PANEGTEGAN

Oleh: Jro Mangku Danu (I W Sudarma)

Om Swastyastu
Memiliki hidup dalam wadag manusia memang dikatakan sebagai tingkat kelahiran Mautama, karena melalui badan manusialah Tuhan menganugerahkan Wiweka dan Winaya; yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, sekalipun manusia dilahirkan dalam suasana dan kondisi yang penuh penderitaan sekalipun. “Manadi dados Jadma Mautama juga ngaranya”. Demikian pesan Bhagawan Garga kepada I Watugunung.

Namun demikian, memiliki hidup  bukan berarti kita boleh menggunakannya dengan semena-mena, apalagi sampai bertentangan dengan kodrat kemanusiaan itu sendiri.
“Urip Kalantas bukan untuk disalahgunakan menentang Dharma, Ia mesti digunakan semata-mata demi Urip Yang Sejati. Urip Sejati mesti ditata dengan penuh kearifan. Inilah hakikat dari Dina Panegtegan. Tegteg ring sajeroning Manah, Kahyun, Anggah-Ungguhing Urip”. (Lontar Bhagawan Garga).

Semeton sinamain…. Hanya mereka yang memiliki Urip Kalantas lah yang berkesempatan mengusahakan  Kesadaran Baru  berupa “Ketetegan Urip”, dengan modal Ketenangan Hidup  inilah memungkinkan kita menyusun kembali daftar target yang hendak kita capai dalam perhelatan kehidupan ini, terutama dalam rangka “Ngulati Sarining Jnana”.

Menyusun skala prioritas juga menjadi penting dalam hal ini, tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan kita. Idealisme sah-sah saja, tapi jika hal tersebut tidak masuk akal dan justru menimbulkan persoalan baru, maka mengesampingkannya untuk sementara waktu bukanlah sikap yang keliru. 

Pada hari Wrhaspati Wage Watugunung inilah hari dimana kita diminta dan diajak bahkan dituntut untuk melakukan “Panegtegan Diri”, menyusunan skala prioritas hidup kita. Melalui pertanyaan:
Hidup seperti apakah yang hendak saya lakoni pada kehidupan ini?
Hidup yang bagaimanakah yang hendak saya capai melalui kehidupan ini?
Kemanakah arah bidak kehidupan ini akan saya labuhkan?

Mari kita jawab melalui Panegtegan ini…!!

Om Santih Santih Santih Om
* Disunting dari Artikel : Sisi Lain Makna Hari Sarasvati

image