Om Swastyastu

sri wisnu

Saat itu, setelah penobatan Vibhisana sebagai maharaja dan kota Lengka sudah diganti namanya menjadi Srilanka, semua pasukan Sri Rama telah kembali ke Ayodhya. Sri Rama bersama dewi Sita dan Laksamana mengendarai kereta terbang bernama Manipuspaka, yang merupakan hadiah dari dewa Kuvera. Setibanya di keraton Ayodhya, segera itu dilaksanakan upacara Abhivandana, yakni upacara syukuran atas kejayaan Sri Rama berhasil menundukkan Ravana. Pada persidangan agung yang mulia dihadiri oleh seluruh petinggi kerajaan, Sri Rama membagi-bagikan berbagai hadiah kepada siapa saja yang pernah berjasa dalam memenangkan perang untuk merebut kembali dewi Sita. Setelah setiap pejabat tinggi mendapatkan hadiah, selanjutnya dipanggillah Hanuman untuk menerima hadiah dari Sri Rama. Saat itu Hanuman tampil berdatang sembah, dengan sangat hormat ia menyatakan tidak bersedia lagi menerima hadiah. Alasan Hanuman, dengan Sri Rama menginjinkan dirinya sebagai abdi sang Purna Avatara, dirinya sudah mendapat hadiah yang tiada taranya, sebab siapa saja yang dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa atau Avatara-Nya, seseorang menikmati kebahagiaan yang sejati.

Terhadap penolakan Hanuman ini, Sri Rama dan dewi Sita kembali mendesak Hanuman untuk bersedia menerima hadiah sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan di medan perang. Demikian pula keberhasilan Hanuman sebagai Duta serta keberanian dan kekuatan Hanuman mendapat pujian dari segenap yang hadir. Hanuman tidak menjawab. Saat itu dewi Sita berbisik kepada suaminya, untuk mengijinkan kalung mutiara hadiah Prabhu Janaka, ayahda dewi Sita diberikan kepada Hanuman. Sri Ramapun menyetujuinya, walaupun kalung mutiara itu memiliki arti yang istimewa bagi Sri Rama dan Sita, karena dihadiahkan saat Sri Rama berhasil mematahkan busur milik dewa Siva dalam sayembara dan berhasil memenangkan serta mempersunting dewi Sita sebagai istrinya. Saat Hanuman tertunduk, Sri Ramapun langsung membuka kalung dewi Sita dan tampil ke depan menyerahkannya kepada Hanuman. Hanuman seperti terpaksa menerima hadiah tersebut. Hanuman merasa malu, seorang yang telah lama diterima sebagai abdi harus menerima hadiah bukankah hal ini salah satu wujud kerakusan ? Setelah Hanuman menerima hadiah tersebut, satu-persatu butiran mutiara itu diperhatikan oleh Hanuman, maksudnya untuk menemukan gambar Sri Rama dan Sita pada biji-biji mutiara tersebut. Iapun tidak menemukan hal itu, tanpa disadari ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menggigit rangkaian mutiara itu dan melemparkannya ke tanah. Hadiran tercengang dan gemas menyaksikan kejadian itu. Panglima Sugriwa sangat marah dan membentak Hanuman. “Hai Hanuman, engkau kera hina tidak tahu diri, kelakuanmu itu memalukan, kuhancurkan wajahmu! Kau telah hina persidangan yang agung ini !” Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan hendak memukul Hanuman. Bila saja tidak di depan persidangan yang mulia itu, Sugriwa sudah pasti menempeleng muka Hanuman. Sugriwa sangat geram, tubuhnya gemetar menahan marah.

