Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

A. Pendahuluan

Situasi nasional dewasa ini cukup memperihatinkan. Untuk itu kesabaran dan usaha untuk membina ketahanan mental patut terus-menerus diupayakan. Lingkungan kerja dan lingkungan sosial perlu dicermati, sebab, bila kurang waspada, kita akan terseret kepada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Usaha mengadakan pembinaan mental spiritual ini merupakan langkah yang positif mengantisipasi perkembangan atau situasi saat ini. Hal yang penting dalam usaha untuk meningkatkan kesadaran umat turut serta dalam pengungkapan kebenaran adalah dengan sebanyak-banyaknya mensosialisasikan ajaran-ajaran kebenaran yang berkaitan dengan perlindungan saksi dan korban. Karena ajaran agama pada hakekatnya memberi motivasi, mendorong umat manusia untuk memilih yang baik dan benar, menghindarkannya dari perbuatan yang tidak baik dan keliru, di samping hal yang terpenting bagi umat manusia adalah dengan mengamalkan ajaran agama dengan baik, mereka yang mengamalkannya akan mengalami perubahan perilaku, transformasi diri, sebab bila agama belum mampu mengubah perilaku seseorang, berarti ajaran agama tersebut belum diamalkan dengan baik. Tulisan singkat ini diharapkan adanya perubahan paradigma pada umat Hindu kaitannya dengan peran sertanya dalam pengungkapan kebenaranan, sebagai salah satu kewajiban sebagai wraga negara. Perilaku ini sangat penting diupayakan, sebab dengan prilaku yang baik, seseorang akan memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Perubahan perilaku diarahkan untuk meningkatkan keimanan (Sraddhā), dan dengan Sraddhā yang mantap kepada-Nya, Hyang Widhi selalu memberi perlindungan dan menganugrahkan kemakmuran, ketentraman dan kebahagiaan hidup.

B. Pahala Bagi Pengungkap Kebenaran

“Vacika nimitanta menemu sukha, Vacika ninitanta manemu mitra, Vacika ninitanta manemu duhka, Vacika ninitanta pati kapangguh” -Melalui ucapan engkau bisa mendapatkan bahagia, dengan ucapan engkau dapat memperoleh sahabat, dengan ucapan derita didapat, dan dengan ucapan pula kematian bisa didapat.

Ungkapan sloka tersebut di atas mengisyaratkan bahwa jika manusia hendak mendapatkan kebahagiaan, kemakmuran dan banyak sahabat adalah melalui ucapan yang disampaikannya. Dan tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan kebahagiaan, kemakmuran dan meiliki banyak sahabat.

“ Kayena manasa waca yad abhisanam nisevyate, Tadevapaharatyenam tasmat kalyanam acaret” – Yang menyebabkan orang itu terkenal adalah tingkah lakunya, buah pikirannya, ucapan-ucapannya, hal itulah yang diperhatikan oleh seseorang; oleh karena itu berbuat baik supaya dibiasakan dalam perbuatan, perkataan, (dan) pikiran. (Sarasamuccaya 77)

“ Yad dvayoranyor vetha karye’sminscestitam mithah, tad bruta sarvam satyena yusmakam hyata saksita” – Apa yang kamu kerjakan dan ketahui, katakanlah semua itu sesuai dengan kenyataan (kebenaran) karena kamu sebagai pelaksana dan saksi dalam hal ini. (Manavadharmasastra, VIII.80)

“Avak sirasramasyandhe kilbisi narakam vrajet, yah prasnam vitatham bruyat prstah sandharma niscaye” – Jatuh terjungkir ke neraka, bagi mereka yang memberi laporan palsu demi kepentingannya, lebih-lebih dalam sidang pengadilan ketika diadili (Manavadharmasastra, VIII.94)

 “Hanti jatanajatasca hiranya arthe’nrtam vada, sarvam bhumya’nrte hanti masma bhumya’nrtam vadih” – Dengan berkata bohong dan membuat laporan palsu untuk, memperoleh harta kekayaan, serta melakukan perbuatan yang tidak terpuji, merupakan dosa yang amat besar, oleh karena itu hati-hatilah dengan, keterangan palsu tentang harta. (Manavadharmasastra, VIII.99)

“Na vrtha sapatham kuryat svalpe’pyarthe naro budhah, vrtha hi sapatham kurvat pretya ceha ca nasyati” – Orang-orang arif bijaksana hendaknya jangan memberi keterangan palsu, walaupun dalam hal yang sangat menakutkan sekalipun, sebab mereka yang membuat keterangan palsu akan menderita, rusak namanya di dunia ini dan akhirnya masuk ke alam neraka. (Manavadharmasastra, VIII.111)

“Lobham mohad bhayan matrat kamat krodhat tathaiva ca, ajnanadbala bhavaca saksyam vitatham ucyate” – Laporan/keterangan yang disajikan karena sifat serakah, loba, kebingungan, karena persekongkolan, karena nafsu marah, kebodohan, dinyatakan tidak berlaku, hendaknya diulang dengan, keterangan yang sejujurnya, jika menginginkan hidup bahagia dan tenang. (Manavadharmasastra, VIII.118)

Dalam ajaran agama Hindu baik dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu yang lain kita temukan banyak ajaran yang mendorong umat manusia bekerja keras, berbuat kebaikan, mengatakan kebenaran yang dilandasi dengan keimanan atau Sraddhā dan Bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa. Kerja adalah suatu keharusan, sebab Tuhan Yang Maha Esapun tiada henti-hentinya menggerakkan hukum kemaha kuasaan-Nya. Perhatikanlah kutipan kitab suci Bhagavadgītā berikut: ”Utsīdeyur ime lokā na kuryām ced aham, sangkarasya ca kartā syāmupahanyām imāh prajah” – Jika sedetik saja Aku tidak bekerja alam semesta ini akan hancur lebur. Kalau Aku berbuat demikian, berarti Aku menyebabkan kehancuran umat manusia dan menghancurkan kedamaian semua makhluk. (Bhagavadgītā III.24).

