesuai dengan warna arah mata angin, berbagai jenis sayur-sayuran seperti mentimun, jagung, terong, jantung pisang, kacang-kacangan, diatur mengelilingi tampah, buah-buahan secukupnya, kue secukupnya. Di tengah-tengah diisi sebuah daksina (tanpa telor) 1, banten peras 1, soda 1, penyeneng 1, pasucian 1, ketipat 1 kelan, sampyan nagasari 1, canang sari 1, tebu batangan 1, seikat padi dipasang mengelilingi tampah/ngiyu.

Banten Bhumi Suddha dapat berdiri sendiri seperti untuk Ngeruak pekarangan, Mecaru setelah upacara kematian, untuk memagari rumah secara niskala, dan atau menyertai berbagai upacara yang lain, seperti upacara Melaspas rumah ataupun pelinggih.

Banten Bhumi Suddha memiliki beberapa keuntungan yaitu:
1). Bahan mudah dan murah (praktis efisien dan efektif).
2). Mengedepankan ajaran Ahimsa.
3). Semua orang dapat membuat dan melasanakanya.
4). Langsung menuju sasaran dari tujuan upacara tersebut (tepat guna).
5). Mempunyai kekuatan spirit yang tinggi dan lebih murni (Sattvam).
6). Multi fungsi dan multi guna.

Mantram Banten Bhumi Suddha:

Om bhuvana-adhyaksaya namah
Om bhukti-mukti-phala-pradaya namah
Om caru-shilaya namah
Om caru-rupaya namah
Om caru-candra-nibhananaya namah
Om nidhaye’ namah
Om nikhila-shastra-jnaya namah
Om niti-vidya-dhuram-dharaya namah
Om sarva-laksana-sampannaya namah
Om sarva-vaguna-varjitaya namah
Om samana-adikanir-muktaya namah
Om sakala-gamaparagaya namah
Om bhrigave’ namah
Om bhoga-karaya namah
Om bhumi-sura-palana-tat-paraya namah
Om manasvine namah
Om manadaya namah
Om manyaya namah
Om mayatitaya namah
Om maha-yashase’ namah
Om bali-prasannaya namah
Om abhaya-daya namah
Om baline namah
* Mantra di atas pengastawa ke hadapan Ibu pertiwi yang menganugerahkan sarwa tumuwuh, sarwa prani, sarwa gumatat-gumitit.

Setelah itu lanjutkan dengan mantra  Memohon Tirtha Kehadapan Ibu Pertiwi dengan Pertiwi Stawa yang sudah Umum:

Om pertiwi sariram dewi, catur dewa mahadewi,
catur asrami bhatari, siwa bumi mahasidhi
Om ring purwa ksiti Basundari, siwa patni putra yoni,
Uma durga gangga dewi, brahma bhatari wisnawi
Om maheswari hyang kumari, gayatri bhairawi gauri,
Arsa sidhi maha, Indra Nicambuni dewi
Om akasa siwa tattwa ya namah swaha
Om pertiwi dewi tattwa ya namah swaha

Wusan nika wawu ayabang antuk mantra pamurtian dasa bhayu:

Om I A KA SA MA RA LA WA YA HUNG PHAT ASTRA YA NAMAH
Om I YAKSA MARA YA WINASAYA
Om YAKSA YA MARA YA LAWA YA WINASANAM
Om MARALAWA I YAKSA YA PHAT HUNG PHAT NAMAH

* Setelah selesai lalu tirtha dipercikkan…baik tirtha yang dari pelinggih maupun yang dari banten bhumi suddha…selanjutnya  tirtha dipercikkan ke seluruh pekarangan….atau ke tempat-tempat yang diupacari….
* Akhirnya  banten bhumi suddha di tanam pada tempat yang telah disedikan sebelumnya…kain putih yang ditulisi/mesurat dasa bhayu diletakkan  paling atas sebagai rurub/tutup banten bhumi suddha…setelahnya baru ditimbun dengan tanah.

