Oleh: I Wayan Sudarma

 
Oṁ Swastyastu

 
Oṁ sahana vavatu sahana bhunaktu
Saha viryam karavavahai
Tejasvināvaditham āṣtu mā vidviṣā vahai

Oṁ bhadraṁ karnebhih sṛnuyāma deva,
bhadraṁ pasyemaksabhir yajatraḥ,
sṭhirair aṅgais tustusvaṁsas,
tanubhir vyasemahi deva hitaṁ yad ayuḥ

Oṁ suklāmbara dharam viṣṇuṁ
śaśi varnaṁ catur bhujaṁ
prasaṇa vadanāṁ dhyāyet
sarva vighno praṣānthaye

Pendahuluan
Segala sesuatu yang diketahui atau dirasakan manfaatnya tentu akan dicari atau dilaksanakan oleh umat manusia. Demikian pula halnya upacara Homa Yajña/ Agnihotra. Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa Agnihotra demikian sangat penting artinya bagi kehidupan umat manusia. Salah satu buku yang menguraikan tentang manfaat Agnihotra adalah Homa Therapy, Or Last Chance diterbitkan oleh Fivefold Path, Inc. Parama Dham (House of Almighty Father), Madison, Virginia, USA,1989 yang menguraikan manfaatnya bagi kesehatan umat manusia.
Agnihotra atau persembahan kepada api suci adalah merupakan salah satu upacara Veda yang dilakukan setiap hari. Kitab Aitareya Brāhmaṇa (V.26) menghubungkan upacara ini dengan seluruh dewa (Viśvedeva) yang diharapkan memberi perlindungan dan kesuburan ternak, sedang kitab Kausītaki Brāhmaṇa (II.1) mengidentifikasikan persembahan Agnihotra adalah persembahan kepada dewa Sūrya dan menurut kitab suci Veda (Rgveda I.115.1) Sūrya adalah jiwa atau Ātma dari seluruh alam semesta, yang bergerak dan yang tidak bergerak (sūrya ātmā jagatas tasthusaś ca).
Mantram-mantram yang digunakan dalam upacara Agnihotra umumnya dipetik dari kitab suci Veda, Rgveda, Yajurveda (salah satu yang sangat terkenal adalah Agnir jyotir jyotir agnir svāhā, sūrya jyotirjyotiḥ sūrya svaha, III.9), dan beberapa mantram dari atharvaveda. mantram lainnya biasanya dari mantram sampradaya tertentu, misalnya Saivisme menggunakan mantram pemujaan kepada Ganeśa, Durgāsaptasati, Sivamahimastotra dan lain-lain.
Di dalam Śatapatha Brāhmaṇa (II.3.1.1) dinyatakan bahwa Agnihotra diidentikkan dengan Sūrya: Agnihotra tidak lain adalah (pemujaan kepada) Sūrya. Karena ia muncul dari depan (agra) dari segala persembahan, oleh karena itu Agnihotra adalah Sūrya. Agnihotra adalah persembahan sehari-hari berupa cairan yang dituangkan ke dalam api, terdapat dua macam, yaitu ada yang dilakukan sebulan sekali dan yang dilakukan sepanjang aktivitas hidup. Persembahan Havana dilakukan pagi dan sore dan selanjutnya orang yang mempersembahkannyapun ketika ia meninggal ia dibakar melalui upacara Agnihotra. Persembahan Yajña ghrta (minyak mentega yang dijernihkan) dan biji-bijian yang harum dituangkan di atas batang-batang kayu kering yang dibakar diikuti dengan pengucapan mantram-mantram Veda. Yajña dilakukan pula pada bulan mati (Amavasya) dan pada bulan purnama (Pūrṇamasi atau Pūrṇima). Agnihotra adalah upacara yang sangat penting dari upacara-uapacara Veda yang dilakukan pada pagi dan sore hari oleh para Grhastha (keluarga). Kitab Mahābhārata menyatakan: Seperti seorang raja di antara umat manusia, seperti Gāyatrī mantram di antara seluruh mantram, demikian pula upacara Agnihotra adalah upacara yang sangat penting di antara semua upacara-upacara Veda ( Ganga Ram Garga, 1992: 217).
