Oleh: I Wayan Sudarma

 

Om Swastyastu

 
Pada dasarnya sesuai dengan siklus rwabhineda, perbuatan itu terjadi dari dua sisi yang berbeda, yaitu perbuatan baik dan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan baik ini disebut dengan Subha Karma, sedangkan perbuatan yang tidak baik disebut dengan Asubha Karma. Siklus Subha dan Asubha Karma ini selalu saling berhubungan satu sama lain dan tidak dipisahkan.
Demikianlah perilaku manusia selama hidupnya berada pada dua jalur yang berbeda itu, sehingga dengan kesadarannya dia harus dapat menggunakan kemampuan yang ada di dalam dirinya, yaitu kemampuan berfikir, kemampuan berkata dan kemampuan berbuat. Walaupun kemampuan yang dimiliki oleh manusia tunduk pada hukum rwabhineda, yakni Subha dan Asubha Karma (baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya), namun kemampuan itu sendiri hendaknya diarahkan pada Subha Karma (perbuatan baik). Karena bila Subha Karma yang menjadi gerak pikiran, perkataan dan perbuatan, maka kemampuan yang ada pada diri manusia akan menjelma menjadi prilaku yang baik dan benar. Sebaliknya, apabila Asubha Karma yang menjadi sasaran gerak pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, maka kemampuan itu akan berubah menjadi perilaku yang salah (buruk).

 
Berdasarkan hal itu, maka salah satu aspek kehidupan manusia sebagai pancaran dari kemampuan atau daya pikirnya adalah membeda-bedakan dan memilih yang baik dan benar bukan yang buruk atau salah.
“Manusah sarvabhutesu
vartate vai cubhacubhe,
achubhesu samavistam
cubhesveva vakaravet”. (Sarasamuccaya. 2)

Artinya: Dari Demikian banyaknya mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat melakukan perbuatan baik buruk itu; adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik juga manfaatnya jadi manusia.

Untuk memberikan batasan tentang manakah yang disebut tingkah laku baik atau buruk, benar atau salah, tidaklah mudah untuk menentukan secara tegas mengenai klasifikasi dari pada baik dan buruk itu adalah sangat sulit. Sebab baik dan buruk seseorang belum tentu baik atau bauruk bagi orang lain. Hal ini tergantung tingkat kemampuan dan kepercayaan serta pandangan hidup seseorang itu sendiri. Akan tetapi menurut agama Hindu disebutkan secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Subha Karma itu adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia itu ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir bathin dan menuju kepada persatuan Atman dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan perbuatan yang buruk (Asubha Karma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan hal-hal tersebut di atas.

 

Untuk lebih jelasnya, manakah bentuk-bentuk perbuatan baik (Subha Karma) dan bentuk-bentuk perbuatan yang tidak baik (Asubha Karma) menurut ajaran agama Hindu sebagaimana disjelaskan berikut ini:
Subha Karma(Perbuatan Baik)
1. Tri Kaya Parisudha
Tri kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Jadi dari pikiran yang bersih akan timbul perkataan yang baik dan perbuatan yang jujur. Dari Tri Kaya Parisudha ini timbul adanya sepuluh pengendalian diri yaitu: 3 macam berdasarkan pikiran, 4 macam berdasarkan perkataan dan 3 macam lagi berdasarkan perbuatan. Tiga macam yang berdasarkan pikiran adalah: a). tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, b). tidak berpikiran buruk terhadap mahluk lain, c).  dan tidak mengingkari adanya hukum karmaphala. Sedangkan empat macam yang berdasarkan atas perkataan adalah: a).  tidak suka mencaci maki, b). tidak berkata kasar kepada mahluk lain, c). tidak memfitnah, d).  dan tidak ingkar pada janji atau ucapan. Selanjutnya tiga macam pengendalian yang berdasarkan atas perbuatan adalah: a). tidak menyiksa atau membunuh mahluk lain, b).  tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda, c).  dan tidak berzina.
2. Catur Paramita
Catur Paramita adalah empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa.

  1. Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur yang berusaha untuk kebahagiaan segala mahluk.
  2. Karuna adalah belas kasian atau kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya pendertiaan segala mahluk.
  3. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain.
  4. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain. Catur Paramita ini adalah tuntunan susila yang membawa masunisa kearah kemuliaan.

