Oleh: Gede Prama

Tatkala Profesor Karen Armstrong (salah satu raksasa spiritual di zaman ini) berkunjung ke Indonesia awal Juni 2013 diundang penerbit Mizan, terlihat jelas sangat terkesan dengan cerita Bali sebagai pulau kasih sayang. Sehari setelah penulis buku “Compassion” ini mendengar cerita ini, di depan banyak sekali peserta seminar di Jakarta beliau terang-terangan mengemukakan tidak bisa tidur setelah mendengar cerita ini. Bahkan setelah beliau pulang ke Inggris pun masih menyempatkan waktu mengirim e-mail yang kurang lebih berisi pesan seperti ini: “I was so moved by your speech…let us keep in touch about making Bali an island of compassion”.

Sekuntum Bunga untuk Teroris

Pesan kosmik bom Bali jelas sekali. Ia terjadi persis satu angka setelah serangan teroris di Amerika Serikat. Persisnya, di AS terjadi 11-9-2001 dan di Bali terjadi 12-10-2002. Dari tanggal 11 ke tanggal 12, dari bulan 9 ke bulan 10, dari tahun 2001 ke tahun 2002. Dan bila serangan teroris terhadap kota New York diikuti oleh serangan balik banyak peluru, di Bali tidak ada satu batu kecil pun yang dilemparkan ke tempat suci sahabat non Bali. Lebih indah lagi, orang yang paling banyak mendapat piagam penghargaan pasca bom Bali adalah tokoh Islam kelahiran Kintamani Bali bernama Bapak Haji Bambang.

Di tempat lain, semua bom teroris diikuti oleh api amarah dan dendam. Tapi di Bali, sebagaimana cerita ringkas di atas, teroris malah memperoleh sekuntum bunga cinta. Setelah belajar dari sini, di kedalaman meditasi pernah terdengar, samsara ada di kepala, nirvana ada di hati. Dan kedalaman kasih sayang (compassion) yang membawa ke mana seseorang nantinya pergi. Bukan kebetulan kalau bagian awal kata compassion adalah compass. Bagian tengah kata compassion adalah pass. Ia yang menekuni Sang Jalan menggunakan compassion sebagai kompas, suatu hari akan lulus (pass).

Upacara Cinta

Salah satu ciri menonjol pulau Bali adalah upacara di mana-mana. Uniknya, upacara ini tidak dilakukan untuk alam atas seperti dewa, dewi, Tuhan, Buddha, tapi juga memberi makan dan ruang pada alam bawah. Di hampir setiap rumah orang Bali ada penunggun karang, semacam rumah bagi spirit-spirit setempat yang sudah tinggal di sana terlebih dahulu. Di banyak upacara, sering kali diisi dengan memberi makan pada makhluk di alam bawah. Tentu ini bukan berarti orang Bali menyembah setan, sekali lagi bukan!. Ia adalah wakil kasih sayang yang sempurna. Bila bisa memberi makan pada setan, lebih mudah memberi persembahan pada Tuhan. Jika bisa memberi ruang pada makhluk dari alam gelap, mudah menghormat pada makhluk dari alam cahaya.

Putaran waktu di Bali dibagi ke dalam putaran waktu ke atas (menyembah alam atas), dan putaran waktu ke bawah (menghidupi alam bawah). Ada hari suci untuk mengucapkan terimakasih ke pepohonan, binatang, barang. Dan tentu saja ada hari suci untuk menyembah ke atas. Jika dibahasakan dalam bahasa kekinian, upacara orang Bali adalah upacara cinta. Serangkaian pancaran cahaya cinta agar seisi alam semesta bahagia serta bebas derita.

Dan upacara jenis ini tidak saja monopoli Bali. Di Prancis Selatan serta Yunani Utara para arkeolog menemukan gua-gua yang berumur jutaan tahun. Di dinding gua yang sangat panjang dan dalam berisi relief yang diukir di atas batu, bercerita tentang rasa cinta manusia kepada binatang yang di saat itu menjadi sumber makanan utama manusia. Di Tibet serupa, salah satu bagian upacara orang Tibet juga menghidupi alam bawah. Digabung menjadi satu, dari zaman dulu sekali hati manusia sudah rindu mendalam akan kasih sayang.

