Oleh: I Wayan Sudarma
 Om Swastyastu

A. Pendahuluan

Pada dasarnya pembangunan manusia adalah pembangunan seutuhnya yaitu pembangunan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah. Untuk pembangunan jasmaniah, manusia memerlukan makanan, minuman, sex, istirahat, tidur, olah raga dan sebagainya. Sedangkan untuk pembangunan rohaniah manusia memerlukan kasih sayang, cinta, penghargaan, perlindungan, ketenangan, kedamaian, agama dan sebagainya.

Dalam fungsinya sebagai manusia sosial (homo sapien) manusia dapat mengadakan aktivitas sosial, tolong menolong, maupun mengembangkan organisasi sosial, seperti arisan, perkumpulan olah raga dan paguyuban lainnya. Manusia satu dan lainnya dapat memenuhi kehidupan sosialnya. Kesedihan dan kesusahan biasanya dapat dibantu dalam kehidupan bermasyarakat, namun mungkin dan akan terjadi bahwa pada suatu waktu kesedihan itu sangat sulit untuk diatasi. Karena itu, manusia akhirnya mencari perlindungan dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada yang paling berkuasa yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). 

B. Tujuan Agama Hindu dan Aspek Pengembangannya

 Bertitik tolak dari tujuan agama Hindu (Hindu Dharma) yaitu moksartham jagadhita (untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin, jasmaniah dan rohaniah), maka ada 2 (dua) aspek yang memerlukan pengembangan :

1.​ Aspek materi

2.​ Aspek non materi

Aspek materi adalah aspek yang menyangkut kesejahteraan duniawi, sedangkan aspek non materi (moksa) adalah aspek yang berkaitan dengan keadaan mental atau rohani. Dengan moksa dimaksudkan bahwa pikiran seseorang tidak lagi terikat oleh adanya keinginan-keinginan, rasa takut, benci, iri hati, tidak puas dan sebagainya. Untuk mencapai tujuan pengembangan dari kedua aspek tersebut di atas, diperlukan usaha atau upaya. Secara konkrit dapat dikatakan bahwa seseorang harus berkarya atau berkarma. Selain itu patut digaris bawahi bahwa karma itu perlu diyakini akan adanya pahala itu

C. Satyam (Kebenaran)

 “Satyam saksya bruvam saksi lokanproti puskalan, iha canuttamam kirtim vagesa brahmapujita” – Seseorang yang melaporkan (mengatakan) kebenaran dalam, pekerjaannya, akan memperoleh kebahagiaan yang terindah sebagai, rahmat dharma (kebenaran), jika mereka meninggal di dunia ini memperoleh nama baik dan harum dan di alam akhirat akan diterima oleh para dewa untuk diantar ke alam sorga (Manavadharmasastra VIII.81)

 Salah satu unsur dalam keimanan yang merupakan landasan ajaran Agama Hindu menurut Atharwa Atharwa Weda XII . 1.1., sebagai berikut : “Satyam brhad rtam ugram diksa, Tapo brahma yajna prthiwim dharayanti” – Sesungguhnya satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna yang menyangga dunia.

 Dengan ayat itu dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna. Dharayanti artinya menyangga dan dijelaskan pula bahwa alam semesta ini disangga oleh dharma. Adapun dharma yang menyangga dunia ini terdiri dari Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna itu, sehingga dengan demikian keenam unsur itu merupakan unsur dharma yang memelihara kehidupan ini.

 Kata satya dalam bahasa Sanskerta itu dipergunakan dalam banyak hubungan karena kata itu dapat berarti macam-macam. Adapun arti kata satya itu antara lain, ialah:

1.​ Satya yang berarti kebenaran, yaitu merupakan sifat hakekat dari pada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kata itu diartikan sama sebagai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata ini pula diartikan sama pula dengan kata deva, yaitu aspek sifat Tuhan atau wujud kekuasaan Tuhan yang bersifat khusus, atau juga sama dengan Malaekat.

2.​ Satya yang berarti kesetiaan atau kejujuran. Kata ini biasanya dirangkaikan dengan kata vak atau wacana yang berarti kata-kata. Satya wacana berarti setia pada kata-kata, atau segala apa yang dikatakan akan dilakukan sesuai menurut janji itu.

3.​ Satya dapat berarti kebenaran dalam arti relatif.

