Om Swastyastu

Salah satu keunikan dan kekhususan yang dimiliki oleh Desa Adat Kedisan, Kecamatan Kintamani adalah Pura Dalem Bajangan.

Lokasi:

Pura ini terletak di sebelah Barat Desa berdekatan dengan SDN Kedisan dan Pura Dalem Kahuripan. Dan daerah disekitarnya diberi nama “Majangan”. Dan berada di Perempatan (pempatan) desa.

Bentuk:

Secara struktur Pura Dalem Bajangan berupa Pelinggih Padma Capah, tapi masih sederhana karena memang belum pernah dipugar. Dikelilingi tembok cetakan dan dibelakangnya berdiri kokoh Pohon Aa Baas. 

Fungsi:

Sesuai dengan namanya “Pura Dalem” merupakan Pura yang dikhususkan untuk memuja Ida Bhatara Siwa, dalam hal ini dalam PrabawaNya sebagai  Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak, dan Sanghyang Kumara. Itu sebabnya Pura ini disebut “Pura Dalem Bajangan”.

Pura ini merupakan tempat khusus untuk melaksanakan pemujaan dalam rangka memohon Kerahayuan bagi para Bayi (Rare) hingga usia tertentu.

Dalam Lontar Panca Kumara disebutkan: “……yan hana rare hembas wenang sang rare ngamolihaken pengaskara widi widana minakadinya upakara bajang colong, palukatan mala pawetuan saking sanaknya, yan tan katawur mawastu makweh gering laranya…..”. 

Artinya: “….jika ada bayi yang lahir patutlah bayi itu mendapatkan upacara widi widana seperti upakara bajang colong, palukatan mala kelahiran dari saudara empatnya, jika tidak ditebus/diupacarakan akan sering sakit-sakitan…”.

Pura Dalem Bajangan Desa Adat Kedisan~Kintamani

Itu sebabnya setiap bayi yang lahir, biasanya saat usianya akambuhan sampai berusia satu oton, maksimal tiga oton buatkan banten tataban bajang colong, jejanganan, parurubayan, dan banten kumara untuk saudara empatnya. Ditempat lain biasanya upacara ini dilaksanakan di pekarangan rumah. 

Namun di Desa Adat Kedisan, karena sudah ada pura Khusus, upacara dilaksanakan di Pura Dalem Bajangan. Tetapi karena keterbatasan informasi, Krama Desa jarang yang datang langsung ke pura ini, biasanya dilakukan dengan cara “Ngayeng” dari rumah sang madue karya. Padahal semestinya setiap anak patut diajak tangkil ke Pura Dalem Bajangan untuk menghaturkan Banten Bajang Colong  dan nunas kerahayuan sehingga terhindar dari hal-hal yang disebabkan oleh bajangan kelahirannya, sehingga si anak dapat tumbuh sehat dan urip kalantas. Demikian  pula jika si anak dalam perjalanan hidupnya sering mendapatkan kemalangan, sakit, dan hal-hal yang dipandang buruk lainnya, juga  di ajak  tangkil ke Pura Dalem Bajangan untuk melakukan upacara Penebusan.

Dalam petikan Wingkang Ranu Kedisan juga disebutkan: “Yan hana rare sungkan tan pakrana, panes bara, ngelayung, ngeling, lesu, lemet mwah gering tan papegatan ika indung bajanganya mamilara, wenang tebusin, lukat, acep ta   Ida Bhatara Siwa ri Dalem Bajangan sang aparagayan Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak mwah Sanghyang Kumara, apan sira dewaning bebajangan, banglong”.  

Artinya: “Jika ada anak yang sakit-sakitan tanpa penyebab yang jelas, seperti: panas tinggi, sering histeris, mudah menangis, lemas, pucat, hingga sakit lainnya silih berganti itu merupakan namanya sakit bajangan, patut mendapatkan penebusan, dilukat dan pujalah Bhatara  di Dalem Bajagan yaitu Bhatara Siwa sebagai Sanghyang Panca Korsika, Sanghyang Catur Sanak dan Sanghyang Kumara, karena beliaulah Dewa segala jenis Bebajangan dan yang mengasuh (Babu Banglong) semua anak-anak”.

Jadi Keberadaan Pura Dalem Bajangan, sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat khusus bagi Krama Desa Adat Kedisan. 

Demikian dapat saya jelaskan secara singkat tentang keberadaan Pura Dalem Bajangan, dengan harapan dikemudian hari Krama Desa Adat Kedisan dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sebagai mana fungsi Pura ini di bangun oleh Leluhur Desa.

Om Santih Santih Santih Om

*Kontributor:  I Wayan Sudarma (Jero Mangku Danu)

* Sumber Bacaan:

  1. Lontar Rare Angon
  2. Purana Wingkang Ranu Kedisan

*Photo: Pura Dalem Bajangan~Desa Adat Kedisan, Kintamani