Kekudhung Walulang Macan

Om Swastyastu
Untaian kata ini termasuk jenis paribasan (peribahasa). Yang secara etimologi terbentuk dari kata-kata: ‘kekudhung’ (bentuk reduplikasi kata kudhung, yang artinya berkudung), ‘walulang’ (kulit), dan ‘macan’. Jadi secara utuh rangkaian kata itu berarti berkerudung kulit macan. Peribahasa ini memiliki makna kias atau denotatif-simbolik. ‘Macan’ adalah raja hutan atau penguasa hutan. Macan sebagai kiasan dari orang yang memiliki kekuasaan, kekuatan, atau pengaruh yang dapat menentukan nasib orang lain.

Ungkapan ‘Kekudhung Walulang ‘Macan’ (berlindung di bawah seorang yang berkuasa) digunakan untuk menyebut seseorang atau sekelompok orang yang berlindung di bawah orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh. Dalam banyak kasus, ungkapan ini disampaikan dengan ‘nada negatif’, yakni untuk menyebut seseorang/kelompok orang yang mencapai keinginan dengan memanfaatkan pengaruh/kekuasaan orang lain. Budaya ‘Kekudhung Walulang Macan’ melahirkan budaya “kolusi” yang merusak tatanan yang bersifat normatif atau objektif. Munculnya budaya “kolusi, korupsi, dan nepotisme” lahir dari kebiasaan seseorang memanfaatkan kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh orang lain yang berwibawa untuk mencapai pamrih pribadi.

Demikian Pakeling Leluhur Nusantara, sudah mewanti-wanti, bahwa salah satu penyebab kekacaubalauan sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah karena semakin banyaknya orang yang “Kekudhung Walulang Macan”, dan saat ini kita sedang mengalaminya bukan…??

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu
Bali-18/02/2012

Write & Posted by:I W. Sudarma (Jro Mangku Danu)