Dina Pangredanaan

Om Swastyastu

Rupanya perang antara Watugunung dan Betara Wishnu benar-benar telah memakan banyak korban dan menimbulkan guncangan yang luar biasa di semesta. Sang Hyang Siwa pun terusik ketenangannya dan muncullah dia di hadapan Betara Wisnu untuk menghentikan amarahnya .. “Hai anakku, janganlah hendaknya sang Watugunung dibunuh lagi, biarkanlah hidup untuk hari-hari selanjutnya supaya ini diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau  perbandingan.”

Maka menjawablah sang Betara Wisnu, ”Hyang, Watugunung ini amat besar dosanya, mengawini orang yang sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. dan merekapun bersepakat tidak boleh lagi ada laki-laki yang mengawini orang yang sudah bersuami dan memperistri ibunya sendiri”. Lalu Bhatara Wisnupun mengutuk Sang Watugunung sebagai hukumannya, sabdanya “Tiap-tiap enam bulan engkau akan runtuh (jatuh)” …

Sang Watugunung menerima dan memohon pada Betara Wisnu: ”Baiklah hamba menuruti sabda tuanku, hamba mohon apabila hamba jatuh di darat hendaknya turun hujan dan bila hamba jatuh di laut supaya hari panas terik, agar hamba tidak kedinginan.” … Permohonan sang Watugunung-pun dikabulkan, rakyat sang Watugunung serta pada Dewa yang menjadi korban dalam pertempuran itu dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Siwa.

Sang Watugunung-pun mulai menyucikan diri, melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, Samadhi untuk memohon pengampunan, dan memohon kepradnyanan kehadapan Sang Hyang Widhi.

Kemudian I Watugunung menyiapkan langkah berikutnya adalah bagaimana caranya ia mencapai target itu, tentu ada strategi yang harus ia gunakan, baik yang bersifat motorik mapun sensorik.

Kemudian Sang Watugunung mensucikan diri, melaksanakan tapa brata, yoga , samadhi untuk memohon pengampunan dan  mohon kepradnyanan kehadapan Sang Hyang Widhi.

image

Dalam kehidupan kekinian kita mebutuhkan konsentrasi dan disiplin yang tinggi pada fase ini. Intinya adalah mensinergikan Kecepatan, Konsistensi, dan Ketepatan serta Kerjasama seluruh potensi phisik, phsikis, mental, emosional dan spiritual diri kita. Ini adalah makna lain dari hari Pengeredanan (Sukra Kliwon Watugunung).

Dan hari ini oleh umat dimaknai dengan mengumpulkan semua lontar dan buku-buku untuk dibersihkan, sebagai simbol pembersihan ilmu pengetahuan (kecerdasan) yang dimiliki dari angkara (etika buruk) pemiliknya agar bisa menjadikan kehidupan jadi lebih baik dalam harmoni semesta. Dan dengan keteguhan  melakukan tapa brata melalui Pengeradanan, maka esok harinya yaitu Sabtu Umanis kita dianugrahi ilmu pengetahuan oleh Sang Hyang Widhi.

Om Santih Santih Santih Om

♡Jro Mangku Danu®