Om Swastyastu

Kekacauan Bali…Yang salah siapa?

Itulah pertanyaan mendasar yang saat ini sering dipertanyakan oleh banyak pihak, mulai dari rakyat jelata, pejabat, politikus, pelancong baik domestik pun mancanegara…..mengapa….?? Karena Bali sekarang dimana-mana macet, tambahan penduduk kian berjubel, alih fungsi lahan dari pertanian ke bangunan beton tak terbendung…..dan banyak lagi….hingga selorohan ‘kekacauan bali’ dari pelbagai dimensi memang tak bisa kita kesampingkan.

Terhadap pertanyaan di atas setidaknya ada dua jawaban yang biasanya…bisa kita dijadikan dalil, yakni:

  1. Masyarakat akan mengatakan yang salah jelas pemimpin dan wakil rakyatnya…yang sudah mengeksploitasi berlebihan atas nama pendapatan daerah dan pariwisata, dan berlindung dibalik pelbagai aturan….boro boro melindungi alam dan warisan para leluhur, yang ada malah ikut bertindak jadi calo cari-cari proyek….. Perbandingannya selalu kepada pemerintahan Gubernur Ida Bagus Mantra..dimana beliau sangat kuat dan keras melindungi alam serta budaya warisan leluhur…contoh kecil..ART CENTER, PKB, MELARANG MASYARAKAT MENJUAL TANAHNYA UNTUK INDUSTRI PARIWISATA (menyarankan untuk menyewakan saja agara dikemudian hati rakyat bali tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri dan bukan menjadi penonton di tanahnya sendiri), ATURAN BANGUNAN YANG TIDAK LEBIH DARI TINGGI POHON KELAPA DLL.
  2. Pemimpin dan para Wakil rakyat akan mengatakan jelas yang salah adalah masyarakat sendiri….siapa suruh berpikir pendek dan bersaing jual tanah juga beryadnya (upacara dan upakara) berlebihan cuma untuk jor-joran biar terlihat hebat dan bisa seperti keluarga Raja…kami cuma memfasilitasi keinginan masyarakat luas…dll.

Salah-menyalahkan buat saya sih sudah terlambat saat ini…..karena sudah terjadi..dan Bali memang sudah kian kacau sekala-niskala akibat keserakahan dan sok tau juga maha benarnya para preman dan orang pintar yang sekarang yang sangat pandai bersilat lidah melebihi pengacara senior…

Entah kapan ini bisa dihentikan…atau mungkin memang sudah tak terhentikan ? …
Berhenti saat semua sudah hancur lebur dan kita babak belur ?

Jika dulu para leluhur berkata: “kutitipkan warisan alam, tradisi, budaya yang adiluhung ini kepada kalian agar langgeng selamanya”. Maka berbeda dengan saat ini…kita akan berkata: “kutitipkan kehancuran alam, tradisi budaya dan tanah warisan untuk kalian jual lewat calo-calo terpercaya…utamakan yang dekat dengan pusat kekuasaan, pusat duit, dan yang memberi untung.”

Tentu….kita masih ingat sentilah lagu: “Kembalikan Baliku padaku…..” Dalam amatan bodoh saya …. Bali memang saat ini serasa bak “Sapi Perahan”, dimana Susunya dinikmati namun induknya lupa dijaga kesehatannya. Orang-orang mengekploitasi Bali-namun mereka tak semua menjaga Tanah Bali agar tetap sehat sekala dan niskala dan dari Kehancuran….

Apakah akan kita biarkan.???….Kuncinya ada di tangan Kita Semua…..!!

Advertisements