Om Swastyastu

Malaning sasih, berasal dari kata Mala dan Sasih. Mala artinya ‘tidak baik’ dan ‘Sasih’ artinya bulan. Dalam sistem kalender Hindu-Bali atau populer dengan nama Kalender Saka-Bali, sasih yang dianggap mala adalah sasih Jyesta dan Sada.

Sebagaimana yang dimaksudkan dalam Lontar Jyotisha, karena di bulan-bulan itu ketiga unsur yakni Surya-Candra-Lintang Trenggana (Matahari-Bulan-Bintang) yang dikenal sebagai Trilingga dalam pemeneh sasih (bulan yang baik/ benar) tidak terwujud.

Trilingga disebut tidak terwujud karena di bulan Jyesta dan Sada (selama dua bulan) bintang Tenggala dan bintang Kartika ngerem (tidak muncul di langit). Kedua gugus bintang itu adalah bintang dari segala bintang, selain karena cahayanya yang paling terang, juga karena kedua bintang membawa ciri kemakmuran.

Itu sebabnya pemeluk Hindu di Bali tidak dianjurkan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya pada bulan-bulan Jyesta dan Sada.

Sedangkan bulan-bulan lainnya: Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga dan Kadasa adalah bulan-bulan yang baik untuk melaksanakan upacara, sekali lagi karena unsur Trilingga yang disebutkan di atas pada bulan-bulan itu terwujud.

Sasih Mala juga berkaitan dengan pe-ngerepet-ing sasih, yaitu bulan-bulan yang digunakan untuk ngerepet (memadukan) dalam perhitungan untuk menetapkan Hari Raya Nyepi.

Sebagaimana diketahui kalender Hindu-Bali menggabungkan beberapa system, yakni Surya pramana (tempo perputaran bumi mengelilingi matahari), Candra pramana (tempo perputaran bulan mengelilingi bumi), dan Wuku (candra pramana yang berhubungan dengan ala-ayuning dewasa = buruk-baiknya hari).

Oleh karena sistem surya pramana menghasilkan jumlah hari dalam setahun = 365 sedangkan sistem candra pramana menghasilkan jumlah hari dalam setahun = 360, maka setiap tahun akan terjadi selisih selama 5 hari atau dalam 6 tahun jumlahnya genap 30 hari (satu bulan). Pergantian sasih terjadi di saat Tilem sehingga disebut amawasanta.

Untuk selalu menyamakan unsur-unsur menetapkan tawur kesanga dalam rangka Nyepi maka pada setiap 6 tahun perlu diadakan ‘pengerepet’ yakni ‘mendobelkan’ sebuah sasih di bulan yang sama (menurut surya pramana). Sasih yang dipilih sebagai pengerepet hanya dua secara bergantian, yakni Jyesta atau Sada, karena kedua sasih itu adalah ‘mala’.

Unsur-unsur yang harus sama dalam menetapkan saat tawur kesanga Nyepi adalah:

Di hari itu tilem sasih kasanga (bulan mati pada bulan ke-9 menurut sistem candra pramana). Matahari berada pada posisi bajeging surya (di khatulistiwa menurut sistem surya pramana)

Hal ini sangat penting karena keesokan harinya adalah tahun baru Saka-Bali yang dikenal dengan Nyepi/ Sipeng tepat pada hari penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal 1 bulan ke-10).

Mengapa tahun baru kita di Bali pada bulan ke-10 (kadasa), bukannya pada bulan ke-1 (kasa)?

Dalam filosofi angka-angka di Bali, angka 10 sama dengan 0, dan angka 9-lah yang tertinggi. Sasih dengan angka 11 (Jyesta) dan 12 (Sada) adalah ‘mala’.Pada penanggal ping pisan sasih kadasa itulah Uttarayana (matahari beredar ke lintang utara), hari-hari yang sangat baik dalam keyakinan Hindu.

Pada paruman Sulinggih tanggal 18 September 2001 di Pura Watukaru, Tabanan, dijelaskan bahwa perhitungan pengerepeting sasih akan benar jika menghasilkan:

1. Tilem sasih katiga selalu tiba pada bulan September di saat matahari beredar menuju/ di selatan katulistiwa.
2. Tilem sasih kapitu selalu tiba pada bulan Januari ketika matahari beredar menuju/ di utara katulistiwa .
3. Tilem sasih kasanga selalu tiba pada bulan Maret ketika matahari beredar menuju/ di katulistiwa.

Semoga bermanfaat.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I W. Sudarma
* Sumber Bacaan: Buku Ajar Wariga Untuk STAH Dharma Nusantara Jakarta, 2004