Mengingat peranan fungsi-fungsi mantram, khususnya mantram Gāyatrī dan Mahāmrtyuñjaya serta upacara ini dapat mengusir kekuatan-keuatan jahat sebagai digambarkan dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa, maka upacara Homa Yajña/ Agnihotra yang sering disebut sebagai The Jewel of all Yajñas sangat besar manfaatnya bila dilakukan dengan penuh kekhusukan sesuai dengan syarat pelaksanaan sebuah Yajña.


Pelaksanaan upacara Homa Yajna / Agni Hotra dan Sarananya
Seperti telah diuraikan di atas, Homa Yajña/Agnihotra adalah upacara Veda yang merupakan permata atau mutiara dari semua Yajña dalam agama Hindu. Seperti pengamatan kami di india, upacara ini dilaksanakan dalam berbagai kegiatan upacara Pañca Yajña, baik Dewa Yajña, Pitra Yajña, Rsi Yajña, Nr atau Manusa Yajña Yajñ, demikian pula dalam pelaksanaan upacara-upacara besar di Bali di masa yang silam, dilaksanakan pula upacara yang sangat utama ini.
Persembahan Homa Yajña/Agnihotra sebaiknya dipimpin oleh seorang Dvijati atau pandita (pūjāri), bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan oleh seorang pamangku atau pinandita yang hidupnya senantiasa Vegetarian. Para peserta mengiringi pemimpin upacara dengan mengucapkan Svāha (untuk Dewa Yajña dan Yajña yang lain) dan Svādha khusus untuk upacara Homa Yajña yang dilakukan dalam rangka Pitra Yajña, pada akhir setiap mantra dengan sekaligus mempersembahkan persembahan yang telah disediakan dengan bahan persembahkan ditempatkan di atas telapak tangan dalam posisi tengadah yang disorongkan kedalam Kunda atau Vedi, tempat api persembahan berkobar. Homa Yajña yang dilakukan dalam rangka upacara kematian, biasanya dilakukan setelah 12 hari selesai pembakaran jenasah (Antyesti atau Ngaben), sebelum hari tersebut dipandang masih dalam keadaan Cuntaka. Peserta yang mengikuti upacara Homa Yajña/Agnihotra dilarang bercakap-cakap dengan sesama peserta, merokok, minum minuman keras dan melakukan penyucian diri (mandi besar) seandainya sebelumnya melakukan hubungan suami-istri.
Sebelum secara khusus membahas pelaksanaan upacara Yajña ini, kiranya perlu diketengahkan tata-tertib untuk melaksanakan dan mengikuti upacara yang sangat suci ini, antara lain: peserta telah datang 15 menit sebelum upacara dimulai, diharapkan memakai pakaian sembahyang, yang dibenarkan duduk di sekeliling kunda, vedi atau lobang api hanyalah mereka yang telah didvijati (pandita) atau pamangku (pinandita), sedang peserta lainnya mengambil posisi dari para pandita atau pinandita tersebut. Sang Yajamana atau yang mempersembahkan upacara dan seluruh peserta upacara tidak diperkenankan meninggalkan upacara sebelum upacara selesai dilaksanakan. Posisi duduk peserta upacara adalah: peserta wanita di sebelah kiri dan laki-laki di sebelah kanan kunda atau vedi. Dilarang keras mempersembahkan ke dalam api suci bahan-bahan kimia berupa plastik, lilin, dupa atau bahan-bahan yang telah jatuh ke tanah, karena telah cemar atau lungsuran.
Pelaksanaan Homa Yajña/Agnihotra dimulai dengan menyiapkan air suci (sedapat mungkin Tīrtha Gangga), dan sangat baik bila seorang atau beberapa Dvijati (pandita) terlebih dahulu “ngarga” atau memohon Tīrtha dengan menghadirkan dewi Gangga (dengan sarana Ganggastava) di dalam Kumbha (di atas Tripada) sebagai sarana dalam acara Homa Yajña/Agnihotra. Selanjutnya dilakukan penyucian diri (acamana) dan Praṇāyama. Setelah penyucian diri dan praṇāyama dilanjutkan dengan pemujaan kepada Agni (menggunakan mantra Agni Sūkta/Rgveda I.1-9), Gāyatri mantram 108/33/21/11 kali, Mahamrtyuñjaya 21 kali dan dalam pemujaan tertentu untuk kesejahtraan nusa dan bangsa menggunakan mantram-mantram seperti berikut: Prthivī Sūkta, Purusa Sūkta, Nasadiya Sūkta, Śāntiprakaraṇa dan ditutup dengan Śānti mantra (Paramaśānti). Masalah mantra dapat disesuaikan dengan maksud dan tujuan upacaranya.