3. Panca Yama Bratha
Panca Yama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam hubungannya dengan perbuatan untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian bathin. Panca Yama Bratha ini terdiri dari lima bagian yaitu:

  1. Ahimsa artinya tidak menyiksa dan membunuh mahluk lain dengan sewenang-wenang,
  2. Brahmacari artinya tidak melakukan hubungan kelamin selama menuntut ilmu, dan berarti juga pengendalian terhadap nafsu seks,
  3. Satya artinya benar, setia, jujur yang menyebabkan senangnya orang lain.
  4. Awyawaharika artinya melakukan usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan, dan
  5. Asteya atau Astenya artinya tidak mencuri atau menggelapkan harta benda milik orang lain.

4. Panca Nyama Bratha
Panca Nyama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin, adapun bagian-bagian dari Panca Nyama Bratha ini adalah:

  1.  Akrodha artinya tidak marah,
  2. Guru Susrusa artinya hormat, taat dan tekun melaksanakan ajaran dan nasehat-nasehat guru,
  3. Sauca berarti kesucian lahir batin. Ini berarti badan harus bersih dan kebersihan badan akan mempengaruhi kebersihan jiwa. Dengan demikian maka badan harus dihindari dari sesuatu yang sekiranya akan dapat mencemarinya, seperti makanan, minuman, pakaian, barang-barang kimia, dan lainnya. Seringkali bila badan tersentuh nikmat benda akan meninggalkan kesan mendalam dalam pikiran dan bila berjumpa dengan sumber nikmat itu, akan timbul pula guncangan pikiran untuk ingin menikmati lagi. Ternyata bila dibiarkan pikiran itu akan manja dan badan akan dikoyak-koyaknya sampai dalam kelelahan. Karena itu pikiran harus juga suci dan kesucian pikiran akan mempengaruhi kesucian batin,
  4. Aharalaghawa artinya pengaturan makan dan minum, dan
  5. Apramada artinya taat tanpa ketakaburan melakukan kewajiban dan mengamalkan ajaran-ajaran suci.

5. Sad Paramita
Sad Paramita adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. Sad Paramita ini meliputi:

  1. Dana Paramita artinya memberi dana atau sedekah baik berupa materiil maupun spirituil;
  2. Sila Paramita artinya berpikir, berkata, berbuat yang baik, suci dan luhur;
  3. Ksanti Paramita artinya pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab penyakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik;
  4. Wirya Paramita artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Jadi yang termasuk Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran;
  5. Dhyana Paramita artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untuk keselamatan;
  6. Pradnya Paramita artinyaa kebijaksanaan dalam menimbang-nimbang suatu kebenaran.

6. Catur Aiswarya
Catur Aiswarya adalah suatu kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir dan batin terhadap makhluk. Catur Aiswarya terdiri dari Dharma, Jnana, Wairagya dan Aiswawarya.

  1. Dharma adalah segala perbuatan yang selalu didasari atas kebenaran;
  2. Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir batin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia.
  3. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya;
  4. Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.

7. Asta Siddhi
Asta Siddhi adalah delapan ajaran kerohanian yang memberi tuntunan kepada manusia untuk mencapai taraf hidup yang sempurna dan bahagia lahir batin. Asta Siddhi meliputi:

  1. Dana artinya senang melakukan amal dan derma;
  2. Adnyana artinya rajin memperdalam ajaran kerohanian (ketuhanan);
  3. Sabda artinya dapat mendengar wahyu karena intuisinya yang telah mekar;
  4. Tarka artinya dapat merasakan kebahagiaan dan ketntraman dalam semadhi;
  5. Adyatmika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam gangguan pikiran yang tidak baik;
  6. Adidewika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam penyakit (kesusahan yang berasal dari hal-hal yang gaib), seperti kesurupan, ayan, gila, dan sebagainya.
  7. Adi Boktika artinya dapat mengatasi kesusahan yang berasal dari roh-roh halus, racun dan orang-orang sakti; dan
  8. Saurdha adalah kemampuan yang setingkat dengan yogiswara yang telah mencapai kelepasan.

8 Nawa Sanggha
Nawa Sangha terdiri dari:

  1. Sadhuniragraha artinya setia terhadap keluarga dan rumah tangga;
  2. Andrayuga artinya mahir dalam ilmu dan dharma;
  3. Guna bhiksama artinya jujur terhadap harta majikan;
  4. Widagahaprasana artinya mempunyai batin yang tenang dan sabar;
  5. Wirotasadarana artinya berani bertindak berdasarkan hukum;
  6. Kratarajhita artinya mahir dalam ilmu pemerintahan;
  7. Tiagaprassana artinya tidak pernah menolak perintah;
  8. Suralaksana artinya bertindak cepat, tepat dan tangkas; dan
  9. Surapratyayana artinya perwira dalam perang.

