“KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI HITA KARANA”
Ide Cerita: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)- Bekasi

Pernah dipentaskan dalam bentuk drama tari di Pura Agung Tirta Bhuana -Bekasi Th. 2007

PENDAHULUAN

Umat Hindu memercikkan, meminum dan mengusapkan AIR SUCI pada kepala dan mukanya sebagai pengakhir dari persembahyangan mereka. Untuk mengetahui apa yang dinamai AIR SUCI dalam Agama Hindu kami akan memulainya dengan menguraikan mengenai air Suci Sungai Gangga, yang ada di Bharata Warsa yaitu India.

Dunia Barat, yang kini terkenal menjadi tempat pusat kemajuan teknologi mutakhir itu, pada jaman turunnya wahyu Veda di Dunia Timur, masih merupakan hutan rimba yang dihuni oleh manusia-manusia primitive. Dengan turunnya wahyu Veda, berarti dimulainya peradaban manusia, dan itu dimulai dari Dunia Timur.

Wahyu Veda disabdakan Hyang Widhi ke dunia melalui para Maharsi Bangsa Arya, yang terkenal genius itu. Sabda Tuhan tersebut diterima oleh para Maharsi melalui pendengarannya, sehingga kemudian sabda tersebut dinamai Sruti. Para Maharsi mampu mengingat-ingat wahyu Veda tersebut sampai akhir hayatnya. Sebagai penerima wahyu, para Maharsi meiliki kewajiban untuk menyebarluaskan wahyu tersebut kepada masyarakat.

Dalam penyebarluasan Veda inilah para Maharsi mengalami kesulitan, karena kemampuan masyarakat berbeda-beda. Bagi mereka yang pikirannya mampu, diberikan pelajaran setara ilmiah. Tetapi bagi yang sangat awam, diajar Veda dengan penafsiran. Tafsir-tafsir Veda tersebut dinamai Smrti.

Salah satu macam tafsir Veda yang disebut kitab-kitab Purana, memuat dongeng-dongeng keagamaan. Kini, kitab-kitab Purana tersebut berjumlah 36 pustaka. Bagi yang terpelajar, mungkin akan tersenyum tidak percaya bila telah membaca kitab-kitab Purana tersebut. Bahkan menuduh, bahwa penulis kitab-kitab Purana itu pembohong, penipu masyarakat yang sangat awam. Akan tetapi, pendapat tersebut akan hilang, apabila ia tahu, bahwa penulisan dongeng-dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut hanya merupakan simbolik-simbolik, merupakan gambaran-gambaran yang mudah dimengerti oleh orang awam, yang mengandung makna dan kebenaran yang dapat diterima dengan wajar. Jadi penulisan dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut, hanya merupakan media atau alat pendidikan yang sederhana dan mudah bagi orang awam.

KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI
HITA KARANA

Tentang kesucian sungai Gangga juga dimuat dalam kitab Purana. Berbentuk cerita yang sangat menarik bila dibacakan.

PROLOG:

Dahulu, kerajaan Ayodhya pernah diperintah oleh seorang raja yang bernama SAGARA. Baginda mempunyai dua orang istri. Dari istrinya yang pertama, Sang Raja dianugerahi seorang Putra bernama ANSUMAN, dan setelah dewasa menjadi seorang pertapa. Dan istri kedua baginda mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang.

Diceritakanlah, pada suatu hari raja Sagara akan mengadakan Asvamedha Yajna atau Upacara Korban Kuda. Suatu upacara korban, harus didasari kesucian dan ketulusan hati. Nampaknya prinsip tersebut tidak dipegang oleh Sri Baginda. Ia mengadakan Asvamedha Yajna, hanya ingin mendapatkan kemasyuran dirinya belaka, dan hanya ingin menunjukkan kekuasaannya.

SITUASI & DIALOG I
Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Paruman Kerajaan

Perdana Menteri: Om Swatyastu Paduka Raja, semoga atas anugerah Hyang Widhi, Paduka dilimpahkan kemuliaan. Mohon paduka menyampaikan amanat kepada hamba semua, ada tugas apa yang harus kami lakukan sehingga Paduka mengumpulkan kami semuanya?