Makhluk Kasih Sayang

Diterangi cerita upacara cinta, layak diendapkan ternyata manusia adalah makhluk yang penuh dengan kasih sayang. Manusia lahir di planet ini untuk memberkahi planet ini dengan cinta, kebajikan, kasih sayang. Dan planet ini baru terberkahi bila manusia menemukan kembali dirinya yang utuh dan otentik. Itu sebabnya, tetua Bali menyebut manusia dengan sebutan dewa ya kala ya. Dalam diri manusia ada Tuhan sekaligus setan. Cuman, setan bukan musuhnya Tuhan. Keduanya adalah bagian dari apa yang disebut psikolog Carl G. Jung sebagai authentic Self. Diri Agung yang utuh dan otentik.

Agama-agama di tingkatan awal memang menyebut kemarahan, dendam, iri sebagai wakil kegelapan alam setan. Agama-agama juga menyebut kebaikan, cinta, kasih sayang sebagai wakil alam cahaya. Tapi tanpa kegelapan maka cahaya kehilangan maknanya. Ke-u-Tuhan baru ketemu tatkala manusia bisa memeluk semua dualitas (termasuk dualitas Tuhan-setan) dengan kualitas senyuman yang sama. Meditasi sangat membantu dalam hal ini karena tugas terpenting meditasi adalah menyaksikan dengan penuh kasih sayang (compassionate witness).

Tapi ini jauh dari mudah. Dalam bahasa Carl G. Jung: “The most terrifying thing in life is accepting oneself completely”. Hal yang paling menakutkan dalam hidup adalah menerima diri secara utuh. Khususnya menerima kekurangan, kesialan, ketidaksempurnaan. Itu sebabnya di bagian lain karyanya Jung berpesan: “People will do everything to avoid the Soul”. Manusia akan melakukan apa saja agar bisa menjauh dari Sang Jiwa, karena bagi manusia yang belum utuh perjumpaan dengan Sang Jiwa sangat menakutkan.

Untuk membantu manusia berjumpa Sang Jiwa, di Bali Tuhan diberi nama Embang. Secara absolut, Embang dekat artinya dengan kebijaksanaan, kekosongan, keheningan. Makanya, Bali menjadi satu-satunya pulau di dunia yang merayakan tahun baru dengan hari raya Nyepi. Oleh karena kekosongan memberi ruang pada apa saja untuk bertumbuh tanpa membeda-bedakan maka aspek relatif Embang (Tuhan) adalah kasih sayang yang sempurna. Ini tercermin dari ketulusan memberikan makan pada alam bawah, serta menyediakan tempat tinggal bagi mereka.

Hanya spirit yang sudah berjumpa ke-u-Tuhan inilah yang bisa memberikan karangan bunga cinta pada siapa saja termasuk karangan bunga cinta pada teroris. Seperti rumah yang penuh karangan bunga kemudian bertabur keindahan, tempat di mana manusia utuh kerap melaksanakan upacara cinta, tempat itu akan bertabur keindahan. Dan ini bukannya tanpa bukti, salah satu pesan simbolik yang dikagumi dunia sepuluh tahun terakhir adalah buku dan film indah berjudul “Eat, Pray, Love”. Makanan enak ada di Italia, doa indah terdengar di India, cinta yang menyentuh ditemukan di Bali.

Mendengar cerita seperti ini, lewat ekspresi muka, bahasa tubuh, suka cita menyebarkan cerita ini ke mana-mana, email yang dikirim – bahkan berjanji menceritakan kisah ini ke Amerika Serikat – jelas sekali kalau Profesor Karen Armstrong sangat impresif tatkala mendengar kesimpulan seperti ini: “Tidak saja Seattle layak disebut kota kasih sayang, Bali juga layak disebut pulau kasih sayang”.

Advertisements