Om Swastyastu

Beberapa tahu yang lalu ada seorang perempuan tua di sebuah desa. Dijualnya sebidang tanah kecil yang dimilikinya, dan dengan itu, ia memesan empat buah gelang emas, dua untuk masing-masing tangannya. Dengan amat gembira dipakainya gelang barunya dan pergi ke jalan dengan  amat bangga. Tetapi ia kecewa karena tidak ada seorangpun di desanya yang menoleh dan melihat gelangnya, sama saja seperti jika ia tidak mengenakannya. Tidak ada yang melihat perubahan pada dirinya. Dengan pelbagai cara ia berusaha untuk menarik perhatian mereka pada gelangnya, tetapi tidak berhasil. Suatu malam ia tidak bisa tidur sama sekali, karena merasa amat sakit hati karena diabaikan. Akhirnya ia mendapat sebuah ide yang cemerlang, yang dianggapnya pasti berhasil. Orang-orang desa itu harus ditarik perhatiannya agar melihat gelangnya.

Keesokan harinya, setelah matahari terbit, ia membakar rumahnya sendiri! Ketika api menyala dan terjadi kegemparan, orang-orang desa dengan serempak berlari ke arah yang sedang duduk meratap di depan rumahnya yang sedang terbakar. Ia menggerakkan tangannya sehingga menimbulkan iba di hadapan orang desa yang ketakutan. Gerakan tangannya yang bersemangat menyebabkan gelang itu gemerincing dan berkilauan dalam sinar nyala api yang membumbung kemerahan. Ia berteriak: “Aduh rumahku terbakar. O, betapa malangnya nasibku. Tuhan tidakkah Kau lihat keadaanku yang buruk ini?” Setiap kali ia meneriakkan sepatah kalimat, diperlihatkannya tangannya dengan penuh semangat pada tiap orang, sehingga mereka pasti melihat gelangnya. 

Sungguh kasihan! Ia begitu ingin memamerkan gelangnya sehingga tidak peduli akan rumahnya sendiri. Rumah terbakar, tetapi ia senang karena gelangnya dilihat orang.

Cendekiawan yang mengaggumi kepandaiannya sendiri sama bodohnya dengan perempuan tua ini. Disinilah betapa pentingnya mengendalikan Ahamkara (egoisme) dengan bijak, agar tidak termakan bujuk rayu egoisme….

 
=======