Raja Sagara : Wahai Rakyatku yang setia……….setelah sekian lama Aku memerintah kerajaan ini, tak terasa kerajaanku telah tumbuh menjadi kerajaan yang besar. Untuk itu Aku berniat menyelenggarakan Karya Agung yaitu Asvamedha Yajna, bagaimana menurutmu Perdana Menteri?

Perdana Menteri: Ampun Paduka, niat Paduka itu sangat mulia, karena Asvamedha Yajna adalah upacara yang paling utama dari semua upacara korban, hamba sangat setuju dan akan mendukung niat paduka tersebut.

Raja Sagara: Perlu kalian ketahui maksudku melaksanakan upacara ini, Aku ingin menjadi raja termasyur dan paling disegani di muka bumi ini. Aku ingin agar semuanya tunduk dan bersujud di bawah kekuasaanku, Aku ingin menjadi penguasa atas dunia ini.

Perdana Menteri: Baik Baginda…….Semua titah paduka akan hamba laksanakan.

Kemudian raja meninggalkan tempat diikuti oleh kedua istri, anak-anaknya dan diiringi oleh punggawa kerajaan.

SITUASI II

Pada saat upacara dilangsungkan yang dipimpin oleh pendeta kerajaan, niat jahat dari Sang Raja telah diketahui oleh Dewa Indra, dan untuk menggagalkan maksud nakal Raja Sagara tersebut, dewa Indra menjelma sebagai ASURA (Orang Jahat). Ketika Kuda yang dijadikan korban telah dilepas, di tengah perjalanan Kuda tersebut dihalau oleh ASURA hingga masuk ke dalam tanah.

SITUASI & DIALOG III

Tempat: Kerajaan Ayodhya
Situasi: Tegang

Sri Baginda Raja Sagara sangat marah, setelah mengatahui kudanya hilang. Maka segeralah memerintahkan ke 60.000 putra-putranya untuk mencari kudanya yang telah menghilang itu.

Raja Sagara: Pengawal……. Pengawal……. Perdana menteri………. Senapati dimana kalian semua, mengapa kuda korbannya bisa hilang? Apa kerja kalian siang dan malam, Aku telah menyuruhmu untuk menjaga dan mengawasi kuda tersebut mengapa bisa hilang? Putra-putraku semuanya sekarang kalian cepat pergi…. cari ke seluruh penjuru dan jangan kembali sebelum kalian menemukan kudanya !

Putra Raja : Baik Ayahanda, semua perintah paduka akan hamba lakukan……..hamba mohon pamit! ( dengan sikap agak terpaksa dan ketakutan)

Demikianlah Sri Baginda Raja Sagara, yang sangat murka memerintahkan putra-putranya untuk mencari kuda korban itu tanpa ada yang berani membantah, walau dalam hati mereka sebenarnya enggan melaksanakan tugas tersebut.

SITUASI & DIALOG IV
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila
Situasi: Tegang

Belum lama mengadakan perjalanan, putra-putra Raja Sagara telah dapat menemukan kuda yang hilang itu. Ternyata kuda itu, berada di pertapaan Rsi Kapila. Hal ini menyebabkan Putra-putra Raja sagara tersebut berburuk sangka terhadap Rsi Kapila. Mereka menuduh Sang Rsi telah mencuri kudanya.

Putra Raja 1: Wahai Sang Rsi ……Kami Putra Raja Sagara dari kerajaan Ayodhya, sedang mencari kuda yajna yang menghilang, dan kami menemukan kuda tersebut di sini, pastilah Sang
Rsi yang telah mencurinya?

Rsi Kapila: Om Swastyastu…..terimalah hormat hamba sebagai abdimu, maaf tuan …..semua yang tuan tuduhkan itu tidaklah benar, kuda itu datang sendiri ke pertapaan hamba!

Putra Raja 2: Aah…. Dasar pencuri! Mana ada pencuri yang mengaku? Kakanda pastilah Dia yang telah mencuri kuda ini, dan dia pantas dihukum atas kejahatannya ini.

Putra Raja 3: Siksa saja Dia, lalu kita hanyutkan ke sungai, biar tahu rasa…..apa akibatnya kalau mencuri dan berbohong!

