Oleh: Sudarma

Om Swastyastu

Mantra
Berasal dr suku kata ‘man’ yang berarti berpikir dan suku kata ‘tra’, berasal dari ‘trai’ yang artinya melindungi atau bebas dari belenggu samsara atau penampakan duniawi. Dari kombinasi ‘man’ dan ‘tra’, jadilah mantra, yang menimbulkan 4 tujuan manusia; dharma, artha, kama dan moksa. “Mananat trayate iti mantrah”-dengan manana (pemikiran yang tetap atau pengumpulan kembali) dengan mana seseorang dilindungi atau dilepaskan dari perputaran kelahiran dan kematian, itulah mantra. Mantra bersifat illahi. Ia merupakan daya-daya Illahi atau Daiwi Sakti yang diwujudkan dalam satu badan yang sehat. Mantra itu sendiri adalah Dewata. Setiap orang yang mengucapkan sebuah mantra hendaknya mencoba nilainya yang terbaik untuk mewujudkan kesatuannya dengan Mantra yang kita ucapkan, tentu ini tergantung dari sejauh mana usaha yang kita lakukan, ssehingga daya dari mantra dapar memenuhi, melengkapi pemujanya. Seperti nyala api yang diperkuat oleh angin, demikian pula daya sakti dari pribadi sadhaka, akan diperkuat oleh mantra yang diucapkannya, sehingga sakti diri pribadi bergabung dengan mantra sakti, sehingga membuatnya menjadi lebih kuat.

Mantra Dewata, adalah aksara atau kombinasi aksara yang mewujudkan Dewata tersebut pada kesadaran sadhaka, yang telah memanggilnya dengan sadhana. Mantra merupakan suatu massa (kelompok besar) dari cahaya/teja/energi. Mantra membangkitkan daya-daya super alami.

Mantra; mempercepat, dan menghasilkan kekuatan daya cipta, mantra menghasilkan keselarasan. Sebuah mantra memiliki daya melepaskan kesadaran kosmos dan super kosmos. Ia memberikan pencerahan, kemerdekaan, kedamaian tertinggi, kebahagiaan abadi dan kekekalan, pada sadhaka. Sebuah mantra apabila diulang-ulang secara tetap dan terus menerus, akan membangkitkan kesadaran. (Cit atau Caitanya), karena kesadaran itu terpendam dalam sebuah mantra.

Sebuah mantra memiliki 4 keadaan mendasar jika dilihat dari gelombang suara:
1. Waikari; padat, suara mantra yang dapat didengar, suara dalam kelainan yang maksimum.
2. Madhyama/Upamsu;atau suara mantra dalam, halus, lebih halus keadaannya dimana tak dapat didengar oleh telinga phisik.
3.Pasyanti;suara mantra yang lebih tinggi lagi, lebih dalam, keadannya lebih halus lagi. Di Bali dikenal dengan istilah Aywa Umung/Ngranasika atau dalam istilah lazim dinamai ngeregep.
4. Para/Manasika; yang mewakili Iswara-Sakti dan merupakan keadaan suara potensial/Karana yangg adalah Awyakta/tak terbedakan, karena merupakan sumber alam semesta.

Jadi setiap mantra yang diucapkan merupakan sebuah sabun pembersih spiritual, yang membersihkan pikiran. Bahkan, pensitiran sedikit saja dari sebuah mantra, dengan Sraddha, Bhawa, dan konsentrasi pada maknanya, dengan pikiran terpusat, akan menghancurkan segala kekotoran pikiran.

Pengulangan mantra pancaksara ‘Om Namah Sivaya’ akan menghasilkan wujud Siwa. Pengulangan dari ‘Om Namo Narayana’, yaitu Astaksara mantra dari Wisnu, akan menghasilkan wujud Wisnu, dan sebagainya. Oleh karenanya dikatakan bahwa Mantra dari Dewa, adalah Dewa itu sendiri.

Pranava
Adalah yang memberikan daya hidup terhadap sebuah suku kata, kata, rangkaian kata-kata, kalimat; dalam hal ini Pranava tak lain adalah OM. Om adalah nama atau simbol dari Tuhan, Iswara atau Brahman. Om merupakan Nama kita yang sesungguhnya, OM meliputi atau menyelimuti keseluruhan dari ketiga tahapan pengalaman manusia. OM berarti segala penampakan dunia ini. Dari Pranava Om alam semesta indriyani diproyekasikan-dunia ini ada dalam OM dan diserap dlam OM. ‘A’ dimaksudkan dengan dasar phisik. ‘U’ dimaksudkan dengan dasar mental atau astral, yang merupakan dunia dari jiwa yang cerdas atau segaka sorga. ‘M’, dimaksudkan dengan seluruh keadaan tidur nyenyak tanpa mimpi, yaitu segala yang mengatasi pencapaian kesadaran.
Intinya Om adalah suara Mula dari semua Suara, Om adalah Ibu dari semua Aksara.