Sarana upacara persembahan adalah kayu bakar, sedapat mungkin kayu mangga, intaran, beringin, cempaka, sandat, tulasi, majagau, batang kelapa kering atau cendana yang telah kering dengan panjang + 10 -30 cm dengan diameter 1-2 cm, supaya mudah terbakar. Gahvya (gobhar) diambil dari kotoran sapi-sapi yang dipelihara dan disayangi oleh pemiliknya dan bukan berasal dari tempat/rumah pemotongan hewan. Sarana lainnya adalah daun, batang, bunga, akar dan ranting kayu tulasi (disebut Pañcāngga) dan juga daun mangga, di samping juga susu segar, yoghurt, gula merah, ghee (susu asam), madhu (kelima materi tersebut dinamakan Pañcāmrta), kapulaga, biji kacang hijau, cengkeh, beras merah, putih dan hitam serta wijen.
Sangat baik bila sebelum mempersembahkan Homa Yajñ didahului dengan mempersembahkan pejati dan pesaksi kepada dewata yang bersthana di sebuah pura bila upacara itu dilaksanakan di dalam pura. Bila dikaitkan dengan upacara besar, sangat baik dilengkapi dengan Pañcadhatu (emas, perak, tembaga, kuningan dan besi).
Adapun bentuk kunda atau vedi umunya berbentuk piramid terbalik, dapat dibuat dari tembaga atau besi, disamping juga dari batu bata atau sebuah paso (belanga yang agak datar di Bali juga disebut dengan nama cobek dan semuanya harus baru (payuk anyar). Bila upacara Homa Yajna/Agnihotra dilaksanakan pada pagi hari sangat baik bila menghadap ke Timur, sore hari menghadap ke Barat. Bila didepan altar atau pelinggih, sebaiknya menghadap altar atau pelinggih tersebut. Demikian pula bila dilaksanakan di tepi pantai hendaknya menghadap ke laut, di pegunungan diarahkan ke puncak gunung dan di tepi sungai atau mata air, di arahkan ke sungai atau mata air.
Mantra yang digunakan dan terjemahan
Mantram-mantra yang digunakan pada umumnya diambil dari mantram-mantram kitab suci Veda, dan banyaknya Sūkta yang dirapalkan tergantung kepada tujuan upacara Homa Yajña tersebut, demikian pula pilihan Sūkta umumnya disesuaikan dengan situasi pada saat upacara dilaksanakan, misalnya untuk upacara Dewa Yajña dan lain-lain. Berikut kami sampaikan susunan mantram yang digunakan serta terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
1. Asana: Oṁ Prasadha Sthiti Śarīra Śiva suci nirmalāya namaḥ svāha.
2. Acamana (penyucian diri)Penyucian tangan : Kanan : Oṁ Śuddhamām svāha, Kiri : Oṁ Ati Śuddhamām svāha
3. Penyucian Pikiran: Om tejo’asi tejo mayi dhehi, vīryamasi vīrya mayi dhehi, balamasi balam mayi dhehi, ojo’as ojo mayi dhehi, matyurasi matyum mayi dhehi, saho’asi saho mayi dhehi. Yajurveda XVI.6 (Om Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah sumber dari cahaya anugrahkanlah cahaya itu kepada kami, Engkau adalah pahlawan kami, anugrahkanlah sifat kepahlawanan itu kepada kami, Engkaui adalah sumber kekuatan, anugrahkan lah kekuatan itu kepada kami. Engkau memancarkan cahaya, anugrahkanlah pancaran cahaya itu kepada kami. Engkau menaklukkan keagungan dan cinta kasih, anugrahkanlah hal itu kepada kami. Semogalah kami menjadi pusat, dan sumber dari kebajikan yang suci).