Niat buruk para Ksatria tersebut diketahui oleh Rsi Kapila, maka ia mendahului menghukum para Ksatria congkak itu. Melalui pancaran sinar sakti matanya, Rsi Kapila membakar habis ke 60.000 pura Raja Sagara hingga menjadi abu.

SITUASI & DIALOG V
Tempat : Kerajaan Ayodhya
Situasi : Cemas

Prabhu Sagara sangat gelisah, karena sudah cukup lama putra-putranya tidak kembali. Oleh karena itu, Sang Ansuman, putra yang telah menjadi pertapa itu, diperintahkan agar segera menyusul saudara-saudaranya dalam mencari kuda.

Raja Sagara: Pengawal……….segera engkau panggilkan putraku Sang Ansuman, untuk menghadapku!

Pengawal: Baik Yang Mulia

Sang Ansuman: Om Swastyastu ……Ayahanda, terimalah sembah bhakti hamba, kalau boleh hamba tahu apa yang menyebabkan mengapa Ayahanda begitu gelisah ?

Raja Sagara: Bagaimana Ayah tidak cemas, sejak kepergian saudara-saudaramu mencari kuda yajna, hingga hari ini belum juga kembali, jangan-jangan mereka mendapat celaka! Itulah sebabnya Ayah memanggilmu untuk segera menyusul saudara-saudaramu mencari kuda terebut.

Sang Ansuman: Jika itu penyebab kegelisahan Ayahanda, saya siap melaksanakan tugas ini dan menemukan kembali kuda dan saudara-saudara saya. Ijinkalah saya menyusulnya sekarang juga!

Raja Sagara: Berangkatlah, doa dan restu ayah menyertaimu!

Sang Ansuman, setelah menghaturkan sembah, segera berangkat napak tilas perjalanan saudara-saudaranya.

SITUASI DAN DIALOG VI
Tempat: Pertapaan Rsi Kapila

Sampailah SangAnsuman di pertapaan Rsi Kapila. Ia melihat kuda yang dicarinya. Sang Ansuman, yang telah terbiasa bergaul dengan para pertapa, segera menghadap Sang Rsi. Ia duduk bersila di hadapan Rsi itu, kemudian menyembah kaki Rsi Kapila. Setelah mengahaturkan sembah, Sang Ansuman memulai pembicaraan

Sang Ansuman: Om swastyastu Wahai Rsi Agung, terimalah sembah sujud saya…… Hamba Sang Ansuman Putra Raja Sagara dari Ayodhya,…….maaf Rsi Agung, kedatangan saya ke sini untuk mencari kuda yang hilang. Mungkinkah kuda yang dipertapaan ini milik keluarga kami?

Rsi Kapila: Mungkin betul ananda. Kuda itu datang kemari sendiri dan aku hanya merawatnya. Periksalah terlebih dahulu, kalau memang kuda itu yang ananda cari, aku tidak keberatan untuk memberikan kuda itu kepadamu!

Belum sampai Sang Ansuman mengajukan permohonan, ternyata pertapa itu telah menyerahkan kuda itu kepadanya. Hal ini terjadi karena Rsi kapila sangat senang melihat Sang Ansuman yang gunawan.

Sang Ansuman: Terima kasih maha Rsi. Namun sebelum ananda mohon diri, perkenankanlah nanda mengajukan sebuah pertanyaan. Tidakkah Maha Rsi melihat ke 60.000 saudara saya, yang juga ditugaskan mencari kuda yang hilang?

Rsi Kapila: Memang anakku, saudara-saudaramu telah datang kemari!

Rsi Kapila menarik napas panjang, raut mukanya nampak serius, kemudian melanjutkan percakapannya.

Mereka datang kemari dengan tidak sopan, melanggar dharmaning ksatria, malah mereka telah berbuat Adipataka (dosa yang sangat besar dan berat). Mereka menuduhku mencuri kuda itu, dan mereka bermaksud akan mencelakakanku. Karena itulah, mereka terpaksa kumusnahkan, dengan menggunakan pancaran sakti mataku. Lihatlah sekeliling pertapaan ini, abu-abu yang berserakan itu adalah abu-abu saudaramu.