Kalau kita perhatikan ayat mantra dalam Atharwaweda dalam uraian terdahulu (Atharwa Weda XII,1.1.), kata Satya diartikan sama dengan kebenaran (Truth) yang diartikan sama dengan ajaran mengenai kepercayaan kepada ke Tuhanan. Di dalam mantra Rgveda, VIII, 62.12, kata Satya dipersamakan dengan Ke Tuhanan dengan mengatakan bahwa Satya adalah sifat dari pada Tuhan. Satya juga merupakan sifat dari pada Deva. Di dalam agama Sikh, yang mengambil bagian dari-pada ajaran agama Hindu, Guru Nanak di dalam ajarannya yang dibukukan di dalam kitab Japji, mengatakan, “Eka Om Sat Nama,” yang artinya sesungguhnya Om yang satu itu Satya namanya. Seperti kita ketahui, kata Om adalah simbol Ke Tuhanan dalam agama Hindu yang sering diterjemahkan pula dengan kata Tuhan.

Dari uraian di atas, maka Satya adalah dimaksudkan sama dengan ajaran Ke Tuhanan. Dengan ajaran satya tattwa itu, ini berarti, bahwa salah satu aspek dalam ajaran agama Hindu adalah mengajarkan ajaran ber Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Mengenai penjelasan ajaran Ke Tuhanan Yang Maha Esa menurut ajaran agama Hindu, akan diuraikan dalam buku tersendiri, Pengantar Agama Hindu V.

Kata Satya dalam arti Ke Tuhanan dipergunakan sebagai sifat, yang lazimnya dipergunakan dengan kata Sat yang artinya sama dengan Zat atau sering diterjemahkan dengan kata Yang Maha Ada, sebagai hakekat sifat benar dari pada Tuhan yang bersifat mutlak atau absolut. Kata Sat inilah yang sering kita jumpai dalam banyak sukta dari pada mantra-mantra dalam Rg Veda dan Upanisad.

Penggunaan kata Satya dalam arti bahasa sehari-hari dengan pengertian kebenaran atau kejujuran adalah dalam pengertian biasa menurut arti kata itu sendiri. Satya dijadikan dasar ajaran yang merupakan landasan untuk pengembangan sikap mental dan jalan pikiran dalam agama Hindu. Dengan kata Satya dimaksudkan agar setiap orang berlaku jujur dan selalu setia pada kata-kata. Sifat jujur, benar dan setia pada kata-kata adalah merupakan sifat terpuji karena sifat itu pula yang menjadi milik sifat Tuhan. Orang yang memiliki sifat satya itu dikatakan dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan atau dengan kata lain mereka itulah yang berjalan di jalan Tuhan. Setiap perbuatan, setiap kata-kata, setiap pikiran, hendaknya harus dilandasi dengan dasar satya, atau berdasarkan iman pada Tuhan. Inilah pokok pengertian Satya yang dapat kita jumpai di dalam Weda sebagai salah satu sendi keimanan dalam agama Hindu.

Kitab Yajur Weda XX.25 dinyatakan : “Vratena diksam apnoti, diksa yapnoti daksinam, daksinam sraddham apnoti, sraddhaya satyam apyate” – Dengan melakukan brata seseorang memperoleh Diksa, Dengan melakukan Diksa, seseorang memperoleh daksina, Dengan daksina seseorang memperoleh sraddha dan Dengan Sraddha seseorang memperoleh Satya (Kebenaran tertinggi).

Demikian juga seperti yang dijelaskan dalam dalam Yayurveda XIX. 30 dan 77 yang mengatakan : sraddha satyam apyati (Dengan sraddha orang akan mencapai kebenaran tertinggi yaitu Tuhan). sraddham satye prajapatih (Tuhan menetapkan dengan sraddha menuju kepada satya/kebenaran).

Om Santih Santih Santih Om

Bahan bacaan :

1. ​Sraddha (Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu) oleh Gde Pudja, MA., SH.

2.​ Pancha Sraddha oleh Drs. IB. Oka Punyatmadja

3.​ Pengantar Tattwa Darsana (Filsafat) oleh G. Sura, BA., IB. Kade Sndhu, BA., dan IB. G. Agastya, BA.

4.​ Upadesa, oleh Parisada Hindu Dharma

5.​ Dharma Sastra oleh Dr. IB. Oka Punyatmadja