9. Dasa Yama Bratha
Dasa Yama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri, yaitu

  1. Anresangsya atau Arimbhawa artinya tidak mementingkan diri sendiri;
  2. Ksama artinya suka mengampuni dan dan tahan uji dalam kehidupan;
  3. Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang;
  4. Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahluk lain;
  5. Dama artinya menasehati diri sendiri;
  6. Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran;
  7. Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk;
  8. Prasada artinya berfikir dan berhati suci dan tanpa pamrih;
  9. Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun; dan
  10. Mardhawa artinya rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.

10. Dasa Nyama Bratha
Dasa Nyama Bratha terdiri dari:

  1. Dhana artinya suka berderma, beramal saleh tanpa pamerih;
  2. Ijya artinya pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur;
  3. Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin;
  4. Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi;
  5. Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu birahi (seksual);
  6. Swadhyaya artinya tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum;
  7. Bratha artinya taat akan sumpah atau janji;
  8. Upawasa artinya berpuasa atau berpantang trhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama;
  9. Mona artinya membatasi perkataan; dan
  10. Sanana artinya tekun melakukan penyician diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.

11. Dasa Dharma
Yang disebut Dasa Dharma menurut Wreti Sasana yaitu:

  1. Sauca artinya murni rohani dan jasmani;
  2. Indriyanigraha artinya mengekang indriya atau nafsu;
  3. Hrih artinya tahu dengan rasa malu;
  4. Widya artinya bersifat bijaksana;
  5. Satya artinya jujur dan setia terhadap kebenaran;
  6. Akrodha artinya sabar atau mengekang kemarahan;
  7. Drti artinya murni dalam bathin;
  8. Ksama artinya suka mengampuni;
  9. Dama artinya kuat mengendalikan pikiran; dan
  10. Asteya artinya tidak melakukan kecurangan.

 

12. Dasa Paramartha

Dasa Paramartha ialah sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai penuntun dalam tingkah laku yang baik serta untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa). Dasa Paramartha ini terdiri dari:

  1. Tapa artinya pengendalian diri lahir dan bathin;
  2. Bratha artinya mengekang hawa nafsu;
  3. Samadhi artinya konsentrasi pikiran kepada Tuhan;
  4. Santa artinya selalu senang dan jujur;
  5. Sanmata artinya tetap bercita-cita dan bertujuan terhadap kebaikan;
  6. Karuna artinya kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup;
  7. Karuni artinya belas kasihan terhadap tumbuh-tumbuhan, barang dan sebagainya;
  8. Upeksa artinya dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk;
  9. Mudhita artinya selalu berusaha untuk dapat menyenangkan hati oranglain; dan
  10. Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling hormat menghormati.

 

Asubha Karma (Perbuatan Tidak Baik)
Asubha Karma adalah segala tingkah laku yang tidak baik yang selalu menyimpang dengan Subha Karma(perbuatan baik). Asubha Karma (perbuatan tidak baik) ini, merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma dan selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong Asubha Karma ini merupakan larangan-larangan yang harus dihindari di dalam hidup ini. Karena semua bentuk perbuatan Asubha Karma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. menurut agama Hindu, bentuk-bentuk Asubha Karma yang harus dihindari di dalam hidup ini adalah:
1. Tri Mala
Tri Mala adalah tiga bentuk prilaku manusia yang sangat kotor, yaitu

  1. Kasmala ialah perbuatan yang hina dan kotor,
  2. Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor, dan
  3. Moha adalah pikiran, perasaan yang curang dan angkuh.

 

2. Catur Pataka
Catur Pataka adalah empat tingkatan dosa sesuai dengan jenis karma yang menjadi sumbernya yang dilakukan oleh manusia yaitu:

a). Pataka yang terdiri dari:

  1. Brunaha (menggugurkan bayi dalam kandungan);
  2. Purusaghna (Menyakiti orang),
  3. Kaniya Cora (mencuri perempuan pingitan),
  4. Agrayajaka (bersuami isteri melewati kakak), dan
  5. Ajnatasamwatsarika (bercocok tanam tanpa masanya);

b). Upa Pataka terdiri dari:

  1. Gowadha (membunuh sapi),
  2. Juwatiwadha (membunuh gadis),
  3. Balawadha (membunuh anak),
  4. Agaradaha (membakar rumah/merampok);

c). Maha Pataka terdiri dari:

