Oleh: Jro Mangku Danu

Om Swastyastu
Om Śri Lakṣmī Mahādevī, Pīta varṇā pītāmbarā, dala vāyavya sthānañ ca, sarva pāpa praharaṇam. (Aṣtadevīstava.6)
(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu yang sangat mulia, dewi Lakṣmī yang menganugrahkan kemakmuran yang maha agung. Warna dan bhusananya serba kuning, bersthana di Barat Laut dari daun bunga teratai. Melenyapkan segala kepapaan dan penderitaan).

Dewi Lakṣmī digambarkan sebagai dewi yang mengenakan bhusana (kain sari) berwarna merah, warna perhiasan (bhusananya) gemerlapan warna kuning (emas) sebagai wujud dewi kemakmuran yang menganugrahkan kesejahtraan dan kebahagiaan. Lakṣmī bertangan empat sebagai wujud kemaha kuasaan-Nya. Dua tangan di belakang memegang padma (teratai merah) melambangkan kesucian, tangan kanan depan dalam sikap Vāramudra, yakni menganugrahkan kepingan-kepingan uang emas sebagai lambang menganugrahkan kemakmuran, tangan kiri depan memegang kendi Amṛta, lambang air kehidupan dan kebahagiaan abadi.

Umumnya pada alas Dīpa (lampu) bagian depan terdapat tulisan Śubha dan pada lampu kiri Lābha, yang maknanya dengan kebajikan memperoleh keberuntungan dan di depan padmāsana-Nya (tempat duduk teratai) terdapat tulisan di atas lembaran kitab yang terbuka, yakni Śri Lakṣmī Prasanna, yang artinya dewi kemakmuran yang maha suci dan penuh rakhmat.

Biasanya dewi Lakṣmī digambarkan dalam sikap berdiri menganugrahkan berkeping-keping uang mas yang di tampung dalam sebuah piring. Uang atau emas adalah sarana untuk memperoleh kemakmuran. Di Indonesia (Bali) seperti halnya di India dewi ini dipuja (sebagai Iṣtadevatā, devatā pujaan utama) oleh para pedagang (Vaiṣya). Seperti halnya pemujaan kepada dewi Sarasvatī, maka pemujaan kepada dewi Lakṣmī dirangkaikan dengan pemujaan kepada dewi Durgā (setahun dua kali). Pada hari itu, arca dewi Lakṣmī dihiasi dengan uang kertas baru, seperti halnya Bhatara Rambut Sadhana di Bali (Indonesia). Sebuah kidung menyatakan: Durgā-Lakṣmī-Sarasvatī mapahi jagatmata, yang maknanya ketiga dewi itu (Durgā, Lakṣmī dan Sarasvatī merupakan perwujudan ibu alam semesta.

Di Bali Lakṣmi digambarkan sebagai Śri Sadhana, yakni dewa-dewi yang badan dan perhiasannya terbuat dari uang kepeng dan pemujaan kepada-Nya dirangkaiakan dengan hari Sarasvatī. Dewi Laksmi di Bali dipuja pada hari: Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Budha Cemeng Kelawu setahun dua kali. Bahkan oleh para pedagang di pasar Beliau dipuja sebagai dewi Melanting.

Om Santih Santih Santih Om
Bali-21 Januari 2001

image