Om Swastyastu

Makna Kupat/Ketipat Pesor, Sesuai dengan Petikan Lontar Serat Sabdo Pandita (sebuah lontar berbahasa Jawa Kuno yang disusun semasa Air Langga di Kadiri, yang digunakan pada upacara Bhumi Sudha, semacam Pecaruan di Bali)

Ketipat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari NgaKU LePAT dan LaKU PaPAT.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan, sedangkan Laku papat artinya empat tindakan. Dan kata Pesor merupakan berubahan dari kata Pusar yang artinya Pusat atau Saripati.

image

Katupat Pesor

Ngaku Lepat

Tradisi sungkeman/bhakti menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Hindu.

Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua atau yang pantas dituakan/dihormati seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Bhumi Sudha. Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebar.
2. Luber.
3. Lebur
4. Labur.

1.Lebar
Lebar bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu upawasa/brata. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

2. Luber
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran berdana punia untuk kaum miskin. Terutama saat melasanakan upawasa/brata, selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Hindu, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

3. Lebur
Maknanya adalah habis dan melebur.
Maksudnya pada momen Bumi Sudha, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Hindu dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

4. Labur
Berasal dari kata labur atau kapur.
Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Nah, itulah arti kata ketipat yang sebenarnya.

Selanjutnya kita akan mencoba membahas filosofi dari ketupat itu sendiri.

image

Berbagai bentuk Ketupat

Filosofi Ketupat:
1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

2. Kesucian hati.
Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

3. Mencerminkan kesempurnaan.
Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Hindu setelah melaksanakan tapa, brata, yoga dan upawasa dan akhirnya melalui bumi sudha semuanya menjadi damai/somya.

4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “KUPAT SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf).

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om
~I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)