Demikian pula mengatakan kebenaran adalah sebagai salah satu wujud kewajiban (kerja) yang mesti dilakukan oleh setiap orang. Seperti yang tersirat dalam Bhagavadgītā IX.27: ”Yat karosi yad asnāsi yaj juhosi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kurusva madarpanam – Apapun yang kau kerjakan, kau makan kau persembahkan, kau dermakan dan disiplin diri apapun yang kau laksanakan, lakukanlah wahai Arjuna sebagai bhakti kepada Aku.

”Subhāsubha phalair evam moksyase karma bandhanaih, Samnyāsayoga yuktāmā vimukto mām upaisyasi – Dengan berkerja sebagai bhakti kepada Aku, engkau terlepas dari belenggu Karma yang membawa pahala baik dan buruk. Dengan pikiran terpusatkan pada keikhlasan kerja,engkau akan bebas dan mencapai Aku. (Bhagavadgītā IX.28).

”Na rte srātasya sakhyāya devāh – Tuhan Yang Maha Esa hanya menyayangi orang yang bekerja keras. (Rgveda IV.33.11)

”Mā no nidrā īsata mota jalpih” – Hendanya sifat penidur tidak mengusai kami, juga kebiasaan omong kosong. (Rgveda VIII.48.14).

”Na svapnāya sprhayati – (Mereka yang tidak tidur (berlebihan), mengurangi kemalasan). Rgveda VIII.2.18.

”Niyatam kuru karma tvam karma jyāyo hi akarmanah, sarīrairayatrā’pi ca te na prasidhyed akarmanah” – Bekerjalah sesuai dengan tugas dan kewajiban yang telah ditentukan sebab bekerja jauh lebih baik dari pada tidak bekerja dan tubuhpun tidak akan terpelihara bila kita tidak bekerja. (Bhagavdgītā III.8)

”Karmany evādhikāraste mā phalesu kadācana, mā karma phala hetur bhùr mā te sango’stv akarmāni” – Kewajibanmu hanyalah bekerja, tidak hasil pekerjaan yang engkau pikirkan, jangan sekali-kali menjadi motif dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri. (Bhagavdgītā, II.47)

”Mayi sarvāni karmāni samnyāsadhyātmācetasā, nirāsīr nirmamo bhùtvā yudhyasva vigatava arah” – Persembahkanlah segala kerjamu kepada Aku dengan memusatkan pikiran kepada Aku. Lepaskanlah dirimu dari pamerih dan rasa keakuan serta bangkitlah,engkau akan terbebas dari pikiran yang susah. (Bhagavadgītā III.30).

Lebih jauh dalam salah satu kitab Upanisad dinyatakan : “Dharmo visvasya jagatah pratisthā loke dharmisþham prajā upasarpanti, Dharmena pāpam apanudanti dharme sarvam pratistham tasmad dharmam paramam vadanti” – Dharma adalah prinsip dasar yang bergerak dan tidak bergerak di dunia ini. Di dunia, manusia hendaknya bergairah mengikuti Dharma. Mereka membebaskan dirinya dari dosa-dosa dengan Dharma. Segala sesuatunya berjalan mantap atas dasar Dharma. Untuk itu patutlah Dharma disebut yang tertinggi” (Mahānārāyanopanisad XXII.1).

Pengertian Dharma sebagai hukum atau kewajiban lebih jelas diuraikan dalam kitab-kitab Itihāsa maupun Dharmasāstra, antara lain :

“Dharma disebut demikian karena melindungi segalanya, Dharma memelihara segala yang diciptakan oleh-Nya. Dharma adalah prinsip dasar yang menjamin keharmonisan di alam semesta”. (Mahābhārata Sāntiparva CIX.11). 

“Dharmenaivarsayas tīrnā dharme lokāh pratisathitāh dharmena devā vavridhur dharme chārthah samāhitah Tasmād dharmapradhānena bhavitayam yatātmanā” – Hanya dengan Dharma, para Rsi dapat menyeberangi (dunia penjelmaan dan kematian), mencapai Moksa,kokohnya dunia, tergantung atas Dharma. Oleh karena itu kita harus hidup dengan mengendalikan diri dan mengutamakan pelaksanaan Dharma. (Mahābhārata Sāntiparva CLVII,7,9)

“Dharma eva hato hanti dharmo raksati raksitah, tasmād dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt.- Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya, Dharma yang dipelihara akan memeliharanya,oleh karena itu Dharma jangan dilanggar, melanggar Dharma akan menghancurkan diri sendiri. (Manavadharmasāstra VIII.15)

C. Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa mengungkapkan kebenaran hendaknya senantiasa dilakukan atas dasar Dharma. Berkata yang dilandasi Dharma sangat mulia bila dipandang sebagai perwujudan Bhakti, dengan demikian mengatakan kebenarn adalah juga sebuah persembahan, yang akan mengantarkan umat manusia mencapai Tuhan Yang Maha Esa, terwujudnya kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin.

Om Śantih Śantih Śantih Om

Bekasi, 23 Januari 2008

*Merupakan Bahan masukan untuk kajian KPK