Oleh: I Wayan Sudarma

Oṁ Swastyastu

A. Pendahuluan

Hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan bagi setiap orang, karena manusia tidak dapat hidup dalam kesendirian. Hidup bersama dalam masyarakat memerlukan pengorbanan dan saling pengertian. Tanpa kesediaan berkorban dan saling pengertian, maka hidup manusia akan mencemaskan, pada saat itu akan berlaku “matsyanyāya”, yakni, hukum rimba, yang kuat mengalahkan yang lemah. Kata “matsya nyāya”, mengandung arti kehidupan seperti ikan di samudra luas. Umumnya ikan yang kuat dan besar akan mudah saja menelan yang kecil, tetapi bila yang kecil bersatu dalam satu kelompok yang besar, maka ikan besarpun tidak akan berani menghampirinya. Matsya nyāya tersebut mengamanatkan pula betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih lagi dalam berbangsa dan bernegara.

B. Hakikat Penjelmaan

Hidup manusia menurut ajaran Hindu adalah untuk memperbaiki diri, memperbaiki karma-karma buruk yang dilakukan sebelumnya. Mahāṛṣi Vararuci dalam Sārasamuccaya (2-8) mengamanatkan, hanya dengan melaksanakan perbuatan baik, dapat melenyapkan pahala dari Karma atau perbuatan-perbuatan buruk di masa yang silam, oleh karena itu setiap orang hendaknya memanfaatkan penjelmaan ini untuk memperbaiki dirinya.

Tentang kelahiran sebagai manusia, mahaṛṣi Vararuci yang dikenal pula dengan Katyāyana di dalam Sarasamuccaya ( 8,9,10,11,19 ) menyatakan:

“Kelahiran menjadi orang (manusia) pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan kerdipan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh, oleh karena itu, gunakanlah kesempatan menjelma menjadi manusia ini, untuk merealisasikan Dharma, yang akan membebaskan dari proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga” (8)

“Seseorang yang memperoleh kesempatan menjelma sebagai manusia, ingkar dengan perbuatan Dharma (wimukha ring Dharma Sadhāna), sebaliknya amat suka mengejar harta, kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut tersesat, menyimpang dari jalan yang benar”. (9)

“Ia yang menjelma sebagai manusia, meskipun ia telah memperdalam ajaran Dharma, namun tidak terlepas dari proses lahir dan mati, orang yang semacam itu, masih sengsaralah namanya”. (10)

“Dalam mencari harta dan kepuasan nafsu, hendaknya selalu dilandasi Dharma, jangan sekali-sekali berbuat bertentangan dengan Dharma” (11)

“Adalah orang yang tidak ragu-ragu, hatinya tetap teguh untuk berpegang dan meralisasikan ajaran Dharma. orang itu hatinya sangat bahagia” (19)

Pedoman untuk memperbaiki diri telah diturunkan-Nya melalui berbagai agama dan kepercayaan, tinggal kepatuhan dan ketaatan umat manusia untuk mengikutinya. Bila ajaran agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa direalisasikan (diwujudnyatakan) dengan baik, maka ketentraman masyarakat akan terwujud. Sesungguhnya bila kita memperhatikan dengan seksama, kebaikan agama terletak pada penganutnya, yakni apakah ajaran yang dianut tersebut telah dilaksanakan dengan baik, dan hal ini benar-benar terwujud maka ketentraman dan kesejahtraan hidup baik dalam keluarga maupun masyarakat akan menjadi kenyataan.

C. Menjadi Saksi Yang Jujur

“Sadhukari sadhur bhavati pāpākari pāpobhavati, punyah punyena karmanā bhavati, pāpāh pāpena, athau khalv āhuḥ, kāmamaya evāyam puruṣa iti, sa yathākāmo bhavati, tat kratur bhavati, yat kratur bhavati, tat karma kurute, yat karma kurute, tat abhisampadyate” – ‘Seseorang akan menjadi baik hanya dengan berbuat kebaikan, seseorang menjadi jahat karena berbuat jahat , yang lain dari pada itu mengatakan bahwa seseorang itu terdiri dari nafsu. sebagai pula nafsunya demikian pulalah keinginannya, sebagai pula keinginannya, begitu pulalah perbuatan yang dia lakukan, tindakan apapapun yang dilakukan, pahala itu pulalah yang diperoleh. ( Bṛhadāranyaka Ūpaniṣad IV. 4.5)

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, bahwa yang dimaksud dengan Karma adalah perbuatan yang dilakukan seseorang baik atau buruk, benar atau salah tidak dapat dipungkiri pasti akan berpahala baik pada waktu hidupnya kini atau dalam penjelmaan atau kehidupannya yang akan datang. Perbuatan yang merupakan suatu rangkaian atau rentangan yang panjang ini akan berakhir bila seseorang telah dapat bersatu dengan Brahmān.