Banten Bhumi Suddha

Penutup:
Demikian sekilas tentang banten Bhumi Suddha, semoga ada manfaatnya dan rohani kita semua semakin meningkat. Selamat mencoba dan mempraktikkan keampuhan dan manfaat dari banten Bhumi Suddha.

Om Santih Santih Santih Om
Sumber:
* Purva Bhumi Kamulan-Koleksi Pribadi
* Ngartaaken Bhumi Lambha-Warisan Leluhur Hindu Sunda Wiwitan
* Kala Tattwa-Koleksi Pribadi
* Tenger Linuh-Koleksi Pribadi

Written & Posted by: Sudarma

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Dalam “Lontar Tapeni” disebutkan bahwa upakara merupakan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti adanya Tri Angga antara lain:
a)      Semua bentuk daksina adalah merupakan simbul kepala (hulu) yang merupakan kekuatan dan sumber pengatur.
b)      Semua bentuk ayaban seperti pengambeyan, dapetan adalah merupakan simbul badan, dan jerimpen adalah simbul tangan, semua bentuk tebasan dan sesayut adalah semua bentuk perut.
c)      Semua bentuk lelaban seperti, caru segehan adalah simbul pantat dan kaki.
 
Uraian tersebut ditegaskan dalam Tutur Tapeni sebagai berikut:
“Apan Widhi widana juga ngaran banten, bang ngaran sang Hyang Prajapati (Widhi), anten ngaran inget, ngaran eling, ling ngaran tunggal, ngaran kimanusa anunggal lawan widhi”.
 
“Iki paribasa Widhining yajna, luir ipun, yajnaadruwe prabhu (hulu), tangan, dada muah suku manut manista, madya motama. Daksina pinaka hulunia, jerimpen karopinaka asta karo sehananing banten ring areping Widhini pinaka angga, sahananing palelabahan pinaka suku”.
 
Sebab Widhi Widana juga bererti banten, bang disebut dengan Sang Hyang Prajapati, anten artinya ingat, eling ling, artinya satu, disebut sebagai manusia yang senantiasa menyatu dengan Sang Hyang Widhi.
Yadnya ini sebagai penggambaran Tuhan, seperti yajna memiliki kepala,  tangan, dada dan kaki sesuai konsep nista, madya, utama. Daksina sebagai kepalanya, kedua jerimpen sebagai bahu, seluruh banten yang ada di atas merupakan penggambaran seluruh badan Sang Hyang Widhi, dan semua pelelaban merupakan kaki beliau.
 
Selanjutnya dalam Lontar Tutur Yajna Prakerti ada juga uraian tentang simbolisasi dan makna banten tersebut antara lain bunyinya:
“Ika nimitan ing Widhi-Widana araniya, ikang sarwa babanten, apaniya dadi lingga, dadi saksi, dadi caya, dadi cihnan ing wang astiti bhakti ring Widhi. Panggalaniya ya ring raga sarira juga stana ini Widhin anuksma, ring bhumi nggwan ing astute, nggwan ing stungkara, nggwan ing Umastawa sira.
Karan ing Widhi-Widhana nga, Bhatara; Wi nga, suksma; dhana nga, sakala nyalankara. Kalinganiya ikang babanten juga pinaka reka rupa warnan ira Bhatara, rinekeni rupa kadi tingkah ing kawongan, pada sowong-sowang”
 
Itu disebutkan sebagai Widhi-Widhana, semua dari bebanten, merupakan symbol lingga, menjadi saksi, menjadi cahaya/sinar menjadi cirri-ciri orang yang bhakti kepada Widhi.
Itu sebabnya Widhi-widhana/ banten disebut Bhatara. Wi artinya suksma/disucikan; Dhana artinya nyata-nyata ada.
Makna banten juga sebagai perwujudan bharata, yang diteladani oleh manusia didalam bertingkah laku.
Memperhatikan penjelasan isi lontar tersebut banten yang dipergunakan sebagai sarana persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi penuh dengan makna simbol-simbol. Segala perasaan dan keinginan yang ingin disampaikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi disampaikan dalam bentuk simbolisasi. Banten secara keseluruhan merupakan penggambaran Ida Sang Hyang Widi secara utuh. Banten juga merupakan lingga (tempat berstananya Ida Sang Hyang Widi), banten adalah perwujudan ketulusan hati, banten juga merupakan perlambang cahaya yang menerangi hati nurani manusia.
 
