Om Swastyastu

“Takitakining sewaka guna widya, smarawisaya ruang puluhing ayusya, tengahi tuuh sanwacana gegenta, patilaringatmeng tanu paguroaken”.
1.    Bersiap sedialah selalu mengabdi pada ilmu pengetahuan yang berguna.
2.    Hal yang menyangkut asmara barulah di perbolehkan setelah berumur dua puluh tahun.
3.    Setelah berusia setengah umur menjadi penasehatlah pegangannya.
4.    Setelah itu hanya memikirkan lepasnya atma yang menjadi perhatian.(Sumber: Kakawin Nitisastra. V : I)

Kajian Makna KAKAWIN

Kakawin adalah salah satu karya sastra yang berbahasa Jawa Kuna berupa puisi. Kakawin memiliki aturan tersendiri yang mengikatnya yaitu berupa guru laghu. Guru berarti panjang ( berat), laghu berarti ( ringan). Biasanya dalam kakawin di lambangkan  yaitu guru dengan lambang (-) dan laghu dengan lambang (0). Seperti pada kakawin di atas yang di ambil dari kakawin Nitisastra. Nitisastra berasal dari dua kata yaitu Niti yang berarti Kepemimpinan dan sastra yang berarti ilmu, jadi Nitisastra adalah ilmu yang mempelajari tentang kepemimpinan.   Dimana kakawin Nitisastra itu berisi tentang ilmu kepemimpinan yang bisa digunakan dan diterapkan dalam ketatanegaraan juga bisa kita terapkan dalam kehidupan di masyarakat, dalam pendidikan. Setiap karya sastra kakawin memiliki atau terdapat wirama-wirama di setiap Babnya. Pada kakawin Nitisastra ada wirama” Kusuma wicitra”.

Pada baris pertama yang berbunyi “  Taki taki ning sewaka guna widya” . Yang artinya bersiap sedialah selalu mengabdi pada ilmu pengetahuan yang berguna. Maksudnya pada tahap ini awal hidup hendaknya di prioritaskan untuk mengabdi pada guna widya ( ilmu pengetahuan). Dari ilmu pengetahuan inilah orang mendapatkan sebagai keterampilan bahkan keahlian. Keterampilan atau keahlian dalam menggunakan ilmu untuk mendapatkan nafkah. Pengembangan manusia hindu kedepan harus lebih mengutamakan pendidikan agar dapat mendayagunakan ilmu tersebut secara benar. Seseorang juga memiliki kewajiban untuk belajar mencari ilmu pengetahuan setinggi- tingginya. Dalam ajaran agama Hindu pada Catur Asrama yaitu Brahmacari ( masa menuntut ilmu). Dengan mencari ilmu pengetahuan maka seseorang dapat menerapkannya di keluarga, masyarakat dan Negara.

Pada baris kedua yang berbunyi “Smara wisaya rwang puluh ing ayusya”. Yang artinya hal yang menyangkut asmara barulah di perbolehkan setelah berumur dua puluh tahun. Maksudnya bila seseorang telah beranjak dewasa  dimulai dari umur dua puluh tahun sudah di perbolehkan jatuh cinta atau menjalin hubungan dengan pasangannya. Pada masa ini seseorang telah memiliki kematangan dalam dirinya untuk berumah tangga. Di Bali biasa di kenal dengan Grehasta Asrama (pawiwahan). Dimana tujuan dari Grhastha Asrama yaitu mempunyai keturunan, dan juga di yakini dalam kepercayaan masyarakat bali agar mampu menyelamatkan leluhurnya.

Pada baris ketiga yang berbunyi “ Tengah i tuwuh san wacana gegönta”. Yang artinya setelah berusia setengah umur menjadi penasehatlah pegangannya. Maksudnya  ikhlaskanlah estapet kehidupan ini pada generasi muda karena itu, kalau sudah tua janganlah berebut berbagai peran  kehidupan dengan generasi muda. Swadharma orang yang sudah  lanjut usia adalah membagi pengalamannya pada generasi selanjutnya. Dengan demikian hormat generasi muda pada yang tua akan mudah dapat di capai. Seseorang yang telah lanjut usia, atau sudah mengijak tua juga harus mampu bertutur kata yang baik dan benar kepada orang-orang yang berada di sekitarnya dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Ada empat macam perkataan yang baik atau yang dilakukuan seseorang yaitu:
1.    Tidak suka mencaci maki.
2.    Tidak berkata kasar pada makhluk lain.
3.    Tidak menfitnah.
4.    Tidak ingkar pada janji.

Dengan menerapkan empat  cara bertutur kata yang baik ini, maka seseorang akan banyak    memiliki teman dekat,di segani, dan  dihormati oleh banyak orang.

Pada baris keempat yang berbunyi “Patilar ing atmeng  tanu  paguroken”. Yang artinya setelah itu hanya memikirkan lepasnya Atma yang menjadi perhatian. Maksudnya  setiap makhluk hidup di dunia pasti akam meningaal dengan demikian setiap orang harus mengetahui atau mempelajari tentang perginya sang Atma dari dalam diri setiap orang. Dan juga untuk menambah ilmu pengetahuan yang di miliki oleh seseorang itu sendiri.

Pada tiap-tiap baris kakawin Nitisastra di atas banyak makna-makna yang sangatlah berguna bagi kahidupan, apalagi kita sebagai masyarakat Bali. Kita bisa mempelajari dan menerapkannya untuk diri sendiri,keluarga, di lingkungan sekitar, maupun masyarakat luas. Banyak nilai-nilai moral, nilai kepemimpinan yang terkandung di dalam kakawin tersebut. Yang dapat membimbing kita untuk kehidupan yang bahagia.

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu®
Bekasi, 23/12/2007