Oleh: Sudarma

Om Swastyastu
Upacara Ngelungah adalah upacara atiwa – tiwa bagi anak-anak yang berumur di atas tiga bulan dan belum tanggal giginya. Bila meninggal dunia maka diselesaikan dengan upacara yang dinamakan upacara Ngelungah ini. Kalau bagi anak yang belum berumur tiga bulan, bila meninggal maka jenazahnya dikubur saja dan selanjutnya dibuatkan upacara pengrapuh. Namun, anak yang berumur di atas tiga bulan dan sudah tanggal giginya diupacarakan dengan diaben seperti orang dewasa.

Demikian disebutkan Upacara Ngelungah ini dalam sumber kutipan  Lontar Yama Purana Tattwa sebagai berikut :Mempermaklumkan ke Pura Dalem dengan upakara: canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telor bukasem dan segehan putih kuning. Memaklumkan ke pura  Prajapati dengan upakara: canang, ketupat, daksina dan peras.Mempermaklumkan pada Sedahan Setra, dengan upakara: canang meraka dan ketipat kelanan. Permaklumkan pada bangbang rare, dengan upakara: sorohan, pengambian, pengulapan,peras daksina, klungah nyuh gading yang disurat Omkara. Banten pada atman bayi, seperti: bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, panjang dan banten bajang.Tirta Ngelungah dan atau Tirta Pengrapuh dapat dimohon melalui Pandita atau dapat memohon di Pura Dalem dan Prajapati. Semua tetandingan banten itu tempatkan di gegumuk bangbang. Pemimpin upacara yaitu: Pandita, atau  Pinandita memohon pada bhatara/bhatari agar roh bayi cepat kembali menjadi suci. Bila selesai memercikkan tirta, banten ditimbun dan bangbang diratakan kembali.

Om Santih Santih Santih Om