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
 Prosesi Upacara Pengabenan Uttama menurut Teks Yama Purwana Tattwa, cukup rumit, mengingat banyaknya sarana upakara yang dipergunakan, sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk menyediakannya. Upacara Pengabenan Uttama dapat dilaksanakan oleh orang yang berkecukupan, baik dari segi ekonomi, waktu demikian juga tenaga. Menurut Teks Yama Purwana Tattwa Upacara Pengabenan Uttama memungkinkan dilaksanakan terhadap mayat yang sudah dikubur, demikian juga bagi yang masih ada mayatnya.
 
Bila mayatnya masih ada disebut Sawapreteka. Seperti namanya Sawapreteka, berarti langsung mengupacarai mayat, sehingga tidak melalui Upacara Nebusin demikian juga Ngendag, akan tetapi langsung menyucikan mayat atau nusang sawa. Sedangkan jika tidak ada mayat disebut Sawawedana, oleh karena tidak ada mayat wajib membuat pengawak atau pipil dari kayu cendana dan sangga urip sebagai simbolis stula sarira dan suksma sarira. Dengan demikian wajib melaksanakan Upacara Nebusin ke Pura Dalem dan Prajapati, selanjutnya Ngendag Ngulapin.  Sebagai pengusungan mayat ke kuburan menggunakan wadah atau bade yang disesuaikan dengan keturunannya, pembakaran mayatnya menggunakan petulangan yang juga disesuaikan dengan keturunannya. 
 
 Fungsi Upacara Pengabenan Sawapreta demikian juga Sawawedana tidak jauh berdeda, yakni sama-sama sebagai penyucian serta penuntun sang atma sampai di Mahadewa Loka. Selanjutnya Weda Puja Pitra Siwa menjelaskan;
“Yan nyawa wedhana palakunya, kramanya tunggal lawan sawa prateka, saha upakaranya. Mapangawak candana, majagau, kayu aba maka nistanya. Swarganya Pascima, kawahnya Banu Wedang, pangadang-adangnya sang Suratma, Cikrabalanya watek pisaca, widyadharinya Sulasih, wikunya Bhagawan Kanwa, Dewanya Sang Hyang Mahadewa, wewalenya gong. Pamuputnya ring setra. Tirthanya Amerta Kundalini”.
Jika ia meminta sawa wedhana, maka tata caranya sama dengan Sawa Prateka, termasuk upakaranya. Menggunakan simbul/perwujudan orang yang meninggal dari kayu cendana, majagau, atau kayu aba untuk simbol yang tingkatan kincit. Sorganya di Barat, nerakanya air mendidih, penghalangnya Sang Suratma, laskarnya para pisaca, bidadarinya bernama Sulasih, pendetanya Bhagawan Kanwa, dewatanya Sang Hyang Mahadewa, walinya gong  tempat penyelenggaraan upacaranya di Kuburan. Air sucinya Amerta Kundalini.
Bila bentuk upacara pengabenan sawa wedhana yang dipilih untuk dilaksanakan, maka atma orang yang diaben akan di antar menuju arah Barat yaitu ke Kahyangan Dewa Mahadewa. Jika orang yang di aben dalam kehidupannya cenderung melakukan perbuatan baik, maka ia akan sampai di svarganya Dewa Mahadewa, disambut oleh Bidadari yang bernama Dewi Sulasih, disana ia akan ditemani oleh Bhagawan Kanwa. Akan tetapi jika orang yang di aben lebih cendrung pada perbuatan asubha karma, maka ia akan sampai di nerakanya Dewa Mahadewa, direndam pada air yang mendidih, disambut oleh Sang Suratma. Air suci sebagai pengruatan sang atma adalah Tirtha Amerta Kundalini yang ketika pemujaannya Sang Pandita membayangkan keluarnya dari nada pada Omkara Adu Muka dengan pertemuannya pada ungsilan, disertai dengan air suci anugerah Bhatara yang berstana di Pura Puseh.
Upacara pengabenan sawa wedhana dilakukan jika tulang-belulang orang yang mau diaben tidak diketemukan, maka ketika mengupacarainya dibuatkan pengawak dari Kayu Cendana yang Uttama, kayu Majagahu bagi yang Sedang (Madya), Kayu Aha bagi yang Nistha. Kayu tersebut diberi gambar orang yang mati, disertai dengan tulisan Catur Dasaksara dan Rwa Bhineda. Pelaksanaannya sama dengan Sawaprateka, hanya saja pada upacara Pangaskaran disertai dengan banten Panebusan, yang uangnya sesuai dengan tingkatan upacaranya, yang fungsinya untuk menebus atma orang yang mau diaben. Jika upacara yang dipilih adalah tingkat Uttama mempergunakan mantram Kunapabhiseka, menggunakan Nagabandha, bagi Ksatriya Awirbhuja dan Sang Pandita Bhyuh Sisya. Menurut ajaran Mpu Lutuk. Jika upacaranya dilakukan pada upacara panupitan maka upacaranya termasuk Astiwedhana (Tim Penyusun, 2001: 18). Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disampaikan bahwa fungsi Upacara Pengabenan Uttama adalah untuk menyucikan keberadan sang atma agar layak diterima disisi Ida Sang Hyang Widhi sehingga tidak mengotori alam semesta, selanjutnya menuntun sang atma sampai ke Mahadewa Loka. 
 