Pada saat yang menegangkan itu, Sri Rama dan Sita tersenyum dan memandang Sugriwa yang sedang marah. Demikian tatapan Sri Rama dan Sita menyapu wajah Sugriwa, saat itu pula emosi dan kemarahan Sugriwa lenyap. Sri Rama dan Sita benar-benar mengalirkan pancaran kasih yang tiada taranya. Selanjutnya Sri Rama mendatangi Hanuman dan menepuk bahunya : “Engkau seperti anak kecil, mengapa lakukan hal itu ?”. Maaf tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita, hamba telah mengecewakan persidangan yang mulia ini. Memang hamba seekor kera yang hina, tetapi hamba kira diri hamba tidak lebih rendah dari seorang manusia. Bagi hamba dengan diijinkan sebagai abdi, hamba sudah bahagia, karena ketika hamba dekat dengan tuan dan ibu sebagai perwujudan Avatara Tuhan Yang Mahaesa dan dewi Laksmi, saat itu pula kebahagiaan tiada taranya hamba peroleh dari tuan. Bukankah dengan pemberian hadiah ini hamba menunjukkan kerakusan hamba ?”.

Sri Rama kembali menepuk bahu Hanuman. “Tidak ! Engkau tidak rakus. Lalu apa yang engkau minta Hanuman! Katakanlah jangan seperti anak kecil !” “Baiklah tuan dan ibu dewi Sita, bila hamba boleh meminta lagi, ijinkanlah hamba senantiasa dekat tidak saja secara jasmaniah, tetapi tuan dan ibu dewi Sita hendaknya selalu berada di hati kami. Untuk itu sudikah tuan Sri Rama dan ibu dewi Sita untuk bersthana pada jantung hati kami. Pada singasana bunga hati kami. Bila tuan dan ibu dewi Sita berkenan bersthana, maka itulah hadiah yang hamba senantiasa mohon”.

Sri Rama selanjutnya berdiri tegak dan bersabda : “Hai Hanuman dan hadirin yang tercinta dan supaya di dengar pula oleh seluruh jagat raya. Siapa saja yang maju satu langkah menghadap Aku dan mau mendekatkankan dirinya serta membuka pintu hatinya. Aku akan datang sepuluh langkah mendekati mereka, masuk ke dalam hatinya dan memberikan kebahagiaan yang sejati tiada taranya!”. Mendengar sabda Sri Rama demikian merdu dan menggetarkan alam semesta. Hanuman dengan mencium kaki Sri Rama terlebih dahulu, kemudian menegakkan dadanya. Dengan kekuatan “Bayubajra”, bagaikan kekuatan petir, tiba-tiba dengan kukunya yang tajam ia menoreh dadanya. Dan dengan tenaganya yang dahsyat, tiba-tiba yang merobek dadanya, darah berhamburan ke berbagai arah. Saat itu pula Sri Rama dan dewi Sita hilang dari singgasana kencananya yang indah. Suasana menjadi hening dan terdengar mantra-mantra para dewa dan rsi-rsi sorga dengan taburan bunga harum semerbak, nampaklah cahaya gemerlapan pada dada Hanuman yang menganga lebar. Pada cahaya itu kemudian nampak sebuah singasana emas di atas padma hati Hanuman. Ketika itu kelihatan Sri Rama dan Sita duduk melambaikan tangan dengan sikap Abhaya dan Waramudra, yaitu sikap tangan menjauhkan serta menolak bencana dan memberi hadiah. Hadirin mengucapkan Jaya-jaya Sri Rama, Jaya-jaya dewi Sita. Setelah suana hening kembali. Hanumanpun menutup dadanya, tidak nampak ada luka dan tiba-tiba Sri Rama dan dewi Sita sudah kembali bersthana pada singasana kencana di depan persidangan.

padma hrdayam

Demikian nukilan singkat dari ceritra Ramayana yang memberikan pendidikan secara simbolis, bila di hati kita telah bersthana Sang Avatara, para dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, maka niscaya kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita. Berbagai upacara termasuk piodalan dan lain-lain mengandung makna untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dengan mendekatkan diri, maka Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Anandarupa, yakni kebahagiaan yang sejati akan turun dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga kepada kita.

Om sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah,
sarve bhadrani pasyantu, ma kascid duhkha bhag bhavet.
(Ya Tuhan Yang Mahaesa, karuniailah kami, semooga kami selalu
melihat kebaikan, semoogalah tiada halangan, semogalah kebajikan
selalu di depan kami dan semogalah semuanya terbebas dari
kedukaan).
Om Santih Santih Santih

Advertisements