Om Swastyastu

Kematian merupakan Bab Kesimpulan Akhir dari “Buku Perjalanan” manusia di dunia ini. Orang-orang yang berada jauh dari sentuhan ajaran-ajaran suci Veda tidak akan mengerti rahasia kematian dan mereka tidak akan memiliki pengetahuan tentang bagaimana serta apa yang harus dilakukan pada mereka yang meninggal.

Pada kebanyakan umat Hindu kita di Bali khususnya, perlu diadakan penyuluhan oleh yang berwenang memberikan penyuluhan. Paling tidak, bagi mereka yang ingin melihat upacara kematian diselenggarakan dengan cara lebih baik dari sebelumnya, dari apa yang sudah ada. Mereka dapat memberikan contoh bagaimana melaksanakan upacara kematian yang lebih baik dalam jalan Dharma.

Upacara kematian di dalam ajaran suci Veda dinamakan Antyeṣṭi, Agni-kriyā, Antya-kriyā, Antima-saṁskāra, Śava-saṁskāra, Daha-saṁskāra, dan sebutan lainnya. Kata Antyeṣṭi biasanya paling dikenal oleh umat Hindu secara umum di India, sama seperti kata Ngaben di Bali. Kata antyeṣṭi berasal dari kata antya (terakhir) dan iṣṭi (persembahan yajña). Antyeṣṭi berarti persembahan yajña terakhir bagi mereka yang meninggal karena setelah kematian yang bersangkutan tidak bisa lagi melakukan yajña. Persembahan keseluruhan diri kepadaNya melalui api suci pembakaran di tempat pembakaran mayat yang dalam bahasa Sanskerta dinamakan Śmasāna. Barangkali kata śmasāna ini di Bali kemudian menjadi kata Sema.
Dahulu Sema juga dinamakan Setra, barangkali berasal dari kata kṣetra yang artinya medan suci, lapangan suci, tegal suci, karena ia bukan tempat kotor melainkan tempat melakukan persembahan yajña terakhir bagi setiap orang yang meninggal.

Sehubungan tradisi di Bali, karena berbagai alasan, banyak yang dikubur terlebih dahulu (makingsan ring Perthiwi) sambil menunggu waktu untuk di-aben sehingga lama-lama sebutan Setra dan Sema menjadi meredup, diganti oleh sebutan Kuburan.

Secara tradisi Veda atau pemahaman tattwa, pelaksanaan upacara kematian Antyeṣṭi seharusnya badan orang meninggal sesegera mungkin dibakar. Bahkan dari pertimbangan kesehatan juga lebih baik segera dibakar. Akan tetapi, tradisi yang berjalan tanpa disengaja dan tanpa disadari oleh umat kebanyakan menyebabkan sebagian besar umat memilih mengubur badan wadag orang meninggal dibanding dengan yajña membakar langsung.

Semoga ulasab singkat ini bermanfaat bagi kita semu. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Advertisements