Berdasarkan penjelasan-penjelasan  dari teks tersebut di atas dapat dipahami bahwa fungsi upacara pengabenan adalah untuk menyucikan sang atma agar layak bersatu kembali dengan asalnya yaitu Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya. Tidaklah salah jika dalam perkembanganannya upacara kematian menjadi salah satu religi yang sangat penting dalam kehidupan umat Hindu, yaitu untuk meningkatkan kehidupan leluhur di alamnya, demikian juga keluarga yang ditinggalkan di dunia. Upacara kematian memang bersifat sangat gaib, karena diyakini dapat mengantarkan arwah leluhur dari dunia nyata (dunia sekala) menuju pulau harapan (svarga).
 
Teks Yama Purwana Tattwa memilah upacara kematian menjadi tiga bagian, yaitu: 1) pada pelaksanaan upacara pengabenan terjadi pemisahan antara stula sarira dengan suksma sarira melalui pemercikan tirtha pengentas, selanjutnya stula sarira dipralina, sedangkan suksma sarira diantar  ke sunya loka dengan weda puja, 2) pada pelaksanaan upacara pengiriman, tulang-tulang yang sudah dibakar dipungut, kemudian direka sebagai perwujudan raga, di atasnya ditempatkan 22 buah kewangen sebagai simbol jiwa, selanjutnya dwi sarira ini dipersatukan dengan puja utpathi, disuguhkan sesajen, disucikan, kemudian dipralina kembali selanjutnya dianyut, 3) pada pelaksanaan upacara memukur atau nyekah, sang atma di angkat  kembali, di-sthana-kan pada adeg sekah, dipuja utpathi sebagai simbolis penyatuan, disucikan, kemudian dipralina, selanjutnya dianyut. Setelah tiga kali mengalami proses penyucian, dilanjutkan dengan pelaksanaan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Upacara ini bertujuan memberikan kebebasan dan penghormatan kepada para leluhur, jika laksana dharmanya sudah sempurna diharapkan dapat bersatu dengn Ida Sang Hyang Widhi, dan jika laksana dharmanya belum sempurna dituntun untuk di-sthana-kan pada sanggah kemulan atau rong tiga.
 