Berkaitan dengan pemberian kesaksian di depan sidang pengadilan, jika seseorang dapat memberikan kesaksian dengan jujur tentunya akan mendatangkan pahala karma kebaikan bagi yang bersaksi tersebut. Hal ini juga di jelaskan dalam kitab Svetāsvatara Ūpaniṣad VI. 4:

”Arabhya karmani guna vitani, bhavams ca sarvan viniyojayed yah, tesam abhave kṛta-karma-nasaḥ karmaksaye yati sa tattvato’nyaḥ ”- (Siapa yang melaksanakan kerja sesuai dengan sifat-sifat-Nya, dengan meletakkan hasilnya kepada Brahmān, maka hal itu berarti aktivitas kerjanya berhenti. Dengan berhentinya aktivitas kerjanya yang demikian itu, maka ia telah dapat manunggal dengan Brahmān).

Jadi menurut Ūpaniṣad tersebut di atas, seseorang akan dapat memutuskan rangkaian hukum sebab akibat (Karma) bila seseorang telah dapat melaksanakan kerja atau aktivitas sesuai dengan sifat-sifat-Nya dan bersatu dengan Brahmān. Dilihat dari pahala perbuatan yang dilaksanakan, maka Karma dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Karma yang baik atau Punyakarma (Sadhukari) dan Karma yang tidak baik (Papakarma) atau Papakari.

“Bhadram karnebhih sṛnuyāma deva, bhadram pasyemaksabhir yajatrah, sṭhirair anggais tustusvamas, tanubhir vyasemahi deva hitam yad ayuh” – Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah karuniaMu supaya kami dapat mendengar yang baik dari telinga kami, selalu melihat yang baik dengan mata kami, berikanlah kekuatan badan yang sehat supaya kami selalu dapat mengatakan kebenaran dan memujaMu dan sesuai dengan karma kami mendapatkan hidup yang lengkap dan tidak meninggal sebelum waktunya. (Yajurveda. 25.21)

 “Śata hasta samā hara sahasrahasta sam kira, kṛtasya kārya’sya cehasphārti samavaha “ – Bekerjalah kamu dengan seratus tanganmu, berdana punia (bersedekah)lah kamu dengan seribu tanganmu. Bila kamu bekerja dengan kesungguhan dan kejujuran (baik dalam pikiran, ucapan dan perbuatan), hasil yang diperoleh berlimpah ruah, beribu kali. Bagi yang mendermakannya sesuai dengan keperluan,Tuhan Yang Maha Esa akan menganugrahkan rakhmat-Nya. (Atharvaveda III.24.5).

”Subhāsubha phalair evam moksyase karma bandhanaih, Samnyāsayoga yuktāmā vimukto mām upaisyasi” – Dengan berkerja (baik dalam pikiran, berkata-kata, dan berbuat) sebagai bhakti kepada Aku, engkau terlepas dari belenggu Karma yang membawa pahala baik dan buruk. Dengan pikiran terpusatkan pada keikhlasan kerja,engkau akan bebas dan mencapai Aku. (Bhagavadgītā IX.28).

Demikian beberapa sloka yang mengisyaratkan kepada kita sebagai umat Hindu agar selalu dapat mengatakan kebenaran, yang harus kita dilakukan sepanjang hidup, karena Karma ini mempengaruhi kehidupan dan kelahiran seseorang di masa yang akan datang, termasuk ketika kita dijadikan sebagai saksi. Aopa yang kita katakan akan menentukan ke mana kita akan pergi (mencapai Moksa, ke sorga atau ke neraka dan terlahir kembali ke dunia dalam berbagai tingkatan kehidupan). Berikut kami kutipkan uraian pengaruh Karma terhadap kelahiran seseorang:

“Mereka yang melakukan perbuatan baik di sini akan segera memperoleh kelahiran yang baik, kelahiran sebagai Brāhman, kelahiran sebagai Kstriya atau kelahiran sebagai Vaisya. tetapi mereka yang perbuatannya di sini jahat, kelahirannya sebagai anjing, babi atau Cāndala” (Chāndogya Ūpaniṣad V.10.8).

Kitab Sarasamuccaya (110) secara tegas menyatakan: “Sifat-sifat dan sikap berikut hendaknya ditingalkan (oleh setiap orang), yaitu: tidak percaya adanya dunia akhirat, tidak percaya terhadap Karmaphala, mencela kitab suci Veda, menista atau mengejek para dewa, irihati, suka memuji diri sendiri, angkara, pemarah, sifat bengis, suka mendengar yang tidak patut didengar, sedemikian banyak yang harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dari dalam pikiran”, apalagi ucapan dan tindakan.

 

D. Simpulan dan Penutup

Berdasarkan uraian tersebut dapat kami simpulkan bahwa dapat bersaksi dengan jujur dan berani mengatakan kebenaran merupakan kewajiban hidup yang jika dilaksanakan akan mendatangkan pahala kemuliaan yang tidak boleh diragukan lagi. Menjadi saksi yang jujur merupakan kewajiban umat Hindu yang hendaknya senantiasa dipegang dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara, dengan demikian keluarga dan masyarakat yang sejahtra dan bahagia dapat diwujudkan.

Demikian materi Dharma wacana ini kami sampaikan untuk dapat dikembangkan di lapangan.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ

Bekasi, 23 Januari 2008

* Bahan masukan untuk KPK