Om swastyastu

1. Guru Piduka: adalah istilah yang digunakan sebagai bentuk “kesadaran” bahwa kita tak luput dari kekeliruan bahkan kesalahan, yang kita lakukan-akibat tidak mampu dan atau belum bisa “sepenuhnya” dapat menjalankan apa-apa yang diamanatkan oleh “guru” kita; baik yang diamanatkan oleh Guru rupaka, guru Pengajian, guru wWsesa, dan guru Swadhyaya.

Kaitannya dengan Upacara Agama, kita juga belum sepenuhnya mampu menjalankan apa yang diamanatkan melalui “guru sastra” (sastra drsta), yang kita jadikan acuan dalam berupacara dan membuat upakara yadnya. Masih banyak bahan yang belum kita dapatkan, atau kita kurangi, atau kualitasnya tidak sesuai-misalnya ada yang sudah busuk, basi dan sebagainya. Atas hal inilah kita melakukan Guru Piduka (upacara permohonan maaf secara khusus kepada Guru-Guru tersebut diatas), yakni dengan mempersembahkan Banten yang namanya sesayut Guru Piduka. Kata sesayut artinya: Permohonan Khsusus.

2. Bendu Piduka: Bendu artinya kesal, kecewa, marah;  Adalah berkenaan dengan tata kelola pikiran, ucapan dan tindakan kita selama berbuat (khususnya saat berupacara), baik yang berada diluar kesadaran maupun disengaja yakni pikiran dongkol, kesal, kecewa; kata-kata kasar, fitnah; prilaku emosional, marah, bahkan hingga mengamuk dan dendam. Kondisi inilah yang mencemari upacara sehingga dinamakan leteh. Hal ini lalu dibuatkan Banten Sesayut Bendu Piduka, sebagai bentuk Rasa Penyesalan sekaligus permohonan maaf baik kepada Tuhan, dan sesama. Bahwa selama kita berkarma (ngayah) pernah melakukan hal-hal yang dikatagorikan sebagai “bendu”.  Dan setelah itu semuanya kembali Ksama (saling memaafkan), Santih (berdamai) dan Santosa (Bahagia bersama-sama).

Klungkung-Smarapura
Om Santih Santih Santih Om