Selanjutnya Teks Yama Purwana Tattwa yang menjelaskan tentang lima (5) bentuk upacara pengabenan, memberikan kebebasan kepada setiap umat Hindu dalam memuja Tuhan sesuai dengan karakter yang ia sukai. Pemilihan bentuk  upacara pengabenan yang disesuaikan dengan karakter dan kecendrungan orang yang meninggal adalah sangat penting, mengingat dengan cara demikian atma orang yang meninggal akan sampai pada tempat yang diinginkan, walaupun pada akhirnya karma wasananya jugalah yang menentukan apakah ia akan sampai di svarga  atau nerakanya. Melalui pelaksanaan upacara kematian (pengabenan) diyakini;
1) keluarga yang ditinggalkan dapat membayar hutangnya,
2) atma leluhur bisa sampai disisi Dewa Brahma (Tuhan Yang Maha Esa),
3) dengan demikian alam semesta akan menjadi tenang sehingga para Dewa akan merasa nyaman disana.
 
Berdasarkan penjelasan tersebut, pelaksanaan upacara kematian menempati posisi yang sangat penting. Sehubungan dengan itu Weda Puja Pitra Siwa memberikan pemahaman bahwa orang yang meninggal atau keluarga yang ditinggalkan dapat memilih bentuk upacara kematian yang akan diselenggarakan sesuai dengan karakter serta kecendrungannya semasih hidup. Jika ia adalah pemuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi wisnu misalnya, maka ketika dia meninggal boleh saja dia memilih bentuk upacara sesuai pengabenan sesuai dengan karakter yang disukai yaitu Pranawa sehingga jika dalam kehidupannya ia cenderung pada subha karma maka ia akan sampai di svarganya dewa Wisnu, dan jika ia cenderung pada asubha karmanya maka ia akan sampai di nerakanya, demikian dan seterusnya.
 
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Upacara Pengabenan Madya menurut Teks Yama Purwana Tattwa disebut juga Upacara Pengabenan Pranawa. Fungsi Upacara Pengabenan Madya secara umum tidak jauh berbeda dengan Upacara Pengabenan Swastha Gheni yaitu sama-sama berfungsi sebagai penyucian terhadap sang atma agar tidak gentayangan dan mengotori alam semesta. Arwah yang gentayangan akan mencemari dunia sehingga umat manusia dan segenap mahluk hidup tidak dapat merasakan kenyamanan. Lebih khusus Weda Puja Pitra Siwa menguraikan:
 “Yan ya Pranawa pamalakunya, kramanya mawadah saha banten teben, madamar kurung, mapangawak Tirtha muang alang-alang-toya. Swarganya utara, kawahnya Blagada, pangadang-ngadangnya Sang Adikala, Cikra balanya watek Kingkara, Widyadarinya Tunjung Biru, Dewanya Sang Hyang Wisnu, Wikunya Bhagawan Janaka, wawelenya Saron, pamuputnya ring setra, Tirthanya Maha Pawitra”.
Jika ia mapranawa, maka pelaksanaannya menggunakan wadah serta banten teben, menggunakan damar kurung, memakai perwujudan orang yang meninggal dari air, yang disertai dengan alang-alang pada air suci, svarganya di utara, nerakanya berupa lahar, penghalangnya Adikala, laskarnya para Kingkara, Bidadarinya Tunjung Biru, Dewatanya Sang Hyang Wisnu, pendeta sorganya Bhagawan Janaka, Musiknya Saron, Upacaranya diselenggarakan di Kuburan, air sucinya Maha Pawitra.
 