4. Pengucapan Omkara 21 kali masing-masing 5 kali untuk Pañca Maha Bhuta, Pañca Jñānendriya, Karmendriya, Pañca Mayakosa dan 1 kali untuk Atman.
5. Prāṇāyāma (mengatur nafas sehingga aliran nafas sangat lembut): Om Bhūḥ, Om bhuvaḥ, Om Suvaḥ, Om Mahaḥ, Om Janaḥ, Om Tapaḥ, Om Satyam Om Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhīyoyonaḥ pracodayat. Om āpo jyotī raso amrtam brahma Bhūr Bhuvas Suvar Om.-(Om adalah Tuhan yang Maha Esa penguasa sapta Loka. Om Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan- Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami. Om adalah air, cahaya, dan bumi yang menganugrahkan makanan yang lezat, udara segar mendukung kehidupan, yang meresapi angkasa dan pikiran, intelek dan kami senantiasa ditandai oleh kebesaran dari Bhūr, Bhuvaḥ dan Suvaḥ
6. Menyalakan Api: jika pelaksanaannya pada pagi hari maka persembahan itu ditujukan kepada Sūrya, mantram yang selalu diucapkan adalah: Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svah Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Sūrya Svāhā dan bila dilakukan sore hari (menjelang malam) ditujukan kepada Agni dengan mengucapkan mantram: Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svah Agni Jyotiḥ Jyotiḥ Agni Svāhā.
7. Agni Sūkta Rgveda I.1: (Agni sebagai purohita para dewata yang mewakili semua dewata untuk menerima bhakti persembahan dari umat-Nya): Om Agnim īíe purohitaṁ/ yajñasya devam rtvijam/ hotāraṁ ratnadhātamam, (Kami memuja Agni, Pandita Utama, dewa penyelenggara upacara Yajña, kami memuja (Engkau), pemberi anugrah (kekayaan) utama.)
8. Ganeśa pūjā: Ganeśa adalah putra Sang Hyang Śiva sebagai Vighneśvara, penangkal dan penolak segala rintangan dan bencana. Pemujaan kepada Sang Hyang Ganeśa dimaksudkan
untuk memohon keselamatan setiap upacara Yajña dan aktivitas kehidupan.
Om Vaktratunda mahākaya Sūryakoti sāma prabha Nirvighnam kurume deva sarva karyesu sarvada. (Om Hyang Vidhi, kami memuja dalam wujud-Mu sebagai Ganeśa yang belalai nya panjang dan badannya besar, yang cahayanya bagaikan ribuan matahari, yang melenyapkan segala bencana, semua karya dalam kesuksesan).
9. Gāyatri 108/33/21/11 kali: Gāyatri mantram disebut mantram disebut Vedamātā, ibu dari semua mantram Veda. Mantram ini disebut juga dengan nama Savitrī atau Savitā mantram, merupakan Samanya yang dapat diucapkan oleh siapa saja bila dilakukan dengan kesungguhan, akan tercapai permohonannya. Oṁ Bhur Bhuvah Svah Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhīyoyonaḥ praccodayat. (Om Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan- Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami).
10. Mahāmrtyuñjaya (21 kali) : Mantram ini memohon kemahakuasaan Sang Hyang Śiva sebagai Sang Hyang Rudra yang melindungi dari berbagai bahaya dan menjauhkannya dari penderitaan: Oṁ Tryaṁbhakaṁ yajamahe sugandhim pusti vardhanam, urvārukam iva bandhanān mrtyor muksīya māmrtāt (Rgveda VII.59.12) – Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami memuja sebagai Sang Hyang Śiva Rudra yang menyebarkan keharuman dan menganugrahkan makanan. Semoga Engkau melepaskan kami dari penderitaan seperti buah mentimun (yang masak) dari batangnya, dari kematian dan bukan dari kekekalan).
11. Guru Pūjā: Dengan Guru Pūjā dimaksudkan kita memohon karunia dan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, termasuk juga pemujaan kepada para guru atau maharsi yang suci yang telah mencapai alam kedewataan, yang membimbing umat manusia. Om Gurur Brahma gurur Visṇu gurur devo maheśvara gurur saksat paraṁ Brahma Tasmai śrī gurave namah.(Kami memuja Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, sebagai Brahma, Visṇu dan Śiva, hamba bersujud mohon karunia-Mu).
