Om Swastyastu

Jiwa menjadi menderita di dunia material, apa itu hukuman? mengapa sang jiwa lupa (atau dibuat lupa?) pada semua penjelmaan sebelumnya

Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, II.17-25 bahwa Jiva dan Tuhan bersifat tidak termusnahkan (avinasi), abadi (avyayam) dan juga kekal (nityam). Jadi antara Tuhan dan Jiva tidak pernah tidak ada dan tidak pernah juga dimulai baik secara bersamaan ataupun tidak bersamaan.

Menurut filsafat Achintya Bhedaabheda tattva disebutkan bahwa Tuhan dan Mahluk hidup memiliki sifat dan karakter (kualitas) yang sama. Yang membedakan hanyalah masalah kuantitas.

Mengenai kenapa mahluk hidup harus turun ke dunia material, bukan karena hukuman, ataupun Tuhan yang memaksa kita jatuh dan menderita di dunia ini, tetapi karena kebebasannyalah dalam memilih karena kebebasan kita yang disebut icca (Bhagavadgita, VII.27). Bahkan pada dasarnya dunia material ini diciptakan karena kasih sayang Tuhan kepada kita yang ingin menikmati kehidupan terpisah dari diri-Nya. Namun tentunya karena Tuhan memperingati berkali-kali lewat diwahyukannya kitab suci, Avatara dan orang-orang suci yang mengajarkan bahwa dengan kehidupan terpisah ini sang jiva tidak akan pernah merasakan kenikmatan sejati, tetapi mereka akan dibelenggu oleh kenikmatan semu. Jiva yang jatuh ke dunia materialpun diberikan kebebasan untuk memilih badan yang dia sukai.

Dalam hal ini jangan menjadikan mindset kita sebagai manusia sebagai patokan. Mungkin kita bisa mengatakan babi dan anjing itu menjijikkan dan kotor, tapi mungkin dalam otak si babi dan anjing mengatakan bahwa sesungguhnya manusialah yang bodoh dan terlalu susah dalam usahanya menikmati hidup.

Kenapa manusia pada umumnya harus lupa jika dia menggantikan badan? Mungkin aja dengan mengatakan bahwa jika kita ingat kehidupan masa lalu kita bisa sadar akan Tuhan… tetapi belum tentu. Sebagaimana dikatakan dalam Bhagavadgita, XV.15: bahwa ‘ingatan’ dan ‘pelupaan’ adalah karunia dari Tuhan dan kedua unsur itu perlu dan tidak bisa dipisahkan. Bayangkan jika seseorang mengalami masa kelam dan dia tidak bisa melupakan kejadian itu, apa yang akan terjadi secara psikologi dengan orang tersebut? Dengan adanya proses pelupaan itu tidak serta merta akan merugikan mahluk hidup dalam usahanya mencapai Tuhan. Dikatakan ‘Antah pravistah sasta jananam’, pada saat mahluk hidup meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, dia lupa akan segala sesuatu; tetapi mahluk hidup memulai pekerjaannya lagi, karena ia digerakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun ia lupa, Tuhan memberikan kecerdasan untuk memulai pekerjaannya dari tingkat yang telah dicapainya pada saat ia berhenti dalam penjelmaannya yang lalu.

Bagaikan api yang memiliki sifat panas dan membakar, demikian juga Jiva yang memiliki sifat dasar (dharma) sebagai pelayan Tuhan. Api akan puas dengan mengikuti sifatnya yang bisa memanaskan dan membakar segala sesuatu dan Atman/jiva akan puas dan mencapai kebahagiaan jika melakukan kewajibannya melayani Tuhan. Pelayanan itu hanya bisa dicapai secara sempurna jika dia kembali kepada kedudukan asalnya di dunia rohani.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: IW. Sudarma
Bali-01/07/2002