Bila memilih bentuk Upacara Pengabenan Pranawa, arwah orang yang meninggal akan diantar ke Utara, menuju ke tempatnya Dewa Wisnu. Bila dalam kehidupannya orang yang meninggal perilakunya subha karma maka atmanya akan tiba di Svarganya Dewa Wisnu, disambut oleh bidadari Tunjung Biru. Di sana ia akan tinggal bersama Bhagawan Janaka. Apabila dalam kehidupannya ia cenderung pada perbuatan asubha karma maka atmanyya akan sampai di neraka yang sangat panas membara karena dipenuhi lahar yang membara. Cikrabala yang akan menyambutnya bernama Adikara dan Kingkara. Pada saat memohon Tirtha Pawitra, Pandita membayangkannya keluar dari nada pada aksara Mang dalam pertemuan Tri Aksara, dan diantarkan dengan Om Kara Gheni, dengan Panca Brahma berada di bawah, sedangkan Panca Aksara berada di atas, disertai dengan air suci anugrah Betara Dalem. Berdasarkan penjelasan sloka di atas dapat dipahami bahwa fungsi Upacara Pengabenan Madhya atau Pranawa adalah untuk menyucikan arwah leluhur agar layak diterima disisi Ida Sang Hyang Widhi, selanjutnya sebagai penuntun sang atma sampai ke Wisnu Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
 Prosesi upacara pengabenan nista menurut Teks Yama Purwana Tattwa, juga sangat sederhana, jika diperhatikan dari sarana upakara yang digunakan. Bentuk Upacara Pengabenan Nistha dalam Teks Yama Purwana Tattwa, sejalan dengan bentuk Upacara Pengabenan Supta Pranawa dalam Teks Weda Puja Pitra Siwa yang menjelaskan:
”Muang mati kala kahawanan, katiban mrana, muang tutumpur, kaperepeganing musuh, kari wawalunganya mapendem, maung ring salu sampun setahun, wenang Pranawa, Sawehnya geseng wawalungan ika ring setra muang kirim, babantenya panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kalungah kinasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, tarpana sarparikrama, dyus kamaligi, nora tumut kukwan, muang wak-wakanya, pisang jati palungguhan krama jangkep, daksina sang ngajengin karya gung artha 8000. Sawa Pranawa ngaran”.
Bagi mereka yang meninggal pada saat perjalanan jauh, dilanda penyakit dan wabah, diserang musuh, tulang-belulangnya masih dikubur atau masih di atas tumpang salu hingga setahun, dapat diupacarai dengan upacara pranawa. Semua tulang belulangnya dibakar di kuburan dilanjutkan dengan upakara pakiriman dengan sesajennya; panjang ilang, bubur pirata, nasi angkeb, wija catur warna, kelapa gading muda yang dikasturi, ajuman putih kuning, peras, sorohan, saji tarpana selengkapnya, dyus kamaligi, tidak berisi kukwan dan wak-wakan, pisang jati sebagai palungguhan selengkapnya dan daksina untuk pendeta yang memimpin upacara dengan uang sebesar 8000. Upacara ini disebut Pranawa.

Memperhatikan uraian teks di atas dapat dipahami bahwa; dalam pelaksanaan Upacara Pengabenan Nistha wajib membuat pengawak atau pipil dan sangga urip, sebab tidak dibenarkan mengupacarai tulang-belulang saja. Mengenai arah perjalanan yang akan dituju bila memilih bentuk Upacara Pengabenan Nistha adalah ke Utara, yaitu ke Wisnu Loka (wilayah kekuasaan Dewa Wisnu). Bila dalam kehidupannya orang yang diupacarai perilakunya cenderung subha karma maka atmanya akan tiba di Svarganya Dewa Wisnu, disambut oleh bidadari Tunjung Biru. Di sana ia akan tinggal bersama Bhagawan Janaka. Apabila dalam kehidupannya ia cenderung pada perbuatan asubha karma maka atmanyya akan sampai di neraka yang panas membara karena dipenuhi lahar. Cikrabala yang akan menyambutnya bernama Adikara dan Kingkara. Pada saat memohon Tirtha Pawitra, Sang Pandita membayangkannya keluar dari nada pada aksara Mang dalam pertemuan Tri Aksara, dan diantarkan dengan Om Kara Gheni, dengan Panca Brahma berada di bawah, sedangkan Panca Aksara berada di atas, disertai dengan air suci anugrah Betara Dalem.