Sang Ansuman memandang sekeliling pertapaan. Ia terdiam seribu bahasa. Mukanya yang tadinya ceria, kini dengan cepatnya berubah menjadi sayu. Ia sangat sedih, walaupun mereka hanya saudara tiri, namun ia merasa turut kehilangan.

Rsi Kapila: Sudahlah Ansuman, Janganlah bersedih hati. Saudara-saudaramu itu masih bisa dihidupkan kembali. (kata Rsi Kapila menghibur).

Sang Ansuman: Betulkah itu Maha Rsi ?

Rsi Kapila: Ya, saudara-saudaramu itu akan hidup kembali bila Dewi Gangga berkenan turun dari Sorga ke Bumi. Lakukanlah tapa, untuk memohon agar Dewi Gangga turun ke dunia!

Ansuman tidak berkata apa-apa, tetapi menganggukkan kepalanya suatu tanda telah mengerti akan nasihat Sang Rsi. Setelah bersujud mohon pamit, Ansuman berdiri, kemudian berjalan menuju tempat kuda diikatkan. Ia menuntun kuda itu pulang dengan langkah yang lunglai.

SITUASI DAN DIALOG VII
Tempat: Istana Ayodhya
Situasi: Riang-sedih

Perjalanan yang dirasa dekat pada waktu berangkatnya, kini terasa jauh. Langkah demi langkah, akhirnya tiba pula di Ayodhya. Diikatkanlah kuda itu di kandangnya. Kemudian Sang Ansuman segera menghadap ayahanda raja, yang suatu kebetulan saat itu semua kerabat sedang berkumpul dalam persidangan. Sebagaimana biasanya, Sang Ansuman pun segera menghaturkan sembah ke hadapan ayahnya.

Sang Ansuman: Om Swastyastu …..sembah sujud hamba ayahanda.

Sang Raja yang menerima sembah itu tahu, bahwa putranya dalam keadaan murung. Sementara semua kerabat, yang turut hadir dalam persidangan itu diam. Tidak seorangpun yang berbicara. Semua memperhatikan Sang Ansuman dengan penuh tanda tanya. Sekali lagi Ansuman mencium kaki ayahandanya, namun sang raja, belum juga mengerti apa yang dirisaukan putranya.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi ananda?” Sang Prabu memulai pembicaraan.

Dengan kata-kata yang tersendat-sendat,

Sang Ansuman: “Ramanda, saudara-saudarakua telah kena kutuk pastu Bhagawan Kapila. Mereka dibakar habis menjadi abu.”

Suasana persidangan berubah seketika. Sekejap jerit tangis meledak memenuhi ruangan. Air mata bercucuran. Hanya Sri Bagindalah yang tidak meneteskan air mata. Beliau hanya menunduk sedih. Menyesali kejadian yang menimpa putra-putranya.

Sang Ansuman: “Ayahnda. Janganlah menyalahkan Rsi Kapila, apalagi menghukumnya. Beliau tidak bersalah justru saudara-saudarakulah yang telah berbuat Adipataka (dosa terbesar). Mereka telah merencanakan pembunuhan terhadap sang pertapa.”

Sang Raja: “Betul anakku merekalah yang bersalah. Terus apa yang dinasehatkan pertapa itu kepadamu?”

Sang Ansuman: “Saudara-saudaraku masih bisa dihidupkan kembali.”

Jawaban tersebut mengejutkan semua yang hadir, sehingga mengubah suasana persidangan. Suara tangispun mereda, walau isak-isak tangis masih terdengar di sana-sini. Mereka dengan tekun mengikuti pembicaraan, penuh harap, agar kejadian yang mustahil itu dapat terwujud.

Sang Raja: “Apa yang harus kita lakukan Ansuman?”

Sang Ansuman: “Rsi kapila menasehatkan, saudara-saudaraku bisa dihidupkan kembali, jika Dewi Gangga telah dapat diturunkan dari Surga ke bumi.”

Semua yang hadir dalam persidangan, penuh tanda tanya, tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Namun bagi Sri baginda, hal itu sudah cukup dimengerti, sehingga beliau menganggukkan kepalanya.

