Oleh: I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sanskerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuno. Kedua kata itu artinya “menang”.

image

 Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani. Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah  hidup sejahtera lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtera lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtera Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtera itu tidak mudah, karena itu harus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut.

Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kemenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Nawa Ratri dilakukan 5 kali dalam setahun. Nawa Ratri terdiri dari Wasanta Nawa Ratri, Ashadha Nawa Ratri, Sharada Nawa Ratri, dan Poushya/Magha Nawa Ratri.

Diantara kelima Nawa Ratri yang paling penting adalah Sharada Nawa Ratri dan Wasanta Nawa Ratri.

* Wasanta Nawa Ratri – Basanta Nawa Ratri, dikenal juga sebagai Wasant Nawaratras, jatuh pada bulan Mareh-April. Dikenal juga sebagai Chaitra Nava Ratra atau Rama Nawa Ratri.

* Gupta Nawa Ratri – Gupta Nawa Ratri, disebut juga Ashadha atau Gayatri atau Shakambhari Nawa Ratri, jatuh pada bulan Jun-Juli.

* Sharana Nawa Ratri – merupakan Naw Ratri yan paling penting, disebut juga sebagai Maha Nawa Ratri atau Sharada Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan September-Oktober.

Poushya Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Desember-Januari. Magha Nawa Ratri – Magha Nawa Ratri, dilaksanakan pada bulan Jan-Pebruari

Adapun Shakti yang dipuja waktu Nawa Ratri adalah:

Hari 1 – OM SRI SWARNA KAVACHALAKRUTA DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 2 – OM SRI BALA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 3 – OM SRI ANNAPURNA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 4 – OM SRI GAYATRI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 5 – OM SRI LALITHA TRIPURA SUNDARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 6 – OM SRI SARASWATI DEVI YA NAMAH (Dewi Saraswati)

Hari 7 – OM SRI MAHA LAKSHMI DEVI YA NAMAH (Dewi Laksmi)

Hari 8 – OM SRI DURGA DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 9 – OM SRI MAHISHASURA MARDHINI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati)

Hari 10 – OM SRI RAJA RAJESWARI DEVI YA NAMAH (Dewi Parwati) *Sumber mantram di atas: Kitab Stotramala

Demikian penjelasan singkat tentang Nawa Ratri, sebagai bahan renungan kita semua, agar dapat memperjuangkan dharmaning idhup sebagai manusia agar tidak kehilangan sejatining kamanusan, dan pada akhirnya dapat merubah diri dari Manava Danava (Manusia dengan watak Keraksasaan) menjadi Manava Madhava (Manusia dengan sifat Kedewataan)

Manggalamastu
Bali, Galungan-19 Februari 1997