12. Kemudian dapat dilanjutkan dengan Mantra yang lainnya, seperti untuk Siva, Durga, Visnu, Laksmi, Brahma, Sarasvati, dan sebagainya.
13. Prthivī Sūkta: Prthivī adalah wujud Tuhan yang Maha Esa sebagai penguasa bumi. Ia digambarkan sebagai seorang ibu yang penuh cinta kasih yang sejati memelihara semua mahluk di bumi ini dengan menjadikan bumi seperti seorang ibu yang memberikan segalanya kepada putra-putinya yang baik.Oṁ Upasthāste anamīvā ayaksmā asmabhayaṁ santu prthivī prasūtāḥ. Dīrghaṁ na āyaḥ pratibudhyamānā vayaṁ tubhyaṁ balihrtaḥ syāma. (Atharvaveda XII.1.62) – Ya Tuhan Yang Maha Esa! Kami tidur (istirahat) dipelukan ibu pertiwi dan berikanlah karunia supaya kami hidup tanpa penyakit apapun, dan mendapatkan kehidupan yang panjang, kami akan selalu memuja-Mu dengan sepenuh hati.
14. Persembahan Panca Amertha:
a. Om Panca Amrthan devatam bhyo namaha ksera samarpayami (susu)-Timur
b. Om Panca Amrtham devatam bhyo namaha dadih samarpayami (yougurt)-Selatan
c. Om Panca Amrtham devatam bhyo namaha ghee samarpayami (ghee/mentega)-Barat
d. Om Panca Amrtham devatam bhyo namaha sarkara samarpayami (gula merah)-Utara
e. Om Panca Amrtham devatam bhyo namaha madhu samarpayami (madu)-Tengah
15. Mantra Persembahan: Om brahma arpanam, brahma havir, brahmagnau brahmana hutam, brahma iva tena gantavyam, brahma karma samadhina. Om aham vaisvanaro bhutva praninam deham asrtah, prana apna samayuktah pacami annam caturvidam.
16. Śānti mantra: Setiap mengakhiri suatu kegiatan keagamaan hendaknya ditutup dengan
permohonan kedamaian seperti diamanatkan dalam Śānti mantram berikut: Oṁ Dyauḥ śāntir antariksaṁ śāntiḥ prthivī śāntir āpaḥ śāntir osadhayaḥ śāntiḥ vanaspatayaḥ śāntir viśve devaḥ śāntir brahma śāntiḥ sarvaṁ śāntiḥ śāntir eva śāntiḥ sā mā śāntir edhi (Yayurveda XXXVI.17) – Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, anugerahkamlah kedamain di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, dami pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, dami bagi par dewata, damilah Brahma, damilah alam semesta. Semogalah kedamian senantiasadatang pada kami.
17. Purna Puja:
a. Oṁ pūrṇaṁ adah pūrṇaṁ idam, pūrṇat pūrṇaṁ udacyate, pūrṇasya pūrṇamādhaya, pūrṇaṁ iva vasisyate.
b. Oṁ Sarve bhavantu sukhinaḥ, Sarve śāntu nirāmayāḥ, Sarve bhadrāni paśyantu, Mā kascit duhkha bhāg bhavet
c. Oṁ asato mā sadgamaya, Tāmaso mā jyotir gamaya, mṛtyor mā amṛtam gamaya
d. Svasti na indro Vṛdhaśravāḥ, Svasti nah pūṣā viśvavedāḥ, Svasti nastāṛkṣyo ariṣṭanemiḥ, Svasti no bṛhaspatir dadhātu
e. Oṁ sarveśām svastir bhavantu, Sarveśām śāntir bhavantu, Sarveśām pūrnaṁ bhavantu, Sarveśām maṇgalaṁ bhavantu
Penutup
Demikian keutamaan upacara Homa Yajña/Agnihotra menurut kitab suci Veda, sudah tentu banyak hal yang mesti perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali terhadap sumber-sumber yang ada baik dalam bahasa Sanskerta maupun Jawa Kuno. Semoga kata pengantar ini bermanfaat dalam rangka penyempurnaan tulisan ini dan semua pikiran yang baik dari segala penjuru.
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om

Bekasi, 17 Mei 2012

I Wayan Sudarma (Shri Danu DP)