Sang Raja: “Ansuman anakku, dalam sastra suci telah disebutkan, bahwa putra adalah pelanjut dharma orang tua. Bersiap-siaplah, sudah waktunya ananda menggantikan ayah, memimpin rakyat Ayodhya. Jadilah pemimpin yang bijaksana, agar rakyat hidup tentram, damai, dan, sejahtera.”

Kisah selanjutnya, Ansuman menjadi raja di Ayodhya, sedang Prabhu Sagara melakukan tapa guna memohon turunnya Dewi Gangga. Sampai akhir hayatnya, permohonan Prabhu Sagara belum terkabulkan. Sehingga Ansuman melanjutkan melakukan tapa. Tapi masih berbasib sama dengan ayahandanya. Permohonan belum juga terkabulkan. Dilipa, putra Ansuman, juga menyusul melanjutkan dharma kakeknya. Ia gagal pula. Dan akhirnya, sang Bagiratha, Putra Dilipa yang terkabulkan permohonannya.

SITUASI DAN DIALOG VIII
Tempat: di tengah hutan
Situasi: damai

Sang Bagiratha, buyut Prabhu Sagara itu, telah bertapa dengan hebatnya. Sorga tergoncang oleh tapanya sehingga Dewa Brahma berkenan turun ke bumi.

Dewa Brahma: “Ananda Bagiratha, tapamu begitu hebatnya, yang meresahkan para dewata. Apa yang kau kehendaki?”

Bagiratha: “Dewata yang selalu hamba puja, hamba memohon agar Dewi Gangga diturunkan ke bumi di sekitar pertapaan Rsi Kapila. Hanya dengan cara itulah leluhurku yang terkena kutuk Rsi Kapila akan hidup kembali dan dibersihkan dari dosa dan noda.”

Dewa Brahma : Permohonanmu terkabulkan Bhagiratha, tetapi ketahuilah, Dewi Gangga akan turun dengan derasnya. Bumi pasti tergoncang karenanya. Segala yang dilaluinya pasti hancur, basmi buta semuanya. Hanya Dewa Siwalah yang dapat menghambatnya.”

SITUASI DAN DIALOG IX
Tempat: Di tengah hutan
Situasi: Damai

Setelah menerima sembah dari Bagiratha, Dewa Brahma segera kembali ke Brahmaloka. Bhagiratha melanjutkan tapanya, guna memohon turunnya Dewa Siwa. Tak lama kemudian Siwa turun ke bumi mendatangi Bagiratha.

Dewa Siwa: “Hai, Bagiratha, tidakkah Brahma telah mengabulkan permohonanmu? Apalagi yang kau kehendaki dariKu?”

Bagiratha: “Betul, permohonan hamba telah dikabulkan. Namun apa artinya hamba dapat menolong leluhur, tetapi membencanai orang lain? Oleh karena itu, hamba mohon, sudilah kiranya Hyang Siwa menghambat turunnya Dewi Gangga ke bumi secara tidak dhasyat.”

Dewa Siwa: “Permohonanmu kukabulkan, Bagiratha.”

Tanpa menunggu sembah Bhagiratha, Dewa Siwa segera menuju ke puncak gunung Kailasha. Bhagirathapun segera menuju ke pertapaan Rsi Kapila. Untuk menyaksikan sendiri keajaiban dunia yang akan segera terjadi itu.

SITUASI X

Sementara itu dunia menjadi gelap gulita dengan cepatnya. Awan hitam tebal menyelimuti bumi, suara gemuruh teriring kilatan petir yang yang dibarengi dengan suara geledek yang mengerikan. Seolah maha pralaya telah tiba. Bersamaan dengan itu Dewi Gangga turun ke bumi dengan dahsyatnya.

