Om Swastyastu
”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. Semua yang ada ini tidak terbatas dan
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong” Rgveda X.129.3.

Hari Raya Nyepi merupakan keterpaduan antara penyucian diri (mikrokosmos) dengan penyucian alam semesta (makrokosmos). Melaksanakan mulat sarira, mawas diri, dan menilai secara jujur dan jernih apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan selanjutnya di tahun mendatang.

Dilandasi ajaran Tat Tvam Asi sebagai konsep kemanusiaan yang universal, meletakkan dasar kesamaan derajat, harkat dan martabat serta hak dan tanggung jawab sebagai warga bangsa secara proporsional. Sesungguhnya semua umat manusia sama di hadapan Tuhan. Karena Ia berasal dari sinar kehidupan yang sama dan dapat bergerak atas kehendakNya. Sira ya ingsun, ingasun ya sira. Karena itu kita semua adalah bersaudara dalam keluarga besar bangsa Indonesia (vasudaiva kutumbhakam)

UCAPAN NYEPI 2015 jro mangku danu

Melasti- melakukan kegiatan ritual ke laut atau ke mata air dengan prosesi “Nagasankirtan” berjalan beriring-iringan mengusung arca pralingga. Untuk melebur berbagai kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan seraya memohon anugerah air suci, air kehidupan dari dalam samudera yang sekaligus bermakna menghanyutkan penderitaan dan noda-noda kehidupan. Melasti sebagai simbol pembersihan diri dengan membuang sifat-sifat buruk dan perilaku kotor sehingga upacara Nyepi dapat dilaksanakan dengan jiwa raga dan pikiran yang suci.

Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) yang dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan pecaruan yang disebut Tawur Kesanga yang dapat diartikan sebagai pemarisudha atau pembersihan dan bermakna sebagai sarana untuk mengharmoniskan hubungan Bhuana Agung (makrokosmos) dengan Bhuana Alit (mikrokosmos), menyeimbangkan hubungan Panca Maha Bhuta, menyelaraskan fungsi seluruh Indriya yang selama ini bebas mengembara menikmati pesona jagat Maya. Tilem Kesanga (Tawur Agung atau Bhuta Yajna) sesunguhnya sebagai momentum untuk intropekasi diri (Back And Look Inside), mengalahkan musuh sejati yang selama ini bercokol dalam diri: kebencian, amarah, egoisme, kebingungan, iri hati, dengki, kemunafikan, dan ketamakan. Dengan pengerupukan sebagai simbol telah saatnya Bhuta Kala untuk kembali ke asalnya yang disebut Somya atau senyap.

Sunyi (sepi) adalah ketika angin menyeruak dedaunan, tiada guman manusia, tiada deru kendaraan, tiada lolongan anjing, tiada gemerincing suara gamelan. Seakan seluruh kehidupan terhenti. Sebelum Matahari terbit sampai menjelang terbit kembali keesokan harinya, umat manusia melaksankan Catur Brata Penyepian: Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan meditasi; pembacaan ayat-ayat suci Veda dalam hati di kediaman masing-masing atau tempat-tempat suci. Menghentikan sejenenak aktivitas mikrokosmos dalam upaya intropeksi diri terhadap segala sepak terjang pikiran, perkataan, dan prilaku yang telah kita lakukan serta merenung, menyusun rencana apa yang akan kita lakukan kemudian guna perbaikan kualitas karma. Dengan Nyepi kita memberikan kesempatan kepada Ibu Pertiwi dan Semesta Jagat Raya yang merupakan Kalpa Vrksa (pemenuh segala keinginan) untuk beristirahat dan bermeditasi sejenak setelah setahun memenuhi segala kebutuhan dan asa semua penguninya, agar dapat mereposisi dirinya, sehingga manusia dan mahluk lainnya dapat hidup nyaman dan aman di kemudian hari.

Karena manusia sesungguhnya mendambakan keharmonisan hidup, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian. Kitab suci Arthasastra menyatakan bahwa: “dambaan manusia itu dijamin akan terwujud apabila telah terjadi hubungan harmonis antara empat faktor, yaitu: Ideologi, Agama, Pembangunan Politik, dan Keagamaan.

Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang “Multikultural” untuk bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God)

Melalui Dharma Santih kita berdoa dan berharap; semoga kita bangkit bersama di bawah sinar suciNya, guna membangun kesadaran dan rasa saling memaafkan, dilandasi kerendahan hati, saling hormat-menghormati, jujur, sederhana, toleransi, mampu memaknai kebebasan dengan rasa penuh tanggung jawab menuju kehidupan yang harmoni, damai, bahagia, dan sejahtera.

Marilah bangkit, bersatu padu dalam kebhinekaan, berkarya sepenuh hati dengan kebersamaan, menuju kesunyataan sejati; menggapai pembebasan tertinggi untuk Sang Diri dari lautan Samsara.

Om Santih Santih Santih Om
oleh: Shri Danu Dharma Patapan