January 2018


Oleh: Rasa Acharya Prabhu Raja Darmayasa

Om Swastyastu

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, Tuhan Yang Maha Esa semoga saya, keluarga saya, teman-teman saya, orang-orang dekat saya, kenalan-kenalan saya dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu. Berita bunuh diri telah menjadi hiasan tetap bagi setiap koran di dunia.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Bukan hanya terjadi di tanah air kita melainkan juga di seluruh dunia. Dunia Barat pun tidak terbebas dari bahaya bunuh diri. Seorang teman saya yang warga Inggris telah kehilangan saudara terkasihnya. Saudaranya adalah orang sukses dan sangat terkenal bahkan di dunia. Tetapi, rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan kesadarannya sehingga memilih jalan bunuh diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin dan mengimbau Saudara-saudara se-tanah air untuk menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan tidak tepat, tergesa-gesa, jalan yang salah dan selain ia adalah tindakan dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka yang paling gelap:
“ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH.”
Artinya: Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi. (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13).

Tindakan-tindakan konyol biasanya dilakukan secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan baik, disebabkan kegelapan yang menutupi batin seseorang.

Kitab suci Upanishad memberikan doa-mantra untuk membantu diri kita terbebaskan dari kegelapan agar kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.
OM…, tamaso ma jyotir gamaya,
Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..
Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun, saya minta kematian.

Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya mempunyai seorang teman bernama Merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo tersebut akhirnya ia mengganti namanya dalam panggilan menjadi Amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Banyak orang tidak membedakan hidup keagamaan dengan hidup spiritual Sesungguhnya spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktik agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda.

Om Santih Santih Santih Om
05 Januari 2018

Advertisements

ᬲᬭᬕᬲᬂᬲᬥᬸᬲᬶ᭢ᬭᬓᬢᬸᬢᬦ᭟

Mereka yang Bijaksana patut dijadikan Suri Tauladan. (Awatara Rama)

#JeroMangkuDanu

ᬢᬦ᭄ᬳᬃᬣ᭄ᬢᬦ᭄ᬓᬫᬧᬶ᭢ᬤ᭡ᬦ᭄ᬬᬢᬦ᭄ᬬᬲ᭟

Bukanlah Harta dan bukan pula Kenikmatan jika tidak diperoleh dengan jalan Kebenaran. (Awatara Rama)

#MangkuDanuQoutes

#JeroMangkuDanu