Dewa Siwa yang menyaksikan peristiwa itu segera berdiri di puncak Gunung Kailasha, anak pegunungan Himalaya. Dewi Gangga dapat dihadang oleh Dewa Siwa, akan tetapi Dewi Gangga selalu berontak melepaskan diri. Dewa Siwa segera membelit Dewi Gangga dengan perutnya, sehingga Dewi Gangga kehabisan akal. Namun Dewi Gangga dapat pula melepaskan diri dari lilitan rambut Dewa Siwa. Kini, muncullah Ia sendiri dari kepala Siwa, hanya saja Ia tercerai berai menjadi bagaian-bagaian kecil dan besar, mengalir ke seluruh India sehingga tidak membahayakan daerah-daerah yang di lewatinya. Bagiannya yang terbesar mengaliri pertapaan Rsi Kapila yang kini disebut Sungai Gangga. Bagian-bagian lainnya menjadi Sungai Yamuna, Saraswati, dan sebagainya.

Berbahagialah Sang Bagiratha karena permohonannya telah terkabulkan. Leluhurnya telah dibersihkan dari dosa dan noda. Kini leluhurnya yang terkena kutukan Rsi Kapila, telah hidup kembali.

KAJIAN MAKNA FILOSOFIS

Berkat dongeng tersebut di atas, sampai kini umat Hindu di India bahkan dunia mengakui dan mempercayai bahwa Sungai Gangga adalah sungai yang paling suci di muka bumi ini. Umat Hindu memujanya bukan karena takut, tetapi mereka memuja karena tahu bahwa sungai Gangga memiliki keajaiban.

Sekali lagi yang terpelajar harus bisa mengupas simbol-simbol yang terkandung dalam dongeng tersebut, misalnya:

1. Nama Sagara, berasal dari perkataan sansekerta, yang berarti lautan atau samudra.

2. Prabhu Sagara memilikki dua istri. Hal ini merupakan simbol, bahwa lautan itu memilikki dua sifat yang berlawanan, yaitu pasang dan surut (rwa bhineda)

3. Dari istri pertama, Prabhu Sagara mendapatkan Putra satu orang, sedang dari istri yang kedua mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang Hal ini menjelaskan bahwa samudralah menadi asal mula beribu-ribu sungai di di dunia. Dan sekian banyak sungai tersebut hanya satu yang dianggap paling suci, yaitu Gangga.

4. ke 60.000 orang putra sagara mencari kuda ke dalam tanah dalam sekali. Itu melambangkan bahwa setiap sungai mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang akhirnya kembali ke samudera.

5. ke 60.000 orang putra sagara terbakar habis menjadi abu. Hal ini melambangkan bahwa sungau-sungai itu bila mati akan kering hanya kelihatan pasir-pasir atau menjadi padang pasir.

6. Sabda Rsi Kapila, yang menyatakan putra-putra Sagara itu akan hidup kembali setelah Dewi Gangga berkenan turun ke bumi, melambangkan sungai-sungai itu akan hidup kembali jika hujan telah turun ke bumi.

7. sabda Dewa Brahma, “Dewi Gangga akan turun ke bumi dengan dahsyatnya dan akan membawa bencana di bumi, meunjukkan bahwa hujan yang lebat akan membawa korban, membencanai makhluk hiudp dan korban harta benda.

8. Dewa Siwa menghadang turunnya Dewi Gangga di puncak gunung Kailasha serta membelit dengan rambutnya, mengandung simbol bahwa kepala Dewa Siwa sebagai simbol puncak gunung, sedang rambut Siwa sebagai simbol akar-akar pohon yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Di daerah gununglah hujan yang lebat itu banyak terjadi. Air hujan itu meresap ke dalam tanah kemudian di tahan oleh akar pohon, maka air hujan tidak seluruhnya mengalir ke daerah lembah. Yang tertahan oleh akar-akar kemudian muncul sebagai mata air yang mengalir sepanjang masa, menyebabkan sungai-sungai hidup terus yang memberi kemakmuran.

Dari simbol-simbol itu dapatlah diambil kesimpulan, bahwa tujuan cerita tersebut adalah menerangkan sirkulasi air. Dan juga bermaksud mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, yaitu dengan cara menjaga hutan di lereng maupun di kaki gunung. Umat manusia tidak menebang pohon-pohon seenaknya.

Telah menjadi kenyataan, bahwa bencana banjir, tanah longsor yang kini sering terjadi di negara kita bahkan di dunia adalah suatu akibat penggundulan hutan oleh masyarakat, tentunya masyarakat yang sudah tidak mempercayai dongeng-dongeng yang sudah dianggap kuno itu.