Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu
 

“Tesam aham samuddharta, 

mrtyu-samsara- sagarat,

 bhavami na carat partha, 

mayy avesita-cetasam” (Bhagavadgita.XII.7)

Artinya: Bagi mereka yang pikiranya tertuju terus-menerus kepadaKu, wahai Partha (Arjuna) Aku segera menjadi penyelamat mereka dari lautan penderitaan mahluk fana

 

Demikian janji Tuhan kepada umat manusia yang beliau sabdakan dalam Bhagavadgita, indikasi yang bisa kita tangkap dari sloka ini bahwa dunia maya ini sesungguhnya adalah tempatnya penderitaan, jika tidak demikian halnya maka Tuhan mungkin tidak sampai menyabdakan hal itu.

Masih kuat dalam ingatan saya ada syair sederhana yang sangat akrab di telinga kita terutama bagi yang lahir dan besar di Bali terutama yang lahir dibawah tahun delapan puluhan karena bagi yang lahir ditahun sembilan puluhan keatas barangkali tidak seberapa akrab terkecuali bagi mereka yang memang menekuninya, adapun syairnya adalah seperti berikut:

Idupe mondong sengsare, 

Mangkin idup besok mati

Memanjakin keranjang padang

Peteng-lemah ia puponin

dan seterusnya……… 

Yang artinya kurang-lebih:

Hidup di dunia material ini sesungguhnya penuh dengan penderitaan memikul beban yang kian sarat. Sekarang hidup besok lusa jika sudah waktunya tiba tidak akan terhindar dari yang namanya kematian itu. Melayani keinginan, napsu atau indria yang sedemikian kuat tiada henti-hentinya bagaikan keranjang rumput yang setiap hari harus kita layani dengan mengisi rumput didalamya untuk pakan sang ternak, siang-malam menjadi budak dari sang napsu rajas dan tamas. 

 

Nah sedemikian menderitanya kehidupan di dunia ini maka setiap bayi yang lahir dari rahim ibunya ditandai dengan tangisan karena dia tahu dunia ini penuh dengan kesengsaraan lahir, penyakit, usia tua dan kematian.     

Demikianlah sepenggal bait geguritan Tamtam yang dikemas sangat indah dalam bentuk pupuh sinom oleh para leluhur kita dimasa silam, bukan saja sebagai karya sastra yang bernilai seni tinggi tetapi sekaligus mengandung ajaran rohani yang dalam sebagai sesuluh (cermin) dalam meniti hidup dan kehidupanya, karena didalamnya sarat dengan pesan-pesan dharma, terkandung nilai-nilai kesucian, kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan dan seterusnya. 

Nah kita sebagai parisentananya atau generasi penerusnya harus berani pula mengatakan dengan sejujurnya bahwa karya sastra ini masih relevan kita jadikan salah satu petunjuk atau penuntun jalan dalam kita menyusuri lorong-lorong perjalanan rohani kita baik sekarang maupun dimasa-masa yang akan datang.     

Dengan demikian secara benar dan wajar kita telah memberikan penghormatan, penghargaan dan penilaian yang tinggi kepada para leluhur kita, walaupun sesungguhnya beliau-beliau itu sebagai maha kawi sangat tidak mengharapkan hal itu.  

Jika kita cermati lalu kita hubungkan dengan sabda Krsna diawal tentu kedua-duanya sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain dimana Tuhan berjanji akan menyelamatkan orang-orang dari penderitaan duniawi. Namun kenyataannya dimasyarakat masa kini ternyata sebagian besar orang kebingungan dan tidak tahu bagaimana caranya membebaskan diri dari penderitaan itu. walaupun banyak tempat ibadah dibangun bahkan dengan megah, melaksanakan ritual-ritual keagamaan dengan meriah cendrung mahal dan yang sudah pasti adalah salah satu identitas dirinya adalah beragama.

Ternyata pembangunan tempat ibadah, melaksanakan ritual dan menyandang identitas manusia beragama tidaklah serta merta mengangkat manusia atau menyelamatkan manusia dari penderitaan. Ada sisi lain yang harus diupayakan secara terus-menerus sesuai sabda diatas dimana hanya orang-orang yang pikiranya terus-menerus tertuju kepaNya sajalah yang diselamatkan dari penderitaan itu.

Dalam kehidupan ini seharusnya ada satu keputusan maha penting yang harus kita ambil sebagai satu-satunya keputusan tertinggi diantara keputusan-keputusan yang lain dalam hidup ini yaitu keputusan untuk menekuni bhakti rohani kepada Tuhan, inilah keputusan yang tertinggi dalam kehidupan manusia, tidak ada lagi keputusan yang lebih tinggi daripada itu. Nah keputusan-keputusan yang lain yang telah dan akan diambil hanyalah sebagai pendunkung keputusan teringgi itu.

Misalnya keputusan untuk bekerja dimana saja dan sebagai apa saja, keputusan untuk berusaha atau berwiraswasta, ini adalah semata-mata keputusan untuk mendukung proses bhakti kita kepada Tuhan. Keputusan untuk sekolah atau kuliah meningkatkan kecerdasan intelektual dalam rangka mencerdaskan rohani menunjang proses bhakti kepada Tuhan.

Selama ini ada kesan dibalik-balik dimana orang kebanyakan berpikir membangun ekonomi terlebih dahulu baru membangun rohani dan ini sering kebablasan artinya setelah mereka sukses secara materi lalu proses pembangunan rohaninya terabaikan dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah kemerosotan dan kehancuran karena mereka tidak tahu untuk apa semua ini sebagai akibat dari rohani yang kian kering.  

Kemudian banyak juga yang berpikir bahwa sebaiknya pembangunan rohani dimulai pada saat usia menginjak tua, pemikiran semacam ini tentu kurang tepat karena proses bhakti rohani mestinya harus sudah dimulai sejak usia dini. Sebab jika setelah usia tua baru dimulai maka phisik kita tentu tidak menunjang lagi untuk melaksanakan aktifitas yang dibutuhkan dalam menekuni proses bhakti itu dan kematian itu sudahlah pasti tidak memandang usia, jika belum sempat menekuni bhakti kepada Tuhan tiba-tiba dewa yama datang menjemput maka sia-sialah kehidupan ini. 

 

Maka jika keputusan tertinggi itu sudah diputuskan sejak dini maka proses pembiasaan diri untuk selalu berpikir tentang Tuhan akan lebih mudah dilakukan, sebaiknya hal ini dilakukan melalui guru-guru kerohanian atau sering-sering bergaul dengan para sadu atau sadu sanga agar pikiran kita selalu mampu tertuju selalu padaNya. Jika demikian maka Tuhan akan menyelamatkan kita dari lautan penderitaan dunia maya ini.

Semoga semua mahluk berbahagia

Om Namo Bhagavate Vasudeva ya

Om Santih Santih Santih Om

Rahayu®