Om Swastyastu
Pada suatu hari seorang pengusaha kaya ingin menenangkan pikiran dengan berperahu menyusur Danau Batur. Saat jejeg ai (siang hari) perahunya dibawa ke tepian, untuk beristirahat. Disitu ia bertemu dengan seorang laki-laki pencari rumput sedang istirahat, makan bekalnya di bawah kerindangan pohon. Entah pikiran apa yang membawanya, ia mendekat, lalu ikut duduk di sebelah laki-laki setengah umur itu, yang sedang makan dengan lahap, padahal lauknya cuma gerang (ikan asin), sambal dan kerupuk.
“Enak Pak, makannya?”

“Ya, enak. Apalagi habis kerja begini”
“Bapak cari rumput dari pagi?”

“Iya pak, siang begini istirahat sebentar, sembahyangan siang dan makan siang, lalu dilanjutkan lagi. Menjelang sandhyakala saya pulang”.
“Rumputnya dijual? Laku berapa?”

“Saya maburuh ngarit (tukang cari rumput) pak mekel (kepala desa), pak. Dibayar seminggu sekali”, Lalu ia menyebut sejumlah uang yang tidak banyak, yang membuat si orang kaya geleng-geleng kepala.
“Segitu apa cukup untuk keluarga?”

“Cukup pak”
“Hidupmu bahagia?”

“bahagia, pak.”
Laki-laki kaya itu terhenyak. Hidupnya  sudah berlebih-lebihan tetapi ia merasa belum merasakan yang namanya “bahagia”. “Kalahlah aku sama dia”. Ia merenung dalam. Rupanya Hyang Widhi menuntunku kesini untuk ketemu si pencari rumput..
 “Besok pagi bapak merumput disini juga Pak?”

“Iya pak. Kenapa?”
“Aku ingin ikut bapak ngarit (merumput), nggih”. 
Jawaban yang membuat si pencari rumput heran. Apanya yang menarik dengan rumput?

Bahagia menjadi Petani


Sauadara terkasih dalam dharma…..ingatlah bahwa “BUNGAH SUSAH GUMANTUNG SING NGELAKONI~SENANG SUSAH TERGANTUNG YANG MELAKONI”. Sebuah pesan patut kita resapi, bahwa kedamaian, kebahagiaan dan segala suka dan duka cita….sumbernya lekat bersama kita, yang diluar hanyalah gema dan pendaran yang berada di dalam. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om

♡ Jero Mangku Danu®