Bija Mantra/Aksara
Satu Bija mantra merupakan sebuah benih huruf. Ia merupakan sebuah mantra yang amat ampuh. Setiap Dewata memiliki Bija-Aksaranya sendiri-sendiri. Yang terhebat dari semua Bija Mantra adalah OM atau Pranava, karena Ia merupakan simbol dari Para Brahman atau Paramatman sendiri.

Biasanya sebuah Bija Mantra mengandung sebuah aksara tunggal. Kadang-kadang tersusun atas beberapa suku kata. Umapanya , Bija Mantra “KAM”, memiliki huruf tunggal dengan anuswara atau candrabindu, yang membentuk pangakhiran dari semua Bija Mantra. Dalam Candrabindu, Nada dan Bindu bercampur jadi satu bersama-sama. Beberapa Bija Mantra tersusun atas gabungan huruf-huruf, seperti mantra”HRIM”, Bija Mantra memiliki suatu makna dalam yang berarti dan sering tidak membawa suatu arti pada permukaannya. Artinya sangat halus, dan bersifat mistis. Bentuk dari Bija Mantra, merupakan bentuk dari Dewata yang dimaksudkan dengan Mantra tersebut.

Beberapa contoh Bija Mantra:
Bija Mantra untuk Panca Maha Bhuta; Akasa-HAM, udara-YAM, api-RAM, air-WAM, dan tanah-LAM

Bija mantra HAUM- dalam mantra ini, HA adalah Siwa. AU adalah Sadasiwa. Nada dan Bindu, maksudnya yang mengusir kesedihan. Dengan Bija Mantra ini Tuhan Siwalah yang hendak dipuja.

Bija Mantra DUM- berasal dari suku kata DA yang artinya Durga. U artinya melindungi. Nada berarti Ibu alam semesta. Bindu-kegiatan (pemujaan atau doa). Ini merupakan Bija Mantra untuk Durga.

Bija Mantra KRIM-dengan mantra ini KALIKA yang hendak dipuja, KA- adalah Kali, RA adalah Brahman, I adalah Mahamaya, Nada adlah Ibu alam semesta, dan Bindu adalah pengusir kesedihan.

Bija Mantra HRIM-ini adalah mantra Mahamaya atau Bhuwaneswari. HA- artinya Siwa, RA- adalah Prakrti, I- artinya Mahamaya. Nada-ibu alam semesta. Bindu- pengusir kesedihan.

Bija Mantra SRIM- ini merupakan Bija Mantra dari Mahalaksmi. SA-Mahalaksmi, RA-kekayaan, I- kepuasan/pemenuhan, Nada- Apara/Brahman yang terwujudkan atau Iswara, Bindu- pengusir kesedihan.

Bija Mantra AIM-ini merupakan Bija Mantra dari Saraswati. AI-Saraswati, Bindu- pengusir kesedihan.

Bija Mantra KLIM-merupakan Kamabija. KA- penguasa keinginan/ Kamadewa. KA- juga dapat diartikan Krshna. LA- artinya Indera, I- pemenuhan /kepuasan, Nada dan Bindu- yang memberikan kebahagiaan dan kesedihan.

Bija Mantra HUM- dalam bija ini HA-Siwa, U-Bhairawa, Nada-yg tertinggi, Bindu- pengusir kesedihan.

Bija Mantra GAM-ini adalah Ganesa, GA-ganesa, Bindu-pengusir kesedihan.

Bija Mantra GLAUM- ini juga bija mantra Ganesa. GA-ganesa, LA-meresapi, AU- semarak atau cemerlang, Bindu- pengusir kesedihan.

Bija Mantra KSRAUM-merupakan bija mantra Narasimha. KSA-Narasihma, RA- Brahma, AU- dengan gigi yang mengarah ke atas, Bindu-pengusir kesedihan.

Bija Mantra HRAM HRIM SAH- Hram-ayah illahi, Hrim-Ibu Illahi, Sah-Tuhan; hormat kepada ayah akasa-ibu pertiwi dan Tuhan/Surya.

Dan banyak lagi Bija Mantra yang lain untuk menyatakan Dewata yg bermacam-macam, misalnya WYAM-untuk Wyasa, BRIM-untuk Brhaspati, dan RAM-untuk Rama, dan lain sebagainya
* Dari berbagai Sumber

Om Santih Santih Santih Om
19 Mei 2010