Berkenaan dengan hal tersebut dapat dipahami bahwa fungsi Upacara Pengabenan Nistha atau Supta Pranawa adalah sebagai penyucian terhadap sang atma, selanjutnya menuntun dan mengantarkan sang atma sampai ke Wisnu Loka.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag, M.Si
 
Om Swastyastu
Bila diperhatikan dari bentuknya, Upacara Pengabenan Pitra Yadnya merupakan upacara pengabenan yang sangat sederhana, hampir sama dengan Upacara Pengabenan Swastha Gheni, akan tetapi ada sesuatu yang sifatnya sangat prinsipil yang membedakan kedua bentuk upacara pengabenan tersebut yakni;  Upacara Pengabenan Swastha Gheni dilaksanakan jika ada mayat, sedangkan Upacara Pengabenan Pitra Yadnya dilaksanakan bagi yang mayatnya tidak diketemukan. Mengenai fungsinya juga tidak berbeda yaitu sama-sama sebagai penyucian terhadap sang atma. Sejalan dengn itu  Weda Puja Pitra Siwa juga menjelaskan tentang fungsi Upacara Pengabenan Pitra Yadnya adalah sebagai berikut:
“Muang yan amitra yadnya palakunya, kramanya tan pawadah, tan patulangan, tan padamar kurung, tan pabanten teben, kewala saji muang pacaruan. Swarganya ring Tengah, kawahnya Weci Desa, pangadang-adang sang Bhuta Angga Sakti, cikrabalanya watek Danuja, widyadarinya sang Supani, wikunya Wilaruci, dewanya Sang Hyang Siwa, wewalenya Gending Lwang, pamuputnya ring Umah, Tirthanya Amertha Sanjiwani. 
Kalau pitra yadnya yang dilaksanakan, tatacaranya tidak memakai wadah, tidak memakai perabuan, tidak memakai dammar kurung, tidak menggunakan banten teben, hanya berisi saji dan pecaruan. Arah svarga yang dituju adalah di Tengah, Nerakanya adalah kotoran, penghalangnya adalah Sang Byuta dilaksanakan di kuburan, Tirthanya Amertha Sanjiwani Angga sakti, Laskarnya Para Danuja, bidadarinya Sang Suparni, Lawang. Upacaranya. Pendetanya sang Nilaruci, Dewatanya Sang Hyang Siwa, walinya gending.
 
Bila Upacara Pengabenan Pitra Yadnya yang menjadi pilihan untuk dilaksanakan ; maka atma orang yang diaben akan dituntun menuju ke arah Tengah yaitu ke Siwa Loka. Jika dalam hidupnya ia cendrung pada subha karma maka ia akan sampai di svarganya Dewa Siwa, Bidadari yang menyambutnya adalah Sang Suparni. Di svarganya Dewa Siwa, sang atma akan ditemani oleh Pandita Sang Nilaruci. Jika dalam kehidupannya ia lebih cenderung pada perbuatan asubha karma, melalui Upacara Pengabenan Pitra Yadnya, sang atma akan diantar ke neraka. Neraka yang akan dijumpainya berupa kotoran, sedangkan penghalangnya adalah Sang Byuta Angga Sakti, laskar yang akan menyambutnya adalah Para Danuja. Dalam pelaksanaan upacara hendaknya menggunakan tabuh gending lawang. Sedangkan Tirthanya adalah Tirtha Amertha Sanjiwani.
 
Pada saat memohon Tirtha Amertha Sanjiwani, sang Pandita membayangkannya keluar dari nyala api yang keluar dari pusarnya, naik ke jantung, naik lagi hingga sampai pada otot yang buntu, lalu mendidihkan air yang terdapat dalam otak, melalui jalan depan Ardhacandra adalah kedua mata, windunya adalah pangkal hidung, dan dinamakan Yoga Nirbhana. Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi Upacara Pengabenan Pitra Yadnya  adalah sebagai penyucian terhadap sang atma agar layak bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi, selanjutnya dituntun sampai ke Siwa Loka.

Om Santih Santih Santih Om

« Previous PageNext Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers