Oleh: I Wayan Sudarma (Jro Mangku Danu)

Om Swastyastu
Salah satu tujuan seseorang melakukan upacara Diksa adalah untuk menghilangkan KEPAPAAN DIRI, atau untuk menghilangkan Kekuasaan Kemarahan, Kelobaan, dan Kesedihan dalam diri. Oleh karena itu dicarilah seorang Guru (baca: Nabe) yang dapat melakukan hal itu (Agastya Parwa: “…..Ndan amiliha ta mahapandita, ikang yogya makagurwa…”)

Upacara Diksa bukan sekedar formalitas ritual, dan Daksina bukan sekedar bentuk Upakara

Upacara Diksa bukan sekedar formalitas ritual, dan Daksina bukan sekedar bentuk Upakara

Ada tiga jenis guru yang disuratkan:
1. Seorang guru yang selalu melakukan upwasa, yang bersungguh-sungguh mengurangi hawa nafsu, yang selalu menyucikan diri, jitakrodha-beliau tidak dikuasai oleh kemarahan, bhogani-sretah-tidak tertarik oleh kesenangan duniawi, sahisnu-rajin dan selalu tinggal di pertapaan, tidak pergi ke rumah tetangga, hanya beliau berjalan bila ada yang memohon (yan papatra juga sira yan laku), bhuddisanta-berhati tenang, kendatipun tidak pandai menghafal mantra, pandita yang demikian disebut tarayati: dapat melenyapkan noda-noda orang yang didiksa. Beliau disebut guru yang pertama (sira ta prathama guru ngaranya).
2. Selanjutnya bila ada seorang Pandita yang rupawan, berpenampilan baik, tidak ada cacat, sarwawidyawadata-banyak pengetahuan tentang buku-buku pelajaran rohani, terlebih lagi menguasai ajaran agama, mengetahui Wedanta; yang disebut Wedanta adalah intisari ajaran Catur Weda dan asal-usul para Dewa (Wedanta ngaranya sari Sang Hyang Catur Weda mwang sangkan Sang Hyang Dewa, paran Sang Hyang Dewa); mengetahui sodasatattwa, nawatmatattwa, widyatattwa, pradhanatattwa, kalatattwa, pranatattwa, dan segala macam tattwa dikuasainya; dhairyawan, berpegang teguh pada ajaran Bhatara namanya Pandita yang seperti itu. Hilanglah dosa-dosa yang menyembah dan berguru kepadanya, beliau tergolong Guru kedua (madhyamaguru)
3. Adapun seorang Guru yang paling utama adalah bila ada sesorang Pandita yang tingkah lakunya nirdwandwah: hatinya tidak bercabang, habis sudah ikatan indria beliau, beliau bebas dari keakuan (ahamkara), niraga: tidak ada lagi obyek indria yang mengikat beliau, bebas dari rasa khawatir, bebas dari kesusahan, hati beliau begitu suci dan jernih, suci karena pelaksanaan yoga beliau, pengetahuan beliau adalah kemanunggalan segala yang ada, segala tujuan pengetahuan telah manunggal, semua itu menyebabkan keheningan yang tiada tara. Beliau hanya melayani keheningan hati beliau, sehingga beliau tidak lagi melibatkan diri dengan kesibukan orang lain. Guru yang demikian adalah Guru Utama (sira ta utamaguru).
Tiga golongan Guru Suci tersebut sungguh-sungguh dapat melaksanakan upacara Diksa, yang harus dicari oleh seorang Calon Diksita. Maka seorang calon Diksita, seorang yang ingin menyucikan diri, yang ingin menghilangkan noda dan dosa dalam dirinya, tidak sembarangan mencari Guru Suci. Dan hanya seorang Guru Suci yang patut menerima Persembahan Daksina, yang merupakan simbol kesucian itu sendiri. Diksa dan Daksina dua kata penting yang patut dipahami maknanya dengan benar. Upacara Diksa bukan sekedar formalitas ritual, dan Daksina bukan sekedar bentuk Upakara. Diksa dan Daksina dilatarbelakangi oleh nilai-nilai kesucian, oleh karena itu upacara Diksa harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh nuansa kesucian. Manggalamastu…

Om Santih Santih Santih Om