  1. Brahmanawadha (membunuh orang suci/pendeta),
  2. Surapana (meminum alkohol/mabuk),
  3. Swarnastya (mencuri emas),
  4. Kanyawighna (memperkosa gadis), dan
  5. Guruwadha (membunuh guru);

d). Ati Pataka terdiri dari:

  1. Swaputribhajana (memperkosa saudara perempuan);
  2. Matrabhajana (memperkosa ibu), dan
  3. Lingagrahana (merusak tempat suci)

 

3. Panca Bahya Tusti
Adalah lima kemegahan (kepuasan) yang bersifat duniawi dan lahiriah semata-mata, yaitu:

  1. Aryana artinya senang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menghitung baik buruk dan dosa yang ditempuhnya;
  2. Raksasa artinya melindungi harta dengan jalan segala macam upaya;
  3. Ksaya artinya takut akan berkurangnya harta benda dan kesenangannya sehingga sifatnya seing menjadi kikir;
  4. Sangga artinya doyan mencari kekasih dan melakukan hubungan seksuil; dan
  5. Hingsa artinya doyan membunuh dan menyakiti hati makhluk lain.

 

4. Panca Wiparyaya
Adalah lima macam kesalahan yang sering dilakukan manusia tanpa disadari, sehingga akibatnya menimbulkan kesengsaraan, yaitu:

  1. Tamah artinya selalu mengharap-harapkan mendapatkan kenikmatan lahiriah;
  2. Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat kekuasaan dan kesaktian bathiniah;
  3. Maha Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat menguasai kenikmatan seperti yang tersebut dalam tamah dan moha;
  4. Tamisra artinya selelu berharap ingin mendapatkan kesenangan akhirat; dan
  5. Anda Tamisra artinya sangat berduka dengan sesuatu yang telah hilang.

5. Sad Ripu
Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu:

  1. Kama artinya sifat penuh nafsu indriya;
  2. Lobha artinya sifat loba dan serakah;
  3. Krodha artinya sifat kejam dan pemarah;
  4. Mada adalah sifat mabuk dan kegila-gilaan;
  5. Moha adalah sifat bingung dan angkuh; dan
  6. Matsarya adalah sifat dengki dan irihati.

 

6. Sad Atatayi
Adalah enam macam pembunuhan kejam, yaitu Agnida artinya membakar milik orang lain; Wisada artinya meracun orang lain; Atharwa artinya melakukan ilmu hitam; Sastraghna artinya mengamuk (merampok); Dratikrama artinya memperkosa kehormatan orang lain; Rajapisuna adalah suka memfitnah.

 

7. Sapta Timira
Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran yaitu:

  1. Surupa artinya gelap atau mabuk karena ketampanan;
  2. Dhana artinya gelap atau mabuk karena kekayaan;
  3. Guna artinya gelap atau mabuk karena kepandaian;
  4. Kulina artinya gelap atau mabuk karena keturunan;
  5. Yowana artinya gelap atau mabuk karena keremajaan;
  6. Kasuran artinya gelap atau mabuk karena kemenangan; dan
  7. Sura artinya mabuk karena minuman keras.

 

8. Dasa Mala
Artinya adalah sepuluh macam sifat yang kotor. Sifat-sifat ini terdiri dari:

  1. Tandri adalah orang sakit-sakitan;
  2. Kleda adalah orang yang berputus asa;
  3. Leja adalah orang yang tamak dan lekat cinta;
  4. Kuhaka adalah orang yang pemarah, congkak dan sombong;
  5. Metraya adalah orang yang pandai berolok-olok supaya dapat mempengaruhi teman (seseorang);
  6. Megata adalah orang yang bersifat lain di mulut dan lain di hati;
  7. Ragastri adalah orang yang bermata keranjang;
  8. Kutila adalah orang penipu dan plintat-plintut;
  9. Bhaksa Bhuwana adalah orang yang suka menyiksa dan menyakiti sesama makhluk; dan
  10. Kimburu adalah orang pendengki dan iri hati.

Demikian dapat saya utarakan hal-hal yang berkenaan dengan ajaran Subha dan Asubha Karma. Dengan mengetahui hal mana yang tergolong Subha Karma dan yang mana termasuk Asubha Karma, harapannya semoga kita dapat lebih mudah mengarahkan tata hidup kita pada hal-hal yang merupakan ajaran Subha Karma. Manggalamastu.

 

Om Santih Santih Santih Om