Om Swastyastu
Musim kering telah tiba, sekelompok angsa bersiap-siap terbang bersama meninggalkan sebuah danau yang mulai
dangkal untuk bermigrasi ke arah selatan ke sebuah tempat dimana air mengalir. Seekor katak yang gelisah memohon kepada sepasang angsa yang sedang bersiap-siap agar turut membawa serta dirinya.

“Bagaimana caranya agar kita bisa membawa serta kamu, sementara kamu hanya bisa melompat?” jawab si
angsa jantan.
“Saya ada ide, kalian gigit erat-erat kedua ujung akar rumput ini dan saya menggigit ditengah kemudian terbang bawalah saya beserta kalian” Sahut si katak seraya meletakkan sebuah akar rumput dihadapan mereka.
“Baiklah, itu sungguh ide yang hebat, kami setuju terbang bersamamu” jawab si angsa betina disertai anggukan setuju pasangannya.

Dan terbanglah mereka dengan membawa si katak yang tergantung ditengah akar rumput yang digigitnya.

Di bawah sana banyak orang berdecak kagum keheranan serta memuji melihat kecerdikan mereka bertiga. Sampai kemudian tak luput dari angsa lain yang
terbang bersama mereka juga turut memuji dan salah satunya berkata “Kalian bertiga sungguh cerdik, siapa yang punya ide secemerlang ini?”
“Ide saya” sahut si katak dengan spontan membuka mulutnya dan seketika itu lepaslah gigitannya dari akar rumput dan dalam sekejap tubuhnya meluncur deras ke bumi, hancur menghantam bebatuan di bawah sana.
 
Umat sedharma yang budiman, Pepatah mengatakan, “Tutuplah mulutmu maka orang takkan tahu seberapa tahunya kamu dan bukalah mulutmu maka mereka takkan meragukan ketidaktahuanmu”.

Pepatah itu benar adanya, tapi bayangkanlah apa saja
yang akan hilang seandainya tak ada yang buka mulut.

“Hikmahnya adalah tentang kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan kapan waktunya menjadi pendengar yang baik”

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: Sudarma