Hening Itu Jernih

Om Swastyastu
Pagi ini seperti biasa, saya menyempatkan diri untuk mandi di Danau Batur, sambil mengenang masa-masa kecil dulu. Dalam renungan sekilas memandang dan merasakan belaian sejuknya air danau melalui ombak-ombak kecilnya,, saya dapati bahwa air pegunungan itu jernih dari asalnya, mengalir sambil membawa serta segala yang bisa dibawanya termasuk kotoran. Di semua tempat yang dilewatinya semua dibawa dan dipindahkannya, ia ada untuk membersihkan kendati dirinya menjadi nampak kotor.

image

Jika saya bandingkan dengan hidup kita sepetinya ada kemiripan. Hidup kita adalah hati kita, yang pada mulanya selalu jernih. Namun harus terus melangkah melalui lorong dan jalan berdebu dan penuh dengan segala berkat dan kotoran yang datang silih berganti. Di luar sana masih ada juga prilaku sesama yang entah sengaja atau tidak disengaja sempat mengotori kejernihannya.

Dan semalam dalam renungan, juga hadir instuisi bahwa “Keheningan ada dalam ketiadaan suara yang bising, dan kejernihan adalah ketiadaan kotoran yang ada di dalamnya. Keheningan adalah kejernihan yang hanya berbeda kisi saja, tinggal di sebelahnya.”

image

Karena itu heningnya malam selalu menjadi saat yang tepat untuk menjernihkan kembali hati dan budhi. Bahkan di malam yang hening organ hati kita bekerja keras mendetoks segala racun yang sempat masuk dan mengendap di sepanjang hari.

Dan pagi adalah saat untuk tetap menjaga heningnya hati dan jernihnya budhi yang kita miliki agar seluruh hari ini menjadi sumber berkat dan sukacita baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup sesama yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
~ Jro Mangku Danu
Kedisan-28/04/2013

Write & Posted by: IW. Sudarma