Om Swastyastu
Pengetahuan yang Transcendent dikatakan “berliku-liku” karena pengertiannya tidak langsung dapat dipahami, di luar lingkup logika umat manusia.

Tanda tambah yang sederhana tidak hanya menggambarkan reduksi ruang menuju satu kesatuan, tetapi juga lapangan manifestasi abadi yang dari titik pusat, bindu, simbol ether, mengembang ke 4 arah mata angin dan 4 unsur yang nampak.

Hal ini, bagaimanapun, tidak benar dilihat dari pandangan kedewataan yang luhur, yang tidak dapat diambil sedemikian rupa dalam satu kesatuan. Hal ini diperlihatkan dengan cabang berliku dari kemurahan swastika, yang bagaimanapun dihubungkan dengan titik pusat material, saat ini titik tidak dapat ditentukan luas ruang angkasa).

Pengetahuan yang transcendet merupakan aspek kedewataan hanya dicapai secara langsung, melalui jalan kanan atau jalan kiri. Demikianlah dua arah yang merupakan cabang dari swastika dapat dibengkokkan. Digunakan di mana saja sebagai tanda keberuntungan, swastika berarti untuk mengingatkan umat manusia terhadap Ralitas Tertinggi, yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran maupun indria manusia. Tentang Tuhan Yang Maha Esa yang tidak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia, di dalam terminologi Jawa Kuno dinyatakan dengan kalimat “tankagrahita dening manah mwang indriya”.

Om Santih Santih Santih
~ I W. Sudarma (Jro Mangku Danu

*Sumber bacaan:  Mantra, Yantra dan Rerajahan